Posted on

Belajar membaca itu sama sekali tak berguna; yang penting adalah mengendus daging dari kejauhan. Namun, jika kau tinggal di Moskow dan kepalamu ada otaknya, mau tak mau kau akan bisa membaca tanpa mengikuti sekolah apa pun. Dari empat puluh ribu lebih anjing di Moskow, hanya seekor idiot betulan yang tak tahu cara membaca kata ‘sosis’.

Awalnya Sharik belajar membaca lewat warna. Saat umurnya baru empat bulan, papan tanda biru-hijau dengan huruf-huruf MSPO—menandakan toko daging—muncul di seluruh penjuru Moskow. Aku ulangi, tanda itu tak ada gunanya juga—toh kau bisa mengendus bau daging. Tapi suatu hari Sharik melakukan kesalahan. Tergoda oleh papan tanda biru tua, Sharik, yang indera penciumannya telah terkalahkan oleh asap knalpot mobil yang lewat, malah nyelonong ke dalam toko perlengkapan listrik alih-alih ke toko daging. Toko itu terletak di Jalan Myasnitky dan dimiliki oleh Polubizner Bersaudara. Mereka membuat si anjing mencicipi sabetan kawat isolasi, yang bahkan lebih rapi dibandingkan cambukan seorang sopir. Momen kenamaan itu bisa dianggap sebagai titik permulaan pendi­dikan Sharik. Saat kembali ke trotoar, ia mulai menyadari kalau warna biru tidak selalu berarti ‘daging’. Sambil melolong dengan kesakitan berkobar, ekornya terhimpit di antara kaki, ia mengingat kalau di semua toko daging itu ada kilasan berwarna emas atau merah—huruf pertama di sebelah kiri—yang terlihat seperti sebuah kereta luncur.

Setelah itu, proses pembelajarannya meningkat pesat. Ia mempelajari huruf ‘n’ dari ‘toko ikan’ di sudut Mokho­vaya, kemudian huruf ‘a’ (lebih mudah baginya mendekati toko dari ujung akhiran kata itu, sebab ada polisi yang berdiri di dekat awal kata ‘toko’).


Diambil dari novel Manusia Berjiwa Anjing, halaman 14-15.