Posted on

Siapa saja yang mengenal Mark Twain pasti sudah tidak asing dengan sepasang novelnya yang fenomenal: Petualangan Tom Sawyer (1876) dan Petualangan Huckleberry Finn (1884). Lahir beberapa hari sebelum komet Halley terlihat di bumi tahun 1835, Mark Twain meninggal pada tahun yang sama ketika komet tersebut muncul kembali tahun 1910. Dan seperti komet Halley yang terlihat di bumi sekali 75 tahun, 75 tahun setelahnya lagi, bahkan sampai kini belum ada penulis yang mampu menyaingi predikat Mark Twain sebagai ‘orang paling jenaka yang pernah dihasilkan Amerika’, seperti yang diungkapkan William Faulkner. Predikat ini juga mewakili kemampuannya membius pengunjung di gedung pertunjukan sebagai pelawak tunggal. Tengok saja sekarang nama Mark Twain diabadikan tiap tahun sebagai penghargaan untuk komedian paling berpengaruh di Amerika.

Mark Twain adalah penulis yang sarat pengalaman. Dia pernah mengenyam sederet pekerjaan demi mencapai kemapanan ekonomi (perlu diketahui Mark Twain kehilangan ayahnya waktu dia masih berumur 12 tahun). Sebagai juru cetak, nahkoda kapal, penambang emas, pelawak tunggal, pernah dijalaninya, sampai memasuki dunia jurnalis tahun 1863. Tiga tahun setelah menjadi jurnalis, dia menerbitkan karya pertamanya, kumpulan cerpen The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County and Other Sketches (1867). Beberapa tahun kemudian disusul kumpulan cerpen Mark Twain’s Autobiography and First Romance (1871), Sketches New and Old (1875).

Untuk urusan menulis cerpen, Mark Twain boleh dibilang sangat produktif. Sepanjang hidupnya, dia telah menulis seratus cerpen lebih. Sayang, dari sekian banyak cerpen-cerpennya itu masih sedikit yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, alih-alih Petualangan Tom Sawyer dan Petualangan Huckleberry Finn sudah berulang kali diterjemahkan dengan edisi yang berbeda-beda. Mengingat Mark Twain tak pernah mengkurasi cerpen-cerpen terbaiknya untuk dirangkum ke dalam satu buku, mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa cerpennya kurang dilirik ketimbang esai atau catatan penjalanannya.

***

Buku ini memuat sembilan cerpen pilihan, termasuk antaranya cerpen-cerpen yang belum pernah dipublikasikan sampai Mark Twain meninggal. Dimulai dari kisah Katak Terkenal dari Calaveras (1867), tentang seorang lelaki bernama Smiley yang selalu dinaungi keberuntungan tiap kali mengadakan taruhan dengan orang lain, bahkan untuk hal konyol semisal pacuan katak. Ini adalah bentuk komedi absurd ala Mark Twain, sebab tujuan dari taruhan bukan lagi demi memperoleh hadiah kemenangan, melainkan gengsi dan perasaan tak mau mengalah. Kita dapat mencermati ini dalam penggalan paragraf berikut:

Suatu kali bininya Parson Walker sakit lumayan lama, dan terlihat seolah mereka nggak bakalan mampu nyelamatin dia; tapi suatu pagi Parson Walker datang dan Smiley menyambut untuk nanyain keadaannya, dan Parson bi-lang kondisinya membaik—berkat Tuhan Yang Maha Pengasih—dan berkata sangat bijak kalau dengan rahmat Tuhan dia akan sembuh; dan tanpa mikir Smiley ngomong, ‘Yah, meski begitu aku akan bertaroh dua setengah dolar binimu nggak bakalan sembuh.

Dalam Si Perusak Hadleyburg (1899) kita akan mendapati betapa reputasi kejujuran sebuah kota hancur gara-gara penduduknya tergiur memperebutkan harta dari seorang lelaki misterius, ditenggarai motif balas dendam. Tema kisah ini agak mirip dengan Hilangnya Gajah Putih (1882), sama-sama tentang ‘pencarian’, tapi yang terkena dampak psikologis dalam Hilangnya Gajah Putih mencakup satu individu saja, yakni seorang utusan kerajaan yang gagal mengemban amanah.

Lalu ada dua kisah yang dibumbui unsur fantasi: Cerita Seram (1888) merujuk pada hoax patung Raksasa Cardiff yang menggemparkan Amerika pada abad 20; sementara tokoh utama dalam Kekasih Alam Mimpi (1898) menciptakan dunia imaji sendiri, seolah kita dituntun membaca sebuah cerita di dalam cerita. Adapun kisah penutup, Doa Perang (1905) adalah prosa bergaya puisi tentang seorang lelaki asing yang membuat pernyataan mengejutkan di hadapan khalayak ramai mengenai kondisi perang yang sesungguhnya. Ujung-ujungnya lelaki asing ini disinyalir sebagai orang gila, sebab apa yang selama ini dibayangkan masyarakat mengenai perang tidaklah semengerikan yang disampaikan si lelaki asing. Ini bukanlah gambaran naif dari pengarang yang cuma mengandalkan khayalan belaka. Mark Twain pernah terjun dalam perang saudara sebagai tentara Konfederasi tahun 1861, walau cuma selama dua minggu.

***

Penulis-penulis Amerika seperti Ernest Hemingway dan William Faulkner secara terang-terangan memuji Mark Twain sebagai Bapak Sastra Amerika Modern. Nilai lebih dari karya-karya Mark Twain bukan semata-mata kemampuannya dalam membangun konsep cerita, melainkan bagaimana dia menyuntikkan budaya lokal Amerika ke dalam tulisannya. Misalnya penggunaan dialek lokal kaum budak kulit hitam. Bahkan dalam cerpennya berjudul Sebuah Kisah Nyata, Diceritakan Ulang Kata demi Kata Persis Seperti yang Kudengar (1876), Mark Twain menggunakan logat bicara budak kulit hitam.

***

Dalam karya-karya Mark Twain, kita tentu sering kali mendapati keberagaman bahasa, baik dialek lokal, kata slang, maupun bahasa santai yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Terkait ini, penerjemah dengan sengaja berusaha untuk mengadaptasinya ke ragam bahasa Indonesia yang lebih sesuai. Hasil kreasi penerjemah dapat dinikmati seperti pada penggalan paragraf dalam Katak Terkenal dari Calaveras berikut.

Mungkin kau ngerti tentang katak, mungkin juga nggak; mungkin kau sudah pengalaman, mungkin juga hanya seorang amatiran, bisa dibilang gitu. Toh, aku punya pendapat sendiri, dan aku pengen tarohan empat puluh dolar ia bisa ngalahin lompatan katak mana pun di Calaveras County.

Beberapa kisah, seperti Kanibalisme di Gerbong Kereta (1868) dan Vonis Gila (1870), justru bertebaran dengan istilah formal, karena dua kisah ini merujuk pada prosedur lembaga pemerintahan.

***

Sepilihan kisah dalam buku ini kami hadirkan tidak sebatas untuk memperkenalkan Mark Twain sebagai penulis cerpen yang piawai. Kecenderungan penerjemah untuk mengadaptasi gaya kepenulisan Mark Twain ke ragam bahasa Indonesia yang lebih sesuai, tanpa bermaksud menciderai, mengurangi atau menambahi apa yang ada dalam cerita-ceritanya, kiranya dapat dinikmati jika kita ingin mengenal Mark Twain secara mendalam. Semoga buku ini meninggalkan kesan baik bagi pembaca.

(Ilustrasi oleh Jody Hewgill)

***

Ditulis oleh Gita Karisma


Esai ini dimuat sebagai Pengantar dalam Katak Terkenal dari Calaveras karya Mark Twain.