Posted on
Dongeng Aesop

Seekor singa terbaring sakit dalam sarangnya, tak mampu mencari makan sendiri. Maka berkatalah ia pada kawannya, si rubah, yang datang menjenguk:

“Kawanku, aku ingin kau pergi berburu dan mengelabui si rusa jantan. Bawalah ia ke sarang ini. Aku menginginkan santapan malam yang nikmat dengan menu hati dan otak rusa.”

Si rubah pun pergi ke tengah hutan, menemui si rusa jantan dan berkata, “Tuan Rusa, kabar baik untuk Anda! Anda tahu si singa, raja kita? Ia terbaring sakit di sarang dan tengah menjemput ajalnya. Ia memilihmu untuk menggantikannya menjadi raja yang menguasai seluruh hutan ini. Kuharap Anda tidak lupa bahwa sayalah hewan pertama yang membawa kabar ini untuk Anda. Nah, sekarang saya mesti kembali padanya. Jika Anda turuti saran saya, tentu Anda pun akan ikut bersama pergi ke sarangnya.”

Si rusa sangatlah tersanjung. Ia ikuti si rubah menuju sarang singa. Ia sama sekali tak menyangka alamat buruk yang akan menimpa. Tak lama setelah tubuhnya masuk ke sarang, si singa bangkit dan langsung menerkam. Tapi malangnya si rusa pandai menghindar. Hanya telinganya yang terserempet kuku singa. Ia pun melesat pergi. Si singa gagal menikmati makan malam sesuai harapan.

Si rubah merasa malu dan singa pun sangat kecewa. Ia tambah lapar. Maka ia memohon pada si rubah untuk mencoba lagi merayu si rusa ke dalam sarangnya.

“Itu hampir tak mungkin,” kata rubah, “tapi akan kucoba.”

Ia pun keluar dan menelusup ke hutan untuk kedua kalinya. Kali ini, ia dapati si rusa sedang istirahat dan memulihkan keadaan jiwanya yang masih tergoncang oleh upaya pembunuhan tadi. Melihat kedatangan si rubah, langsung saja ia memasang wajah sengit.

“Bangsat kau! Apa maksudmu, menjebakku dalam rahang beraroma maut? Pergi sana! Kalau tidak, akan kutanduk tubuhmu sampai remuk!”

Namun si rubah sungguh tak merasa malu.

“Pengecut!” katanya menghujat. “Mengapa kau membayangkan si singa akan menyakitimu? Ia hanya ingin membisikkan ke telingamu beberapa rahasia istana yang tak seekor binatang pun boleh mendengar, termasuk aku! Tapi kau justru kabur begitu. Huh! Sekarang ia tampak sudah hilang kepercayaan. Aku tidak yakin apakah kau masih dianggapnya layak. Mungkin sekarang perhatiannya terarah pada si serigala. Kecuali jika kau kembali lagi ke sana dan menunjukkan semangatmu untuk memimpin. Aku berani jamin, ia tidak akan menyakitimu. Setelah kau menjadi raja kelak, akulah abdi setiamu.”

Seperti daging tubuhnya, si rusa cukup lunak juga untuk dipengaruhi. Ia masuk ke sarang singa untuk kedua kalinya. Sekarang, singa tak membuat kesalahan lagi. Terkamannya tepat mengenai sasaran dan deretan kuku serta rahangnya pun bekerja sigap. Dalam waktu singkat, ia sudah menggelar pesta makan di atas tumpukan tulang.

Si rubah menanti kesempatan, berdiri di pinggir. Ketika si singa tak sedang melihatnya, ia sambar kepala si rusa dan menyantap otaknya selagi masih hangat. Ia tak ingin bagian tubuh paling lezat itu masuk ke perut singa, toh pesta ini tak akan berlangsung tanpa bantuannya.

Setelah seluruh bagian tubuh disantap, singa merasa ada yang kurang. Ia belum memamah empuknya otak rusa.

“Wah, mana otak rusa itu?” ujarnya sambil menatap belingsatan.

Si rubah cepat-cepat menyahut, “Rusa itu tak punya otak.”

“Bagaimana bisa?” si singa menajamkan pendengaran dan menatap si rubah.

“Binatang yang sudah lolos dari sarang bahaya, namun kembali masuk ke sarang itu tentulah binatang yang tak punya otak.”


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Fabel karya Aesop.