Posted on
Bangsa katak

Bangsa katak hidup bahagia sebagaimana yang mereka inginkan di sebuah rawa-rawa. Mereka berkecipak di air tanpa peduli siapa pun dan tak ada pula yang mempedulikan mereka. Tapi beberapa di antara mereka merasa kebahagiaan itu belumlah cukup. Mereka harus punya raja dan undang-undang yang sesuai. Maka mereka putuskan untuk mengajukan permohonan mengenai itu pada dewa.

Dewa tertawa mendengar keruak mereka dan melemparkan sebatang kayu ke tengah rawa, sehingga membuat percikan yang dahsyat. Katak-katak ketakutan dan mereka bergumul ke pinggir rawa untuk memantau siapa raksasa mengerikan itu. Tapi sesaat kemudian, melihat bahwa raksasa itu tak bergerak sama sekali, satu atau dua di antara mereka mendekat, bahkan ada yang berani menyentuhnya. Raksasa itu tetap tak bergerak. Kemudian katak yang jiwanya paling besar melompat ke atas batang kayu itu dan menari-nari. Maka semua katak pun melakukan hal yang sama. Kadang katak-katak itu sibuk melakukan sesuatu tanpa menyadari keberadaan Raja Batang Kayu di tengah mereka. Intinya raja baru ini tak cocok buat mereka. Mereka mengajukan permintaan lain pada dewa.

“Kami ingin raja sungguhan. Raja yang akan mengatur kami semua.”

Hal ini membuat dewa marah. Ia kirimkan ke tengah mereka seekor bangau besar yang segera melahap mereka semua. Katak-katak sudah terlambat untuk menyesali diri.

Lebih baik tanpa penguasa ketimbang ada penguasa tapi kejam.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Fabel karya Aesop.