Posted on

Menjadi Bijak ala Nasruddin Hodja [Esai]

Menjadi Bijak ala Nasruddin Hodja

Dalam sebuah drama karya William Shakespeare, Hamlet menikam Polonius sang kanselor istana yang bersembunyi di balik aras, menguping pembicaraan sang pangeran dengan ibunda ratu, Gertrude. Polonius pun tewas setelah mengucapkan sebaris kata terakhir: ‘aku dibunuh.’ Mendengar penuturan Ratu Gertrude tentang tewasnya Polonius, Raja Claudius terperangah dan berucap lirih: ‘jika yang ada di balik aras itu adalah kita, tentu kitalah yang mati’.

Saya tak tahu apakah Shakespeare pernah menyimak kisah-kisah legendaris Nasruddin Hodja, seorang sufi yang hidup di Turki pada abad ke-13; tapi penggalan adegan tersebut di atas mengingatkan saya pada percikan-percikan bijak sufi jenaka itu. Kata-kata terakhir Polonius dan komentar Raja Claudius itulah yang terkenang oleh saya saat membaca ulang kisah Nasruddin berjudul ‘Itu Bukan Aku!’ sambil menulis pengantar ini.

Sebagai seorang bijak yang cerdik dan banyak melontarkan pernyataan aneh pemancing tawa namun sekaligus mengandung teka-teki, Nasruddin menjadi figur legendaris sehingga kisah dan pengalaman hidupnya pun tersebar luas melebihi batas batas wilayah, bahkan hingga jauh setelah ia meninggal. Kalau pada awal penyebarannya kisah-kisah itu disampaikan secara lisan, kini kisah-kisah kearifan Nasruddin Hodja telah banyak dibukukan, dan beberapa di antaranya bahkan telah dimodifikasi dengan berbagai cerita rakyat di berbagai negara. Kita bisa menunjuk pula dalam kumpulan ini betapa kisah-kisah itu selalu ada saja yang sesuai dengan kenyataan sehari-hari di tengah masyarakat.

Kisah-kisah Nasruddin yang ada dalam kumpulan ini adalah kisah yang membuat kita tersenyum sambil merenung-renung. Ada memang beberapa kisah yang nampak sekadar nonsens belaka, seperti Keledai Dan Kuda, Mencari Sang Hodja, Pesta Burung Puyuh, Tercampur, dan Tukang Cukur Baru. Namun sebagian besar kisah dalam kumpulan ini menunjukkan betapa Nasruddin Hodja menggunakan logika berpikir yang tidak lazim. Sikap tidak tenang manusia modern dewasa ini dalam menyikapi persoalan salah satunya timbul dari tiadanya kemampuan untuk berpikir di luar kerangka kelaziman. Kita bisa simak, misalnya, kisah Rumah yang Penuh Sesak dan Cara Manusia dan cara Tuhan tentang pentingnya sikap bersyukur; atau kisah Bukan Keledai Biasa dan Orang-Orang Desa Sebelah tentang perbedaan cara pandang yang secara nisbi menentukan nilai suatu barang.

Beberapa kisah lain sangat mengganggu saya lebih dibanding kisah-kisah di atas, seperti misalnya Dua Ikan di Atas Piring, yang mengusik pemahaman saya akan sikap tenggang rasa, kesetiakawanan, dan kesediaan untuk berkorban bagi sesama. Merelakan orang lain untuk merasa bahagia tanpa menunjukkan betapa diri kita merasa dirugikan kadangkala terasa sebagai pengalaman istimewa di dunia modern yang serba praktis dan cenderung membawa kita ke arah sikap interaksi yang penuh perhitungan untung rugi ini. Saya juga tercenung membaca kisah Berkata Dusta yang menggiring saya pada pemahaman bahwa dusta membuat seorang manusia terasing dari diri sendiri, dan bahwa ketika ia merasa tercerahkan dengan dusta itu pada dasarnya ia telah berhasil mendustai diri sendiri.

Selain itu kita bisa mendapati pula kisah-kisah yang mengandung muatan mistik –jenis yang entah kenapa jumlahnya tidak cukup banyak. Bermain Saz, Keping Uang Yang Hilang, Kuda Yang Hilang, dan Resep adalah kisah-kisah jenis ini. Kisah-kisah ini ditandai dengan adanya pencarian atau kehilangan akan sesuatu yang bernilai abstrak, atau sesuatu yang jelas konkret namun merupakan simbolisasi dari sesuatu yang lebih hakiki.

Sikap Nasruddin dalam Kuda yang Hilang menandakan bahwa kepemilikannya atas kuda itu bukanlah kepemilikan yang penuh nafsu, melainkan lebih pada sikap ‘gembira karena mendapat titipan’, sehingga pada dasarnya ia tak merasakan beban apapun ketika hal yang berada di luar kendalinya membuat titipan itu terlepas dari tangannya. Ketiadaan beban nafsu itulah yang menyebabkan ia sanggup melepas klain kepemilikan. Dan karena sikap ‘gembira karena mendapat titipan’ itulah maka Nasruddin pun bergembira dalam memberikan titipan itu kepada orang lain. Dalam Resep, daging sapi yang baru saja dibeli Nasruddin dari pasar dicuri oleh seekor burung gagak; namun ia tidak cemas, karena resep masakan itu masih ada di kantongnya. Bisa kita umpamakan bahwa resep itu adalah ilmu; dan selama kita masih memiliki suatu ilmu maka kita adalah orang beruntung. Orang miskin yang berilmu (Nasruddin) lebih beruntung dibanding orang kaya yang tak berilmu (burung gagak).

Kemudian tentu saja ada pula segolongan di antara dua ratus kisah itu yang menyimpan moral yang sangat jelas tanpa perlu kita gali dan tafsirkan secara rumit. Misalnya kisah Hal Paling Bernilai dan Tidak Bernilai, Menolong Tanpa Ketulusan, dan Doa. Namun meskipun lebih sederhana tentu saja kisah-kisah itu sangat bernilai dan turut melengkapi keseluruhan khasanah kearifan sang sufi yang cerdik nan jenaka ini. Membaca kumpulan kisah ini akan menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Mungkin saat ini Anda membacanya secara santai tanpa beban atau pretensi apapun, namun boleh jadi kisah-kisah tertentu akan Anda soroti, kelak, dengan cara pandang yang sama sekali tak pernah Anda sangka sebelumnya. Selamat membaca!

***

oleh Nurul Hanafi


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Kumpulan Humor karya Nasruddin Hodja.

Posted on

Dostoevsky, The Master of Petersburg [Esai]

Penulis Rusia Fyodor Dostoevsky

Dalam khasanah sastra terjemahan di Indonesia, selain Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky mungkin menjadi salah satu penulis Rusia yang paling dikenal oleh publik pembaca di negeri ini. Karya-karyanya yang monumental seperti Kejahatan dan Hukuman, Catatan dari Bawah Tanah, Orang-Orang Malang, hingga beberapa novelet dan berbagai cerita pendeknya pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Di antara berbagai karya sastra Rusia, Dostoevsky tampil menonjol karena kemampuannya dalam mendeskripsikan problema psikologis maupun moral tokoh-tokohnya di tengah deraan degradasi sosial-ekonomi yang mereka hadapi. Karya-karyanya berbeda dengan Tolstoy yang banyak mencurahkan perhatian pada respon manusia atas persoalan-persoalan sosial yang menjeratnya atau berbeda dengan Ivan Turgenev yang tenggelam dalam persoalan-persoalan filosofis dalam karya-karyanya.

Kemampuan Dostoevsky dalam mengolah problema psikologis dan moral dalam cerita-ceritanya itulah yang kemudian memantik lahirnya buku-buku psikologi atau filsafat. Konon teori-teori psikologinya Sigmund Freud tidak akan lahir tanpa pantikan karya-karya monumental Dostoevsky. Ia meninggalkan pengaruh mendalam pada pandangan filsafat Friedriech Nietzche, khususnya konsep uebermensch yang kemudian melahirkan negara fasis Jerman di era Hitler, negara yang tidak akan lahir kalau Nietzche tidak terus-menerus memikirkan Raskolnikov ketika membaca Kejahatan dan Hukuman. Itu tak menghitung sekian generasi penulis yang terpesona pada kepiawaian Dostoevsky menghadirkan Saint Petersburg dalam karya-karyanya hingga memicu studi tentang kota atau pun biografi yang berlatar kehidupan kota yang sangat kuat.

Dua novelet dan lima cerita pendek yang ada dalam buku ini hadir di hadapan sidang pembaca untuk lebih menyemarakkan sastra terjemahan dari Rusia, terutama melengkapi keberadaan karya sastra terjemahan karangan Dostoevsky yang sudah ada sebelumnya. Hampir sebagian besar cerita Dostoevsky dalam kumpulan cerita ini berpusat pada kehidupan orang-orang berlatarbelakang kelas menengah yang mengalami kemerosotan status sosial-ekonomi dan orang-orang yang terasing atau terpinggirkan dari kemapanan tatanan sosial Rusia masa itu. Mereka mengalami dilema moral yang akut agar bisa menyatu dengan kehidupan di sekitarnya. Itulah sebabnya tokoh-tokohnya cenderung bersikap canggung dalam interaksinya dengan orang lain. Tokoh utama yang tak pernah disebutkan namanya dalam cerita Mimpi Orang Sinting, Malam-Malam Putih, si tokoh perempuan dalam cerita Si Lembut Hati, dan narator dalam cerita Pesta Natal dan Pernikahan adalah contoh paling jelas bagaimana kemerosotan ekonomi dan sosial yang dialami mereka membuat mereka akhirnya memutuskan berjarak dengan arus kehidupan yang mengalir di sekitar mereka. Sementara tokoh Emelyanoushka (Emelyan Illitch) dalam kisah Pencuri yang Jujur dan anak kecil dan orang tuanya di cerita Pohon Natal Surgawi adalah representasi dari residu masyarakat Saint Petersburg yang tak mendapatkan tempat dalam apa yang biasa disebut sebagai ‘kehidupan normal.’

Meski tak memiliki intensi untuk menulis cerita yang pendek—sejumlah cerita pendek dalam buku ini berasal dari diari Dostoevsky—, apa yang telah disuguhkan oleh Dostoevsky dalam dua cerita agak panjang dan lima cerita pendeknya sangat kuat dan meninggalkan pengaruh besar pada kisah-kisah yang dikarang penulis selanjutnya. Dua abad setelah Dostoevsky menuliskan kisah-kisahnya, kita masih belum bisa menemukan kepiawaian seorang penulis dalam mendeskripsikan motif-motif tindakan dan pikiran manusia semendalam Dostoevsky. Dostoevsky nyaris tak memiliki pretensi untuk unjuk penguasaan ilmu pengetahuan atau penguasaan kemampuan filsafat secara vulgar dalam cerita yang ia karang. Ia tak mau pula membebani kisah-kisahnya dengan sesuatu di luar itu. Sependek pengetahuan penulis ia hanya ingin menghadirkan deskripsi tentang orang-orang Petersburg dan kehidupan yang mereka jalani. Dalam kisah Mimpi Orang Sinting, misalnya, tanpa perlu repot menyitir asal-mula kehidupan manusia seperti para filosof Yunani atau dari para teolog kristen, ia menghadirkan kisah fantasi tentang kehidupan pasca kematian lewat medium mimpi si tokoh utama. Kehidupan pasca kematian yang ia deskripsikan lewat mimpi tokoh utama ini bisa memberi tantangan tentang teori evolusi atau pandangan-pandangan teologis tentang asal-mula kehidupan. Pada saat yang sama ia bisa berkontribusi pada penjernihan pandangan kita tentang bagaimana kehidupan manusia di dunia ini.

Pilihan Dostoevsky untuk tak memposisikan sastra sebagai catatan kaki filsafat, ilmu-ilmu sosial, dan pandangan teologi ini bisa dilacak dari kemarahan terselubung atau bahkan tanpa tedeng aling-aling dalam dirinya terhadap kondisi masyarakat Rusia masa itu, terutama pada inferioritas kultural kelas menengah dan elite Rusia di hadapan kebudayaan Perancis. Ia sangat membenci cara orang-orang Rusia masa itu yang memuja segala yang datang dari Perancis: bahasanya, perkembangan filsafatnya, dan standar-standar keberadabannya. Kita bisa mendapati kemarahan ini di noveletnya yang berjudul Impian Pamanku dan karya-karyanya yang lain yang dipenuhi dengan kosakata-kosakata Perancis setiap kali ia menggambarkan kehidupan kelas menengah Rusia. Sebagai balasan atas perilaku inferior itu Dostoevsky secara sengaja menuliskan kisah-kisahnya dengan bahasa Rusia sehari-hari, menghindari penggunaan metafora secara vulgar, tak ganjen dengan menenggelamkan perdebatan filosofis yang justru memerosotkan martabat sastra sebagai pusat dunianya, dan langsung menusuk ke dilema-dilema yang dihadapi manusia dalam menghadapi kehidupannya sendiri. Proses kejatuhan martabatnya dalam kehidupan sehari-hari dan ketegangan kreatifnya sebagai penghayat kristen membuat ia bersikap kejam pada dirinya sendiri. Kisah-kisah dalam ceritanya tak hanya tak mau tunduk pada moralitas kristiani yang mengidealisasikan manusia pilihan Tuhan, namun juga menghadirkan tipe manusia yang amoral, laknat, dan tak lebih baik dari binatang jalang dan makhluk seperti setan yang dikutuk oleh semua agama. Pandangan ini tak secara otomatis menafikan kecenderungan Dostoevsky sebagai seorang moralis kristiani. Akhir cerita Mimpi Orang Sinting dan Si Lembut Hati secara jelas menunjukkan idealisasi tipe manusia yang diangankan Dostoevsky.

Kegigihan Dostoevsky dalam mengeksplorasi motif-motif tindakan dan pikiran tokoh-tokoh karangannya serta implikasinya dalam kehidupan pribadi dan sosial mereka meninggalkan pengaruh mendalam bagi sederetan panjang penulis yang muncul sesudahnya. Salah satu penulis yang sangat terpengaruh oleh Dostoevsky adalah Knut Hamsun. Karakter canggung tokoh-tokoh ciptaan Hamsun, pikiran dan tindakan tokohnya yang tak jamak, dan kekonyolan-kekonyolan yang lahir sebagai implikasi dari keganjilan pikiran dan tindakan banyak terinspirasi oleh Dostoevsky. Cerita Malam-Malam Putih, misalnya, telah menjadi inspirasi terbesar Knut Hamsun ketika ia menulis salah satu novelnya yang cemerlang, The Mysteries. Secara sengaja Hamsun menunjukkan dialog kreatifnya dengan Malam-Malam Putih dengan memasukkan kalimat pertama cerita Dostoevsky itu di bagian ke delapan The Mysteries. Tak hanya itu, tokoh Polzhunkov hadir secara samar-samar pada dua tokoh konyol Hamsun di novel The Mysteries, yaitu Si Boncel dan seorang lelaki yang mengisahkan kehidupan konyolnya demi mendapatkan perhatian orang-orang di sebuah pesta. Tokoh utama The Mysteries sendiri, Johan Nagel, adalah pengolahan kreatif dari tokoh cerita Mimpi Orang Sinting-nya Dostoevsky.

Pengarang kontemporer yang menjadikan cerita-cerita karangan Dostoevsky sebagai ‘momok besar’ sepanjang karir kepenulisannya adalah J. M. Coetzee dan Orhan Pamuk. Sebagai penghormatan terhadap Dostoevsky dalam menciptakan kisah-kisah jenial, terutama menyoroti satu masa dalam kehidupan pengarang besar Rusia yang di kemudian hari menjadi dendam kreatifnya, Coetzee menulis sebuah novel indah dengan tokoh utama Dostoevsky berjudul The Master of Petersburg. Secara pribadi Pamuk mengakui besarnya pengaruh Dostoevsky dalam karya-karyanya, terutama pada obsesi ‘kembaran’ yang selalu mengikuti kehidupan tokoh-tokoh utama dalam ceritanya. Salah satu bukunya yang menjadi semacam otobiografi lewat paparan sejarah panjang kotanya, Istanbul, lahir sebagai respon kreatif penulis Turki tersebut atas kepiawaian Dostoevsky dalam menghadirkan Saint Petersburg dalam karya-karyanya.

Ketidakmampuan para pengarang sesudah Dostoevsky untuk menjelajah kemungkinan-kemungkinan baru dari pikiran dan tindakan tokohnya, terutama penjelajahan motif-motif yang mendasari serta implikasi dari pikiran dan tindakan sang tokoh, menyebabkan tak adanya inovasi literer yang revolusioner dalam membongkar psikologi manusia. Barangkali keputusasaan dalam melakukan penjelajahan atas kemungkinan-kemungkinan pikiran dan tindakan manusia yang menjadi pusat pembentukan karakter dalam cerita ini yang membuat para penulis sesudahnya menjelajahi wilayah di luar garapan Dostoevsky. Namun kerja-kerja literer mereka tak bisa menghapus fakta bahwa sampai hari ini, bahkan entah sampai kapan, para penulis cerita merasa berhutang secara literer lewat kebiasaan mereka menimba pengalaman pengarang Kejahatan dan Hukuman tersebut dalam menciptakan kisah-kisahnya.

Penerjemahan kumpulan cerita pendek dalam buku ini sejak awal telah menghadapi beberapa persoalan yang cukup rumit. Pertama, penerjemah maupun editor tak memiliki kemampuan untuk mengakses secara langsung versi bahasa Rusia, kisah-kisah Dostoevsky dalam buku ini diterjemahkan dari versi terjemahan bahasa Inggris garapan Constance Garnett. Padahal dalam sejarah penerjemahan, meski pun sampai sekarang terjemahan versi terjemahan Garnett ini yang paling banyak tersebar di seluruh dunia, karya-karya terjemahannya telah banyak dikritik oleh para ahli sastra Rusia. Sayangnya versi terjemahan bahasa Inggris yang lebih meyakinkan selain Garnett sulit didapatkan. Itulah sebabnya pertimbangan tetap dilanjutkannya proses penerjemahan buku ini adalah untuk memperkaya khasanah sastra terjemahan dengan menghadirkan karya-karya dari maestro sastra Rusia ini ke dalam bahasa Indonesia. Telah banyak terjemahan karya Dostoevsky ke dalam Bahasa Indonesia, namun sebagian di antaranya dikerjakan dengan kualitas penerjemahan yang menyedihkan.

Persoalan kedua adalah kekhawatiran tak hadirnya ungkapan khas Dostoevsky lewat struktur bahasa Rusia yang dikenal rumit. Persis di sinilah salah satu kritikan terhadap terjemahan-terjemahan sastra Rusia yang dikerjakan Constance Garnett. Ia melakukan penyederhanaan terhadap struktur bahasa Dostoevsky ketika menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Salah satu akademisi sekaligus sastrawan yang melancarkan kritik keras terhadap penerjemahan karya sastra Rusia ke dalam bahasa Inggris adalah Vladimir Nabokov. Ia menuduh Garnett menginggriskan bahasa Rusia. Risiko dari karya-karya semacam itu adalah tak bisa munculnya struktur khas bahasa Rusia dalam bahasa Inggris. Keputusan untuk melanjutkan proses penerjemahan kisah-kisah karangan Dostoevsky yang terkumpul dalam buku ini akhirnya didasari pertimbangan atas kebutuhan hadirnya karya-karya penulis maestro semacam Dostoevsky untuk memperkaya pengetahuan sastra bagi publik pembaca.

Persoalan ketiga adalah ikhtiar untuk menyajikan karya terjemahan yang cukup bermutu. Dalam konteks menerjemahkan karya Dostoevsky ini, misalnya, sebelum penerjemah melakukan proses penerjemahan ia bersama editor mendiskusikan persoalan penerjemahan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dalam penerjemahan kisah-kisah Dostoevsky, penerjemah menghindari efek puitik berlebihan (akrobat bahasa) atau secara sengaja tak menggunakan ekspresi bahasa yang adiluhung. Tindakan ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan perilaku kenes para penerjemah, terutama kecerobohan sebagian di antara mereka untuk membikin hasil terjemahannya menjadi lebih puitik dari karya aslinya. Alih-alih melakukan puitisasi atau memakai ekspresi bahasa yang adiluhung, penerjemah kumpulan cerita Dostoevsky ini lebih memilih menggunakan bahasa lugas, bahasa yang tak berputar-putar, bahasa yang dianggap paling bisa merepresentasikan tindakan dan pikiran tokoh serta rangkaian peristiwa dalam cerita. Ragam bahasa yang berbeda sesuai dengan latar tokoh-tokoh dalam cerita sekilas akan membingungkan pembaca buku terjemahan ini. Namun bila mereka masuk lebih dalam, keindahan karya terjemahan ini akan bisa dinikmati oleh publik pembaca.

Maka buku yang kini ada di tangan anda, pembaca yang budiman adalah ikhtiar penerjemah dalam mengatasi persoalan-persoalan penerjemahan di atas. Terjemahan kisah-kisah Dostoevsky yang hadir dalam buku ini bukanlah karya yang sempurna. Ia hanyalah satu titik permulaan dari diskusi dan kerja panjang untuk menyajikan karya terjemahan yang lebih bernas dan lebih bertanggungjawab. Selamat menikmati!

***

oleh Dwi Cipta


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Mimpi Orang Sinting karya Fyodor Dostoevsky.

Posted on

Strindberg, Bapak Teater Modern [Esai]

Strindberg Bapak Teater Modern

Perkenalan saya dengan Nona Julie terjadi pada bulan Maret tahun 2009. Ketika itu seorang teman datang menceritakan ringkasan cerita sebuah film yang baru saja dia tonton. Saya sangat terpikat mendengarnya. Bagaimana tidak, sebuah film yang hanya berisi satu dialog panjang dalam satu malam antara seorang pelayan (tukang semir sepatu) dan anak gadis majikannya, dan bahwa perasaan cinta mengharu-biru di dalamnya.

Saat itu saya sudah mulai tertarik membaca naskah-naskah drama –misalnya Oedipus di Kolonus dan trilogy Oresteia– dan menonton film Hamlet garapan Kenneth Branagh. Saya selalu teringat dialog subtil antara dua raja tua Oedipus dan Theseus saat mereka bertemu sehabis Oedipus membutakan diri. Sebagaimana semua drama Yunani kuno, drama Sophocles itu mematuhi prinsip kesatuan waktu, tempat, dan tindakan. Mendengar cerita teman saya bahwa film ini berisi dialog panjang satu malam, saya langsung membayangkan intensitas komunikasi, keintiman, dan letupan perasaan yang silih berganti sebagaimana saya dapati saat membaca Oedipus di Kolonus. Saya pun bergegas menuju ke rental film terdekat.

Film itu –yang berjudul Miss Julie, garapan sutradara Mike Figgis– akhirnya memang memenuhi harapan saya, bahkan saya menotonnya berkali-kali. Wajar sekali, karena ternyata film ini diangkat dari naskah drama Strindberg dengan judul yang sama. Waktu itu saya belum mengenal August Strindberg. Benar-benar jatuh hati dengan film ini, saya pun mencari data tentang Strindberg, mengunduh kumpulan naskah drama yang mencakup Miss Julie di dalamnya, dan membaca naskah ini secara khusus berulang kali. Merasa belum puas hanya dengan membacanya saja, maka di bulan Agustus tahun itu pula naskah ini saya terjemahkan. Draft pertama terjemahan ini saya selesaikan dalam waktu dua hari.

Nona Julie adalah drama Strindberg yang paling terkenal. Ketiklah nama Strindberg di goodreads, dan akan Anda dapati judul ini berada di bagian paling atas. Wajar saja, ia menulis drama ini tahun 1888, di usia 39 tahun, saat sudah berada di puncak kematangan kreativitasnya. Tahun berikutnya naskah ini diperdanakan.

Peristiwa dalam drama ini berlangsung di sebuah malam tengah musim panas di sebuah rumah milik seorang count Swedia. Nona Julie, putri sang count, jatuh hati pada seorang pelayan senior, tukang semir sepatu bernama Jean—pria berusia 30 tahun yang telah banyak berkelana, banyak belajar tata cara orang berkelas dengan cara menguping majikannya, dan bahkan banyak membaca. Di antara mereka berdua ada Kristine, juru masak sekaligus tunangan Jean. Selama Jean dan Nona Julie berdialog, Kristine tertidur. Di akhir drama, wanita ini terbangun di saat suasana sudah sangat genting.

Meskipun hanya seorang pelayan, Jean pintar mempengaruhi hati perempuan dengan bahasa yang sangat lembut. Mari kita dengar apa katanya:

[Sedikit demi sedikit kerinduan menyapu seluruh diri, kerinduan untuk mengalami kembali kesenangan itu. Akhirnya, saya menelusup masuk kembali dan terperangah. Tapi kemudian saya dengar langkah seseorang mendekat—bagi orang terhormat hanya ada satu pintu keluar, sementara bagi saya masih ada jalan lain, dan saya memilih lewat sana. (Julie yang telah mengeluarkan bunga-bunga bungur itu membiarkan mereka jatuh di atas meja) Ketika keluar itu saya mulai berlari, berjuang menembus pagar tanaman frambos, menerobos rumpunan stroberi dan berdiri kaku di muka teras penuh tanaman bunga ros. Di sana saya dapati sesosok tubuh bergaun putih, bersepatu dan kaus kaki yang juga putih—itu adalah kamu! Saya sembunyi di bawah gundukan rumput liar, di mana, kamu tahu, duri-duri menusukku, dan saya terbaring di atas tanah yang lembab dan busuk. Beberapa lama kutatap dirimu yang berjalan di antara bunga-bunga ros. Dan terpikir olehku bahwa jika benar seorang pencuri bisa masuk surga dan berdiam bersama para malaikat, maka tidakkah aneh jika seorang anak kaum paria di bumi milik Tuhan bahkan tidak bisa masuk ke dalam taman kastil dan bermain bersama anak gadis majikan?]

lalu dilanjutkan dengan semakin intens:

[Ah, kembali ke kisah yang tadi, apakah kamu tahu apa yang saya lakukan kemudian? Saya berlari menuju kincir air dan melontarkan diri dengan pakaian lengkap ke tengah kecipak arusnya. Hanya saja beberapa saat kemudian seseorang menarikku dan saya beroleh satu pukulan. Tapi hari minggu berikutnya ketika seluruh keluarga pergi mengunjungi nenek, saya berencana untuk tinggal saja di rumah; saya gosok tubuh saya dengan minyak dan mengenakan pakaian terbaik, lalu pergi ke gereja sehingga bisa melihatmu. Akhirnya terkabul juga. Lalu saya pulang dengan pikiran segar dan sampai di rumah saya kunyah kembali pengalaman nikmat itu dalam kenangan. Tapi saya ingin melakukannya dengan indah tanpa rasa sakit. Lalu teringatlah oleh saya bahwa kelopak-kelopak murbei mengandung racun. Saya tahu di mana ada tumbuh rumpun murbei yang besar dan tengah berbunga dan di sana saya memetiki kuntum-kuntumnya untuk membuat ranjang di dalam lumbung gandum. Pernahkah kamu tahu betapa lembut dan mengkilapnya butir gandum itu? Selembut lengan perempuan—Ya, saya masuk ke dalamnya, membiarkan penutupnya melekap di atas tubuh saya, lalu tertidur; dan ketika terbangun tubuh saya jadi terasa sakit, tapi saya tidak mati—seperti kamu lihat. Apa yang saya inginkan…saya sendiri tak tahu. Kamu tidak tergapai, tak mampu kuraih, tapi melalui penglihatan atas dirimu itu saya jadi sadar betapa hampanya harapan ini untuk bangkit ke tingkat lebih tinggi meninggalkan kondisi rendah di mana saya dilahirkan.]

sangat terkesan mendengar ini, akhirnya Nona Julie pun tak bisa menahan perasaannya dan berkata:

[Bawalah aku dalam pelukanmu dan katakan kau cinta padaku.]

 

Mudah ditebak apa yang kemudian terjadi pada Nona Julie. Saya kira banyak perempuan akan kurang menyukai perlakuan Strindberg atas perwatakan Nona Julie ini. Hal ini berkebalikan dengan perlakuan Ibsen atas Nora Helmer dan Hedda Gabler—dua tokoh rekaannya yang paling kuat. Karya Strindberg dan Ibsen memang saling berkebalikan. Perlakuan Strindberg atas watak perempuan dalam drama terbesarnya ini membuatnya dicap sebagai misoginis, sedangkan Ibsen dikenal secara luas sebagai seorang feminis. Namun meski demikian –kata dramawan Bernard Shaw– Ibsen dan Strindberg adalah “raksasa teater kita dewasa ini”. Keduanya sama-sama meletakkan pondasi bagi pertumbuhan drama modern.

Strindberg banyak menulis dramanya di masa ketika realisme dan naturalisme mendominasi. Nona Julie sering dianggap sebagai puncak karyanya dari fase naturalisme. Kita tahu, pada gilirannya pengaruh naturalisme digantikan oleh simbolisme yang diwakili oleh karya besar Maeterlinck, Pelleas et Mellisande (1893). Strindberg sendiri pada akhirnya masuk ke fase simbolisme pula melalui drama-drama terakhirnya: The Dance of Death (1900), A Dream Play (1901), dan The Ghost Sonata (1907). Namun ketiganya tak mencapai pengaruh sebesar Nona Julie.

Banyak diyakini bahwa pengalaman praktis pementasan lakon sangat mendukung kemampuan seorang dramawan dalam menulis naskah cemerlang. Sebut saja nama Shakespeare, Moliere, Ibsen, dan Pinter yang menjadi hebat karena pengalaman praktis tersebut. Uniknya, Strindberg bukanlah dramawan macam mereka. Pengalamannya di dunia panggung sangatlah terbatas; namun alih-alih menghalangi pencapaian, keterbatasan itu justru menjadi aset baginya sehingga muncullah inovasi, karena ia tidak terkungkung oleh tradisi yang sudah ada dalam mengejawantahkan naskah lakon ke atas panggung.

Namun pula justru karena sifat inovatif itulah maka sebagai dramawan Strindberg membutuhkan waktu lama untuk dikenal luas. Nona Julie ini saja pertama kali dipentaskan di Copenhagen –bukan negerinya sendiri– dengan jumlah penonton yang sangat terbatas. Strindberg baru berhasil memboyong Nona Julie di hadapan publik Stockholm, Swedia delapan belas tahun kemudian, di tahun 1906. Bahkan ketika pertama kali naskah drama ini diterbitkan di tahun 1988, hampir semua reaksi bernada negatif. Maka tak heran setelah pentas perdana itu drama ini dilarang dipentaskan di seluruh Eropa.

Ketika kemudian diyakini bahwa karya yang dicap buruk sebenarnya adalah mutiara, naskah ini pun segera diangkat kembali, dan pementasannya pun banyak digelar di berbagai penjuru Eropa dan Amerika sepanjang abad 20, hingga drama ini segera termasyhur ke seluruh dunia sebagai tonggak drama modern.

Pengaruh Strindberg bagi para dramawan sesudahnya sangatlah besar. Eugene O’Neil, dramawan Amerika peraih nobel sastra 1936, menilai Strindberg: “paling modern di antara dramawan modern. Ia paling hebat dalam menampilkan konflik spiritual—dialah darah! Darah kehidupan kita sekarang ini.” Sutradara besar Ingmar Bergman –yang sangat saya sukai lewat film ‘Scenes from A Marriage’ (1972)– menyebut Strindberg sebagai kawan seumur hidup: “Aku berusaha menulis dialog, adegan, dan segala sesuatunya seperti dia. Aku merasakan daya hidupnya, kemarahannya ada dalam diriku.”

Dalam pengantar yang ia tulis sendiri untuk menjelaskan dramanya ini, Strindberg memandang akan ada perubahan perspektif atas sosok Nona Julie ini seiring berjalannya waktu. Ia berasumsi betapa audiens di masanya akan memandang Nona Julie sebagai sosok yang tragis, namun ia prediksikan publik di masa depan akan memandang nasibnya dengan sikap tak peduli.

Pandangan Anda sendiri bagaimana?

***

oleh Nurul Hanafi


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Nona Julie karya August Strindberg.

Posted on

Wilde, Profesor Estetika [Esai]

Oscar Wilde Profesor Estetika

Semakin suntuk seseorang belajar tentang kehidupan dan sastra, makin kuat dirasakannya bahwa di balik segala yang indah berdirilah sesosok pribadi….

Wilde, The Critic As Artist

Dengan tulus dan rendah hati, saya mengagumi dan menaruh hormat pada Oscar Wilde (1854-1900). Hidup novelis dan dramawan ini bagaikan lintasan rollercoaster: diwarnai perubahan-perubahan ekstrem. Kariernya meroket dengan sangat cepat, mendunia sejak masih berusia likuran tahun, namun merosot dengan amat cepat pula, lalu kembali tiada. Persis seperti kuntum-kuntum bunga segar yang biasa dengan kenes menghiasi lubang kancing bajunya saat memberikan ceramah sastra.

Mendengar gambaran saya akan penampilan penulis kita ini, sudah pasti Anda kagum. Wilde seorang pria muda yang gemar berpenampilan mencolok, memakai jubah beludru hitam, bertopi lebar, dan berambut panjang sebahu yang kadang menyembunyikan wajahnya yang tampan. Kedua matanya biru tua, memancar teduh. Ia tidak berkumis, tinggi badannya ideal, dan bertubuh tegap. Sepatu kulitnya mencapai pertengahan betis dan kaus kakinya sutera merah. Saya membayangkan, tanpa bermaksud ironis, jika menyandang pedang tentulah ia mirip Zorro.

Wilde sering menegaskan bahwa dirinya seorang jenius, dan kebanggaan diri ini ia pertahankan hingga karya besarnya yang terakhir, De Profundis (1897). Ia tidak semata-mata sesumbar, dan itu bukanlah ungkapan penulis yang tak bisa menakar kemampuan diri. Karena, harus disebut dengan nama apa lagikah seorang yang sanggup menggubah novel dan naskah drama sama hebatnya? Untuk kategori pertama, kita tak perlu meragukan lagi kehebatan The Picture of Dorian Gray (1890)—novel yang menyuarakan filsafat seni; untuk kategori kedua, The Importance of Being Ernest (1895) adalah satu dari seratus drama terbaik dunia sepanjang masa.

Mari kita bandingkan dia dengan sastrawan sebangsanya. James Joyce, sesama penulis Irlandia, sering dianggap jenius, dan Ulysses (1920) novelnya adalah salah satu mahakarya abad 20; namun drama yang ditulisnya, Exile (1918) boleh dibilang hancur lebur. W. B. Yeats, Irlandia juga, adalah peraih nobel tahun 1923; tapi ia jauh lebih dikenal sebagai penyair ketimbang dramawan. Dua novel Virginia Woolf menjadi tonggak sastra modernis, namun siapa berani bilang dramanya, Freshwater (1923), adalah karya cemerlang? Bahkan Shelley, penyair besar era romantik itu, pun hanya menciptakan drama ide saat menulis Prometheus Unbound (1820). Jika Wilde mensejajarkan dia dengan Sophocles, ia tentulah sedang membandingkan passion dalam karya mereka.

Wilde bukanlah penulis yang produktif, dan saya sendiri belum terlalu banyak membaca karyanya, namun saya bisa merasakan kharismanya. Saya menyukai komedi sosial dalam drama-dramanya, dan baik The Importance of Being Earnest (1895) maupun Lady Windermere’s Fan (1892) dipenuhi dialog cerdas yang mengingatkan saya pada kecerdikan verbal tokoh-tokoh Shakespeare. Salah satu ungkapan kecerdikan Wilde adalah kalimat-kalimat kontradiktif, dan ini mudah kita jumpai. Bagaimana menurut Anda jika seorang Lady Plymdale, tokohnya dalam Lady Windermere’s Fan, berkata ‘perlu ada seorang wanita yang amat sangat baik untuk bisa melakukan hal yang amat sangat bodoh?’

Wilde adalah pembicara yang sangat cemerlang, mempunyai aura istimewa saat berbicara, dan pandai berhumor sehingga hadirin atau khalayak luas terpesona oleh daya pikatnya. Jika saya hidup di Inggris akhir abad 19 dan jika Wilde bersedia mencopot kancing-kancing bajunya untuk diperebutkan seusai ceramah, sudah pasti saya akan mati-matian berusaha tampil di barisan terdepan. Mereka yang hidup sezaman dengannya tentu merasakan kharismanya lebih kuat dibanding saya yang hanya membaca. Ya, paling tidak sebelum mereka tahu ia diseret ke penjara. Tapi . . . ya ampun . . . , bagaimana bisa ia sampai ke sana?

***

Wilde telah banyak membaca semenjak masa kanak, dan gairah bacanya menggila ketika ia kuliah di Oxford. Tentang gairah ini, ia menulis: aku ingin melahap semua buah dari pohon yang tumbuh di taman dunia ini, dan aku menuju dunia berbekal hasrat itu di dalam jiwaku, dan begitulah aku hidup. Tidak heran jika ia menjadi lulusan terbaik. Mendengar kabar itu melalui telegram, sang ibu menulis surat: akhirnya kita punya sosok jenius.

Kuliah di Oxford adalah titik balik terbesar pertama bagi Wilde.

Sebagai seorang pembicara ulung, Wilde dengan bangga menyebut diri ‘profesor estetika’, dan bersama ide-ide tentang ‘seni untuk seni’ ia berceramah di Amerika sepanjang tahun 1882. Usianya belum lebih dari 28 tahun. Paling minim, sepanjang tahun itu ia telah 71 kali memberikan materi di berbagai kota. Popularitas di Amerika dalam usia dini ini setahu saya hanya bisa ditandingi oleh Dickens.

Ketika di pertengahan Januari 1882 wartawan Philadelphia Express bertanya tentang penyair Amerika yang paling ia kagumi, Wilde menjawab: ‘Saya kira Walt Whitman dan Emerson telah memberikan pada dunia lebih banyak dibanding penyair mana pun. Saya juga berharap bisa berjumpa Tuan Whitman. Mungkin puisinya belum dikenal di Inggris, tapi orang Inggris memang tak pernah menghargai seorang penyair sampai si penyair lama mati.’ Pewawancara jelas menangkap nada kepedihan di dalamnya.

Wilde serius dengan ucapannya. Tanpa menunggu lama, esok lusanya ia berkunjung ke kediaman Whitman (1819-1892) di Camden, dan keduanya berdiskusi panjang sambil minum sebotol anggur. ‘Bagiku,’ kata Whitman, ‘ia adalah seorang pemuda yang hebat dan cemerlang. Ia begitu terbuka, bebas, dan jantan . . .’ Setelah diskusi dua jam, Whitman menghidangkan segelas besar milk punch. Ia mereguknya tandas sekalian.

Selama perjamuan dua jiwa ini, sang profesor estetika memaparkan dengan bebas semua teori mazhab estetis yang ia bangun sambil sesekali meminta pendapat sang maestro. Penyair uzur itu hanya tersenyum dan berkata: “Kudoakan kau, Oscar; dan tentang paham estetikamu itu, aku hanya bisa bilang bahwa kau muda dan menyala seperti api, dan ladang ini luas, dan jika kau menghendaki nasihat dariku, kubilang padamu ‘maju terus’. ”

Bukan hanya itu, Wilde juga menyampaikan titipan pesan para penyair Inggris untuk Whitman, dan ia menerima titipan balasan dari Whitman buat mereka. Siang itu, Wilde banyak menyebut nama Tennyson (1809-1892) sehingga Whitman menegur: ‘Tidakkah kau akan menggoyahkan posisi para idolamu, Tennyson dan lain-lain itu?’ Apa jawab Wilde? ‘Sama sekali tidak. Posisinya terlalu mantap dan kami teramat mencintainya . . .’ Di akhirnya perjumpaan, kata perpisahan Whitman adalah: ‘Goodbye, Oscar; God bless you.’

Dalam perjalanan pulang dari Camden, tercekam oleh isi perbincangan yang bernas, bibir Wilde hening membisu.

Di tengah rangkaian jadwal ceramah di Amerika, Wilde sempat pula berkunjung ke sebuah penjara besar. Dalam surat panjangnya untuk seorang kawan, Norman F. Robertson, ia menulis: wajah-wajah jahat para narapidana membuatku terhibur, karena aku benci melihat seorang penjahat berwajah priyayi.

Sayang sekali, kata-kata ini kemudian menjadi nujuman bagi nasibnya sendiri, karena 13 tahun kemudian, tepatnya 5 April 1895, hakim menjatuhkan vonis 2 tahun penjara menyusul dakwaan ‘melakukan penyelewengan moral dari jenis paling menjijikkan di kalangan para pria muda’. Wilde sendiri menyebutnya ‘cinta yang tak berani menyebutkan namanya’. Hakim mengakui ini sebagai kasus terparah yang pernah ia tangani. Seperti Cordelia di hadapan King Lear, mendengar vonis ini Wilde hanya menjawab: ‘And I, may I say nothing, My Lord?’ Wilde diseret ke pengadilan setelah terbukti menjalin hubungan istimewa bersama Lord Alfred Douglas. Sejak itu, karier dan kehidupannya meluncur turun. Itulah mengapa saya sebut hidupnya bak lintasan rollercoaster.

Jika kemudian Wilde menyebut penjara adalah titik balik terbesar kedua dalam hidupnya, itu sangatlah tepat. Orang mulai semena-mena bicara dan menulis tentang dia. Dan jika dalam Sodom and Gomorrah Proust mensejajarkan tidak stabilnya posisi para homoseksual dengan posisi para seniman, menyebut betapa seniman ‘dipestakan di setiap ruang resepsi dalam sehari dan diberi tepuk tangan meriah di setiap gedung seni di London, lalu esoknya diusir oleh setiap penginapan, tak mampu menemukan segulung bantal tempat ia menyandarkan kepala’, seniman yang dimaksud Proust tiada lain adalah Wilde. Mereka bertemu pertama kali tahun 1891, dan bahkan Proust mengundangnya makan malam. Waktu itu Wilde berada di Paris untuk menggarap Salomé.

Constance Lloyd, istrinya sendiri–Wilde lebih layak disebut biseksual–mendapatkan perlakuan diskriminatif ketika sebuah hotel di Swiss mengusirnya karena menyandang nama Wilde. Ia sempat mengunjungi Wilde di Penjara Reading dan menyatakan penolakan ketika si ayah ingin bertemu Vyvyan, putranya yang kedua, seraya menambahkan ‘kau tidak menyadari rasa malu dan derita yang diakibatkan olehmu.’ Constance tetap kukuh tidak bersedia mempertemukan si ayah dengan kedua anaknya.

Setelah dibebaskan pada 19 Mei 1897, Wilde merasa tak sanggup lagi menanggung aib hidup di Inggris. Apa yang ia jalani terlalu berat untuk ia tanggung dengan gagah. Ia kembali berjumpa dengan Alfred Douglas, namun keduanya bertengkar sengit. Mereka berpisah untuk selamanya, dan Wilde pun berlayar ke Paris dan tak pernah kembali lagi ke Irlandia.

Coba, bayangkanlah seperti apa pedihnya jika Anda menjadi Oscar Wilde!

***

Buku ini memuat dua kumpulan dongeng Oscar Wilde sekaligus. Kumpulan dongeng Pangeran Bahagia (The Happy Prince) diterbitkan pada bulan Mei 1888, sedangkan Rumah Delima (A House of Pomegranates) diterbitkan akhir tahun 1891, beberapa bulan setelah ia mengenal Lord Alfred Douglas. Ketika seorang peresensi bertanya apakah kumpulan Rumah Delima diperuntukkan bagi anak-anak, Wilde yang sedang berada di Paris menjawab ‘maksud saya untuk memuaskan anak Inggris sama besarnya dengan niat saya untuk memuaskan publik Inggris secara umum.’

Sebagai seorang ayah, Wilde dekat dengan kedua putranya dan sering menemani mereka bermain. Jika lelah bermain, ia akan membuat mereka terdiam dengan menuturkan dongeng atau kisah petualangan. Cyrill si sulung suatu kali bertanya ‘mengapa mata ayah berkaca-kaca ketika mengisahkan Raksasa yang Egois?’ Sang ayah menjawab: hal yang sangat indah selalu membuatku menangis.

Para pengamat cenderung menjauhi buku dongeng Pangeran Bahagia (The Happy Prince) dan Rumah Delima (A House of Pomegranate) karena tak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan dua buku ini. Barangkali pula mereka berpikir betapa kontradiktif, karena Wilde yang subversif, amoral, dan musuh bagi nilai-nilai sosial era Victorian itu ‘sampai hati’ menulis cerita-cerita yang cenderung didaktis dan konservatif. Dan tidakkah pula nilai didaktis itu mengingkari prinsip seni-untuk-seni yang ia kampanyekan hingga ke Amerika?

Jika Anda terbiasa dengan gaya mendongeng Hans Christian Andersen (semacam: Gadis Penjual Korek Api, dll), rumusan naratif Wilde dalam buku kumpulan dongeng ini tak jauh beda dengan karya penulis pendahulunya itu. Bahkan jika kita mengacu pada motif dasar dan konvensi dongeng yang dirinci oleh Propp dalam The Morphology of Folktales, di mana salah satu poinnya seorang protagonis yang terusir dari ‘surga’ akhirnya mampu bangkit setelah melampaui banyak rintangan–hal yang justru mengasah karakternya–serta berhasil ke posisi semula, mendapat banyak uang, status terhormat, dan istri yang cantik secara sangat ajaib dan mendadak, motif dasar seperti ini pun kita dapati dalam Sang Raja Muda dan Anak Bintang. Namun tentu saja kesimpulan yang sangat reduktif jika kita memandang dongeng-dongeng Wilde hanya sebatas itu.

Kita harus berhati-hati, karena meskipun terkesan jinak, dongeng-dongeng Wilde menyimpan bara seksualitas yang subversif. Lihatlah, betapa sang Pangeran Bahagia meminta agar si Seriti (jantan) menciumnya tepat di bibir sebagai tanda perpisahan. Perhatikan pula betapa dalam rasa sayang si Raksasa Egois kepada si bocah lelaki yang bermain di tamannya itu. Kritikus Gary Schmidgall dan Neil Bartlett juga mencontohkan betapa sang Raja Muda berlama-lama menatap patung Adonis—sosok pemuda tampan yang digilai sekaligus oleh Aphrodite dan Persephone itu. Menurut mereka pula, si cebol dalam dongeng Ulang Tahun Sang Infanta yang terteror setelah menyadari betapa orang menertawakan wajah buruk serta sosok ganjilnya itu menggemakan teror yang dialami Wilde saat menyadari betapa masyarakat tak bisa hidup nyaman melihat keberadaan kaum homoseks. Dan betapa pula si Anak Bintang dalam dongeng terakhir lebih suka berkaca di perigi mengagumi wajahnya sendiri ketimbang mengagumi kecantikan seorang gadis.

Untuk menghubungkan dua kumpulan dongeng ini dalam sebuah benang merah, bisa saya katakan pula bahwa perbandingan antara kisah hidup sang Raja Muda dan sang Pangeran Bahagia adalah sebuah gagasan yang menarik. Adalah sangat masuk akal untuk membayangkan bahwa kisah Pangeran Bahagia adalah kelanjutan dari kisah Sang Raja Muda.

Mari kita lihat kesamaan motifnya. Pertama, baik sang Raja Muda maupun Pangeran Bahagia sama-sama mencapai pencerahan tentang kondisi rakyat jelata yang hidup menderita. Sang Raja Muda mendapatkannya melalui mimpi, sedangkan sang Pangeran Bahagia mendapatkannya setelah ia menjadi patung dan terpacak tinggi di atas tiang. Kedua, mereka sama-sama berkorban setelah mencapai pencerahan itu, meski tentu saja pengorbanan sang Pangeran Bahagia jauh lebih heroik.

Bedanya, pengorbanan sang Raja Muda adalah bersifat impulsif, sebagai usaha membalas jasa rakyatnya yang telah jelas-jelas terlebih dulu berkorban untuknya. Sebaliknya, pengorbanan sang Pangeran Bahagia terasa lebih mendalam, karena ia melihat sendiri secara lahir bukti penderitaan rakyatnya, dan tanpa menimbang apakah rakyatnya itu berkorban secara langsung untuknya ataukah tidak.

Selain itu, (patung) Pangeran Bahagia telah berhasil melakukan sesuatu yang bukan saja tak bisa ia lakukan selagi ia masih hidup, namun juga berhasil melakukan sesuatu yang–mungkin–tetap tak bisa dilakukan sang Raja Muda sampai akhir hayatnya.

Secara keseluruhan, tema pengorbanan lebih banyak mewarnai kumpulan Pangeran Bahagia dibanding dengan Rumah Delima. Lihatlah betapa si burung Bulbul berkorban untuk si pelajar muda, dan betapa si Hans kecil berkorban untuk si Tukang Giling. Semua pengorbanan itu berakhir dengan penderitaan dan bahkan kematian. Si Nelayan Muda dalam kumpulan Rumah Delima menjalani pengorbanan yang serupa, namun ia menempuh jalan lebih rumit untuk mencapai akhir hidup yang memilukan.

Kita bahkan bisa menangkap nada politis di buku ini. Kritikus Jarlath Killeen mensinyalir betapa yang dimaksud Wilde dengan ‘pelosok hutan sejarak satu hari perjalanan naik kereta dari kotapraja’ (Sang Raja Muda) itu adalah Irlandia. Betapa Wilde tengah memperingatkan bahaya laten proses pembudayaan otoritas Inggris terhadap tanah yang selalu resah dan ingin bebas sejak masa Ratu Elizabeth itu.

Lebih lanjut, Killen menegaskan minat dan keterikatan Wilde pada ajaran Kristen, dan betapa minat ini hadir sepanjang hidup dan menjadi prinsip estetis yang vital. Killen menemukan sosok perawan Maria dalam diri sang Infanta. Apalagi Infanta berulang tahun di bulan Mei, bulannya Maria, dan ia berada di ambang remaja. Tentang si cebol, David Williams menyinggung betapa dalam teologi abad pertengahan orang cacat dipercaya bisa membukakan jalan ke arah pencerahan spiritual.

Untuk mencontohkan Kristenitas Wilde di luar Rumah Delima, bisa saya tunjukkan bahwa dalam De Profundis ia menyebut ada ‘hubungan yang intim dan sangat dekat antara kehidupan sehari-hari Kristus dan kehidupan sehari-hari seniman’ dan bahwa ‘Kristus adalah sebenar-benar pendahulu gerakan romantik dalam hidup’.

***

Jika di atas saya menyebut nama Hans Christian Andersen (1805-1875) dan menyinggung bahwa rumusan naratif Wilde dalam buku kumpulan dongeng ini tak jauh beda dengan karya penulis pendahulunya itu, kesimpulan ini tidaklah berlebihan. Bahkan bisa saya bilang Wilde terpengaruh olehnya. Wilde banyak menampilkan ironi sebagaimana pula Andersen. Ironi Wilde boleh dibilang hampir tak pernah absen, namun paling nampak mencolok pada kisah Teman Setia. Kita bisa bandingkan itu dengan ironi Andersen dalam Baju Baru sang Kaisar (The Emperor’s New Clothes), atau Hantu Cahaya Masuk Kota (The Will-o’-the-Wisps Are in Town). Perdebatan antar pasukan kembang api dan tingkah sombong si Roket dalam kisah Roket yang Mengagumkan mengingatkan saya pada dialog komikal antara Kerah, Garter, Kotak Besi, Gunting, Sisir, dan kesombongan si Kerah di hadapan mereka semua dalam kisah Andersen, Kerah yang Congkak (The False Collar).

Namun, sejauh pengamatan saya atas karya-karya Andersen, saya akhirnya cenderung menyimpulkan bahwa dongeng-dongeng Wilde lebih mudah untuk dipahami anak-anak dibanding dongeng-dongeng Andersen. Jawaban Wilde atas pertanyaan seorang peresensi di awal pembahasan tadi memang cukup menjelaskan betapa ia tidak semata-mata mengarang secara didaktis. Hanya saja, kenyataan bahwa ia sengaja menulis dongeng-dongeng ini sebagai hadiah untuk kedua putranya cukup menjelaskan mengapa ia cukup ‘mengendalikan diri’. Sebaliknya, Andersen tidak pernah menghadiahkan kisah karangannya untuk anak-anak, dan ia juga tidak pernah dekat dengan dunia anak. Andersen sepanjang hayatnya tak pernah menikah dengan siapa pun; hal yang membuat ia frustrasi dan depresi.

Ada sedikit kemiripan biografis antara Wilde dan Andersen. Keduanya tergolong kaum biseksual, dan sebagaimana Wilde yang dibuat patah hati oleh Lord Alfred Douglas, Andersen mengalami kekecewaan yang sama memikirkan Edvard Collin.

Kalau saya berpanjang-panjang tentang perbandingan kedua penulis ini, saya harap Anda semua akan menerimanya, karena sebagai klimaks saya ingin menunjukkan keterpengaruhan terbesar Wilde pada Andersen. Anda tentu pernah mendengar ada kisah Si Puteri Duyung (The Little Mermaid). Kalaupun banyak yang belum tahu jalan ceritanya, minimal Anda tahu kisah ini pernah difilmkan oleh Walt Disney. Nah, kisah Si Nelayan Muda dan Jiwanya adalah ‘hutang budi’ terbesar Wilde kepada Andersen. Kemiripan motif antara kedua kisah itu sedemikian mencolok, sehingga mustahil Anda membaca Andersen tanpa menemukan kemiripan ini.

Kisah Si Nelayan Muda dan Jiwanya berangkat dari sebuah dialog tentang jiwa dalam si Puteri Duyung. Si putri duyung sehabis menyelamatkan nyawa seorang pangeran yang kapalnya terhantam badai bertanya pada neneknya: ‘Kalau manusia tidak tenggelam, apakah mereka bisa hidup abadi? Si nenek menjawab: ‘Oh, mereka juga akan mati, bahkan lebih cepat dari kita. Tapi kita tak punya jiwa yang abadi, dan kita tak bisa hidup lagi setelah mati. Kita hanya akan jadi buih di laut setelah mati nanti. Sebaliknya, manusia punya jiwa yang hidup selamanya. Karena itu mereka bisa mengunjungi tempat-tempat indah yang belum dikenal; tempat yang tak akan pernah bisa kita lihat seumur hidup.’ Jawaban ini membuat si puteri duyung sedih.

Si puteri duyung jatuh cinta pada pangeran itu dan ingin hidup bersamanya. Ia bertekad untuk mengorbankan apa saja demi mendapatkan sang pangeran dan bisa hidup abadi. Ia pun berniat menemui penyihir laut untuk minta bantuan.

Dalam Si Nelayan Muda dan Jiwanya, si nelayan jatuh cinta pada puteri duyung, dan demi mendapatkannya ia menemui penyihir di puncak gunung.

Kembali pada kisah Si Puteri Duyung, si penyihir laut tahu bahwa tamunya ini ingin membuang siripnya dan menukar sirip itu dengan sepasang kaki hingga ia mirip manusia dan agar si pangeran jatuh cinta padanya. Lalu si penyihir memberi si puteri duyung secawan air yang akan membuat siripnya terbelah dua dan menjelma menjadi sepasang kaki yang indah. Dalam Si Nelayan Muda dan Jiwanya, tokoh kita ingin membuang jiwanya, dan si penyihir memberinya sebilah pisau.

Si puteri duyung harus berkorban dan menanggung risiko demi menebus keistimewaan barunya yang berupa sepasang kaki itu. Setiap langkah yang ia pijakkan akan terasa pedih bagaikan menginjak sebilah pisau. Dalam Si Nelayan Muda dan Jiwanya, tokoh kita mengalami konflik batin karena sang Jiwa selalu memerintahkannya berbuat jahat, sementara sang Jiwa hanya menjawab bahwa ia memerintahkan itu karena si nelayan tak memberinya hati.

Si puteri duyung tahu pasti dirinya akan meninggal pada pagi setelah malam pernikahan si pangeran. Dirinya bisa tetap hidup asalkan tega membunuh si pangeran pada malam itu dengan menghunjamkan pisau pemberian kelima kakaknya. Namun ketika saatnya tiba, ia justru melemparkan pisau itu ke tengah lautan. Dalam Si Nelayan Muda dan Jiwanya, sang Jiwa tak bisa masuk kembali ke dada tokoh kita karena hati si nelayan muda telah begitu sesak oleh cinta. Ketika bersamaan dengan itu gelombang laut membawa jasad si puteri duyung yang telah mati hanyut ke pantai, si nelayan muda terus menciumi jasad itu dalam kepiluan mendalam, terus menekuri sosok tak bernyawa itu meski sang Jiwa sudah memperingatkan dia akan datangnya gelombang besar. Akhirnya, luapan perasaan cinta membuat hati si nelayan muda pecah, dan karena itulah sang Jiwa punya kesempatan untuk masuk ke dalam dadanya dan menyatu bersamanya kembali. Namun si nelayan muda sudah tak bernyawa.

Sungguh keduanya adalah sepasang cerita yang kesejajaran motif-motifnya sangat mengagumkan!

Kisah ini pun turut menguatkan tema yang mendominasi dongeng Wilde sejak halaman-halaman pertama: bahwa pengorbanan pada akhirnya selalu berujung pada kesedihan dan kematian.

***

Sebagai seorang ‘profesor estetika’, Wilde sangat sadar akan rasa bahasa dan kosakata. Ia pernah menyatakan: ‘Kenikmatan puisi tidaklah berasal dari subjeknya, tetapi dari bahasa dan ritme.’ Ia sengaja menghindari istilah yang terlalu sering dipakai atau frasa-frasa yang telanjur lazim. Jika sudah menemukan kata atau istilah yang sangat ia sukai, ia akan rajin menggunakannya sehingga menjadi ciri khas. Tidak heran jika naskah asli Pangeran Bahagia dan Rumah Delima dipenuhi kosakata antik, kuno, dan langka, yang sering hanya bisa ditemukan artinya dalam kamus paling lengkap. (Sangat beralasan jika pembaca menduga Wilde adalah kolektor batu mulia. Kenyataannya ia punya banyak koleksi porselin Cina sejak kuliah di Oxford.) Penerjemah berusaha mempertahankan selera bahasa ini dan sebisa mungkin mencari padanan yang tak kalah kunonya dalam kosakata Melayu lama atau Sanskerta.

***

Kembali kita pada kehidupan Wilde, bagaimanakah ia menjalani tiga tahun sebelum akhir hayatnya? Memang Wilde pernah menulis ‘aku cukup bahagia tidur di atas rumput di bawah bintang-bintang musim panas sejauh cinta masih ada dalam hatiku.’ Tapi ketika akhirnya dibebaskan, ia pun menyadari bahwa hidup menjadi amat sangat sulit. Ia tidak betah menetap di satu tempat dan ia pun berkelana ke Napoli, Sisilia, kembali ke Paris, lalu ke Napoule, Nice, Swiss, kembali ke Paris lagi, ke Le Havre, Palermo, Roma, sebelum kembali lagi ke Paris untuk terakhir kali.

Catatan kenangan tentang Wilde yang bagi saya paling menyayat hati adalah hasil tulisan Dame Nellie Melba:

Perjumpaan terakhirku dengan Wilde amat sangat mencekam. Suatu pagi di Paris aku sedang berjalan-jalan ketika di sudut jalan aku berjumpa seorang pria berperawakan tinggi namun kumuh. ‘Madame Melba, Anda tidak tahu siapa saya. Saya Oscar Wilde,’ katanya. ‘Dan saya akan melakukan hal yang tak mengenakkan. Saya akan meminta uang pada Anda.’ Kukeluarkan segala yang kupunya dari dalam dompetku, dan ia meraihnya dengan cepat, menggumamkan kata ‘thanks’ dan pergi.

Kepergian dua wanita yang paling ia cintai menambah dalam penderitaan Wilde. Ibunya, Esperanza, berpulang ketika Wilde masih di penjara, dan Constance meninggal di Genoa pada bulan April 1898 setelah menjalani operasi perut.

Menjelang ajal, di tengah kesempitan ia masih sempat melontarkan paradoks meski kali ini dalam nada yang benar-benar pahit: ‘Aku menulis ketika aku belum tahu apa itu hidup. Kini setelah aku mengenal hidup aku tak punya apa pun lagi untuk ditulis.’

Akhirnya Wilde menghembuskan napas terakhirnya di Hotel d’Alsace pada 30 November 1900.

***

Sebagai penutup, Anda yang sedang membaca buku ini saya berharap Anda sekarang seperti Oscar Wilde yang sedang berada dalam fase Oxford, melahap semua buah dari pohon yang tumbuh di taman dunia ini, termasuk tentu saja butir-butir lezat buah delima. Salam perpisahan saya adalah sebagaimana yang disimak Wilde dari mulut Whitman: aku hanya bisa bilang bahwa kau muda dan menyala seperti api, dan ladang ini luas, dan jika kau menghendaki nasihat dariku, kubilang padamu ‘maju terus.’ Goodbye, readers, God bless you.

***

oleh Nurul Hanafi


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Pangeran Bahagia & Rumah Delima karya Oscar Wilde.

Posted on

Dunia Fabel Aesop [Esai]

Dunia Fabel Aesop

Aesop (abad 6 SM) adalah pengarang fabel atau cerita-cerita binatang Yunani. Fabel-fabel itu sebagian besar diceritakan secara lisan, tapi beberapa yang lain digubah dalam bentuk sajak oleh Babrius (abad 3 M) dan yang lain diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Phaedrus (abad 1 M) dan Avianus (abad 4 M). Cerita-cerita itu menjadi terkenal di barat pada masa Renaissans abad 14. Erasmus membuat edisi latinnya pada tahun 1513 dan sejak saat itu edisi ini banyak digunakan di sekolah-sekolah. Cerita-cerita ini banyak ditiru dan diadaptasi mulai abad 18 hingga sekarang.

Bukan sekadar kisah moral, sebagian besar fabel-fabel Aesop sesungguhnya adalah alegori politik, menggambarkan betapa golongan yang kuat selalu berusaha menguasai, mengendalikan, dan bahkan menghancurkan golongan yang lebih lemah. Kisah persekutuan dan pengkhianatan sangat jamak kita dapati, dan aroma penindasan pun bergaung kuat dalam fabel-fabelnya. Ini sangat wajar, mengingat Aesop sendiri adalah seorang budak. Ia dibebaskan dari belenggu ini semata berkat kecerdasannya dalam menggubah ratusan fabel.

Tidak sedikit pula di antara ratusan fabel itu yang mempunyai kesamaan motif cerita, dan pembedanya hanyalah jenis karakter binatang yang terlibat di dalamnya. Menghadapi hal demikian, penerjemah mempertahankan salah satu fabel dan mengeliminasi varian-variannya.

Setting hutan dalam fabel-fabel Aesop bukan sebatas sebuah wilayah fisik yang dihuni satwa liar dan pepohonan. Bagi Aesop, hutan berarti pula sebuah keluarga, sebuah desa, kota, negara, atau bahkan dunia.

***

oleh Nurul Hanafi


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Kumpulan Fabel karya Aesop.

Posted on

James Joyce dan Musik [Esai]

Biografi James Joyce

Kalau Anda menantang Samuel Beckett dalam bermain catur atau menantang Ernest Hemingway dalam lomba berburu, jangan harap Anda dapat mengalahkan mereka dengan mudah. Hal yang sama berlaku kalau Anda menantang James Joyce dalam lomba bernyanyi. Kalau saja Joyce memilih jalan hidup alternatif selain sebagai penulis, besar kemungkinan pilihannya akan jatuh sebagai musisi. Sebab sedari kecil ia sudah mewarisi suara tenor merdu dari ayahnya, ditambah ia juga mahir dalam bermain piano dan gitar. Ia sendiri pun seorang pengagum musik klasik. Selama merantau ke berbagai kota, seperti Trieste dan Swiss, ia sering menghabiskan waktunya menonton pertunjukan opera Bellini dan Wagner—dua komposer favoritnya. Musiklah yang menjadi pemandu kiblat menulisnya. Adapun cara manjur baginya untuk menggali inspirasi selama proses menulis adalah dengan bermain piano sendirian sambil melantunkan lagu-lagu klasik.

Joyce adalah pengamat yang peka, baik rupa ataupun nada. Telinganya sangat sensitif terhadap keadaan di sekelilingnya. Ini tentu saja menjadi modal yang kuat bagi seorang pecinta musik. Kalau kita cermati betul novel A Portrait of the Artist as a Young Man (1916), di dalamnya banyak bertebar kiasan dari sumber bunyi. Salah satu bagian yang paling mencolok adalah ketika ia memadukan keselarasan bunyi antara tetesan air mancur dengan dentum pukulan bola kasti: pick, pack, pock, puck.

Sewaktu masih dididik di sekolah Jesuit Clongowes—setara sekolah dasar—Joyce bukanlah murid yang terlalu menonjol dalam prestasi akademik. Ia cenderung suka menyendiri dan justru tak disenangi gurunya karena ia suka berkata kotor dan menyumpah serapah. Barangkali dari sini Joyce muda pelan-pelan mulai belajar menyimpan ledakan kata-kata dalam kepalanya. Baru ketika dewasa ia meluapkan seluruhnya dalam sebuah novel setebal hampir seribu halaman yang diberinya judul Ulysses (1922), dengan gaya penulisan eksperimental monolog batin, atau lebih dikenal dengan sebutan stream consciousnessUlysses, yang digambarkan para penulis sesudahnya bagaikan ‘bom’ adalah penyempurnaan monolog batin yang pernah diterapkan oleh Virginia Woolf dan William Faulkner.

Joyce punya pandangan tersendiri, bagaimana menjalani hidup yang dapat menunjang proses kreatifnya sebagai penulis. Menginjak masa remaja ia sudah biasa bergumul dalam dunia malam bersama alkohol, mendatangi wanita penghibur di kawasan lokalisasi paling ramai di Dublin. Adapun judul Chamber Music sebetulnya diambil dari bunyi dentingan kencing seorang wanita yang sedang bersamanya dalam suatu bilik. Di masa mudanya yang penuh gejolak ini, beruntung kemudian ia berkenalan dengan Nora Barnacle, gadis sederhana yang berasal dari Galway. Ini menjadi titik terpenting dalam perjalanan hidup Joyce. Baginya, Nora adalah dayang, sumber inspirasinya dalam menulis. Wanita inilah yang boleh dibilang paling berpengaruh atas lahirnya karya-karya fenomenal Joyce.

Namun sebelum mendapat pengakuan dari dunia luas atas terbitnya Ulysses, nasibnya hampir semiris Pramoedya, sama-sama dibuang oleh bangsanya sendiri. Ia terlunta-lunta mengembara ke negeri lain oleh karena karyanya dituduh mengandung hujatan agama. Dan ia kurang mendapat dukungan dari kalangan seniman di negerinya sendiri meskipun ia adalah seorang nasionalis.

Kariernya sebagai penulis yang penuh lika-liku dimulai dengan Chamber Music (1907), kumpulan puisi romantik yang kaya akan kandungan nuansa musik di setiap baitnya. Keseluruhan puisi ditulis sebelum ia menginjak usia 25 tahun dan kelak menjadi cikal bakal lahirnya A Portrait of the Artist as a Young Man dan Ulysses. Sebagai penulis yang mencoba memadukan sastra dengan musik dan estetika, ia meletakkan batu pijakan baru dalam kesusastraan dunia, meskipun kadang disalahpahami pembaca karena gaya menulisnya terkesan seolah-olah ia dalam keadaan mabuk. Maka suatu kali ia pernah berkata, “Kalau ada bagian dari karyaku yang tak kau pahami, cukup yang perlu kau lakukan adalah membacanya dengan keras.”

oleh Gita Karisma

Posted on

Bilik Musik Joyce [Esai]

Bilik Musik James Joyce

 

Sebagian besar puisi-puisi dalam buku Bilik Musik ditulis Joyce semasa awal karier kepenulisannya. The Holy Office (1904), Chamber Music (1907), dan Gas from a Burner (1912) ditulis sebelum umurnya menginjak kepala tiga. Selama rentang waktu tersebut ia kesulitan mencari penerbit untuk kumpulan cerpennya, Dubliners. Sudah sekian banyak penerbit menolak, dengan alasan karyanya berpotensi menuai kontroversi. Pernah yang terpahit, salah satu penerbit yang semula sudah menyetujui dan membukukan naskahnya, mendadak berubah pikiran, membakar hasil cetakannya kembali. Penolakan demi penolakan yang diterimanya tentu berat bagi Joyce sebagai penulis muda, apalagi ketika itu keluarganya jatuh melarat, adapun hubungannya dengan teman-temannya tidak berlangsung baik. Maka jangan heran kalau puisi-puisi Joyce umumnya berisikan gonjang-ganjing yang dialaminya semasa muda. Beruntung kemudian Dubliners diterbitkan tahun 1914, itu pun bukan oleh penerbit di Irlandia melainkan di Inggris.

Chamber Music terdiri dari tiga puluh empat puisi romantik, ditulis sebelum Joyce bertemu dengan Nora Barnacle, yang kelak menjadi istrinya. Seperti yang pernah ia ungkapkan, “Ketika aku menulis Chamber Music, aku adalah pemuda kesepian yang biasa berjalan seorang diri di tengah malam sambil berharap suatu hari nanti seorang gadis akan mencintaiku.” Dua puisi terakhir, XXXV dan XXXVI ditambahkannya beberapa hari sebelum naskah dicetak. Meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa judulnya terinspirasi dari bunyi dentingan kencing seorang wanita dalam jambang, nyatanya puisi-puisi dalam Chamber Music memang kental dengan nuansa musik, terutama dari kekuatan rimanya yang padu, sehingga banyak musisi ternama yang mengadaptasinya ke dalam lirik lagu.

Sebelum pergi merantau keluar dari Irlandia, Joyce telah menerbitkan puisi panjang berjudul The Holy Office tahun 1904, berisikan sindiran terhadap kebangkitan sastra Irlandia yang dinilainya kolot dan tidak berbobot, terutama para seniman yang masih memegang erat seni konservatif. Menurut Joyce, seni Irlandia belum akan berkembang selama kebebasan berekspresi ditekan oleh batasan yang ditetapkan gereja. Ia berkaca pada keberhasilan Thomas Aquinas dalam membuka pandangan gereja pada abad pertengahan, yaitu dengan menggali pemikiran klasik Yunani, zaman ketika berbagai kepercayaan belum ditemukan.
Selepas lulus kuliah Joyce sempat setahun tinggal di Paris. Ia kembali ke Dublin tahun 1912 setelah mendapat kabar bahwa ibunya meninggal, sekaligus memantau kumpulan cerpennya, Dubliners, yang dikirimkannya ke penerbit Mounsel & Company. Namun, naskah yang semula sudah disetujui tahu-tahu ditolak. Kesal dikhianati, ia menulis puisi satir Gas from a Burner, dapat dilihat betapa baris-baris awal puisi itu ditujukan kepada George Roberts, pimpinan penerbit Mounsel & Company. Joyce, yang ketika itu masih berusia 22 tahun merasa dirinya dikucilkan, tidak didukung sama sekali oleh penulis Irlandia lainnya. Ia, yang menganggap dirinya ‘anak emas’ Irlandia merasa tersisih. Bukannya mendapat pujian, karyanya malah dituduh mengandung hujatan agama.

Merasa sudah tak dihargai oleh bangsanya sendiri, maka demi melanjutkan karier menulisnya, Joyce meninggalkan Irlandia. Bersama kekasihnya, Nora Barnacle, mereka pernah menetap di berbagai kota, mulai dari Paris, Trieste, dan Zurich. Selama hidup berkelana itulah ia menulis Pomes Penyeach (dinamai demikian karena satu puisi dihargai satu penny), sehingga beberapa dari judul puisinya diambil dari nama-nama tempat seperti San Sabba, Fontana, dan Bahnhofstrasse. Ada beberapa puisi ditulis buat istri dan anaknya, ada pula tentang gambaran kerinduan akan kampung halamannya. Toh ia tak pernah kembali ke Irlandia meskipun permintaan itu datang dari W.B. Yeats, pelopor kebangkitan sastra Irlandia. Puisi terakhir yang ditulisnya adalah Ecce Puer tahun 1932. Puisi ini ditujukan buat kelahiran cucu lelakinya yang diberi nama Stephen, sekaligus memperingati ayahnya yang baru meninggal.

Dalam memahami karya Joyce, kita boleh sepakat bahwa disamping memahami kata demi kata, unsur yang tak kalah penting adalah memahami perjalanan hidup penulisnya itu sendiri. Sebab bukan hanya A Portrait of the Artist as a Young Man, boleh dikatakan hampir seluruh karya Joyce adalah autobiografi, tentang bagaimana perjuangan Stephen Dedalus merangkai sayapnya untuk terbang menggapai matahari, sesuai ambisinya, “mengekspresikan diri dengan seni yang sebebas mungkin, dalam sepi, diam, dan terasing.”

***

oleh Gita Karisma


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Bilik Musik karya James Joyce.