Posted on
Strindberg Bapak Teater Modern

Perkenalan saya dengan Nona Julie terjadi pada bulan Maret tahun 2009. Ketika itu seorang teman datang menceritakan ringkasan cerita sebuah film yang baru saja dia tonton. Saya sangat terpikat mendengarnya. Bagaimana tidak, sebuah film yang hanya berisi satu dialog panjang dalam satu malam antara seorang pelayan (tukang semir sepatu) dan anak gadis majikannya, dan bahwa perasaan cinta mengharu-biru di dalamnya.

Saat itu saya sudah mulai tertarik membaca naskah-naskah drama –misalnya Oedipus di Kolonus dan trilogy Oresteia– dan menonton film Hamlet garapan Kenneth Branagh. Saya selalu teringat dialog subtil antara dua raja tua Oedipus dan Theseus saat mereka bertemu sehabis Oedipus membutakan diri. Sebagaimana semua drama Yunani kuno, drama Sophocles itu mematuhi prinsip kesatuan waktu, tempat, dan tindakan. Mendengar cerita teman saya bahwa film ini berisi dialog panjang satu malam, saya langsung membayangkan intensitas komunikasi, keintiman, dan letupan perasaan yang silih berganti sebagaimana saya dapati saat membaca Oedipus di Kolonus. Saya pun bergegas menuju ke rental film terdekat.

Film itu –yang berjudul Miss Julie, garapan sutradara Mike Figgis– akhirnya memang memenuhi harapan saya, bahkan saya menotonnya berkali-kali. Wajar sekali, karena ternyata film ini diangkat dari naskah drama Strindberg dengan judul yang sama. Waktu itu saya belum mengenal August Strindberg. Benar-benar jatuh hati dengan film ini, saya pun mencari data tentang Strindberg, mengunduh kumpulan naskah drama yang mencakup Miss Julie di dalamnya, dan membaca naskah ini secara khusus berulang kali. Merasa belum puas hanya dengan membacanya saja, maka di bulan Agustus tahun itu pula naskah ini saya terjemahkan. Draft pertama terjemahan ini saya selesaikan dalam waktu dua hari.

Nona Julie adalah drama Strindberg yang paling terkenal. Ketiklah nama Strindberg di goodreads, dan akan Anda dapati judul ini berada di bagian paling atas. Wajar saja, ia menulis drama ini tahun 1888, di usia 39 tahun, saat sudah berada di puncak kematangan kreativitasnya. Tahun berikutnya naskah ini diperdanakan.

Peristiwa dalam drama ini berlangsung di sebuah malam tengah musim panas di sebuah rumah milik seorang count Swedia. Nona Julie, putri sang count, jatuh hati pada seorang pelayan senior, tukang semir sepatu bernama Jean—pria berusia 30 tahun yang telah banyak berkelana, banyak belajar tata cara orang berkelas dengan cara menguping majikannya, dan bahkan banyak membaca. Di antara mereka berdua ada Kristine, juru masak sekaligus tunangan Jean. Selama Jean dan Nona Julie berdialog, Kristine tertidur. Di akhir drama, wanita ini terbangun di saat suasana sudah sangat genting.

Meskipun hanya seorang pelayan, Jean pintar mempengaruhi hati perempuan dengan bahasa yang sangat lembut. Mari kita dengar apa katanya:

[Sedikit demi sedikit kerinduan menyapu seluruh diri, kerinduan untuk mengalami kembali kesenangan itu. Akhirnya, saya menelusup masuk kembali dan terperangah. Tapi kemudian saya dengar langkah seseorang mendekat—bagi orang terhormat hanya ada satu pintu keluar, sementara bagi saya masih ada jalan lain, dan saya memilih lewat sana. (Julie yang telah mengeluarkan bunga-bunga bungur itu membiarkan mereka jatuh di atas meja) Ketika keluar itu saya mulai berlari, berjuang menembus pagar tanaman frambos, menerobos rumpunan stroberi dan berdiri kaku di muka teras penuh tanaman bunga ros. Di sana saya dapati sesosok tubuh bergaun putih, bersepatu dan kaus kaki yang juga putih—itu adalah kamu! Saya sembunyi di bawah gundukan rumput liar, di mana, kamu tahu, duri-duri menusukku, dan saya terbaring di atas tanah yang lembab dan busuk. Beberapa lama kutatap dirimu yang berjalan di antara bunga-bunga ros. Dan terpikir olehku bahwa jika benar seorang pencuri bisa masuk surga dan berdiam bersama para malaikat, maka tidakkah aneh jika seorang anak kaum paria di bumi milik Tuhan bahkan tidak bisa masuk ke dalam taman kastil dan bermain bersama anak gadis majikan?]

lalu dilanjutkan dengan semakin intens:

[Ah, kembali ke kisah yang tadi, apakah kamu tahu apa yang saya lakukan kemudian? Saya berlari menuju kincir air dan melontarkan diri dengan pakaian lengkap ke tengah kecipak arusnya. Hanya saja beberapa saat kemudian seseorang menarikku dan saya beroleh satu pukulan. Tapi hari minggu berikutnya ketika seluruh keluarga pergi mengunjungi nenek, saya berencana untuk tinggal saja di rumah; saya gosok tubuh saya dengan minyak dan mengenakan pakaian terbaik, lalu pergi ke gereja sehingga bisa melihatmu. Akhirnya terkabul juga. Lalu saya pulang dengan pikiran segar dan sampai di rumah saya kunyah kembali pengalaman nikmat itu dalam kenangan. Tapi saya ingin melakukannya dengan indah tanpa rasa sakit. Lalu teringatlah oleh saya bahwa kelopak-kelopak murbei mengandung racun. Saya tahu di mana ada tumbuh rumpun murbei yang besar dan tengah berbunga dan di sana saya memetiki kuntum-kuntumnya untuk membuat ranjang di dalam lumbung gandum. Pernahkah kamu tahu betapa lembut dan mengkilapnya butir gandum itu? Selembut lengan perempuan—Ya, saya masuk ke dalamnya, membiarkan penutupnya melekap di atas tubuh saya, lalu tertidur; dan ketika terbangun tubuh saya jadi terasa sakit, tapi saya tidak mati—seperti kamu lihat. Apa yang saya inginkan…saya sendiri tak tahu. Kamu tidak tergapai, tak mampu kuraih, tapi melalui penglihatan atas dirimu itu saya jadi sadar betapa hampanya harapan ini untuk bangkit ke tingkat lebih tinggi meninggalkan kondisi rendah di mana saya dilahirkan.]

sangat terkesan mendengar ini, akhirnya Nona Julie pun tak bisa menahan perasaannya dan berkata:

[Bawalah aku dalam pelukanmu dan katakan kau cinta padaku.]

 

Mudah ditebak apa yang kemudian terjadi pada Nona Julie. Saya kira banyak perempuan akan kurang menyukai perlakuan Strindberg atas perwatakan Nona Julie ini. Hal ini berkebalikan dengan perlakuan Ibsen atas Nora Helmer dan Hedda Gabler—dua tokoh rekaannya yang paling kuat. Karya Strindberg dan Ibsen memang saling berkebalikan. Perlakuan Strindberg atas watak perempuan dalam drama terbesarnya ini membuatnya dicap sebagai misoginis, sedangkan Ibsen dikenal secara luas sebagai seorang feminis. Namun meski demikian –kata dramawan Bernard Shaw– Ibsen dan Strindberg adalah “raksasa teater kita dewasa ini”. Keduanya sama-sama meletakkan pondasi bagi pertumbuhan drama modern.

Strindberg banyak menulis dramanya di masa ketika realisme dan naturalisme mendominasi. Nona Julie sering dianggap sebagai puncak karyanya dari fase naturalisme. Kita tahu, pada gilirannya pengaruh naturalisme digantikan oleh simbolisme yang diwakili oleh karya besar Maeterlinck, Pelleas et Mellisande (1893). Strindberg sendiri pada akhirnya masuk ke fase simbolisme pula melalui drama-drama terakhirnya: The Dance of Death (1900), A Dream Play (1901), dan The Ghost Sonata (1907). Namun ketiganya tak mencapai pengaruh sebesar Nona Julie.

Banyak diyakini bahwa pengalaman praktis pementasan lakon sangat mendukung kemampuan seorang dramawan dalam menulis naskah cemerlang. Sebut saja nama Shakespeare, Moliere, Ibsen, dan Pinter yang menjadi hebat karena pengalaman praktis tersebut. Uniknya, Strindberg bukanlah dramawan macam mereka. Pengalamannya di dunia panggung sangatlah terbatas; namun alih-alih menghalangi pencapaian, keterbatasan itu justru menjadi aset baginya sehingga muncullah inovasi, karena ia tidak terkungkung oleh tradisi yang sudah ada dalam mengejawantahkan naskah lakon ke atas panggung.

Namun pula justru karena sifat inovatif itulah maka sebagai dramawan Strindberg membutuhkan waktu lama untuk dikenal luas. Nona Julie ini saja pertama kali dipentaskan di Copenhagen –bukan negerinya sendiri– dengan jumlah penonton yang sangat terbatas. Strindberg baru berhasil memboyong Nona Julie di hadapan publik Stockholm, Swedia delapan belas tahun kemudian, di tahun 1906. Bahkan ketika pertama kali naskah drama ini diterbitkan di tahun 1988, hampir semua reaksi bernada negatif. Maka tak heran setelah pentas perdana itu drama ini dilarang dipentaskan di seluruh Eropa.

Ketika kemudian diyakini bahwa karya yang dicap buruk sebenarnya adalah mutiara, naskah ini pun segera diangkat kembali, dan pementasannya pun banyak digelar di berbagai penjuru Eropa dan Amerika sepanjang abad 20, hingga drama ini segera termasyhur ke seluruh dunia sebagai tonggak drama modern.

Pengaruh Strindberg bagi para dramawan sesudahnya sangatlah besar. Eugene O’Neil, dramawan Amerika peraih nobel sastra 1936, menilai Strindberg: “paling modern di antara dramawan modern. Ia paling hebat dalam menampilkan konflik spiritual—dialah darah! Darah kehidupan kita sekarang ini.” Sutradara besar Ingmar Bergman –yang sangat saya sukai lewat film ‘Scenes from A Marriage’ (1972)– menyebut Strindberg sebagai kawan seumur hidup: “Aku berusaha menulis dialog, adegan, dan segala sesuatunya seperti dia. Aku merasakan daya hidupnya, kemarahannya ada dalam diriku.”

Dalam pengantar yang ia tulis sendiri untuk menjelaskan dramanya ini, Strindberg memandang akan ada perubahan perspektif atas sosok Nona Julie ini seiring berjalannya waktu. Ia berasumsi betapa audiens di masanya akan memandang Nona Julie sebagai sosok yang tragis, namun ia prediksikan publik di masa depan akan memandang nasibnya dengan sikap tak peduli.

Pandangan Anda sendiri bagaimana?

***

oleh Nurul Hanafi


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Nona Julie karya August Strindberg.