Posted on

Nasihat dari seseorang takkan berguna bagi para pencinta; cinta bukan semacam limpahan air yang dapat dibendung seseorang.

Tiada cendekiawan akan tahu haru-gembira di kepala si pemabuk; tiada seorang yang berpegang pada pikiran akan tahu pesona yang melambungkan hati mereka yang terbatas dari ikatan pikiran.

Raja-raja menjadi tak acuh akan kedudukannya bila mereka menangkap bau anggur yang direguk para pencinta dalam pertemuan hati.

Kusrau mengucapkan selamat tinggal pada kerajaannya demi Shirin; Farhad pun, demi Shirin pula, meng-
ayunkan kapak ke pinggang gunung.

Majnun melepaskan diri dari lingkungan keluarga demi cinta akan Laila; Vamiq menertawakan kegarangan kumis sekalian laki-laki yang menyombongkan diri.

Bekulah hidup yang berlalu tanpa roh yang indah ini; busuklah daging buah yang tak mengenal lagi kue badam ini.

Bila langit di atas sana tak berputar dalam ketakjuban dan cinta seperti kita, tentulah ia akan jemu berputar dan berkata, “Cukup sudah bagiku; berapa lama, berapa lama mesti begini?

Dunia ini bagai seruling gelagah, yang ditiupnya pada setiap lubangnya; sungguh setiap ratapnya berasal dari kedua belah bibir yang semanis tengguli itu.

Lihatlah, bagaimana bila Ia meniupkan napas-Nya ke dalam setiap gumpal tanah, setiap kalbu, Ia taburkan hajat, Ia taburkan gairah hasrat yang menimbulkan ratapan sendu.

Bila kaurobekrenggutkan hati dari Tuhan, kepada siapakah itu akan kaukaitkan kemudian? Katakan itu padaku. Sungguh tak berjiwa mulia orang yang telah sanggup merobekrenggutkan hatinya dari Tuhan biar sebentar pun.

Akan kucukupkan sampai di sini; cepatlah pergi, di malam hari naiklah hingga ke atap ini, perdengarkan seruan merdu di kota, dengan suara nyaring-tinggi.


Puisi ini dimuat dalam Kumpulan Sajak karya Jalaluddin Rumi.