BUKU 1
- Dari kakekku, Verus,[1] kuwarisi watak bangsawan dan perasaan yang stabil.
- Dari reputasi ayahku dan apa yang kuingat darinya,[2] kuwarisi kesopanan dan sikap ksatria.
- Dari ibuku,[3] kuwarisi kesalehan dan sikap murah hati, dan menjauhi bukan hanya perbuatan buruk, tapi bahkan menjauhi pikiran ke arah itu; dan kesederhanaan jalan hidupnya jauh dari gaya hidup orang kaya.
- Dari kakek buyutku,[4] bahwa aku tak pernah masuk sekolah umum, tapi mendapatkan manfaat dari guru-guru yang baik di rumah, dan akhirnya menyadari bahwa pendidikan adalah hal yang tidak boleh kita abaikan.
- Dari tutorku,[5] aku diajari untuk tidak berpihak pada si Hijau atau si Biru (dalam balapan kereta kuda) atau para gladiator baik yang bertameng panjang maupun pendek; diajari agar teguh menahan cobaan dan tidak meminta banyak hal; agar aku melakukan berbagai hal demi diriku sendiri dan tidak campur tangan urusan orang lain; dan tidak mempedulikan omongan fitnah.
- Dari Diogenetus,[6] aku diajari agar tidak terobsesi pada hal-hal remeh, dan tidak percaya pernyataan para penjual keajaiban dan penipu tentang khasiat pembacaan mantra dan pengusiran setan dan semacamnya, tidak ikut terlibat dalam perkelahian kecil atau terpancing pada yang semacam itu; menghargai ucapan polos; mengakrabkan diri dengan filsafat, dan pertama menghadiri ceramah Baccheius, kemudian Tandasis dan Marcianus; menulis karangan ketika masih bocah; tidur cukup beralaskan tikar kulit binatang—pokoknya mengikuti segala jenis disiplin ala Yunani.
- Dari Rusticus,[7] aku dapatkan ide bahwa karakterku perlu dikoreksi dan dikembangkan; dan darinya aku belajar untuk tidak mudah melenceng dari jalanku gara-gara pengaruh pidato, dan tidak menulis risalah tentang masalah-masalah yang murni teoretis, atau menyampaikan ceramah moralistis, atau memainkan peran asketis dan dermawan demi memancing pujian, tidak berkhotbah atau membaca sajak, tidak bermanis lidah, dan tidak berjalan keliling rumah pakai jubah seremonial, atau asyik dalam bentuk kesombongan lainnya; menulis surat pakai gaya yang tidak berbunga-bunga, seperti ketika ia, Rusticus, menulis kepada ibuku dari Sinuessa; sambil menyampaikan salam pada mereka yang membuatku marah atau menyalahiku, agar aku ingat pada kerangka pikirku, dan dengan mudah berdamai segera setelah mereka bersedia bergerak ke arahku; membaca secara saksama dan penuh perhatian, dan tidak mudah puas dengan kesan permukaan; tidak terlalu mudah setuju pada mereka yang berlidah licin, dan akhirnya melalui dialah aku mengenal Diskursus karya Epictetus, setelah meminjamiku buku itu dari koleksi perpustakaannya sendiri.
- Dari Apollonius,[8] kupelajari kebebasan batin, dan bersikap tegas tanpa takut risiko; tidak mencari pemandu selain rasio, meski hanya sebentar; tetap tak berubah menghadapi kepedihan mendalam, setelah ditinggal mati seorang anak, atau selama sakit berkepanjangan; melihat jelas dari teladan beliau bahwa seorang pribadi bisa amat sangat bertenaga sekaligus santai; menulis sebuah pernyataan tidak sambil tersinggung; dan melihat dalam dirinya seseorang yang sungguh menganggap betapa keterampilan dan kefasihan saat menyampaikan doktrin filosofis sebagai bakat paling rendah; dan belajar bagaimana orang harus menerima dari teman-temannya apa yang dianggap sebagai bantuan tanpa merendahkan diri sebagai akibatnya atau menunjukkan hambarnya sikap tak peduli.
- Dari Sextus,[9] kudapatkan kecenderungan sikap ramah dan contoh sebuah keluarga yang diatur oleh sang ayah; ide tentang apa artinya hidup serasi dengan alam; bersikap khidmat tanpa melebih-lebihkan, dan berhati-hati menghormati kepentingan para sahabat; sabar terhadap kaum tak terdidik dan mereka yang pendapatnya tidak didasari renungan metodis. Ia contoh orang yang bisa menyesuaikan diri dengan segala jenis orang, sehingga percakapannya lebih menarik meski tanpa kata pujian, sedangkan di saat bersamaan ia membangkitkan rasa hormat orang di sekitarnya. Menunjukkan penguasaan dan pendekatan metodis dalam mencari dan mengatur prinsip yang penting bagi kehidupan. Dan ia bahkan tak pernah menunjukkan tanda amarah atau hasrat berlebih lainnya, tampak sepenuhnya bebas kepentingan sekaligus penuh kasih sayang terhadap sesama; dan siap memberikan pujian tanpa mencolok perhatian, dan memiliki pengetahuan luas tanpa perlu memamerkannya.
- Dari Alexander sang ahli tata bahasa,[10] aku diajari agar tidak terlalu keras mengritik, dan tidak menginterupsi dan mengoreksi mereka yang canggung secara sosial atau mengucapkan sesuatu yang ganjil atau tak sesuai situasi, tapi lebih baik secara tangkas menyarankan ungkapan mana yang seharusnya dipakai sambil secara terbuka mendukung untuk menyampaikan satu jawaban atau penegasan lebih lanjut, atau bergabung dalam satu debat yang lebih mementingkan materi ketimbang diksi, atau menggunakan prosedur yang taktis demi menyarankan ungkapan yang benar secara tak langsung.
- Dari Fronto,[11] kudapatkan konsepsi tentang kebencian, hasrat menggebu, dan kemunafikan yang menyertai aturan absolut dan bahwa secara keseluruhan mereka yang kita anggap sebagai kaum bangsawan agak kekurangan rasa kelembutan hati sebagaimana wajarnya.
- Dari Alexander sang Platonis,[12] kudapati hikmah bahwa kita tidak boleh sering atau tanpa keadaan darurat bilang atau menulis surat pada siapa pun berbunyi ‘aku terlalu sibuk’, dan tidak seharusnya pula kita terus-menerus menghindari kewajiban yang dibebankan pada kita melalui hubungan sosial dengan alasan sedang banyak urusan.
- Dari Catulus,[13] aku diajari agar tidak menyepelekan kritik seorang teman, bahkan meski kritiknya mungkin tak masuk akal, tapi berusaha mengembalikan dia pada kerangka pikir biasanya; menyampaikan pujian murah hati pada para guru, sebagaimana Athenodotus dan Domitius, dan menunjukkan cinta yang tulus kepada anak-anak.
- Dari abangku Severus,[14] kupelajari cinta pada keluarga, pada kebenaran, pada keadilan, sehingga melaluinya aku mengenal Thrasea, Helvidius, Cato, Dio, Brutus, dan membangun ide tentang pembentukan fisik yang seimbang, dan tentang pemerintahan yang berdasarkan kesetaraan dan kebebasan berpendapat, dan monarki yang di atas segalanya menghargai kebebasan rakyat; dan darinya pula aku belajar menghormati filsafat secara konsisten dan tiada henti; dan siap membantu orang lain, menjadi dermawan; penuh dengan harapan positif, dan memercayai kasih sayang para teman; dan betapa ia akan sepenuhnya terbuka dengan mereka yang membawa dirinya pada sikap tak sepakat, dan bahwa teman-temannya tak pernah harus bergerak ke arah spekulasi tentang apa yang ia inginkan atau tidak ia inginkan, karena ia membuat kejelasan soal itu.
- Dari Maximus,[15] aku belajar menjadi majikan bagi diriku sendiri, dan tak pernah goyah dalam hal tekad; tampak berseri meski sedang sakit, atau saat mengalami kesulitan lain; contoh satu pribadi yang secara serasi menggabungkan kelembutan dan kekhidmatan; mulai bekerja menangani apa yang ada di hadapan tanpa mengeluh. Dan rasa percaya yang diilhami olehnya pada semua orang karena apa yang ia katakan sesuai dengan yang ia pikirkan, dan bahwa apa pun yang dilakukannya tak pernah didasari maksud buruk; tak pernah merasa kaget ataupun tak puas, dan tak pernah berbuat gegabah, atau mundur, atau putus asa, atau murung, dan tak pernah menunjukkan rasa takut pada orang lain, atau sebaliknya, pemberang dan pencuriga. Bermanfaat bagi sesama, siap memaafkan, dan bebas dari tipu daya; memberi kesan sebagai orang yang tak pernah menyimpang dari apa yang benar; dan betapa tak seorang pun pernah membayangkan bahwa Maximus memandang rendah dirinya, atau menganggap bahwa ia lebih baik daripada Maximus; dan ia selalu ceria.
- Dari ayah angkatku,[16] kupelajari bagaimana bersikap lemah lembut, tidak terpengaruh oleh penilaian, setelah menimbang secara matang; bebas dari segala kesombongan dalam soal penghargaan duniawi; semangat bekerja dan gigih; bersedia mendengar mereka yang mempunyai usulan apa pun demi keuntungan bersama, tak pernah lalai menghargai tiap orang sesuai apa yang layak mereka dapatkan; mengetahui melalui pengalaman tentang kapan harus bergerak maju dan kapan waktu bersantai; mewaspadai hubungan cinta sesama jenis; menghargai perasaan orang lain, dan betapa ia tak merasa perlu untuk selalu mendesak agar teman-temannya hadir dalam perjamuan di mejanya atau menemaninya dalam perjalanan, dan betapa mereka akan selalu mendapatinya dalam kondisi sama jika mereka tertahan oleh urusan lain. Dalam sesi persidangan di senat, ia memeriksa setiap pertanyaan dengan sangat saksama, dan bersabar, dan ini bukanlah cara beliau dalam memotong alur pertanyaan karena beliau puas dengan kesan pertama; memegang kuat pertemanan dan tak pernah berubah-ubah dalam hal kasih sayang, atau hanya hangat dalam waktu sesaat saja; bercukup diri dalam segala hal, dan menunjukkan wajah ceria kepada dunia; menatap lurus ke depan, dan bahkan merencanakan hal-hal terkecil jauh sebelumnya, tanpa perlu berkoar-koar soal rencana itu. Betapa beliau mengekang dukungan penuh publik dan segala jenis pujian selama berkuasa; dan perhatian yang terus-menerus ia curahkan terhadap kebutuhan imperium, dan penatalayanan pajak rakyat yang ia atur secara bijak, dan kesediaannya untuk menanggung kritik terhadap kebijakan ekonomi itu. Soal para dewa, ia terbebas dari ketakutan takhayul; dan soal rakyat, ia tidak memancing simpati dengan cara memenuhi keinginan khalayak tanpa peduli risikonya; tapi beliau bersikap moderat dalam segala hal, dan teguh pada pendirian, tak pernah jatuh pada sikap rendah ataupun bernafsu pada pakaian atau perhiasan mencolok mata.
Hal-hal yang mendukung kenyamanan hidup, yang banyak dianugerahkan Dewi Fortuna kepadanya, beliau gunakan tanpa perlu dipamerkan, tapi juga tanpa perlu merasa bersalah, demi menikmati semua yang tersedia tanpa sikap tak sensitif, sedangkan kalau itu semua tak tersedia ia juga tak merasa butuh. Tak seorang pun menyebut beliau seorang filsuf, atau seorang penjilat, atau kutu buku, tapi lebih sebagai pria yang dewasa dan cakap, yang tak tersentuh oleh pujian dan mampu dengan baik memisahkan antara urusan pribadi dan urusan orang lain.
Sebagai tambahan, ayahku punya rasa hormat yang tinggi pada para filsuf tulen, tapi terhadap para filsuf palsu ia juga tak menyatakan opini negatif berlebihan, dan ia juga tak diperbodoh oleh mereka; dan lebih lanjut, keterjangkauannya di mata rakyat banyak dan sikap ramahnya juga tak sampai membuat ia terkorbankan; dan betapa ia memperhatikan tubuhnya secara wajar tanpa membuat ia tampak terlalu tinggi menghargai kehidupannya sendiri atau terlalu peduli pada penampilan luar, tapi juga bukannya mengabaikan soal itu, sampai taraf tertentu, bahwa karena memperhatikan tubuhnya sendiri ia jarang membutuhkan bantuan dokter, atau obat-obatan, atau perawatan dari luar. Dan paling mengagumkan pula adalah kesediaannya mengalah tanpa rasa iri hati kepada mereka yang mempunyai kemampuan khusus, seperti keterampilan berbahasa ataupun pengetahuan hukum dan adat dan semacamnya, dan betapa ia melakukan yang terbaik demi meyakinkan bahwa masing-masing mereka beroleh pengakuan sesuai kelayakan di bidangnya; dan betapa ia akan selalu bertindak sesuai tradisi yang berlaku, tanpa memamerkan fakta bahwa ia sedang mengikuti tradisi yang berlaku. Lebih lanjut, ia tidak mudah terpengaruh ataupun angin-anginan, tapi tetap setia di posisi yang sama dan tindakan yang sama; dan setelah beberapa kali menderita serangan sakit kepala ia akan kembali pada tugasnya dengan semangat yang telah diperbarui; dan rahasianya tidaklah banyak, justru sangat sedikit, dan bahkan itu pun hanya berhubungan dengan urusan pemerintahan; dan ia menunjukkan kearifan dan sikap moderat dalam penyediaan tontonan publik, konstruksi bangunan, distribusi hadiah atau uang, dan semacamnya, hanya melihat ke arah apa yang harus dikerjakan, dan tidak ke arah reputasi yang akan didapatkannya setelah mengerjakan itu.
Tidaklah menjadi kebiasaannya untuk mandi bukan pada jam yang tepat, dan ia tidaklah begitu suka dengan bangunan megah, dan mengenai makanan ia tidak terlalu menganggap penting, demikian juga soal kain dan warna busana yang ia kenakan, atau daya tarik para budaknya. Pakaiannya dikirimkan dari kampung halamannya di Lorium, dan barang-barang lainnya berasal dari Lanuvium. Alangkah elok sikapnya terhadap sang pengumpul pajak di Tusculum, yang meminta maaf padanya, dan secara umum ia bersikap elok. Ia tak pernah kasar, atau tak mengenal maaf, atau arogan, dan tidak pula ia seorang pria yang mengkhawatirkan sesuatu; tapi segalanya direncanakan secara rinci, seolah tidak terburu-buru, dan dengan tenang, metodis, penuh tenaga, dan konsisten. Apa yang konon berlaku pada Socrates berlaku pula pada dirinya, bahwa ia bisa menikmati maupun menjauhkan diri dari semuanya itu; kemampuan yang jarang dimiliki orang, karena mereka terlalu lemah untuk meninggalkan kesenangan dan terlalu suka menikmati kenyamanan. Menunjukkan kekuatan dan daya tahan, dan menunjukkan kendali dalam kondisi berlebihan maupun berkekurangan, adalah tanda seorang pria yang memiliki karakter seimbang dan tak tertundukkan, sebagaimana ditunjukkan Maximus selama menderita penyakit di akhir hayatnya. - Berkat para dewa, aku mendapatkan kakek-nenek yang baik, orangtua yang baik, kakak perempuan yang baik, guru-guru yang baik, para rekan, relasi, dan teman yang baik, nyaris tanpa perkecualian; dan itu sudah mencakup kenyataan bahwa tak ada di antara mereka yang pernah secara khilaf kuzalimi, meski kecenderungan watakku sedemikian rupa sehingga aku akan berbuat dengan cara tertentu kalau situasi mendukung; tapi berkat kemurahan para dewa, tak ada satu dan lain hal yang menyebabkan aku harus menguji seberapa baik diriku dalam kondisi sulit. (Berkat para dewa) aku tidak lagi dibesarkan oleh gundik kakekku seperti dulu, dan bahwa aku mempertahankan kepolosan kanak-kanakku dan tak memainkan peran seorang pria sebelum tepat waktunya, bahkan menundanya sampai agak belakangan. (Berkat para dewa) aku berada di bawah asuhan seorang penguasa dan seorang ayah yang mampu membuang segala kecongkakanku, dan membimbingku agar memahami bahwa adalah mungkin untuk hidup di istana tapi sekaligus tak membutuhkan pengawal, atau jubah berhias bordiran, atau kandilabra dan patung-patung dan aneka hiasan status semacamnya, tapi adalah mungkin bagi seorang pangeran untuk membatasi diri pada sesuatu yang sangat dekat dengan gaya seorang penduduk biasa, tanpa merendahkan status diri sebagai akibatnya atau mengabaikan tugas apa pun yang harus dijalankan seorang penguasa demi kepentingan umum.
(Berkat para dewa aku) memiliki seorang adik laki-laki,[17] yang melalui karakternya mampu merangsangku untuk mengembangkan watakku sendiri, tapi di saat yang sama memberikan dorongan padaku melalui sikap menghargai dan kasih sayangnya; bahwa anak-anakku bukannya tanpa bakat atau cacat secara fisik; bahwa aku tidaklah lebih mahir dalam hal retorika, puisi, dan aktivitas waktu luang lainnya yang akan lebih kutekuni andai aku merasa bahwa aku sedang membuat kemajuan bagus; bahwa aku tidak lambat dalam mendorong para tutorku ke arah penghargaan yang tampaknya mereka dambakan, dan bahwa aku bukannya tidak merespon mereka dengan harapan bahwa karena mereka masih muda maka aku akan merespon lebih belakangan; telah mengenal Apollonius, Rusticus, Maximus, untuk secara jernih dan teratur membayangkan di benakku sendiri makna sejati dari hidup menyesuaikan diri dengan alam, sehingga sejauh manusia tergantung pada para dewa dan pada komunikasi, bantuan, dan ilham ilahiah, tak ada yang mencegahku dari hidup sesuai dengan alam, meski aku masih kekurangan dalam hal ini karena kesalahanku sendiri dan gagal memperhitungkan orang yang mengingatkanku dan—hampir bisa dibilang—adanya perintah dari para dewa.
(Berkat para dewa) tubuhku telah bertahan sepanjang waktu di tengah kehidupan milikku ini, bahwa aku tak pernah menyentuh Benedicta atau Theodotus,[18] tapi bahkan kemudian ketika aku terjerumus dalam hasrat cinta aku sembuh olehnya; bahwa meski aku sering marah pada Rusticus aku tak pernah mundur ke arah penilaian yang akan kusesali; bahwa meski ibuku ditakdirkan mati usia muda namun ia paling tidak menghabiskan tahun-tahun terakhirnya bersamaku, bahwa ketika aku ingin membantu seseorang yang kekurangan uang atau membutuhkan bantuan dalam hal tertentu aku tak pernah mempedulikan orang yang bilang bahwa aku tak punya cara melakukannya, dan bahwa aku sendiri tak pernah butuh mendapatkan bantuan dari orang lain; bahwa istriku[19] adalah wanita yang amat patuh, penuh kasih sayang, lurus, sehingga aku mempunyai pendidik yang cocok bagi anak-anakku, bahwa obat telah dihadiahkan kepadaku melalui mimpi, terutama penangkal muntah darah dan vertigo, dan bahwa aku menerima respon dari orakel di Caieta sehingga ketika aku membangun hasrat akan filsafat aku tetap tidak tergolong kaum filsuf, dan tidak pula aku duduk untuk melahap buku-buku atau mengembangkan silogisme atau menyibukkan diri dengan spekulasi tentang masalah-masalah di langit.
Untuk semua hal ini, bantuan para dewa dan dewi fortuna sangat dibutuhkan.
BUKU 2
Ditulis di tengah Suku Quadi di Sungai Gran[20]
- Katakan pada dirimu sendiri di awal hari, aku akan bertemu dengan orang-orang yang suka ikut campur, tak tahu terima kasih, kejam, suka berkhianat, pendengki, dan tak ramah. Mereka terkena cacat ini karena tak punya pengetahuan tentang baik dan buruk. Tapi aku, yang telah mencermati hakikat kebaikan dan melihat bahwa ini benar, dan mencermati hakikat keburukan dan melihat bahwa ini salah, dan juga melihat si pelaku keburukan itu sendiri, dan melihat bahwa tabiatnya mirip denganku—tidak karena ia berasal dari darah dan nasab yang sama tapi karena ia berbagi denganku baik dalam hal pikiran maupun porsi ketuhanan—maka aku tak bisa dicelakai oleh orang-orang ini, dan tidak pula aku marah dengan orang yang punya hubungan darah, tidak pula aku bisa membencinya, karena kami telah terlahir untuk bekerja bersama, seperti kaki, tangan, pelupuk mata, atau dua baris gigi di rahang atas dan bawah. Maka bekerja saling berlawanan satu sama lain bertentangan dengan alam; dan marah dengan orang lain dan berpaling darinya sama saja dengan bekerja melawannya.
- Intinya aku adalah raga dan sedikit napas dan pusat pengatur.[21] Taruhlah bukumu, jangan lagi kau kacaukan dirimu dengannya, itu tidak diperbolehkan; tapi sebaliknya, seolah kau kini di ambang kematian, pandang rendahlah ragamu—hanya darah dan tulang dan jaringan saraf, pembuluh vena, dan pembuluh arteri yang bersengkarut. Pertimbangkan pula macam apakah napas itu: aliran udara, dan tak selalu stabil, tapi setiap saat diembuskan dan ditarik kembali. Maka bagian ketiga darimu adalah pusat pengatur. Lihatlah materi dengan cara ini: kau seorang lelaki tua, jangan lagi perbolehkan bagian dirimu yang ini untuk bertindak sebagai budak, jangan lagi perbolehkan ini ditarik-tarik kesana-kemari seperti boneka, oleh dorongan naluri yang tak ramah, jangan lagi perbolehkan ini dikecewakan oleh situasi terkini atau mundur karena apa yang akan menimpanya di masa depan.
- Providensi meresapi ciptaan Tuhan; dan karya dewi fortuna tidak terpisahkan dari alam, tapi berjalinan dengan semua yang diatur oleh providensi. Segalanya mengalir dari sana, tapi hal yang mendasar pun terlibat di dalamnya, dan keuntungan seluruh semesta yang mana kau adalah bagian darinya. Kini untuk setiap bagian dari alam, yang baik adalah yang dibawa oleh prinsip pengatur semesta, dan yang berperan mempertahankan alam itu; dan semesta dipertahankan tidak hanya melalui perubahan elemen-elemennya, tapi juga melalui perubahan objek-objek yang terbentuk oleh persenyawaan unsur-unsur itu. Cukupkanlah dirimu dengan doktrin ini, jika demikian ia bisa disebut. Tentang rasa hausmu akan buku-buku, bercukuplah, sehingga kau tidak akan mati dengan keluhan di bibirmu, tapi dengan pikiran yang sungguh ceria dan berterima kasih kepada para dewa dengan setulus hatimu.
- Ingatlah seberapa lama kau telah menunda hal-hal ini, dan betapa sering kau mendapatkan kebaikan dari para dewa, tapi gagal memanfaatkannya. Tapi kini situasi begitu genting sehingga kau menyadari semesta macam apakah yang mencakup dirimu di dalamnya ini, dan dari pengatur semesta itu kau hadir sebagai sebuah emanasi; dan bahwa waktumu di sini sangat terbatas; dan, kecuali kau menggunakannya untuk menjernihkan kabut dalam pikiranmu maka momen itu akan pergi dan takkan pernah menjadi milikmu lagi.
- Di setiap jam, abdikanlah dirimu dalam sebuah semangat yang kukuh, sebagai seorang Romawi dan seorang manusia, demi memenuhi tugas di tangan dengan sebuah martabat yang sangat hati-hati dan tak terpengaruh secara emosional, dan dengan kasih pada sesama, dan kemerdekaan, dan keadilan; dan hadiahi dirimu dengan masa istirahat dari segala kesibukan. Dan kau akan mencapai ini jika kau melakukan setiap tindakan seolah kau adalah manusia terakhir, terbebas dari tiadanya tujuan dan penyimpangan dari hukum nalar, dan bebas dari kemenduaan sikap, cinta diri, dan ketidakpuasan dengan apa yang diberikan kepadamu. Kau melihat betapa sedikit kemampuan yang perlu dikuasai manusia jika ia hidup dalam ketenangan hidup dan tunduk pada dewa; karena para dewa sendiri tidak akan menuntut lebih dari orang yang memperhatikan baik-baik ajaran ini.
- Kau mengabaikan diri sendiri, mengabaikan diri sendiri, O jiwaku; dan tak ada saat yang tersisa untuk kau melakukan penghormatan pada dirimu sendiri. Karena hidup setiap orang hanyalah sebentar, dan bagianmu hampir berakhir, padahal kau tak punya penghormatan pada dirimu sendiri dan membiarkan kebahagiaanmu tergantung pada apa yang dialami oleh jiwa orang lain.
- Apakah kau terganggu oleh apa yang terjadi kepadamu dari luar? Kalau begitu berilah dirimu sendiri sedikit waktu senggang untuk mempelajari sesuatu yang baru dan berguna, dan berhentilah keluyuran tak tentu tujuan. Tapi setelah itu, kau juga harus waspada agar tidak melenceng dari jalur untuk kedua kalinya, karena itu sama bodohnya dengan mereka yang telah jadi lelah akan hidupnya sebagai akibat banyaknya kesibukan dan tak punya tujuan di mana mereka bisa menyalurkan setiap dorongan minat dan kesan.
- Jarang orang terlihat secara buruk karena ia gagal memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam jiwa orang lain, tapi mereka yang gagal memperhatikan gerakan jiwa mereka sendiri tergolong orang yang celaka.
- Pikirkanlah selalu poin-poin berikut ini: apakah tabiat semesta dan apakah tabiatku sendiri; dan bagaimana tabiatku berhubungan dengan tabiat semesta, dan jenis bagian apakah ini dari semesta; dan bahwa tak ada yang bisa mencegahmu—dalam segala yang kau lakukan dan kau katakan—dari hidup menyesuaikan diri dengan alam, yang mana kau adalah bagiannya.
- Theophrastus[22] bicara seperti filsuf tulen ketika ia bilang saat membandingkan berbagai kesalahan (karena orang bisa membuat perbandingan semacam itu ketika bicara dalam pengertian yang lebih atau kurang populer), bahwa kesalahan yang dilakukan bersama nafsu makan akan sesuatu adalah lebih parah dibanding kesalahan yang dilakukan melalui nafsu amarah. Karena ketika seseorang hilang kesabaran, ia seperti jadi tidak rasional lagi seiring kepedihan dan terbelitnya hati, tapi ketika ia berbuat khilaf melalui nafsu makan dan dikuasai oleh kesenangan, ia jadi agak longgar secara moral dan perbuatannya lebih tidak jantan. Maka Theophrastus benar, dan sedang bicara sebagaimana layaknya seorang filsuf, ketika ia menyatakan bahwa perbuatan buruk yang berhubungan dengan kesenangan lebih memancing hujatan dibanding yang berhubungan dengan kepedihan hati. Secara umum, dalam kasus yang disebut terakhir, si pelaku lebih seperti orang yang awalnya dilukai oleh orang lain dan luka itu menggiringnya ke arah amarah, sementara dalam kasus pertama ia terdorong melakukan kesalahan sebagai akibat kecenderungannya sendiri, terseret oleh nafsu makan agar melakukan sesuatu.
- Biarkan setiap tindakan, kata, dan pikiranmu adalah seperti tindakan, kata, dan pikiran orang yang bisa kapan saja pergi dari kehidupan. Tapi meninggalkan umat manusia tak perlu ditakuti, jika para dewa ada; karena mereka tidak akan melibatkanmu dalam segala hal yang buruk. Di sisi lain, jika para dewa tidak ada, atau jika mereka tidak mempedulikan urusan manusia, buat apa aku terus hidup di dunia yang tanpa dewa atau tanpa providensi? Tapi mereka ada, dan mereka menunjukkan kepedulian terhadap urusan manusia, dan menetapkan bahwa kemampuan untuk tidak pernah jatuh dalam kejahatan adalah sepenuhnya ada dalam kendali manusia; lagipula, jika ada keburukan bagi kita, mereka akan mengambil langkah juga untuk memastikan bahwa semua orang akan punya kuasa untuk tidak jatuh sebagai korbannya. Tapi jika sesuatu tidak membuat seseorang menjadi lebih buruk pada dirinya sendiri, bagaimana bisa itu membuat hidupnya lebih buruk? Tak bisa dipikir bahwa prinsip pengatur semesta—baik karena ketidakpedulian atau karena ia tak punya kuasa untuk melawannya atau meluruskannya meskipun ia tahu—akan membiarkan kondisi itu tetap bertahan; ia takkan pernah melakukan satu kesalahan berat demi memungkinkan kebaikan atau keburukan terjadi pada orang baik dan buruk tanpa pembedaan, karena tak punya kemampuan atau kecakapan untuk itu. Kini, hidup dan mati, kejayaan dan ketidaktenaran, kekayaan dan kemiskinan, terjadi pada orang baik dan orang buruk dengan takaran yang sama, bukan benar atau salah secara tersendiri; sehingga tak ada sesuatu yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk.
- Betapa cepat segala hal berlalu, baik benda di alam semesta maupun kenangan tentang mereka dalam arus waktu; dan pikirkan hakikat hal-hal yang kita sadari itu, terutama hal-hal yang memikat kita dengan janji kenyamanan, atau menakuti kita dengan pikiran rasa sakit, atau dinyatakan dengan pikiran kosong. Seberapa murah semua ini, seberapa tak berguna, kotor, rusak, mati—pastilah ini tergantung kemampuan nalar kita semata untuk menentukan; dan pertimbangkan pula siapakah orang-orang yang opininya dan suaranya ini menawarkan kejayaan dan aib; dan apa artinya mati, dan bahwa jika orang menimbang untuk mati dalam pengasingan, sambil menanggalkan semua kesan salah yang mengelilinginya melalui analisis rasional, orang takkan lagi menganggapnya sesuatu kecuali sebuah proses alam, dan jika seseorang takut pada proses alam maka ia tidak lain adalah seorang anak kecil, dan kematian, sungguh, bukan hanya sebuah proses alam namun juga bermanfaat bagi alam. Pikirkan pula bagaimana manusia menjalin kontak dengan Dewa, dan melalui bagian dari dirinya yang manakah, dan bagaimana bagian dari dirinya itu harus dilenyapkan jika ia menjalin kontak itu.
- Tak ada yang lebih memprihatinkan selain orang yang membuat gerak mengelilingi segala sesuatu dan, sebagaimana kata penyair, ‘mencari di kedalaman bumi’ dan berusaha membaca rahasia jiwa tetangganya, namun gagal menyadari bahwa sebenarnya ia cukup memegang erat roh penjaga[23] dalam dirinya saja, dan melayaninya dengan yakin; dan pelayanan ini untuk menjaga roh penjaga itu dari hasrat dan sikap tidak bertanggung jawab dan ketidakpuasan pada apa pun yang datang dari para dewa atau umat manusia. Karena apa yang datang dari para dewa layak dihormati karena nilai kebaikannya, dan apa yang datang dari manusia pastilah bernilai tinggi bagi kita karena kita berbagi tabiat bersama meski kadang bisa dibilang layak mendapatkan rasa kasihan kita pula, karena ketidakpedulian mereka akan baik dan buruk—sebuah kelemahan fisik yang tak kalah memedihkan dibanding kondisi yang membuat kita tak bisa membedakan antara hitam dan putih.
- Bahkan andai kau hidup selama tiga ribu tahun atau sepuluh kali lebih panjang, kau harus ingat ini, bahwa tak seorang pun kehilangan hidup kecuali yang sedang dijalaninya, dan tidaklah pula ia menjalani hidup kecuali yang telah dihilangkannya, sehingga hidup yang pendek ataupun yang panjang adalah sama saja. Karena masa kini setara dengan semua, dan apa yang sedang berlalu juga pastilah sama panjangnya, jadi apa yang bisa dihilangkan tidaklah lebih daripada satu momen, dan tak seorang pun bisa kehilangan masa kini ataupun masa depan, karena bagaimana bisa ia kehilangan apa yang tidak ia miliki? Jadi selalu ingatlah dua poin ini: pertama, bahwa segala hal yang ada di alam adalah sama dalam tinjauan keabadian dan berulang dalam siklus, dan oleh karena itu tak ada bedanya apakah seseorang melihat satu peristiwa selama seratus tahun atau dua ratus atau selamanya, dan kedua bahwa makhluk yang hidup paling panjang dan yang mati paling awal sama-sama menderita kehilangan yang sama, karena semata masa kinilah yang tidak mampu mereka raih, jika kasusnya sungguh seperti ini maka semua inilah yang ia punyai dan seseorang tak bisa kehilangan apa yang tidak ia punyai.
- ‘Segalanya adalah tergantung anggapanmu’. Karena kata-kata yang ditujukan kepada Monimus sang pengikut Sinis cukup jelas, maka jelas pula nilai ucapan itu, jika orang menerima makna yang tersirat, sejauh ini mengandung kebenaran.
- Manusia melakukan kekerasan kepada jiwanya sendiri di atas segalanya ketika kekerasan ini menjadi semacam bisul dan sejenis proses kerusakan di alam semesta. Karena menetapkan pikiranmu terhadap apa pun yang terjadi adalah menetapkan dirimu terpisah dari alam, yang di dalamnya meliputi hakikat segala hal lain. Kedua, jiwa kita melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri ketika ia berpaling dari orang lain atau bergerak melawannya dengan maksud menyebabkan kerugian baginya, sebagaimana terjadi pada mereka yang melampiaskan amarah; dan ketiga, ketika dikuasai oleh kesenangan atau kepedihan; dan keempat, ketika ia melakukan satu bagian dan mengatakan atau melakukan apa pun dengan kepura-puraan; dan kelima, ketika gagal mengarahkan tindakan atau dorongan apa pun ke arah tujuan tertentu yang baik, ia memasuki apa pun dengan cara yang tanpa tujuan dan kurang perhitungan, sedangkan bahkan tindakan yang paling tak penting harus dilakukan dengan mengacu pada tujuan akhir; dan tujuan bagi semua makhluk bernalar adalah menyesuaikan diri dengan nalar dan hukum yang ada di kota-kota paling terpandang dan nalar dan hukum pembentukan fisik.[24]
- Dalam kehidupan manusia, waktu keberadaan kita adalah satu titik, substansi kita terus-menerus berubah, indra kita tumpul, jalinan seluruh tubuh kita terancam kerusakan, jiwa kita selalu resah, takdir kita sama sekali tak terpahami, dan kejayaan kita rawan bahaya. Singkatnya, semua yang dimiliki oleh tubuh adalah sungai yang selalu mengalir, semua yang dimiliki jiwa hanyalah mimpi dan delusi, dan hidup kita adalah perang, satu persinggahan singkat di negeri asing, dan kejayaan kita bersifat fana. Jadi, apa yang bisa menjadi teman dan pemandu kita? Hanya ada satu, yaitu filsafat. Dan itu meliputi sikap melindungi roh penjaga dalam diri kita dari bahaya dan bebas dari keburukan, dan tak pernah ditundukkan oleh kesenangan dan kepedihan, dan memastikan bahwa ini bukannya tak terencana dan bukannya dengan maksud menyimpang atau berpura-pura, dan apakah orang lain berbuat atau tidak berbuat sesuatu tidaklah memengaruhinya, dan lebih lanjut ia menyambut baik apa pun yang terjadi padanya dan apa yang ditetapkan untuknya, sebagaimana ia keluar dari sumber yang darinya ia berasal, di atas segalanya ia menanti kematian dengan satu pikiran ceria, seolah itu tak lain adalah pembebasan elemen-elemen yang dengannya setiap makhluk hidup tersusun. Kini jika elemen-elemen itu sendiri terus-menerus berubah tanpa mengakibatkan keburukan, kenapa pula kita takut pada perubahan dan terurainya elemen-elemen itu? Karena ini bersesuaian dengan alam, dan apa pun yang serasi dengan alam tidaklah buruk.
[1] Marcus Annius Verus adalah politisi kenamaan Romawi berdarah Spanyol.
[2] Ayah Marcus diduga meninggal di tahun 124 M. Ketika Marcus baru berusia tiga tahun.
[3] Ibu Marcus adalah Domitilla Lucilla, wanita kaya dan terpelajar.
[4] Lucius Catilius Severus.
[5] Tidak disebutkan namanya. Mungkin seorang budak.
[6] Diogenetus adalah guru melukis Marcus.
[7] Rusticus adalah salah satu politisi terkenal saat itu, dan penganut filsafat Stoik pula.
[8] Apollonius: filsuf Stoik.
[9] Sextus: filsuf Platonis.
[10] Ahli tata bahasa dan sastra khususnya Homer.
[11] Fronto: politikus kenamaan dan orator, guru Marcus di bidang seni berpidato.
[12] Filsuf dan orator dari Seleucia.
[13] Cinna Catulus: guru Stoik.
[14] Severus menjadi konsul tahun 146 M, dan putranya menikah dengan putri Marcus.
[15] Maximus: gubernur Provinsi Afrika.
[16] Ayah angkat Marcus adalah Antoninus Pius, paman Marcus, seperti yang sudah tertulis di bagian pengantar.
[17] Lucius Aelius Verus, diadopsi bersama dengan Marcus oleh Antoninus Puis tahun 138 M.
[18] Benedicta atau Theodotus diduga adalah budak perempuan dan laki-laki di keluarga ayah angkatnya, Antoninus.
[19] Faustina: anak gadis Antoninus.
[20] Ini menandakan bahwa Buku ini (dan Buku 3) ditulis selama pengerahan kekuatan militer di Jerman, karena Quadi adalah salah satu suku yang berperang dengan pasukan Romawi di tahun 170-an.
[21] Pusat pengatur yang dimaksud adalah hēgemonikon (pikiran).
[22] Theophrastus menggantikan Aristoteles sebagai kepala Lyceum (peripatos) tahun 322 SM.
[23] Roh penjaga mewakili bukan sekadar ‘pusat pengatur’, namun juga elemen ilahiah dalam diri manusia, yaitu kapasitas nalar yang ditujukan ke arah pencapaian kebajikan atau kearifan, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
[24] Marcus menggabungkan dua ide sentral Stoik, bahwa kita semua bagian dari ‘tubuh’ kosmos (secara moral maupun fisik) dan juga sesama warga komunitas dunia.