Pengantar Satu
(Edisi Terjemahan Inggris Pertama)
Max Havelaar pertama kali terbit beberapa tahun silam dan seketika itu juga telah mengguncang Negeri Belanda dengan dahsyatnya, memantik kehebohan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penulisnya mempersembahkan karya ini di bawah nama samaran Multatuli, namun tak lama kemudian diketahui bahwa nama aslinya adalah Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Residen Pemerintah Belanda di Tanah Jawa. Dengan semangat yang menggelegak dan penuh hasrat membara, ia mempersembahkan karya ini kepada bangsanya dalam bentuk sebuah roman—sebuah buku yang memperkenalkan kepada mereka betapa luar biasanya penindasan dan pemerasan yang dialami oleh kaum bumiputra di Hindia Belanda, “kerajaan agung Insulinde, yang membelit khatulistiwa bagai untaian zamrud”, dan bagaimana, kala masih menjabat sebagai pegawai pemerintah, ia telah berusaha dengan sia-sia menghentikan berbagai kekejaman yang terjadi setiap hari di sana. Kendati sebagian orang menganggap bukunya sekadar novel yang menarik dan memesona, penulisnya bersikukuh bahwa isinya tak lain hanyalah kenyataan semata. Ia menantang Pemerintah Belanda untuk membuktikan bahwa isi bukunya keliru, namun tak seorang pun pernah berhasil membantah kebenarannya. Dalam Kongres Internasional untuk Kemajuan Ilmu Sosial di Amsterdam, tahun 1863, ia menantang seluruh bangsanya untuk menyanggahnya, tetapi tak satu pun tampil menjawab tantangan itu. Singkatnya, Tuan Douwes Dekker, yang telah mengabdi sebagai pegawai pemerintah selama tujuh belas tahun, sesungguhnya justru meredam kenyataan, bukannya melebih-lebihkannya. Tak satu pun fakta dalam bukunya pernah dibantah di Belanda, dan hingga kini ia tetap bersedia membuktikan kebenaran semua pernyataannya. Di parlemen Belanda, tak ada sepatah kata pun yang dijawab, kecuali dari Tuan Van Twist, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang saat dimintai pendapat oleh Baron Van Hoevell, mengatakan bahwa ia mungkin dapat membantah Max Havelaar, namun baginya itu bukanlah suatu hal yang penting.
Buku ini menjadi bukti bahwa apa yang dahulu dituliskan dalam Uncle Tom’s Cabin mengenai kekejaman terhadap budak-budak di Amerika, belum sebanding dengan apa yang berlangsung setiap hari di tanah jajahan Hindia Belanda.
“Max Havelaar” adalah nama yang dipilih sang penulis untuk menarasikan pengalamannya di Timur. Pada bab-bab awal, ia baru saja kembali dari Hindia, dan bertemu kembali dengan sahabat lamanya semasa sekolah, yang kini menjadi makelar kopi, seorang bernama Tuan Droogstoppel. Droogstoppel adalah seorang yang amat kaya, sedangkan penulis saat itu tengah dalam kesulitan keuangan. Maka ia meminta sahabat lamanya itu untuk menjamin penerbitan bukunya. Mula-mula Droogstoppel menolak, namun kemudian, ketika ia melihat bahwa ada keuntungan bagi dirinya, ia pun setuju. Droogstoppel adalah sosok yang sangat khas—ia tak tahu apa-apa selain perniagaan, seorang egois sejati, dan digambarkan oleh penulis dengan jenaka dan cermat untuk menunjukkan kontras yang tajam antara dirinya dan … beberapa orang sebangsanya, yang barangkali ia temui sekembalinya dari Tanah Jawa. Pada saat itu, sang penulis mengenakan syal dengan motif kotak-kotak, sehingga Droogstoppel senantiasa menyebutnya sebagai “Tuan Lelaki Bersyal”. Beberapa bulan setelah Max Havelaar terbit, salah seorang anggota parlemen paling terkemuka di Belanda menyatakan bahwa buku ini telah mengguncang seluruh negeri dalam ketakjuban dan kengerian. Segala upaya untuk menjadikan buku ini sebagai bahan perebutan politik pun sia-sia. Penulis secara terbuka menyatakan bahwa dirinya tak berpihak pada kubu Liberal maupun Konservatif; ia berdiri di bawah panji KEADILAN, KESETARAAN, dan KEMANUSIAAN. Namun segera setelah ia menyatakan dirinya hanya sebagai sahabat umat manusia tanpa afiliasi politik, kalangan pejabat pun enggan menyebut namanya, berpura-pura melupakannya—orang yang sebelumnya menjadi cermin penegur, dan yang pengaruhnya dianggap membahayakan mereka yang berkuasa. Alih-alih menerima tantangan sang penulis, mereka memilih bertarung dengan senjata hina: cercaan dan fitnah. Tentu saja pembaca tak boleh mengira bahwa pandangan-pandangan konyol dan munafik Tuan Droogstoppel mewakili gagasan sang penulis. Justru itulah maksud Multatuli—membuat tokoh Droogstoppel tampak menjijikkan dan falsafah hidupnya terasa dangkal, meski sesekali ia memang mengucapkan kebenaran dan nalar sehat, sebab ia merupakan cerminan sebagian dari watak bangsa Belanda sendiri.
Demikianlah kecenderungan utama dari buku ini. Perlukah saya katakan bahwa karya ini merupakan sebuah kehormatan bagi khazanah kesusastraan dalam bahasa mana pun, dan bahwa buku ini layak dibaca, baik demi pemahaman, maupun untuk kenikmatan? Namun Max Havelaar tak akan hidup abadi karena seni atau kepiawaian sastrawi semata, melainkan karena perkara besar yang diperjuangkannya. Siapa pun yang mengagumi pleidoi abadi Harriet Beecher Stowe, kiranya juga patut membaca gugatan Multatuli. Saya memang membandingkan Max Havelaar dengan Uncle Tom’s Cabin, namun saya tak hendak menyamakan Multatuli—sang pejuang dan martir bagi kemanusiaan dan keadilan—dengan Nyonya Stowe, sebab sejauh yang kuketahui, sang wanita terkemuka itu, betapa pun besar jasanya, belum tentu rela mengorbankan masa depan, kenyamanan hidup, dan segala kesenangan dunia demi sebuah prinsip—demi keadilan dan kebenaran—seperti yang telah dilakukan Eduard Douwes Dekker. Max Havelaar adalah kesaksian dari seorang jenius langka, jenis yang hanya muncul sesekali dalam perjalanan panjang sejarah umat manusia. Pikiran dan jiwanya mencakup seluruh kemanusiaan, tanpa memandang ras ataupun kasta. Melalui penyebaran buku ini, akan terjalin ikatan di antara para pencinta keadilan dan kejernihan nurani di seluruh penjuru dunia.
Penulis awalnya bermaksud menerjemahkan sendiri karyanya ke dalam seluruh bahasa di Eropa. Sayangnya, tanpa sadar ia telah melepaskan hak atas bukunya sendiri. Dan andai karya ini tidak “secara sah” telah dijauhkan dari tangan rakyat Belanda, mungkin aku tak akan pernah menjadi penerjemahnya. Namun dorongan batin membuatku merasa harus menyebarkan kenyataan yang pilu ini sejauh mungkin—kenyataan tentang buruknya pelaksanaan hukum, yang sejatinya baik, oleh Pemerintah Belanda di tanah jajahannya di Timur. Bagi bangsa Inggris, fakta-fakta ini pasti akan terasa asing, sebab buku-buku yang diterbitkan di Inggris mengenai Hindia Belanda sangatlah sedikit, dan kebanyakan bersifat dangkal, tak sanggup melukiskan keadaan rakyat pribumi. Aku tidak hendak menilai politik Inggris, terlebih lagi tentang India di bawah Inggris, namun betapa pun sempurnanya pemerintahan Inggris, pastilah masih ada hal yang dapat ia pelajari.
Alphonse Johan Bernard Horstmar Nahuÿs
Den Haag,
17 Januari 1868
Pengantar Dua
(Edisi Terjemahan Inggris Kedua)
oleh D.H. Lawrence
Max Havelaar pertama kali terbit di Negeri Belanda, hampir tujuh puluh tahun silam, dan segera menimbulkan kegemparan. Di Jerman, buku itu menjadi bacaan hangat pada zamannya; bahkan di Inggris pun sempat menikmati masa kejayaan di antara kalangan kaum liberal. Hingga hari ini, ia tetap terngiang samar-samar dalam ingatan orang asing sebagai satu-satunya klasik besar dari tanah Belanda.
Kusebut samar-samar, sebab banyak orang berpengetahuan luas sekalipun tak tahu-menahu tentangnya. Bernard Shaw, misalnya, pernah mengaku tak pernah mendengarnya. Sebuah hal yang mengherankan, mengingat betapa tinggi penghargaan yang diberikan pada buku ini oleh orang-orang yang dapat kita sebut kaum pra-Fabian, baik di Inggris maupun Amerika, enam puluh tahun yang lalu.
Namun memang begitulah, ketika Max Havelaar muncul, ia disambut sebagai sebuah buku yang punya tujuan. Dan benak bangsa Anglo-Saxon sangat menyukai buku-buku semacam itu—buku yang jelas-jelas berpihak pada kebenaran. Akan tetapi, benak bangsa Anglo-Saxon pun sama cepatnya melupakan, dalam waktu singkat, setiap buku yang membawa tujuan. Sebab baginya, sebuah tujuan yang terlalu lantang bisa terasa membosankan.
Maka kita pun telah melupakan, dengan kelupaan yang begitu tuntas khas diri kita, segala sesuatu tentang Max Havelaar dan tentang Multatuli, sang pengarangnya. Bahkan nama samaran itu sendiri—Multatuli (dari bahasa Latin: “aku telah banyak menderita”, atau: “aku telah banyak menanggung”)—yang dahulu membangkitkan gairah kakek-nenek kita, kini justru terasa mengganggu bagi kita. Kita tak lagi peduli pada tokoh-tokoh miskin namun mulia, yang terlalu sadar bahwa mereka telah banyak menderita. Terlalu sarat akan kesadaran diri.
Di permukaannya, Max Havelaar tak lebih dari sebuah traktat, sebuah pamflet, sehaluan dengan Uncle Tom’s Cabin. Bedanya, alih-alih seruan “kasihanilah budak Negro yang malang”, di sini terdengar seruan “kasihanilah orang Jawa yang tertindas”—sama-sama ajakan mendesak kepada pemerintah agar lekas bertindak. Dan memang, pemerintah Amerika mengambil tindakan terhadap perbudakan Negro, sehingga Uncle Tom’s Cabin kehilangan daya gaungnya. Pemerintah Belanda pun, konon, melakukan sesuatu di Tanah Jawa demi kaum pribumi, dengan bertumpu pada pengaruh buku Multatuli. Maka Max Havelaar pun tergeser, menjadi sekadar lembaran usang dalam katalog masa lalu.
Sampai di sini, semuanya baik adanya. Jika menulis novel-traktat dapat menggerakkan pemerintah untuk memperbaiki keadaan, maka tulislah novel-traktat sebanyak-banyaknya. Namun, begitu pemerintah telah bertindak, menunaikan tugasnya, novel-traktat itu pun telah menunaikan perannya—dan sepatutnya ia turun dari panggung, seperti seorang orator politik yang telah menyampaikan maksudnya.
Semua itu wajar saja, bagian dari hukum alam. Dan justru karena memang demikianlah jalannya, banyak orang Belanda terpelajar masa kini menjadi jengkel ketika mendengar orang Jerman, Inggris, atau Amerika yang sama-sama berpendidikan menyebut Max Havelaar sebagai “satu-satunya karya klasik Belanda.” Perasaan yang sama mungkin akan dialami orang Amerika jika mereka mendengar Uncle Tom’s Cabin disebut “satu-satunya karya klasik Amerika.” Dalam dunia berbahasa Inggris, Uncle Tom sudah tergolong usang; demikian pula dalam dunia berbahasa Belanda, Max Havelaar tak lebih daripada lembaran usang dalam katalog kesusastraan.
Jika engkau meminta kepada seorang Belanda nama novelis besar negerinya, ia akan menunjuk pada penulis Old People and Things That Pass (Louis Couperus)—atau kepada seseorang yang sama sekali tak kau kenal.
Tentang “seseorang yang tak kukenal” itu, aku tak punya kata. Namun tentang Old People and Things That Pass, aku masih beranggapan bahwa Max Havelaar jauh lebih nyata sebagai sebuah buku. Dan justru karena Old People merupakan novel modern yang baik, maka semakin mendesaklah alasan untuk mencari tahu: mengapa Max Havelaar terasa lebih besar nilainya.
Sejak masa kanak-kanak, ketika aku membaca Uncle Tom’s Cabin sambil menangis, aku tak pernah lagi mencoba membukanya. Mungkin suatu saat, bila kutemukan satu eksemplar, akan kucoba lagi. Namun aku khawatir, ia hanya akan terasa hambar. Aku tahu, airmataku tak akan lagi jatuh karenanya.
Lalu mengapa Max Havelaar tidak menjemukan? Mengapa setiap kata di dalamnya masih sanggup dibaca dengan penuh perhatian? Dari segi susunan, buku itu sejatinya berantakan luar biasa. Para pengulas masa kini pasti akan merobek-robeknya dan melemparkannya ke keranjang sampah! Tetapi memang beginilah para pengulas hari ini—seperti halnya para pendeta—merasa wajib membenarkan Tuhan di hadapan manusia; dan ketika mereka tak sanggup melakukannya, ketika sebuah buku atau bahkan Sang Ilahi sendiri tampak tak terbenarkan di mata orang banyak, maka segera saja mereka lemparkan ke keranjang sampah.
Inilah, sesungguhnya, kesalahan kritik modern: membayangkan publik—si orang kebanyakan di jalanan—sebagai dewa sejati yang harus dilayani dan dielu-elukan oleh setiap buku yang terbit, bahkan sekalipun itu Kitab Suci. Bagiku, seorang kritikus semestinya, ibarat seorang penjaga gereja yang baik, mengetukkan tongkat ke jemari umat agar mereka duduk tertib dan mendengarkan khotbah. Sebab setiap buku yang baik adalah sebuah kebaktian.
Namun, begitu para kritikus menera Max Havelaar sebagai “lembaran usang”, mereka seolah menindasnya bila ia berani mengangkat kepala, seraya berteriak: “Tunduklah! Sembahlah kemodernan agung dari publik suci!”
Aku katakan: sama sekali tidak! Yang dahulu dicintai khalayak ramai dari Max Havelaar—yakni sifatnya sebagai sebuah traktat—itu memanglah benar sudah usang. Namun sesungguhnya, bagian traktat itu amat sedikit, dan bahkan yang ada pun sudah ditarik kembali oleh pengarangnya dengan cara begitu jenaka, sehingga pembaca justru mengulum senyum sepanjang membacanya.
Inilah kepiawaian jurnalisme yang licin dari pihak Multatuli (Dostoevsky pun pernah memainkan kepiawaian serupa), yakni dengan menampilkan bukunya seolah-olah benar-benar sebuah traktat. Padahal, yang sungguh-sungguh dikehendakinya hanyalah agar bukunya sampai ke tangan pembaca. Ia ingin didengar. Ia ingin dibaca. “Aku ingin didengar. Aku akan didengar!” demikian ia berseru lantang pada halaman-halaman terakhir. Dan besar kemungkinan ia sendiri tersenyum geli dalam hati ketika berteriak demikian. Namun publik ternganga dan terperdaya.
Ia pun tampil sebagai misionaris penuh gairah demi orang Jawa yang tertindas! Sebab ia tahu, suara misionaris akan selalu didengarkan. Dan orang Jawa hanyalah tongkat yang baik untuk memukul anjing—yakni publik yang makmur, yang sangat ingin ia hajar habis-habisan!
Dan itulah yang dilakukannya, dengan jubah misionaris, di dalam Max Havelaar. Sesungguhnya, buku itu bukanlah sebuah traktat, melainkan sebuah satir. Multatuli bukanlah pengkhotbah, melainkan seorang humoris satiris. Sama seperti dalam kehidupan Jean Paul Richter, muncul dalam diri Multatuli kebencian getir—hampir seperti anjing gila—terhadap umat manusia, kebencian yang juga kelak meledak dalam diri Mark Twain. Dostoevsky pun serupa, hanya saja dalam dirinya, sosok misionaris telah menelan anjing gila itu, sehingga jerit ejekan hanya muncul sebagai gema samar di balik suaranya.
Max Havelaar bukanlah traktat, bukan pula pamflet. Ia adalah satir. Satir atas kaum borjuis Belanda, yang menjelma dalam sosok Droogstoppel, dan yang ditumpas habis hingga menjadi kehampaan murni lewat humor. Itulah penelanjangan tuntas atas seorang makelar kopi—yang sesungguhnya sama saja dengan kaum saudagar makmur di Amerika maupun Inggris masa kini. Esensinya tetap sama. Dan itulah serangan mematikannya.
Demikian pula bagian Jawa dalam buku itu sesungguhnya adalah satir atas tata kelola kolonial, bahkan atas pemerintahan secara keseluruhan. Sebuah satir yang lugas dan terus terang, sehingga terasa sehat adanya. Multatuli tak pernah benar-benar jatuh ke dalam sumur tak berdasar dari kebenciannya sendiri, sebagaimana Dostoevsky yang terjerembab hingga menjelma serupa seorang misionaris berpura-pura manis, namun di dalam perutnya bergemuruh lolongan ejekan dan kegilaan. Pada titik terburuknya, Multatuli hanya menjadi rengekan yang menjengkelkan—terlalu sering mengulik rasa iba ketika sesungguhnya ia tengah digerakkan oleh murka. Mungkin ia sedang mengelabui dirinya sendiri. Tetapi tidak pernah lama.
Simpatinya pada orang Jawa juga cukup tulus; ada bagian dari dirinya yang sungguh-sungguh digerakkan oleh belas kasih. Sementara seorang jenius saraf besar seperti Dostoevsky barangkali tak pernah sekejap pun merasakan simpati yang benar-benar ragawi dalam hidupnya. Namun pada Multatuli, simpatinya kepada orang Jawa lebih merupakan alasan untuk semakin membenci pejabat-pejabat Belanda. Simpati itu adalah simpati seorang yang pikirannya dipenuhi oleh perasaan lain yang lebih dalam.
Kita bisa melihatnya dalam prosa indah yang terkenal tentang Saijah dan Adinda, yang dahulu menjadi bagian paling dicintai sekaligus paling sering dikutip dari buku itu. Terlihat jelas betapa membosankannya bagi sang pengarang menuliskannya setelah beberapa halaman pertama. Ia sendiri mengakuinya. Ia bosan menulis dengan nada simpatik. Sebab pada dasarnya ia seorang humoris satiris, dan jauh lebih menggairahkan baginya menyerang pejabat Belanda ketimbang berempati kepada orang Jawa.
Hal itu kembali tampak jelas dalam keberpihakannya kepada sang Bupati tua, bangsawan pribumi. Nyata benar bahwa penindasan yang sesungguhnya dialami rakyat kecil Jawa datang justru dari orang Jawa sendiri—dari bangsawan pribumi itu. Bukan pejabat Belanda yang mencuri kerbau Saijah, melainkan sang penguasa Jawa. Penindasan itu, sebagaimana diakui Havelaar sendiri, sudah berlangsung sejak awal zaman, jauh sebelum Belanda datang. Memang sudah menjadi kelaziman di Timur, bahwa seorang penguasa menindas rakyat jelatanya. Maka mengapa pejabat Belanda sepenuhnya dipersalahkan? Mengapa tidak mencengkeram janggut sang Bupati tua itu?
Namun tidak! Multatuli, melalui Max Havelaar, berenang dalam arus iba kepada yang miskin dan tertindas, semata-mata karena kebenciannya yang menyala kepada penguasa. Ia bukan membenci penguasa karena mencintai kaum tertindas, melainkan justru sebaliknya. Anak ayam bernama “iba” itu lahir dari telur kebencian. Mungkin memang selalu begitu halnya dengan rasa iba. Tetapi di sini kita perlu membedakan antara “belas kasih” dan “iba.”
Sungguh, ketika Saijah berangkat merantau, atau ketika ia dibela oleh kerbaunya, yang dirasakan Multatuli adalah belas kasih, bukan sekadar iba. Namun pada akhirnya, yang tersisa hanyalah iba.
Telur burung kebencian menetas melahirkan anak ayam bernama iba. Kekuatan dinamis terbesar dalam diri Multatuli—sebagaimana dalam diri Jean Paul, Swift, Gogol, dan Mark Twain—adalah kebencian: kebencian yang penuh gairah, sekaligus bermartabat. Adalah terhormat membenci Droogstoppel, dan Multatuli memang membencinya. Adalah terhormat membenci birokrasi yang pengecut, dan Multatuli membencinya. Bahkan kadang, adalah hal yang terhormat—bahkan perlu—untuk membenci masyarakat, sebagaimana Swift melakukannya, atau untuk membenci umat manusia seluruhnya, sebagaimana kerap dilakukan Voltaire.
Sebab manusia senantiasa cenderung merosot menjadi sosok seperti Droogstoppel, atau Gubernur Jenderal, atau Slijmering—makhluk-makhluk yang menjijikkan, yang harus dimusnahkan. Dan di situlah Multatuli tampil, bagai Jack dalam dongeng Jack and the Beanstalk, berhadapan dengan raksasa.
Dan ketika Jack melawan raksasa, ia mesti mengandalkan akal muslihat. Daud teringat pada umban dan batu. Multatuli memilih mengenakan jubah seorang misionaris. Publik yang dungu menerima penyamaran itu, dan batu Daud pun menghantam sasaran. À la guerre comme à la guerre—dalam perang, semua sah adanya.
Kelak, ketika sudah tak ada lagi Droogstoppel, tak ada lagi Gubernur Jenderal atau Slijmering, maka Max Havelaar pun akan menjadi usang. Buku itu sejatinya lebih mirip pil daripada manisan. Selapis “selai iba” dioleskan agar pil itu bisa ditelan. Ayah dan kakek kita telah menjilat habis selainya. Tetapi kita masih bisa terus menelan pil itu, sebab sembelit sosial tetap saja seburuk dahulu.
MAX HAVELAAR
Dipersembahkan untuk
Mengenang dengan Penuh Hormat
Everdine Huberte, Baroness Van Wynbergen
Sang Istri Setia
Sang Ibu Gagah Berani dan Penuh Cinta
Sang Perempuan Mulia
“Sering kudengar orang mengasihani perempuan yang bersuamikan penyair; dan memang benar, untuk memegang peranan yang demikian berat dalam hidup, tak satu pun kualitas mulia yang terasa berlebihan. Bahkan perpaduan paling langka dari segala bentuk keutamaan hanyalah cukup untuk sekadar memadai untuk syarat-syarat dasar, dan seringkali itu pun belumlah cukup untuk mencapai kebahagiaan yang sederhana. Bayangkanlah engkau harus selalu menerima kehadiran sang Dewi Musa sebagai pihak ketiga dalam percakapan paling intim kalian; suamimu, si penyair itu, kembali ke pangkuanmu dengan hati luka, tercabik oleh kecewa dan lelah batin dari perjuangannya sendiri, dan engkaulah yang harus merengkuhnya, menenangkannya, merawatnya; atau saat ia, dengan wajah berseri-seri, menghilang—terbang mengejar angan yang tak pernah tergapai … begitulah keseharian seorang istri penyair. Namun ya, ada pula waktu-waktu penebusan: saat daun-daun salam kemenangan, yang ia peroleh dari peluh kejeniusannya, diletakkan dengan khidmat di kaki perempuan yang dicintainya dalam terang hukum dan hati; di pangkuan sang Antigone yang menuntun ‘si pengembara buta’ melewati dunia ini.
“Sebab janganlah keliru: hampir semua cucu-cucu Homeros itu, dalam caranya sendiri-sendiri, adalah buta—buta dengan mata yang lain. Mereka melihat hal-hal yang tak tampak bagi kita; pandangan mereka menembus lebih jauh dan lebih dalam daripada pandangan kita. Namun mereka tak sanggup melihat jalan setapak di depan kaki mereka sendiri, dan bisa saja tersandung—tergelincir, bahkan jatuh tersungkur karena batu kerikil yang remeh—jika harus berjalan sendirian, tanpa penopang, menapaki lembah-lembah kehidupan yang sunyi dan bersahaja, tempat segala hal sehari-hari berdiam.”
(HENRY DE PÈNE)
DRAMA
PETUGAS. Yang Mulia, inilah orang yang membunuh Barbertje.
HAKIM. Ia harus dihukum gantung karenanya. Bagaimana ia melakukannya?
PETUGAS. Ia memotong-motong tubuhnya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu mengasinkannya.
HAKIM. Ia penjahat besar. Ia harus dihukum gantung.
LOTHARIO. Yang Mulia, aku tidak membunuh Barbertje. Aku merawatnya, memberinya makan, memberinya pakaian, dan mencintainya. Aku dapat menghadirkan saksi yang akan membuktikan bahwa aku orang baik, bukan seorang pembunuh.
HAKIM. Kau harus dihukum gantung. Kau memperparah dosamu dengan kesombonganmu. Tidak pantas bagi siapa pun yang … sedang dituduh sesuatu untuk menyatakan diri sebagai orang baik.
LOTHARIO. Tapi, Yang Mulia … ada saksi yang akan membuktikannya; dan karena aku kini dituduh membunuh …
HAKIM. Kau harus dihukum gantung. Kau memotong-motong Barbertje—kau mengasinkan potongannya—dan kau merasa bangga akan tindakanmu—tiga dakwaan besar—kau siapa, perempuan baik?
PEREMPUAN. Aku Barbertje.
LOTHARIO. Puji Tuhan! Yang Mulia lihat sendiri, aku tidak membunuhnya.
HAKIM. Hmm—ya—apa?—Bagaimana dengan pengasinan?
BARBERTJE. Tidak, Yang Mulia, ia tidak mengasinkanku;—sebaliknya, ia telah banyak berbuat baik kepadaku … ia orang yang layak dihormati!
LOTHARIO. Yang Mulia dengar sendiri, ia mengatakan aku orang jujur.
HAKIM. Hmm—dakwaan ketiga masih tersisa. Petugas, bawa terdakwa pergi, ia tetap harus digantung; ia bersalah karena … merasa dirinya paling benar sendiri.
(Drama yang belum diterbitkan)
Bab 1
Aku adalah seorang makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam. Menulis roman atau segala macam khayalan semacam ini jelas bukan kebiasaanku; sebab itu, butuh waktu cukup lama sebelum aku rela membeli beberapa rim kertas tambahan dan akhirnya menulis buku ini—ya, buku yang kini ada di tanganmu, wahai Pembaca yang budiman, yang harus kautamatkan, entah kau seorang makelar kopi atau siapa pun dirimu. Bukan saja aku belum pernah menulis apa pun yang menyerupai roman, bahkan membacanya pun aku tak sudi. Sebab aku adalah orang yang hidup dari perniagaan. Bertahun-tahun lamanya aku bertanya pada diriku sendiri, apalah gunanya tulisan-tulisan semacam itu? Aku takjub menyaksikan keberanian banyak penyair dan pengarang yang tanpa malu menyuguhkan kepada kita kisah-kisah yang tak pernah terjadi—dan bahkan seringkali tak mungkin terjadi! Bayangkanlah, seandainya aku—ingatlah, aku makelar kopi di Lauriergracht No. 37—mengirim laporan kepada seorang prinsipal—prinsipal itu orang yang menjual kopi—yang isinya mengandung kebohongan sekecil apa pun, sebagaimana lazimnya isi roman dan puisi. Tentu ia seketika akan beralih ke Busselinck & Waterman. Mereka juga makelar kopi, tapi biarlah engkau tak perlu ketahui alamat mereka. Maka dari itu, aku sangat berhati-hati untuk tidak menulis roman, dan tidak menyebarkan kebohongan. Sudah sering aku perhatikan bahwa orang-orang yang gemar melakukan hal semacam itu biasanya hidupnya tak beres. Umurku empat puluh tiga tahun, dan telah dua puluh tahun lamanya aku keluar-masuk bursa perdagangan, karenanya aku dapat dianggap sebagai orang yang berpengalaman. Betapa banyak perusahaan yang telah kulihat bangkrut sama sekali! Dan bila kuselidiki penyebab keruntuhan mereka, nyatalah bahwa akar persoalannya hampir selalu terletak pada arah yang keliru, yang telah mereka terima sejak usia dini.
Aku tegaskan di sini: kebenaran dan akal sehat—dan pada keduanyalah aku berpegang teguh. Sedangkan untuk Kitab Suci, tentu saja, kuberi pengecualian. Tetapi akar dari segala kekeliruan yang begitu lama bersemayam di benak kita dapat dilacak pada sang penyair anak-anak, Van Alphen, bahkan sejak bait pertamanya tentang “kanak-kanak manis” itu. Apa gerangan yang merasuki lelaki tua itu hingga ia mengaku-aku sebagai pencinta anak-anak—bocah-bocah seperti adikku Truitje, yang matanya selalu belekan, atau kakakku Gerrit, yang tak bosan mengorek hidungnya? Dan toh ia berseru bahwa ia: “menyanyikan syair-syair itu karena didorong rasa cinta.” Seringkali, sewaktu kecil, aku bergumam dalam hati: “Pak Tua, betapa ingin aku bertemu denganmu. Dan bila kau menolak permintaan gundu marmerku—yang pasti akan kuminta—atau enggan menuliskan namaku lengkap-lengkap di atas kue jahe—namaku ‘Batavus’—maka seketika itu juga kuanggap engkau seorang pendusta!” Tapi aku tak pernah bertemu Van Alphen. Ia telah tiada, barangkali, ketika masih saja bersikeras menyatakan bahwa ayahku adalah sahabat terbaikku—padahal aku lebih menyukai Pauweltje Winser, tetangga kami di Batavierstraat
; dan bahwa anjing kecilku penuh rasa syukur—padahal kami tak pernah punya anjing, karena hewan itu, menurut ibuku, terlalu jorok untuk dipelihara.
Semua itu dusta belaka! Namun beginilah cara pendidikan kita dibangun. Bahwa adik perempuan yang baru lahir konon dibawa tukang sayur, tersembunyi di balik kembang kol raksasa. Bahwa setiap orang Belanda gagah berani dan berhati mulia. Bahwa bangsa Romawi, yang agung itu, merasa bersyukur lantaran Bangsa Batavia berkenan mengizinkan mereka tetap hidup. Bahwa Bey dari Tunisia mendadak terserang kejang perut hanya karena melihat bendera Belanda berkibar. Bahwa sang Hertog Alva tak lain adalah monster. Bahwa pasang surut air laut pada tahun 1672—jika ingatanku tidak keliru—berlangsung lebih lama dari biasanya semata-mata demi menyelamatkan Belanda. Dusta semuanya! Belanda tetaplah Belanda bukan karena dongeng-dongeng semacam itu, melainkan karena para leluhur kita pandai mengurus dagangannya sendiri, dan karena mereka berpegang teguh pada agama yang benar—Itulah sesungguhnya pokok perkaranya!
Dan setelah itu, datanglah lagi dusta-dusta yang tak kalah konyol. Bahwa seorang gadis adalah malaikat—siapa pun yang pertama kali melontarkan gagasan ini, jelas ia tak pernah punya saudara perempuan. Bahwa cinta adalah kebahagiaan surgawi. Bahwa orang dapat melarikan diri bersama seseorang, entah siapa pun itu, meninggalkan segalanya, hingga ke “ujung dunia”—padahal dunia ini tidak punya ujung, dan cinta semacam itu tak lebih dari kebodohan belaka.
Tak seorang pun dapat menuduh aku tidak hidup rukun dengan istriku. Ia putri dari keluarga Last & Co., makelar kopi terkemuka. Perkawinan kami wajar, pantas, dan tidak dapat dicela siapa pun. Aku anggota perkumpulan “Artis,” sementara ia memiliki selendang Kashmir panjang, yang dibeli seharga sembilan puluh dua gulden. Tetapi mengenai cinta yang mengawang-awang—cinta tolol yang bermimpi bisa terbang ke negeri jauh di luar jangkauan manusia—ah, itu tak pernah kami percakapkan. Ketika menikah, kami sempat berbulan madu ke Den Haag. Di sana, istriku membeli flanel yang hingga kini masih kupakai sebagai kaus dalam. Ya, sejauh itulah “cinta” pernah membawa kami pergi. Tak lebih jauh. Maka kukatakan sekali lagi, semua bualan itu hanyalah omong kosong, dusta belaka!
Dan apakah karena itu pernikahanku menjadi kurang bahagia dibandingkan mereka yang menikah “atas nama cinta,” lalu berakhir dengan batuk darah terserang TBC, atau mencabuti rambut mereka sendiri dalam keputusasaan? Apakah kau kira rumah tanggaku akan lebih tertata rapi seandainya, tujuh belas tahun silam, aku melamar istriku dengan seuntai puisi? Omong kosong belaka! Lagipula, kalau memang itu yang dianggap perlu, aku pun bisa melakukannya sama baiknya seperti orang lain. Bukankah keterampilan menyusun puisi tak lebih rumit daripada mengukir gading? Kalau tidak, bagaimana mungkin permen karamel dengan bungkus bertuliskan kata-kata mutiara bisa dijual begitu murah?—atau “keramel,” begitulah anakku, Frits, entah mengapa menyebutnya. Silakan saja bandingkan harganya dengan satu set bola bilyar!
Aku tak menolak puisi. Bila kau suka menata kata dalam bait-bait, silakan saja—asalkan ia tidak mengkhianati kebenaran. Dengarkan ini, misalnya:
Tepat pukul empat
Awan pun pekat.
Aku tak hendak membantah bait itu—jika memang benar pada tepat pukul empat dan langit telah melekat kelabu. Namun bila yang sebenarnya masih setengah tiga, aku, yang tak menata kata dalam sajak, cukup berkata: “Tepat pukul setengah tiga, dan awan pekat.” Penyair, demi merenggangkan rima agar sesuai dengan ‘awan pun pekat’, terpaksa memaksa waktu menjadi ‘pukul empat’. Bagi mereka, pukul empat haruslah tepat; kalau tidak, awan tak boleh pekat. Kata “satu,” “dua,” “tiga” melanggar irama; begitu pula “lima,” “enam,” “tujuh,” “delapan,” dan “sembilan.” Maka mulailah ia mengutak-atik: mengubah awan, menggeser waktu—salah satunya mesti berbohong.
Dan bukan hanya puisi saja yang menjerumuskan anak-anak muda ke dalam kebohongan. Cobalah pergi ke panggung pertunjukkan, dan dengarkan semua dusta yang mereka pertontonkan di sana tanpa rasa malu. Tokoh utama dalam lakon nyaris tenggelam, lalu diselamatkan oleh seseorang yang kebetulan nyaris bangkrut. Lalu, katanya, sang tokoh utama menghadiahkan separuh hartanya kepada sang penyelamat—omong kosong! Hal yang jelas mustahil, dan aku akan membuktikannya. Beberapa waktu lalu, di Prinsengracht, topiku diterbangkan angin dan jatuh ke dalam air—“ditiup angin,” kata Frits. Orang yang mengembalikannya hanya kuberi dua sen. Ia pun puas. Aku tahu, kalau yang jatuh ke air itu diriku sendiri, aku mungkin harus memberi lebih banyak. Tapi tentu saja tidak dengan separuh kekayaanku! Dengan logika seperti itu, cukuplah seseorang tercebur dua kali ke sungai, dan gulung tikarlah dia.
Yang paling menyedihkan dari tontonan semacam itu di panggung ialah bagaimana penonton dengan senang hati membiarkan diri mereka dijerumuskan oleh dusta. Mereka terbiasa, bahkan terpikat olehnya—dan tanpa malu mengagumi serta memberi tepuk tangan bagi kebohongan! Sering aku tergoda hendak menggiring seluruh barisan tukang tepuk tangan itu ke tepi kanal, lalu menceburkan mereka ke air, sekadar untuk mengetahui siapa di antara mereka yang akan bersorak dengan sungguh-sungguh. Aku, yang memihak pada kebenaran, menyatakan dengan tegas: tak akan kubayar separuh hartaku hanya karena aku diselamatkan dari tenggelam. Siapa pun yang menganggap imbalan kecil tak memadai, silakan saja biarkan aku karam. Pengecualian hanya pada hari Minggu; sebab pada hari itu aku biasa mengenakan rantai jam saku dan jas terbaikku—dan barangkali, demi menjaga wibawa pakaian itu, aku rela memberi sedikit lebih banyak.
Banyak orang, aku yakin, lebih rusak oleh panggung sandiwara ketimbang oleh roman. Sebab apa yang dipertontonkan di sana tampak begitu nyata! Dengan sedikit gemerlap perada dan renda dari kertas timah yang digepengkan, segalanya terlihat menggoda. Bagi anak-anak tentu saja—dan bagi mereka yang tak pernah tahu seluk-beluk dunia bisnis. Bahkan ketika yang hendak digambarkan adalah kemiskinan, yang kita saksikan tak lebih dari dusta belaka. Lihatlah: seorang gadis, anak dari keluarga bangkrut, dikisahkan bekerja keras menafkahi rumah tangganya. Baiklah. Namun di atas panggung ia hanya duduk di sana, menjahit, merajut, atau menyulam. Hitunglah, berapa tusukan benang yang sungguh-sungguh ia hasilkan selama satu babak penuh? Ia lebih banyak berbicara, menghela napas, berlari ke jendela, melakukan segala hal—kecuali bekerja. Bila keluarga itu hidup dari kerja semacam ini, sungguh mereka pasti hanya membutuhkan sedikit saja untuk bertahan hidup. Dan tentu saja, gadis ini adalah tokoh utama. Ia telah berhasil menjatuhkan beberapa pria cabul dari tangga, dan tak henti-henti menjerit, “Oh, Ibu! Oh, Ibu!”—dan dengan segala itu, ia dimahkotai sebagai Lambang Kebajikan. Kebajikan macam apa, bila butuh setahun hanya untuk menyelesaikan sepasang kaus kaki wol? Tidakkah ini hanya menanamkan gambaran keliru tentang “kebajikan” dan tentang “bekerja demi sesuap nasi”? Omong kosong, semuanya dusta belaka!
Lalu muncullah sang kekasih pertama si gadis—yang dulunya hanya juru salin papa, dan kini, entah dari mana, tiba-tiba jadi kaya raya. Ia masuk panggung, menikahi gadis itu, dan tabir pun ditutup dengan tepuk tangan meriah. Dusta lagi! Orang yang berpunya tidak akan pernah menikahi putri seorang bangkrut. Mungkin kau berkata: “Ah, itu kan pengecualian, boleh saja di atas panggung.” Tapi justru di situlah bahayanya! Penonton akan mengira bahwa pengecualian itulah aturan. Maka rusaklah moral mereka: terbiasa memberi tepuk tangan pada sesuatu yang, dalam kehidupan nyata, akan dianggap kegilaan oleh setiap makelar atau saudagar yang waras. Waktu aku menikah—dengar baik-baik!—kami berjumlah tiga belas orang di kantor mertuaku, Last & Co. Dan pada masa itu, transaksi dagang kami mengalir dengan deras—percayalah padaku!
Dan masih berderet dusta lainnya di atas panggung. Lihatlah sang tokoh utama: ia melangkah kaku, gagah bak perwira, katanya hendak menyelamatkan tanah air yang tertindas—tetapi mengapa, ya, pintu belakang selalu terbuka dengan sendirinya? Lebih membingungkan lagi, bagaimana mungkin seseorang yang berbicara dalam sajak bisa menebak lebih dulu apa yang akan dikatakan lawan bicaranya, agar baris-baris mereka berima sempurna? Misalnya, sang jenderal berkata: “Nona, celakalah, gerbang kini tertutup rapat.” Bagaimana ia bisa tahu bahwa sang putri akan menjawab dengan persis: “Maka, bertempurlah—pedang kita angkat!” Sebab, bagaimana jika sang putri, setelah mendengar pintu tertutup rapat, malah memilih berkata ia akan menunggu saja sampai pintu dibuka, atau barangkali kembali lagi esok hari? Maka hancurlah rima, buyarlah irama! Bukankah ini bukti bahwa semua itu sandiwara belaka? Ketika sang jenderal menatap putri dengan penuh wibawa, seolah menanti jawabannya, ia sesungguhnya sudah tahu dari awal apa yang akan diucapkan sang putri—demi menjaga rima yang dipaksakan itu. Dan sekali lagi aku bertanya: bagaimana jika si putri lebih suka langsung pergi tidur saja, alih-alih mengangkat pedang? Ah, semuanya dusta belaka!
Dan lalu … “kebajikan yang diberi ganjaran”! Ah, ah, ah! Tujuh belas tahun aku jadi makelar kopi di Lauriergracht No. 37, dan entah sudah berapa kali kupandang tontonan macam ini. Namun hatiku tetap selalu terkoyak tiap kali kulihat kebenaran yang polos, jernih, dan murni dipelintir sekeji itu. “Kebajikan yang diberi ganjaran,” begitu kata mereka! Padahal, bukankah itu sama saja menjadikan kebajikan sebagai barang dagangan, ditimbang dengan laba dan rugi? Syukurlah dunia tak bekerja dengan cara sesesat itu. Sebab jika kebajikan selalu diberi imbalan, di manakah letak nilainya? Apa gunanya kita menyebutnya kebajikan, bila sudah dijamin akan berbuah bayaran? Maka aku bertanya: mengapa kebohongan busuk semacam ini harus terus dipentaskan, dipoles, lalu dihidangkan ke mata dan telinga orang banyak—seolah-olah itu kebenaran?
Ambillah contoh Lukas, si penjaga gudang yang dahulu bekerja pada ayah mertuaku di Last & Co.—waktu itu masih bernama Last & Meyer, meski keluarga Meyer sudah lama angkat kaki. Lukas ini benar-benar orang saleh dan berbudi: tak pernah sebutir pun biji kopi raib karena ulahnya; ia tekun ke gereja; tak sekali pun menyentuh minuman keras. Saat ayah mertuaku berada di wisma peristirahatan di Driebergen, Lukas yang menjaga rumah, menjaga kas, dan menjaga segalanya. Pernah suatu kali bank membayarnya berlebih tujuh belas gulden, dan ia mengembalikannya tanpa ragu. Kini ia sudah terlalu tua dan diserang encok, tak sanggup lagi bekerja, dan karenanya urusan dagang kami yang besar membutuhkan tenaga muda, maka ia pun hidup melarat. Nah, aku tetap menganggap Lukas adalah orang yang sungguh bajik budinya. Tapi apakah ia mendapat ganjaran? Apakah akan datang seorang pangeran yang memberinya berlian? Atau munculkah seorang peri yang mengoleskan roti baginya? Sama sekali tidak! Ia miskin, dan akan tetap miskin, dan memang begitulah seharusnya. Aku tidak bisa membantunya. Kami butuh orang-orang muda yang cekatan untuk menunjang urusan dagang kami yang luas; tetapi andai aku bisa melakukan sesuatu untuknya, maka mungkin kebajikannya akan dibalas dengan kehidupan yang lebih tenang di hari tuanya. Kalau semua penjaga gudang, dan semua orang lainnya, menjadi bajik, lalu semuanya diberi ganjaran di dunia ini, apa yang akan tersisa bagi mereka yang baik untuk di akhirat kelak? Tapi di atas panggung sandiwara, semua ini diputarbalikkan … Bohong belaka!
Aku sendiri pun orang yang bajik, tapi apakah aku menuntut balasan untuk itu? Kalau urusan dagangku berjalan mulus—dan memang demikian adanya—kalau istriku dan anak-anakku sehat, hingga aku tak perlu berurusan dengan dokter atau apoteker; kalau dari tahun ke tahun aku bisa menyisihkan sedikit untuk hari tua; kalau Frits, anakku, tumbuh cerdas dan kelak bisa menggantikanku bila telah tiba waktuku untuk pensiun di wisma peristirahatan di Driebergen—maka aku pun sudah sangat puas. Tapi semua itu hanyalah akibat yang wajar dari keadaan, dan karena aku telah menjalankan bisnisku dengan baik. Aku tidak menuntut ganjaran atas kebajikanku.
Dan bahwa aku orang bajik, itu terbukti dari cintaku pada kebenaran—yang hanya bisa disaingi oleh kesetiaanku pada Iman. Dan aku ingin, wahai Pembaca yang budiman, agar engkau sungguh meyakini hal ini, karena inilah alasan sekaligus pembenaran bagiku untuk menulis buku ini.
Ada satu kecenderungan lagi, yang tak kalah kuatnya menguasai diriku seperti halnya cintaku pada kebenaran: yakni gairahku terhadap dunia usaha. Karena, ketahuilah, aku ini makelar kopi, tinggal di Lauriergracht No. 37. Nah, Pembaca yang budiman, kepada cintaku yang tak tergoyahkan terhadap kebenaran dan kepada semangatku dalam urusan daganglah engkau berutang atas terbitnya lembar-lembar ini. Akan kuceritakan padamu bagaimana semuanya terjadi. Tapi untuk sekarang, izinkanlah aku berpamitan sejenak—aku harus pergi ke Bursa—dan kuundang engkau kembali nanti, pada bab selanjutnya. Sampai jumpa!
Oh ya, simpanlah ini, siapa tahu kelak berguna … tak akan merepotkan, benar-benar mudah … Nah, lihat, ini dia: kartu nama! “Co” yang tertera di sini, itulah aku—sejak keluarga Meyer tak terlibat lagi—dan si Last tua adalah mertuaku.
Bab 2
Perdagangan sedang lesu di Bursa Kopi.[1] Lelang Musim Semi nanti akan membuatnya semarak kembali. Namun, jangan bayangkan kami tak punya pekerjaan. Busselinck & Waterman malah lebih lesu lagi. Dunia ini memang aneh: seseorang bisa menimba pengalaman berlimpah hanya dengan tekun menghadiri Bursa dua puluh tahun lamanya. Bayangkan saja—mereka, ya, Busselinck & Waterman—berusaha merebut pelanggan kami, Ludwig Stern! Kalau kau belum begitu mengenal dunia bursa, izinkan aku menjelaskan: Stern adalah saudagar kopi terkemuka di Hamburg,[2] dan selama ini selalu bekerja bersama Last & Co. Aku mengetahui perihal kelicikan itu—secara tak sengaja. Rupanya mereka menawarkan potongan komisi sebesar seperempat persen. Tindakan rendah! Tak lebih dari itu. Nah, lihatlah apa yang akan kulakukan untuk menghentikan mereka. Orang lain mungkin akan menulis surat kepada Ludwig Stern, mengatakan bahwa “kami pun sanggup memberi potongan komisi, dan harapan kami agar jasa-jasa Last & Co. selama ini turut menjadi pertimbangan.”
Aku telah menghitung, selama lima puluh tahun terakhir, firma kami telah memperoleh keuntungan sebesar empat ratus ribu gulden dari Stern. Hubungan kami sudah ada semenjak awal sistem kontinental,[3] ketika kami menyelundupkan hasil-hasil bumi wilayah kolonial dan semacamnya dari Helgoland.[4] Tidak, aku tak akan memberikan potongan komisi.
Aku singgah di Kedai Kopi “Polandia”, memesan pena dan selembar kertas, lalu menulis sebuah surat:—
“Bahwa dikarenakan oleh banyaknya pesanan terhormat yang mengalir kepada kami dari Jerman Utara, maka kegiatan usaha kami pun berkembang pesat”
Inilah kebenaran—gamblang dan sederhana!
“—dan hal ini menuntut penambahan jumlah pegawai,”
Ini pun benar—bahkan tadi malam juru tulis kami masih berada di kantor lewat pukul sebelas hanya untuk mencari kacamatanya;
“—bahwa yang terpenting, kami sangat membutuhkan tenaga muda yang terhormat dan berpendidikan untuk menangani surat-menyurat dalam bahasa Jerman. Bahwa memang banyak pemuda Jerman di Amsterdam yang memiliki kualifikasi tersebut, namun sebuah firma yang terhormat—”
Inilah kebenaran—gamblang dan sederhana!
“—memandang bahwa kecerobohan dan kebejatan moral para pemuda, ditambah dengan makin banyaknya petualang yang berkeliaran, serta mengingat pentingnya agar ketepatan dalam berperilaku sejalan dengan ketepatan dalam memenuhi pesanan—”
Perhatikan, ini kebenaran belaka, dan tak ada yang lain kecuali kebenaran!
“—maka firma seperti kami—yakni Last & Co., makelar kopi, Lauriergracht No. 37—merasa sangat perlu untuk berhati-hati dalam mengangkat pegawai baru.”
Semua itu adalah kebenaran belaka, Pembaca. Tahukah engkau bahwa pemuda Jerman yang biasa berdiri di Bursa, dekat pilar nomor 17 itu, telah membawa kabur anak gadis Busselinck & Waterman? Putri kami, Marie, akan berusia tiga belas tahun juga pada bulan September.
“Bahwa saya mendapat kehormatan mendengar dari Tuan Saffeler—”
Saffeler adalah agen perjalanan dagang untuk Stern.
“—bahwa pimpinan firma, Yang Terhormat Tuan Ludwig Stern, memiliki seorang putra, Tuan Ernest Stern, yang berkeinginan bekerja sementara waktu di sebuah perusahaan Belanda. Dengan mengingat hal tersebut—”
Di sini aku kembali menyinggung soal kelakuan bejat para pegawai, dan juga kisah tentang anak gadis Busselinck & Waterman itu; tidak mengapa kalau cerita itu disampaikan;
“—bahwasanya saya, dengan penuh itikad baik, bermaksud untuk menawarkan tanggungjawab urusan surat-menyurat dalam bahasa Jerman firma kami kepada Tuan Ernest Stern.”
Demi sopan santun, aku menghindari semua penyebutan soal honor atau gaji. Tapi kutulis:
“Bahwa jika Tuan Ernest Stern berkenan untuk tinggal bersama kami di Lauriergracht No. 37, isteri saya akan mengasuhnya bak putranya sendiri, dan pakaian dalamnya akan dijahit di rumah—”
Ini sungguh benar adanya, karena Marie sangat terampil dalam menjahit dan merajut. Dan sebagai penutup, kutulis:
“Bahwa kami adalah keluarga yang religius.”
Kalimat terakhir itu bisa berguna, sebab Keluarga Stern penganut Lutheran.[5] Aku pun mengirimkan surat itu. Tentu engkau paham bahwa Tuan Stern tua akan sangat canggung bila harus memberikan langganan perusahaannya kepada Busselinck & Waterman, kalau putranya sendiri bekerja di kantor kami. Aku benar-benar menunggu jawaban dengan penuh harap. Tapi, marilah kita kembali ke bukuku.
Beberapa waktu lalu, pada suatu senja, aku berjalan menyusuri Kalverstraat,[6] dan berhenti di depan sebuah toko tempat seorang pedagang grosir yang tengah sibuk memilah-milah sebongkah kopi Jawa—mutunya sedang-sedang saja, warnanya kuning bagus, jenis Cirebon, agak pecah, bercampur ampas. Perhatianku menjadi tertarik olehnya, sebab aku ini memang orang yang mudah merasa penasaran. Tiba-tiba aku menyadari ada seorang lelaki berdiri di sebelahku, di depan etalase toko buku. Wajahnya seolah tak asing bagiku, meski aku tak kunjung bisa mengingat siapa dia. Ia pun tampaknya merasa mengenalku; sebab berkali-kali kami saling berpandangan. Harus kuakui, aku terlalu terpaku pada kopi oplosan itu sehingga tak segera memperhatikan bahwa pakaiannya sebenarnya sangat lusuh—kalau aku sadar lebih awal, tentu aku tak akan memperdulikannya. Tapi tiba-tiba terlintas dalam benakku: barangkali ia seorang agen dagang dari Jerman, dan kantornya sedang mencari makelar yang bisa dipercaya. Wajahnya memang agak seperti orang berkebangsaan Jerman, dan penampilannya pun seperti pelancong. Kulitnya pucat, matanya biru, dan ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang langsung merasa: “Orang asing.” Alih-alih membungkus tubuhnya dengan mantel musim dingin yang layak, ia mengenakan syal dari kain kotak-kotak, dan tampak seperti baru saja menempuh perjalanan jauh. Aku melihat peluang di sana, sehingga aku memberinya kartu namaku, “Last & Co., Makelar Kopi, Lauriergracht No. 37”. Ia menerimanya, mendekatkannya ke lampu gas, membacanya, lalu berkata: “Terima kasih. Tapi ternyata saya keliru. Saya sempat mengira bahwa saya bertemu teman lama saya di sekolah dulu, tapi … Last … Namanya bukan Last.”
“Maafkan saya,” kataku, sebab aku ini orang yang selalu mengutamakan kesopanan, “saya Batavus Droogstoppel—Tuan Droogstoppel.[7] Perusahaan kami Last & Co., makelar kopi, di Lauriergracht No. 37.”
“Ah, Droogstoppel! Benarkah kau tak mengenaliku? Coba lihat wajahku baik-baik.”
Semakin kutatap wajahnya, semakin aku yakin pernah melihatnya sebelumnya; namun anehnya, wajah itu membangkitkan kesan seolah aku mencium bau harum dari negeri asing. Jangan tertawakan aku, Pembaca—nanti kau akan mengerti juga bagaimana bisa begitu. Aku sungguh yakin tak ada setetes pun minyak wangi di tubuhnya, namun tetap saja tercium aroma yang begitu merebak, sesuatu yang membangkitkan kenangan akan—Iya, aku mengingatnya!
“Apakah kau,” tanyaku, “yang dulu menyelamatkanku dari orang Yunani itu?”
“Benar sekali,” jawabnya. “Nah, bagaimana kabarmu sekarang?”
Kukatakan padanya bahwa kami bertiga belas di kantor, dan bahwa kami punya banyak pekerjaan; lalu kutanyakan bagaimana keadaannya. Aku segera menyesali pertanyaan itu, karena ternyata kondisi keuangannya sedang tidak baik. Dan terus terang saja, aku tak menyukai orang miskin—sebab, dalam kebanyakan kasus, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Tuhan tak akan pernah meninggalkan orang yang sungguh-sungguh setia kepadaNya. Andai saja aku hanya berkata, “Kami bertiga belas,” lalu menutup pembicaraan dengan, “Selamat malam,” tentu aku bisa segera melepaskan diri darinya; tetapi pertanyaan dan jawaban itu, detik demi detik, justru membuatku kian sulit melepaskan diri. Namun harus kuakui juga: jika aku berhasil menghindarinya malam itu, maka buku ini tak akan pernah lahir. Dan aku memang selalu suka melihat sisi terang dari segala sesuatu; siapa yang tak sanggup berbuat begitu, bagiku adalah makhluk yang tak tahu bersyukur—dan aku tidak tahan dengan orang semacam itu.
Ya, ya, dia memang orang yang sama—yang dahulu pernah menyelamatkanku dari si Yunani itu! Tapi jangan kau bayangkan aku pernah jadi tawanan bajak laut, atau terlibat perkelahian di Levant.[8] Aku sudah pernah ceritakan, setelah menikah aku dan istriku pergi ke Den Haag, mengunjungi Museum, dan membeli kain flanel di Veenestraat—itulah satu-satunya tamasya yang bisa kuambil dari tengah-tengah kesibukan bisnis besarku di Amsterdam. Tidak. Ia menonjok si Yunani itu hingga hidungnya mimisan karena memang begitulah wataknya—suka mencampuri urusan orang lain.
Kejadiannya kira-kira tahun 1833, atau tahun 1834—kalau tak salah bulan September—pada masa pasar malam tahunan di Amsterdam. Karena orangtuaku ingin aku menjadi pendeta, maka aku pun belajar bahasa Latin. Sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya, mengapa untuk mengatakan “Tuhan itu baik” dalam bahasa Belanda kau harus mengenal bahasa Latin.[9] Singkatnya, aku mengenyam pendidikan di Sekolah Latin, sekarang lebih dikenal sebagai “gimnasium”.[10] Dan pada waktu itu, di Westermarkt,[11] berdirilah tenda-tenda pasar malam; dan jika engkau, Pembaca, orang Amsterdam seusiaku, pastilah kau akan ingat bahwa di salah satu tenda itu ada seorang gadis yang luar biasa cantik, bermata hitam legam, mengenakan pakaian ala Yunani; ayahnya pun orang Yunani, atau setidaknya tampak seperti itu. Mereka menjual segala macam minyak wangi.
Usiaku saat itu pas untuk menganggap gadis itu luar biasa cantik, namun belum cukup berani untuk menyapanya. Lagipula, percuma juga, karena gadis berumur delapan belas tahun tentu menganggap bocah enam belas tahun itu anak-anak. Dan dalam hal itu, ia benar sekali. Tapi kami—anak-anak Sekolah Latin—selalu datang ke Westermarkt hanya untuk melihat gadis itu.
Nah, orang yang kini berdiri di hadapanku, mengenakan kain syal kotak-kotak, dulu pernah bersama kami, meski usianya beberapa tahun lebih muda dan terlalu kecil untuk ikut menatap gadis Yunani itu. Tapi ia juara kelas—harus kuakui, ia memang sangat pandai—dan suka bermain, berlari, dan berkelahi, jadi kami senang ia ikut. Sementara kami—aku rasa ada sepuluh orang—mengintip dari kejauhan ke arah gadis Yunani itu, dan berunding soal bagaimana cara terbaik untuk berkenalan dengannya, kami pun sepakat untuk mengumpulkan uang agar bisa membeli sesuatu di tendanya. Tapi kemudian muncul persoalan: siapa yang cukup berani untuk berbicara langsung dengan si gadis? Semua ingin, tapi tak satu pun berani. Akhirnya kami undi, dan yang terpilih—aku. Harus kuakui: aku tak suka menghadapi bahaya. Aku seorang suami dan ayah, dan menurutku, siapa pun yang mencari bahaya adalah orang bodoh—hal ini tertulis dalam Alkitab. Betapa leganya hatiku menyadari bahwa pandanganku soal bahaya tetap tak berubah, bahkan setelah bertahun-tahun. Aku masih berpendapat persis seperti pada malam itu, ketika aku berdiri di depan tenda si Yunani dengan uang dua belas sen yang telah kami kumpulkan bersama. Tapi karena rasa malu yang konyol, aku tak berani mengatakan bahwa aku tak punya nyali; lebih dari itu, aku pun terpaksa maju karena teman-temanku mendorongku dari belakang—dan dalam sekejap aku telah berdiri di depan tenda itu.
Aku tak melihat gadis itu; aku tak melihat apa-apa. Segalanya berubah menjadi hijau dan kuning di depan mataku … aku tergagap melafalkan bentuk Aoristus Pertama dari entah bentuk kata kerja yang mana … [12]
“Plaît-il?”[13] tanya gadis itu.
Aku agak tersadar kembali, lalu melanjutkan,
“Meenin aeide thea,”[14] dan … Mesir adalah anugerah dari Sungai Nil … [15]
Aku cukup yakin aku bisa saja berkenalan dengannya, kalau saja salah satu temanku tidak mendorongku dari belakang dengan sangat keras hingga aku terhuyung dan menabrak tenda. Aku merasakan cengkeraman di tengkukku, satu lagi lebih ke bawah, dan sebelum sempat kupikirkan keadaanku, aku sudah berada di dalam tenda, bersama si Yunani, yang berkata dalam bahasa Prancis yang amat jelas bahwa aku ini gamin—bocah nakal—dan bahwa ia akan memanggil polisi. Saat itu aku amat dekat dengan gadis itu, tapi sama sekali tak membuatku senang. Aku menangis dan memohon ampun, sebab aku benar-benar ketakutan. Tapi tidak ada jalan keluar; si Yunani mencengkeram lenganku, dan menendangku. Mataku sibuk mencari teman-temanku. Padahal pagi itu kami baru saja belajar tentang Scaevola, yang meletakkan tangannya ke dalam api[16]—dan dalam karangan Latin kami semua menganggap itu sangat luhur dan gagah—Hah! tak seorang pun dari mereka yang sudi “meletakkan tangannya dalam api” untukku!
Begitulah pikirku waktu itu. Namun tiba-tiba, teman kecil kami yang bersyal—yang mulai sekarang akan kusebut “si Lelaki Bersyal”—menyusup masuk dari pintu belakang tenda. Saat itu ia belum tinggi, belum kuat, usianya baru tiga belas, tapi dia anak yang tangkas dan pemberani. Aku masih ingat betul kilat matanya yang menyala-nyala; ia menonjok si Yunani dengan tinjunya, dan aku pun selamat. Kudengar belakangan, si Yunani itu sempat menggebuknya habis-habisan, tapi aku, yang punya prinsip kokoh untuk tak ikut campur urusan orang lain, langsung lari secepatnya, jadi aku tak sempat melihat kejadian lanjutannya.
Itulah sebabnya wajahnya tadi mengingatkanku pada aroma harum minyak wangi, dan betapa mudahnya di Amsterdam menyulut perkelahian dengan orang Yunani.
Sejak saat itu, setiap kali orang itu menggelar tenda lagi di Westermarkt, aku selalu memilih tempat lain untuk mencari hiburan.
Karena aku sangat gemar membuat pengamatan yang bersifat filosofis, izinkanlah aku mencatat betapa aneh dan rapinya segala hal saling terhubung di dunia ini. Andaikata warna mata gadis itu sedikit lebih terang, atau rambutnya sedikit lebih pendek, atau kalau saja bocah-bocah lelaki itu tidak mendorongku hingga menabrak tenda, maka engkau saat ini tak akan sedang membaca buku ini: jadi, bersyukurlah atas segala yang telah terjadi. Percayalah, segala sesuatu di dunia ini sesungguhnya sudah baik adanya; dan orang-orang yang selalu gelisah, penuh keluh kesah dan tak kenal rasa puas, bukanlah kawan-kawanku. Itu dia, contohnya: Busselinck & Waterman … tapi aku harus segera melanjutkan penulisan buku ini, sebab aku harus menyelesaikannya sebelum Lelang Besar Kopi Musim Semi tiba.
Sejujurnya—dan aku menyukai kejujuran—aku merasa sangat tak nyaman bertemu kembali dengan orang itu. Dalam sekejap aku tahu, ia bukanlah kenalan yang pantas dibanggakan. Wajahnya sangat pucat, dan ketika kutanya jam berapa saat itu, ia tak tahu! Hal-hal seperti ini akan langsung tertangkap oleh mata seorang yang telah dua puluh tahun lebih mondar-mandir di Bursa, dan berbisnis di sana—Aku telah menyaksikan banyak kejatuhan dalam dunia bisnis.
Kupikir ia akan berbelok ke kanan, maka aku pun mengambil jalan ke kiri; tapi ternyata, lihatlah, ia juga ikut berbelok ke kiri, dan karena itulah aku terjebak dalam percakapan dengannya. Namun aku tetap ingat bahwa ia tadi tak tahu pukul berapa waktu itu, dan pada saat yang sama aku melihat mantelnya terkancing sampai ke dagu—tanda yang sangat buruk. Maka aku tidak banyak bicara. Ia mengatakan bahwa ia pernah tinggal di Hindia, bahwa ia sudah menikah, dan memiliki anak-anak. Ya, baiklah, tapi itu semua tidak terlalu menarik bagiku. Di Kapelsteeg,[17]—tempat yang sebelumnya tak pernah kulewati, karena memang bukanlah tempat bagi orang baik-baik—kali ini aku berniat untuk berbelok ke kanan, melewati gang itu. Maka, kutunggu sampai kami melewati gang kecil itu, supaya ia paham bahwa ia harus berjalan lurus saja—Lalu, kuucapkan dengan sangat sopan—karena aku selalu bersikap sopan; siapa tahu suatu saat kita perlu bantuan seseorang:
“Saya sangat senang bisa bertemu Anda kembali, Tuan … n … n … n … , dan … dan … dan, selamat malam … saya … harus mengambil jalan ini.”
Lalu ia menatapku dengan pandangan kosong, menghela napas, dan tiba-tiba saja memegang salah satu kancing mantelku …
“Droogstoppel yang baik,” katanya, “aku ingin meminta sesuatu padamu.”
Seluruh tubuhku gemetar. Ia tidak tahu pukul berapa waktu itu, dan kini ia ingin meminta sesuatu dariku! Tentu saja aku menjawab bahwa “aku sedang tidak punya waktu luang, dan harus segera ke Bursa,” meskipun saat itu sudah malam;—tapi jika Anda sudah lebih dari dua puluh tahun terbiasa ke Bursa … dan seseorang ingin meminta sesuatu padahal ia bahkan tak tahu jam berapa …
Aku melepaskan kancingku dari tangannya, mengucapkan selamat tinggal dengan sopan—karena aku selalu sopan—lalu melangkah cepat ke Kapelsteeg, yang sebetulnya tak pernah kulalui, karena bukan tempat orang-orang terhormat; dan kehormatan, gaya hidup yang pantas, bagiku itulah segala-galanya. Semoga tak seorang pun melihatku.
Bab 3
Keesokan harinya, ketika aku pulang dari Bursa, Frits memberitahuku bahwa seseorang datang untuk menemuiku. Menurut ciri-cirinya, itu pasti si Lelaki Bersyal. Bagaimana ia bisa tahu tempat tinggalku—oh, ya, tentu saja, kartu nama itu!
Hal ini membuatku berpikir untuk menarik anak-anakku keluar dari sekolah, sebab sangat menjengkelkan bila setelah dua puluh atau tiga puluh tahun seseorang dari masa sekolah kembali muncul, mengenakan syal alih-alih mantel, dan bahkan tak tahu pukul berapa waktu itu. Aku juga telah melarang Frits pergi ke Westermarkt bila ada pertunjukan atau lapak-lapak berdiri.
Keesokan harinya aku menerima sepucuk surat, disertai sebuah bungkusan besar. Aku segera mulai membacanya:
“Yang terhormat Droogstoppel!”
Aku kira seharusnya ia menulis: “Yang terhormat Tuan Droogstoppel”, sebab bagaimanapun aku ini seorang makelar.
“Kemarin aku datang ke rumahmu dengan maksud memohon bantuan. Aku percaya keadaanmu cukup berada—”
Itu benar; di kantor kami ada tiga belas orang;
“—dan aku berharap dapat meminjam nama baikmu demi suatu urusan yang sangat penting bagiku.”
Tidakkah lebih baik kalau ia malah memberiku komisi untuk Lelang Musim Semi?
“Karena tertimpa berbagai kemalangan, keuanganku agak tersendat—”
Agak? Padahal kemeja pun ia tak punya—dan ini yang ia sebut ‘agak’!
“Aku tak mampu memberi istriku segala sesuatu yang semestinya membuat hidup ini terasa menyenangkan, dan pendidikan anak-anakku pun, karena keterbatasan materi, jauh dari harapanku.”
Untuk membuat hidupnya terasa menyenangkan? Pendidikan anak-anak? Apa ia ingin membelikan karcis langganan opera untuk istrinya, lalu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang gimnasium di Jenewa? Saat itu musim gugur, udara terasa menggigit dinginnya, dan ia tinggal di loteng tanpa pemanas. Ketika aku menerima surat itu, aku belum tahu keadaannya, tapi kemudian aku mengunjunginya juga, dan aku masih gusar atas gaya tulisannya yang sok bergaya. Astaga! Siapa pun yang miskin, katakanlah dengan terus terang kalau ia miskin; toh orang miskin itu sesuatu yang harus ada di dunia ini—itu bagian dari tatanan masyarakat. Selama mereka tidak mengemis atau mengganggu orang lain, aku tak peduli. Tapi menyamarkannya dengan cara demikian sungguh benar tidak pantas. Nah, mari kita lanjutkan membacanya.
“Karena aku wajib mencari nafkah bagi rumah tanggaku, aku telah memutuskan untuk memanfaatkan bakat yang, aku percaya, telah Tuhan karuniakan padaku. Aku seorang penyair”
Bah! Kau tahu sendiri kan, Pembaca yang budiman, bagaimana aku—dan semua orang yang waras—menilai hal tersebut.
“—dan penulis. Sejak kecil aku telah terbiasa menuangkan perasaanku dalam puisi, dan kemudian, hingga kini pun, segala gejolak jiwaku kugoreskan dalam bait-bait sajak. Aku percaya, beberapa di antaranya cukup bernilai, dan aku ingin menerbitkannya. Di sinilah kesulitannya: aku tak dikenal khalayak, dan para penerbit menilai karya lebih karena nama besar penulisnya daripada nilai isinya.”
Tepat seperti cara kami menilai kopi, berdasarkan merek dagangnya.
“Nilai karyaku hanya bisa dinilai setelah diterbitkan; namun penerbit meminta uang muka untuk menanggung semua ongkos cetak”
Mereka sepenuhnya benar;
“—dan saat ini aku belum sanggup memenuhinya. Namun aku sangat yakin bahwa bukuku akan menutupi biaya itu, sehingga aku sanggup menjaminnya dengan kehormatan kata-kataku sendiri. Dan, karena pertemuan kita tempo hari memberi seberkas harapan—”
“Harapan” katanya?!
“—aku memberanikan diriku untuk memohon padamu agar engkau sudi menjadi penjaminku di hadapan sebuah penerbit untuk ongkos cetak edisi pertama—meskipun hanya sejilid buku kecil. Dengan ini, aku serahkan padamu pilihan naskah untuk percobaan pertama ini. Dalam bungkusan yang menyertainya kau akan menemukan banyak tulisan; dari situ akan tampak bahwa aku telah banyak berpikir, bekerja, dan mengalami—”
Padahal belum pernah aku dengar ia punya pekerjaan apa pun!
“—dan andai karunia dalam berkata-kata tak seluruhnya sirna dariku, tentulah bukan lantaran kurangnya kesan yang kualami bila aku tak sanggup menuangkannya.
“Seraya menanti jawaban yang hangat darimu, izinkanlah aku menyebut diriku sahabat lamamu di bangku sekolah.”
Ia menandatangani dengan namanya sendiri, tentu saja. Tapi aku tidak akan menyebutnya di sini, karena aku tidak suka menjelek-jelekkan siapa pun.
Pembaca yang budiman, engkau tentu bisa membayangkan betapa konyol rupanya diriku—seorang makelar kopi—yang tiba-tiba dijadikan makelar sajak! Aku sungguh yakin, seandainya si Lelaki Bersyal—demikianlah aku akan terus menyebutnya—melihatku di siang hari, ia tak akan berani mengajukan permintaan semacam itu; sebab kehormatan dan wibawa tidak bisa disembunyikan. Tapi waktu itu hari sudah malam, maka aku memakluminya.
Tentu saja, aku tidak ingin berurusan dengan omong kosong semacam ini. Seharusnya bungkusan naskah itu segera kukembalikan, namun aku tak tahu di mana ia tinggal, dan tak terdengar kabar apa pun darinya. Kukira ia jatuh sakit, atau mungkin telah meninggal.
Minggu lalu kami menghadiri sebuah acara pertemuan ramah tamah di rumah Keluarga Rosemeyer, yang bergelut dalam bidang gula. Frits ikut untuk pertama kalinya; ia sudah enam belas tahun, dan menurutku memang sudah waktunya seorang pemuda melihat-lihat dunia luar; kalau tidak, ia akan main ke Westermarkt atau tempat-tempat lain yang tak senonoh. Para gadis memainkan piano dan menyanyi, dan ketika hidangan pencuci mulut disajikan, mereka saling menggoda tentang suatu kejadian yang kabarnya berlangsung di ruang depan, sementara kami bermain kartu di ruang belakang. Ternyata, terjadi sesuatu yang entah bagaimana melibatkan Frits. “Ah, iya, Louise,” kata Betsy Rosemeyer, “kau memang menangis. Papa, Frits membuat Louise menangis!”
Istriku langsung berkata bahwa Frits tak boleh ikut keluar lagi lain kali kalau kelakuannya seperti itu; ia mengira Frits telah mencubit Louise, atau melakukan hal tak sopan semacam itu. Aku pun bersiap-siap hendak memberi nasihat padanya, ketika Louise menyela, “Tidak, tidak, Frits sangat baik! Aku malah ingin ia melakukannya lagi!”
“Melakukan apa?” rupanya ia tidak mencubitnya. Ia hanya membacakan sesuatu.
Tentu saja, nyonya rumah senang jika ada sedikit hiburan di waktu hidangan pencuci mulut—karena hal tersebut akan menghangatkan suasana. Nyonya Rosemeyer mengira bahwa apa pun yang telah membuat Louise menangis itu pasti akan menghibur kami juga, maka ia meminta Frits—yang saat itu sudah semerah kalkun jantan—untuk membacakannya lagi. Aku sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya ia dendangkan, sebab aku hafal betul seluruh bahan-bahan yang biasanya ia bawakan. Isinya tak lain dari: Perjamuan Nikah Para Dewa, kisah-kisah dalam Perjanjian Lama yang digubah dalam bentuk sajak, dan sebuah cuplikan dari Perjamuan Nikah Camacho—yang memang selalu digemari para anak laki-laki karena agak jenaka. Tapi bagian mana dari itu semua yang bisa membuat seorang gadis menangis adalah teka-teki bagiku—meski, memang benar, gadis seusia itu mudah sekali berlinang airmata.
“Ayo, Frits! Ayolah, bacakan lagi dong!”—dan Frits pun memulainya. Agar tak memperpanjang rasa penasaran Anda, wahai Pembaca yang budiman, aku akan langsung ceritakan saja. Sebelum kami berangkat dari rumah, ternyata mereka telah membuka bungkusan dari si Lelaki Bersyal, dan Frits bersama Marie memilih dari situ sebuah tulisan cengeng, yang kelak akan sungguh menyusahkan diriku. Buku ini, boleh dikata, lahir dari bungkusan itu juga, dan kelak akan kuberitakan segalanya secara layak—karena aku ingin dikenal sebagai pencinta kebenaran dan sebagai seorang pengusaha yang baik.—[Last & Co., Makelar Kopi, Lauriergracht No. 37 .]
Frits pun membacakan sesuatu, yang bagiku sungguh tak masuk akal. Seorang pemuda menulis kepada ibunya bahwa ia pernah jatuh cinta, namun gadis pujaannya memilih menikah dengan orang lain[18]—(dan itu kupikir pilihan yang tepat)—meskipun begitu, katanya, ia tetap mencintai ibunya sepenuh hati. Apakah pernyataan itu sungguh benar adanya? Dan apakah butuh sedemikian banyak kata untuk mengatakannya? Yang kutahu, aku sudah menelan sepotong roti keju dan hampir menyelesaikan buah pir keduaku sebelum Frits menutup kisahnya. Tapi Louise menangis lagi, dan para wanita mengangguk-angguk seraya berkata bahwa syair itu “sangat indah.”
Kemudian Frits, yang menurutku, merasa telah mengungkapkan sebuah mahakarya, mengatakan kepada mereka bahwa ia menemukannya dalam sebuah bungkusan yang dikirim ke rumah kami oleh si Lelaki Bersyal; dan aku pun menjelaskan kepada para hadirin bagaimana kejadian itu berlangsung, meskipun aku tidak menyebut-nyebut tentang si gadis Yunani itu, karena Frits ada di situ, juga tidak menyinggung apa pun tentang Kapelsteeg. Semua orang sepakat bahwa sudah tepat bagiku untuk menyingkirkan orang seperti itu. Nantinya kau akan melihat bahwa dalam bungkusan itu ternyata terselip hal-hal lain yang lebih berbobot, beberapa di antaranya akan termuat dalam buku ini, sebab berkaitan dengan Lelang Kopi Perusahaan Niaga—karena hidupku semata demi bidang bisnisku.
Belakangan, penerbit menanyakan apakah aku tidak ingin menyisipkan pula puisi atau tulisan yang telah dibacakan Frits itu ke dalam karya ini. Aku menyetujuinya, tetapi ingin kutegaskan bahwa aku tidak bertanggung jawab atas isi dan perasaan yang termuat di dalamnya. Omong kosong belaka! Namun, biarlah kutahan komentarku, karena ruangnya tak mencukupi. Aku hanya ingin menambahkan bahwa puisi itu ditulis di “Padang,” pada tahun 1843—dan itu jelas mutu yang lebih rendah—maksudku tentu saja, kopi Padang:
Ibu, meski kini aku jauh berada
Dari tanah tempat aku bermula,
Tempat airmataku pertama kali tumpah,
Tempat aku tumbuh dalam lindung kasihmu yang ramah.
Di sana, cintamu, lembut dan teguh,
Menjaga jiwaku yang masih rapuh,
Menopang saat langkahku tersandung,
Mengangkatku dengan tangan yang agung.
Meski takdir memisahkan kita berdua,
Seakan tali kasih tercerai jua,
Kini aku berdiri di negeri asing,
Hanya bersama Tuhan dan diri yang hening.
Namun, Ibu, walau luka menyayat dada,
Dan suka-duka datang silih berganti pula,
Jangan ragu pada cinta sejati:
Cinta anakmu, yang tak pernah mati!
Baru dua tahun lalu berlalu,
Saat terakhir kujejakkan kakiku,
Di tepian tanah yang kutinggalkan diam-diam,
Memandang masa depan dalam bayang kelam.
Kala itu kuundang segala yang indah datang,
Dan angan mencipta surga gemilang,
Masa kini kutinggal dengan berani,
Demi asa yang kujunjung tinggi.
Di tengah badai, kuiringi jalan,
Dengan hati yang teguh menantang rintangan,
Dan dalam impian yang kupegang erat,
Kupikir diriku telah mencapai berkat.
Namun sejak hari perpisahan itu,
Waktu melesat bagai kilat yang tak tentu,
Cepat, tak tersentuh dan tak tergenggam,
Bagai bayangan yang lekas tenggelam.
Tapi langkahku menoreh jejak yang dalam,
Pahit dan manis bersilih di dalam malam.
Aku berpikir, berjuang, menangis dan tertawa,
Seolah abad bergulir dalam sekejap mata.
Aku pernah merindu damai dan terang,
Mencari makna, kehilangan dan menang.
Anak yang kemarin begitu belia,
Telah dewasa dalam waktu yang sia-sia.
Namun, Ibu—di hadapan Tuhan Mahatahu—
Percayalah, Ibu,
Percayalah selalu:
Tidak, anakmu tak pernah melupakanmu!
Pernah aku mencintai seorang dara.
Dunia seolah bersinar karenanya.
Dalam dirinya kulihat mahkota cahaya,
Ganjaran dari segala asa dan upaya,
Anugerah yang berasal dari Tuhan,
Cinta yang murni, penghibur kesunyian.
Kucurahkan syukur lewat airmata,
Iman dan cinta menyatu di dada.
Dan doa yang membumbung ke angkasa,
Selalu untuk dirinya, deminya semata.
Namun cinta itu membawa gelisah,
Mengaduk batin dalam kisah resah.
Tanpa ampun datanglah rasa pilu,
Mencabik hatiku yang lembut dan lugu.
Yang kuharap jadi sumber bahagia,
Malah berubah jadi luka dan derita.
Namun, dalam hening kuterus bertahan,
Tak gentar meski harapan dikhianatkan.
Duka menjernihkan kasihku yang suci—
Kutanggung segalanya demi ia, sepenuh hati.
Tak kuhiraukan duka dan luka,
Dalam nestapa kutemukan suka.
Segala beban kupikul tanpa jeda,
Asal ia tak direnggut dari dunia.
Sosoknya yang terindah di bumi fana
Pernah kujunjung di dalam jiwa,
Sebagai harta yang tiada tara,
Yang kujaga sepenuh cinta.
Namun kini wajahnya menjauh dari benak,
Meski cintaku tetap kukuh dan tegak,
Hingga napas terakhir mengantarku pulang,
Ke negeri abadi yang lapang dan terang,
Di mana akhirnya kutemui ia kembali …
Cinta itu telah tumbuh sejak dahulu, sejati.
Apa arti cinta yang baru bermula,
Bila dibanding cinta pertama yang menyala?
Cinta yang dibisikkan Tuhan dengan lembut,
Sebelum lidah mampu mengucap satu pun sebut.
Keluar dari rahim, dalam pelukan ibu tersayang,
Menjerit di bawah langit terang,
Menemukan air susu tuk dahaga,
Menemukan cahaya di mata ibu tercinta?
Tak ada ikatan yang lebih dalam dan suci,
Yang lebih kuat memaut hati,
Selain tali yang Tuhan simpulkan sendiri
Antara ibu dan anaknya dalam sehati!
Dan hati yang sempat terpaut pada cahaya
Yang hanya memberi duri, tiada bunga menyapa—
Mungkinkah ia melupakan kasih sejati,
Dari seorang ibu yang tak pernah berhenti?
Yang menampung tangis pertamaku,
Yang menenangkan aku dalam peluk hangat tubuh,
Yang mengecup airmataku dengan bibir lembut,
Yang menyusuiku dengan darahnya sendiri …
* * *
Ibu, mohon, percayalah,
Demi surga yang menjadi saksiku,
Ibu, mohon, percayalah—
Tidak, anakmu tak pernah melupakanmu!
Kini aku jauh dari tanah kelahiran,
Dari segala yang indah dan penuh kenangan.
Kegembiraan masa muda—yang sering dipuji,
Tak menjadi bagianku di bumi ini.
Hatiku yang sepi tak kenal sukacita,
Langkahku berat di jalan derita.
Nasib menindihku tanpa ampun,
Beban menekan dada, mengoyak batin yang diam.
Biarlah airmata bersaksi diam-diam,
Kala malam-malam sunyi mendekap dalam kelam,
Saat jiwaku rebah dalam pasrah,
Berserah pada pelukan Alam yang setia …
Seringkali, kala semangat memudar lenyap,
Sebuah doa nyaris terucap:
‘Ya Bapa, anugerahkan di alam baka,
Apa yang dunia tak sudi kubawa.
Tuhanku, jika maut menyentuh bibir ini,
Dan menyeberangkanku ke seberang sunyi,
Berilah aku, ya Bapa,
Apa yang tak kutemukan di dunia—kedamaian nyata.’
Namun sebelum doa menjelma,
Luruh ia di ujung bibir, sirna.
Lututku jatuh menyentuh bumi,
Zikir pun naik dengan lirih yang suci.
Namun bukan, “Kini, ya Tuhan,”
Melainkan, “Belum, ya Tuhan …
Beri aku ibuku lebih dulu—baru tenang kemudian.”
Bab 4
Sebelum aku melanjutkan, perlu kuberitahukan bahwa si Stern muda telah datang; Anak itu baik. Tampaknya cekatan dan cakap, meski aku kira ia schwärmt[19]—begitulah istilahnya dalam bahasa Jerman. Marie kini berusia tiga belas tahun. Pakaian dan perlengkapannya sangat rapi. Aku suruh ia mulai berlatih menulis dengan gaya Belanda menggunakan buku salinan. Aku penasaran, apakah tak lama lagi aku akan menerima pesanan dari Ludwig Stern. Marie akan menyulamkan sepasang selop untuknya—maksudku, untuk si Stern muda. Busselinck & Waterman telah melakukan kekeliruan. Seorang makelar terhormat tak akan menjegal dari belakang, begitulah pendirianku!
Sehari setelah acara ramah-tamah di rumah keluarga Rosemeyer—mereka berdagang gula—aku memanggil Frits dan menyuruhnya mengambilkan bungkusan dari si Lelaki Bersyal. Ketahuilah, Pembaca yang budiman, bahwa aku sangat tegas dalam perkara agama dan kesusilaan di dalam rumahku. Nah, malam sebelumnya, tepat ketika aku tengah mengupas buah pir pertamaku, aku menangkap dari raut wajah salah satu gadis bahwa ada sesuatu dalam sajak itu yang kurang pantas. Aku sendiri tak menyimaknya, namun aku melihat Betsy meremas-remas rotinya, dan itu sudah cukup bagiku. Engkau tentu paham, wahai Pembaca, bahwa engkau sedang berhadapan dengan seseorang yang tahu bagaimana dunia ini berjalan. Aku lalu meminta Frits memperlihatkan padaku “sajak indah” dari malam itu, dan segera saja kutemukan baris yang menyebabkan Betsy meremas-remas rotinya. Di situ disebutkan seorang anak yang menyusu pada ibunya—itu masih bisa dimaklumi—tetapi: “Keluar dari rahim, dalam pelukan ibu tersayang”—nah, bagian itulah yang aku anggap tak pantas—untuk diucapkan, maksudku—dan istriku pun sependapat. Marie kini tiga belas tahun. Di rumah kami tidak ada pembicaraan soal “kembang kol” atau “bangau,”[20] tidak pula kisah tentang “Volewijk”,[21] terlebih lagi menyebut sesuatu dengan sebutan yang terlalu gamblang seperti itu, aku anggap tidak senonoh, sebab aku sangat menjunjung tinggi kesusilaan. Maka aku meminta Frits, yang sudah hafal “di luar kepala”—begitulah istilah yang dipakai Stern—berjanji untuk tak akan membacakannya lagi setidaknya hingga ia menjadi anggota Doctrina,[22] sebab di sana tak ada gadis muda,—dan kemudian aku simpan sajak itu di laci meja tulisku. Namun aku tetap harus memastikan apakah dalam bungkusan itu tidak ada lagi hal-hal yang bisa menimbulkan keberatan. Maka aku pun mulai membongkar dan membolak-balik isinya. Tak semuanya aku baca, karena ada beberapa tulisan dalam bahasa-bahasa yang tidak aku pahami. Tapi tiba-tiba mataku menangkap satu bundel kertas yang bertajuk: Laporan tentang Penanaman Kopi di Keresidenan Manado.
Jantungku berdebar gembira, sebab aku adalah makelar kopi, di Lauriergracht No. 37, dan “Manado” adalah merek dagang yang bagus. Jadi, si Lelaki Bersyal ini, yang menulis sajak-sajak tak senonoh, ternyata juga pernah berkecimpung di dunia kopi. Seketika itu pula aku memandang bungkusan itu dengan cara yang sangat berbeda, dan kutemukan di dalamnya beberapa naskah yang memang tidak seluruhnya aku pahami, tetapi yang jelas menunjukkan pengetahuan yang nyata tentang urusan dagang. Ada tabel-tabel, catatan, dan perhitungan angka yang sama sekali tidak berima, dan semuanya dikerjakan dengan sedemikian cermat dan teliti, hingga aku—terus terang saja, sebab aku penyuka kejujuran—mulai terpikir, bahwa kalau-kalau nanti juru tulis ketigaku berhenti—hal yang sangat mungkin, sebab ia sudah tua dan mulai pikun—maka si Lelaki Bersyal itu bisa jadi cocok untuk menggantikannya. Tentu saja, sudah sewajarnya kalau aku akan terlebih dahulu mencari keterangan tentang kejujurannya, agamanya, dan kelakuannya yang layak, karena aku tak akan mengangkat siapa pun sebagai pegawai di kantorku tanpa kepastian soal itu. Ini prinsip yang tak bisa ditawar lagi bagiku. Engkau pun sudah melihatnya sendiri dalam suratku kepada Ludwig Stern.
Namun aku tidak ingin Frits tahu bahwa aku mulai tertarik pada isi bungkusan itu, maka aku menyuruh ia pergi. Benar-benar kepalaku berputar ketika aku mulai membuka bundel-bundel itu satu demi satu, dan membaca judul-judulnya. Memang, ada banyak puisi di dalamnya, tetapi aku juga menemukan banyak hal yang berguna, dan aku terheran-heran oleh keragaman topik yang dibahas. Aku akui—karena aku mencintai kebenaran—bahwa meskipun aku sudah lama berkecimpung dalam bisnis kopi, aku tidak berada dalam posisi untuk menaksir nilai dari semua itu. Namun bahkan tanpa menilainya secara menyeluruh, deretan judul-judulnya saja sudah sangat menarik. Karena aku sebelumnya sudah bercerita kepadamu tentang kisah si Yunani, engkau tentunya juga tahu bahwa di masa muda aku pernah sedikit mendapat pelajaran bahasa Latin—dan sekalipun aku dalam surat-menyurat selalu menghindari segala macam kutipan—hal yang memang tidak patut di kantor makelar—aku tetap saja, saat melihat semuanya itu, terlintas dalam benakku ungkapan Latin: multa, non multum, atau: de omnibus aliquid, de toto nihil.[23]
Namun sebenarnya aku mengatakan itu lebih karena rasa jengkel, dan karena semacam dorongan untuk menyapa seluruh tumpukan pengetahuan yang terbentang di hadapanku dalam bahasa Latin, ketimbang karena aku sungguh-sungguh meyakini demikian. Sebab, ketika aku menelaah lebih saksama beberapa naskah di antaranya, aku harus mengakui bahwa si penulis tampaknya sangat menguasai pokok perkaranya, bahkan menunjukkan daya nalar yang kokoh dalam argumentasinya.
Aku menemukan di situ risalah-risalah dan ulasan-ulasan ilmiah berikut ini:
Tentang Bahasa Sansekerta sebagai Induk dari Cabang-Cabang Bahasa Jermanik.
Tentang Sanksi Pidana terhadap Pembunuhan Anak.
Tentang Asal-Usul Kaum Bangsawan.
Tentang Perbedaan antara Konsep Waktu Tak Terbatas dan Keabadian.
Tentang Ilmu Peluang.
Tentang Kitab Ayub. (Aku juga menemukan sesuatu lagi tentang Ayub, tetapi itu berupa sajak.)
Tentang Protein dalam Atmosfer.
Tentang Politik Kenegaraan Rusia.
Tentang Huruf-Huruf Vokal.
Tentang Sistem Penjara Sel Tunggal.
Tentang Teori Kuno Mengenai Horror Vacui.[24]
Tentang Perlunya Penghapusan Hukuman Pidana atas Fitnah.
Tentang Sebab-Sebab Pemberontakan Bangsa Belanda terhadap Spanyol, yang Bukan Terletak pada Keinginan akan Kebebasan Beragama atau Kemerdekaan Politik.
Tentang Perpetuum Mobile, Penyudutan Lingkaran, dan Pengambilan Akar Kuadrat Dari Bilangan Tak Rasional.[25]
Tentang Bobot Cahaya.
Tentang Kemunduran Peradaban Sejak Munculnya Agama Kristen—(Ha?)
Tentang Mitologi Islandia.
Tentang Émile karya Rousseau.[26]
Tentang Sirius sebagai Pusat Tata Surya.[27]
Tentang Bea Impor yang Tak Berfaedah, Tak Pantas, Tak Adil, dan Tak Bermoral—(yang ini belum pernah kudengar sebelumnya).
Tentang Puisi sebagai Bahasa Tertua—(aku tidak percaya yang satu ini).
Tentang Rayap Putih.
Tentang Ketidakalamian Pranata Sekolah.
Tentang Prostitusi dalam Pernikahan—(Ini tulisan yang memalukan.)
Tentang Persoalan Hidrolik dalam Kaitannya dengan Budidaya Padi.
Tentang Keunggulan Semu Peradaban Barat.
Tentang Kadaster, Registrasi, dan Materai.
Tentang Buku Anak-anak, Fabel, dan Dongeng—(Ini ingin aku baca, karena ia menekankan pentingnya kebenaran).
Tentang Mediasi dalam Perdagangan—(Aku sama sekali tidak menyukai ini. Aku kira ia ingin menghapus profesi makelar. Tapi aku tetap menyimpannya, karena ada satu-dua hal yang bisa aku pakai untuk bukuku).
Tentang Pajak Warisan, Salah Satu Jenis Pajak Terbaik.
Tentang Penemuan Atas Nama “Kesucian”—(Aku tidak paham maksudnya).
Tentang Perkalian—(Judulnya sangat sederhana, tetapi isinya mengandung hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan).
Tentang Jenis Kecerdasan Tertentu pada Orang Prancis, sebagai Akibat dari Kemiskinan Bahasa Mereka—(Ini aku terima. Kecerdasan dan kemiskinan … ia pasti tahu maksudnya).
Tentang Hubungan antara Novel-novel Karya August Lafontaine dan Penyakit TBC[28]—(Ini ingin aku baca, karena di loteng ada buku-buku Lafontaine. Tapi ia mengatakan pengaruhnya baru muncul di generasi kedua. Kakekku tidak membacanya.)
Tentang Kekuasaan Inggris di Luar Eropa.
Tentang Pengadilan Ilahi pada Abad Pertengahan—dan Sekarang.[29]
Tentang Ilmu Hitung pada Bangsa Romawi.
Tentang Kemiskinan Puisi di antara Para Komponis.
Tentang Pietisme, Mesmerisme, dan Meja Berguncang.[30]
Tentang Penyakit Menular.
Tentang Arsitektur Moor.
Tentang Kekuatan Prasangka, Terbukti dari Penyakit-penyakit yang Konon Disebabkan oleh “Angin”[31]—(Bukankah sudah aku katakan bahwa daftarnya sungguh menarik?).
Tentang Persatuan Jerman.
Tentang Garis Bujur di Laut[32]—(Aku tak mengerti mengapa segala sesuatu di laut harus lebih panjang daripada di darat).
Tentang Kewajiban Pemerintah terhadap Hiburan Publik.
Tentang Kesesuaian antara Bahasa Skotlandia dan Frisian.
Tentang Prozodi.
Tentang Kecantikan Perempuan di Nîmes Dan Arles, beserta Kajian tentang Sistem Kolonisasi Bangsa Fenisia.
Tentang Kontrak Pertanian di Jawa.
Tentang Daya Isap dari Pompa Model Baru.
Tentang Legitimasi Dinasti-dinasti.
Tentang Sastra Rakyat dalam Syair-Syair Berbahasa Jawa.
Tentang Cara Baru dalam Menyusuri Rawa.
Tentang Perkusi yang Diterapkan pada Granat Tangan—(Karangan ini berasal dari tahun 1847, jadi sebelum tragedi Orsini).[33]
Tentang Pengertian Kehormatan.
Tentang Kitab-Kitab Apokripal.[34]
Tentang Hukum-Hukum Solon, Lycurgus, Zarathustra, dan Konfusius.[35]
Tentang Otoritas Orangtua.
Tentang Shakespeare sebagai Penulis Sejarah .
Tentang Perbudakan di Eropa—(Aku tak paham maksudnya. Tapi, begitulah adanya—masih banyak lagi hal demikian!)
Tentang Kincir Air Berulir Logam.
Tentang Hak Prerogatif Grasi.
Tentang Susunan Kimiawi Kayu Manis Ceylon.
Tentang Peraturan Keras di Kapal Niaga.
Tentang Monopoli Opium di Jawa.
Tentang Peraturan Jual-Beli Racun.
Tentang Penggalian Terusan Suez, dan Dampaknya.
Tentang Pembayaran Sewa Tanah dengan Hasil Bumi.
Tentang Budidaya Kopi di Manado—(Ini sudah pernah kusebut).
Tentang Perpecahan pada Kekaisaran Romawi.
Tentang Gemütlichkeit ala Orang Jerman.[36]
Tentang Kitab Skandinavia Berjudul Edda.[37]
Tentang Kewajiban Prancis Menjadi Kekuatan Penyeimbang bagi Inggris di Kepulauan Hindia—(Tulisan ini dalam bahasa Prancis—aku tidak mengerti).
Tentang Pembuatan Cuka.
Tentang Penghormatan terhadap Schiller dan Goethe di Kalangan Kelas Menengah Jerman.[38]
Tentang Hak Manusia atas Kebahagiaan.
Tentang Hak Memberontak terhadap Penindasan—(Judulnya dalam bahasa Jawa—aku baru tahu belakangan.)
Tentang Tanggung Jawab Menteri.
Tentang Beberapa Pokok dalam Hukum Pidana.
Tentang Hak Rakyat Menuntut agar Pajak Digunakan untuk Kepentingan Mereka—(Juga dalam bahasa Jawa).
Tentang Huruf “A Ganda” dan Huruf “Eta” Yunani.[39]
Tentang Keberadaan Tuhan yang Tidak Personal dalam Hati Manusia—(Tulisan keji!).
Tentang Gaya Bahasa.
Tentang Konstitusi untuk Kerajaan Insulinde[40]—(Aku tak pernah mendengar soal kerajaan itu).
Tentang Kurangnya Ephelkustik dalam Tata Bahasa Kita.[41]
Tentang Kepicikan Akademik—(Aku yakin tulisan ini dibuat dengan pengetahuan yang dalam.)
Tentang Utang Budi Eropa kepada Portugis.
Tentang Suara Hutan.
Tentang Sifat Mudah Terbakar dari Air—(Aku kira maksudnya adalah air keras.)
Tentang Laut Ganas yang Berwarna Susu—(Aku tidak pernah mendengar ini. Kabarnya ada di dekat Banda.)
Tentang Para Pelihat[42] dan Nabi.
Tentang Listrik sebagai Tenaga Penggerak tanpa Besi Lembek.
Tentang Pasang-Surut Peradaban.
Tentang Kerusakan Politis secara Epidemiologis.
Tentang Perusahaan Niaga Istimewa—(Ada hal-hal yang bisa aku gunakan untuk bukuku)
Tentang Etimologi sebagai Sumber dalam Studi Etnologi.
Tentang Tebing Sarang Burung di Pesisir Selatan Jawa.
Tentang Tempat di Mana Hari Pertama Dimulai—(Aku tidak paham maksudnya).
Tentang Konsep Tanggung Jawab Moral menurut Ukuran Pribadi—(Konyol! Ia bilang setiap orang harus jadi hakim bagi dirinya sendiri—bagaimana jadinya dunia kalau begitu?).
Tentang Kesantunan dan Tata Krama.
Tentang Metrum dalam Puisi Ibrani.
Tentang Abad Penemuan Karya Marquis Worcester II.[43]
Tentang Kebiasaan Makan Bersahaja Para Penduduk Pulau Roti di Dekat Timor—(Mungkin biaya hidup di sana sangat murah).
Tentang Kebiasaan Kanibalisme Suku Batak, dan Praktik Potong Kepala Orang Alfur.[44]
Tentang Ketidakpercayaan terhadap Moral Publik—(Aku kira ia ingin menghapus profesi tukang kunci—aku menentangnya).
Tentang “Hukum” dan “Hak-Hak.”
Tentang Béranger sebagai Filsuf[45]—(Aku juga tidak mengerti maksudnya).
Tentang Kebencian Orang Melayu terhadap Orang Jawa.
Tentang Ketidakbermaknaan Pendidikan di Lembaga Tinggi yang Disebut-sebut sebagai “Universitas.”
Tentang Jiwa tanpa Cinta Para Leluhur Kita, Terbukti dari Konsep Mereka tentang Tuhan—(Lagi-lagi tulisan tak bertuhan!).
Tentang Hubungan antara Pancaindra—(Memang benar, saat aku melihatnya dahulu, aku mencium wangi minyak mawar).
Tentang Akar Tunggang Pohon Kopi—(Ini sudah aku sisihkan untuk bukuku.)
Tentang Perasaan, Kepekaan, Sensiblerie, Empfindelei, dan Lain-lain.[46]
Tentang Kerancuan antara Mitologi dan Agama.
Tentang Air Sagu di Maluku.
Tentang Masa Depan Perdagangan Belanda—(Inilah tulisan yang mendorongku menulis buku ini. Ia menyatakan bahwa tak selamanya akan ada lelang kopi besar—dan aku hidup untuk profesiku.)
Tentang Kitab Kejadian—(Tulisan biadab!)
Tentang Serikat Rahasia Orang-orang Cina.[47]
Tentang Menggambar sebagai Bahasa Alami—(Katanya bayi yang baru lahir bisa menggambar!)
Tentang Kebenaran dalam Puisi—(Tentu saja!)
Tentang Ketidaksukaan terhadap Penggilingan Padi Tradisional di Jawa.
Tentang Hubungan antara Puisi dan Ilmu Matematika.
Tentang Wayang khas Orang Cina.[48]
Tentang Harga Kopi Jawa—(Ini aku sisihkan untuk bukuku)
Tentang Sistem Mata Uang Eropa.
Tentang Irigasi di Tanah Umum.
Tentang Pengaruh Pencampuran Ras terhadap Jiwa Manusia.
Tentang Keseimbangan Niaga—(Ia menyebut tentang nilai tukar. Sudah kusimpan untuk bukuku).
Tentang Bertahannya Kebiasaan Asia—(Ia mendebat bahwa Yesus pernah mengenakan sorban).
Tentang Pemikiran Malthus[49] mengenai Jumlah Penduduk dan Kebutuhan Hidup.
Tentang Penduduk Pribumi Amerika.
Tentang Pelabuhan Utama di Batavia, Semarang, dan Surabaya.
Tentang Arsitektur sebagai Bentuk Ungkapan Pemikiran.
Tentang Hubungan antara Pegawai Eropa dan Para Bupati di Jawa—(Ini akan muncul dalam bukuku).
Tentang Tinggal di Ruang Bawah Tanah di Amsterdam.
Tentang Kekuatan Kesalahan.
Tentang Tak Bekerjanya Tuhan karena Hukum Alam Telah Sempurna.
Tentang Monopoli Garam di Jawa.
Tentang Ulat dalam Pohon Sagu—(Katanya mereka memakannya … Menjijikkan!).
Tentang Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, dan Pantun Jawa.[50]
Tentang Jus Primi Occupantis.[51]
Tentang Kemiskinan dalam Seni Lukis.
Tentang Ketidakpantasan dalam Memancing—(Sungguh tak penting untuk dibahas!)
Tentang Kejahatan Orang Eropa di Luar Eropa.
Tentang Senjata Alami Hewan-Hewan Kecil.
Tentang Jus Talionis[52]—(Tulisan ini sungguh keji! Di dalamnya terdapat sajak yang aku yakin sangat cabul kalau sampai kubaca habis.)
Dan itu pun belum semuanya! Aku temukan—tanpa menyebut sajak-sajak dahulu—berbagai bundel kecil tanpa judul, roman-roman dalam bahasa Melayu, nyanyian perang berbahasa Jawa, dan entah apa lagi! Aku juga menemukan surat-surat, banyak di antaranya ditulis dalam bahasa yang tak kumengerti. Sebagian ditujukan kepadanya, atau lebih tepatnya: hanya salinan belaka, tetapi tampaknya ada maksud tersembunyi, sebab semuanya ditandatangani oleh orang lain, dengan nama yang persis sama seperti naskah aslinya. Lalu aku menjumpai kutipan dari buku harian, catatan-catatan, dan serpihan pemikiran yang bertebaran di sana sini … beberapa bahkan benar-benar berserakan tanpa hubungan apa pun.
Seperti telah kukatakan sebelumnya, beberapa tulisan telah kusisihkan, karena tampak akan berguna bagi bisnisku—dan demi bisniskulah aku hidup. Namun harus kuakui bahwa aku cukup bingung dengan sisanya. Mengembalikan bungkusan itu kepadanya, tak mungkin, sebab aku tak tahu di mana ia tinggal. Lagipula, bungkusan itu sudah telanjur terbuka. Aku tak bisa berpura-pura seolah belum membacanya—dan andai pun bisa, aku tak akan melakukannya, sebab aku sangat mencintai kebenaran. Aku pun tak berhasil menutup kembali bungkusnya dengan sedemikian rupa hingga jejak pembukaan tak tampak. Dan di atas segalanya, tak kupungkiri bahwa beberapa tulisan tentang kopi membangkitkan minatku—dan aku ingin sekali menggunakannya. Setiap hari kubaca beberapa halaman, secara acak dan serampangan, dan semakin hari—Frits biasa berkata “lama-lama”—tapi aku menolak memakai itu—semakin hari, kukatakan, aku semakin yakin bahwa seseorang haruslah menjadi makelar kopi, bila hendak benar-benar tahu apa yang terjadi di dunia. Aku yakin, keluarga Rosemeyer—yang berdagang gula—tak pernah melihat sesuatu semacam ini seumur hidup mereka.
Kini aku mulai khawatir, jangan-jangan si Lelaki Bersyal akan tiba-tiba muncul kembali di hadapanku, dan ia akan punya sesuatu lagi yang hendak dikatakannya. Aku menyesal telah melangkah ke Kapelsteeg malam itu; aku sadar kini, bahwa seseorang sebaiknya tak pernah menyimpang dari jalan yang patut dan terhormat. Tentu saja ia akan meminta uang padaku, dan menyebut-nyebut soal bungkusannya. Barangkali kala itu aku akan memberinya sesuatu, dan bila esok harinya ia mengirimkan tumpukan naskah itu kepadaku, tentulah itu menjadi milikku yang sah. Aku bisa memilah mana gandum dan mana sekam, bisa memisahkan lembaran-lembaran yang kuperlukan untuk bukuku, dan sisanya kubakar saja, atau kulempar ke keranjang sampah. Tapi kini aku tak bisa berbuat demikian. Sebab jika ia kembali, aku harus menyerahkannya kembali. Dan bila ia melihat bahwa aku menaruh minat pada sebagian tulisannya, niscaya ia akan menuntut bayaran yang terlampau tinggi. Tak ada yang memberi seorang pedagang keunggulan lebih besar daripada mengetahui bahwa pembelinya benar-benar menginginkan barangnya. Dan kedudukan semacam itu sebisa mungkin dihindari oleh pedagang sejati yang memahami profesinya.
Ada pula satu pikiran lain—yang sudah kusebut sebelumnya—yang kiranya dapat menjadi bukti betapa mudah hati seseorang melunak terhadap kesan-kesan kemanusiaan, bila ia rutin mengunjungi Bursa. Bastiaans—itulah nama juru tulis ketiga kami, yang kini telah menua dan mulai kikuk—belakangan ini, dalam sebulan penuh, barangkali tak datang ke kantor lebih dari lima kali. Dan ketika ia datang pun, pekerjaannya acapkali amburadul. Sebagai orang yang jujur, aku merasa bertanggung jawab kepada firma—Last & Co, semenjak keluarga Meyer tak lagi terlibat—untuk memastikan bahwa tiap orang menjalankan tugasnya. Aku tak boleh, karena iba yang keliru arah atau perasaan yang terlalu lembek, menyia-nyiakan uang perusahaan. Itulah prinsipku. Aku lebih rela memberinya tiga gulden dari kantongku sendiri, ketimbang terus membayarnya gaji tahunan tujuh ratus gulden yang sudah tak pantas ia terima. Telah kuhitung, bahwa selama tiga puluh empat tahun, ia telah menerima—baik dari Last & Co, maupun sebelumnya dari Last & Meyer (tapi seperti kukatakan, keluarga Meyer kini sudah tak ada lagi)—jumlah nyaris lima belas ribu gulden, dan itu bukan angka kecil bagi seorang dari kalangan kebanyakan orang. Tak banyak orang dalam kedudukannya yang bisa mengaku memiliki jumlah sebesar itu. Maka, ia tak punya hak untuk mengeluh. Aku sampai pada perhitungan ini karena membaca tulisan si Lelaki Bersyal tentang perkalian.
“Si Lelaki Bersyal itu menulis dengan tangan yang terampil,” pikirku. “Lagipula, ia tampak melarat, dan bahkan tak tahu pukul berapa waktu itu … bagaimana kalau,” pikirku lagi, “aku berikan saja padanya tempat Bastiaans?” Dalam hal itu, tentu akan kukatakan kepadanya bahwa ia harus memanggilku “Tuan,” tapi aku yakin ia pun akan mengerti dengan sendirinya, sebab tak pantas bagi seorang pegawai menyapa majikannya dengan nama saja. Dan siapa tahu, mungkin itu akan menjadi penolong bagi hidupnya. Ia bisa mulai dengan gaji empat atau lima ratus gulden—Bastiaans pun tak langsung mendapat tujuh ratus, ia juga naik perlahan—dan aku telah melakukan satu perbuatan baik. Bahkan, dengan tiga ratus gulden ia mungkin sudah bisa hidup, sebab ia belum pernah bekerja dalam urusan dagang, dan tahun-tahun awal dapat dianggap sebagai masa belajar. Itu pun adil, karena ia tak bisa disamakan begitu saja dengan orang-orang yang telah bekerja bertahun-tahun. Aku yakin dua ratus gulden pun akan ia terima dengan syukur. Tapi aku tak bisa merasa tenang akan kelakuannya … ia memakai syal. Dan lagipula, aku tak tahu di mana ia tinggal.
Beberapa hari kemudian, si Stern muda dan Frits pergi bersama ke sebuah lelang buku “Het Wapen van Bern”.[53] Aku sudah melarang Frits membeli apa pun, tapi Stern—yang uang sakunya memang berlebih—pulang dengan beberapa barang remeh. Itu urusannya. Tapi lihatlah, Frits kemudian bercerita bahwa ia telah melihat si Lelaki Bersyal di sana, yang tampaknya bekerja dalam lelang itu. Ia bertugas mengangkat buku-buku dari lemari dan mendorongnya ke atas meja panjang menuju juru lelang. Frits berkata bahwa wajahnya sangat pucat, dan bahwa seorang pria—yang tampaknya memimpin acara itu—telah memarahinya karena menjatuhkan beberapa jilid Aglaia.[54] Dan memang itu sungguh kecerobohan, sebab Aglaia adalah kumpulan karya kerajinan tangan kaum wanita yang sangat manis. Marie memilikinya bersama keluarga Rosemeyer—yang bergerak di bidang gula. Ia sering membuat rajutan darinya … maksudku, dari Aglaia. Namun di tengah pertengkaran itu, Frits mendengar bahwa upah yang ia terima hanyalah tujuh puluh lima sen sehari. “Kau pikir aku mau membuang-buang tujuh puluh lima sen sehari untukmu?” begitu kata si pria itu. Aku pun segera berhitung: tujuh puluh lima sen sehari—sudah tentu hari Minggu dan hari raya tidak termasuk, sebab kalau dihitung bulanan atau tahunan, pasti disebutkan begitu—itu berarti dua ratus dua puluh lima gulden setahun. Aku cepat dalam mengambil keputusan—jika seseorang telah lama berkecimpung dalam dunia dagang, ia tahu seketika apa yang harus dilakukan—dan keesokan paginya aku sudah berada di toko buku Gaafzuiger, demikianlah nama si pedagang buku yang menyelenggarakan lelang itu. Aku bertanya tentang pria yang telah menjatuhkan Aglaia itu.
“Dia sudah saya pecat,” kata Gaafzuiger. “Ia malas, sok pintar, dan sakit-sakitan.”
Aku membeli sekotak wafer, dan seketika memutuskan untuk menimbang-nimbang lagi soal Bastiaans. Aku belum sanggup begitu saja menyingkirkan seorang lelaki tua ke jalanan. Tegas, namun bila mungkin tetap berbelas kasih—itulah selalu prinsipku. Namun, aku tak pernah lalai untuk mengumpulkan apa pun yang mungkin berguna dalam urusan dagang, dan karena itu aku bertanya pada Gaafzuiger di mana si Lelaki Bersyal tinggal. Ia memberiku alamatnya, dan kutulis alamat itu.
Pikiranku terus-menerus kembali kepada bukuku, namun karena aku menjunjung kebenaran, maka harus kuakui terus terang: aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Satu hal yang pasti: bahan-bahan yang kutemukan dalam bungkusan milik Si Lelaki Bersyal sangat penting bagi para makelar kopi. Persoalannya hanya, bagaimana menyusun dan memilah bahan-bahan itu secara layak dan teratur. Setiap makelar paham betul, betapa pentingnya penyortiran yang tepat atas kavling-kavling yang hendak ditawarkan.
Namun … menulis—selain untuk surat-menyurat dengan prinsipal—bukanlah bagian dari lingkup keseharianku. Meski begitu, aku merasa bahwa aku harus menulis, karena mungkin masa depan profesi kami bergantung padanya. Informasi-informasi yang kutemukan dalam bundel-bundel naskah si Lelaki Bersyal bukanlah dari jenis yang patut dimonopoli hanya oleh Last & Co. Andaikata memang demikian, maka sudah pasti aku tak akan repot-repot mencetak buku yang juga bisa dibaca oleh Busselinck & Waterman, karena hanyalah orang bodoh belaka yang membantu pesaingnya meniti jalan. Inilah prinsipku yang tak dapat ditawar lagi. Tidak, aku menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam, yang bisa merusak seluruh pasar kopi—bahaya yang hanya bisa dihalau oleh kekuatan bersama dari semua makelar. Bahkan bisa jadi, kekuatan sebesar itu pun belum memadai, dan bahwa para penyuling gula—Frits menyebut mereka “pemurni”, tapi aku lebih suka menyebutnya “para gulawan.”[55] Keluarga Rosemeyer juga memakainya, dan mereka sudah lama berkecimpung di dunia gula. Memang orang bilang: “penjahat licik” dan bukan “penjahat licik hasil pemurnian”[56]—barangkali karena siapa pun yang berurusan dengan penjahat ingin beres-beres saja tanpa menyaringnya lebih jauh. Maka para penyuling gula itu—juga para pedagang nila—boleh jadi masih akan diperlukan juga.
Sambil menulis dan merenung, tiba-tiba terlintas di benakku bahwa bahkan perusahaan-perusahaan pelayaran pun agaknya sedikit banyak tersangkut dalam soal ini—ya, tentu saja! Dan juga armada dagang … sudah pasti! Dan para pembuat layar pun, dan Menteri Keuangan, dan dewan-dewan amal, dan para menteri lainnya, dan para pembuat pai, dan para pedagang barang pernak-pernik, dan kaum perempuan, dan para ahli pembuatan kapal, dan para pedagang grosir, dan pedagang eceran, dan para penjaga rumah, dan juga para tukang kebun.
Dan—aneh betapa pikiran bisa muncul silih-berganti saat menulis—bukuku juga menyangkut para penebar gandum, para imam, dan mereka yang menjual pil Holloway,[57] para penyuling minuman keras, dan pembuat genteng, serta mereka yang hidup dari bunga utang negara, pembuat pompa, pemintal tali, para penenun, para tukang jagal, para juru tulis di kantor makelar, para pemegang saham di Perusahaan Niaga Belanda, dan pada akhirnya, kalau dipikir-pikir … semua orang!
Dan Raja juga … ya, terutama Sang Raja![58]
Bukuku harus terbit. Tak ada jalan lain! Biar saja kalau Busselinck & Waterman juga membacanya … aku tak punya urusan dengan rasa dengki. Tapi bahwa mereka itu penipu dan penghasut, itu tetap kujadikan pegangan! Hari ini pun, masih kukatakan hal itu kepada si Stern muda, waktu aku memperkenalkannya di “Artis.” Ia boleh saja menuliskannya kepada ayahnya.
Demikianlah, beberapa hari yang lalu aku masih terjerat hebat dalam kebingungan soal bukuku … dan, lihatlah, Frits yang akhirnya menunjukkan jalan keluarnya. Aku sendiri tidak mengatakannya kepadanya—karena menurut prinsipku, tak pantas seseorang tahu bahwa kita berutang budi padanya—tapi, begitulah adanya. Ia berkata bahwa Stern itu anak yang cerdas, bahwa ia membuat kemajuan pesat dalam bahasa, dan bahkan menerjemahkan puisi-puisi berbahasa Jerman karya si Lelaki Bersyal ke dalam bahasa Belanda. Kau lihat betapa terjungkir baliknya dunia di rumahku: si Belanda menulis dalam bahasa Jerman, sedangkan si Jerman menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda! Seandainya saja setiap orang tetap pada bahasanya sendiri, banyak kesulitan tentu bisa dihindari. Tapi lalu terpikir olehku: bagaimana kalau aku meminta Stern saja yang menulis bukuku? Jika ada yang ingin kutambahkan, aku sendiri bisa menuliskan satu-dua bab dari waktu ke waktu. Frits pun bisa membantu. Ia punya catatan deretan kata-kata yang ditulis dengan huruf “e ganda”,[59] dan Marie bisa menyalin semuanya dengan rapi. Ini sekaligus menjadi jaminan bagi pembaca, bahwa isi buku ini tak akan mengandung sesuatu yang tak senonoh. Sebab tentu kau mengerti, bahwa seorang makelar terhormat tak akan membiarkan anak gadisnya menyentuh sedikit pun hal yang tidak sejalan dengan tata krama dan kesopanan.
Aku pun berbincang dengan kedua anak muda itu tentang rencanaku, dan mereka menyetujuinya. Hanya saja, tampaknya Stern—yang memiliki sentuhan kesusastraan dalam dirinya, sebagaimana banyak orang Jerman lainnya—ingin turut bersuara dalam soal bentuk dan cara penyajian. Hal ini sebenarnya tak begitu menyenangkan hatiku, tetapi karena lelang kopi musim semi sudah di ambang pintu, dan aku juga belum kunjung menerima pesanan apa pun dari Ludwig Stern, maka aku pun enggan menyinggungnya terlalu jauh. Ia berkata begini: “Bila dada seseorang menyala oleh rasa untuk sesuatu yang benar dan indah, maka tiada kuasa di dunia yang dapat menahan ia dari melantunkan nada-nada yang selaras dengan rasa itu. Lebih baik aku diam, daripada melihat kata-kataku terkungkung oleh belenggu kedangkalan yang mencemarkan.”—Frits bilang: “Hentikan!,” tapi aku tak akan. Kata-kata itu sudah meluncur cukup panjang begitu. Kuturuti saja anehnya ucapan Stern, karena pekerjaanku tetaplah yang utama, dan keluarga si Tua itu adalah relasi yang baik. Maka kami pun menyepakati hal-hal berikut:
Bahwa ia akan menyetor beberapa bab tiap minggu untuk bukuku.
Bahwa aku tidak akan mengubah apa pun dalam tulisannya.
Bahwa Frits akan memperbaiki kesalahan-kesalahan tata bahasa.
Bahwa aku sendiri sesekali akan menulis sebuah bab, demi memberi bobot dan kekokohan pada karya itu.
Bahwa judul buku akan berbunyi: “Lelang Kopi Perusahaan Niaga Belanda.”
Bahwa Marie akan menyalin naskah dengan rapi untuk dicetak, namun ia akan diberi kelonggaran bila sedang ada cucian.
Bahwa bab-bab yang telah selesai akan dibacakan setiap minggu dalam acara pertemuan ramah-tamah.
Bahwa segala bentuk ketidaksenonohan akan dihindarkan.
Bahwa namaku tidak akan dicantumkan di halaman judul, karena aku seorang makelar.
Bahwa Stern diperkenankan menerbitkan terjemahan bukuku dalam bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris, karena—demikian katanya—karya semacam ini lebih dimengerti di luar negeri daripada di negeri sendiri.
(Yang ini Stern desak dengan sangat) Bahwa aku harus mengirimkan kepada si Lelaki Bersyal satu rim kertas, beberapa lusin pena, dan sebuah botol kecil tinta.
Aku menerima semua syarat dengan senang hati, karena urusan bukuku sangat mendesak. Keesokan harinya Stern sudah menyelesaikan bab pertamanya, dan lihatlah, Pembaca yang budiman, di sinilah pertanyaan tersebut terjawab: bagaimana bisa seorang makelar kopi—Last & Co., Lauriergracht No. 37—menulis sebuah buku yang menyerupai roman.
Namun, begitu Stern mulai mengerjakan tugasnya, ia langsung menghadapi kesulitan. Selain kesulitan dalam memilih dan menyusun bahan dari sekian banyak naskah, ia terus-menerus menjumpai kata-kata dan ungkapan dalam naskah tulisan tangan itu yang tidak ia mengerti—dan juga asing bagiku. Kebanyakan berupa istilah-istilah dalam bahasa Jawa atau Melayu. Juga terdapat banyak singkatan yang sangat sulit untuk dibaca atau diuraikan. Aku pun sadar, kami membutuhkan si Lelaki Bersyal. Karena menurutku tidak baik bagi anak muda untuk menjalin pergaulan yang salah, aku tidak ingin Stern maupun Frits yang mengunjungi si Lelaki Bersyal. Aku sendiri yang pergi. Aku membawa manisan sisa dari pertemuan ramah-tamah terakhir di rumah—karena aku selalu berpikir tentang segala sesuatu—dan aku mencarinya.
Tempat tinggalnya sama sekali tidak mewah, tetapi kesetaraan bagi semua manusia—juga dalam hal tempat tinggal—adalah khayalan belaka. Itu pun sebenarnya pernah ia tulis sendiri dalam esainya Tentang Hak atas Kebahagiaan. Lagipula, aku tidak suka orang yang selalu merasa tidak puas.
Ia tinggal di kamar belakang di Lange Leidsche Dwarsstraat.[60] Di lantai dasar tinggal seorang penjual barang bekas, yang menjajakan segala macam barang: cangkir, piring, perabot, buku bekas, gelas, gambar diri Van Speyk,[61] dan sebagainya. Aku sangat takut menjatuhkan atau memecahkan sesuatu, karena dalam kasus seperti itu orang biasanya meminta harga lebih tinggi dari nilai barangnya. Seorang gadis kecil duduk di tangga depan, sedang memakaikan baju pada bonekanya. Aku bertanya, apakah Tuan Lelaki Bersyal tinggal di sana. Ia segera berlari, dan tak lama kemudian ibunya keluar.
“Ya, dia memang tinggal di sini, Pak. Silakan naik tangga, sampai ke pintu pertama, lalu lanjutkan ke pintu kedua, dan naik satu tangga lagi—nanti Bapak akan sampai juga, karena memang jalannya hanya itu. Myntje, tolong beri tahu dulu bahwa ada seorang Bapak yang datang. Maaf, bolehkah saya tahu siapa nama Bapak, agar bisa saya sampaikan kepadanya bahwa ada tamu yang mencarinya?”
Aku katakan bahwa aku Tuan Droogstoppel, makelar kopi dari Lauriergracht, dan bahwa aku sendiri yang akan memperkenalkan diri. Aku pun naik setinggi yang dijelaskan tadi, dan di lorong tingkat tiga aku mendengar suara seorang anak bersenandung: “Sebentar lagi ayah datang, papa yang manis.” Aku mengetuk, dan pintu dibuka oleh seorang wanita—atau barangkali harus kusebut seorang “nona” saja—aku sendiri tak tahu pasti bagaimana harus menyebutnya. Wajahnya sangat pucat. Guratan-guratan lelah membayang di rautnya, mengingatkanku pada istriku jika urusan cucian sudah beres. Ia mengenakan sejenis baju dalam panjang berwarna putih, atau semacam atasan tanpa rok, yang menggantung sampai ke lutut, dan bagian depannya dijepit dengan peniti hitam. Bukannya memakai rok atau gaun yang layak, ia hanya membalut tubuhnya dengan sehelai kain hitam bermotif bunga, dililitkan beberapa kali mengelilingi tubuhnya, membungkus pinggul dan lututnya dengan cukup ketat. Tak tampak kerut, kelonggaran, atau keleluasaan gerak seperti yang biasanya terlihat pada busana wanita. Aku merasa lega bahwa aku tak mengutus Frits ke tempat ini, sebab pakaiannya sungguh tak senonoh menurutku, dan keanehan itu terasa makin menyolok karena cara berjalannya yang bebas, seakan-akan ia merasa sangat wajar berpenampilan demikian. Perempuan itu tampaknya sama sekali tak menyadari bahwa penampilannya tidak seperti perempuan lain pada umumnya. Ia juga tidak tampak malu atau kikuk atas kedatanganku. Ia tidak menyembunyikan apa pun di bawah meja, tidak menggeser kursi, dan tidak melakukan hal-hal yang lazimnya menjadi kebiasaan jika seorang asing, terlebih lagi yang berpenampilan terhormat, datang bertamu.
Rambutnya disisir rapi ke belakang, seperti gaya perempuan Cina, lalu dihimpun di tengkuk dalam bentuk simpul atau mangkuk kecil. Belakangan aku tahu, pakaian yang dikenakannya adalah semacam busana Hindia, yang di sana disebut sarung dan kebaya. Namun bagiku, tampak benar-benar tak sedap dipandang.
“Apakah Anda Nona Lelaki Bersyal?” tanyaku.
“Dengan siapakah saya mendapat kehormatan berbicara?” jawabnya, dengan nada yang mengandung sesuatu—seolah-olah aku pun seharusnya menyelipkan setitik penghormatan dalam pertanyaanku.
Aku, terus terang, tak terlalu menyukai basa-basi. Lain halnya jika berhadapan dengan prinsipal—aku sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia dagang, dan tahu benar caranya dunia ini bekerja. Tapi untuk menjual sekadar selembar kertas di lantai tiga, kurasa tak perlu banyak hiasan kata. Maka kukatakan saja dengan gamblang bahwa aku adalah Tuan Droogstoppel, makelar kopi di Lauriergracht No. 37, dan aku ingin bertemu dengan suaminya. Titik, memangnya kenapa aku harus berputar-putar kata?
Ia menunjuk sebuah kursi rotan kecil, lalu mengangkat seorang anak perempuan mungil ke pangkuannya—anak yang tadi sedang bermain di lantai. Sementara itu, seorang anak lelaki,[62] yang tadi sempat kudengar bernyanyi, memandangku lurus-lurus, menelusuriku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sungguh tak tampak malu-malu sedikit pun! Anak lelaki itu kira-kira berumur enam tahun, dan—seperti yang lain—berpakaian aneh. Celana longgarnya bahkan tak sampai menutupi separuh pahanya, dan kakinya telanjang dari situ hingga ke pergelangan kaki. Menurutku, sungguh tidak senonoh. “Kau datang untuk berbicara dengan Papa?” tanyanya tiba-tiba. Dan saat itu juga aku sadar: pendidikan anak ini tentu masih jauh dari memadai—seharusnya ia berkata, “Apakah Anda datang … ” bukan “kau datang … ” Tapi karena aku sendiri merasa canggung berdiri begitu saja, dan butuh alasan untuk bicara, aku menjawab:
“Ya, Nak, aku datang untuk berbicara dengan ayahmu. Menurutmu, apakah ia akan segera pulang?”
“Aku tidak tahu. Ia sedang keluar, mencari uang untuk membelikanku kotak cat.” (Frits menyebutnya “kotak pewarna”, tapi aku tak mau ikut-ikutan. Cat adalah cat, bukan pewarna)
“Diamlah dulu, Nak,” kata ibunya. “Mainlah dengan gambar-gambarmu, atau dengan kotak mainan Cina itu.”
“Tapi kau kan tahu sendiri bahwa Bapak itu kemarin sudah membawa semuanya,” ujar anak itu.
Bahkan ibunya pun ia sapa “kau”, dan tampaknya pernah ada seorang “bapak” yang telah “membawa pergi semuanya” … sungguh kunjungan yang menggembirakan! Perempuan itu sendiri juga tak tampak ceria, sebab diam-diam ia menyeka matanya yang basah, sambil membawa gadis kecil itu ke arah kakaknya. “Nah,” katanya, “mainlah sebentar dengan Nonnie.”[63] Nama yang aneh. Dan si bocah pun menuruti.
“Nah, Nona,” tanyaku, “apakah suami Anda akan segera pulang?”
“Saya tidak bisa memastikan,” jawabnya.
Tiba-tiba, anak laki-laki yang tadi bermain perahu-perahuan dengan adiknya, meninggalkan mainannya, lalu bertanya padaku:
“Pak, kenapa kau memanggil mama ‘Nona’?”
“Loh, memangnya kenapa, Nak?” tanyaku. “Harus kupanggil apa, kalau begitu?”
“Ya … seperti orang lain memanggilnya! ‘Nona’ itu yang di bawah. Dia yang jual piring dan gasing tusuk.”
Aku ini makelar kopi—Last & Co, Lauriergracht No. 37—di kantor kami bertiga belas, dan jika Stern yang tak bergaji itu dihitung juga, jadilah empat belas. Nah, istriku sendiri kusebut “nona,” jadi apakah aku harus menyebut perempuan itu “nyonya”?[64] Ini benar-benar tak bisa kuterima! Setiap orang harus tahu tempatnya, dan terlebih lagi, kemarin barang-barang mereka baru saja diangkut oleh juru sita. Jadi aku merasa bahwa panggilan “nona” itu sudah lebih dari cukup—dan aku tetap pada pendirianku.
Aku bertanya, mengapa si Lelaki Bersyal tak datang sendiri kepadaku untuk mengambil kembali bungkusan miliknya? Tampaknya ia tahu ihwal itu, dan berkata bahwa mereka sempat bepergian—ke Brussels, tepatnya. Di sana, katanya, si Lelaki Bersyal pernah bekerja untuk L’Indépendance,[65] namun tak dapat bertahan lama karena tulisan-tulisannya sering membuat surat kabar itu ditolak di perbatasan Prancis. Beberapa hari lalu mereka baru kembali ke Amsterdam, sebab si Lelaki Bersyal akan mendapatkan pekerjaan di sini …
“Apakah di kantor Gaafzuiger?” tanyaku.
Ya, memang itu! Tapi ternyata hal itu tak jadi, katanya. Nah, soal ini aku lebih tahu darinya. Dia telah menjatuhkan Aglaia, dan memang malas, sok tahu, dan sakit-sakitan … tepat sekali, itulah sebabnya ia disingkirkan.
“Dan,” lanjutnya, “sepertinya dalam waktu dekat ia akan datang kepada Bapak, mungkin bahkan sedang dalam perjalanan ke tempat Bapak sekarang, untuk menanyakan jawaban atas permintaan yang pernah ia sampaikan.”
Aku bilang, biarlah si Lelaki Bersyal datang saja, tapi hendaknya jangan menekan bel, sebab itu menyusahkan si pembantu. Kalau ia mau menunggu sejenak, kataku, pintu pasti akan terbuka sendiri ketika ada orang keluar. Lalu aku pamit, dan membawa kembali manisan yang tadi kubawa, karena terus terang saja, suasana di sana membuatku tak betah. Aku merasa tak berada pada tempatnya. Seorang makelar, menurutku, bukanlah kuli pengangkut barang, dan aku kira penampilanku cukup terhormat. Aku bahkan mengenakan mantel berbulu hari itu, namun perempuan itu duduk di sana begitu sederhana, berbicara pada anak-anaknya dengan tenang, seolah-olah tak ada tamu di hadapannya. Dan lagi, tampaknya ia habis menangis—aku tak tahan dengan orang yang selalu mengeluh. Selain itu, tempatnya dingin dan tak menyenangkan—tentu karena barang-barangnya disita—padahal aku sangat menghargai kehangatan dan kenyamanan dalam suatu ruangan. Dalam perjalanan pulang, aku memutuskan untuk mempertimbangkan sekali lagi urusan ini bersama Bastiaans, karena aku sebenarnya tak suka menyingkirkan seseorang begitu saja ke jalanan.
Kini tibalah bagian pertama dari laporan mingguannya Stern. Sudah barang tentu, banyak hal di dalamnya yang tidak berkenan di hatiku. Namun aku harus memegang teguh butir kedua dari kesepakatan kami, dan keluarga Rosemeyer pun telah menyetujui hal ini. Aku percaya bahwa mereka memuji-muji Stern karena ia punya seorang paman di Hamburg yang berdagang gula.
Si Lelaki Bersyal memang telah datang. Ia berbincang-bincang dengan Stern dan menjelaskan kepadanya sejumlah istilah dan hal-hal yang tak dipahaminya—maksudku, yang tak Stern pahami. Sekarang aku mohon kepada Pembaca untuk bersabar menelan bab-bab berikut ini; sesudahnya aku berjanji akan kembali menyajikan sesuatu yang lebih teguh nilainya, dari aku sendiri, Batavus Droogstoppel, Makelar Kopi, Last & Co, Lauriergracht No. 37.
Bab 5
Pagi itu, kira-kira pukul sepuluh, tampak suatu keramaian yang tak biasa di jalan besar yang menghubungkan wilayah Pandeglang dengan Lebak. Menyebutnya “jalan besar” mungkin terlalu memuji bagi sebentuk lorong lebar yang, karena kesopanan dan ketiadaan sebutan yang lebih tepat, disebut juga “jalan”. Namun, bila seseorang berangkat dari Serang—ibukota Keresidenan Banten—dengan kereta berkuda empat, menuju Rangkasbitung, pusat pemerintahan yang baru di wilayah Lebak,[66] maka ia hampir dapat dipastikan akan sampai juga di tujuan, cepat atau lambat. Maka jadilah itu “jalan besar.”[67] Benar, perjalanan kerap tertahan di tengah kubangan lumpur yang berat, liat, dan lengket seperti tanah liat yang menjadi ciri khas dataran rendah Banten; benar pula bahwa berkali-kali diperlukan bantuan penduduk dari desa-desa terdekat—yang meskipun disebut “terdekat”, tetap saja jaraknya berjauhan, karena desa-desa di daerah itu tidaklah padat. Namun, bila akhirnya berhasil dihimpun dua puluh petani dari sekeliling tempat kejadian, biasanya tak perlu waktu lama untuk mengangkat kembali kuda beserta keretanya ke tanah yang lebih padat. Sang kusir mengangkat cambuknya, sementara para pengiring yang berlarian di sisi kereta—di Eropa mungkin disebut “palfrenier”,[68] meski sebenarnya tak ada padanannya yang sejati di sana—ya, para pengiring kereta itu, dengan cambuk pendek dan gemuk, melompat kecil di sisi keempat kuda, meneriakkan suara-suara yang tak terlukiskan, dan memecut perut kuda sebagai penyemangat. Demikianlah, perjalanan kembali berlanjut dengan guncangan dan hentakan, hingga tiba lagi saat sial ketika kereta terbenam hingga ke poros rodanya dalam lumpur. Maka seruan minta tolong pun terdengar lagi. Bantuan pun ditunggu dengan sabar … dan perjalanan pun terseret maju lagi.
Seringkali, ketika aku menyusuri jalan itu, timbul dalam benakku bayangan seolah-olah di suatu tikungan akan kutemukan sebuah kereta tua, terperosok dalam lumpur, lengkap dengan para penumpangnya—para pengelana dari abad silam—yang terlupakan dan tertinggal di sana. Namun hal semacam itu tak pernah terjadi. Maka aku menyimpulkan bahwa siapa pun yang pernah menempuh jalan ini, pada akhirnya pasti sampai juga ke tujuan mereka.
Akan tetapi, sungguh keliru jika seseorang membentuk gambaran tentang seluruh “jalan besar” di Jawa hanya dari rupa jalan di daerah Lebak ini. Jalan utama yang sesungguhnya, lengkap dengan banyak cabang dan persimpangannya—yang dibangun oleh Marsekal Daendels dengan pengorbanan besar dari penduduk bumiputra[69]—adalah suatu karya yang sungguh mengagumkan, dan siapa pun akan terpukau oleh daya juang seseorang yang, meski dihalangi dan dikhianati oleh para pengecam serta lawan-lawannya di Negeri Belanda, tetap berani menantang ketakutan rakyat dan ketidakpuasan para kepala daerah, demi menciptakan sesuatu yang hingga kini masih layak dikagumi oleh setiap pelintas jalan.
Tak ada pos kereta kuda mana pun di Eropa—bahkan di Inggris, Rusia, atau Hungaria—yang dapat menandingi kehebatan angkutan di Jawa. Di atas punggung-punggung pegunungan yang tinggi, melewati jurang-jurang yang membuat jantung berdegup ngeri, kereta yang sarat muatan itu melaju dalam satu derap kencang. Kusirnya duduk seolah terpaku di atas tempat duduknya, berjam-jam, bahkan berhari-hari lamanya, menggenggam cambuk berat dengan lengan sekeras baja. Ia tahu persis kapan dan seberapa kuat ia harus menahan laju kuda-kudanya yang berderap, agar saat menuruni lereng yang curam, ketika sudah melesat turun menuju tikungan di sana …
“Ya Tuhanku! Jalan itu … lenyap! Kita jatuh ke jurang!”—teriak si penumpang kereta yang belum berpengalaman—“Tak ada lagi jalan! Itu jurang!”
Ya, memang demikianlah kesannya. Jalan itu berkelok, dan tepat ketika dalam satu loncatan kuda lagi akan membuat kereta kehilangan pijakan di tikungan, kuda-kuda itu berpaling arah dan melontarkan kendaraan itu memutar dengan lincah. Mereka pun melesat menaiki tanjakan bukit yang, sekejap sebelumnya, tak tampak oleh mata … dan jurang yang menganga itu kini telah tertinggal di belakang.
Adakalanya, di tikungan semacam itu, kereta hanya bertumpu pada roda di sisi dalam lengkungan: gaya sentrifugal telah mengangkat roda-roda sisi luar dari tanah. Diperlukan ketenangan hati untuk tidak memejamkan mata, dan siapa pun yang baru pertama kali bepergian di Jawa pasti akan menulis kepada keluarganya di Eropa bahwa ia telah berada dalam ancaman maut. Namun, bagi mereka yang telah terbiasa tinggal di sini, ketakutan semacam itu hanyalah bahan tawa belaka.
Bukanlah niatku, terutama di awal kisah ini, untuk menahanmu, Pembaca, dengan uraian panjang tentang tempat, bentang alam, ataupun bangunan. Aku terlampau risau kau akan jemu oleh sesuatu yang mungkin menyentuh batas kebosanan. Namun, nanti, jika kurasa kau telah terpikat padaku—jika dari sorot matamu, dari sikap tubuhmu, tampak bahwa nasib sang perempuan yang, entah bagaimana, melompat dari balkon lantai empat telah membangkitkan minatmu—barulah akan kulepaskan, dengan keberanian yang mencemooh hukum gravitasi, wanita itu melayang di antara langit dan bumi. Hingga aku dapat meluapkan isi hatiku dalam sketsa yang cermat tentang keelokan panorama atau arsitektur yang seolah-olah memang sengaja ditempatkan di sana sebagai dalih untuk menguraikan dengan panjang lebar gaya arsitektur abad pertengahan. Semua kastil serupa saja. Tanpa kecuali, mereka memamerkan gaya bangunan campur-aduk. Corps de logis[70]-nya selalu berasal dari pemerintahan beberapa generasi lebih awal dari tambahan yang dibangun oleh raja-raja berikutnya. Menaranya nyaris selalu dalam keadaan runtuh …
Wahai Pembaca yang budiman, ketahuilah, tak ada yang benar-benar layak disebut menara. Menara adalah gagasan, mimpi, cita-cita, karangan belaka—keangkuhan yang tak tertahankan! Yang ada hanyalah setengah menara … dan menara-menaraan.
Kegairahan rohani yang membuat orang merasa perlu menambahkan menara pada bangunan-bangunan yang didirikan demi menghormati santo ini atau santa itu, jarang berlangsung cukup lama untuk menuntaskan pekerjaan itu. Ujung runcing yang seharusnya mengarahkan pandangan kaum beriman ke langit, biasanya terhenti beberapa tingkat terlalu rendah, bertumpu pada dasar yang kokoh—sesuatu yang mengingatkan kita pada manusia tanpa kaki di pertunjukan pasar malam. Hanya menara-menara kecil, semacam jarum mungil di gereja-gereja desa, yang benar-benar selesai dibangun.
Bukanlah pujian bagi peradaban Barat bahwa gagasan untuk mencipta sebuah karya besar begitu jarang dapat bertahan cukup lama hingga karya itu benar-benar rampung. Aku tidak bicara tentang jenis pekerjaan yang harus diselesaikan demi menutup ongkos pembangunannya. Siapa yang sungguh ingin memahami maksudku, pergilah ke Dom di Köln.[71] Renungilah betapa agung rancangan bangunan itu, sebagaimana terpatri dalam jiwa sang arsitek, Gerhard von Rile … [72] Renungilah iman yang hidup dalam hati rakyat, yang membuat mereka sanggup memulai dan meneruskan pekerjaan itu … Renungilah pula daya pengaruh gagasan-gagasan yang menuntut perwujudan sebayang sosok yang menjulang agung demi menjadi lambang yang tampak bagi rasa keberagamaan yang tak kasatmata. Dan bandingkanlah kejauhan pandang itu dengan arah pikiran yang, beberapa abad kemudian, melahirkan saat ketika pekerjaan itu dihentikan.
Terdapat jurang yang dalam antara Erwin von Steinbach[73] dan para arsitek kita kini! Aku tahu, sudah bertahun-tahun orang mencoba menimbun jurang itu. Bahkan di Köln, pembangunan Dom kini kembali dilanjutkan. Namun, mungkinkah benang yang telah putus itu akan dapat disambung kembali? Dapatkah kita temukan kembali di zaman ini, apa yang dahulu menjadi kekuatan para kepala gereja dan pelindung seni bangunan? Aku ragu. Uang barangkali bisa dihimpun, dan batu serta kapur pun tersedia untuk dibeli. Seorang seniman dapat dibayar untuk membuat rancangan, dan tukang batu pun dibayar untuk menyusun batu-batu itu. Namun, yang tak dapat dibeli dengan uang adalah perasaan yang telah lenyap—perasaan yang luhur—yang dalam suatu rancangan bangunan terlihat sebentuk puisi, puisi dari granit yang bersuara kepada rakyat, puisi dalam marmer yang berdiri tegak sebagai doa yang tak bergeming, abadi, dan tak henti terucap.
Di perbatasan antara Lebak dan Pandeglang, pagi itu tampak suasana yang tak biasa. Ratusan kuda berpelana memenuhi jalan, dan sedikitnya seribu orang—jumlah yang luar biasa banyak untuk tempat terpencil seperti itu—berlalu-lalang dalam kesibukan yang tegang. Di sana tampak para kepala desa, para wedana dari wilayah Lebak, semuanya datang dengan pengiring masing-masing. Dan menilik seekor kuda Arab peranakan yang gagah, tengah menggigit pelana air bertatah perak dalam pelana megahnya, jelas bahwa seorang pejabat tinggi juga hadir di tempat itu. Begitulah adanya. Bupati Lebak, Raden Adipati Karta Natanegara,[74] telah meninggalkan Rangkasbitung dengan iringan besar, dan meskipun usianya telah lanjut, ia menempuh perjalanan sepanjang dua belas atau empat belas pal[75] yang memisahkan kediamannya dari batas wilayah tetangga Pandeglang.
Hari itu, seorang Asisten Residen baru akan tiba, dan adat istiadat yang mengakar kuat di Hindia—lebih perkasa dari hukum tertulis—menuntut setiap pejabat yang akan memegang kendali suatu afdeling[76] disambut dengan perayaan besar. Di tengah mereka, hadir pula sang Kontrolir,[77] seorang lelaki paruh baya yang sejak kepergian mendiang Asisten Residen sebelumnya, telah mengemban tugas sementara sebagai pejabat tertinggi.
Begitu waktu kedatangan sang pejabat baru dipastikan, sebuah pendopo pun didirikan dengan tergesa-gesa. Meja dan beberapa kursi dibawa ke sana, dan beberapa hidangan penyegar disiapkan. Di pendopo inilah, sang Bupati bersama Kontrolir menanti kedatangan atasan baru mereka.
Setelah topi berpinggiran lebar, payung hujan, atau batang pohon yang dilubangi, sebuah pendopo barangkali adalah wujud paling sederhana dari gagasan mengenai “atap.” Bayangkan empat atau enam batang bambu ditancapkan ke tanah, lalu bagian atasnya diikatkan satu sama lain dengan bambu lain yang melintang, dan di atasnya dibentangkan penutup dari daun-daun panjang pohon nipah—yang di daerah ini disebut “atap”—maka kira-kira seperti itulah bentuk pendopo yang dimaksud. Seperti bisa kaulihat, sesederhana mungkin, dan di sini memang hanya dimaksudkan sebagai pied-à-terre[78] bagi para pegawai bumiputra maupun Eropa yang datang menyambut kepala mereka yang baru di perbatasan.
Aku tadi kurang tepat ketika menyebut asisten residen sebagai pemimpin tertinggi, bahkan di atas bupati sekalipun. Maka perlu kiranya disampaikan di sini suatu penjelasan mengenai susunan pemerintahan di negeri ini, agar kita dapat memahami dengan jernih hal-hal yang akan menyusul kemudian.
Apa yang lazim disebut Hindia Belanda—aku merasa sebutan “Belanda” di sini agak keliru, namun demikianlah nama resminya[79]—dalam hal hubungan antara negeri induk dan penduduknya, dapat dibagi ke dalam dua bagian besar yang sangat berlainan. Sebagian terdiri dari suku-suku yang para raja maupun raja-raja kecilnya telah mengakui kedaulatan Belanda sebagai penguasa tertinggi, tetapi urusan pemerintahan sehari-hari, dalam kadar tertentu, masih tetap berada di tangan para kepala daerah pribumi. Bagian lainnya—yang mencakup seluruh pulau Jawa, kecuali satu dua wilayah kecil yang barangkali hanya tampak berbeda di permukaan—berada langsung di bawah kekuasaan pemerintah Belanda. Di sini tak dikenal upeti, persekutuan, atau hubungan feodal apa pun. Orang Jawa adalah warga negara Belanda. Raja Belanda adalah rajanya. Keturunan para raja dan bangsawan lama kini menjadi pegawai negeri Belanda. Mereka diangkat, dipindahkan, dan dipromosikan oleh Gubernur Jenderal yang memerintah atas nama Raja. Para pelanggar hukum diadili dan dijatuhi hukuman berdasarkan undang-undang yang ditetapkan di Den Haag. Pajak yang dipungut dari orang Jawa masuk ke kas negara Belanda.
Dalam tulisan ini, yang akan dibahas secara utama adalah bagian dari tanah jajahan Belanda yang sungguh-sungguh merupakan bagian dari Kerajaan Belanda itu sendiri.
Di samping Gubernur Jenderal, berdirilah suatu “dewan penasihat” yang keberadaannya lebih sebagai pelengkap, karena keputusan sang Gubernur Jenderal tidak tergantung padanya. Di Batavia, urusan-urusan pemerintahan dibagi dalam beberapa “departemen” yang masing-masing dipimpin oleh seorang Direktur. Para Direktur inilah yang menjadi penghubung antara pemerintahan tertinggi sang Gubernur Jenderal dan para residen di berbagai provinsi. Namun, jika perkara yang ditangani bersifat politis, para pejabat ini menyampaikan langsung urusannya kepada Gubernur Jenderal.
Istilah “residen” berasal dari masa ketika Belanda masih memerintah secara tidak langsung sebagai penguasa feodal, dan menempatkan para wakilnya di istana-istana raja yang masih berkuasa. Para raja itu kini telah tiada, dan para residen telah berubah menjadi gubernur daerah atau prefek,[80] penguasa administratif atas wilayah-wilayah tertentu. Fungsi mereka telah bergeser, tetapi gelarnya tetap dipertahankan.
Residen inilah, sejatinya, yang mewakili kekuasaan Belanda di mata rakyat Jawa. Rakyat tak mengenal Gubernur Jenderal, tak pernah mendengar nama Dewan Hindia,[81] dan tentu tak tahu-menahu tentang para Direktur di Batavia. Yang mereka kenal hanyalah sang Residen dan para pegawai yang berada di bawah perintahnya.
Satu wilayah kekuasaan seorang Residen—yang disebut “Keresidenan”—ada yang penduduknya hampir mencapai satu juta jiwa. Wilayah sebesar itu kemudian dibagi ke dalam tiga, empat, atau lima bagian yang disebut “afdeling” atau kabupaten, masing-masing dipimpin oleh seorang Asisten Residen. Di bawah mereka, pemerintahan dijalankan oleh para kontrolir, pengawas, serta barisan panjang pegawai lainnya yang diperlukan demi pengumpulan pajak, pengawasan atas pertanian, pembangunan gedung-gedung, pengairan dan irigasi, penjagaan keamanan, dan penyelenggaraan peradilan.
Di setiap afdeling ditempatkan seorang kepala daerah pribumi berpangkat tinggi yang menyandang gelar “Bupati”, mendampingi Asisten Residen. Seorang Bupati semacam itu, meskipun dalam kedudukan dan fungsinya sepenuhnya bertindak sebagai pegawai negeri bergaji, selalu berasal dari kalangan bangsawan tinggi, dan kerap kali dari keluarga para raja yang dahulu pernah memerintah secara merdeka di daerah tersebut atau di sekitarnya. Dengan pertimbangan politis yang cermat, pengaruh feodal mereka yang telah mengakar dimanfaatkan secara bijak—sebab di Asia, hal semacam itu umumnya sangat berpengaruh, bahkan dalam banyak suku dianggap sebagai bagian dari keyakinan agama—karena dengan mengangkat para bangsawan ini menjadi pejabat, diciptakanlah suatu hierarki kekuasaan yang puncaknya adalah otoritas pemerintah Hindia Belanda, yang dijalankan oleh Gubernur Jenderal.
Tiada sesuatu yang sungguh baru di bawah matahari. Bukankah para Rykgraaf, Markgraaf, Gaugraaf, dan Burggraaf dalam Kekaisaran Jerman dahulu juga diangkat oleh Sang Kaisar,[82] dan umumnya dipilih dari kalangan para baron? Tanpa perlu menyimpang terlalu jauh ke dalam sejarah asal-usul kaum bangsawan—yang sejatinya tumbuh secara alamiah—patut dicatat bahwa baik di benua kita ini maupun di Tanah Hindia yang jauh di sana, sebab-sebab yang sama melahirkan akibat yang serupa. Sebuah negeri yang terletak jauh dari pusat pemerintahan harus dikelola dari kejauhan, dan untuk itu diperlukan para pejabat yang mewakili kekuasaan pusat. Dalam sistem kekuasaan militer yang sewenang-wenang, Romawi kuno memilih para praefectus[83] sebagai penguasa daerah—pada mulanya para komandan legiun yang telah menaklukkan wilayah tersebut. Wilayah-wilayah semacam itu pun menjadi provincia, yakni “daerah taklukan.” Namun, ketika kekuasaan pusat Kekaisaran Jerman kelak merasa perlu menjalin ikatan dengan rakyat di wilayah-wilayah jauh tidak hanya melalui kekuatan senjata, dan ketika daerah-daerah itu mulai dianggap sebagai bagian dari kekaisaran karena kesamaan asal-usul, bahasa, dan adat-istiadat, muncullah kebutuhan untuk mengangkat seseorang yang tidak hanya berasal dari daerah tersebut, tetapi juga secara status sosial berada di atas warga lainnya. Dengan begitu, kepatuhan terhadap perintah Sang Kaisar dapat dipermudah oleh kecenderungan alami untuk tunduk kepada orang yang ditugaskan menjalankan perintah itu. Melalui cara ini pula, sebagian atau bahkan seluruh biaya untuk membentuk tentara tetap—yang menjadi beban keuangan negara atau, seperti yang kerap terjadi, ditanggung oleh daerah bersangkutan—dapat dihindari. Maka, para graaf pertama dipilih dari kalangan baron setempat. Dan secara tepat, gelar graaf sejatinya bukanlah gelar kebangsawanan, melainkan sekadar sebutan bagi seseorang yang diberi amanat untuk memangku jabatan tertentu. Aku percaya bahwa di abad pertengahan, berlaku anggapan bahwa Kaisar Jerman memang berhak mengangkat graaf dan hertog,[84] namun para baron menganggap diri mereka, dalam hal kelahiran, setara dengan Sang Kaisar dan hanya tunduk kepada Tuhan, kecuali bila mereka memilih untuk mengabdi kepada Kaisar, yang diangkat dari kalangan mereka sendiri dan dengan persetujuan mereka. Seorang graaf memangku suatu jabatan yang dipercayakan oleh Kaisar. Seorang baron menganggap dirinya baron “atas rahmat Tuhan.” Para graaf mewakili Kaisar dan membawa panji kekaisaran. Seorang baron mengerahkan pasukan di bawah panji miliknya sendiri, sebagai seorang baanderheer—pemegang panji.
Keadaan bahwa para graaf dan hertog umumnya dipilih dari kalangan baron, menyebabkan mereka menggabungkan wibawa jabatan mereka dengan pengaruh yang bersumber dari garis keturunannya; dan dari sinilah tampaknya kemudian—terutama setelah jabatan-jabatan itu lazim diwariskan secara turun-temurun—timbul keutamaan gelar graaf dan hertog di atas gelar baron. Bahkan hingga hari ini, banyak keluarga vrijheer[85]—yakni keluarga ningrat yang tidak memiliki hak istimewa dari kekaisaran maupun kerajaan, tetapi telah menyandang gelar kebangsawanan sejak kelahiran negeri itu sendiri, yang memang sejak awal sudah bangsawan karena memang telah sedemikian adanya—akan menolak pengangkatan ke dalam golongan graaf karena dianggap sebagai penurunan martabat. Sudah ada contohnya.
Para pejabat yang memerintah sebuah graafschap[86] tentu saja berusaha mendapatkan restu dari Kaisar agar jabatan mereka dapat diwariskan kepada putra mereka, atau jika tidak memiliki putra, kepada kerabat sedarah lainnya. Permintaan semacam itu biasanya dikabulkan, meskipun saya tidak percaya bahwa hak untuk mewarisi jabatan tersebut pernah diakui secara sah, setidaknya tidak untuk jabatan-jabatan serupa di Negeri Belanda, seperti graaf di Holland, Zeeland, Hainaut, atau Flandria, ataupun hertog di Brabant, Gelderland, dan sebagainya. Pada awalnya hal itu hanyalah sebuah anugerah, yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan, lalu berkembang menjadi semacam keniscayaan—tetapi warisan jabatan semacam itu tak pernah menjadi hukum.
Dengan cara yang hampir serupa—setidaknya dalam hal pemilihan orangnya, meskipun jelas tak setara dari segi wewenangnya, kendati ada pula kesepadanan tertentu yang patut dicatat—di setiap afdeling di Jawa terdapat seorang kepala daerah yang menggabungkan kedudukan formal yang diberikan pemerintah Hindia dengan pengaruh adat yang diwarisinya sebagai tokoh setempat, guna mempermudah urusan bagi pejabat Eropa yang mewakili kekuasaan Belanda. Dalam hal ini pun, kebiasaan turun-temurun telah terbentuk, meskipun tak pernah diatur dalam undang-undang. Bahkan sewaktu sang Bupati masih hidup, urusan pewarisan jabatan ini biasanya sudah dibereskan terlebih dahulu. Diperlakukan sebagai ganjaran atas kesetiaan dan semangat pengabdian, janji bahwa jabatan itu kelak akan diwariskan kepada putranya kerap kali diberikan. Harus ada alasan yang sungguh-sungguh kuat untuk menyimpang dari kebiasaan ini, dan kalaupun itu terjadi, penggantinya biasanya tetap diambil dari kalangan keluarga yang sama.
Hubungan antara pegawai-pegawai Eropa dan para bangsawan Jawa berpangkat tinggi itu bersifat sangat peka. Asisten Residen di suatu afdeling adalah pejabat yang bertanggung jawab. Ia memiliki instruksi-instruksi yang harus dijalankan, dan secara resmi dianggap sebagai kepala afdeling. Namun hal ini tidak menutup kenyataan bahwa sang Bupati—dengan pengetahuan setempat, keturunan bangsawan, pengaruhnya atas rakyat, pendapatan yang besar, dan gaya hidup yang sepadan—berada jauh di atasnya. Selain itu, sang Bupati, sebagai wakil dari unsur bumiputra Jawa di daerahnya, dan dianggap berbicara atas nama seratus ribu jiwa—atau lebih—yang mendiami wilayah kabupatennya, juga dipandang oleh Pemerintah sebagai pribadi yang jauh lebih penting daripada pegawai Eropa biasa, yang ketidakpuasannya tak perlu ditakuti, sebab akan selalu ada banyak orang lain yang dapat menggantikannya. Namun, suasana hati seorang Bupati yang kurang baik bisa saja menjadi benih keresahan, bahkan menyulut pemberontakan.
Dari sinilah timbul keadaan yang ganjil, yakni bahwa yang sebenarnya berpangkat lebih rendah justru memerintah yang berpangkat lebih tinggi. Asisten Residen memerintahkan sang Bupati agar menyampaikan laporan kepadanya. Ia memerintahkannya untuk mengerahkan penduduk bekerja membangun jembatan dan jalan. Ia memerintahkannya agar memungut pajak. Ia memanggilnya untuk hadir dalam sidang pengadilan landraad,[87] yang dipimpinnya sendiri. Ia menegurnya jika ia lalai menjalankan tugas. Hubungan yang sangat khas ini hanya dapat berlangsung berkat bentuk-bentuk kesopanan yang amat tinggi, yang sekalipun demikian, tidak menyingkirkan kemungkinan adanya kehangatan hati—atau ketegasan, bila keadaan menuntut. Aku kira, nada yang harus dijaga dalam hubungan ini cukup tepat ditunjukkan oleh ketentuan resmi mengenai hal itu: pegawai Eropa hendaknya memperlakukan pejabat bumiputra yang mendampinginya, sebagaimana seorang memperlakukan “adik laki-lakinya.”
Namun, ia jangan lupa bahwa si “adik laki-laki” ini sangat dicintai—atau ditakuti—oleh orangtuanya, dan bahwa dalam perselisihan yang mungkin timbul, usia sang kakak dapat diperhitungkan sebagai alasan untuk menyalahkannya, bila ia tidak cukup bijaksana atau bersikap lebih lunak dalam memperlakukan adiknya.
Kesopanan yang telah mendarah daging dalam diri para bangsawan Jawa—bahkan rakyat kecil Jawa pun jauh lebih sopan daripada orang Eropa dari kelas yang sama—membuat hubungan yang tampaknya sulit ini lebih tertanggungkan daripada yang dibayangkan.
Orang Eropa, selama ia terdidik baik dan bersikap halus, cukup membawa diri dengan kewibawaan yang bersahaja—dengan begitu, ia dapat yakin bahwa sang Bupati akan membantunya menyelenggarakan pemerintahan dengan mudah. Perintah yang menggugah rasa enggan—meskipun disampaikan dalam nada permohonan—akan dilaksanakan dengan ketelitian yang tak bercela. Perbedaan dalam hal kedudukan, kelahiran, dan kekayaan akan disisihkan oleh sang Bupati sendiri, yang mengangkat kedudukan si Eropa ke derajatnya, karena ia memandangnya sebagai perwakilan Raja Belanda. Maka, suatu hubungan yang, sepintas lalu, tampak seakan-akan melahirkan benturan, kerap kali justru menjadi sumber pergaulan yang menyenangkan.
Aku telah menyebutkan sebelumnya bahwa para Bupati semacam itu bahkan melebihi para pejabat Eropa dalam hal kekayaan—dan hal itu wajar adanya. Si Eropa, manakala diangkat untuk memerintah suatu afdeling seluas beberapa wilayah kekuasaan seorang hertog di Jerman, biasanya adalah orang setengah baya atau lebih tua, telah berkeluarga dan memiliki anak. Ia memangku jabatan demi penghidupan. Gajinya lumayan mencukupi, atau bahkan seringkali tak mencukupi, untuk memberi nafkah yang layak bagi keluarganya. Sedangkan sang Bupati adalah seorang Tumenggung, Adipati, bahkan kadang bergelar Pangeran—dengan kata lain, bangsawan berdarah biru Jawa. Baginya, soal utama bukanlah sekadar hidup, melainkan hidup sebagaimana lazimnya para ningrat yang dipandang tinggi oleh rakyat. Sementara si Eropa tinggal di sebuah rumah biasa, tempat tinggal sang Bupati kerap kali adalah kraton, istana yang di dalamnya mencakup banyak rumah, bahkan desa. Sementara si Eropa memiliki seorang istri dan tiga atau empat anak, sang Bupati menghidupi banyak istri beserta segala yang menyertainya. Ketika si Eropa bepergian, ia hanya ditemani beberapa pegawai secukupnya untuk memberi keterangan selama inspeksi; sedangkan sang Bupati diiringi ratusan pengiring yang oleh rakyat dipandang tak terpisahkan dari martabatnya yang luhur. Si Eropa hidup selayaknya warga biasa, sementara sang Bupati hidup—atau diharapkan hidup—laksana raja.
Namun semua itu tentu memerlukan biaya. Pemerintah Hindia Belanda, yang telah membangun kekuasaannya di atas pengaruh para Bupati itu, menyadari hal ini sepenuhnya. Maka sangat wajar jika penghasilan mereka ditingkatkan hingga pada taraf yang mungkin tampak berlebihan bagi orang Eropa, tetapi pada kenyataannya jarang sekali mencukupi untuk menutup seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan gaya hidup yang diharapkan dari seorang Kepala Daerah Pribumi yang demikian. Tidak jarang kita jumpai Bupati yang berpenghasilan dua ratus ribu—bahkan tiga ratus ribu—gulden setahun, namun tetap mengalami kesulitan keuangan. Hal ini diperparah oleh sikap boros yang nyaris bersifat kebangsawanan, kelengahan mereka dalam mengawasi para pembantu dan bawahannya, kegemaran berfoya-foya yang tak terkendali, dan—terutama sekali—penyalahgunaan keadaan ini oleh pihak Eropa.
Penghasilan para Kepala Daerah Jawa itu dapat dibagi ke dalam empat bagian. Pertama, gaji bulanan yang ditetapkan secara resmi. Kedua, sejumlah uang tetap sebagai ganti rugi atas hak-hak tradisional yang telah dialihkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Ketiga, bonus atau premi yang besarannya bergantung pada hasil produksi komoditas seperti kopi, gula, nila, kayu manis, dan sebagainya, di kabupaten mereka. Dan keempat, kuasa bebas atas tenaga dan harta milik para rakyat yang berada di bawah kekuasaan mereka.
Dua sumber pendapatan terakhir ini memerlukan sedikit penjelasan. Orang Jawa pada hakikatnya adalah petani. Tanah kelahirannya yang subur, yang menjanjikan panen berlimpah dengan kerja yang tidak terlalu berat, seakan-akan memanggilnya untuk bercocok tanam. Terutama sekali, ia menyerahkan hati dan hidupnya untuk menanami ladangnya, dan dalam hal itu, ia pun sangat terampil. Ia dibesarkan di tengah sawah, gagah, dan tipar,[88] sejak usia sangat muda telah menemani ayahnya ke ladang, membantu dengan bajak dan cangkul, membangun pematang dan saluran irigasi untuk mengairi padinya. Ia menghitung tahun berdasarkan musim panen, mengukur waktu dari warna bulir padi yang menguning di hamparan ladang. Ia merasa berada di rumah saat bekerja bersama para sahabat yang memotong padi bersamanya; ia mencari calon istri dari para gadis desa yang setiap senja menumbuk padi sambil menyanyi riang untuk melepaskan sekam dari beras. Harta ideal yang didambakannya adalah sepasang kerbau penarik bajak. Singkatnya, bagi orang Jawa, bertani menanam padi adalah seperti musim anggur bagi petani di tepi Rhein atau selatan Prancis.
Namun datanglah orang-orang asing dari Barat, yang menjadikan diri mereka sebagai tuan atas negeri ini. Mereka ingin mengambil keuntungan dari kesuburan tanahnya, dan memerintahkan penduduk untuk mencurahkan sebagian tenaga dan waktunya demi menanam komoditas lain, yang kelak akan memberi laba lebih besar di pasar-pasar Eropa. Untuk membujuk si petani kecil agar menurut, tak diperlukan siasat kenegaraan yang rumit. Ia taat pada para kepala adatnya; maka cukup dengan memikat hati para kepala adat ini, menjanjikan kepada mereka bagian dari keuntungan—dan berhasillah sudah.
Barangsiapa memperhatikan betapa hebatnya arus hasil bumi Jawa yang dilelangkan di Negeri Belanda, akan segera mengerti betapa ampuhnya siasat itu, walaupun ia tak akan menyebutnya luhur. Sebab, andai ada yang bertanya: apakah sang petani sendiri menikmati imbalan yang sepadan dengan hasil kerja sebesar itu? Maka aku hanya dapat menjawab: tidak. Pemerintah memaksanya menanam apa saja sekehendak mereka, menghukumnya bila ia menjual hasil taninya kepada pihak lain selain pemerintah, dan pemerintah jugalah yang menetapkan harga yang dibayarkan kepadanya. Ongkos pengiriman ke Eropa, melalui perantara sebuah badan niaga khusus yang diberi hak istimewa, amatlah tinggi. Sementara itu, uang sogokan—yang disamarkan sebagai “uang penyemangat”—bagi para kepala adat membebani harga beli, dan … karena pada akhirnya seluruh urusan ini harus menghasilkan keuntungan, maka satu-satunya jalan untuk meraih keuntungan itu adalah dengan membayar si Jawa tepat sejumlah yang cukup agar ia tak mati kelaparan—sebab jika itu terjadi, kekuatan produktif bangsa akan menyusut.
Para pegawai Eropa pun menerima semacam hadiah keberhasilan, sebanding dengan hasil panen yang telah dikumpulkan.
Memang, si Jawa yang malang itu dicambuk oleh dua kekuasaan sekaligus; sering ia dipaksa meninggalkan sawah ladangnya; dan tak jarang paceklik menjadi buah pahit dari semua kebijakan itu. Namun … berkibarlah dengan gembira bendera-bendera di Batavia, di Semarang, di Surabaya, di Pasuruan, di Besuki, di Probolinggo, di Pacitan, dan di Cilacap—pada tiang kapal-kapal yang mengangkut panen hasil bumi, yang kian memperkaya Negeri Belanda.
Kelaparan? Di tanah Jawa yang subur, makmur, dan diberkahi itu—kelaparan? Ya, Pembaca. Beberapa tahun silam, di kabupaten-kabupaten, seluruhnya mati kelaparan, para ibu menawarkan anak-anak mereka sebagai santapan. Para ibu memakan anak-anak mereka sendiri …
Namun sang tanah air akhirnya turut campur. Di ruang-ruang sidang para wakil rakyat, rasa tak puas pun bergema. Gubernur Jenderal kala itu terpaksa mengeluarkan perintah agar perluasan apa yang disebut sebagai “komoditas pasar Eropa” tak lagi diteruskan sampai menimbulkan kelaparan …
Di sanalah aku mulai merasa getir. Dan apa yang akan engkau pikirkan tentang seseorang yang dapat menulis ihwal semacam ini tanpa rasa getir?
Kini tinggallah bagiku membicarakan jenis pemasukan terakhir dan terpenting dari para kepala daerah pribumi: kekuasaan sewenang-wenang atas orang-orang dan milik para bawahannya.
Menurut keyakinan umum yang berlaku di hampir seluruh Asia, rakyat beserta segala miliknya adalah kepunyaan raja. Inilah pula yang terjadi di Jawa, dan para keturunan atau kerabat raja-raja dahulu senang sekali memanfaatkan ketidaktahuan rakyat, yang tak benar-benar paham bahwa Tumenggung atau Adipati atau Pangeran mereka kini hanyalah pejabat bergaji yang telah menjual hak dirinya dan hak rakyatnya demi penghasilan tertentu—dan bahwa jerih payah yang dibayar murah di kebun kopi atau ladang tebu kini telah menggantikan bentuk-bentuk pajak yang dulu ditarik oleh para penguasa atas rakyatnya. Maka, tidaklah aneh bila ratusan keluarga dari daerah jauh dipanggil untuk menggarap tanah milik bupati tanpa imbalan. Tidaklah aneh bila bahan pangan harus diberikan secara cuma-cuma untuk keperluan dapur istana sang Bupati. Dan bila sang Bupati menaruh minat pada kuda, kerbau, anak gadis, atau istri si lelaki jelata—siapa yang akan menganggap aneh bila ia menuntut penyerahan mutlak atas benda atau orang yang diinginkannya?
Memang ada beberapa bupati yang tidak terlalu menyalahgunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang. Mereka tidak menuntut lebih dari rakyat kecil kecuali apa yang mutlak diperlukan untuk mempertahankan martabat jabatannya. Namun ada pula yang melampaui batas, dan sama sekali tidak ada daerah yang benar-benar bebas dari pelanggaran semacam ini. Sulit—bahkan mustahil—untuk memberantas sepenuhnya penyimpangan ini, sebab ia telah berakar dalam-dalam pada watak penduduk itu sendiri, yang justru menjadi korbannya. Orang Jawa dikenal murah hati, terlebih bila berkaitan dengan pembuktian kesetiaan kepada pemimpinnya, kepada keturunan mereka yang dahulu ditaati oleh leluhur mereka. Ya, ia akan merasa bersalah jika tidak menyampaikan persembahan apa pun saat menghadap ke kraton tuannya. Persembahan semacam itu pun kerap kali tak bernilai tinggi, sehingga menolaknya justru akan dianggap sebagai penghinaan. Dalam banyak hal, kebiasaan ini lebih mirip dengan ungkapan kasih seorang anak yang menyatakan cintanya kepada sang ayah lewat pemberian kecil, ketimbang bentuk upeti yang dipungut secara sewenang-wenang oleh seorang tiran.
Namun … justru lewat kebiasaan yang manis ini, penghapusan penyalahgunaan kekuasaan menjadi terhalang. Seandainya alun-alun di depan kediaman sang bupati tampak terbengkalai, rakyat yang tinggal di sekitarnya akan merasa malu, dan dibutuhkan kuasa besar untuk mencegah mereka membersihkan alun-alun itu dan membuatnya layak bagi kedudukan sang bupati. Memberi bayaran atas kerja mereka justru akan dipandang sebagai penghinaan. Tapi di samping alun-alun itu—atau di tempat lain—terhampar sawah-sawah yang menanti dibajak, atau menanti saluran air yang harus dialirkan dari jarak bermil-mil jauhnya … Sawah-sawah itu milik sang bupati. Maka ia pun mengerahkan seluruh warga desa untuk mengolah dan mengairi tanahnya, padahal sawah milik mereka sendiri pun sama-sama membutuhkan perhatian … Inilah bentuk penyalahgunaan itu.
Pemerintah pun mengetahui hal ini. Dan siapa saja yang membaca lembaran-lembaran resmi yang memuat undang-undang, petunjuk, serta pedoman bagi para pegawai negeri, pasti akan mengagumi semangat kemanusiaan yang tampaknya hadir membimbing tangan-tangan yang merancangnya. Di mana-mana, para pegawai Eropa yang diberi wewenang memerintah di pedalaman diingatkan, bahwa salah satu kewajiban mereka yang paling mulia, untuk melindungi rakyat dari ketertundukan mereka sendiri dan dari ketamakan para Kepala Daerah Pribumi. Dan, seolah amanat umum ini belum cukup, para asisten residen, pada saat menerima jabatan pemerintahan di suatu afdeling, diwajibkan mengucapkan sumpah khusus bahwa mereka akan menganggap kepedulian yang bersifat kebapakan terhadap penduduk sebagai kewajiban utama mereka.
Sungguh, ini adalah panggilan yang luhur. Menegakkan keadilan, melindungi yang kecil dari yang berkuasa, menyelamatkan si lemah dari cengkeraman si kuat, merebut kembali anak domba si miskin dari kandang para perampok bertopeng kebangsawanan … Ah, betapa hati bisa bergelora oleh kenikmatan rohani saat membayangkan bahwa seseorang dipanggil untuk mengemban amanat yang begitu mulia! Dan siapa pun yang barangkali merasa tidak puas dengan tempat penugasannya atau gaji yang diterimanya di pedalaman Jawa, hendaklah ia menengadah kepada kewajiban luhur yang dipikulnya, kepada kenikmatan suci yang lahir dari penunaian tugas itu—dan ia pun tak akan lagi mendambakan imbalan lainnya.
Namun … kewajiban ini bukanlah perkara yang mudah. Pertama-tama, seseorang harus mampu menilai dengan tepat: di manakah suatu kebiasaan berakhir dan penyimpangan mulai mengambil tempat? Dan … di mana memang terdapat penyimpangan, di mana benar-benar telah terjadi perampasan atau kesewenang-wenangan, para korban sendiri kerap kali turut bersalah—entah karena sikap tunduk yang terlampau dalam, entah karena rasa takut, entah karena kurang percaya pada kehendak atau kuasa orang yang semestinya melindungi mereka. Semua orang tahu bahwa pegawai Eropa setiap saat bisa dipindahkan ke jabatan lain, sedangkan sang Bupati, sang Bupati yang berkuasa, tetap tinggal di sana.
Lagipula, betapa banyaknya cara untuk merampas milik seorang manusia miskin yang lugu! Bila seorang mantri[89] berkata kepadanya bahwa Bupati menginginkan kudanya, dan akibatnya hewan itu segera terlihat berada di kandang sang Bupati, maka hal itu sama sekali belum membuktikan bahwa ia tak berniat—oh, tentu saja tidak!—untuk membayar harga yang tinggi … kelak, pada waktunya. Bila ratusan orang bekerja di ladang seorang Kepala Daerah Pribumi tanpa menerima upah, dari hal itu sama sekali tak dapat serta-merta disimpulkan bahwa ia membiarkan hal itu demi keuntungan dirinya. Bukankah bisa jadi maksudnya justru hendak menyerahkan hasil panen itu kepada mereka, dengan pertimbangan yang penuh rasa kemanusiaan bahwa tanah miliknya terletak di daerah yang lebih baik, lebih subur daripada tanah milik mereka, dan bahwa kerja mereka di atas tanah itu akan memberikan hasil yang lebih berlimpah?
Lagipula, dari manakah pegawai Eropa harus mencari para saksi yang cukup berani untuk memberikan kesaksian melawan tuan mereka, sang Bupati yang ditakuti? Dan seandainya ia berani mengajukan tuduhan tanpa bukti yang cukup, di manakah letak hubungannya sebagai kakak, yang dalam hal ini telah melukai kehormatan adik kandungnya tanpa dasar? Di manakah kemurahan hati Pemerintah—Pemerintah yang memberinya penghidupan sebagai imbalan atas pengabdiannya—yang pastilah akan menarik kembali pemberian itu, akan memecatnya sebagai orang yang tidak cakap, bila ia dengan gegabah menaruh curiga atau melayangkan tuduhan terhadap seorang tokoh tinggi seperti seorang Tumenggung, Adipati, atau Pangeran?
Tidak, tidak—kewajiban itu bukanlah perkara yang mudah! Hal ini saja sudah cukup membuktikannya: bahwa kecenderungan para Kepala Daerah Pribumi untuk melampaui batas kewenangan mereka dalam mengatur tenaga dan milik rakyat yang mengabdi padanya diakui secara bulat di mana-mana … Bahwa semua Asisten Residen bersumpah untuk melawan kebiasaan tercela itu … dan bahwa, meskipun demikian, amat jarang terdengar ada seorang Bupati yang dituntut atas dasar kesewenang-wenangan atau penyalahgunaan kekuasaan.
Tampaknya memang ada kesulitan yang nyaris tak teratasi dalam melaksanakan sumpah itu: “Melindungi penduduk pribumi dari pemerasan dan penindasan.”
[1] Kopi pada abad ke-19 bukan sekadar hasil bumi, melainkan nadi perdagangan yang mengalir dari kebun-kebun tanam paksa di Jawa menuju ruang lelang Amsterdam.
[2] Hamburg—Kota pelabuhan besar di Jerman Utara, salah satu yang terkaya di Eropa. Pada abad ke-19, Belanda berperan sebagai “gerbang laut” bagi Jerman, sementara Jerman menjadi “mesin industri” bagi Belanda.
[3] Sistem Kontinental—Sistem embargo ekonomi yang diberlakukan oleh Napoleon Bonaparte pada awal abad ke-19, bertujuan memblokade Inggris dari perdagangan dengan daratan Eropa.
[4] Helgoland: Sebuah pulau kecil di Laut Utara yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan Inggris (hingga diberikan kepada Jerman pada 1890). Helgoland sering digunakan sebagai titik transit untuk penyelundupan barang ke Eropa daratan selama embargo perdagangan masa Napoleon.
[5] Lutheran—Sebutan bagi pengikut ajaran Kristen menurut Martin Luther (1483–1546), biarawan Jerman yang mengguncang Eropa pada abad ke-16.
[6] Kalverstraat—Jalan perbelanjaan paling terkenal di Amsterdam, Belanda.
[7] Nama ini sebenarnya bukanlah sekadar nama, melainkan karikatur atas orang Belanda yang kikir. Batavus menunjuk pada “Batavia,” sebutan klasik untuk Belanda maupun Batavia (Jakarta), yang memberi kesan “orang Belanda sejati,” tipikal, kaku, dan berpandangan sempit; sedangkan Droogstoppel secara harfiah berarti “tunggul kering,” kiasan bagi sosok kering hati, sempit pikiran, dan hanya mengejar keuntungan tanpa imajinasi maupun empati.
[8] Levant—Sebutan Eropa sejak abad pertengahan bagi wilayah di pesisir timur Laut Mediterania.
[9] Latin sejak lama menjadi bahasa Gereja dan teologi di Eropa; karena itu, pendidikan calon pendeta di Belanda menuntut penguasaan bahasa Latin.
[10] Reformasi pendidikan Belanda 1863 mengubah Sekolah Latin (Latijnse School) menjadi gimnasium (pendidikan klasik dengan bahasa Latin-Yunani) dan Hogere Burgerschool (HBS, ilmu modern dan bahasa praktis).
[11] Westermarkt—Alun-alun di pusat Amsterdam, dekat Westerkerk dan Prinsengracht; dahulu menjadi lokasi pasar dan kegiatan sosial kota.
[12] Aoristus Pertama—Istilah dalam tata bahasa Yunani kuno untuk bentuk lampau sederhana (aorist), yang umumnya dipakai untuk menyatakan suatu perbuatan sekali jadi, tanpa menekankan proses atau keberlanjutan. Disebut “Pertama” untuk membedakannya dari bentuk “Aoristus Kedua” yang memiliki perubahan akar kata kerja.
[13] “Plaît-il?”—Ungkapan dalam bahasa Prancis yang secara harfiah berarti “Mohon diulangi?”
[14] Baris pembuka dalam bahasa Yunani kuno dari epos Iliad karya Homeros, yang berarti “Nyanyikanlah kemarahan itu, wahai Dewi,” merujuk pada permintaan penyair kepada sang Dewi Musa untuk menyanyikan kisah murka Arkiles.
[15] Merujuk pada ungkapan terkenal dari sejarawan Yunani Herodotos, yang menggambarkan betapa pentingnya Sungai Nil bagi kehidupan dan kebudayaan Mesir kuno.
[16] Scaevola—Julukan bagi Gaius Mucius Cordus, pahlawan Romawi abad ke-6 SM yang, setelah gagal membunuh Raja Etruria Lars Porsena, dengan berani membakar tangannya sendiri sebagai tanda keteguhan tekadnya.
[17] Kapelsteeg berarti “Gang Kapel,” sebuah lorong sempit di pusat Amsterdam, dekat kawasan perniagaan dan area prostitusi De Wallen.
[18] Puisi ini kemungkinan terkait dengan pengalaman pribadi Multatuli. Pada masa mudanya ia pernah bertunangan dengan Caroline Versteegh, namun pertunangan itu dibatalkan oleh ayah Caroline meskipun Multatuli rela berpindah agama demi restu.
[19] Artinya: Terlalu melayang-layang dalam lamunan.
[20] “Kembang kol” atau “bangau”—Berasal dari dongeng Belanda untuk menjelaskan kepada anak-anak asal-usul bayi, mirip dengan cerita “diantarkan oleh tukang sayur dalam kembang kol” atau “dikirim oleh burung bangau” dalam tradisi Eropa.
[21] “Volewijck”—Daerah di seberang Amsterdam yang pada abad ke-16 terkenal sebagai tempat eksekusi publik, dengan tiang gantungan yang terlihat dari jauh.
[22] “Doctrina”—Singkatan dari Doctrina et Amicitia, sebuah perkumpulan baca dan debat yang berdiri di Amsterdam pada abad ke-19, beranggotakan laki-laki dewasa, terutama kalangan terpelajar dan borjuis.
[23] Dua ungkapan dalam bahasa Latin yang menyindir cara belajar atau berpikir yang dangkal. Multa, non multum berarti “banyak (hal), tapi tidak mendalam.” De omnibus aliquid, de toto nihil berarti “hanya sepotong-sepotong tentang segalanya, tapi tidak sepenuhnya tentang apa pun.”
[24] Horror vacui (Latin: “takut akan kekosongan”)—adalah gagasan kuno, terutama dari Aristoteles, bahwa alam tidak mengenal ruang hampa: setiap kekosongan pasti terisi.
[25] Gerak abadi (perpetuum mobile) adalah mesin yang konon bergerak tanpa henti, penyudutan lingkaran adalah usaha sia-sia menyamakan luas lingkaran dengan bujur sangkar hanya dengan jangka dan penggaris, sedangkan persoalan akar kuadrat bilangan tak rasional mengungkap kegelisahan Yunani kuno saat berhadapan dengan bilangan yang tak dapat dinyatakan sebagai pecahan sederhana.
[26] Émile, atau Tentang Pendidikan karya Jean-Jacques Rousseau (1762) adalah traktat pendidikan yang menekankan perkembangan alami anak.
[27] Sirius adalah bintang paling terang di langit malam, tetapi bukan pusat tata surya. Dalam sejarah astronomi kuno, beberapa teori spekulatif sempat menganggap Sirius penting dalam kosmologi atau astrologi, meski secara ilmiah pusat tata surya adalah Matahari.
[28] August Lafontaine (1758–1831) adalah novelis populer Jerman yang kerap menulis kisah-kisah sentimentil tentang cinta, pengorbanan, dan penderitaan. Novel-novelnya sering menampilkan tokoh yang sakit-sakitan atau wafat muda, sehingga dibaca luas pada masa ketika tuberkulosis (TBC) dianggap sebagai “penyakit romantis.”
[29] Pengadilan Tuhan (Belanda: godsgericht) dalam bahasa Inggris dikenal juga sebagai ordeal (Latin: iudicium Dei, “pengadilan Tuhan”), praktik peradilan di Abad Pertengahan di mana tertuduh diadili melalui ujian fisik—seperti api, air, atau duel—dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyingkap kebenaran melalui hasil ujian tersebut.
[30] Pietisme adalah gerakan keagamaan Protestan abad ke-17 yang menekankan kesalehan pribadi; Mesmerisme merujuk pada teori “magnetisme hewan” Franz Anton Mesmer abad ke-18 yang diyakini dapat menyembuhkan; sedangkan meja berguncang adalah praktik spiritual abad ke-19 di mana meja diyakini bergerak sendiri sebagai sarana komunikasi dengan roh.
[31] Keyakinan bahwa “angin” dapat menyebabkan penyakit meluas di Eropa hingga abad ke-19.
[32] Masalah penentuan garis bujur di laut merupakan persoalan besar dalam navigasi hingga abad ke-18. Tak seperti garis lintang yang mudah ditentukan dengan posisi matahari atau bintang, garis bujur memerlukan pengukuran waktu yang sangat tepat.
[33] Perkusi pada granat tangan merujuk pada mekanisme peledakan dengan pemicu benturan. Tulisan tahun 1847 ini mendahului upaya pembunuhan Napoleon III dengan bom tangan perkusi oleh Felice Orsini pada 1858.
[34] Kitab-kitab apokripal—Teks-teks keagamaan Yahudi-Kristen kuno yang tidak dimasukkan ke dalam kanon resmi Alkitab karena diragukan keasliannya, namun tetap berpengaruh dalam sejarah tafsir dan tradisi rohani.
[35] Solon (abad ke-6 SM) adalah pembuat hukum Athena; Lycurgus (tokoh legendaris Sparta) dianggap menyusun hukum Spartan; Zarathustra (1000–600 SM) adalah pendiri Zoroastrianisme dengan ajaran moral-religius; sementara Konfusius (551–479 SM) menekankan etika, harmoni sosial, dan tata laku sebagai dasar tatanan masyarakat.
[36] Gemütlichkeit—Istilah Jerman yang mengacu pada suasana hangat, akrab, nyaman, serta penuh rasa kekeluargaan dan ketenteraman batin; lebih dari sekadar “kenyamanan,” ia mencakup rasa kebersamaan dan keintiman sosial.
[37] Edda—kumpulan naskah Islandia abad pertengahan berisi mitologi dan kepahlawanan Skandinavia.
[38] Schiller (1759–1805) dan Goethe (1749–1832) dianggap puncak sastra Jerman klasik; karya-karya mereka dipuja sebagai lambang keagungan budaya Jerman, khususnya di kalangan kelas menengah abad ke-19 yang menjadikan keduanya simbol moral, intelektual, dan identitas nasional.
[39] Huruf “A ganda” (αα) dan huruf “eta” (η) dalam bahasa Yunani Kuno sering menimbulkan kebingungan dalam pengucapan maupun penyalinan teks klasik; “A ganda” dapat menandai vokal panjang yang kemudian berkembang menjadi diftong, sedangkan “eta” awalnya dilafalkan sebagai /h/ sebelum berubah menjadi vokal panjang /ē/ dalam dialek Attika.
[40] Insulinde—Sebuah sebutan puitis yang digunakan orang Belanda, terutama peranakan, pada abad ke-19 untuk menyebut Kepulauan Hindia Belanda. Berasal dari bahasa Latin insulae Indiae (Kepulauan Hindia), istilah ini menunjuk pada gugusan nusantara yang luas, meliputi wilayah Indonesia sekarang.
[41] Ephelkustik—Istilah tata bahasa untuk bunyi tambahan di akhir kata, biasanya berupa vokal, guna memudahkan pelafalan.
[42] Pelihat (Ibrani: rō’eh, dari akar kata ra’ah yang berarti “melihat”) adalah sebutan lain bagi seorang nabi. Istilah pelihat menekankan kemampuan seorang utusan Allah untuk “melihat” hal-hal rohani yang tersembunyi dan memahami kehendak ilahi.
[43] Edward Somerset, Marquis Worcester II (1601–1667), menulis The Century of Inventions pada tahun 1655, yang diterbitkan pada tahun 1663. Buku ini mencatat lebih dari seratus penemuan, termasuk mesin uap yang dikenal sebagai “water-commanding engine”(mesin pengatur air).
[44] Beberapa Suku Batak pada masa lalu dikenal melakukan kanibalisme, ritual untuk menyerap kekuatan musuh atau terhadap anggota yang dianggap tak produktif. Sedangkan Alfur adalah istilah kolonial Belanda abad ke-19 untuk penduduk pribumi wilayah timur Nusantara (Maluku, Sulawesi, Halmahera, dan sekitarnya).
[45] Pierre-Jean de Béranger (1780–1857) adalah penyair dan penulis lagu Prancis yang sangat populer pada abad ke-19. Karyanya kerap menyuarakan nasib kaum jelata, satire politik, dan kritik sosial.
[46] Sensiblerie (dari Prancis sensibilité) dan empfindelei (dari Jerman empfindsamkeit) adalah istilah untuk bentuk kepekaan atau sentimentalitas yang berlebihan; Sensiblerie merujuk pada kepura-puraan emosional, sedangkan Empfindelei menunjukkan sensitivitas yang manja atau terlalu larut dalam perasaan.
[47] Serikat rahasia orang-orang Cina, seperti Triad atau Tianti Hui, adalah organisasi bawah tanah yang muncul sejak abad ke-18 hingga ke-19. Mereka sering menggabungkan tujuan sosial, politik, dan keagamaan, terkadang memberontak melawan penguasa atau berperan dalam perdagangan dan perlindungan komunitas Cina di luar daratan Cina.
[48] Mengacu pada Wayang Potehi (dari Hokkien 布袋戲, “wayang kantong kain”)—Pertunjukan wayang tangan Tionghoa di Hindia Belanda, dimainkan oleh dalang dengan boneka di tangan, berbeda dari wayang kulit di Jawa.
[49] Thomas Robert Malthus (1766-1834)—Ekonom dan demografer Inggris, terkenal karena teorinya bahwa populasi manusia akan bertumbuh secara deret ukur sementara ketersediaan pangan hanya bertambah secara deret hitung, yang pada akhirnya akan menyebabkan kelaparan dan kemiskinan.
[50] Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung—Sebagian kitab-kitab dalam Alkitab Perjanjian Lama.
[51] Jus Primi Occupantis (Latin: “hak penguasa pertama”)—Prinsip hukum yang menyatakan bahwa orang yang pertama kali menempati atau menguasai sesuatu—misalnya tanah, benda, atau wilayah yang belum dimiliki orang lain—memperoleh hak kepemilikan atasnya.
[52] Jus Talionis (Latin: “hukum pembalasan”)—adalah prinsip hukum kuno yang menyatakan bahwa hukuman harus setimpal dengan kesalahan, sering diringkas sebagai “mata ganti mata, gigi ganti gigi.”
[53] Secara harfiah berarti “Lambang Heraldik Kota Bern,” simbol bergambar beruang yang menjadi identitas Kota Bern, Swiss.
[54] Aglaia adalah sebuah majalah mode dan kerajinan tangan wanita yang terbit di Belanda pada pertengahan abad ke-19. Isinya berupa pola-pola rajutan, sulaman, renda, serta artikel-artikel ringan yang ditujukan bagi kalangan perempuan borjuis.
[55] Dalam bahasa Belanda, raffineurs berarti penyuling/pemurni, sedangkan raffinade berarti gula rafinasi, hasil pemurnian. Penulis membuat plesetan dari profesi penyuling (raffineur) menjadi raffinadeur (gulawan), seolah para penyuling adalah orang yang berkutat bukan pada proses tapi pada hasil (gula itu sendiri).
[56] Ini juga permainan kata. Yang pertama berarti “penjahat licik,” geraffineerde schelm (secara kiasan: telah ‘dimurnikan’ kejahatannya, sehingga semakin licik), sedangkan yang kedua artinya absurd: “penjahat yang dimurnikan secara harfiah” (geraffinadeerde schelm)—tidak masuk akal.
[57] Pil Holloway adalah obat paten populer abad ke-19 ciptaan Thomas Holloway, (1800–1883), dijual untuk berbagai penyakit meski klaimnya berlebihan.
[58] Ketika Multatuli menulis Max Havelaar (diterbitkan 1860), penguasa Belanda adalah Raja Willem III, yang memerintah dari 1849 hingga 1890.
[59] Kalimat ini ditulis dengan nada ironi dan sindiran khas gaya Multatuli. Yang dimaksud bukanlah suatu kemampuan intelektual yang berarti, melainkan justru sebaliknya: Frits dianggap cerdas hanya karena memiliki daftar kata-kata yang mengandung huruf e ganda, sebuah prestasi yang dangkal dan remeh. Hal ini sesuai dengan kecenderungan tokoh narator (Droogstoppel) yang selalu meremehkan Frits, anak lelakinya.
[60] Lange Leidsche Dwarsstraat (atau Lange Leidsedwarsstraat)—Sebuah jalan kecil di Amsterdam, Belanda, yang terletak di distrik pusat kota dekat kawasan Leidsestraat—salah satu jalan utama dan ramai di Amsterdam.
[61] Jan van Speyk (1802–1831) adalah perwira Angkatan Laut Belanda yang menjadi pahlawan nasional karena meledakkan kapalnya di Antwerpen saat serangan pemberontak Belgia, memilih mati sebagai martir daripada menyerah.
[62] Anak lelaki Multatuli, di bagian lain disebut juga dengan “si Max kecil.” Nama aslinya adalah Jan Pieter Constant Eduard Douwes Dekker (1854–1930).
[63] “Nonnie” (atau “noni”) adalah sebutan akrab untuk seorang anak perempuan dalam keluarga keturunan Indo di Hindia Belanda. Nama asli anak perempuan Multatuli adalah Elisabeth Agnes Everdine Douwes Dekker (1857–1933).
[64] “Nona” (juffrouw), biasanya untuk perempuan muda yang belum menikah atau guru wanita, sementara “nyonya” (mevrouw), yakni perempuan menikah dari kalangan terpandang. Penyebutan “nona” dalam hal ini menunjukkan penolakan si narator terhadap status sosial istri si Lelaki Bersyal sebagai “nyonya,” karena dianggap tidak pantas mengingat latar belakang mereka.
[65] L’Indépendance Belge adalah sebuah surat kabar liberal yang terbit di Belgia, dikenal aktif dalam perdebatan politik dan kolonial pada abad ke-19. Multatuli pernah bekerja di surat kabar ini setelah melarikan diri ke Brussels pada tahun 1857 untuk menghindari para kreditornya.
[66] Pemindahan ibukota pusat pemerintahan Kabupaten Lebak dari Warunggunung ke Rangkasbitung terjadi pada tahun 1851.
[67] Jalan besar ini menghubungkan Pandeglang dengan Lebak, dua wilayah di Banten. Pada masa itu, “jalan besar” bisa berarti apa saja yang dapat dilalui kereta kuda, meskipun kondisinya sangat jauh dari layak.
[68] Istilah Eropa untuk pengurus kuda, biasanya yang menyiapkan, merawat, dan mendampingi kuda, namun tidak berlari di sisi kereta. Karena itu Multatuli menegaskan bahwa para pengiring kereta di Hindia tidak ada padanannya yang tepat di Eropa.
[69] Yang dimaksud ialah Jalan Raya Pos (Grote Postweg), jalan utama yang dibangun oleh Gubernur Jenderal H. W. Daendels pada 1808–1811, membentang sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan.
[70] Corps de logis—Istilah Prancis yang merujuk pada bangunan utama dalam suatu kompleks kastil atau rumah bangsawan, yang menjadi pusat aktivitas dan tempat tinggal pemiliknya.
[71] Katedral Köln (Kölner Dom)—Gereja bergaya Gotik yang megah di kota Köln, Jerman.
[72] Gerhard von Rile (atau Ryle)—Secara tradisional dianggap sebagai arsitek pertama Katedral Köln, meskipun bukti sejarah tentang dirinya sangat terbatas.
[73] Arsitek dan pematung Jerman dari abad ke-13 yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama di balik pembangunan Katedral Strasbourg.
[74] Raden Adipati Karta Natanegara—Bupati Lebak ke-2, menjabat dari tahun 1837 hingga 1865. Semula ia adalah seorang demang di Jasinga, Bogor. Setelah berhasil membantu Belanda memadamkan pemberontakan Nyi Mas Gamparan (1829-1830), ia diangkat sebagai Bupati Lebak, menggantikan Pangeran Sendjaja.
[75] Satuan panjang kuno yang digunakan di Hindia Belanda. Satu pal setara kurang lebih dengan 1,5 kilometer.
[76] Afdeling (afdeeling, dalam bahasa Belanda)—Pembagian administratif pada masa Hindia Belanda yang setara dengan kabupaten. Seorang Asisten Residen bertanggung jawab atas sebuah afdeling di bawah Residen.
[77] Kontrolir (controleur, dalam bahasa Belanda)—pejabat Belanda tingkat menengah dalam struktur pemerintahan kolonial yang bertugas mengawasi jalannya administrasi di wilayah kecil, sering menjadi penghubung langsung antara pejabat bumiputra (seperti bupati) dan pemerintah kolonial.
[78] Pied-à-terre—Istilah dalam bahasa Prancis yang berarti tempat singgah sementara—biasanya berupa tempat kecil dan sederhana, bukan kediaman tetap.
[79] Istilah “Hindia Belanda” (Nederlandsch-Indië) adalah sebutan resmi yang digunakan pemerintah kolonial Belanda untuk menyebut wilayah jajahannya di kepulauan Nusantara. Penulis menyiratkan bahwa penggunaan kata “Belanda” kurang tepat, karena wilayah jajahan ini dalam banyak hal berbeda secara hakiki dari negeri induknya.
[80] Prefek atau Prefecten (Préfet dalam sistem Prancis): Istilah yang diserap untuk menggambarkan peran residen sebagai gubernur wilayah administratif.
[81] Dewan Hindia (Raden van Indie) adalah dewan penasihat yang telah disebutkan sebelumnya, yakin badan penasihat tinggi dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
[82] Graaf (jamak: graven)—Gelar kebangsawanan dalam Kekaisaran Romawi Suci Jerman (962–1806), setara dengan count di Inggris. Variasinya antara lain: Ryksgraaf (imperial count), Markgraaf (penguasa wilayah perbatasan), Gaugraaf (penguasa distrik), dan Burggraaf (penguasa kota benteng, kelak setara dengan viscount atau vicomte).
[83] Jabatan administratif Kekaisaran Romawi, biasanya dipegang oleh komandan militer yang juga bertindak sebagai penguasa daerah jajahan.
[84] Hertog (atau herzog dalam bahasa Jerman), di Inggris dikenal sebagai duke, adalah gelar kebangsawanan tertinggi di Eropa. Seringkali juga disebut “adipati” di Indonesia.
[85] Bahasa Belanda yang secara harfiah berarti “bangsawan merdeka”; dalam bahasa Jerman disebut freiherr.
[86] Graafschap (atau Grafschaft dalam bahasa Jerman) secara harfiah berarti “wilayah graaf.”
[87] Landraad (secara harfiah berarti “Dewan Negeri”) adalah pengadilan negeri pada masa Hindia Belanda yang menangani perkara perdata dan pidana untuk “orang pribumi” serta perkara pidana untuk “orang asing non-Eropa.” Dalam praktiknya, Bupati duduk sebagai salah satu anggota majelis bersama asisten residen (sebagai ketua) dan penasihat hukum.
[88] Gagah dan tipar merujuk pada metode pertanian berpindah-pindah lahan, yang bergantung pada musim untuk mengairi lahannya, berbeda dengan sawah yang mengandalkan sistem irigasi.
[89] Mantri—Pejabat lokal tingkat bawah dalam struktur pemerintahan kolonial atau feodal di Hindia Belanda, yang biasanya berfungsi sebagai perantara antara rakyat dan penguasa daerah seperti Bupati.