Posted on
Menjadi Bijak ala Nasruddin Hodja

Dalam sebuah drama karya William Shakespeare, Hamlet menikam Polonius sang kanselor istana yang bersembunyi di balik aras, menguping pembicaraan sang pangeran dengan ibunda ratu, Gertrude. Polonius pun tewas setelah mengucapkan sebaris kata terakhir: ‘aku dibunuh.’ Mendengar penuturan Ratu Gertrude tentang tewasnya Polonius, Raja Claudius terperangah dan berucap lirih: ‘jika yang ada di balik aras itu adalah kita, tentu kitalah yang mati’.

Saya tak tahu apakah Shakespeare pernah menyimak kisah-kisah legendaris Nasruddin Hodja, seorang sufi yang hidup di Turki pada abad ke-13; tapi penggalan adegan tersebut di atas mengingatkan saya pada percikan-percikan bijak sufi jenaka itu. Kata-kata terakhir Polonius dan komentar Raja Claudius itulah yang terkenang oleh saya saat membaca ulang kisah Nasruddin berjudul ‘Itu Bukan Aku!’ sambil menulis pengantar ini.

Sebagai seorang bijak yang cerdik dan banyak melontarkan pernyataan aneh pemancing tawa namun sekaligus mengandung teka-teki, Nasruddin menjadi figur legendaris sehingga kisah dan pengalaman hidupnya pun tersebar luas melebihi batas batas wilayah, bahkan hingga jauh setelah ia meninggal. Kalau pada awal penyebarannya kisah-kisah itu disampaikan secara lisan, kini kisah-kisah kearifan Nasruddin Hodja telah banyak dibukukan, dan beberapa di antaranya bahkan telah dimodifikasi dengan berbagai cerita rakyat di berbagai negara. Kita bisa menunjuk pula dalam kumpulan ini betapa kisah-kisah itu selalu ada saja yang sesuai dengan kenyataan sehari-hari di tengah masyarakat.

Kisah-kisah Nasruddin yang ada dalam kumpulan ini adalah kisah yang membuat kita tersenyum sambil merenung-renung. Ada memang beberapa kisah yang nampak sekadar nonsens belaka, seperti Keledai Dan Kuda, Mencari Sang Hodja, Pesta Burung Puyuh, Tercampur, dan Tukang Cukur Baru. Namun sebagian besar kisah dalam kumpulan ini menunjukkan betapa Nasruddin Hodja menggunakan logika berpikir yang tidak lazim. Sikap tidak tenang manusia modern dewasa ini dalam menyikapi persoalan salah satunya timbul dari tiadanya kemampuan untuk berpikir di luar kerangka kelaziman. Kita bisa simak, misalnya, kisah Rumah yang Penuh Sesak dan Cara Manusia dan cara Tuhan tentang pentingnya sikap bersyukur; atau kisah Bukan Keledai Biasa dan Orang-Orang Desa Sebelah tentang perbedaan cara pandang yang secara nisbi menentukan nilai suatu barang.

Beberapa kisah lain sangat mengganggu saya lebih dibanding kisah-kisah di atas, seperti misalnya Dua Ikan di Atas Piring, yang mengusik pemahaman saya akan sikap tenggang rasa, kesetiakawanan, dan kesediaan untuk berkorban bagi sesama. Merelakan orang lain untuk merasa bahagia tanpa menunjukkan betapa diri kita merasa dirugikan kadangkala terasa sebagai pengalaman istimewa di dunia modern yang serba praktis dan cenderung membawa kita ke arah sikap interaksi yang penuh perhitungan untung rugi ini. Saya juga tercenung membaca kisah Berkata Dusta yang menggiring saya pada pemahaman bahwa dusta membuat seorang manusia terasing dari diri sendiri, dan bahwa ketika ia merasa tercerahkan dengan dusta itu pada dasarnya ia telah berhasil mendustai diri sendiri.

Selain itu kita bisa mendapati pula kisah-kisah yang mengandung muatan mistik –jenis yang entah kenapa jumlahnya tidak cukup banyak. Bermain Saz, Keping Uang Yang Hilang, Kuda Yang Hilang, dan Resep adalah kisah-kisah jenis ini. Kisah-kisah ini ditandai dengan adanya pencarian atau kehilangan akan sesuatu yang bernilai abstrak, atau sesuatu yang jelas konkret namun merupakan simbolisasi dari sesuatu yang lebih hakiki.

Sikap Nasruddin dalam Kuda yang Hilang menandakan bahwa kepemilikannya atas kuda itu bukanlah kepemilikan yang penuh nafsu, melainkan lebih pada sikap ‘gembira karena mendapat titipan’, sehingga pada dasarnya ia tak merasakan beban apapun ketika hal yang berada di luar kendalinya membuat titipan itu terlepas dari tangannya. Ketiadaan beban nafsu itulah yang menyebabkan ia sanggup melepas klain kepemilikan. Dan karena sikap ‘gembira karena mendapat titipan’ itulah maka Nasruddin pun bergembira dalam memberikan titipan itu kepada orang lain. Dalam Resep, daging sapi yang baru saja dibeli Nasruddin dari pasar dicuri oleh seekor burung gagak; namun ia tidak cemas, karena resep masakan itu masih ada di kantongnya. Bisa kita umpamakan bahwa resep itu adalah ilmu; dan selama kita masih memiliki suatu ilmu maka kita adalah orang beruntung. Orang miskin yang berilmu (Nasruddin) lebih beruntung dibanding orang kaya yang tak berilmu (burung gagak).

Kemudian tentu saja ada pula segolongan di antara dua ratus kisah itu yang menyimpan moral yang sangat jelas tanpa perlu kita gali dan tafsirkan secara rumit. Misalnya kisah Hal Paling Bernilai dan Tidak Bernilai, Menolong Tanpa Ketulusan, dan Doa. Namun meskipun lebih sederhana tentu saja kisah-kisah itu sangat bernilai dan turut melengkapi keseluruhan khasanah kearifan sang sufi yang cerdik nan jenaka ini. Membaca kumpulan kisah ini akan menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Mungkin saat ini Anda membacanya secara santai tanpa beban atau pretensi apapun, namun boleh jadi kisah-kisah tertentu akan Anda soroti, kelak, dengan cara pandang yang sama sekali tak pernah Anda sangka sebelumnya. Selamat membaca!

***

oleh Nurul Hanafi


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Kumpulan Humor karya Nasruddin Hodja.