Walden Bab 1

Ekonomi

Saat menggoreskan penaku pada lembaran-​lembaran ini, atau sebagian besar darinya, aku sedang tinggal seorang diri di tengah hutan, sekitar satu mil dari tetangga terdekat. Aku membangun rumahku sendiri di tepi Telaga Walden, Concord, Massachusetts, dan menghidupi diri hanya dari kerja keras dengan kedua tanganku sendiri. Dua tahun dua bulan lamanya aku tinggal di sana. Kini, aku telah kembali, menjadi seorang musafir di tengah ramainya peradaban.

Sebenarnya aku tak akan begitu mengumbar urusanku kepada para pembaca andai tidak ada banyak pertanyaan dari warga kotaku tentang caraku hidup, yang oleh sebagian orang mungkin dianggap lancang. Namun, bagiku, pertanyaan-​pertanyaan itu sama sekali tidak lancang—sebaliknya, sangat wajar dan pantas, mengingat situasi yang ada. Ada yang bertanya apa yang kumakan; apakah aku tidak merasa kesepian; apakah aku tidak takut, dan semacamnya. Yang lain ingin tahu seberapa banyak penghasilanku yang kudermakan; dan ada pula yang karena memiliki keluarga besar, bertanya berapa banyak anak miskin yang kurawat. Maka, jika aku berusaha menjawab beberapa pertanyaan ini dalam buku ini, biarlah aku terlebih dahulu meminta maaf kepada pembaca yang tak tertarik pada diriku. Dalam kebanyakan buku, kata “aku,” kata ganti orang pertama, sering dihilangkan; tetapi di sini akan dipertahankan—itulah perbedaan utamanya dalam hal menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Kita sering lupa bahwa, pada akhirnya, penutur selalu adalah si “aku”. Aku tak ingin terus membicarakan diriku, andai saja kutemukan jiwa lain yang kukenal seintim diriku sendiri. Sayangnya, aku terkungkung pada sumbu pembahasan ini oleh tembok-​tembok pengalamanku. Aku sendiri selalu mencari-​cari dalam setiap karya penulis, di bagian awal atau akhirnya, penuturan yang jujur dan apa adanya tentang perjalanan hidupnya sendiri—bukan sekadar kisah yang didengarnya dari orang lain, melainkan seperti surat dari negeri jauh yang ditujukan kepada keluarga tercinta. Sebab, jika hidupnya dijalani dengan tulus, negeri itu pastilah terasa jauh. Lembaran-​lembaran ini mungkin terasa lebih dekat bagi para pelajar yang bergulat dengan keadaan serba kekurangan. Namun, bagi pembaca lain, pungutlah apa yang sesuai bagi dirimu. Aku percaya mantel ini akan pas bagi siapa pun yang mengenakannya, sebab ia akan menjadi sangat berguna bagi siapa saja yang pantas memakainya.

Aku hendak bercerita, namun bukan tentang orang-​orang Cina atau penduduk Kepulauan Sandwich,[1] melainkan tentang kalian yang membaca lembaran-​lembaran ini, kalian yang katanya tinggal di New England. Aku ingin membahas mengenai keadaan kalian, khususnya kondisi lahiriah atau keadaan duniawi kalian di kota ini, apa adanya. Apakah memang harus seburuk itu? Tidakkah keadaan itu dapat diperbaiki? Aku telah banyak bepergian di Concord; dan di mana pun, di toko, kantor, ladang, aku melihat penduduknya seakan tengah menjalani penebusan dosa dalam seribu cara yang menakjubkan. Apa yang pernah kudengar tentang para Brahmana yang duduk terpapar di tengah api dari empat penjuru sambil menatap matahari; atau tergantung terbalik dengan kepala mengarah ke api; atau menengok ke belakang untuk menatap langit “hingga menjadi mustahil bagi mereka untuk kembali ke posisi semula, sementara dari leher yang terpuntir hanya cairan yang dapat melewati kerongkongan mereka;”[2] atau hidup terbelenggu seumur hidup di kaki pohon; atau menjengkal luasnya kerajaan-​kerajaan besar dengan tubuh mereka, tak ubahnya ulat yang merayap di atas tanah; atau berdiri dengan satu kaki terangkat di puncak sebatang pilar—semua bentuk-​bentuk penebusan dosa yang dilakukan dengan sadar tersebut tak lebih menakjubkan dan mencengangkan dibandingkan pemandangan yang kusaksikan setiap hari. Dua belas tugas Herkules pun tak seberapa bila dibandingkan dengan beban yang dipikul di pundak sesamaku ini—sebab, tugas-​tugas Herkules hanyalah dua belas jumlahnya dan berujung.[3] Namun, tak pernah aku menyaksikan bahwa orang-​orang ini membasmi atau menangkap monster apa pun, atau menemukan suatu ujung akhir pada satu pun pekerjaan mereka. Mereka tak memiliki sahabat seperti Iolas yang dapat menyundut akar kepala Hydra dengan besi panas; karena setiap kali satu kepala dihancurkan, dua kepala baru muncul seketika jua.[4]

Aku menjadi saksi atas betapa malangnya nasib para pemuda, sesama warga kotaku sendiri, lantaran mewarisi tanah pertanian, rumah, lumbung, ternak, dan alat-​alat pertanian; sebab, semua itu lebih mudah didapatkan daripada dilepaskan. Lebih baik jika mereka lahir di padang luas dan disusui serigala, agar mereka bisa melihat dengan lebih jelas ladang mana yang sesungguhnya menjadi panggilan hidup mereka. Siapa yang menjadikan mereka budak tanah? Mengapa mereka harus “memakan” enam puluh ekar tanah mereka,[5] padahal manusia hanya ditakdirkan “memakan” sejumput tanah? Mengapa mereka harus mulai menggali kubur begitu mereka lahir? Mereka ditakdirkan untuk menjalani kehidupan sebagai manusia, sembari mendorong semua beban itu di hadapan mereka, dan bertahan sejauh yang mereka sanggup. Tak terhitung jiwa malang yang kutemui, nyaris remuk dan tercekik di bawah beban mereka, tertatih di sepanjang jalan kehidupan, seakan mendorong sebuah lumbung raksasa di hadapan mereka, tujuh puluh lima kali empat puluh kaki luasnya, dengan kandang kotor layaknya milik Augeas yang tak pernah tersentuh sikat,[6] serta seratus ekar tanah—ladang garapan, padang rumput, tanah gembalaan, dan hutan kecil! Sementara itu, mereka yang tak diwarisi beban tak perlu semacam itu pun sudah cukup bersusah payah hanya untuk menaklukkan dan mengolah beberapa kubik daging mereka sendiri.

Namun, kebanyakan manusia berjerih payah demi sesuatu yang keliru. Bagian terbaik dari diri mereka lekas terkubur, menjadi kompos bagi dunia yang tak pernah benar-​benar peduli. Atas nama kebutuhan, mereka sibuk mengumpulkan harta yang—seperti yang tertulis dalam sebuah kitab tua—akhirnya dimakan ngengat dan karat, atau dibobol dan dirampas oleh tangan-​tangan pencuri.[7] Hidup seperti ini merupakan hidup yang bodoh, seperti yang baru akan mereka sadari pada penghujung akhir hidup mereka, jika bukan sebelumnya. Dikisahkan bahwa Deukalion dan Pyrrha menciptakan manusia dengan melemparkan batu ke belakang mereka:[8]

Inde genus durum sumus, experiensque laborum,

Et documenta damus quâ simus origine nati.[9]

Atau, seperti yang dirangkaikan oleh Raleigh dengan irama yang merdu:

“Dari sanalah bangsa kita keras hati, tahan derita dan nestapa,

Membuktikan watak tubuh kita sekeras batu.”[10]

Demikianlah akibat dari kepatuhan buta terhadap sebuah nubuat yang meleset, melemparkan batu ke belakang tanpa melihat ke mana batu-​batu itu akan mendarat.

Sebagian besar manusia, bahkan di negeri yang cenderung bebas ini, karena kebodohan dan kesalahpahaman belaka, begitu sibuk dengan urusan yang dibuat-​buat dan kerja kasar yang berlebihan dalam hidup, sehingga buah-​buah yang lebih halus tak dapat mereka petik. Jari-​jemari mereka, yang telah terbebani oleh kerja tiada henti, menjadi terlalu kikuk dan gemetar untuk memetiknya. Kenyataannya, kaum pekerja tidak memiliki waktu luang untuk menjaga keutuhan martabat mereka sehari-​hari; mereka tidak mampu memelihara hubungan yang paling manusiawi dengan sesama, sebab kerja mereka akan kehilangan nilainya di pasar. Mereka tidak punya waktu untuk menjadi apa pun selain mesin. Bagaimana mungkin mereka dapat mengingat dengan baik kebodohan mereka—yang sebenarnya diperlukan untuk pertumbuhan mereka—jika mereka harus terus-​menerus menggunakan pengetahuan mereka? Kita seharusnya sesekali memberi makan dan pakaian secara cuma-​cuma kepada mereka, serta menyegarkan mereka dengan minuman penguat kita, sebelum kita menghakimi mereka. Watak terbaik dalam diri kita, layaknya lapisan pada buah yang lembut, hanya terjaga dengan perlakuan yang paling halus. Namun kita tidak memperlakukan diri kita sendiri maupun sesama dengan kelembutan seperti itu.

Sebagian dari kalian, seperti yang kita semua maklum, menjalani hidup dalam kungkungan kemiskinan, terengah-​engah sekadar untuk bertahan, seakan mencari napas di tengah sesak dunia. Aku tak meragukan bahwa ada di antara kalian yang menyentuh lembaran-​lembaran ini tanpa mampu melunasi santapan terakhir yang dinikmati, atau dengan mantel dan sepatu yang mulai lusuh, nyaris hancur dimakan waktu. Bahkan, mungkin waktu yang kalian sisihkan untuk membaca ini pun bukan milik kalian sepenuhnya—melainkan waktu yang dipinjam, atau bahkan dicuri—satu jam yang direbut dari cengkeraman para penagih utang yang terus membayangi langkah. Sangat gamblang bagiku betapa banyak dari kalian menjalani kehidupan yang hina dan licik, sebab pandanganku telah diasah oleh pengalaman; selalu berada dalam keterbatasan-​keterbatasan, mencoba terjun ke dalam bisnis dan mencoba keluar dari lilitan utang, sebuah lumpur purba yang oleh bangsa Latin disebut æs alienum, “kuningan milik orang lain,” sebab beberapa mata uang mereka terbuat dari kuningan;[11] terus hidup, mati, dan terkubur oleh kuningan milik orang lain; selalu berjanji untuk membayar, berjanji untuk melunasi, esok, namun mati hari ini, dalam kebangkrutan; terus berupaya mencari muka, mengais rezeki dari tangan orang lain, dengan cara apa pun, asal tak terjebak dalam penjara karena pelanggaran hukum berat. Berbohong, menjilat, menyesuaikan suara mengikuti arah angin, menciutkan diri hingga sekecil biji kacang di balik cangkang sopan santun, atau menggelembung bak udara kemurahan hati yang menyesakkan dan penuh kepalsuan—semuanya demi merayu sesama kalian untuk mempercayakan pembuatan sepatu, topi, atau kereta kudanya kepada kalian; atau untuk mendatangkan bahan makanan ke pintu rumah mereka; membuat diri kalian jatuh sakit semata agar dapat menabung sesuatu untuk saat-​saat sakit di kemudian hari—sesuatu yang disembunyikan di peti usang, diselipkan dalam kaus kaki di celah tembok rapuh, atau, bila mungkin, di sebuah bank yang terbuat dari tembok batubata. Tak peduli di mana pun disimpan, tak peduli seberapa banyak atau sedikit.

Kadang aku heran bagaimana kita bisa begitu remeh—bahkan nyaris konyol—memusatkan perhatian pada bentuk perbudakan yang kasar namun tampak asing, yang disebut Perbudakan Negro. Padahal, di utara maupun selatan, begitu banyak tuan yang lebih licin dan tak kasatmata, menjerat jiwa tanpa rantai yang terlihat. Memang berat hidup di bawah perintah seorang mandor dari selatan; lebih buruk lagi jika mandor itu berasal dari utara. Namun, yang paling menyedihkan adalah ketika cambuk itu berada di tanganmu sendiri, dan kaulah yang mengayunkannya pada dirimu sendiri. Bicara soal percik ilahi dalam diri manusia![12] Lihatlah kusir di jalan raya, melaju menuju pasar, entah di bawah terik siang atau naungan malam; adakah keilahian yang bergetar dalam dirinya? Amanat tertingginya tak lebih dari memberi makan dan minum bagi kuda-​kudanya! Apa arti takdir baginya, jika dibandingkan dengan muatan yang harus diantar? Bukankah ia hanya mengemudi demi si Tuan Hingar Bingar Penuntut? Ah, betapa suci, betapa abadi dirinya! Lihatlah bagaimana ia meringkuk dan menyelinap, betapa sepanjang hari ia dihantui ketakutan yang samar—bukan lantaran ia makhluk fana semata, namun karena ia adalah budak dan tawanan dari bayangannya sendiri, terbelenggu oleh citra yang ia ciptakan dari tindakannya sendiri. Pendapat khalayak ramai tak lebih dari tiran yang ringkih dibandingkan suara batin kita sendiri. Apa yang seseorang pikirkan tentang dirinya, itulah yang menentukan—atau lebih tepatnya, mengungkap takdirnya. Namun, di mana pembebasan sejati dapat ditemukan? Bahkan di ranah-​ranah khayalan dan imajinasi[13] Hindia Barat, adakah Wilberforce yang sanggup membebaskannya?[14] Lihatlah para perempuan di negeri ini, yang menyulam bantal rias dengan tekun, seakan bersiap menghadapi hari terakhir dalam hidupnya—bukan demi menerima nasib, melainkan agar tak tampak terlalu tertarik pada hal tersebut! Seolah-​olah waktu bisa ditebas tanpa mengusik keabadian.

Sebagian besar manusia menjalani hidup dalam keputusasaan yang tak bersuara. Apa yang kerap disebut kepasrahan sejatinya adalah ketiadaan asa yang diam-​diam diterima sebagai nasib. Dari kota yang penuh dengan keputusasaan, mereka melangkah ke desa yang sama nelangsanya, lalu menghibur diri dengan keberanian cerpelai dan tikus kesturi.[15] Keputusasaan yang tak disadari dan tak terucapkan itu bahkan bersembunyi di balik apa yang disebut sebagai permainan dan hiburan manusia. Namun, di dalamnya tak ada kegembiraan sejati—hanya jeda yang lahir dari kepenatan, setelah beban kerja yang mencekik. Sebab, kebijaksanaan sejati tidak pernah berakar pada keputusasaan.

Ketika kita merenungkan, dengan meminjam kata-​kata dari katekismus,[16] tentang tujuan utama manusia serta apa yang benar-​benar menjadi kebutuhan dan bekal hidupnya, tampaknya manusia, dengan sadar atau tidak, telah memilih menjalani jalan hidup yang telah menjadi kelaziman, alih-​alih menempuh jalur yang lain. Namun, mereka meyakini dengan jujur bahwa tiada pilihan lain yang tersisa. Akan tetapi, jiwa-​jiwa yang waspada dan sehat mengingat bahwa matahari pernah terbit dengan cemerlang. Tidak ada kata terlambat untuk melepaskan prasangka kita. Tiada cara berpikir atau bertindak, seberapa pun kunonya, yang layak dipercaya tanpa pembuktian. Apa yang digaungkan atau diterima dengan hening oleh semua orang sebagai kebenaran hari ini mungkin terbukti di esok hari sebagai kebohongan, asap pendapat-​pendapat belaka, yang dahulu dipercaya sebagai awan penyubur yang akan menurunkan hujan di ladang-​ladang mereka. Apa yang dikatakan orang-​orang tua masa lalu bahwa kita tak akan mungkin melakukannya, cobalah, dan kau akan menemukan bahwa ternyata itu mungkin. Perbuatan lama untuk orang-​orang tua dari masa lalu, dan perbuatan baru bagi orang-​orang muda masa kini. Dahulu, orang-​orang tua di masa lalu, barangkali, tak cukup tahu bagaimana mendapatkan kayu bakar segar agar api tetap menyala; sementara orang-​orang masa kini hanya perlu meletakkan kayu kering di bawah periuk,[17] dan mereka melesat mengitari bola dunia segesit burung—dengan cara yang, seperti kata pepatah, dapat mematikan orang-​orang tua masa lalu. Usia bukanlah guru yang lebih arif—bahkan, seringkali lebih dungu dibandingkan masa muda, sebab ia telah kehilangan jauh lebih banyak daripada yang pernah diperolehnya. Kita boleh meragukan, apakah bahkan jiwa yang paling bijak sekalipun benar-​benar telah memetik sesuatu yang bernilai mutlak sepanjang hidupnya. Nyatanya, mereka yang telah menua jarang memiliki petuah berharga untuk diwariskan kepada yang muda. Pengalaman mereka terlampau sempit, dan hidup mereka—dalam pandangan mereka sendiri—tak lebih dari untaian kegagalan perih. Mungkin, mereka masih menyimpan sejumput keyakinan yang tersisa, yang sebenarnya mengingkari pengalaman itu, sehingga mereka hanyalah sedikit lebih tua, bukan lebih bijaksana. Tiga puluh tahun telah kulewati di dunia ini, namun tak sekalipun kudengar petuah yang benar-​benar bernilai dari mereka yang mendahuluiku.[18] Mereka tak memberitahuku apa pun, dan mungkin memang tak memiliki sesuatu yang berfaedah untuk disampaikan. Hidup ini adalah sebuah percobaan, dan sebagian besarnya belum pernah kucoba. Kenyataan bahwa orang lain telah menjalaninya tak serta-​merta memberiku manfaat. Jika ada pengalaman yang kuanggap berharga, kusadari bahwa hal itu tak pernah diajarkan oleh para Mentor-​ku.[19]

Seorang petani pernah berkata kepadaku, “Kau tak mungkin hidup hanya dengan makanan nabati, karena ia tak menyediakan bahan pembentuk tulang.” Maka, dengan keyakinan teguh, ia pun mengabdikan sebagian harinya untuk memasok bahan baku tulang-​belulang ke tubuhnya, sementara di depannya, sapi-​sapi yang tulangnya terbentuk dari makanan nabati tetap setia menarik bajaknya melintasi segala rintangan. Apa yang dianggap sebagai kebutuhan mutlak bagi suatu masyarakat, bagi yang lain hanyalah kemewahan, dan di tempat lain lagi, bahkan tak pernah dikenal sama sekali.

Seluruh hamparan kehidupan manusia tampak bagi sebagian orang seolah telah pernah dilalui sepenuhnya oleh para pendahulu mereka—baik puncak-​puncak maupun lembah-​lembahnya—seolah tak ada yang luput dari perhatian saksama mereka. Menurut Evelyn, “Salomo yang bijak telah menetapkan peraturan bahkan untuk jarak antar-​pohon; dan para praetor Romawi telah memutuskan seberapa sering seseorang boleh masuk ke pekarangan tetangganya untuk mengumpulkan biji pohon ek yang jatuh di sana tanpa dianggap melanggar, serta berapa bagian yang menjadi milik tetangga itu.”[20] Bahkan Hippokrates telah meninggalkan petunjuk tentang bagaimana kita seharusnya memotong kuku, yaitu sejajar dengan ujung jari, tak lebih pendek pun tak lebih panjang. Tak diragukan lagi, kebosanan dan kejenuhan—karena merasa telah menjelajahi seluruh keragaman kebahagiaan hidup yang ada—setua Adam itu sendiri. Namun, kapasitas manusia belum pernah benar-​benar terukur; kita tak seharusnya menilai batas kemampuannya hanya dari apa yang telah dicapai sebelumnya, sebab begitu sedikit yang pernah dicoba. Apa pun kegagalanmu hingga kini, “janganlah bersedih, anakku, sebab siapa yang dapat menentukan batas dari apa yang belum kaulakukan?”

Kita dapat mencoba menguji hidup kita dengan seribu cara sederhana; misalnya, bahwa matahari yang sama yang mematangkan kacang-​kacangku juga sekaligus yang menerangi serangkaian sistem bumi-​bumi lain seperti bumi kita. Seandainya aku mengingat ini, tentu aku akan terhindar dari beberapa kesalahan. Namun, ini bukanlah cahaya yang menyinari pikiranku ketika aku mencangkul kacang-​kacang itu. Bintang-​bintang adalah puncak dari segitiga-​segitiga yang luar biasa! Betapa makhluk-​makhluk yang jauh dan berbeda-​beda di berbagai kediaman di alam semesta tengah memandangi bintang yang sama pada saat yang sama! Alam dan kehidupan manusia sama beragamnya dengan berbagai susunan tubuh kita. Siapa yang bisa mengatakan kemungkinan masa depan seperti apa yang ditawarkan oleh kehidupan kepada orang lain? Adakah mukjizat yang lebih besar daripada jika kita bisa melihat melalui mata satu sama lain, meski hanya sekejap? Kita akan hidup dalam semua zaman di dunia dalam satu jam; ya, dalam semua dunia di zaman-​zaman itu. Sejarah, Puisi, Mitologi!—Aku tak tahu ada bacaan mengenai pengalaman orang lain yang lebih mengejutkan dan mencerahkan daripada yang satu ini.

Sebagian besar dari apa yang disebut baik oleh tetangga-​tetanggaku, dalam lubuk jiwaku aku percaya justru buruk, dan jika aku menyesali sesuatu, sangat mungkin itu adalah perilaku baikku. Setan apa yang merasuki diriku sehingga aku berperilaku begitu baik? Kau mungkin mengucapkan hal paling bijak yang mampu kau pikirkan, orang tua—kau yang telah hidup tujuh puluh tahun, tanpa kehormatan dalam bentuk tertentu[21]—namun aku mendengar suara yang tak tertahankan, memanggilku menjauh dari semua itu. Satu generasi meninggalkan usaha generasi sebelumnya layaknya kapal-​kapal yang terdampar.

Aku percaya bahwa kita dapat mempercayai jauh lebih banyak daripada yang kita lakukan saat ini. Kita dapat mengesampingkan sebagian perhatian terhadap diri sendiri sejauh perhatian itu telah kita curahkan dengan jujur untuk hal lain. Alam sebaik-​baiknya menyesuaikan diri dengan kelemahan kita sebagaimana terhadap kekuatan kita.[22] Kekhawatiran dan ketegangan yang tiada henti yang dialami sebagian orang adalah bentuk penyakit yang hampir tak dapat disembuhkan. Kita dibuat untuk melebih-​lebihkan pentingnya pekerjaan yang kita lakukan; padahal betapa banyaknya yang tidak kita kerjakan! Atau, bagaimana jika kita jatuh sakit? Betapa waspadanya kita! Bertekad untuk tidak hidup dengan keyakinan jika kita bisa menghindarinya; sepanjang hari kita terus berjaga, dan di malam hari, dengan enggan, kita mengucapkan doa dan menyerahkan diri kepada ketidakpastian. Begitu dalam dan tulusnya kita dipaksa untuk hidup, menghormati hidup kita, sambil menyangkal kemungkinan perubahan. “Inilah satu-​satunya jalan,” kita berkata; namun terdapat sebanyak mungkin jalan yang ditarik seperti jari-​jari dari satu pusat. Setiap perubahan adalah mukjizat untuk direnungkan; namun itu adalah mukjizat yang berlangsung setiap saat. Konfusius berkata, “Mengetahui bahwa kita mengetahui apa yang kita ketahui, dan bahwa kita tidak mengetahui apa yang tidak kita ketahui, itulah pengetahuan sejati.”[23] Ketika seseorang mengerucutkan fakta dari imajinasi menjadi fakta dalam pemahamannya, aku dapat melihat bahwa pada akhirnya seluruh umat manusia akan mendasarkan hidup mereka pada pijakan tersebut.


[1] Sebutan umum abad ke-​19 untuk Orang Hawaii.

[2] Dikutip dari buku James Mill, The History of India.

[3] Herkules, pahlawan termasyhur dari segala pahlawan kuno Yunani, diperintahkan untuk menunaikan dua belas tugas sebelum ia dapat meraih kebebasan dari penghambaan kepada Eurystheus.

[4] Salah satu tugas Herkules adalah melawan Hydra Lernaean, seekor ular naga berkepala sembilan.

[5] Ukuran luas lahan pertanian rata-​rata di daerah Concord pada masa itu. Ekar merupakan luas tanah yang lebih kurang dapat dibajak dengan bantuan lembu dalam sehari. 1 ekar (acre) sama dengan sekitar 0,4 hektar dan 60 ekar setara dengan kira-​kira 24 hektar.

[6] Augeas adalah raja Elis dalam mitologi Yunani yang terkenal karena kandang sapinya yang penuh dengan kotoran hewan setelah bertahun-​tahun tak dibersihkan.

[7] “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19)

[8] Deukalion, putra Prometheus, dan istrinya Pyrrha adalah satu-​satunya insan yang diselamatkan ketika Zeus hendak melenyapkan ras manusia yang telah mengalami kemerosotan. Atas petuah Themis, mereka menudungi kepala dan melemparkan batu-​batu ke balik bahu mereka, yang kemudian menjelma menjadi manusia, sehingga bumi kembali dihuni.

[9] Dikutip dari Ovid, Metamorphoses, I, 414-​5.

[10] Sir Walter Raleigh, History of the World, buku pertama, jilid 1, bab 2.

[11] Pada zaman Romawi, beberapa koin memang dibuat dari kuningan, sehingga istilah ini menjadi metafora untuk kewajiban finansial yang membebani seseorang.

[12] Meski kaum Puritan berfokus pada manusia sebagai pendosa, para transendentalis pada zaman Thoreau lebih banyak membicarakan sisi ketuhanan atau ilahi dalam diri manusia.

[13] Dalam transendentalisme, khayalan (fancy) adalah daya khayal dangkal yang hanya mengolah ulang pengalaman indrawi, sedangkan imajinasi atau daya cipta (imagination) adalah kekuatan kreatif yang lebih dalam, mengungkap kebenaran spiritual.

[14] William Wilberforce (1759-​1833), seorang pejuang anti perbudakan Inggris yang memimpin pertempuran parlementer untuk penghapusan perbudakan di Hindia Barat Britania.

[15] Cerpelai dan tikus kesturi, ketika terjebak dalam perangkap baja, bahkan rela menggigit putus kaki mereka sendiri demi meraih kebebasan.

[16]Apa tujuan utama manusia? Tujuan utama manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmatiNya selamanya” (Shorter Catechism, dari The New England Primer). Meski Thoreau mengutip dua kali dari dokumen utama Protestan ortodoks ini, keyakinan religiusnya sendiri justru jauh dari ortodoksi.

[17] “Kayu kering di bawah periuk” (“Dry wood under a pot”) adalah kiasan untuk jalur kereta api, yang pada tahun 1840-​an mulai merambah ke seluruh negeri.

[18] Namun, Thoreau sendiri terus-​menerus mengutip para “pendahulunya”—Konfusius, Darwin, Chapman, dan lainnya—di sepanjang bukunya. Dalam hal ini, ia bukan hendak menafikan nilai pembelajaran dari masa lalu, melainkan menegaskan bahwa segala sesuatu yang benar-​benar bernilai dan bermanfaat harus lahir dari pengalaman pribadi seseorang.

[19] Dalam Odyssey karya Homer, Mentor adalah sahabat sekaligus penasihat Telemakhos, putra Odysseus. Dari sosok inilah istilah mentor kemudian berkembang, menjadi lambang bagi seorang penasihat yang bijaksana.

[20] John Evelyn, Sylva; or, A Discourse of Forest Trees. Dalam konteks Romawi, praetor adalah salah satu pejabat tinggi dalam sistem pemerintahan Republik dan Kekaisaran Romawi.

[21] “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-​buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10)

[22] Dalam transendentalisme, Alam (Nature) bukanlah lingkungan fisik semata, namun dipandang sebagai cerminan Jiwa Semesta (Oversoul), tempat manusia menemukan kebenaran dan hubungan dengan yang Ilahi.

[23] Thoreau menghubungkan kutipan ini dengan Konfusius, kemungkinan dari Analek.