Posted on

Berawal dari biaya listrik yang selalu melonjak, ayah Gustav Janouch curiga dengan apa yang dilakukan anaknya sampai larut malam di kamar. Sang ayah menemukan segepok puisi tulisan tangan di kamar anaknya, yang kemudian ia ketik ulang dan diserahkan kepada koleganya di kantor. Kolega itu bernama Franz Kafka.

Ayah Janouch berharap, karya anaknya akan mendapatkan apresiasi yang layak dari seorang sastrawan. Meskipun sekantor dengan Kafka, namun katanya, “Sebagai sahabat, ia terlalu pemalu dan tertutup.”

Sejak diperkenalkan dengan Kafka pada akhir Maret 1920, Gustav Janouch yang masih berusia 17 tahun itu semakin rajin mengunjungi Kafka di kantor. Saat itu Kafka berusia 37 tahun.

Percakapan dengan Kafka itu pendek-pendek, baik di kantor maupun sambil jalan-jalan di tengah kota. Sebenarnya Janouch sudah lupa dengan catatan bertemu Kafka itu. Tetapi ketika ia bernasib sial, karena dipenjara oleh rezim kala itu, yang mengakibatkan ia depresi tinggi, kenangan suram dengan Kafka hadir deras kembali, dan ia cari.

Max Brod, yang sudah 8 tahun berada di Israel karena meninggalkan Praha untuk selamanya, mendapat sebuah surat dari Janouch pada Mei 1947: “Saya tidak tahu, apakah Anda masih ingat dengan saya. Saya seorang musikus. Menjelang kepergian Anda, koran Prager Tagblatt mewartakan novelet Metamorfosis karya Kafka diterbitkan dalam bahasa Ceko oleh Florian.”

Surat Janouch datang lagi, menanyakan sekiranya ia bisa mengirimkan catatan Percakapan dengan Kafka agar dicarikan penerbit. Janouch meyakinkan, “Franz Kafka berada di masa muda saya, bahkan lebih. Anda juga bisa membayangkan, bagaimana ketegangan saya waktu itu.”

Setidaknya ada tiga hal yang menonjol dalam buku ini.

Pertama, Janouch mampu mendeskripsikan bahasa tubuh Kafka dengan tepat, terutama saat Kafka sedang bicara. Max Brod mengakui bahwa tulisan Janouch terasa menggugah kembali, mengingatkan pada sahabat karibnya itu dengan lebih hidup lagi, seolah-olah ia sedang memasuki kamar Kafka. Janouch membuat manifestasi di luar diri Kafka. Muncul kembali ingatan Brod akan gaya bahasa Kafka, ungkapan-ungkapan khasnya, gerakan tangan yang menyertai saat Kafka bicara. Brod menggambarkan dirinya seperti sedang mendengarkan dan melihat langsung saat Kafka bicara, senyum pedihnya yang tenang, kebijakan yang menyentuh dan menukik; itulah yang menjadikan catatan Janouch ini sangat otentik dan berharga.

Dalam buku Max Brod, Tentang Franz Kafka (Über Franz Kafka), disebutkan bahwa ia membacakan manuskrip Janouch itu sebelum diterbitkan menjadi buku di depan Dora Diamant saat berkunjung ke Israel. Dora merasa sedang bertemu kembali dengan Kafka, dan ia gemetar. Pada bab tiga buku Brod di atas pun disinggung tentang kolega Kafka, yang dimaksudkan adalah ayah Janouch.

Kedua, Janouch mencatat cara Kafka mengungkapkan sesuatu dengan sering menggunakan kalimat ironi.

Ketiga, cara pandang khas Kafka terhadap sastra, seni, politik, kehidupan dan dunia. Sastrawan yang melankolis dan yakin bahwa menulis adalah sebuah terapi itu dengan bebas membicarakan berbagai tema. Ia singgung Lenin, Gorki, Kierkegaard, Tagore, Picasso, Van Gogh, anarkisme, Marxisme, Zionisme, dan Yahudi.

Bagaimana Kafka yang sangat low-profile ini ketika harus menilai karya Janouch sendiri? Kafka, dengan sangat sopan namun tetap kritis, sambil memegangi tangan Janouch, berkata, “Karya Anda belum ada seninya.”

Tentang Hamlet karya Shakespeare? Kafka menyebut Hamlet sebagai “… cerita detektif. Inti kisahnya adalah suatu rahasia, yang perlahan-lahan terkuak.” Adapun novel Kejahatan dan Hukuman karya Dostoevsky ia sebut sebagai novel kriminal.

Lebih jauh Janouch menggambarkan bahwa bahasa tubuh adalah bahasa Kafka, yang dimulai dengan menatap wajah lawan bicaranya dari bawah ke atas, seperti hendak minta maaf. Kafka banyak memakai pengandaian dalam menjelaskan gagasannya, mirip karya-karyanya yang simbolis.

Suatu kali Janouch dan Kafka jalan-jalan melewati toko milik Hermann Kafka, ayah Franz Kafka. Kafka bilang, “… kekayaan itu milik orang tua, bukan milik saya.”

Cita-cita Kafka sebenarnya bukan sebagai pekerja kantor, yang ia anggap membosankan, tetapi sebagai tukang kayu yang inovatif dan hasil pekerjaannya bisa dinikmati langsung. Rupanya ia cukup serius dengan profesi sebagai tukang kayu ini. Terbukti dalam novel Proses (Der Prozess), Josef K. mencari tukang kayu bernama Lanz menjelang persidangan.

Kafka juga menceritakan kepada Milena dalam Surat untuk Milena (Brief an Milena) pada Senin, 26 Juli 1920 tentang kedatangan penyair Janouch ke kantornya.

Brod menambahkan, selain Janouch, ada lagi teman Kafka yang menuliskan kisahnya bertemu Kafka, yaitu Friedrich Thieberger, yang sudah berada di Yerusalem. Ia menulis buku berjudul Kenangan pada Kafka (Erinnerungen an Kafka). Ia tulis juga tentang Dora, istri Kafka saat masih tinggal di London. Brod mengingat bahwa mengenangkan sahabat yang seorang sastrawan juga ditulis oleh Eckermann terhadap Goethe. Ia tegaskan, karya Eckermann menggambarkan Goethe dengan sangat tepat dan merupakan sumber yang fenomenal.

Terlepas dari kisah lahirnya buku ini, yang tak bisa dipungkiri adalah dua aforisme Kafka yang terkenal bersumber dari catatan Janouch.

Pertama, “Cinta itu sama tidak rumitnya dengan kendaraan. Yang rumit itu si sopir, penumpang, dan jalanan.”

Kedua, “Siapa yang menjaga kemampuan melihat keindahaan takkan menua.”

Buku ini mirip sebagai sebuah buku penuntun untuk pengarang muda. Tentu saja dari sudut pandang Franz Kafka, seorang pengarang yang sangat pemalu, rendah hati, sensitif, dan introver. Perihal karya baru yang modern ia punya nasihat, “Kebanyakan buku modern hanya pantulan kelap-kelip atas keadaan sekarang. Cepat sekali padam. Anda harus lebih banyak membaca buku-buku lama. Karya klasik. Goethe. Karya lama akan memancarkan nilai terdalamnya—yang kekal.”

Mengingat buku ini merupakan catatan kenangan yang sifatnya pribadi, bukan sebuah wawancara formal, maka digunakan subjek aku dalam narasi dan subjek saya pada banyak ujaran. Selain itu, Kafka selalu memanggil sahabat barunya, Gustav Janouch, dengan Sie (Anda), bukan du (kamu).

Atas terbitnya buku ini, saya berterima kasih kepada Kakatua. Semoga buku ini bisa menambah pemahaman pembaca sehingga mengenal sosok Franz Kafka lebih mendalam.

(Gambar: patung Kafka di Praha)

Ditulis oleh Sigit Susanto


Esai ini dimuat sebagai Pengantar Penerjemah dalam Percakapan dengan Kafka karya Gustav Janouch.