Posted on

Dua puluh lima cerita yang terkumpul dalam buku ini adalah dongeng-dongeng terbaik dari Jacob dan Wilhelm Grimm atau biasa dikenal sebagai Grimm Bersaudara. Mereka adalah dua bersaudara dari Jerman yang hidup dan berkarya di awal abad 19. Dongeng-dongeng mereka sangatlah digemari, terkenal di seluruh dunia, dan terus dibaca oleh anak-anak maupun orang dewasa hingga sekarang.

Namun sebenarnya, yang sangat jarang diketahui adalah bahwa Grimm Bersaudara bukanlah pengarang dongeng-dongeng tersebut. Dongeng-dongeng tersebut sudah ada jauh sebelum mereka berdua lahir, karena merupakan bagian dari khazanah cerita rakyat atau sastra lisan bangsa Eropa. Jacob dan Wilhelm Grimm hanyalah menuliskan cerita-cerita lisan tersebut, mengumpulkannya, kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku.

Beberapa dongeng dalam kumpulan ini mempunyai popularitas luar biasa di seluruh dunia, seperti misalnya dongeng Puteri Salju, Cinderella, Si Kecil Bertopi Merah, Hansel dan Gretel, dan Rapunzel. Dongeng-dongeng itu membekaskan kesan yang kuat bagi pembaca berusia kanak-kanak, dan kesan itu mereka pertahankan hingga dewasa. Mungkin setelah membaca buku ini Anda merasa heran mengapa Cinderella bukannya mengenakan sepatu kaca melainkan sepatu emas. Atau mungkin Anda bingung kenapa Si Kecil Topi Merah dan neneknya tidak mati setelah ditelan si Serigala hidup-hidup. Atau mengapa kisah Puteri Mawar berhenti sampai di pernikahan puteri itu dengan sang pangeran saja. Dalam ingatan Anda mungkin jalan ceritanya adalah lain. Belum lagi kalau Anda membaca kisah Si Jempol. Bukankah si Jempol mempunyai enam orang kakak? Kenapa bisa berbeda begini ceritanya?

Pembaca sama sekali tidak perlu khawatir dan sama sekali tidak ada yang salah dalam hal ini, karena dengan demikian dongeng-dongeng yang Anda maksud adalah dongeng yang sama versi Charles Perrault, penulis Prancis abad 17 itu.

Perbedaan alur dongeng-dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara dan Charles Perrault memang cukup signifikan. Maka kemudian beberapa pengamat membanding-bandingkan kualitas mereka dan mengambil berbagai kesimpulan. Tapi bagi saya kesimpulan itu kadang kala reduktif dan ceroboh. Adegan kekerasan, kanibalisme, dan supernatural adalah hal yang umum didapati dalam cerita rakyat di Eropa, dan baik Grimm Bersaudara maupun Perrault memunculkan unsur itu. Secara umum fantasi dongeng versi Grimm Bersaudara juga tak kalah memukau dibanding dongeng versi Perrault.

Namun dengan asumsi bahwa Anda lebih akrab dengan versi Perrault, adalah wajar jika Anda menyimpulkan betapa dongeng Hansel dan Gretel dan dongeng Si Jempol adalah yang paling membingungkan di antara seluruh koleksi. Alur cerita Hansel dan Gretel (sedikit) mirip dengan alur cerita Si Jempol versi Perrault, sedangkan kisah berjudul Hansel dan Gretel tidak ada dalam khazanah cerita Perrault. Dengan demikian, kisah Si Jempol versi Grimm berbeda jauh dengan kisah Si Jempol versi Perrault.

Lalu bagaimana dengan pengalaman saya? Mungkin mirip dengan pengalaman pembaca. Baru belakangan saya sadari bahwa kisah si Jempol yang saya kenal sejak masa kecil ternyata adalah kisah versi Charles Perrault.

***

Mengenai pengaruh yang ditimbulkan oleh dongeng-dongeng Grimm Bersaudara terhadap para pengarang sesudahnya, setidaknya saya mendapati bahwa Oscar Wilde adalah salah satu di antara mereka yang terpengaruh secara langsung sekaligus bereaksi dengan menawarkan cara pandang tersendiri. Wilde menulis dua kumpulan dongeng orisinal, Pangeran Bahagia dan Rumah Delima—keduanya telah diterbitkan pula dalam satu buku oleh Kakatua. Kisah Teman Setia adalah contoh yang mencolok, menunjukkan reaksi Wilde atas kisah Hans yang Mujur. Manusia cebol yang banyak bertebaran dalam kisah Grimm Bersaudara dan mempunyai kemampuan istimewa bisa didapati pula dalam Ulang Tahun Sang Infanta. Motif kemunculan seekor binatang yang dengan tulus membantu manusia dalam kisah Burung Emas dan Cinderella bisa pula didapati dalam tiga kisah Wilde Pangeran Bahagia, Burung Bulbul dan Mawar, dan Anak Bintang. Hanya saja jika dalam dongeng Grimm tokoh yang sering berwatak lalim atau tidak terpuji adalah seorang raja (Tiga Helai Rambut Emas si Raksasa) dan ibu tiri (Cinderella) maka dalam dongeng Wilde sosok itu diwakili oleh pemuka agama (Si Nelayan Muda dan Jiwanya).

***

Sebenarnya saya bermaksud menyertakan lebih banyak dongeng yang mengandung unsur kecerdikan atau humor dalam buku ini, namun sayangnya dongeng semacam itu sangatlah sedikit di antara seluruh khazanah dongeng Grimm Bersaudara. Meski begitu saya cukup bangga bisa menampilkan di sini kisah Hans yang Mujur, Penjahit Kecil yang Pemberani, Pernikahan Ny. Rubah, Tiga Perawan Tua, dan Tiga Anak yang Beruntung. Unsur humor ada pula dalam kisah Tiga Helai Rambut Emas Si Raksasa, meski sangat halus dan hampir tak terasa. Tema cerita dalam buku ini juga cukup variatif sehingga pembaca akan selalu merasakan kesegaran membaca setiap cerita dan merasa nyaman untuk membacanya hingga selesai. Mereka adalah kisah-kisah yang mendunia dan abadi.

***

Ditulis oleh Nurul Hanafi


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Kumpulan Dongeng karya Grimm Bersaudara.