Posted on
dua ikan

Suatu ketika, dalam perjalanannya seorang filsuf dan moralis sampai di Aksehir dan bertanya pada Nasruddin perihal tempat makan yang paling lezat. Nasruddin menyampaikan sarannya dan si filsuf yang lapar perut sekaligus bathin itu ingin mentraktir Nasruddin sekalian.

Nasruddin tentu saja bersedia. Ia temani si filsuf ke kedai makan terdekat dan mereka bertanya menu istimewa hari ini.

“Ikan! Ikan segar!” sahut si empunya kedai.

“Kalau begitu bawakan dua ekor,” pinta si filsuf.

Beberapa saat kemudian, si pelayan datang membawakan piring besar berisi dua ekor ikan bakar. Baunya harum. Tapi, yang seekor sedikit lebih kecil dari yang lain.

Tanpa ragu, Nasruddin mengambil ikan yang lebih besar untuk lauk. Si filsuf menatap tak percaya. Kedua mata dan bibirnya gemetar.

“Maaf, sodara Nasruddin. Maaf jika harus saya katakan ini. Tapi menurut saya tindakan Anda ini tidak hanya egois, tapi juga mengingkari prinsip-prinsip moral, agama, dan etika.”

Nasruddin menyimak khotbah mendadak dari sang filsuf dengan sabar, tenang, dan ketika si filsuf sudah selesai bicara, ia ganti bertanya:

“Kalau begitu, Tuan, apa yang akan Anda lakukan?”

“Saya sebagai seorang yang tahu diri akan memilih ikan yang lebih kecil untuk saya sendiri,” jawabnya.

“Nah, ini dia!” seru Nasruddin dengan tenang sambil menunjuk isi piring di depan mereka. Lalu ikan kecil itu ia taruh dalam piring si filsuf.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Humor karya Nasruddin Hodja.