Posted on

Di sebuah kebun binatang, dalam pondok kayu terasing, hiduplah sekoloni tikus yang menyebut dunia mereka sebagai satu-satunya peradaban yang ada. Mereka ditempatkan dalam kandang kaca bersekat-sekat, digolongkan sesuai berapa usia dan siapa induk yang melahirkannya. Dunia tak seindah yang mereka bayangkan. Mereka dipelihara untuk dijadikan pakan di kebun binatang itu. Dan tak satu pun dari mereka yang tahu kenyataan tersebut. Mereka cuma tahu bahwa mereka dirawat sebaik mungkin oleh manusia. Kandang dialasi sekam empuk, makanan dan minuman selalu tersedia. Segala kebutuhan pokok terpenuhi: mereka tak perlu memikirkan apa-apa kecuali terus tumbuh.

Sudah seratus tahun lamanya kebun binatang itu berdiri. Selama itu, sudah sekian banyaknya tikus pakan yang lahir dan mati. Sepasang tikus yang pertama ada di kebun binatang itu (leluhur, mereka menyebutnya) sedari dulu sudah memperingatkan anak-anaknya agar jangan terperdaya oleh kebaikan manusia. Tapi tikus-tikus muda kemudian berubah pikiran seiring menyikapi kesungguhan manusia dalam membesarkan mereka. Yang terjadi di masa mendatang malah sebaliknya: mereka mengagungkan manusia. Manusia dianggap sebagai makhluk mulia. Mereka sudah lupa seperti apa peran tikus yang sesungguhnya di tengah-tengah kehidupan manusia. Mereka tak lagi mengetahui apa yang seharusnya diketahui tikus sejak lahir, termasuk siapa sajakah musuh tikus, dan jangan tanyakan soal kucing atau apa pun yang belum pernah mereka lihat. Di mata mereka semesta hanyalah sebatas dinding-dinding pondok. Bentuk dan suara kucing pun sudah hilang dari ingatan. Bahkan mereka bertanya-tanya, apakah makhluk bernama kucing itu benar ada?

Tiap hari sekarung tikus diangkut meninggalkan kandang kaca untuk selama-lamanya. Tapi tikus-tikus pakan menarik dugaan keliru. Mereka berkhayal diberangkatkan ke suatu tempat misterius yang menjadi surga bagi tikus. Mereka sepakat menyebutnya Taman Surga. Di Taman Surga, lantainya bertabur kacang yang secara berkala turun lewat perantara hujan. Sungainya dialiri susu, gunungnya dibentuk dari keju. Masuk akal kiranya tikus-tikus yang diberangkatkan tidak pernah kembali, sebab Taman Surga menjanjikan kepuasan tiada tara. Padahal mereka telah hilang ditelan pemangsa.


Diambil dari novel Dongeng Binatang, halaman 9-10.