Negeri Binatang Bab 1

Prakata

Edisi pertama buku Animal Farm menyediakan ruang untuk pengantar dari Orwell, sebagaimana ditunjukkan melalui penomoran halaman dalam naskah si pengarang. Pengantar ini tidak termasuk di dalamnya dan naskah ketikan tangannya baru ditemukan bertahun-​tahun kemudian oleh Ian Angus. Pengantar ini diterbitkan, dengan disertai pendahuluan dari Profesor Bernard Crick berjudul ‘Bagaimana Esai Bisa Dituliskan,’ di The Times Literary Supplement, 15 September 1972.

Kebebasan Pers

Pikiran tentang buku ini muncul, terutama soal gagasan pokoknya, di tahun 1937, tapi belum dituliskan sampai sekitar akhir 1943. Waktu buku ini dituliskan, jelas bahwa akan ada banyak kendala dalam hal penerbitannya (meskipun kurangnya buku yang beredar sekarang akan memastikan bahwa apa pun yang disebut sebagai buku akan ‘laris’), dan kenyataannya naskah buku ini sempat ditolak oleh empat penerbit. Hanya satu di antaranya yang punya motif ideologis. Dua penerbit di antaranya telah bertahun-​tahun menerbitkan buku-​buku anti-​Rusia, dan yang satu lagi corak politisnya tak kentara. Satu penerbit bahkan pada awalnya menerima buku ini, tapi setelah proses tahap awal ia memutuskan untuk menghubungi Kementerian Informasi, yang tampaknya telah memperingatkan, atau paling tidak menasihati secara keras, agar tidak menerbitkannya. Inilah intisari surat tersebut:

Saya menyebut adanya reaksi dari satu pejabat penting Kementerian Informasi soal Animal Farm. Harus saya akui bahwa pengungkapan opini ini membuat saya berpikir serius. Saya kini bisa melihat bahwa ini akan dianggap sebagai sesuatu yang sangat tidak dianjurkan untuk diterbitkan sekarang ini. Jika fabel ini ditujukan secara umum pada para diktator dan kediktatoran mereka, maka boleh saja diterbitkan, tapi fabel ini melingkupi, seperti saya lihat, perkembangan Soviet Rusia dengan rinci dan dua diktator mereka, dan ini hanya bisa diterapkan di Rusia, dengan mengesampingkan para diktator lain. Satu hal lagi: akan lebih bisa diterima jika kasta yang dominan dalam fabel itu bukanlah babi. Saya pikir pilihan soal babi yang menjadi kasta penguasa tak ragu lagi membuat banyak orang jadi tersinggung, terutama siapa pun yang cepat naik darah, seperti halnya publik Rusia.

* * *

Ini bukanlah gejala yang baik. Jelas bahwa tidak seharusnya sebuah lembaga pemerintah mempunyai kekuasaan sensor (kecuali sensor keamanan, yang tidak akan dibantah di masa perang) atas buku-​buku yang tidak secara resmi disponsori pemerintah. Tapi bahaya utama kebebasan berpikir dan berpendapat saat ini bukanlah hasil campur tangan Kementerian Informasi atau lembaga resmi mana pun. Jika para penerbit dan editor berusaha keras menghilangkan topik-​topik tertentu dari peredaran, ini bukan karena mereka takut akan dituntut, melainkan karena takut akan opini publik. Di negeri ini kepengecutan intelektual adalah musuh terbesar yang harus dihadapi seorang penulis atau wartawan, dan kenyataan itu tampaknya bagi saya belum cukup mendapat perhatian sebagaimana yang seharusnya.

Siapa pun yang berpikiran terbuka terhadap pengalaman jurnalistik akan mengakui bahwa selama perang ini sensor resmi belum terlalu ketat. Kita belum tunduk pada sejenis ‘koordinasi’ totalitarian yang cukup masuk akal jika diwaspadai. Pers punya keluhan-​keluhan tersendiri, tapi secara keseluruhan Pemerintah telah bersikap lunak dan amat sangat toleran terhadap opini minoritas. Kenyataan gelap tentang sensor pers di Inggris adalah bahwa sensor ini cenderung bersifat sukarela. Ide-​ide tidak populer bisa dibungkam, dan fakta-​fakta yang tidak menyenangkan disembunyikan, tanpa perlu adanya pelarangan resmi. Siapa pun yang pernah hidup lama di negeri asing akan tahu contoh-​contoh berita sensasional—hal-​hal yang secara intrinsik akan menjadi tajuk berita utama—yang ditolak oleh pers Inggris, bukan karena campur tangan Pemerintah melainkan karena persetujuan umum bahwa menyebut fakta soal itu tidaklah pantas. Sejauh menyangkut surat kabar harian, hal ini mudah dimengerti. Pers Inggris amat sangat sentralistik, dan sebagian besar darinya dimiliki oleh orang-​orang kaya yang punya alasan untuk bersifat tak jujur dalam berbagai topik penting. Tapi jenis sensor terselubung yang serupa juga berlaku dalam bidang buku dan terbitan berkala, sebagaimana juga dalam drama, film, radio. Di setiap waktu selalu ada ortodoksi, segugus ide yang diasumsikan akan diterima mentah-​mentah oleh orang berpikiran jernih. Tidaklah sepenuhnya dilarang mengatakan ini, itu, atau apalah, tapi ‘tidaklah layak’ mengatakannya, seperti halnya di pertengahan zaman Victorian ‘tidaklah layak’ bicara soal celana panjang di hadapan seorang wanita bermartabat. Siapa pun yang menantang ortodoksi yang sedang berjaya akan menghadapi dirinya dibungkam secara efektif. Opini yang tidak sesuai zaman hampir tak pernah diperdengarkan, baik oleh pers populer maupun terbitan berkala golongan terpelajar.

Pada momen ini apa yang dituntut oleh ortodoksi yang sedang berjaya adalah kekaguman kepada Soviet Rusia tanpa sifat kritis. Setiap orang tahu ini, hampir setiap orang bertindak berdasarkan hal itu. Kritik serius macam apa pun terhadap rezim Soviet, pembeberan fakta yang disembunyikan oleh pemerintah Soviet, hampir pasti tidak akan bisa dicetak. Dan konspirasi tingkat nasional yang memuja sekutu kita ini terjadi, anehnya, dilatarbelakangi oleh toleransi intelektual yang murni. Karena meski kau tidak diperbolehkan mengkritik pemerintah Soviet, paling tidak kau cukup bebas untuk mengkritik pemerintah kita sendiri. Hampir tidak akan ada yang mencetak tulisan yang menyerang Stalin, tapi menyerang Churchill cukup aman, paling tidak dalam buku dan terbitan berkala. Dan selama lima tahun perang, selama dua atau tiga tahun di mana kita berperang demi keberlangsungan hidup berbangsa, tak terhitung banyaknya buku, pamflet, dan artikel yang mengkhotbahkan kompromi perdamaian telah terbit tanpa halangan. Terlebih, itu semua diterbitkan tanpa menumbuhkan ketidaksetujuan. Sejauh prestise Republik Sosialis Soviet Rusia tidak dilibatkan, prinsip kebebasan berpendapat itu telah dipertahankan dengan cukup sehat. Ada topik-​topik terlarang lain, dan saya akan menyinggung beberapa di antaranya sekarang, tapi sikap umum terhadap Republik Sosialis Soviet Rusia menjadi gejala yang jauh lebih serius. Sikap ini bersifat spontan, dan bukan karena tekanan dari kelompok mana pun.

Ketundukan yang ditunjukkan sebagian besar kaum intelektual Inggris dalam menerima dan mengulangi propaganda Rusia sejak tahun 1941 dan seterusnya akan sangat mengherankan jika bukan karena mereka telah berperilaku seperti itu pada beberapa kesempatan sebelumnya. Di berbagai isu kontroversial yang susul-​menyusul, sudut pandang Rusia telah diterima tanpa diteliti lebih lanjut dan dipublikasikan dengan sepenuhnya tak mempedulikan kebenaran historis atau kemantapan intelektual. Sebut saja misalnya bagaimana BBC merayakan ulang tahun ke-​25 Tentara Merah tanpa menyinggung nama Trotsky. Ini tak ubahnya seperti memperingati Pertempuran Trafalgar tanpa menyebut Nelson, tapi tidak membangkitkan protes kalangan terpelajar Inggris. Dalam pergolakan internal di berbagai negara yang diduduki, pers Inggris hampir di setiap kasus berpihak pada faksi yang disukai Rusia dan mengecam faksi oposisi, kadang dilakukan sambil menekan materi yang menjadi bukti. Paling mencolok yakni kasus Kolonel Mihailovich, pemimpin Chetnik di Yugoslavia. Rusia, yang punya jagoan Yugoslavia sendiri dalam diri Marshal Tito, menuduh Mihailovich bersekongkol dengan Jerman. Tuduhan ini dengan cepat diangkat oleh pers Inggris: para pendukung Mihailovich tidak diberi kesempatan untuk menjawabnya, dan fakta-​fakta yang membantahnya tidak bisa muncul di media. Pada Juli 1943, Jerman menawarkan hadiah senilai 100.000 crown emas untuk menangkap Tito, dan hadiah serupa untuk menangkap Mihailovich. Pers Inggris ‘menggembar-​gemborkan’ hadiah untuk penangkapan Tito, tapi hanya satu surat kabar yang menyebutkan (dalam oplah terbatas) hadiah untuk Mihailovich; dan tuduhan bersekongkol dengan Jerman terus berlanjut. Hal-​hal yang sangat mirip terjadi selama perang saudara di Spanyol. Waktu itu pun faksi-​faksi yang berpihak pada pembentukan negara Republik yang hendak diberantas Rusia secara ceroboh difitnah pers sayap kiri Inggris [sic] dan pernyataan apa pun untuk membela mereka, bahkan dalam bentuk surat, ditolak publikasinya. Sekarang, bukan hanya kritik serius atas Republik Sosialis Soviet Rusia yang dipandang perlu dikecam, tapi bahkan kenyataan tentang eksistensi kritik itu dalam beberapa kasus dirahasiakan. Misalnya, tak lama menjelang kematiannya, Trotsky menulis biografi Stalin. Orang akan berasumsi bahwa itu bukan buku yang sama sekali tidak bias, tapi jelas bahwa buku itu akan laku dijual. Sebuah penerbit Amerika telah berencana menerbitkannya dan bukunya telah dicetak—saya percaya cetakan resensinya telah disebarluaskan—ketika Republik Sosialis Soviet Rusia ikut berperang. Buku itu segera ditarik kembali. Tak ada sepatah kata pun tentang buku ini disinggung-​singgung oleh pers Inggris, meski jelas bahwa keberadaan buku semacam ini, dan pelarangannya, adalah subjek berita yang perlu ditulis dalam beberapa paragraf.

Adalah penting membedakan antara jenis sensor yang ditanamkan kaum terpelajar literer Inggris atas diri mereka sendiri dengan sensor yang kadang dipaksakan oleh kelompok-​kelompok penekan tertentu. Topik-​topik tertentu, sayangnya, tak bisa didiskusikan karena ‘kepentingan pribadi.’ Kasus paling terkenal adalah jaringan ilegal obat paten. Kembali, Gereja Katolik dipandang berpengaruh dalam pers dan dalam taraf tertentu bisa membungkam kritik dengan sendirinya. Sebuah skandal yang melibatkan seorang pastor Katolik hampir tak pernah mendapatkan pemberitaan, sementara seorang pendeta Anglikan yang terjerumus masalah (misal Romo dari Stiffey) menjadi tajuk berita utama. Sangat jarang kecenderungan anti-​Katolik muncul di atas panggung atau dalam sebuah film. Aktor mana pun bisa bilang padamu bahwa sebuah drama atau film yang menyerang atau memperolok-​olok Gereja Katolik terancam diboikot pers dan mungkin akan menemui kegagalan. Tapi hal semacam ini tak berbahaya, atau minimal bisa dimaklumi. Organisasi besar mana pun akan menjaga kepentingannya sendiri sebisa mungkin, dan propaganda berlebihan bukanlah hal yang akan ditolak. Orang tak akan berharap bahwa Daily Worker menerbitkan fakta-​fakta tak terpuji soal Republik Sosialis Soviet Rusia, sebagaimana orang tak mengharap Catholic Herald akan mengecam Paus. Tapi semua orang yang bisa berpikir tahu siapa itu Daily Worker dan Catholic Herald. Apa yang meresahkan adalah bahwa sejauh menyangkut Republik Sosialis Soviet Rusia dan kebijakannya, orang tidak bisa mengharap kritik cerdas atau bahkan, dalam banyak kasus, kejujuran dari para penulis dan wartawan Liberal [sic—dan menyeluruh seperti ketikan manuskrip] yang tak berada di bawah tekanan langsung untuk menguji kekuatan opininya. Stalin harus tetap dijaga kesakralannya, dan aspek-​aspek tertentu kebijakannya tidak boleh didiskusikan secara serius. Aturan ini hampir secara universal diketahui sejak 1941, tapi pada kenyataannya telah berlaku, dalam taraf lebih besar dari yang kadang disadari, sejak sepuluh tahun sebelumnya. Sepanjang masa itu, kritik atas rezim Soviet dari kiri hanya bisa didengarkan secara susah payah. Ada banyak karya sastra anti-​Rusia, tapi hampir semuanya datang dari sudut pandang konservatif dan jelas-​jelas menipu, ketinggalan zaman, dan dibangkitkan oleh motif-​motif kotor. Di sisi lain, ada gelombang propaganda pro-​Rusia yang sama besar dan hampir sama menipunya, dan memicu boikot pada siapa pun yang mencoba mendiskusikan persoalan-​persoalan penting dengan cara dewasa. Kau memang bisa menerbitkan buku-​buku anti-​Rusia, tapi bisa dipastikan akan diabaikan atau disalahtafsirkan oleh hampir seluruh pers intelektual. Baik secara publik maupun pribadi kau diperingatkan bahwa ini ‘tidak boleh dilakukan.’ Apa yang kau katakan mungkin benar, tapi ini ‘tak menguntungkan’ dan ‘akan jadi sasaran empuk’ kepentingan pihak reaksioner ini atau itu. Sikap ini biasanya dipertahankan atas dasar tuntutan situasi internasional dan kebutuhan mendesak aliansi Inggris-​Rusia; tapi jelas bahwa ini adalah rasionalisasi. Kaum intelek Inggris, atau sebagian besar di antaranya, telah mengembangkan suatu kesetiaan nasionalistik terhadap Republik Sosialis Soviet Rusia, dan dalam hati mereka merasa bahwa menunjukkan adanya keraguan atas kearifan Stalin adalah sejenis tindakan yang patut dikutuk. Peristiwa di Rusia atau di mana saja dinilai dengan standar yang berbeda-​beda. Eksekusi tak berkesudahan dalam gerakan sapu bersih tahun 1936-​38 dipuji oleh para penentang seumur hidup hukuman besar, dan mempublikasikan bencana kelaparan yang terjadi di India dipandang sama layaknya dengan menyembunyikan fakta bencana itu andaikan terjadi di Ukraina. Dan jika ini benar terjadi sebelum perang, atmosfer intelektual sampai hari ini pun tidak lebih baik.

Tapi kini kita kembali ke buku saya ini. Reaksi mayoritas kaum intelektual Inggris terhadap buku ini cukup sederhana: ‘itu seharusnya tak diterbitkan.’ Tentu saja, para pengulas yang paham cara merendahkan tidak akan menyerangnya dengan dasar politis, tetapi dengan dasar literer. Mereka akan bilang ini buku membosankan, konyol, dan pemborosan kertas yang memalukan. Itu mungkin benar, tapi jelas tidak sesederhana itu. Orang tidak akan bilang sebuah buku ‘seharusnya tak diterbitkan’ hanya karena ia buku yang buruk. Bagaimanapun, bertumpuk-​tumpuk sampah dicetak setiap hari dan tak ada yang keberatan. Kaum terpelajar Inggris, atau sebagian besarnya, akan keberatan dengan buku ini karena bicara buruk soal Pemimpin mereka dan (seperti mereka lihat) menghambat kemajuan. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, mereka tidak akan bicara begitu, bahkan jika kesalahan literernya sepuluh kali lebih mencolok mata. Kesuksesan dari, misalnya, Left Book Club selama periode empat atau lima tahun menunjukkan betapa bersedianya mereka bertoleransi dengan makian jorok dan tulisan ceroboh, asalkan itu sesuai dengan apa yang ingin mereka dengar.

Isu yang terlibat di sini cukuplah sederhana: apakah setiap opini, betapa pun tidak lazimnya—betapa pun konyolnya—punya hak untuk didengarkan? Ungkapkan dengan cara itu, dan hampir setiap kaum terpelajar Inggris akan merasa bahwa ia harus bilang ‘Ya.’ Tapi berikanlah satu bentuk konkret, dan tanya, “Bagaimana dengan kecaman terhadap Stalin? Apakah itu layak didengarkan?’ dan jawabannya adalah lebih cenderung ‘Tidak.’ Dalam hal ini, pandangan ortodoks yang berlaku saat ini ditantang, dan dengan demikian prinsip kebebasan berbicara pun gugur. Nah, ketika orang menuntut kebebasan berpendapat dan pers, sebenarnya orang tak menuntut kebebasan absolut. Harus selalu ada, atau paling tidak akan selalu ada, sensor dalam taraf tertentu, selama masih ada yang disebut dengan tatanan masyarakat. Tapi kebebasan, seperti kata Rosa Luxembourg [sic] adalah ‘kebebasan untuk orang lain.’ Prinsip yang sama terkandung dalam kata-​kata terkenal Voltaire: ‘Aku benci apa yang kau bilang; tapi aku akan mempertahankan sampai mati hakmu mengatakan itu.’ Jika kebebasan intelektual, yang tak ragu lagi merupakan salah satu ciri khas peradaban Barat, punya satu makna, maka setiap orang harus punya hak untuk mengatakan maupun mencetak apa pun yang ia percayai sebagai kebenaran, asalkan hal itu tidak secara langsung merugikan masyarakat umum. Baik demokrasi kapitalis dan versi Barat atas Sosialisme sampai kini telah membenarkan prinsip itu. Pemerintah kita, seperti yang sudah saya tegaskan, masih menunjukkan rasa hormat atas prinsip itu. Khalayak luas—mungkin sebagian karena tidak begitu peduli pada ide-​ide—masih berkeyakinan bahwa ‘kukira semua orang punya hak berpendapat.’ Hanya—atau setidaknya sebagian besar—kaum intelektual sastra dan sains, yaitu orang-​orang yang seharusnya menjadi pengawal kebebasanlah, yang mulai merendahkannya, dalam teori maupun praktik.

Salah satu fenomena aneh zaman kita adalah kaum Liberal pemberontak. Di atas klaim familier Marxist bahwa ‘kebebasan borjuis’ adalah sebuah ilusi, kini ada kecenderungan umum untuk menganggap orang-​orang hanya bisa mempertahankan demokrasi dengan metode totalitarian. Jika orang-​orang menyukai demokrasi, kata argumen ini, ia harus menumpas musuh-​musuhnya dengan segala cara. Dan siapakah musuhnya? Tampaknya bukan hanya mereka yang menyerang demokrasi secara terbuka dan sadar, melainkan mereka yang ‘secara objektif’ membahayakannya dengan cara menyebarkan doktrin-​doktrin palsu. Dengan kata lain, mempertahankan demokrasi melibatkan penghancuran semua kebebasan berpikir. Argumen ini digunakan, misalnya, untuk membenarkan gerakan sapu bersih yang terjadi di Rusia. Bahkan pendukung Rusia yang paling fanatik pun hampir tidak percaya bahwa semua korban bersalah atas semua hal yang dituduhkan kepada mereka: tetapi dengan memegang pendapat yang menyimpang, mereka secara ‘objektif’ merugikan rezim, dan oleh karena itu dibenarkan untuk bukan hanya menjagal mereka namun juga mendiskreditkan dengan tuduhan palsu. Argumen yang sama digunakan untuk membenarkan secara sadar kebohongan yang dijalankan pers haluan kiri tentang para pengikut Trotsky dan minoritas Republikan lain dalam perang saudara Spanyol. Dan argumen ini kembali digunakan sebagai alasan untuk menggonggong melawan habeas corpus ketika Mosley dibebaskan tahun 1943.

Orang-​orang ini tidak melihat bahwa jika kau memberi angin pada metode totalitarian, akan datang masa ketika metode itu digunakan untuk melawanmu dan bukannya untuk membelamu. Buatlah kebiasaan untuk memenjarakan kaum Fasis tanpa diadili, dan mungkin bukan hanya kaum Fasis saja yang kena. Tak lama setelah Daily Worker yang diberedel itu terbit kembali, saya mengajar di Working Men’s College di London Selatan. Pesertanya adalah para intelektual kelas pekerja dan kelas menengah ke bawah—jenis peserta yang biasa ditemui di cabang-​cabang Left Book Club. Kuliah saya telah menyentuh persoalan kebebasan pers, dan akhirnya, yang membikin saya heran, beberapa pertanyaan diajukan pada saya: tidakkah saya berpikir bahwa pencabutan larangan atas Daily Worker adalah sebuah kesalahan besar? Ketika ditanya mengapa, mereka bilang bahwa ini adalah sebuah surat kabar dengan loyalitas meragukan dan seharusnya tidak ditoleransi selama masa perang. Saya dapati diri saya mempertahankan Daily Worker, yang pernah menjatuhkan fitnah pada saya lebih dari sekali. Tapi dari mana orang-​orang itu mendapatkan sudut pandang yang secara mendasar bersifat totalitarian ini? Pastilah mereka mempelajarinya dari para Komunis itu sendiri! Toleransi dan kesopanan berakar kuat di Inggris, tapi itu bukannya tak terpatahkan, dan itu haruslah terus dipertahankan sebagian dengan usaha sadar. Akibat dari mengkhotbahkan doktrin totalitarian adalah melemahnya insting yang dengannya orang-​orang bebas tahu mana yang berbahaya dan mana yang tidak. Kasus Mosley menggambarkan hal ini. Tahun 1940, sama sekali tidak masalah menahan Mosley, entah ia sungguh melakukan kejahatan teknis ataukah tidak. Kita berjuang untuk hidup kita dan tidak bisa membenarkan seorang pengkhianat berkeliaran. Membiarkan ia mendekam di penjara, tanpa pengadilan, tahun 1943 adalah sebuah skandal. Adalah gejala buruk jika orang kebanyakan tidak menyadarinya, meski benar bahwa kekacauan yang terjadi setelah pembebasan Mosley separuhnya adalah dibuat-​buat dan separuh sisanya merupakan rasionalisasi dari rasa tidak puas. Tapi bagaimana bisa cara berpikir yang cenderung ke arah Fasis sekarang ini bisa dihubungkan dengan ‘anti-​Fasisme’ sepuluh tahun lalu dan kecerobohan yang menjadi akibatnya?

Penting untuk disadari bahwa Russomania sekarang ini hanyalah sebuah gejala umum melemahnya tradisi liberal Barat. Seandainya Kementerian Informasi bersuara dan menolak tegas penerbitan buku ini, sejumlah besar kaum terpelajar Inggris takkan melihat sesuatu yang meresahkan dalam hal ini. Kesetiaan tanpa sikap kritis terhadap Republik Sosialis Soviet Rusia kebetulan sedang menjadi ortodoksi yang berlaku saat ini, dan jika menyangkut kepentingan Uni Soviet, mereka akan mau bertoleransi tidak saja terhadap sensor tapi juga falsifikasi sejarah. Sebut saja satu contoh. Saat kematian John Reed, pengarang buku Ten Days that Shook the World—catatan pandangan mata atas hari-​hari pertama Revolusi Rusia—hak cipta buku ini jatuh ke tangan Partai Komunis Inggris, yang aku yakin telah diwariskan oleh Reed. Beberapa tahun kemudian Komunis Inggris, setelah menghancurkan edisi asli buku itu dan sebisa mungkin melenyapkannya, menerbitkan satu edisi palsu di mana mereka menghapus nama Trotsky dan juga menghilangkan bagian pengantar yang ditulis oleh Lenin. Jika masih ada seorang terpelajar radikal yang tinggal di Inggris, tindak pemalsuan ini akan terungkap dan dikecam oleh setiap surat kabar kritis di negeri ini. Kenyataannya nyaris atau sama sekali tanpa protes. Bagi banyak kaum intelektual Inggris, tampaknya ini cukup wajar untuk dilakukan. Dan toleransi atau [sic = atas?] kelancungan ini punya banyak arti lebih dari sekadar fakta bahwa kekaguman terhadap Rusia sedang mewabah saat ini. Mungkin sekali ini hanya kecenderungan sesaat. Yang saya tahu, ketika buku ini diterbitkan, pandangan saya tentang rezim Soviet secara umum diterima. Tapi apa gunanya pandangan saya itu sendiri? Mengganti suatu ortodoksi dengan ortodoksi lain bukanlah satu kemajuan. Si musuh adalah gramofon dari pikiran, entah setuju atau tidak dengan musik apa yang sedang diputar.

Saya mengenal baik semua argumen yang menolak kebebasan berpikir dan berpendapat—argumen yang mengklaim bahwa kebebasan ini tak bisa lestari, dan yang mengklaim bahwa kebebasan tak seharusnya lestari. Saya hanya menjawab bahwa mereka tidak meyakinkan saya dan bahwa peradaban kita dalam empat ratus tahun ini telah didirikan di atas prinsip yang sebaliknya. Selama satu dekade belakangan ini saya percaya bahwa secara pokok rezim Rusia bersifat jahat, dan saya punya hak berkata begitu, meskipun kita bersekutu dengan Republik Sosialis Soviet Rusia dalam perang yang ingin kita menangkan. Jika saya harus memilih sebuah kutipan untuk membela diri, akan saya ambil satu baris puisi Milton:

By the known rules of ancient liberty.

Kata ancient menandaskan kenyataan bahwa kebebasan intelektual adalah satu tradisi berakar dalam yang tanpanya karakteristik kebudayaan Barat kita hanya hadir secara meragukan. Dari tradisi itu, banyak di antara kaum intelektual kita yang jelas berpaling. Mereka telah menerima prinsip bahwa sebuah buku harus diterbitkan atau dibungkam, dipuji atau dikecam, tidak berdasarkan kualitasnya melainkan sesuai dengan kepentingan politis. Dan mereka yang tidak benar-​benar memegang pandangan ini menyatakan persetujuan karena sikap pengecut. Satu contoh kasus adalah kegagalan para penyeru perdamaian Inggris dalam bersuara tegas melawan pemujaan militerisme Rusia yang sedang dominan. Menurut mereka, semua kekerasan itu jahat, dan dari waktu ke waktu di masa perang ini mereka mendorong kita untuk menyerah atau minimal berkompromi damai. Tapi berapa banyak di antara mereka pernah memberi sugesti bahwa perang juga jahat waktu ia digelorakan oleh Tentara Merah? Tampaknya bangsa Rusia punya hak untuk mempertahankan diri mereka sendiri, sedangkan bagi kita melakukan [hal itu] adalah dosa besar. Kontradiksi ini hanya bisa dijelaskan melalui satu cara: yaitu, dengan bersikap pengecut untuk bergerombol bersama kaum intelek, yang patriotismenya lebih terarah pada Republik Sosialis Soviet Rusia ketimbang kepada Inggris. Saya tahu bahwa kaum terpelajar Inggris punya banyak alasan bersikap takut dan lancung, sungguh saya tahu betul argumen mereka dalam membela diri. Tapi minimal janganlah lagi kita bersikap nonsens dengan mempertahankan kebebasan melawan Fasisme. Jika kebebasan punya makna, berarti ia punya hak untuk menyampaikan apa yang tidak ingin didengar banyak orang. Khalayak masih ragu membenarkan doktrin itu dan bertindak atasnya. Di negeri kita—lain negara, lain sikap: di Republik Prancis tidak, di AS juga tidak—kaum liberallah yang takut kebebasan dan kaum terpelajarlah yang ingin mengotori rasio: demi memancing perhatian ke arah itulah saya menulis pengantar ini.

Bab 1

Tuan Jones dari Pertanian Manor telah mengunci kandang ayam babon di malam hari, tapi saking mabuknya ia sampai lupa menutup celah tempat keluar masuk ayam. Sambil membawa lentera yang lingkar cahayanya menari-​nari, ia melangkah menembus pekarangan, lalu sehabis menendang lepas sepatu botnya di pintu belakang, ia sambar segelas bir terakhir dalam ruang sepen, dan menuju ke ranjang, tempat Nyonya Jones sudah mendengkur.

Begitu cahaya ruang tidur padam, terdengarlah suara kasak-​kusuk di berbagai bangunan kandang. Sejak siang telah beredar kabar bahwa Mayor tua, sang babi jantan Middle White, mendapat mimpi aneh malam kemarin dan berniat menyampaikan kepada binatang lain. Sudah disepakati bahwa mereka semua akan berkumpul di lumbung besar segera setelah Tn. Jones pergi. Mayor tua (begitulah ia dipanggil, meski ia diperkenalkan di pameran sebagai Willingdon si Cantik) sangat dihormati di tanah pertanian itu sehingga semua binatang rela kehilangan waktu tidurnya demi menyimak apa yang hendak ia katakan.

Di salah satu sudut lumbung besar itu, di atas semacam panggung, Mayor telah menyamankan diri di atas tumpukan jerami, di bawah lampu yang menggantung dari bubungan atap. Ia berumur dua belas tahun dan belakangan tubuhnya agak lebih tambun, tapi ia masihlah seekor babi yang berwibawa, dengan penampilan bijak dan murah hati meskipun gigi taringnya tak pernah dipangkur. Tak berapa lama binatang lain pun bermunculan dan menyamankan diri sesuai kebiasaan masing-​masing. Pertama datang tiga ekor anjing, Bluebell, Jessie, dan Pincher, lalu para babi, yang nongkrong di tengah jerami tepat depan panggung. Para ayam babon bertengger di atas langkan jendela, para merpati mengepak ke atas kasau, domba dan sapi mendekam di belakang para babi dan mulai memamah. Dua kuda penarik gerobak, Boxer dan Clover, datang bersamaan, berjalan sangat pelan dan menaruh kuku-​kuku besar mereka yang berbulu dengan sangat hati-​hati, jaga-​jaga kalau ada binatang kecil terselip di balik jerami. Clover adalah seekor kuda betina tangguh menjelang paruh baya, yang postur tubuhnya tak pernah kembali langsing setelah melahirkan untuk keempat kali. Boxer binatang bertubuh besar, tingginya hampir seratus delapan puluh senti, dan sekuat dua ekor kuda biasa. Garis putih di bawah hidungnya membuat tampangnya kelihatan bloon, dan kenyataannya ia memang tidak terlalu cerdas, tapi ia secara umum dihormati karena kekukuhan hatinya dan keperkasaannya saat bekerja. Setelah para kuda datanglah Muriel, si kambing putih, dan Benjamin si keledai. Benjamin adalah binatang tertua di tanah pertanian itu, dan berperangai paling buruk. Ia jarang bicara, dan kalaupun bicara selalu sinis—misalnya ia akan bilang bahwa Tuhan telah memberinya ekor untuk mengusir lalat, tapi akan lebih mending jika ia tak punya ekor dan lalat tidak ada. Di antara seluruh binatang di peternakan itu, ia sendiri saja yang tak pernah tertawa. Jika ditanya kenapa, ia akan bilang bahwa ia tak melihat ada sesuatu pun yang lucu. Meski begitu, tanpa secara terbuka mengakuinya, ia sangat kagum pada Boxer; mereka berdua selalu menghabiskan hari Minggu bersama di padang rumput yang sempit di seberang kebun buah, merumput berdampingan tanpa bercakap-​cakap.

Dua kuda itu baru saja berbaring ketika segerombol anak itik yang telah kehilangan induk masuk ke dalam lumbung, berciap-​ciap lemah dan berkeliaran kesana-​kemari untuk mencari tempat di mana mereka tak akan terinjak. Clover membuat semacam tembok mengelilingi mereka dengan kaki depannya yang besar, dan para anak itik mendekam di dalamnya dan dengan cepat tertidur. Di saat terakhir, Mollie, kuda betina putih cantik tapi bodoh yang menarik kereta Tn. Jones, datang mengendap-​endap sambil mengulum segumpal gula. Ia mengambil tempat agak ke depan dan mulai bergenit-​genit dengan surai putihnya, berharap pita merah yang terikat di sana bisa menarik perhatian. Terakhir datanglah si kucing, berkeliling seperti biasa mencari tempat paling hangat, dan akhirnya menyisipkan diri di antara Boxer dan Clover; di situ ia mendengkur dengan puas sepanjang Mayor berpidato tanpa mendengar sepatah kata pun yang diucapkannya.

Semua binatang kini sudah hadir kecuali Moses, si gagak jinak yang tidur di atas tenggeran belakang pintu. Saat Mayor melihat bahwa mereka semua telah menyamankan diri dan menanti penuh perhatian, ia berdehem dan memulai:

“Kamerad sekalian, kalian telah mendengar tentang mimpi aneh yang kualami malam kemarin. Tapi soal mimpi itu nanti saja. Ada hal lain yang ingin kusampaikan lebih dulu. Kamerad sekalian, rasanya waktuku bersama kalian paling lama hanya tinggal beberapa bulan lagi, dan sebelum aku mati, sudah menjadi tugasku untuk menyampaikan kearifan yang telah kuperoleh. Aku telah menjalani hidup yang panjang, aku telah banyak berpikir saat berbaring sendirian di dalam kandangku, dan bisa dibilang bahwa aku paham hakikat kehidupan di bumi ini sebaik binatang mana pun yang masih hidup. Hal inilah yang ingin kusampaikan pada kalian.

“Nah, kamerad sekalian, apa hakikat kehidupan kita ini? Jujur saja, kehidupan kita menyedihkan, melelahkan dan singkat. Kita lahir, diberi makan sekadar agar mampu terus bernapas, dan yang sanggup bertahan dipaksa bekerja sampai titik darah penghabisan; dan ketika kita dianggap sudah tidak berguna lagi, kita disembelih dengan sangat kejam. Tak ada binatang di Inggris ini yang tahu makna kebahagiaan atau punya waktu luang setelah berusia satu tahun. Di Inggris, tak ada binatang yang hidup bebas. Hidup seekor binatang adalah kesengsaraan dan perbudakan: ini kebenaran nyata.

“Tapi apakah ini hanya bagian dari tatanan alam? Apakah ini karena tanah kita begitu gersang sehingga tak bisa memberi penghidupan layak bagi siapa pun yang tinggal di atasnya? Tidak, kamerad sekalian, seribu kali tidak! Tanah Inggris subur, iklimnya bagus, tanah ini sanggup memberi makanan berlimpah bagi jauh lebih banyak binatang yang sekarang mendiaminya. Lahan peternakan kita ini saja bisa menghidupi selusin kuda, dua puluh sapi, ratusan domba—dan mereka semua dapat hidup dengan kenyamanan dan martabat yang kini nyaris tak terbayangkan. Lalu kenapa kita terus hidup dalam kondisi menyedihkan begini? Karena hampir seluruh hasil kerja keras kita dirampas oleh manusia. Itulah, kamerad sekalian, jawaban atas semua permasalahan kita. Jawabannya bisa diringkas menjadi satu kata—manusia. Manusia adalah satu-​satunya musuh sejati kita. Lenyapkan manusia dari tempat ini, dan akar penyebab kelaparan dan beban kerja pun tercabut untuk selamanya.

“Manusia adalah satu-​satunya makhluk yang mengkonsumsi tanpa memproduksi. Ia tidak menghasilkan susu, tidak bertelur, terlalu lemah untuk menarik bajak, larinya tak cukup cepat untuk menangkap kelinci. Tapi ia penguasa semua binatang. Ia menyuruh mereka bekerja, memberikan imbalan sekadarnya agar para binatang tidak kelaparan, dan sisanya ia caplok sendiri. Kerja kita mengolah tanah, kotoran kita menyuburkannya, namun tak ada satu pun di antara kita yang memiliki hasilnya kecuali seujung kuku. Kalian para sapi di depanku ini, berapa ribu galon susu telah kalian hasilkan tahun ini? Dan apa yang terjadi dengan susu yang seharusnya membesarkan anak-​anak sapi gagah itu? Setiap tetesnya malah mengalir masuk ke kerongkongan musuh-​musuh kita. Dan kalian, ayam babon, berapa banyak telur telah kalian hasilkan tahun ini, dan berapa banyak di antaranya yang menetas menjadi anak ayam? Sisanya telah dijual ke pasar untuk mendatangkan uang bagi Jones dan para anak buahnya. Dan kau, Clover, di manakah keempat ​anakmu, yang seharusnya mendukung dan menghibur hatimu di usia tua ini? Setiap anakmu dijual setelah genap setahun—kau takkan pernah berjumpa mereka lagi. Sebagai balasan atas kekangan dan kerja kerasmu di ladang, apa yang kau dapatkan kecuali sedikit makanan dan sepetak bangsal kandang?

“Dan bahkan kehidupan menyedihkan yang kita jalani pun tak dibiarkan mencapai umur yang semestinya. Aku sendiri tak mengeluh, karena aku salah satu yang beruntung. Umurku dua belas tahun dan telah punya lebih dari empat ratus anak. Wajar jika seekor babi seperti itu. Tapi pada akhirnya tak ada binatang yang lolos dari bengisnya pisau jagal. Kalian para babi muda yang duduk di depanku, dalam setahun ke depan, masing-​masing kalian akan menjerit minta tolong di atas papan jagal. Kengerian itu pasti akan menimpa kita—baik sapi, babi, ayam babon, domba, semuanya sama. Bahkan kuda dan anjing tak punya nasib lebih baik. Kau, Boxer, suatu hari saat ototmu kehilangan tenaga, Jones akan menjualmu pada tukang jagal, yang akan menggorok lehermu dan merebusmu untuk makanan anjing pemburu rubah. Adapun para anjing, kalau mereka sudah tua dan tak bergigi, Jones akan mengikatkan sepotong bata di leher dan menenggelamkan mereka di kolam terdekat.

“Bukankah jelas sekali, kamerad sekalian, bahwa semua kejahatan di dunia ini bersumber dari tirani manusia? Cukup singkirkan manusia, dan hasil kerja keras itu akan jadi milik kita. Dalam semalam kita bisa jadi kaya dan bebas. Lantas apa yang harus kita lakukan? Sudah jelas, kerja siang malam, dengan segenap jiwa dan raga, demi menggulingkan bangsa manusia! Inilah pesan bagi kalian, kamerad sekalian: pemberontakan! Aku tak tahu kapan pemberontakan akan meletus, mungkin dalam seminggu atau seratus tahun, tapi aku tahu, sejelas aku melihat jerami di bawah kakiku, bahwa cepat atau lambat keadilan akan ditegakkan. Pusatkan mata kalian ke arah itu, kamerad, sepanjang sisa hidup kalian! Dan yang terpenting, sampaikan pesanku ini pada mereka yang datang setelah kalian, sehingga generasi mendatang bisa melanjutkan perjuangan ini sampai berhasil.

“Dan ingat, kamerad sekalian, tekad kalian tak boleh goyah. Jangan biarkan bujuk rayu membikin kalian terlena. Jangan pernah dengarkan jika mereka bilang Manusia dan binatang punya kepentingan yang sama, bahwa kemakmuran satu golongan adalah kemakmuran golongan lain. Itu semua dusta. Manusia tidak melayani kepentingan siapa pun kecuali diri mereka sendiri. Dan di antara kita para binatang, marilah kita jalin persatuan yang kokoh, persahabatan yang setia dalam perjuangan. Semua manusia adalah musuh. Semua binatang adalah kawan.”

Di saat inilah timbul kegaduhan. Ketika Mayor sedang bicara, empat ekor tikus besar telah mengendap keluar dari liang mereka dan duduk dengan kaki belakang, menyimak pidatonya. Para anjing tiba-​tiba melihat mereka, tapi berkat kegesitan mereka masuk kembali ke liang, para tikus itu berhasil selamat. Mayor mengangkat kaki depan agar semua diam:

“Kamerad,” katanya, “ada satu hal yang harus diputuskan. Binatang liar, seperti tikus dan kelinci—apakah mereka teman atau lawan? Mari kita tentukan melalui voting. Kuajukan pertanyaan ini: apakah tikus termasuk teman?”

Voting digelar seketika pula, dan disepakati secara hampir mutlak bahwa tikus adalah teman. Hanya ada empat suara menentang: tiga anjing dan si kucing, yang ternyata kemudian diketahui memilih keduanya. Mayor melanjutkan:

“Ada lagi sedikit hal lain. Aku hanya ingin menekankan, ingat selalu tugas kita untuk memusuhi Manusia dan semua tingkah lakunya. Apa pun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh. Apa pun yang berjalan dengan empat kaki, atau punya sayap, adalah teman. Dan ingat selalu bahwa dalam perjuangan melawan Manusia kita tidak boleh menyerupainya. Bahkan saat kalian telah berhasil mengalahkannya, janganlah meniru keburukannya. Tidak boleh ada binatang yang tinggal di dalam rumah, atau tidur di ranjang, atau mengenakan pakaian, atau meminum alkohol, atau mengisap tembakau, atau menyentuh uang, atau berjual beli. Segala kebiasaan Manusia adalah jahat. Dan di atas segalanya, tidak boleh ada binatang yang menindas sesamanya. Lemah atau kuat, pintar ataupun polos, kita semua bersaudara. Tidak boleh ada binatang yang membunuh binatang lain. Semua binatang setara.

“Sekarang, kamerad sekalian, akan kusampaikan pada kalian mimpiku kemarin malam. Aku tak bisa menggambarkannya pada kalian. Ini adalah mimpi tentang kondisi bumi setelah Manusia lenyap. Tapi ini mengingatkanku akan sesuatu yang sudah lama kulupakan. Bertahun-​tahun lalu, waktu aku masih kecil, ibuku dan para induk babi lain biasa menyanyikan sebuah lagu lama yang hanya mereka ketahui nadanya dan tiga baris lirik pertama. Aku telah mengenal nada itu sejak bayi, tapi sudah lama lupa. Namun malam kemarin, lagu itu kembali muncul padaku melalui mimpi. Terlebih lagi, liriknya muncul juga—kata-​kata yang, aku yakin, pernah dinyanyikan para binatang dahulu kala dan telah terlupa dari ingatan selama beberapa generasi. Aku akan menyanyikan lagu itu pada kalian semua, kamerad. Aku sudah tua dan suaraku serak, tapi akan kuajarkan nadanya supaya kalian nanti bisa menyanyikannya sendiri dengan lebih merdu. Judulnya ‘Satwa di Inggris.’ ”

Mayor tua berdehem dan mulai bernyanyi. Seperti dia bilang, suaranya memang serak, tapi ia menyanyi cukup jelas, dan nadanya menggugah jiwa, perpaduan antara ‘Clementine’ dan ‘La Cucaracha.’ Liriknya seperti ini:


Para satwa di Inggris, para satwa di Irlandia,

Satwa setiap negeri dan cuaca,

Dengarlah kabar gembira

Tentang masa depan gemilang.

 

Cepat atau lambat akan tiba harinya,

Tirani Manusia akan terjungkal,

Dan negeri subur Inggris

Akan dijejak satwa semata.

 

Anting akan lenyap di hidung kita,

Kekang akan hilang di punggung kita,

Belenggu akan karatan selamanya,

Cambuk kejam tiada melecut lagi

 

Harta yang tak terbayangkan

Gandum dan barley, oat dan jerami

Semanggi, kacang, dan bit

Saat itu akan jadi milik kita.

 

Tanah Inggris akan gemilang

Airnya akan lebih jernih

Udaranya akan lebih sejuk

Di hari saat kita bebas

 

Demi hari itu kita semua harus berjuang

Meski kita mati sebelum berhasil

Sapi dan kuda, angsa dan kalkun

Semua harus bekerja demi kebebasan

 

Para satwa di Inggris, para satwa di Irlandia

Satwa setiap negeri dan cuaca,

Dengarlah kabar gembira dan sebarkan

Tentang masa depan gemilang.

 

Nyanyian lagu ini membuat para binatang sangat tergugah. Belum sampai Mayor selesai menyanyikannya, para binatang sudah mulai bernyanyi sendiri. Bahkan yang paling bodoh sekalipun telah mulai menghafal nada dan beberapa liriknya, sedangkan yang lebih pintar, seperti para babi dan anjing, sudah langsung hafal keseluruhan lagu hanya dalam beberapa menit. Lalu, setelah beberapa kali aba-​aba, seluruh binatang di tanah pertanian itu mengalunkan ‘Satwa di Inggris’ dengan serempak dan padu. Para sapi melenguhkannya, anjing mendengkingkannya, domba mengembikkannya, kuda meringkikkannya, dan itik berwek-​wek dengannya. Mereka begitu gembira dengan lagu ini sehingga menyanyikannya lima kali berturut-​turut, dan mungkin akan terus bernyanyi sepanjang malam andai tidak dihentikan.

Sayangnya huru-​hara itu membangunkan Tn. Jones, yang segera meloncat turun dari ranjang, ingin memastikan apakah ada seekor rubah di halaman. Ia menyambar senapan yang selalu terpacak di sudut kamar tidurnya, dan melayangkan enam kali tembakan ke tengah kegelapan. Peluru-​peluru bersarang dalam tembok lumbung dan pertemuan itu segera bubar. Setiap binatang lari ke tempat tidurnya masing-​masing. Burung-​burung meloncat ke atas tenggeran, para binatang mendekam di jerami, dan seluruh peternakan tertidur dalam seketika.

Bab 2

Tiga malam kemudian sang Mayor tua meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Jasadnya dikubur di kaki kebun buah.

Waktu itu awal Maret. Sepanjang tiga bulan berikutnya, berlangsung banyak aktivitas rahasia di tanah pertanian itu. Bagi para binatang yang lebih pintar, pidato Mayor telah memberikan pandangan yang sama sekali baru tentang kehidupan. Mereka tidak tahu kapankah Pemberontakan yang telah diramalkan oleh Mayor itu akan terjadi, mereka tak punya alasan untuk berpikir bahwa itu akan terjadi di masa hidup mereka, tapi mereka dengan jelas melihat bahwa sudah menjadi tugas mereka untuk mempersiapkannya. Kerja mengajar dan mengorganisir binatang lain jatuh ke pundak para babi, yang secara umum dianggap sebagai binatang paling cerdas. Di antara babi-​babi itu, yang paling menonjol adalah dua pejantan muda bernama Snowball dan Napoleon, yang oleh Tn. Jones dipersiapkan untuk dijual. Napoleon adalah babi Berkshire bertubuh besar dan bertampang bengis, satu-​satunya babi Berkshire di peternakan itu—tidak banyak omong tapi dikenal suka berbuat semaunya sendiri. Snowball babi yang lebih lincah dibanding Napoleon, lebih ceriwis dan banyak ide, tapi dianggap kurang dalam hal kedalaman karakter. Para babi jantan lain semuanya adalah babi potong. Paling terkenal di kalangan mereka adalah babi jantan pendek gemuk bernama Squealer, dengan pipi sangat bundar, mata berkilau, geraknya gesit, dan suaranya parau. Ia pintar omong dan kalau mendebatkan masalah rumit ia punya gaya loncat ke kanan kiri dan mengibaskan ekor, memberi kesan sangat meyakinkan. Binatang yang lain percaya Squealer bisa mengubah warna hitam menjadi putih.

Tiga babi ini telah mengembangkan ajaran Mayor tua menjadi satu sistem pemikiran utuh, yang mereka beri nama Binatangisme. Beberapa malam dalam seminggu, setelah Tn. Jones tidur, mereka menggelar rapat rahasia di lumbung dan menularkan prinsip Binatangisme kepada binatang lain. Awalnya mereka menemui banyak kendala berupa kebodohan dan ketidakpedulian. Segolongan binatang bicara soal kewajiban mengabdi pada Tn. Jones, yang mereka sebut sebagai ‘Majikan,’ atau membuat pernyataan sederhana seperti ‘Tn. Jones kasih kita makan. Kalau dia pergi kita akan mati kelaparan.’ Segolongan lain mengajukan pertanyaan seperti ‘kenapa kita harus peduli dengan apa yang akan terjadi setelah kita mati?’ atau ‘kalau Pemberontakan ini pasti akan terjadi, apa bedanya kita memperjuangkannya atau tidak?’ dan para babi menghadapi kesulitan besar untuk membuat mereka sadar bahwa pertanyaan ini bertentangan dengan semangat Binatangisme. Pertanyaan paling bodoh di antara semuanya diajukan oleh Mollie, si kuda betina putih. Pertanyaan pertama yang ia ajukan pada Snowball adalah: ‘masih adakah gula setelah Pemberontakan?’

“Tidak!” jawab Snowball tegas. “Kita tak punya alat pembikin gula di peternakan ini. Lagipula, kau tidak butuh gula. Kau akan punya gandum dan jerami sebanyak yang kau inginkan.”

“Apakah aku masih boleh pakai pita di suraiku?” tanya Mollie.

“Kamerad,” kata Snowball, “pita-​pita yang kau sayangi itu adalah lambang perbudakan. Tidak bisakah kau pahami bahwa kebebasan itu lebih berharga dibanding pita?”

Mollie sepakat, tapi kedengarannya tak terlalu yakin.

Para babi bahkan menghadapi perjuangan lebih berat lagi untuk menangkal kebohongan yang disebarkan oleh Moses, si gagak jinak. Moses, yang merupakan binatang kesayangan Tn. Jones, adalah mata-​mata dan tukang gosip, tapi dia juga pintar omong. Ia mengaku tahu keberadaan negeri misterius bernama Gunung Kembang Gula, tempat para binatang akan pergi saat mereka mati. Tempatnya terletak tinggi di angkasa, di balik gumpalan awan, kata Moses. Di Gunung Kembang Gula ada tujuh hari Minggu dalam seminggu, semanggi tumbuh di segala musim dalam setahun, dan gumpalan gula dan kue biji rami tumbuh di atas pagar. Para binatang membenci Moses karena ia suka mendongeng dan tidak bekerja, tapi ada di antara mereka yang memercayai keberadaan Gunung Kembang Gula, dan babi-​babi harus gigih menjelaskan bahwa tak ada tempat semacam itu.

Murid mereka yang paling setia adalah dua kuda penarik gerobak, Boxer dan Clover. Keduanya memang sangat kesulitan merumuskan pikiran sendiri, tapi setelah mengakui babi sebagai guru, maka mereka menyerap segala hal yang diajarkan pada mereka dan menyampaikannya pada binatang lain dengan penjelasan sederhana. Mereka tak pernah absen menghadiri pertemuan rutin di lumbung, dan memandu lagu ‘Satwa di Inggris’ setiap kali rapat berakhir.

Nah, ternyata Pemberontakan itu terlaksana jauh lebih awal dan lebih mudah ketimbang yang semula dibayangkan. Di tahun-​tahun sebelumnya Tn. Jones, meski seorang majikan keras, adalah petani yang cakap, tapi belakangan ia mulai terpuruk. Ia jadi berkecut hati setelah kehilangan banyak uang akibat kalah di pengadilan, lalu mulai suka mabuk-​mabukan. Selama berhari-​hari ia akan duduk bermalas-​malasan di kursi Windsor-​nya di dapur, membaca koran, minum-​minum, dan kadang memberi makan Moses dengan remah-​remah roti yang dicelup bir. Para anak buahnya malas dan tak jujur, ladangnya penuh gulma, atap bangunan perlu diganti, pagar-​pagarnya tak terawat dan para binatang kurang makan.

Juni datang dan rumput kering hampir siap dipotong. Pada malam puncak musim panas, yang jatuh pada hari Sabtu, Tn. Jones pergi ke Willingdon dan mabuk berat di Red Lion hingga ia tidak pulang sampai Minggu tengah hari. Para anak buahnya telah memerah susu sapi di awal pagi lalu mereka pergi berburu kelinci, tanpa mau repot-​repot memberi makan para binatang. Ketika Tn. Jones kembali ia langsung tidur di sofa ruang tengah dengan koran News of the World melekap di atas wajahnya, sehingga sampai malam tiba para binatang masih belum dikasih makan. Akhirnya mereka tak tahan lagi. Salah satu sapi menerjang pintu gudang penyimpanan pangan dengan tanduknya dan semua binatang mulai mengambil sendiri makanan buat mereka dari dalam kotak. Saat itulah Tn. Jones terbangun. Selanjutnya ia dan keempat anak buahnya masuk ke gudang penyimpanan pangan dengan masing-​masing membawa cambuk, melecutkannya ke segala arah. Para binatang lapar itu tak bisa mentolerir lagi hal ini. Meski sama sekali tak direncanakan, mereka kompak mengeroyok para penyiksa ini. Jones dan anak buahnya mendadak mendapati diri mereka ditanduk dan ditendang dari segala arah. Situasi jadi lepas kendali. Mereka belum pernah melihat binatang berlaku seperti ini, dan perlawanan mendadak para makhluk yang biasa mereka lecut dan perlakukan sewenang-​wenang itu membuat mereka ketakutan setengah mati. Sekali dua kali mereka berusaha mempertahankan diri, tapi kemudian mereka menyerah dan lari terbirit-​birit. Semenit kemudian kelimanya sudah berlari sepanjang setapak yang mengarah ke jalan utama, sementara para binatang memburu mereka dengan penuh kemenangan.

Ny. Jones menengok dari balik jendela kamar tidur. Setelah melihat apa yang sedang terjadi, ia cepat-​cepat menjejalkan sejumlah barang ke dalam tas dan menyelinap keluar peternakan lewat jalan lain. Moses meloncat turun dari tenggeran dan mengepakkan sayap mengejarnya, berkaok-​kaok keras. Sementara itu para binatang telah mengejar Jones dan anak buahnya sampai ke tepi jalan raya dan mereka membanting gerbang lima palang di belakang. Maka, nyaris tanpa mereka sadari, Pemberontakan telah sukses dilaksanakan; Jones terusir, dan Pertanian Manor menjadi milik mereka.

Selama beberapa menit pertama para binatang hampir tidak percaya dengan keberuntungan mereka. Tindakan pertama mereka adalah berlari mengelilingi garis batas peternakan, seolah untuk memastikan bahwa tak ada manusia yang bersembunyi di mana pun; lalu mereka berderap kembali ke bangunan peternakan untuk menghapus jejak-​jejak terakhir rezim Jones yang mereka benci. Gudang perlengkapan di ujung kandang kuda didobrak; kekang, cincin hidung, rantai anjing, pisau-​pisau mengerikan yang digunakan Tn. Jones untuk mengebiri babi dan domba, semuanya dicemplungkan ke dalam sumur. Tali kekang, penutup mata, anting hidung, kantong makan yang menghinakan itu semuanya dilempar ke dalam api pembakaran sampah di halaman. Begitu pula cambuk. Semua binatang melonjak gembira ketika melihat cambuk-​cambuk dilalap api. Snowball juga melemparkan pita-​pita yang digunakan untuk menghiasi surai dan ekor kuda saat hendak dijual.

“Pita,” katanya, “harus dianggap sebagai pakaian, yang merupakan ciri khas manusia. Semua binatang seharusnya telanjang.”

Ketika Boxer mendengar ini, ia ambil topi jerami kecil yang biasa digunakannya di musim panas untuk mengusir lalat dari telinganya, lalu melemparkannya ke dalam api beserta barang lain.

Dalam waktu sangat singkat para binatang telah menghancurkan segala yang mengingatkan mereka pada Tn. Jones. Napoleon lalu mengajak mereka kembali ke gudang penyimpanan pangan dan menyajikan pada setiap binatang dua porsi jagung, plus dua keping biskuit bagi setiap anjing. Mereka menyanyikan lagu ‘Satwa di Inggris’ dari awal hingga akhir sebanyak tujuh kali, setelah itu mereka bubar lalu tidur pulas seakan tidak pernah tidur sebelumnya.

Tapi mereka bangun kala fajar seperti biasa, dan tiba-​tiba ingat akan hal mengagumkan yang telah terjadi sehingga mereka berpacu ke arah padang rumput bersama-​sama. Tak seberapa jauh dari ujung padang rumput ada sebuah bukit kecil yang memberi pemandangan ke arah sebagian besar wilayah pertanian. Para binatang bergegas menuju puncaknya dan memandang ke sekitar mereka dalam jernihnya sinar pagi. Ya, itu milik mereka—segala yang bisa mereka lihat adalah milik mereka! Dalam kegembiraan meluap-​luap seperti itu, mereka lari berputar-​putar, melompat-​lompat penuh semangat. Mereka berguling-​guling di atas embun, mencomot rumput segar musim panas satu caplokan penuh, menendang gumpalan tanah hitam dan mencium keharumannya yang kaya. Lalu mereka memeriksa sekeliling peternakan dan meninjau lahan sehabis dibajak, padang rumput, kebun buah, kolam, dan gerumbul semak dengan penuh kekaguman. Seolah mereka belum pernah melihat ini sebelumnya, dan bahkan sekarang mereka hampir tidak percaya bahwa ini semua milik mereka.

Lalu mereka berbaris pulang ke bangunan pertanian dan berhenti tanpa suara di luar pintu rumah pertanian. Itu juga milik mereka, tapi mereka ketakutan untuk masuk. Namun sesaat kemudian Snowball dan Napoleon mendongkel pintu dengan pundak mereka hingga terbuka dan para binatang berbaris masuk satu per satu, berjalan dengan sangat hati-​hati karena takut akan menyenggol sesuatu. Mereka berjalan berjingkat-​jingkat dari ruang ke ruang, takut untuk bicara lebih keras dari bisikan dan memandang kagum pada kemewahan tak terkira, pada ranjang-​ranjang berkasur bulu, beragam kacamata, sofa bulu kuda, karpet Brussels, dan litografi Ratu Victoria yang ada pada rak di atas perapian ruang tengah. Mereka baru saja menuruni anak tangga ketika Mollie didapati telah hilang. Saat kembali, mereka dapati ternyata ia tak mau meninggalkan kamar tidur yang paling bagus. Ia mengambil sepotong pita biru dari atas meja rias Ny. Jones dan menempelkannya di pundak dan mengagumi dirinya sendiri di cermin dengan cara yang sangat konyol. Para binatang lain mencercanya dengan tajam, dan mereka berjalan ke luar. Babi asap yang tergantung di dinding, mereka bawa keluar buat dikubur, dan tong bir di gudang bawah tanah dihancurkan oleh sepakan Boxer, tapi selain itu tak ada sesuatu pun di rumah itu yang disentuh. Langsung disepakati bulat-​bulat saat itu pula bahwa rumah pertanian itu harus dilestarikan sebagai sebuah museum. Semua setuju bahwa tak boleh ada binatang yang tinggal di sana.

Para binatang menyantap sarapan, lalu Snowball dan Napoleon memanggil mereka agar berkumpul kembali.

“Kamerad,” kata Snowball, “sekarang sudah jam enam tiga puluh dan hari yang panjang ada di depan kita. Hari ini kita mulai memanen jerami. Tapi ada hal lain yang mesti dibereskan lebih dulu.”

Para babi kini membeberkan bahwa selama tiga bulan terakhir mereka telah belajar membaca dan menulis dari sebuah buku ejaan lama milik anak-​anak Tn. Jones yang dibuang ke tempat penimbunan sampah. Napoleon minta diambilkan ember-​ember berisi cat warna hitam dan putih dan memimpin jalan menuju ke gerbang lima palang yang mengarah ke jalan utama. Lalu Snowball (karena Snowball yang paling pintar menulis) menjepit sebuah kuas di antara dua sendi jari kaki, menghapus kata PERTANIAN MANOR dari atas gerbang dan menggantikannya dengan tulisan PERTANIAN HEWAN. Ini akan menjadi nama peternakan mulai sekarang. Setelah itu mereka kembali ke bangunan pertanian, di mana Snowball dan Napoleon mengeluarkan sebuah tangga lalu menyandarkannya pada ujung tembok lumbung besar. Mereka menjelaskan bahwa, melalui pembelajaran mereka tiga bulan terakhir, para babi telah berhasil merangkum prinsip-​prinsip Binatangisme menjadi Tujuh Perintah. Tujuh Perintah itu kini akan dituliskan pada tembok; Perintah yang akan menjadi hukum tetap, pegangan wajib bagi semua binatang di Pertanian Hewan selama-​lamanya. Dengan agak kesulitan (karena memang tak mudah bagi seekor babi untuk menyeimbangkan diri di atas tangga) Snowball naik dan mulai bekerja, sementara Squealer berdiri beberapa anak tangga di bawahnya sambil menenteng ember cat. Perintah itu tertulis pada tembok berlapis damar dengan huruf-​huruf besar warna putih yang bisa dibaca sejauh tiga puluh meter. Ketujuh Perintah itu adalah sebagai berikut:

 

TUJUH PERINTAH

Setiap yang punya dua kaki adalah musuh.

Setiap yang punya empat kaki, atau bersayap, adalah teman.

Semua binatang tak boleh mengenakan pakaian.

Semua binatang tak boleh tidur di ranjang.

Semua binatang tak boleh minum alkohol.

Semua binatang tak boleh membunuh sesama binatang.

Semua binatang adalah setara.

 

Perintah itu ditulis dengan sangat rapi, dan kecuali soal kata ‘teman’ yang tertulis ‘temen’ dan adanya salah satu huruf S yang terbalik arahnya, ejaannya benar seluruhnya. Snowball membacanya dengan lantang bagi semua binatang lain. Semua binatang mengangguk sepakat, dan yang lebih pintar mulai menghafalkan Perintah itu.

“Sekarang, kamerad,” teriak Snowball sambil menjatuhkan kuas, “kita ke padang rumput! Mari kita tegaskan bahwa suatu kehormatan bagi kita untuk mampu membawa pulang jerami lebih awal dibanding Jones dan anak buahnya.”

Tapi saat itu pula tiga sapi yang tampaknya gelisah sejak tadi mulai melenguh keras. Mereka belum diperah selama dua puluh empat jam, dan ambing susu mereka nyaris meletus. Setelah berpikir sejenak para babi mengambil ember dan memerah sapi dengan cukup berhasil, jari kaki mereka telah beradaptasi dengan tugas ini. Lima ember susu kental pun segera hadir, dan para binatang melihatnya dengan sangat berminat.

“Mau diapakan semua susu itu?” kata salah satu.

“Jones biasa menggunakannya sebagai campuran makanan kita,” kata salah satu ayam babon.

“Tidak usah pikirkan susunya, kamerad!” teriak Napoleon, berdiri di depan deretan ember. “Akan ada yang mengurusi. Panen rumput lebih penting. Kamerad Snowball akan memimpin kalian. Aku akan menyusul beberapa menit lagi. Maju, kamerad! Jerami sudah menunggu.”

Maka para binatang berbaris menuju ke padang rumput untuk mulai panen, dan ketika mereka kembali petang harinya, susu tadi sudah lenyap.

Bab 3

Betapa mereka bekerja keras dan berkeringat untuk memanen jerami! Tapi usaha mereka tak percuma, karena panen kali ini bahkan lebih berhasil dari yang mereka harapkan.

Pekerjaannya kadang berat; berbagai alat dirancang untuk dipakai manusia dan bukan binatang, dan kenyataan bahwa tak ada binatang yang mampu menggunakan alat sambil berdiri di atas kaki belakang sungguhlah merupakan kendala besar. Tapi para babi begitu pintar sehingga mereka bisa memikirkan cara untuk mengatasi setiap kesulitan. Tentang para kuda, mereka kenal setiap jengkal lahan, dan kenyataannya mereka paham urusan menyabit dan menggaru lebih baik ketimbang Jones dan anak buahnya. Para babi sebenarnya tidak ikut bekerja, tapi mereka mengarahkan dan mengawasi binatang lain. Dengan pengetahuan mereka yang unggul, wajar bila mereka mengambil posisi sebagai pemimpin. Boxer dan Clover akan menyandangi diri mereka dengan alat pemotong atau penggaru (tak diperlukan lagi adanya kekang, tentu saja) dan melangkah mantap mengelilingi ladang bersama seekor babi yang berjalan di belakang sambil berseru ‘maju, kamerad!’ atau ‘mundur, kamerad!’ sesuai situasi. Dan setiap binatang sampai yang paling rendah sekalipun bekerja membalik jerami dan mengumpulkannya. Bahkan itik dan ayam babon bekerja kesana-​kemari di bawah terik, membawa sejumput kecil jerami di paruh mereka. Akhirnya mereka menyelesaikan panen dua hari lebih cepat dibanding yang biasa dilakukan Jones dan anak buahnya. Terlebih lagi ini adalah panen terbesar yang pernah disaksikan lahan peternakan ini. Tak ada yang terbuang; ayam babon dan itik dengan mata awas mereka telah mengumpulkan setiap helai terakhir jerami. Dan tak ada binatang di peternakan itu yang mencuri barang sesuap pun.

Sepanjang musim panas itu pekerjaan di peternakan berjalan tanpa kendala. Para binatang lebih bahagia dari yang selama ini mereka harapkan. Setiap suap makanan adalah sumber kepuasan mendalam, karena kini makanan itu sepenuhnya makanan mereka sendiri, diproduksi oleh dan untuk mereka sendiri, bukan dibagikan kepada mereka oleh seorang majikan yang pelit. Dengan hengkangnya para manusia yang tak berguna bagai benalu, setiap binatang mendapat lebih banyak makanan. Ada lebih banyak waktu luang pula, meski mereka tidak tahu bagaimana cara memanfaatkannya. Mereka memang menghadapi bermacam kesulitan—misalnya, di akhir tahun, ketika memanen jagung mereka terpaksa menginjak-​injak dengan cara kuno dan meniup gabah dengan napas mereka, karena pertanian mereka tak punya mesin penampi—tapi para babi dengan kecerdasan mereka dan Boxer dengan kekuatan ototnya selalu berhasil mengatasinya. Boxer dikagumi oleh siapa pun. Ia adalah pekerja keras bahkan di masa kekuasaan Jones, tapi kini ia lebih tampak seperti tiga ekor kuda ketimbang satu; ada hari-​hari di mana keseluruhan kerja di pertanian seakan bertumpu pada pundaknya yang kuat. Sejak pagi sampai malam ia mendorong dan menarik, selalu berada di tempat pekerjaan yang paling berat. Ia telah membuat kesepakatan dengan salah seekor ayam jago muda agar membangunkannya di pagi hari setengah jam lebih awal dari yang lain, dan ia akan melakukan kerja sukarela pada jenis tugas apa pun yang paling mendesak, sebelum kerja rutin harian dimulai. Jawabannya atas setiap masalah dan hambatan adalah ‘aku akan bekerja lebih keras!’—dan ini dijadikannya sebagai motto pribadi.

Tapi setiap binatang bekerja sesuai kemampuannya. Ayam babon dan itik, misalnya, mengumpulkan lima keranjang jagung saat panen dengan cara memungut biji-​biji yang tercecer. Tak ada yang mencuri, tak ada yang mengeluhkan jatah makanan. Pertengkaran dan gigitan dan kecemburuan yang menjadi ciri normal kehidupan di zaman dahulu hampir sepenuhnya lenyap. Tak ada yang menghindari tugas—atau hampir tak ada. Memang benar Mollie tidak pernah bisa bangun pagi, dan punya kebiasaan pulang lebih awal dengan alasan kukunya kemasukan batu. Dan tingkah laku si kucing agak ganjil. Semuanya segera mengetahui bahwa setiap kali ada pekerjaan, si kucing tak pernah bisa diketemukan. Kucing betina itu akan menghilang berjam-​jam, lalu muncul lagi saat makan siang, atau di petang hari setelah pekerjaan selesai, seolah tak ada kejadian apa pun. Tapi ia selalu punya alasan bagus, dan mengeong dengan amat manisnya, sehingga mustahil untuk tak memercayai niat baiknya. Benjamin Tua, si keledai, terlihat tak mengalami perubahan sejak Pemberontakan. Ia kerjakan tugasnya dengan gaya biasanya seperti di masa kekuasaan Jones: pelan tapi pasti, tak pernah bolos ataupun mengambil kerja tambahan. Soal Pemberontakan dan akibatnya, ia tak mau beropini. Ketika ditanya apakah dia lebih bahagia atau tidak setelah Jones pergi, ia hanya bilang ‘Keledai hidup lama. Kalian tak pernah lihat ada keledai mampus,’ dan binatang lain harus puas dengan jawaban membingungkan ini.

Setiap Minggu tak ada kerja. Sarapan dilangsungkan satu jam lebih siang dari biasanya, dan setelah itu ada upacara yang digelar setiap pekan tanpa kecuali. Pertama ada pengibaran bendera. Snowball telah menemukan sehelai taplak usang warna hijau milik Ny. Jones di ruang perlengkapan kuda dan menyuruh binatang lain menggambar kuku kuda dan tanduk dengan cat putih. Bendera ini dikibarkan pada tiang bendera di pekarangan rumah pertanian setiap Minggu pagi. Benderanya warna hijau, Snowball menjelaskan, untuk melambangkan hijaunya ladang-​ladang di Inggris, sementara kuku dan tanduk menandakan Republik Binatang di masa depan yang akan bangkit setelah umat manusia berhasil dijungkalkan. Setelah pengibaran bendera, semua binatang berbaris menuju lumbung besar demi mengikuti pertemuan umum yang dikenal sebagai ‘rapat.’ Di sinilah pekerjaan dalam seminggu ke depan direncanakan dan usulan diajukan dan didiskusikan. Selalu para babilah yang mengajukan usulan. Binatang lain paham cara melakukan voting, tapi tak pernah bisa memikirkan usulan mereka sendiri. Snowball dan Napoleon sejauh ini menjadi binatang yang paling aktif dalam debat. Tapi keduanya tak pernah sepakat: apa pun saran yang diajukan oleh pihak pertama, pihak kedua pasti akan menentangnya. Bahkan ketika sudah disepakati—hal yang tidak bisa dibantah siapa pun—untuk menyisihkan bukit kecil di belakang kebun buah sebagai rumah istirahat bagi para binatang yang telah waktunya pensiun, terjadi perdebatan sengit soal usia pensiun yang tepat bagi setiap jenis binatang. Rapat selalu diakhiri dengan menyanyikan lagu ‘Satwa di Inggris’ dan sore harinya adalah waktu rekreasi.

Para babi telah menyisihkan ruang perlengkapan kuda sebagai markas besar mereka sendiri. Di sini saat malam tiba mereka belajar olah logam, pertukangan, dan keterampilan penting lain melalui buku yang mereka bawa dari rumah pertanian. Snowball juga menyibukkan diri dengan mengorganisir binatang lain ke dalam komite-​komite yang disebut Komite Binatang. Minatnya tak kenal surut soal ini. Ia membentuk Komite Produksi Telur bagi para ayam babon, Liga Ekor Bersih bagi para sapi, Komite Reedukasi Kamerad Liar (tujuannya adalah untuk menjinakkan tikus dan kelinci), Gerakan Wol Putih untuk para domba, dan bermacam komite lain, selain juga mendirikan kelompok membaca dan menulis. Secara keseluruhan proyek-​proyek ini gagal. Usaha menjinakkan binatang liar, misalnya, gagal nyaris sejak awal. Mereka terus berkelakuan sama persis seperti sebelumnya, dan ketika diperlakukan dengan kemurahan hati mereka justru hanya memanfaatkannya. Si kucing bergabung dengan Komite Reedukasi dan sangat aktif di dalamnya selama beberapa hari. Suatu hari kucing betina itu terlihat duduk di atas sebuah atap dan bicara dengan sejumlah burung pipit yang berada di luar jangkauannya. Ia beri tahu mereka bahwa semua binatang kini adalah teman dan pipit mana pun boleh datang dan bertengger di atas cakar depannya; tapi pipit-​pipit itu tetap menjaga jarak.

Namun kelas membaca dan menulis sangatlah berhasil. Pada musim gugur hampir setiap binatang di pertanian itu dalam taraf tertentu sudah melek huruf.

Tentang para babi, mereka bisa baca dan tulis dengan sempurna. Para anjing belajar membaca dengan cukup tekun, tapi tidak tertarik membaca apa pun kecuali Tujuh Perintah. Muriel, si kambing betina, bisa membaca agak lebih lancar dibanding para anjing, dan kadang membacakan sobekan koran yang ia temukan di tumpukan sampah kepada binatang lain saat malam. Benjamin bisa membaca sama baiknya dengan babi mana pun, tapi tak pernah menggunakan kemampuannya. Sejauh yang ia tahu, katanya, tak ada yang cukup layak untuk dibaca. Clover mengenal seluruh abjad, tapi tidak mampu menyusunnya menjadi kata. Boxer hanya bisa sampai huruf D. Ia akan menggores huruf A, B, C, D di tanah dengan kukunya yang besar, lalu berdiri memandangi huruf-​huruf itu dengan kuping ditarik ke belakang, kadang sambil menggoyangkan poninya, berusaha keras untuk mengingat huruf sesudahnya namun tak pernah berhasil. Dalam beberapa kesempatan, ia mampu mengingat E, F, G, dan H, tapi saat itu pula ia sudah lupa A, B, C, dan D. Akhirnya ia memutuskan untuk berpuas diri dengan empat abjad pertama, dan biasa menuliskannya sekali dua kali setiap hari untuk menyegarkan ingatannya. Mollie menolak untuk mempelajari apa pun kecuali lima huruf yang menyusun namanya sendiri. Ia akan menata ranting kering dengan sangat rapi membentuk huruf-​huruf itu, lalu menghiasinya dengan setangkai bunga atau lebih dan berjalan berputar-​putar mengagumi huruf-​huruf itu.

Sedangkan para binatang lain di tanah pertanian itu tak bisa menghafal lebih jauh dari huruf A. Pada kenyataannya binatang-​binatang yang lebih bodoh seperti domba, ayam babon, dan itik, bahkan tak mampu menghafalkan Tujuh Perintah. Setelah menimbang-​nimbang, Snowball memutuskan bahwa Tujuh Perintah itu bisa diringkas menjadi sebuah slogan, yaitu: ‘Empat kaki baik, dua kaki buruk.’ Ini, katanya, sudah merangkum prinsip dasar Binatangisme. Siapa pun yang telah sepenuhnya menggenggam prinsip ini akan selamat dari pengaruh manusia. Para burung awalnya protes, karena mereka juga punya dua kaki, tapi Snowball membuktikan pada mereka bahwa itu salah.

“Sayap seekor burung, kamerad,” katanya, “adalah organ penggerak dan bukan organ untuk menyentuh atau memegang sesuatu. Karena itu haruslah dianggap sebagai kaki. Tanda pengenal manusia adalah tangan, sarana yang digunakannya untuk berbuat segala jenis kejahatan.”

Burung-​burung tidak memahami kata-​kata panjang Snowball, tapi mereka menerima penjelasannya, dan semua binatang yang kurang cerdas mulai berusaha menghafal slogan baru itu. ‘Empat kaki baik, dua kaki buruk’ dituliskan di ujung dinding lumbung, di atas Tujuh Perintah dan dalam huruf yang lebih besar. Ketika mampu menghafalnya, para domba jadi sangat menyukai slogan ini, dan seringkali saat sedang mendekam di padang rumput mereka akan mulai mengembikkan ‘Empat kaki baik, dua kaki buruk’ dan terus melakukannya selama berjam-​jam, tanpa pernah bosan.

Napoleon tak menaruh minat pada komite-​komite bentukan Snowball. Ia bilang bahwa pendidikan kaum muda adalah lebih penting ketimbang apa pun yang dilakukan untuk mendidik kaum tua. Kebetulan Jessie dan Bluebell sama-​sama melahirkan segera setelah panen rumput kering. Mereka melahirkan sembilan anak anjing yang kuat. Begitu anak-​anak anjing itu sudah disapih, Napoleon memisahkan mereka dari si induk sambil bilang bahwa dirinya yang akan bertanggung jawab atas pendidikan mereka. Ia membawa mereka ke sebuah loteng yang hanya bisa dicapai dengan sebuah tangga dari ruang perlengkapan kuda, dan di sana ia mengurung mereka sehingga seluruh binatang di pertanian itu segera lupa akan keberadaan mereka.

Misteri tentang ke mana perginya susu pun segera menjadi jelas. Susu itu dicampurkan ke dalam makanan para babi. Apel-​apel pertama kini telah ranum, dan rumput di kebun buah ditebari oleh apel yang rontok. Para binatang mengira bahwa apel-​apel itu akan dibagi rata; tapi suatu hari datang perintah bahwa semua apel yang rontok harus dikumpulkan dan dibawa menuju ruang perlengkapan kuda untuk digunakan oleh para babi. Mendengar ini para binatang lain menggerutu, tapi tak ada gunanya. Semua babi sepakat penuh soal ini, bahkan Snowball dan Napoleon. Squealer diutus untuk memberikan penjelasan seperlunya kepada para binatang lain.

“Kamerad!” teriaknya. “Kuharap kalian tidak membayangkan bahwa kami para babi melakukan ini atas dasar egoisme dan hak istimewa. Sebenarnya banyak di antara kami tidak suka susu dan apel. Aku sendiri tidak suka. Tujuan utama kami mengambil ini adalah demi menjaga kesehatan. Susu dan apel (ini telah dibuktikan oleh Sains, kamerad) mengandung zat-​zat penting bagi kebugaran seekor babi. Kami para babi adalah para pemikir. Seluruh kerja manajemen dan pengaturan tanah pertanian ini tergantung pada kami. Siang dan malam kami menjaga kemakmuran kalian. Demi kalianlah kami minum susu dan makan apel-​apel itu. Apakah kalian tahu apa yang akan terjadi andai kami para babi gagal melaksanakan tugas? Jones akan datang kembali! Ya, Jones akan kembali! Tentunya, kamerad,” teriak Squealer nyaris bernada membujuk, meloncat ke kanan kiri sambil mengibaskan ekor, “tentunya tak ada di antara kalian yang ingin melihat Jones kembali, bukan?”

Sekarang jika ada satu hal di mana para binatang sepenuhnya yakin, itu adalah bahwa mereka tidak ingin Jones kembali. Kalau soal ini sudah disinggung-​singgung, mereka tidak akan bisa berkata apa-​apa lagi. Pentingnya menjaga kesehatan para babi sudah sangat jelas. Segera disetujui tanpa perdebatan bahwa susu dan apel-​apel yang rontok (dan juga hasil panenannya kalau sudah masak) harus diperuntukkan bagi para babi semata.