Posted on

Dua Ikan di Atas Piring [Cerpen]

dua ikan

Suatu ketika, dalam perjalanannya seorang filsuf dan moralis sampai di Aksehir dan bertanya pada Nasruddin perihal tempat makan yang paling lezat. Nasruddin menyampaikan sarannya dan si filsuf yang lapar perut sekaligus bathin itu ingin mentraktir Nasruddin sekalian.

Nasruddin tentu saja bersedia. Ia temani si filsuf ke kedai makan terdekat dan mereka bertanya menu istimewa hari ini.

“Ikan! Ikan segar!” sahut si empunya kedai.

“Kalau begitu bawakan dua ekor,” pinta si filsuf.

Beberapa saat kemudian, si pelayan datang membawakan piring besar berisi dua ekor ikan bakar. Baunya harum. Tapi, yang seekor sedikit lebih kecil dari yang lain.

Tanpa ragu, Nasruddin mengambil ikan yang lebih besar untuk lauk. Si filsuf menatap tak percaya. Kedua mata dan bibirnya gemetar.

“Maaf, sodara Nasruddin. Maaf jika harus saya katakan ini. Tapi menurut saya tindakan Anda ini tidak hanya egois, tapi juga mengingkari prinsip-prinsip moral, agama, dan etika.”

Nasruddin menyimak khotbah mendadak dari sang filsuf dengan sabar, tenang, dan ketika si filsuf sudah selesai bicara, ia ganti bertanya:

“Kalau begitu, Tuan, apa yang akan Anda lakukan?”

“Saya sebagai seorang yang tahu diri akan memilih ikan yang lebih kecil untuk saya sendiri,” jawabnya.

“Nah, ini dia!” seru Nasruddin dengan tenang sambil menunjuk isi piring di depan mereka. Lalu ikan kecil itu ia taruh dalam piring si filsuf.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Humor karya Nasruddin Hodja.

Posted on

Singa, Rubah, dan Rusa Jantan [Cerpen]

Dongeng Aesop

Seekor singa terbaring sakit dalam sarangnya, tak mampu mencari makan sendiri. Maka berkatalah ia pada kawannya, si rubah, yang datang menjenguk:

“Kawanku, aku ingin kau pergi berburu dan mengelabui si rusa jantan. Bawalah ia ke sarang ini. Aku menginginkan santapan malam yang nikmat dengan menu hati dan otak rusa.”

Si rubah pun pergi ke tengah hutan, menemui si rusa jantan dan berkata, “Tuan Rusa, kabar baik untuk Anda! Anda tahu si singa, raja kita? Ia terbaring sakit di sarang dan tengah menjemput ajalnya. Ia memilihmu untuk menggantikannya menjadi raja yang menguasai seluruh hutan ini. Kuharap Anda tidak lupa bahwa sayalah hewan pertama yang membawa kabar ini untuk Anda. Nah, sekarang saya mesti kembali padanya. Jika Anda turuti saran saya, tentu Anda pun akan ikut bersama pergi ke sarangnya.”

Si rusa sangatlah tersanjung. Ia ikuti si rubah menuju sarang singa. Ia sama sekali tak menyangka alamat buruk yang akan menimpa. Tak lama setelah tubuhnya masuk ke sarang, si singa bangkit dan langsung menerkam. Tapi malangnya si rusa pandai menghindar. Hanya telinganya yang terserempet kuku singa. Ia pun melesat pergi. Si singa gagal menikmati makan malam sesuai harapan.

Si rubah merasa malu dan singa pun sangat kecewa. Ia tambah lapar. Maka ia memohon pada si rubah untuk mencoba lagi merayu si rusa ke dalam sarangnya.

“Itu hampir tak mungkin,” kata rubah, “tapi akan kucoba.”

Ia pun keluar dan menelusup ke hutan untuk kedua kalinya. Kali ini, ia dapati si rusa sedang istirahat dan memulihkan keadaan jiwanya yang masih tergoncang oleh upaya pembunuhan tadi. Melihat kedatangan si rubah, langsung saja ia memasang wajah sengit.

“Bangsat kau! Apa maksudmu, menjebakku dalam rahang beraroma maut? Pergi sana! Kalau tidak, akan kutanduk tubuhmu sampai remuk!”

Namun si rubah sungguh tak merasa malu.

“Pengecut!” katanya menghujat. “Mengapa kau membayangkan si singa akan menyakitimu? Ia hanya ingin membisikkan ke telingamu beberapa rahasia istana yang tak seekor binatang pun boleh mendengar, termasuk aku! Tapi kau justru kabur begitu. Huh! Sekarang ia tampak sudah hilang kepercayaan. Aku tidak yakin apakah kau masih dianggapnya layak. Mungkin sekarang perhatiannya terarah pada si serigala. Kecuali jika kau kembali lagi ke sana dan menunjukkan semangatmu untuk memimpin. Aku berani jamin, ia tidak akan menyakitimu. Setelah kau menjadi raja kelak, akulah abdi setiamu.”

Seperti daging tubuhnya, si rusa cukup lunak juga untuk dipengaruhi. Ia masuk ke sarang singa untuk kedua kalinya. Sekarang, singa tak membuat kesalahan lagi. Terkamannya tepat mengenai sasaran dan deretan kuku serta rahangnya pun bekerja sigap. Dalam waktu singkat, ia sudah menggelar pesta makan di atas tumpukan tulang.

Si rubah menanti kesempatan, berdiri di pinggir. Ketika si singa tak sedang melihatnya, ia sambar kepala si rusa dan menyantap otaknya selagi masih hangat. Ia tak ingin bagian tubuh paling lezat itu masuk ke perut singa, toh pesta ini tak akan berlangsung tanpa bantuannya.

Setelah seluruh bagian tubuh disantap, singa merasa ada yang kurang. Ia belum memamah empuknya otak rusa.

“Wah, mana otak rusa itu?” ujarnya sambil menatap belingsatan.

Si rubah cepat-cepat menyahut, “Rusa itu tak punya otak.”

“Bagaimana bisa?” si singa menajamkan pendengaran dan menatap si rubah.

“Binatang yang sudah lolos dari sarang bahaya, namun kembali masuk ke sarang itu tentulah binatang yang tak punya otak.”


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Fabel karya Aesop.

Posted on

Angsa Bertelur Emas [Cerpen]

Angsa Bertelur Emas Aesop

Suatu hari seorang pria dari desa datang ke sarang angsa dan menemukan sebutir telur berwarna kuning berkilau. Ketika ia pungut, alangkah terkejutnya ia karena telur itu sangat berat bagaikan biji timah. Awalnya ia melemparkannya karena ia pikir itu bukanlah telur sungguhan. Tapi setelah menyadari bahwa itu adalah telur emas murni, akhirnya telur itu ia bawa pulang juga.

Keesokan harinya, ia menengok sarang itu dan telur yang sama ia dapati kembali, begitu seterusnya setiap pagi. Akhirnya ia menjadi kaya karena menjual emas. Saat ia mulai kaya itulah ketamakannya tumbuh. Ia beranggapan telur-telur emas yang dihasilkan angsa itu bisa didapatkan secara praktis. Ia sembelih angsa itu dan membelah perutnya. Tapi kecawalah hatinya. Emas itu tak ia temukan.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Fabel karya Aesop.

Posted on

Rumah yang Penuh Sesak [Cerpen]

Nasruddin Hodja

Suatu hari seorang tetangga datang ke rumah Nasruddin Hodja dan meminta saran tentang cara mengatur semua anggota keluarga yang banyak di rumahnya yang kecil itu.

“Nasruddin, rumah kami begitu sempit. Kami tak bisa merasa nyaman di sana. Ada aku, istriku, ibu mertua, lalu tiga anak . . . Kami berenam terkurung di rumah yang pengap dan sesak. Kau kan orang bijak. Beri aku solusi masalah ini. Apa yang mesti kulakukan?”

“Berapa banyak anak ayam yang kau punyai?” tanya Nasruddin.

“Aku punya lima ekor anak ayam dan seekor jago.”

“Bawa masuk semuanya ke dalam rumah!”

“Apa? Yang benar saja! Tanpa anak-anak ayam pun, rumahku sudah terlalu sesak.”

“Coba dulu!” desak Nasruddin, “aku tahu nanti kau akan merasa berhutang budi.”

Si tetangga tidak percaya dengan saran itu tapi ia tak berani membantah lagi karena tahu Nasruddin memang terkenal bijak. Maka ia membawa masuk anak-anak ayam dan si jago. Keesokan harinya, ia kembali berlari ke rumah Nasruddin.

“Hodja, keadaannya tambah gawat! Aku, istriku, ibu mertua, tiga anak, lima anak ayam, dan seekor ayam jago . . . ah . . . mereka mengacak-acak isi rumah. Kami semua tak bisa tidur semalaman.”

Nasruddin tidak terpengaruh.

“Kau punya keledai?” tanya Nasruddin.

“Ya, Hodja. Hanya seekor dan sudah tua pula.”

“Bawa masuk pula keledai itu!” seru Nasruddin. Tak peduli betapa keras si tetangga memprotes, Nasruddin tetap bersikukuh menegaskan betapa inilah cara terbaik mengatasi masalah. Si tetangga pun pulang dengan lesu. Ia patuhi saran Nasruddin dan keledai itu memekik riang ketika masuk rumah.

Pagi harinya, si tetangga kembali bergegas ke rumah Nasruddin. Tampak sekali dari wajahnya bahwa sekarang keadaan rumah telah jauh lebih parah.

“Hodja, ah . . . kau tidak bisa membayangkan betapa kami sampai tak bisa bernapas. Suasana ribut bukan main. Anak-anak ayam tambah liar. Anak-anakku menangis dan istriku marah-marah.”

Lalu kata Nasruddin: “Kalau tak salah, kau juga punya dua ekor anak kambing ya!?”

“Oh, tidak . . . jangan minta aku untuk membawa serta anak kambing masuk ke dalam rumah. Tak ada tempat lagi.”

“Jangan khawatir, sobat! Nanti akhirnya kau akan berterima kasih padaku.” Maka dengan wajah lesu si tetangga pun berjanji akan memenuhi saran ini pula, dengan harapan bahwa pandangan bijak Nasruddin benar-benar mengetahui apa yang tak ia lihat.

“Aduh, Nasruddin, rumahku sudah seperti arena pertempuran. Anak-anak kambing menambah kekacauan. Mereka mengembik-embik sepanjang malam dan membuang kotoran seenaknya. Dunia serasa seperti kiamat. Hu . . hu . . hu!”

Nasruddin terdiam sejenak, kemudian berkata: “Sekarang keluarkan semua ternakmu dari rumah. Anak ayam, si jago, keledai, dan anak kambing . . . semuanya keluarkan!”

Keesokan harinya, si tetangga kembali ke rumah Nasruddin.

“Ah, Hodja Effendi, kau memang sungguh orang bijak. Kau selesaikan masalahku. Kini, rumah kami begitu luas, lapang, semua punya ruang yang cukup. Anak-anak bisa bermain dengan nyaman, aku dan istriku bisa tidur, dan ibu mertua juga puas,” katanya dengan wajah berseri-seri. “Terima kasih dan semoga Alloh memberkatimu.”


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Humor karya Nasruddin Hodja.

Posted on

Merkurius dan Pencari Kayu [Cerpen]

Kapak emas dan kapak perak

Seorang pencari kayu tengah menebang pohon yang berada di pinggir sungai. Selagi ia sibuk menetak batang pohon, sekonyong-konyong kapaknya terlepas dari tangan, lalu tenggelam di tengah arus sungai. Hal ini membuatnya bingung dan sedih.

Dewa Merkurius, yang melihatnya kebingungan turun ke bumi dan bertanya, “Ada masalah apa?” Kemudian ia menyelam dalam arus air dan muncul kembali dengan membawa sebuah kapak bermata emas.

“Apakah ini kapakmu yang hilang?”

“Bukan!” seru penebang kayu.

Merkurius menyelam lagi dalam sungai dan muncul kembali dengan membawa kapak bermata perak.

“Itu juga bukan!” kata penebang kayu.

Sekali lagi Merkurius menyelam dan kali ini ia bawakan kapak yang sebenarnya hilang itu. Bukan main senangnya hati si penebang kayu. Ia ucapkan terima kasih dengan setulus hati. Melihat kejujuran ini, Merkurius menghadiahkan kepadanya kapak emas dan kapak perak yang tadi ditunjukkannya.

Ketika si penebang kayu menceritakan pengalaman ini pada kawan-kawannya, salah satu di antara mereka yang bertabiat pencemburu ingin mengalami peruntungan yang sama. Ia pergi ke hutan membawa kapak, menebang pohon di pinggir sungai, dan pura-pura tak sengaja menjatuhkan kapaknya ke dalam arus sungai.

Seperti sebelumnya, Merkurius menampakkan diri. Ia menyelam dalam-dalam dan ketika kembali ia sudah membawa kapak emas. Tanpa ditanya, lelaki serakah itu berseru, “Itu kapakku! Itu kapakku!” sambil mengulurkan tangannya yang penuh minat ke arah Merkurius. Merasa sebal dan jijik melihat ketidakjujuran ini, Merkurius tidak hanya menolak memberikan kapak itu, namun juga menolak mengembalikan padanya kapak yang tadi ia jatuhkan.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Fabel karya Aesop.

Posted on

Burung Punik berkepala Dua [Cerpen]

Cerita Rakyat Cina Dua Orang Sahabat

Pada suatu masa ada dua orang sahabat. Mereka saling mencintai satu sama lain dan sehari-harinya mereka selalu saling berbagi. Apa saja yang mereka dapatkan selalu dibagi berdua, entah itu rezeki berupa makanan, uang, maupun kesenangan lainnya. Jika yang satu merasakan kenyang maka yang lainnya pun merasa kenyang pula. Demikian pula sebaliknya. Pokoknya mereka berdua senasib sepenanggungan.

Bertahun-tahun lamanya mereka hidup bersahabat. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua, seolah mereka adalah kakak beradik. Suatu hari, salah satu di antara keduanya yaitu yang lebih tua jatuh sakit. Sakitnya makin parah. Sahabatnya yang muda itu tak bisa menolong sampai akhirnya dia meninggal. Bukan main sedihnya hati si muda. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ia tak enak makan tak enak minum. Tubuhnya pun kurus sehingga ia sakit-sakitan lalu mati pula menyusul sahabatnya itu.

Tak lama setelah meninggal, mereka berdua terlahir kembali sebagai seekor burung punik berkepala dua. Ya! Burung itu mempunyai satu tubuh, satu ekor, dan sepasang sayap sebagaimana burung-burung pada umumnya. Yang membedakan hanyalah bahwa ia mempunyai dua kepala.

Dua kepala burung ini mempunyai kelakuan yang sama sebagaimana dua sahabat itu ketika masih hidup. Tak ada yang egois. Dua kepala burung punik itu saling membantu untuk mendapatkan makanan. Mereka saling peduli. Burung punik itu terbang ke suatu tempat hanya jika tempat itu sama-sama disukai oleh dua kepalanya.

Suatu hari seorang pemburu melihat burung punik itu sedang bertengger di sebuah ranting pohon di tengah hutan. Mula-mula ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia belum pernah menemui burung berkepala dua seperti ini.

“Ini benar-benar keajaiban!” pikirnya. “Betapa beruntungnya aku jika berhasil menangkapnya. Seluruh negeri akan terkagum-kagum dengan burung ajaib hasil tangkapanku. Aku bisa menjualnya dengan harga sangat mahal. Aku juga akan terkenal.”

Begitulah lamunan hati si pemburu. Ia pun menyadari ini kesempatan baik, karena dua kelapa punik itu dalam keadaan lengah. Satu kepala punik sedang menyuapi kepala yang lain dan mereka larut dalam hangatnya keakraban. Maka tanpa menunggu waktu lagi si pemburu menyiapkan anak panah kemudian merentangkan busurnya.

Namun, selagi membidik seperti itu ia teringat istrinya di rumah yang selalu menyuapi anaknya yang masih bayi. Betapa burung-burung pun selalu saling menyayangi sebagaimana manusia. Ia jadi tidak tega untuk menyakiti. Akhirnya ia turunkan kembali mata panahnya dan kembali ke desa. Ia ceritakan pada orang sedesa pengalamannya yang baru saja.

“Benar! Aku tidak berbohong. Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Satu kepala burung itu menyuapi paruh kepala yang lain. Mereka sangat rukun sehingga aku terharu.” Begitulah ia bercerita, sampai matanya berkaca-kaca. Setiap yang mendengar ceritanya mengangguk-angguk tanda percaya. Mereka tahu, si pemburu tetangganya ini adalah orang yang jujur.

Berita itu tersebar luas ke seluruh desa dan desa-desa sekitar; namun seperti halnya lelaki pemburu tadi, mereka tidak berani memanah atau menangkapnya. Mereka takut akan mendapat celaka. Apalagi cukup banyak pula warga desa yang berpikir bahwa burung berkepala dua itu adalah penjelmaan dewa.

Berita terus menyebar hingga akhirnya terdengar sampai istana. Sang kaisar sangat terpukau mendengarnya. Ia sangat penasaran. Maka dikirimlah seorang pemburu dengan pesan agar menangkap burung punik berkepala dua itu hidup-hidup.

Setelah menempuh perjalanan panjang, pemburu dari istana itu sampailah di hutan sebagaimana dimaksud. Setelah cukup lama menjelajah ke sana kemari sambil melihat ke sebalik daun-daun, akhirnya tampaklah olehnya burung punik itu. Ia pun menyiapkan anak panah. Tapi sebelum sempat mengangkat panah, burung punik itu sudah lebih dulu terbang ke pohon lain. Si pemburu pun mengikuti perginya burung punik. Namun tampaknya burung itu mempunyai firasat kuat akan ancaman maut. Maka ia pun kembali terbang menjauh.

Si pemburu menyiapkan siasat lain. Di setiap pohon yang berbuah ia pasangi perangkap. Jadi, jika burung itu memetik buah, ada kemungkinan ia lengah dan jatuh ke dalam perangkap. Dan benar itulah yang terjadi. Burung punik itu jatuh ke dalam jaring ketika sedang berusaha memetik sebutir buah.

“Aha, akhirnya tertangkap juga kau! Tidak sia-sia aku dijuluki pemburu terhebat di istana.” Begitulah kata si pemburu sambil meraih burung yang terjerat dalam jaring perangkap itu, kemudian memasukkan dalam sangkar. “Mari kita menemui rajaku!” Dan ia pun berangkat pulang menuju istana.

Tak seberapa lama, burung punik dalam sangkar itu sudah sampai di hadapan kaisar Cina.

“Inilah, paduka, burung yang selama ini paduka inginkan. Adakah titah yang lain lagi untuk hamba laksanakan?”

“Tidak. Sudah cukup. Sekarang pergilah. Aku ingin berdua saja dengan buruk punik ajaib ini,” sahut sang kaisar.

Sekarang, di ruangan singgasana hanya ada sang kaisar dan si burung punik. Sang kaisar telah mendengar cerita bahwa dua kepala burung punik itu selalu saling berbagi satu sama lain dan tak ada yang egois. Ia ingin membuktikannya.

Sang kaisar memberi makan salah satu kepala punik itu sementara kepala yang lain tak ia beri. Namun ternyata sebagian dari makanan yang ia terima itu ia suapkan ke paruh kepala yang satu lagi. Jika sang kaisar mencegah ia untuk menyuapi, kepala yang diberi makan itu lalu tak mau meneruskan makannya, bahkan memuntahkannya kembali. Begitulah setiap kali sang kaisar memberinya makanan. Tak pernah tidak, ia selalu berbagi.

Sang kaisar tak bisa mencegah burung itu saling berbagi. Ini membuat hatinya sangat marah. Ia sendiri adalah seorang penguasa besar. Apa yang ia perintahkan selalu dipatuhi bawahannya. Kini, seekor burung kecil saja berani menentangnya. Bukan main!

Akhirnya ia memanggil para penasehatnya.

“Aku mempunyai tugas bagi kalian. Kalian lihat burung punik berkepala dua ini? Aku ingin kalian menemukan cara bagaimana supaya burung punik ini menjadi dua ekor, masing-masing dengan satu kepala. Siapa pun yang bisa melakukannya akan kuberi hadiah berupa separuh wilayah kerajaan. Apakah kalian paham?”

Para penasehat saling pandang kemudian mengangguk kembali.

“Bagus! Kalau begitu siapa yang berani mencoba silakan maju!”

Setelah sang kaisar menunggu beberapa lama, maka salah satu penasehat itu melangkah maju.

“Paduka, jika hamba berhasil membagi burung punik ini menjadi dua ekor burung yang sama-sama hidup, benarkah saya akan mendapatkan bagian separuh wilayah istana? Apakah benar saya tidak salah dengar?”

“Ya, benar.”

“Baiklah paduka. Saya akan mencoba. Tapi hamba mohon diberi kelapangan waktu selama satu bulan. Apakah hamba diizinkan?”

“Permintaanmu kukabulkan. Kau boleh mencoba segala siasat selama sebulan ke depan.”

“Dan saya akan mendapat bagian separuh wilayah istana, paduka?”

“Jangan kau ulang-ulang terus. Ucapanku takkan berubah. Jangan bertanya lagi. Sekarang laksanakan perintahku.”

Sang penasehat pun mohon diri, pulang ke wismanya dengan membawa burung punik dalam sangkar itu. Ia menggantungkan sangkar itu di bawah atap, lalu mulai memikirkan cara untuk membelah burung punik itu menjadi dua ekor.

Setiap hari ia memandangi burung punik itu, mengawasi gerak-geriknya sambil memberi makan. Ia sangat tergiur dengan janji sang kaisar atas separuh bagian kerajaan itu sehingga ia berusaha keras untuk menemukan cara membelah burung punik itu menjadi dua ekor.

Beberapa hari telah berlalu. Sekian lama mengamati, akhirnya ia menemukan kekhasan sikap burung itu. Di siang hari, ada kalanya dua kepala itu akan saling menjauh satu sama lain. Satu menganjur ke kanan dan satunya lagi menganjur ke kiri. Saatnya tak pernah tertentu, namun yang pasti itu terjadi selama matahari bersinar, karena pada malam hari kedua kepala itu selalu saling merapat.

“Aku akan membelah kalian menjadi dua. Kalian akan lihat. Ya. Kalian akan menjadi dua ekor burung dengan masing-masing satu kepala, dan aku akan menjadi seorang penguasa yang membawahi wilayah separuh kerajaan.” Begitu gumam si penasehat.

Ia menunggu sampai datang saat lain di mana dua kepala itu saling berjauhan. Ketika saat itu tiba, ia mendekati kepala burung itu yang berada di sebelah kanan dan berbisik “wus uwus uwus..”

Kemudian sang penasehat melangkah mundur, berbalik, lalu meninggalkan ruangan itu.

Segera setelah penasehat pergi, kepala sebelah kiri burung itu bertanya kepada kepala burung sebelah kanan.

“Apa yang dia bisikkan kepadamu?”

“Dia membisikkan sesuatu yang tak ada artinya.”

“Benar begitu? Ayolah. Katakan saja. Apa yang dia bisikkan padamu?”

“Tak ada artinya. Cuma omong kosong.”

“Hm…baiklah!” ujar kepala sebelah kiri. Lalu ia mencoba untuk bersikap puas.

Setelah beberapa saat, si penasehat kembali ke ruangan itu. Ia telah mengintip burung itu dari balik pintu dan kini ia sengaja keluar ketika melihat kedua kepala berjauhan kembali.

Kembali ia dekati kepala sebelah kanan burung itu dan berbisik ke telinganya.

“Wus uwus uwus…” lalu dia pergi.

Kepala sebelah kiri burung itu kembali gelisah. Ia penasaran, ingin tahu kata-kata apa yang telah dibisikkan si empunya rumah.

“Dia kembali berbisik kepadamu. Aku melihatnya dengan jelas. Ayo katakan, kali ini kata-kata apakah yang ia bisikkan?” ia bertanya.

“Sama seperti tadi. Cuma omong kosong tak ada artinya.”

“Betulkah? Ayo! Kau harus jujur padaku. Kita ‘kan sahabat.”

“Sudah kubilang cuma omong kosong.”

“Omong kosong bagaimana? Seperti apa bunyinya?”

“Dia hanya bilang wus uwus uwus…begitu. Persis seperti yang tadi”

“Apa iya?”

“Percayalah. Aku sendiri tak tahu artinya.”

“Ya sudahlah!” ujar kepala sebelah kiri.

Keesokan harinya, sang penasehat datang kembali setelah mengintip dari balik pintu. Kembali ia ulangi perbuatan yang sama. Ia dekati kepala sebelah kanan dan berbisik. “Wus uwus uwus…” lalu pergi.

“Nah, kali ini apa yang ia bisikkan?”

“Seperti kemarin. Omong kosong yang sama.”

“Omong kosong?”

“Ya. Ia cuma bilang wus uwus uwus…”

“Tak mungkin. Jelas kau berbohong! Jika hanya omong kosong, mengapa disampaikan berulang-ulang? Dengan cara berbisik lagi. Tentu ada yang rahasia.”

“Tidak. Percayalah. Itu cuma wus uwus uwus.”

“Aku tidak percaya. Kau pembohong besar! Pasti ia menyampaikan rahasia yang sangat penting. Katakan padaku.”

“Sudah kubilang cuma wus uwus uwus.”

“Kau keras kepala. Tak mau mengaku! Dasar pembohong!”

Begitulah! Dua kepala yang merupakan penjelmaan dua orang sahabat itu akhirnya bertengkar, saling mengucapkan kata-kata benci, bahkan kemudian saling patuk dengan ganas. Darah mengucur dari masing-masing kepala. Burung satu tubuh dengan dua kepala itu pun mulai mengepak-ngepakkan sayapnya membabi buta ke seputar sangkar, menabrak-nabrak jeruji dengan keras, terbanting ke kanan ke kiri. Bulu-bulunya rontok dan bersebaran ke seluruh penjuru sangkar.

Akhirnya, perseteruan sengit dua kepala itu mengakibatkan tubuh burung punik terbelah menjadi dua, tepat di tengah, hingga jadilah dua ekor burung punik, masing-masing mempunyai satu kepala.

“Hahaha…siasatku berhasil!” si penasehat memekik gembira sambil melesat ke arah sangkar. Ia masukkan tangannya ke dalam sangkar dan keluar dengan dua tangan masing-masing memegang seekor burung punik. Ia tersenyum lebar dan tertawa-tawa. Tak habis-habisnya ia tersenyum dan tertawa.

“Karena siasatku berhasil, tentulah aku akan segera menjadi penguasa baru atas wilayah separuh kerajaan.”

Begitulah! Ia berjalan ke istana dengan langkah-langkah riang, sesekali berlari-lari kecil karena teramat gembiranya, ingin segera sampai.

Di hadapan sang kaisar, ia hadapkan dua ekor burung punik itu.

“Inilah, paduka. Burung punik yang dulu itu kini telah menjadi dua ekor. Saya pun tak melewati batas yang telah paduka tentukan. Ya. Satu bulan tepat!” ujar si penasehat dengan keriangan meluap-luap. “Jadi, seperti perjanjian, maka sekarang berarti saya…”

“Perjanjian? Perjajian apa? Nanti coba aku ingat-ingat lagi,” sahut raja sambil menerima kembali burung puniknya. “Ya. Itu kita bicarakan nanti, setelah aku selesai mengagumi burung-burung ini.”

Dan begitulah cerita ini berakhir. Sang kaisar mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu dua ekor burung punik. Namun sang penasehat…ia ternyata tak mendapatkan apa pun. Tetap tak mendapatkan apa yang telah dijanjikan padanya. Sang raja menolak untuk mengakui bahwa ia telah bersepakat dengan si penasehat.

Sungguh malang si penasehat! Ia tak pernah mengira bahwa kata-kata sang kaisar sama tak berartinya dibandingkan kata wus uwus uwus yang ia bisikkan berulang kali ke telinga kepala sebelah kanan burung punik itu.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Cerita Rakyat Cina.