Bagian Pertama

1

 

 

Hari ini, Mama[1] meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu. Aku menerima telegram: “Ibu Meninggal. Pemakaman besok. Turut berduka.” Itu tak berarti apapun. Mungkin terjadi kemarin.

Panti jompo itu berada di Marengo, delapan puluh kilo dari Aljir. Aku akan naik bus pukul dua dan tiba sebelum malam. Aku meminta cuti dua hari pada atasanku dan dia tidak bisa menolak dengan alasan seperti itu. Tapi dia terlihat tidak senang. Aku bahkan berkata kepadanya, “Ini bukan salahku.” Dia tidak menjawab. Kupikir tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Singkatnya bukan aku yang harus meminta maaf. Dialah yang seharusnya menyampaikan belasungkawa kepadaku. Tapi dia mungkin akan melakukannya lusa, ketika dia melihatku berduka. Saat ini sedikit terasa seperti Mama belum meninggal. Setelah pemakaman, semua akan selesai dan tampak lebih formal.

Aku naik bus pukul dua. Panas sekali. Aku makan di restoran di tempat Celeste seperti biasa. Mereka turut berdukacita untukku dan Celeste berkata, “Kita semua hanya punya satu ibu.” Saat aku selesai, mereka mengantarku ke pintu. Aku sedikit ogah-ogahan karena aku harus ke tempat Emanuel untuk meminjam dasi hitam dan ban lengan. Dia kehilangan pamannya beberapa bulan lalu.

Aku berlari agar tidak ketinggalan bus. Buru-buru, lari-larian, mungkin karena semua itu ditambah geronjalan, bau bensin, pemandangan jalan dan langit yang seperti itu-itu saja membuatku tertidur. Aku tidur hampir sepanjang perjalanan. Dan saat aku terbangun aku sudah tersandar pada seorang tentara yang tersenyum dan bertanya apakah aku datang dari jauh. Aku mengiyakan supaya tak perlu menjawab lagi.

Panti jompo itu terletak dua kilo dari pemukiman. Aku ke sana berjalan kaki. Aku mau melihat Mama segera. Tapi pengurus di sana berkata aku harus menemui Kepala Panti. Aku menunggu sebentar karena dia masih sibuk. Selagi si pengurus bercakap, aku pun melihat Kepala Panti. Kemudian dia mempersilakanku masuk ke kantornya. Kepala Panti ialah seorang lelaki tua bertubuh kecil yang memakai lencana penghargaan militer. Dia menatapku dengan matanya yang bening. Kemudian dia menggenggam tanganku cukup lama sampai-sampai aku tak tahu bagaimana melepaskannya. Dia mengambil sebuah berkas dan berkata, “Ibu Meursault tiba di sini tiga tahun lalu. Anda satu-satunya penanggungjawabnya.” Aku pikir dia menyalahkanku untuk suatu hal dan aku bersiap menjelaskan kepadanya. Tapi dia menyelaku, “Anda tidak perlu mencari pembenaran, Nak. Saya sudah membaca berkas ibu Anda. Anda tidak bisa membiayainya. Beliau membutuhkan perawat. Gaji Anda pas-pasan. Dan secara umum dia lebih bahagia di sini.” “Ya, Pak,” jawabku. Dia menambahkan, “Anda tahu, beliau punya teman-teman seusianya di sini. Beliau bisa berbagi kesenangan dengan mereka. Anda masih muda dan beliau pasti bosan dengan Anda.”

Memang benar. Ketika di rumah, Mama sering memperhatikanku diam-diam, tapi kami jarang berbicara. Saat awal-awal masuk di panti jompo, dia sering menangis. Tapi itu karena belum terbiasa saja. Setelah beberapa bulan, dia hanya akan menangis jika dibawa keluar dari panti jompo. Semua hanya masalah kebiasaan. Itulah kenapa tahun lalu aku hampir tidak pernah mengunjunginya. Juga karena kunjungan itu menyia-nyiakan hari mingguku—belum lagi perjuangan untuk naik bus, mendapat tiket dan melalui berjam-jam perjalanan.

Kepala Panti berbicara lagi padaku. Aku tak begitu mendengarkannya lagi. Kemudian dia berkata, “Kurasa Anda mau melihat ibu Anda.” Aku berdiri perlahan dan dia mendahului ke pintu. Di tangga dia menjelaskan padaku, “Kami menyemayamkannya di kamar mayat sederhana agar tidak menarik perhatian yang lain. Tiap kali seorang penghuni meninggal, maka yang lain gelisah selama dua atau tiga hari. Ini membuat kami kerepotan.” Kami melintasi halaman lapang di mana ada banyak lansia bercakap berkelompok dua-tiga orang. Semua mendadak diam ketika kami lewat. Dan di belakang kami, percakapan mereka berlanjut. Terdengar seperti cuitan burung beo yang teredam. Di pintu sebuah bangunan kecil, Kepala Panti meninggalkanku, “Saya tinggalkan Anda, Tuan Meursault. Saya akan selalu ada di kantor. Sesuai rencana, pemakaman sudah ditetapkan pukul sepuluh pagi. Kami pikir itu waktu yang cukup untuk mengucapkan selamat tinggal pada almarhumah. Terakhir, ibu Anda sepertinya sering menyampaikan pada teman-temannya keinginan untuk dikuburkan secara religius. Saya telah melakukan yang perlu dilakukan; tapi saya hanya ingin memberitahu Anda.” Aku berterima kasih padanya. Meski Mama bukan seorang atheis, dia tidak pernah memikirkan agama sepanjang hidupnya.

Aku masuk. Ruangan itu sangat terang, bercat putih dengan jendela kaca. Ada kursi-kursi dan penyangga berbentuk X. Dua dari penyangga itu diletakkan di tengah-tengah, menopang peti mati yang tertutup. Sekrupnya belum dikencangkan, beberapa hampir lepas dari papan yang secoklat kenari. Di dekat peti mati ada seorang perawat arab mengenakan mantel putih dan syal berwarna cerah di kepalanya.

Pada saat itu si pengurus tiba di belakangku. Dia pasti habis berlari. Sedikit terengah-engah dia berkata, “Kami sudah menutupnya, tapi saya akan membuka tutup peti itu agar Anda bisa melihatnya.” Dia mendekati peti tapi aku mencegahnya. Dia bertanya, “Anda tidak mau?” Kujawab, “Tidak.” Dia berhenti dan aku merasa seharusnya tidak mengatakan itu. Sebentar kemudian dia memandangku dan bertanya, “Mengapa?” tapi tanpa menyalahkan, hanya sekadar bertanya. Kubilang, “Aku tidak tahu.” Sembari memilin kumis putihnya, dia berkata tanpa menatapku, “Aku mengerti.” Kuperhatikan dia memiliki mata yang bagus, biru muda dengan sedikit semburat merah. Dia menyodorkan kursi padaku dan dia sendiri duduk sedikit di belakangku. Perawat arab tadi berdiri dan berjalan ke luar. Saat itu juga si pengurus berkata padaku, “Dia kena tumor.” Aku tidak tahu soal ini, jadi aku melihat si perawat dan mendapati dia menggunakan kain pembalut di bawah matanya yang melilit sekeliling kepala. Di bagian yang seharusnya ujung hidung, pembalut itu rata. Aku hanya bisa melihat warna putih pembalut hidung di wajahnya.

Begitu perawat itu pergi, si pengurus berkata, “Saya pergi dulu.” Aku tidak tahu gerakan apa yang kulakukan tapi dia tetap di sana, berdiri di belakangku. Keberadaannya di belakangku sedikit mengganggu. Ruangan kemudian diisi oleh cahaya senja yang indah. Dua ekor lebah berdengung di kanopi. Dan aku merasa ingin tidur. Aku berkata pada si pengurus tanpa menengok padanya, “Sudah berapa lama kerja di sini?” Segera dia menjawab, “Lima tahun,” seolah dia sudah menunggu pertanyaanku.

Kemudian dia berbicara banyak hal. Dia sendiri terkejut ketika tahu dia ditugaskan sebagai petugas di panti jompo di Marengo. Dia berumur enam puluh empat tahun dan dia orang Paris. Pada saat itu aku menyelanya, “Anda tidak berasal dari sini?” Aku teringat sebelum mengantarku ke Kepala Panti, dia bercerita tentang Mama. Dia mengatakan padaku bahwa pemakaman harus segera dilakukan karena datarannya panas, terutama daerah ini. Saat itulah dia memberitahuku bahwa dia pernah tinggal di Paris dan hampir tak bisa melupakannya. Di Paris, kadang kami belum menguburkan jenazah selama tiga atau empat hari. Di sini kami tidak punya waktu, kami sudah biasa dengan gagasan kalau kereta pengangkut jenazah sudah berangkat maka kami harus berlari di belakangnya. Lalu istrinya mengingatkan, “Diam, ini bukan hal yang pantas diceritakan pada beliau.” Lelaki tua itu tersipu dan meminta maaf. Aku menyelanya dan berkata, “Tidak, tidak apa-apa.” Aku menemukan sesuatu yang wajar dan menarik dari ceritanya.

Di ruang mayat yang kecil itu, dia bercerita kepadaku bahwa dia masuk ke panti jompo tanpa modal apapun. Ketika dia merasa memenuhi syarat, dia mendaftar menjadi petugas kebersihan. Kubilang, pada dasarnya dia sama-sama penghuni juga. Dia menyangkalnya. Aku dibuat terkesan dari caranya menyebutkan ‘mereka,’ ‘yang lain,’ dan yang lebih jarang ‘yang tua,’ ketika berbicara soal penghuni yang beberapa tidak lebih tua darinya. Tapi tentu saja itu tidak sama. Dia adalah pengurus, dan untuk beberapa hal dia lebih punya wewenang dibanding mereka.

Si perawat kemudian masuk. Tiba-tiba sudah malam saja, dan malam memekat dengan cepat. Si pengurus menyalakan lampu dan aku sejenak terbutakan oleh cahaya. Dia mengajakku ke ruang makan untuk makan malam. Tapi aku tidak lapar. Kemudian dia menawarkanku segelas kopi susu. Karena aku suka kopi susu, aku mengiyakannya dan sesaat kemudian dia kembali sambil membawa secangkir kopi susu di atas baki. Aku meminumnya. Kemudian aku ingin merokok. Tapi aku ragu karena aku tidak tahu apakah boleh melakukannya di depan Mama. Kupertimbangkan soal itu dan kupikir tak apa. Aku menawari si pengurus sebatang rokok dan kami merokok.

Kemudian, dia berkata kepadaku, “Anda tahu, teman-teman ibu Anda akan datang dan memberikan penghormatan juga. Ini sudah jadi kebiasaan. Saya harus pergi menyiapkan kursi dan kopi hitam.” Aku bertanya padanya apakah lampunya bisa dimatikan satu. Cahayanya membuat dinding putih menyilaukan dan membuatku lelah. Dia jawab tidak bisa. Lampunya sudah dipasang seperti itu: menyala semua atau mati semua. Kemudian aku tak terlalu memperhatikannya. Dia keluar, kembali, lalu mengatur kursi. Di salah satu kursi dia menyusun gelas di sekitar sebuah teko kopi. Lalu dia duduk di hadapanku, di sisi lain Mama. Si perawat ada di belakang dengan punggung membelakangiku. Aku tak bisa melihat apa yang dia lakukan, tapi dari gerakan tangannya aku yakin dia sedang merajut. Rasanya menyenangkan; kopi menghangatkanku dan, dari pintu yang terbuka tercium bau malam dan bunga. Kupikir aku sedikit mengantuk.

Sebuah sentuhan membangunkanku. Setelah menutup mata, kurasakan ruangan ini berkilau lebih putih. Di depanku seperti tidak ada bayangan, dan semua benda, semua sudut, semua lekukan seperti digambar dengan garis putih yang membuat mataku sakit. Saat itu teman-teman Mama masuk. Semuanya ada sekitar sepuluh dan mereka seperti menyelinap dengan tenang ke cahaya yang menyilaukan. Mereka duduk tanpa menimbulkan derit kursi. Tidak pernah dalam hidupku aku melihat seseorang dengan sangat jelas seperti aku melihat orang-orang ini; tak ada detail wajah atau pakaian mereka yang luput dari mataku. Namun aku tak bisa mendengar mereka dan aku hampir tidak dapat mempercayai keberadaan mereka. Hampir semua perempuan mengenakan celemek dan tali pengikat di bagian pinggang sehingga perut mereka menonjol. Aku tak pernah memperhatikan seberapa besar perempuan tua bisa menggemuk. Yang lelaki hampir semuanya sangat kurus dan memegang tongkat. Yang membuatku terkejut adalah aku tak bisa melihat mata di wajah mereka, hanya cahaya redup di tengah kerutan muka. Ketika mereka duduk, kebanyakan dari mereka menatapku dan mengangguk ragu-ragu. Bibir mereka seolah tertelan oleh mulut ompong mereka, tanpa aku tahu apakah mereka menyapaku atau hanya menggerakkan mulut saja. Sebaliknya kupikir mereka melambaikan tangan kepadaku. Namun saat itu aku menyadari mereka semua duduk di depanku sambil menganggukkan kepala di sekitar si pengurus. Sesaat aku mendapat kesan konyol bahwa mereka ada di sana untuk menghakimiku.

Sesaat setelah itu, salah seorang perempuan mulai menangis. Dia berada di baris kedua, tersembunyi di balik teman-temannya dan aku hampir tidak bisa melihatnya. Dia menangis dengan ritme perlahan, seperti tak akan pernah berhenti. Yang lain seolah tidak mendengarnya. Mereka meratap, muram, dan diam. Mereka melihat peti mati, atau tongkat mereka, atau apa saja, tapi mereka hanya melihat itu. Wanita itu masih menangis. Aku terkaget karena tidak mengenalnya. Aku harap aku tidak mendengarnya lagi. Namun aku tidak berani memberitahunya. Si pengurus berbicara dengannya sambil membungkuk, tapi dia menggelengkan kepala, menggumamkan sesuatu, dan terus menangis dengan ritme yang sama. Pengurus itu kemudian datang ke sebelahku. Dia duduk di sampingku. Setelah beberapa lama, dia memberitahuku tanpa menatapku. “Dia sangat dekat dengan ibumu. Dia bilang beliau satu-satunya temannya di sini dan sekarang dia tidak punya siapa-siapa.”

Kami tetap seperti ini dalam waktu yang lama. Keluhan dan isak tangis wanita itu semakin jarang. Setelah terisak berkali-kali akhirnya dia terdiam. Aku tidak lagi mengantuk, tapi aku lelah dan pinggangku sakit. Sekarang justru keheningan semua orang ini yang menggangguku. Hanya sesekali aku mendengar suara aneh dan aku tak tahu itu apa. Belakangan aku tahu bahwa beberapa lelaki tua mengisap bagian dalam pipi mereka sehingga mengeluarkan suara aneh itu. Mereka tidak menyadarinya karena mereka asyik dengan pikiran masing-masing. Aku bahkan mendapat kesan bahwa jenazah itu, yang terbaring di antara mereka, tidak berarti apa-apa bagi mereka. Tapi sekarang aku yakin, itu kesan yang salah.

Kami semua minum kopi yang disajikan si pengurus. Lalu aku tidak tahu lagi. Malam sudah berlalu. Aku ingat suatu ketika aku membuka mata dan melihat lansia-lansia itu sedang tidur meringkuk bersama kecuali seorang yang dagunya diletakkan di punggung tangan yang bertumpu pada tongkat, menatap ke arahku seakan dia menungguku bangun. Lalu aku tidur lagi. Aku terbangun karena pinggangku semakin sakit. Matahari sedang menyelinap ke atas dari jendela kaca. Tak lama kemudian, salah satu lelaki tua bangun dan dia batuk terus-menerus. Dia meludah ke saputangan lebar bermotif kotak dan tiap ludahnya seperti airmata. Dia membangunkan yang lain dan si pengurus berkata mereka harus pergi. Mereka pun bangun. Wajah mereka tampak kelabu setelah melalui malam yang canggung ini. Saat kami berjalan ke luar, aku terkejut mereka semua menjabat tanganku—seolah malam tanpa bertukar kata itu membuat kami semakin akrab.

Aku lelah. Si pengurus mengantarkanku ke rumahnya supaya aku bisa mandi sebentar. Aku minum kopi susu lagi yang sangat enak. Ketika aku pergi ke luar, matahari sudah naik. Di atas perbukitan yang memisahkan Marengo dari laut, langit tampak kemerahan, dan angin yang melewatinya membawa bau garam ke sini. Seperti hari-hari indah yang siap menyambut. Sudah lama sekali aku tidak berada di desa dan jika bukan karena Mama, aku akan merasakan betapa senangnya berjalan-jalan.

Lalu aku menunggu di halaman, di bawah pohon platan. Aku menghirup aroma bumi yang segar dan tidak lagi mengantuk. Aku memikirkan teman-teman di kantor. Pada jam seperti ini mereka akan bangun untuk pergi bekerja. Bagiku itu adalah waktu-waktu yang paling sulit. Aku memikirkan hal ini sedikit lebih lama, namun terganggu oleh lonceng yang berbunyi dari dalam bangunan. Ada keributan di balik jendela, tapi kemudian semuanya tenang. Matahari yang sudah cukup tinggi di langit mulai menghangatkan kakiku. Si pengurus berjalan melintasi halaman dan memberitahuku bahwa Kepala Panti memintaku menemuinya. Aku pergi ke kantornya. Dia memintaku menandatangani sejumlah berkas. Kulihat dia berpakaian hitam dengan celana bergaris. Dia mengangkat telepon dan memanggilku. “Para petugas pemakaman sudah di sana, saya akan meminta mereka menutup peti. Apakah Anda ingin melihat ibu Anda untuk terakhir kali?” Aku berkata tidak. Dia memerintahkan melalui telepon, merendahkan suaranya, “Figeac, beritahu orang-orang, mereka boleh pergi.”

Kemudian dia mengatakan padaku bahwa dia akan menghadiri pemakaman dan aku berterima kasih padanya. Dia duduk di belakang meja, menyilangkan kaki kecilnya. Dia menyampaikan, bahwa hanya aku, dia, dan perawat yang bertugas yang boleh menghadiri pemakaman. Sedangkan para penghuni tidak, mereka hanya diperbolehkan berjaga. Dia hanya membiarkan mereka menonton. “Ini perkara kemanusiaan,” katanya. Tapi dalam hal ini dia memberikan izin mengantar jenazah pada seorang teman Mama, Thomas Pérez. Di sini Kepala Panti tersenyum. Dia bilang, “Anda tahu, ini perasaan yang sedikit kekanak-kanakan. Tapi dia dan ibu Anda hampir selalu bersama satu sama lain. Di Panti Jompo orang-orang biasa menggoda mereka dan berkata pada Tuan Pérez, “Dia tunanganmu.” Dia tertawa dan itu membuat mereka bahagia. Pada kenyataannya, dia sangat berduka atas kematian Ny. Meursault. Rasanya saya tidak mungkin menolak memberi izin padanya. Tapi atas saran dokter, saya melarang dia berjaga tadi malam.”

Kami terdiam cukup lama. Kepala Panti itu berdiri dan melihat ke luar jendela kantornya. Dia lalu berkata, “Pastor Paroki sudah tiba di Marengo, dia ada di depan.” Dia bilang butuh setidaknya empat puluh lima menit untuk berjalan ke gereja di desa ini. Kami turun. Di depan gedung sudah ada pastor paroki dan dua putra altar. Salah satu dari putra altar itu memegang wiruk. Pastor membungkuk dan mengatur panjang rantainya. Ketika kami tiba, pastor berdiri dan dia menyapaku ‘Anakku’ dan mengatakan beberapa patah kata kepadaku. Dia masuk; aku mengikutinya.

Aku melihat pengunci peti sudah terpasang dan ada empat lelaki berkulit gelap di ruangan itu. Pada saat yang sama, aku mendengar Kepala Panti memberitahuku bahwa kereta pengangkut jenazah sudah menunggu di jalan, dan pastor memulai doanya. Lalu semua orang berjalan dengan cepat. Orang-orang berjalan mendekat ke arah peti sambil membawa selembar tisu. Pastor, putra altar, Kepala Panti dan aku ke luar. Di depan pintu ada seorang perempuan yang tak kukenal, “Ini Tuan Meursault,” kata Kepala Panti memperkenalkanku. Aku tidak mendengar nama perempuan itu dan hanya mengerti bahwa dia perawat yang ditugaskan di sana. Dia memiringkan wajahnya yang kurus dan panjang tanpa tersenyum. Lalu kami menepi untuk membiarkan jenazah lewat. Kami mengikuti pembawa peti dan meninggalkan panti jompo. Di depan pintu ada kereta. Terpoles, panjang, dan berkilau, kereta itu mengingatkanku pada sebuah kotak pensil. Di sampingnya berdiri Kepala Panti dan lelaki tua dengan penampilan rapi. Kuduga dia adalah Tuan Pérez. Dia mengenakan topi bundar berbahan halus (topi itu dilepas ketika peti masuk ke kereta), setelan dengan celana yang menggantung di atas sepatu, kerah putih besar dan simpul hitam yang terlalu kecil untuk kemeja lengan panjangnya. Bibirnya bergetar di bawah hidung yang penuh komedo. Rambut putihnya yang halus melewati telinganya yang terkulai aneh dan memerah seperti darah. Petugas mempersilakan kami. Pastor itu berjalan di depan, lalu kereta pengangkut jenazah mengikuti di belakangnya. Di sekelilingnya ada empat lelaki pembawa peti, di belakangnya ada aku, Kepala Panti, dan di belakang kami ada perawat tadi dan Tuan Pérez.

Langit sudah sangat terang. Bumi terasa memanas dengan cepat. Aku tidak tahu kenapa kami menunggu cukup lama untuk berangkat. Aku kepanasan di balik pakaian gelapku. Lelaki tua bertubuh kecil itu melepaskan topinya lagi. Aku berbalik sedikit dan melihatnya ketika Kepala Panti memberitahuku tentangnya. Dia bilang bahwa ibuku dan Tuan Pérez sering pergi jalan-jalan sore ke desa ditemani oleh seorang perawat. Aku melihat pemandangan pedesaan di sekeliling. Dan melalui barisan pohon cemara yang mengarah ke perbukitan menuju cakrawala, tanah yang merah dan hijau, serta rumah-rumah yang jarang-jarang dan tertata baik, aku merasa memahami Mama. Malam di daerah ini pasti seperti malam yang damai dan melankolis. Hanya saja saat ini matahari luar biasa terik membuat pemandangannya menyedihkan dan tidak manusiawi.

Kami pun berangkat. Aku melihat Tuan Pérez berjalan sedikit terpincang. Kereta pengangkut jenazah perlahan menambah kecepatan dan lelaki tua itu tertinggal. Salah satu lelaki yang mengikuti di samping kereta sekarang berjalan sejajar bersamaku. Aku terkejut betapa cepat matahari naik ke langit. Aku juga baru menyadari suara serangga berdengung dan rumput bergemerisik. Keringat membasahi pipiku. Aku mengipasi diriku dengan saputangan karena aku tak memiliki topi. Si petugas pemakaman mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tak mendengarnya. Kemudian dia menyeka dahinya dengan tisu yang dia pegang di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengangkat pinggiran topinya. Aku bertanya kepadanya, “Bilang apa tadi?” Dia mengulangi, “Panas sekali.” Kujawab, iya. Beberapa saat kemudian dia bertanya lagi, “Itu ibumu?” Kujawab lagi, iya. “Berapa umurnya?” Kujawab, “Ya sekitar itulah,” karena aku tidak tahu berapa tepatnya umur Mama. Lalu dia diam. Aku menengok ke belakang dan melihat Tuan Pérez berada sekitar lima puluh meter di belakangku. Dia bergegas, tangannya terayun. Aku juga melihat ke arah Kepala Panti. Dia berjalan dengan langkah mantap tanpa gerakan yang aneh. Beberapa tetes keringat membasahi dahinya, tapi dia tidak menghapusnya.

Bagiku, iring-iringan ini bergerak sedikit lebih cepat. Di sekelilingku masih suasana pedesaan yang sama di tengah terik matahari. Panasnya tidak tertahankan. Kami melewati jalanan yang baru saja diperbaiki. Matahari seperti melumerkan lagi aspal yang belum kering. Kaki-kaki serasa tenggelam dan kulitnya terkelupas hingga tampak daging yang mengkilat. Di atas kereta, topi kusir berbahan kulit seperti diremas dalam lumpur hitam ini. Aku merasa tersesat di antara langit yang biru-putih dan warna-warna monoton, hitam lengket dari aspal yang belum kering, pakaian hitam kusam, kereta hitam mengkilat. Semua ini, matahari, bau kulit dan kotoran kuda, pernis dan dupa, kelelahan dan malam tanpa tidur, mengganggu pandangan dan pikiranku. Aku melihat ke belakang sekali lagi, Tuan Pérez tampak lebih jauh di belakang seperti tertelan awan panas lalu aku tidak melihatnya lagi. Aku melihat sekeliling untuk mencari dia, dan aku menemukannya menepi dan melintasi ladang. Aku menyadari jalan di depanku ini berbelok. Rupanya Tuan Pérez sudah hafal tempat ini, dan dia mengambil jalan pintas untuk mengejar kami. Kemudian dia bergabung dengan kami, lalu dia menghilang. Dia melintasi ladang lagi dan seperti itu beberapa kali. Aku merasakan darahku berdesir di pelipis.

Segala sesuatu kemudian terjadi dengan begitu cepat, pasti, dan wajar, sehingga aku tak begitu mengingatnya. Hanya satu hal. Di pintu masuk desa, perawat yang bertugas itu berbicara denganku. Suaranya unik namun tidak cocok dengan wajahnya. Suaranya merdu dan bergetar. Dia berkata kepadaku, “Jika kita ke sini pelan-pelan, kita bisa terkena sengatan matahari. Tapi jika terlalu cepat, kita akan berkeringat dan di dalam gereja udara dingin akan membuat badan menggigil.” Benar juga katanya. Aku masih mengingat beberapa bayangan kejadian pada hari itu. Misalnya wajah Tuan Pérez ketika untuk kali terakhir bergabung dengan rombongan kami di dekat desa. Airmata kesedihan mengalir di pipinya. Tapi karena kulitnya keriput, airmatanya tidak bisa mengalir. Airmatanya menyebar, berkumpul, dan berkilau di wajahnya yang penuh keriput. Lalu gereja dan penduduk desa di tepi jalan, kembang geranium merah di pemakaman, Tuan Pérez yang pingsan (seperti boneka tanpa tali), tanah berwarna merah darah ditumpukkan ke atas peti mati Mama, tanaman merambat warna putih yang bercampur dengannya. Lalu orang-orang, suara-suara, desa, menunggu bus di cafe, mesin bus berdengung terus-menerus, dan kegembiraanku ketika bus memasuki gemerlap lampu Aljir, dan pikiranku ingin segera berbaring dan tidur selama dua belas jam.

[1] sesuai naskah asli dituliskan  Maman (Mama), bukan  Mere (Ibu).