Posted on

Herbert George Wells lahir tanggal 21 September 1866 di Bromley, Kent, kota pasar kecil yang tak lama kemudian ditelan pertumbuhan tepi kota London. Ayahnya, mantan tukang kebun profesional dan pemain cricket kabupaten yang terkenal untuk lemparan cepatnya, memiliki usaha kecil di Jalan Bromley High—menjual barang-barang cina dan tongkat cricket. Rumahnya dikenal sebagai Atlas House, tapi pusat kehidupan keluarga adalah dapur yang sesak di ruang bawah tanah di bawah toko. Tak lama kemudian hari-hari bermain cricket Joseph Wells berakhir karena patah kaki, dan keberuntungan keluarga tampak suram.

‘Bertie’ Wells muda sudah menunjukkan prestasi akademis yang luar biasa, tapi waktu usianya tiga belas tahun keluarganya berantakan dan ia terpaksa mencari nafkah sendiri. Ayahnya bangkrut. Ibunya meninggalkan rumah, bekerja sebagai pengurus rumah di Uppark, sebuah rumah besar di pedalaman Sussex tempat ia bekerja sebagai pelayan sebelum menikah. Wells keluar dari sekolah mengikuti jejak kedua kakak lelakinya menerjuni perdagangan tekstil. Sesudah bekerja singkat sebagai asisten guru dan asisten apoteker, pada tahun 1881 ia magang di toko serba ada di Southsea, bekerja tiga belas jam sehari dan tidur di asrama bersama sesama rekan magang. Ini periode paling menyedihkan dalam hidupnya, meski ia kemudian mengingatnya lagi dalam roman komik seperti Kipps (1905) dan The History of Mr. Polly (1910). Kipps dan Polly sama-sama melarikan diri dari magang sebagai pedagang kain. Pada tahun 1883, Wells membatalkan kontrak kerjanya dan mendapat pekerjaan sebagai asisten guru di Sekolah Tata Bahasa Midhurst dekat Uppark. Perkembangan intelektualnya, yang tertahan lama, sekarang maju pesat. Ia lulus serangkaian ujian bidang ilmu pengetahuan dan, pada bulan September 1884, masuk Normal School of Science, South Kensington (kemudian menjadi bagian dari Imperial College of Science and Technology) dengan beasiswa pemerintah.

Wells berbakat menjadi guru, sebagaimana yang ditunjukkan banyak bukunya, dan mulanya ia seorang murid yang antusias. Ia beruntung diajar biologi dan zoologi oleh salah seorang pemikir ilmiah paling berpengaruh pada zaman Victorian, teman dan pendukung Darwin, T. H. Huxley. Wells tidak pernah melupakan ajaran Huxley. Tapi para profesor lain membosankan, dan minatnya pada pelajaran mereka memudar dengan cepat. Ia lulus di bidang ilmu fisika tahun kedua tapi gagal dalam ujian geologi tahun ketiga dan meninggalkan South Kensington tahun 1887 tanpa meraih gelar. Kerangka kerja teoritis dan cakrawala imajinatif ilmu pengetahuan membangkitkan semangatnya, tapi ia tak tahan menghadapi rincian praktis dan tugas rutin melelahkan di laboratorium. Ia bolos dan menghabiskan waktunya membaca literatur dan sejarah, memuaskan penasaran yang timbul saat menjelajahi perpustakaan yang lama tak dipedulikan di Uppark. Ia mulai menulis untuk majalah kampus, The Science Schools Journal, dan memihak sosialisme dalam debat sekolah.

Pada musim panas 1887, Wells menjadi pakar ilmiah di sekolah swasta kecil di Wales Utara. Beberapa bulan kemudian ia terjatuh parah di lapangan bola. Sakit dan kekurangan gizi akibat tiga tahun kemiskinan sebagai pelajar, ia juga menderita kerusakan ginjal dan paru-paru. Sesudah berbulan-bulan memulihkan diri di Uppark ia kembali mengajar ilmu pengetahuan di Henley House School, Kilburn. Tahun 1890 ia meraih gelar Sarjana (kehormatan) kelas satu di bidang zoologi dari University of London, dan mendapat jabatan sebagai pengajar biologi di University Correspondence College. Tahun 1891 ia menikahi sepupunya Isabel Wells, tapi hanya sedikit kesamaan mereka. Tak lama kemudian Wells jatuh cinta pada salah seorang muridnya, Amy Catherine Robbins (biasanya dikenal sebagai ‘Jane’). Mereka hidup bersama sejak 1893, dan menikah dua tahun kemudian sesudah perceraiannya selesai.

Selama tahun-tahunnya sebagai pengajar biologi Wells perlahan-lahan memulai kariernya sebagai penulis dan wartawan. Ia menulis untuk Educational Times, University Correspondent, dan pada tahun 1891 menerbitkan esai filosofis, ‘The Universe Rigid,’ dalam Fortnightly Review yang bergengsi. Buku pertamanya adalah Textbook of Biology (1893). Tapi begitu buku itu terbit kesehatannya kembali merosot, memaksanya berhenti mengajar dan mengandalkan pendapatan dari literatur sepenuhnya. Masa depannya tampak sangat berbahaya, tapi tak lama kemudian ia mendapat banyak permintaan cerita pendek dan esai humor dari koran dan majalah yang tengah meledak pada waktu itu. Ia menjadi pengulas fiksi dan, untuk waktu singkat pada tahun 1895, kritikus teater.

Sejak masa sekolah Wells sebentar-sebentar menulis kisah tentang perjalanan waktu dan kemungkinan masa depan manusia. Versi awalnya diterbitkan di The Science Schools Journal dengan judul ‘Argonaut Kronis.’ Sesudah menulis ulang puluhan kali dan berkat dorongan penulis puisi serta redaktur W. E. Henley, ia menyelesaikannya dalam bentuk The Time Machine (1895). Keberhasilannya seketika, dan sementara buku itu diterbitkan dalam bentuk serial majalah, Wells sudah dibicarakan sebagai ‘orang jenius.’ Ia dipuja sebagai pencipta ‘roman ilmiah,’ kombinasi novel petualangan dan kisah filosofi di mana tokohnya terlibat perjuangan hidup-mati akibat perkembangan tak terduga ilmu pengetahuan. Sekarang ada pasar yang siap untuk fiksinya, dan The Island of Doctor Moreau (1896), The Invisible Man (1897), The War of the Worlds (1898), The Sleeper Awakes (1899), The First Men in the Moon (1901), dan beberapa volume lain dengan cepat mengalir dari penanya.

Pada pergantian abad dua puluh Wells sudah terkenal sebagai penulis populer di Inggris dan Amerika. Buku-bukunya dengan cepat diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Jerman, Spanyol, Rusia, dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Ketenarannya mulai mengalahkan pendahulunya dalam roman ilmiah, penulis Perancis Jules Verne, yang mendominasi bidang ini sejak 1860-an. Tapi Wells, seniman yang makin lama makin sadar diri, punya ambisi lebih besar dari sekadar tercatat dalam sejarah sebagai novelis petualangan seperti Jules Verne. Love and Mr. Lewisham (1900) adalah usaha pertamanya menulis fiksi realistis, berjiwa komik dan mengisyaratkan pengalamannya sendiri sebagai murid dan guru. Pada akhir dekade Edwardian, sewaktu menulis novel ‘Kondisi Inggris’ Tono-Bungay (1909) dan The New Machiavelli (1911), Wells telah menjadi salah seorang novelis terkemuka di zamannya. Ia berteman sekaligus bersaing dengan tokoh-tokoh literatur seperti Arnold Bennett, Joseph Conrad, Ford Madox Ford dan Henry James.

Tapi Wells bukan pengabdi seni demi seni semata. Ia penulis yang mampu meramal dengan pesan sosial dan politis. Karya non-fiksi besar pertamanya adalah Anticipations (1902), buku esai futurologi yang menceritakan kemungkinan akibat kemajuan ilmiah dan teknologi di abad dua puluh. Anticipations membuka hubungannya dengan Himpunan Fabian dan meluncurkan kariernya sebagai wartawan politik dan suara yang berpengaruh dari golongan kiri Inggris. Selama periode Fabian, Wells menulis A Modern Utopia (1905), tapi gagal dalam usahanya menantang penampilan birokratis dan reformis para pemimpin Kelompok seperti Bernard Shaw (teman dan saingan seumur hidup) dan Beatrice Webb. Roman ilmiah Edwardian Wells seperti The Food of the Gods (1904) dan The War in the Air (1908), meski penuh sentuhan humor, bertujuan propaganda. Dalam kisah-kisah ‘perang masa depan’ lainnya dari periode ini ia sudah memperkirakan adanya tank dan bom atom.

Keberhasilannya sebagai penulis membawa perubahan besar dalam kehidupan pribadinya. Buruknya kesehatan memaksanya meninggalkan London dan pindah ke pantai Kent pada tahun 1898. Tapi dalam jangka panjang, luka main bolanya menyebabkan diabetes yang mempengaruhinya di usia tua. Ia mempekerjakan arsitek C. F. A. Voysey untuk membangun rumahnya, Spade House, yang menghadap ke Selat Inggris di Sandgate. Di sini kedua putranya dengan Jane dilahirkan—George Philip atau ‘Gip,’ yang menjadi profesor zoologi dan bekerja sama dengan ayahnya dan Julian Huxley menulis ensiklopedia biologi The Science of Life (1930); dan Frank yang bekerja di industri film. Wells sangat mendukung orangtua dan kakak-kakaknya, yang sesama pelarian dari perdagangan tekstil. Tapi, semakin lama ia mencari pemenuhan emosional dari luar keluarga, dan kasus perselingkuhannya menjadi terkenal. Ia memiliki putri pada tahun 1909 dengan Amber Reeves, ekonom muda Fabian terkemuka. Tahun 1914 novelis dan kritikus Rebecca West melahirkan putranya Anthony West, yang masa kanak-kanak bermasalahnya kelak terpantul dalam novelnya sendiri Heritage (1955) dan dalam biografi ayahnya.

Sementara kehidupan pribadi Wells menjadi gosip kalangan literatur London, perannya sebagai penulis imajinatif dan wartawan atau nabi politik makin lama makin bertentangan. Ann Veronica (1909) adalah contoh fiksi topikal, kontroversial, yang mendramatisir dan mengomentari masalah-masalah seperti hak-hak perempuan, persamaan seksual, dan moral kontemporer. Ini ‘novel diskusi’ pertama Wells di mana hubungan pribadinya seringkali tidak terlalu disembunyikan. Fiksinya yang selanjutnya sangat bervariasi bentuknya, tapi semuanya termasuk kategori luas novel gagasan. Di satu ujung yang ekstrem adalah pelaporan realistis Mr. Britling Sees It Through (1916)—sementara di ujung ekstrem lain adalah dongeng singkat seperti The Undying Fire (1919) dan The Croquet Player (1936), alegori politis tentang kejadian-kejadian dunia yang masing-masing digambarkan dalam bentuk dialog ramalan.

Wells juga bukan novelis eksperimental seperti penulis sezamannya, James Joyce dan Virginia Woolf, tapi ia seringkali inovatif teknis. Dalam beberapa bukunya, batasan antara fiksi dan non-fiksi mulai runtuh. Kadang ia mengutip karya klasik dari epos pramodern yang lebih awal sebagai model literaturnya: A Modern Utopia (1905), misalnya, mereferensikan Utopia karya Sir Thomas More dan Republic karya Plato. Karya historis terlarisnya, The Outline of History (1920) dan A Short History of the World (1922) berbeda dari konvensi sejarah dengan mengharapkan tahap sejarah berikutnya. Karya-karya ini ditulis untuk menarik pelajaran dari Perang Dunia Pertama dan memastikan, kalau mungkin, tidak akan pernah terulang. Wells melihat sejarah sebagai ‘perlombaan antara pendidikan dan bencana.’ Keprihatinan yang sama memicu novel sejarah-masa-depan The Shape of Things to Come (1933), kemudian ditulis ulang untuk bioskop dengan judul Things to Come—film fiksi ilmiah epik yang diproduksi Alexander
Korda tahun 1936. Baik novel maupun film berisi peringatan suram bencana dan konsekuensi menakutkan yang tak terelakkan dari Perang Dunia Dua.

Pada 1920-an Wells bukan saja penulis terkenal tapi tokoh masyarakat yang namanya jarang tak disebut dalam koran. Ia sempat bekerja di Kementerian Propaganda pada tahun 1918, menghasilkan memorandum perang yang bertujuan mengantisipasi pendirian Liga Bangsa-Bangsa. Tahun 1922 dan 1923 ia mencalonkan diri di Parlemen sebagai kandidat Buruh. Ia berusaha mempengaruhi para pemimpin dunia, termasuk dua Presiden AS, Theodore Roosevelt dan Franklin D. Roosevelt. Pertemuannya dengan Lenin di Kremlin tahun 1920 dan wawancaranya pada tahun 1934 dengan penerus Lenin, Josef Stalin, dipublikasikan di seluruh dunia. Suaranya yang tinggi melengking seringkali terdengar di radio BBC. Tahun 1933 ia terpilih sebagai presiden PEN Internasional, organisasi penulis yang mengkampanyekan kebebasan intelektual. Pada tahun yang sama buku-bukunya dibakar di depan umum oleh Nazi di Berlin, dan ia dilarang mengunjungi Italia yang Fasis. Gagasannya sangat mempengaruhi Uni Pan-Eropa, kelompok yang mengusulkan Eropa bersatu di antara perang.

Tapi Wells yakin bahwa hanya persatuan global yang bisa mencegah kemanusiaan menghancurkan diri sendiri. Dalam The Open Conspiracy (1928) dan buku-buku lain ia menggambarkan teorinya tentang kewarganegaraan dunia dan pemerintahan dunia. Sementara Perang Dunia Dua semakin dekat ia merasa misinya gagal dan peringatannya tidak diperhatikan. Kampanye besar terakhirnya, ia berusaha mendapatkan dukungan internasional, untuk hak asazi manusia. Proposalnya dijabarkan dalam edisi khusus Penguin The Rights of Man (1940), membantu tersusunnya deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948. Ia menghabiskan tahun-tahun perang di rumahnya di Hanover Terrace, Regent’s Park. Pada tahun 1943 ia mendapat gelar Doktoral di bidang literatur dari London University. Buku terakhirnya,
Mind at the End of Its Tether (1945), merupakan karya putus asa, pesimis, bahkan dengan prospek manusia yang lebih suram dari The Time Machine lima puluh tahun sebelumnya. Ia meninggal di Hanover Terrace tanggal 13 Agustus 1946. Ia gelisah dan tak kenal lelah hingga akhir hidupnya, nabi yang selamanya tak puas dengan dirinya sendiri dan dengan kemanusiaan. ‘Suatu hari,’ tulisnya dalam ‘Oto-Dukacita’ tiga tahun sebelumnya, ‘aku akan menulis buku, buku yang sebenarnya.’ Ia sudah menerbitkan lebih dari lima puluh karya fiksi dan, totalnya, sekitar 150 dan pamflet.