Buku Catatan Pertama

 

 

Hidupku adalah hidup yang sangat memalukan.

Aku sendiri bahkan tak bisa mengira seperti apakah seharusnya menjalani kehidupan sebagai seorang manusia. Aku lahir di sebuah dusun di timur laut, dan baru setelah cukup besarlah aku pertama kali melihat kereta api. Aku naik turun jembatan stasiun, sama sekali tak sadar bahwa itu berfungsi untuk memudahkan orang menyeberang dari satu jalur ke jalur lain. Aku yakin bahwa jembatan itu disediakan untuk memberi sentuhan eksotis dan demi membuat bangunan stasiun itu menjadi tempat yang menyenangkan, seperti taman bermain di luar negeri. Cukup lama aku tetap berada di bawah delusi ini, dan sungguh sebuah kesenangan mewah bagiku naik turun jembatan stasiun begitu. Kupikir ini adalah salah satu bentuk pelayanan paling berkelas yang diberikan oleh jawatan kereta api. Ketika belakangan aku tahu jembatan itu tak lebih sekadar alat praktis, aku sama sekali kehilangan minat dengannya.

Kembali, ketika sebagai seorang anak aku melihat foto-foto kereta bawah tanah di buku bergambar, tak pernah terpikir olehku bahwa kereta macam begitu diciptakan untuk kebutuhan praktis. Aku hanya menganggap bahwa naik kereta di bawah tanah itu pastilah pengalaman baru dan menyenangkan dibanding dengan naik kereta biasa.

Aku selalu sakit-sakitan sejak masih kanak-kanak dan seringkali jadi tawanan ranjang. Betapa sering saat sedang berbaring begitu aku memikirkan alangkah membosankannya hiasan ranjang seperti seprai dan sarung bantal itu. Baru setelah usiaku sekitar dua puluh aku menyadari bahwa seprai dan sarung bantal punya tujuan praktis, dan tersingkapnya kenyataan membosankan ini membuat dadaku bergolak dalam arus gelap depresi.

Kembali, aku tak pernah tahu apa makna menjadi lapar. Dengan pernyataan ini aku tak bermaksud bilang bahwa aku dibesarkan di tengah keluarga kaya—bukan sedangkal itu maksudku. Maksudku adalah bahwa aku sama sekali tak tahu hakikat sensasi rasa ‘kelaparan.’ Kedengarannya ganjil, tapi aku tak pernah sadar bahwa perutku kosong. Ketika semasa kecil aku pulang dari sekolah, orang-orang di rumah ribut. “Kau pasti lapar. Kami ingat seperti apa rasanya, alangkah lapar begitu kamu sampai di rumah. Mau jelly bean? Kue ada, biskuit juga ada.” Sambil berusaha bersikap menyenangkan, seperti selalu kulakukan, aku akan bilang bahwa aku lapar, lalu menjejalkan selusin jelly bean ke dalam mulut, tapi apa yang mereka maksud dengan merasa lapar sama sekali tak kupahami.

Tentu saja aku selalu makan banyak, tapi aku nyaris tak ingat pernah melakukan itu karena lapar. Hal yang ganjil atau berlebihan menggodaku, dan ketika aku pergi ke rumah orang lain aku makan nyaris apa saja yang disodorkan kepadaku, bahkan meski perlu bersusah payah. Sebagai seorang anak, bagian hari yang paling berat dijalani adalah tentu saja saat makan, terutama di rumahku sendiri.

Di rumahku di desa, seluruh keluarga—anggotanya sekitar sepuluh orang—makan bersama, berbaris di meja dalam dua deret saling berhadapan. Sebagai anak bungsu wajar jika aku duduk paling ujung. Ruang makan itu gelap, dan pemandangan sepuluh orang atau lebih anggota keluarga yang sedang bersantap siang, atau kapan pun, dalam keheningan gelap menekan sudah cukup membuatku bergidik. Lagipula, keluarga desa ini hidup dengan gaya lama di mana makanan kurang lebihnya bersifat tertentu, dan adalah percuma bahkan untuk berharap adanya menu yang tak biasa atau berlebihan. Aku membenci saat makan setiap hari. Aku akan duduk di sana pada ujung meja dalam ruangan temaram dan, sambil gemetar kedinginan, akan kuangkat beberapa suap makanan ke arah mulut dan menjejalkannya. “Kenapa manusia harus makan tiga kali setiap hari? Betapa luar biasa khidmat wajah mereka semua saat makan! Seperti sedang menjalani ritual. Tiga kali setiap hari pada jam yang sudah diatur keluarga berkumpul dalam ruangan suram ini. Tempat masing-masing sudah diatur sebagaimana mestinya dan, tak peduli apakah kami lapar atau tidak, kami mengunyah makanan dalam hening, dengan mata menunduk. Siapa tahu? Ini mungkin sebuah tindak ibadah untuk berdamai dengan roh yang mungkin bercokol di sekitar rumah … ” Terkadang aku sejauh itu memikirkan hal ini.

Makan atau mati, kata orang, tapi di telingaku terdengar seperti satu ancaman tambahan yang meresahkan. Meski begitu takhayul ini (aku hanya bisa menganggapnya begitu) selalu membangkitkan bimbang dan takut dalam diriku. Tak ada yang bagiku lebih sukar dipahami, membingungkan, dan di saat bersamaan amatlah sarat dengan aura mengancam dibanding ungkapan, “Manusia bekerja untuk makan, karena kalau tidak makan mereka mampus.”

Dengan kata lain, bisa dibilang aku masih tak punya pemahaman tentang apa yang membuat manusia berdetak. Kewaspadaanku begitu besar saat menemukan bahwa konsep kebahagiaanku tampak sepenuhnya tak bersesuaian dengan konsep kebahagiaan orang lain sampai-sampai aku susah tidur dan menggeram malam demi malam di atas ranjang. Itu membuatku nyaris gila. Entahlah apakah aku pernah benar-benar bahagia. Orang bilang padaku sejak masih kecil, entah seberapa sering, betapa mujurnya diriku, tapi aku selalu merasa seolah sedang menderita di neraka. Kenyataannya tampak padaku bahwa mereka yang menyebutku mujur adalah jauh lebih beruntung dibanding diriku.

Kadang aku berpikir bahwa aku telah dibebani oleh sepuluh kemalangan, satu saja di antaranya sudah cukup untuk membunuh tetanggaku andai itu ditimpakan padanya.

Aku sungguh tak mengerti. Aku sama sekali tak bisa menebak apakah gerangan hakikat atau taraf penderitaan tetanggaku. Masalah-masalah praktis, kesedihan yang bisa diredakan andai ada cukup makanan—ini mungkin neraka yang panasnya paling ganas, cukup parah untuk meluluhlantakkan sepuluh kemalanganku, tapi itu pula letak ketidakpahamanku: jika tetanggaku sanggup melanjutkan hidup tanpa membunuh diri mereka sendiri, tanpa menjadi gila, tetap menaruh minat pada partai politik, tidak jatuh pada keputusasaan, terus gigih memperjuangkan eksistensi, sungguhkah kesedihan mereka tetap nyata? Apakah aku keliru dengan berpikir bahwa orang-orang ini telah jadi sepenuhnya egois dan yakin bahwa cara hidup yang mereka jalani adalah wajar sehingga mereka tak pernah sekali pun meragukan hidup mereka sendiri? Jika kasusnya begitu, penderitaan mereka seharusnya bisa mudah ditanggung: mereka adalah jenis manusia yang paling umum dan mungkin paling baik yang bisa diharapkan. Aku tak tahu … Jika kau tidur nyenyak di malam hari maka di pagi harinya kau akan gembira, kukira. Mimpi apa yang mereka punya? Apa yang mereka pikirkan saat melangkah sepanjang jalan? Uang? Mungkin sekali bukan—bukan hanya itu pikiran mereka. Tampaknya aku pernah mendengar teori bahwa manusia hidup untuk makan, tapi aku belum pernah mendengar orang bilang mereka hidup untuk mencari uang. Tidak. Namun, dalam kenyataannya … Tidak, aku bahkan tak tahu itu … Makin aku memikirkannya, makin kurang pemahamanku. Aku tak merasakan yang lain kecuali serangan kecurigaan dan teror memikirkan betapa aku satu-satunya orang yang sepenuhnya beda dari yang lain. Hampir mustahil bagiku bercakap-cakap dengan orang lain. Apa yang mesti kubicarakan, bagaimana aku mengatakannya?—Aku tak tahu.

Maka kemudian secara kebetulan aku berlaku sebagai badut.

Ini adalah pencarian cinta untuk terakhir kali yang kuarahkan pada manusia. Meski aku ngeri setengah mati pada manusia, aku tampaknya tak sanggup berpisah dari masyarakat. Di permukaan aku berusaha mempertahankan satu senyuman yang tak pernah lepas dari bibirku; inilah kemudahan yang kutawarkan pada orang, pencapaian paling rawan dari diriku yang kudapat dengan mengorbankan usaha batin yang menyiksa mental. Sebagai seorang anak aku sepenuhnya tak punya gambaran tentang apa yang mungkin diderita atau dipikirkan orang lain, bahkan termasuk anggota keluargaku sendiri. Aku hanya sadar dengan ketakutanku dan rasa maluku sendiri yang tak terkatakan. Sebelum orang lain menyadarinya, aku telah menjadi seorang badut ahli, seorang anak yang tak pernah bicara jujur.

Aku telah melihat foto-fotoku yang diambil pada waktu aku masih bersama keluargaku. Mereka semua berwajah serius; hanya wajahkulah yang tersenyum ganjil. Inilah satu lagi bentuk keganjilanku yang kekanak-kanakan dan menyedihkan.

Lagi, aku tak pernah sekali pun menjawab perkataan keluarga kepadaku. Celaan paling halus akan terasa olehku seperti sambaran petir dan akan membuat aku hilang akal. Menjawab? Jauh dari itu, aku merasa yakin bahwa celaan mereka tak ragu lagi menyuarakan kebenaran kepadaku dari arah keabadian masa lalu; aku terobsesi oleh ide bahwa karena aku tak punya kekuatan untuk bertindak sesuai dengan kebenaran ini maka mungkin aku sudah tertolak untuk hidup di antara manusia. Keyakinan ini membuatku tak mampu berargumen ataupun membenarkan diri. Ketika orang mengecamku aku merasa yakin bahwa aku sedang hidup di tengah salah paham paling memedihkan. Aku selalu menerima serangan tanpa bicara, meski di dalam dada aku ketakutan sehingga nyaris hilang akal.

Benar, kukira, bahwa tak seorang pun merasa senang dikritik atau dikecam, tapi aku melihat di wajah orang-orang yang marah padaku adanya satu binatang buas yang menampakkan kesejatiannya, binatang yang lebih menakutkan dibanding singa, buaya, atau naga. Secara normal orang terlihat menyembunyikan sifat bawaan ini, tapi akan ada saat di mana (bagai seekor kerbau yang dengan tenang merumput di tanah padang tapi mendadak ekornya bergerak bagai cambuk untuk membunuh lalat di pinggangnya) kemarahan membuat manusia menunjukkan dalam sekejap sifat menakutkan dari kemarahan itu. Melihat hal ini terjadi selalu merangsang dalam diriku satu ketakutan yang cukup besar untuk membuat rambutku berdiri, dan memikirkan bahwa tabiat ini mungkin salah satu perangkat manusia demi bertahan hidup maka aku sudah hampir sepenuhnya mencemaskan diri sendiri.

Aku selalu bergidik ketakutan di hadapan manusia. Tak mampu sedikit pun merasakan percaya diri dalam kemampuanku untuk bicara dan bertindak seperti manusia, aku menyimpan siksaan mental ini rapat di dalam dada. Kujaga melankoli dan gejolakku tetap tersembunyi, takut kalau jejaknya akan terlihat. Aku berlagak menunjukkan optimisme lugu; aku perlahan menyempurnakan diriku dalam peran sebagai si eksentrik yang pintar membadut.

Kupikir, “Sejauh aku bisa membuat mereka tertawa, tak peduli caranya, aku akan baik-baik saja. Jika aku berhasil di situ, manusia mungkin tak akan terlalu keberatan jika aku tetap berada di luar kehidupan mereka. Satu hal yang harus kuhindari adalah bersikap mendesak di depan mata: Aku adalah bukan siapa-siapa, adalah angin, langit.” Aktivitasku sebagai badut, peran yang lahir dari kecemasan, meluas bahkan saat di hadapan para pelayan, yang kutakuti lebih dibanding keluargaku karena aku mendapati mereka lebih sukar dimengerti.

Di musim panas aku membuat semua orang tertawa dengan berkeliaran dalam rumah pakai sweater wol merah di balik kimono katunku. Bahkan abangku yang jarang tersenyum itu tertawa dan mencelaku dengan nada mesra, “Tidak pantas kau memakai pakaian begitu, Yozo.” Tapi di antara semua kebodohanku, aku tak separah itu mengabaikan panas dan dingin sehingga berjalan keliling rumah saat musim panas sambil memakai sweater wol. Aku telah memasang legging adik perempuanku di kedua lengan, membiarkan hanya sedikit saja bagian lengan muncul di balik kimono demi memberi kesan bahwa aku sedang pakai sweater.

Ayahku sering punya acara di Tokyo dan karenanya memelihara sebuah rumah di sana untuk alasan itu. Ia menghabiskan dua atau tiga minggu sebulan setiap kali pergi ke sana, selalu pulang dengan membawa buah tangan yang luar biasa banyak, bukan hanya buat anggota keluarga namun juga para kerabat. Ini sejenis hobi baginya. Suatu ketika, malam menjelang keberangkatan ke Tokyo, ia memanggil semua anak menuju ke ruang tamu dan tersenyum sambil bertanya ingin oleh-oleh apa, dan dengan cermat mencatat jawaban si anak dalam sebuah buku kecil. Jarang Ayah bersikap sebaik itu pada anak-anak.

“Bagaimana dengan kau, Yozo?” ia bertanya, tapi aku hanya bisa bergumam tak jelas.

Saat ditanya begitu, dorongan pertama bagiku adalah menjawab ‘tak ada.’ Menurut pikiranku, mendapat hadiah atau tidak takkan ada bedanya, karena tak ada yang bisa membuatku gembira. Di saat bersamaan, aku sejak lahir tak bisa menolak apapun yang ditawarkan padaku oleh orang lain, tak peduli apakah aku suka atau tidak. Kalau aku membenci sesuatu, aku tak bisa bilang ‘aku tak suka.’ Kalau aku suka sesuatu, aku mencicipinya ragu-ragu, diam-diam, seolah rasanya pahit sekali. Entah aku suka atau tidak, aku tercabik oleh ketakutan yang tak terkatakan. Dengan kata lain, aku tak punya kekuatan untuk memilih. Dalam kenyataan ini, aku percaya ada salah satu karakteristik yang di tahun-tahun berikutnya berkembang menjadi penyebab besar ‘hidupku yang memalukan.’

Aku tetap terdiam, tapi tubuhku bergerak. Ayahku kehilangan sedikit kesabaran.

“Buku, mau? Atau bagaimana kalau topeng buat tari singa di tahun baru? Orang jual itu sekarang, ukuran anak kecil. Kau mau?”

Kata mematikan ‘kau mau?’ membuatku mustahil menjawabnya. Aku bahkan tak bisa memikirkan tanggapan paling cocok oleh seorang badut. Si badut telah sama sekali gagal.

“Paling baik buku, menurutku,” kata abangku dengan serius.

“Oh?” keceriaan hilang dari wajah ayahku. Ia menutup bukunya tanpa menulis apapun.

Gagal sudah. Kini aku telah membuat marah ayahku dan aku bisa pastikan bahwa pembalasannya akan menakutkan. Malam itu aku terbaring menggigil di ranjang sambil mencoba berpikir apakah masih ada cara untuk memperbaiki situasi. Aku beringsut keluar ranjang, bersijingkat menuju ke ruang tamu, dan membuka laci meja tempat ayahku sangat mungkin telah menaruh buku catatannya. Kudapatkan buku itu dan mengeluarkannya. Kubuka lembaran-lembaran sampai aku tiba pada tempat di mana daftar permintaan hadiah berada. Kujilat pensil buku catatan itu dan menulis dalam huruf-huruf besar TOPENG SINGA. Setelah itu aku kembali tidur. Aku sama sekali tak ingin topeng singa. Kenyataannya, aku lebih suka buku. Tapi jelas bahwa Ayah ingin membelikanku sebuah topeng, dan hasratku dalam memenuhi keinginannya dan memulihkan keceriaannya telah memuatku berani menyelinap ke dalam ruang tamu di gelap malam.

Kenekatan ini dibayar dengan kesuksesan besar sebagaimana telah kuharapkan. Ketika beberapa hari kemudian ayahku kembali dari Tokyo, aku mendengar ia bilang pada Ibu dengan suara keras—aku berada di ruang anak-anak waktu itu—“Menurutmu apa yang kudapati ketika aku membuka buku notesku di toko mainan? Lihat, ada yang menulis di sini ‘Topeng singa.’ Ini bukan tulisanku. Semenit lamanya aku tak bisa menebak siapa, lalu tahulah aku. Ini akal-akalan Yozo. Kau tahu, waktu kutanya apa yang dia inginkan sebagai hadiah dari Tokyo, dia hanya berdiri di sana nyengir tanpa bilang sepatah kata pun. Lalu pastilah dia pengin sekali punya topeng singa itu sampai-sampai tak tahan. Dia sungguh bocah lucu. Berlagak tak tahu apa yang dia inginkan lalu pergi dan menuliskannya. Kalau dia ingin sekali topeng dia cukup bilang padaku. Aku tertawa terbahak-bahak di muka setiap orang di toko mainan. Panggil dia sekarang agar datang kemari.”

Pada kesempatan lain aku mengumpulkan semua pelayan pria dan wanita kami di ruangan bergaya asing. Salah satu pelayan pria kuminta memainkan piano secara asal-asalan (rumah kami diperkaya dengan barang-barang kesenangan meski berada di desa), dan aku membuat semua orang tertawa dengan menari liar gaya Indian mengiringi setiap pencetan tuts yang salah tempat. Abangku memotret aku secara mendadak saat menari seperti itu. Ketika foto sudah dicetak, kau bisa melihat air seniku merembes di sela celana, dan ini pun jadi bahan tertawaan yang seru. Ini mungkin bisa dianggap sebagai kemenangan yang melebihi perkiraanku sendiri.

Aku biasa berlangganan rutin selusin atau lebih majalah anak, dan sebagai bacaan pribadi segala macam buku dipesan untukku dari Tokyo. Aku jadi ketagihan dengan segala sepak terjang Dr. Nonsentius dan Dr. Knowitall, dan akrab dengan kisah-kisah seru, kisah petualangan, kumpulan cerita humor, lagu-lagu, dan semacamnya. Aku tak pernah kekurangan kisah-kisah ganjil yang biasa kuceritakan kembali dan membuat para anggota keluargaku tertawa.

Tapi bagaimana dengan sekolahku?

Itu tidak jauh dari jalan menuju kehormatan. Tapi makna dihormati biasanya sangat mengancamku. Pengertian manusia ‘terhormat’ bagiku adalah dia yang hampir sepenuhnya berhasil dalam menjahili orang, tapi akhirnya ketahuan oleh orang yang bijak dan unggul, lalu dibikin hancur olehnya dan menderita malu tak tertanggungkan. Bahkan seandainya aku bisa menipu kebanyakan manusia agar menghormatiku, salah satu dari mereka akan tahu, lalu cepat atau lambat manusia lainnya akan tahu juga melaluinya. Alangkah murka dan dendamnya mereka yang sadar betapa diri mereka telah tertipu! Itu pikiran yang menakutkan.

Aku mendapatkan reputasi di sekolah lebih karena aku–bahasa kasarnya—‘punya otak’ dibanding karena aku anak orang kaya. Sebagai anak sakit-sakitan, aku sering tidak masuk sekolah selama satu atau dua bulan atau bahkan setahun penuh. Meski begitu, ketika aku kembali masuk sekolah, masih dalam kondisi pemulihan dan naik angkong, lalu ikut ujian di akhir tahun, selalu saja aku jadi juara berkat ‘otak’-ku. Aku tak pernah belajar, bahkan meski saat sehat. Selama pelajaran menghafal di sekolah, aku malah menggambar kartun dan saat jeda istirahat aku buat anak-anak lain tertawa dengan menjelaskan tentang apa yang ada dalam gambarku. Dalam pelajaran mengarang aku tak menulis apapun kecuali cerita lucu. Guru menasihatiku, tapi aku tidak kapok, karena aku tahu diam-diam ia menikmati ceritaku. Suatu hari aku tunjukkan padanya sebuah cerita dengan gaya sedih, mengenang pengalaman saat diajak ibuku naik kereta ke Tokyo, betapa aku kencing di sebuah tempat ludah dalam koridor. (Tapi waktu itu aku bukannya tidak tahu kalau itu tempat ludah; aku pura-pura salah, seolah aku bocah polos.) Aku yakin guruku akan tertawa sehingga diam-diam aku mengikutinya menuju ruangan staf. Begitu meninggalkan ruang kelas, guru itu menarik lembar karanganku dari sela tumpukan karya teman sekelas. Ia mulai membacanya sambil berjalan menuju aula, dan segera terkekeh. Ia menuju ruang staf dan semenit atau lebih kemudian—mungkin ia sudah selesai baca?—ia tertawa terpingkal-pingkal, wajahnya memerah. Kulihat dia menyodorkan kertasku ke arah guru-guru lain. Aku sangat puas dengan diri sendiri.

Aku tuyul kecil yang jahil.

Aku berhasil menampakkan kejahilan. Aku berhasil menghindari kebutuhan untuk dihormati. Nilai raporku semuanya A kecuali soal sopan santun, yang dengannya aku tak pernah lebih baik dari nilai C atau D. Ini pun jadi bahan ledekan di tengah keluarga.

Namun sifat dasarku sepenuhnya bertolak belakang dengan kejahilanku. Waktu itu aku sudah mulai diajari hal-hal yang jelek oleh pelayan laki-laki maupun perempuan; aku dirusak. Aku kini berpikir bahwa menunjukkan hal seperti itu pada anak kecil adalah kejahatan paling buruk dan keji yang bisa dilakukan manusia. Tapi aku bisa menerimanya. Aku bahkan merasa itu memberiku jalan untuk melihat aspek lain kepribadian manusia. Aku tersenyum di tengah kelemahanku. Jika aku membentuk kebiasaan berkata jujur mungkin aku bisa bilang tanpa rasa malu pada ayah atau ibuku soal kejahilan itu, tapi aku bahkan tak sepenuhnya mengerti orangtuaku. Meminta bantuan pada manusia—aku tak bisa mengharap apapun dengan cara itu. Seandainya aku mengeluh pada ayah atau ibuku, atau pada polisi atau pemerintah—aku ragu apakah akhirnya aku tidak akan diminta diam oleh seseorang atas nama kebaikan dunia, demi alasan yang bisa diterima dunia.

Terlalu jelas bahwa rasa pilih kasih itu ada: tak ada gunanya mengeluh kepada manusia. Jadi aku tidak bicara jujur. Aku merasa tak punya pilihan kecuali menanggung apapun yang menghadang dan memainkan peran badut.

Mungkin ada yang mencibir. “Apa maksudmu bilang tak punya rasa percaya pada manusia? Memangnya sejak kapan kau jadi umat Kristen?” Namun aku gagal melihat bahwa rasa tak percaya pada manusia seharusnya secara langsung mengarah pada agama. Apakah tidak benar bahwa manusia, termasuk mereka para pencibirku, hidup di tengah rasa saling tak percaya, tidak memikirkan Tuhan atau apapun lainnya?

Ada sesuatu yang terjadi waktu aku masih kecil. Seorang tokoh partai politik yang terkenal, partai ayahku juga, menyampaikan pidato di kota kecil kami, dan aku diajak ke gedung pertunjukan untuk mendengarkannya. Gedung itu penuh sesak. Semua orang di kota ini yang berteman baik dengan ayahku hadir dan secara antusias memberikan tepuk tangan. Ketika pidato berakhir hadirin keluar membentuk rombongan bertiga atau berlima lalu lenyap ditelan malam. Ketika mereka pulang menuju rumah, di atas jalanan bersalju mereka berkomentar keras soal acara itu. Aku bisa mengenali beberapa teman dekat ayahku mengeluh dengan nada nyaris marah soal betapa canggung pidato pembukaan yang disampaikan ayahku, dan betapa sukar menentukan apa isi pidato si tokoh besar. Lalu para pria itu mampir ke rumahku, masuk ke ruang tamu, dan bilang pada ayahku dengan nada senang bahwa acara tadi sungguh sebuah keberhasilan besar. Bahkan para pelayan, ketika ditanya ibuku soal acara pertemuan itu, menjawab seolah tanpa perlu berpikir bahwa itu sungguh sangat menarik. Mereka inilah pelayan yang tadinya mengeluh bahwa pertemuan politik itu adalah yang paling membosankan di seluruh dunia.

Namun ini hanya contoh kecil. Aku yakin bahwa kehidupan manusia berisi banyak contoh ketidakjujuran yang tulus, menggembirakan, dan menenangkan, jenis ketidakjujuran yang sungguh sangat bagus—milik orang-orang yang saling menyakiti tanpa (anehnya) saling melukai, atau mereka yang seolah bahkan tak sadar bahwa mereka saling merendahkan. Tapi aku tak punya minat menyebutkan contoh sikap saling menipu. Aku sendiri menghabiskan sepanjang hari menipu manusia dengan tingkah badutku. Aku tak bisa mempraktikkan moralitas yang digariskan dalam buku-buku teks etika di bawah istilah ‘keberadaban.’ Aku mendapati sulitnya memahami jenis manusia yang hidup, atau yakin ia bisa hidup dengan murni, bahagia, dan tenang sambil melakukan dusta. Manusia tak pernah mengajari aku rahasia yang sukar ditembus itu. Andai saja aku tahu satu hal yang tak perlu kutakuti dalam diri manusia, atau tidak kutolak, atau yang tidak membuatku merasakan siksaan neraka setiap malam. Pendeknya, aku percaya bahwa alasan kenapa aku tidak bilang pada siapa pun tentang kejahatan yang diajarkan kepadaku oleh para pelayan bukanlah karena aku tidak percaya pada manusia, bukan pula karena kecenderungan seorang Kristen dalam diriku, namun karena manusia di sekitarku secara gigih menghalangiku dari urusan percaya atau tak percaya. Bahkan kadang orangtuaku menunjukkan sikap yang bagiku sukar dimengerti.

Aku juga punya kesan bahwa banyak perempuan mampu, secara naluriah, mengendus kesepianku ini, yang tak kupercayakan pada siapa pun, dan di tahun-tahun kemudian menjadi salah satu penyebab kenapa aku diperalat dalam beragam cara.

Perempuan mendapati dalam diriku seorang pria yang bisa menjaga sebuah rahasia cinta.