Posted on

Sajak Rumi No. 45 [Puisi]

Nasihat dari seseorang takkan berguna bagi para pencinta; cinta bukan semacam limpahan air yang dapat dibendung seseorang.

Tiada cendekiawan akan tahu haru-gembira di kepala si pemabuk; tiada seorang yang berpegang pada pikiran akan tahu pesona yang melambungkan hati mereka yang terbatas dari ikatan pikiran.

Raja-raja menjadi tak acuh akan kedudukannya bila mereka menangkap bau anggur yang direguk para pencinta dalam pertemuan hati.

Kusrau mengucapkan selamat tinggal pada kerajaannya demi Shirin; Farhad pun, demi Shirin pula, meng-
ayunkan kapak ke pinggang gunung.

Majnun melepaskan diri dari lingkungan keluarga demi cinta akan Laila; Vamiq menertawakan kegarangan kumis sekalian laki-laki yang menyombongkan diri.

Bekulah hidup yang berlalu tanpa roh yang indah ini; busuklah daging buah yang tak mengenal lagi kue badam ini.

Bila langit di atas sana tak berputar dalam ketakjuban dan cinta seperti kita, tentulah ia akan jemu berputar dan berkata, “Cukup sudah bagiku; berapa lama, berapa lama mesti begini?

Dunia ini bagai seruling gelagah, yang ditiupnya pada setiap lubangnya; sungguh setiap ratapnya berasal dari kedua belah bibir yang semanis tengguli itu.

Lihatlah, bagaimana bila Ia meniupkan napas-Nya ke dalam setiap gumpal tanah, setiap kalbu, Ia taburkan hajat, Ia taburkan gairah hasrat yang menimbulkan ratapan sendu.

Bila kaurobekrenggutkan hati dari Tuhan, kepada siapakah itu akan kaukaitkan kemudian? Katakan itu padaku. Sungguh tak berjiwa mulia orang yang telah sanggup merobekrenggutkan hatinya dari Tuhan biar sebentar pun.

Akan kucukupkan sampai di sini; cepatlah pergi, di malam hari naiklah hingga ke atap ini, perdengarkan seruan merdu di kota, dengan suara nyaring-tinggi.


Puisi ini dimuat dalam Kumpulan Sajak karya Jalaluddin Rumi.

Posted on

Tao Te Ching Bab 58 [Puisi]

Jika negara diatur dengan toleransi,
rakyat akan nyaman dan berlaku jujur.
Jika negara diatur dengan represi,
rakyat akan tertekan dan berlaku licik.

Ketika kehendak untuk berkuasa mengambil alih,
semakin tinggi khayalannya, semakin rendah hasilnya.
Berupayalah membuat rakyat bahagia,
dan kau meletakkan fondasi bagi kesengsaraan.
Berupayalah menjadikan rakyat bermoral,
dan kau meletakkan fondasi bagi kejahatan.

Demikianlah sang Guru senang
melayani sebagai teladan
dan tidak memaksakan kehendaknya.
Dia menunjuk tapi tidak menusuk.
Lurus, tapi lentur.
Terang benderang, tapi enak dipandang.

(Lukisan ‘Laozi Riding an Ox‘ karya Zhang Lu)


Puisi ini dimuat dalam Tao Te Ching.

Posted on

Penjual Bunga [Puisi]

Datang rusa betina menjual bunga-bunga yang baru dipetik,
Bertambah indah bunga-bunga itu karena pemajangannya yang menarik:
Dengan lengan penuh bunga-bunga anemon dan mawar cemerlang,
Berkata dia, “Tidakkah anda ingin membeli kembang?”
“Aku ingin membeli bungamu yang paling indah,”
kataku, “dan biar kuhabiskan segala milikku untuk itu.”
Berkata dia, “Kalau begitu belilah anemon yang serupa piala anggur atau bibir dara.”
“Tidak,” kataku. Berkata dia, “Kalau begitu belilah mawar jelita, benar, ini ratu segala bunga.”
“Tidak,” kataku. Berkata dia, “Maka belilah, kalau mau, bunga leli, yang bersemarak dalam warna putih salju.”
“Tidak,” kataku. Berkata dia, “Kalau begitu, belilah bunga melati, yang indah dengan warna fajar dinihari.”
“Tidak,” kataku. Berkata dia, “Maka belilah bunga narsis saja, berbintik-bintik keemasan dengan warna putih perak selingkarnya.”
“Tidak,” kataku. Berkata dia, “Belilah bunga pacar saja.”
Aku menolak, dan dengan pandang disipitkan dan leher ditelengkan,
Berkata dia, “Sudahlah; tak ada lagi yang bisa kutawarkan.”
Kataku, “Masih ada bunga pipimu.”
Berkata dia, “Bunga pipi, berapa harga untuk itu yang mesti anda bayar, tak kutahu.”
“Seluruh diriku,” kataku.
Berkata dia, “Keuntungan apa yang mungkin anda peroleh darinya, dengan kehilangan diri anda pula?”
Kataku, “Dari pembelian itu akan kudapatkan gairah hati yang lebih berharga daripada segala keuntungan. Sungguh, itulah kenikmatan paling mulia yang menuju ke arah fana paling sempurna; kenikmatan mabuk yang mencapai puncaknya ketika yang jujur menyimpang dari jalannya; batas paling jauh dari perjalanan yang bisa kujelang setelah melampaui segala batas yang menghalang.”

AL-NAJAFI
(Lukisan ‘Flowers’ karya Andy Warhol)


Puisi ini dimuat dalam Puisi Arab Modern.

Posted on

Rakyat [Puisi]

RAKYAT

hadiah di hari krida
buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman

Rakyat ialah kita
jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang selalu bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta di darat
hari yang berkeringat
gunung batu berwarna coklat di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa


Puisi ini dimuat dalam Kumpulan Puisi Hartojo Andangdjaja.

Posted on

Tukang Kebun, Lirik 6 [Puisi]

Burung jinak tinggal dalam sangkar, burung bebas di rimba raya.
Datang saatnya mereka berjumpa, itulah kehendak nasib.
Burung bebas berseru, “O Kekasihku, marilah kita terbang ke hutan.”
Burung dalam sangkar berbisik, “Ke sinilah, tinggal saja kita dalam sangkar.”
Berkata burung bebas, “Antara terali, di manakah ruang untuk mengembangkan sayap?”
“Sayang,” seru burung dalam sangkar, “tak tahu aku di mana tempat untuk bertengger di langit.”

Burung bebas berseru, “Kekasihku, nyanyikanlah nyanyian rimba raya.”
Burung dalam sangkar berkata, “Duduklah di sampingku, akan kuajarkan kepadamu bahasa cendekiawan.”
Burung rimba berseru, “Tidak, ah tidak! Nyanyian tak pernah dapat diajarkan.”
Burung dalam sangkar berkata, “Sayang bagiku, tak tahu aku nyanyian rimba raya.”

Kasih mereka memuncak karena rindu, tetapi mereka tak dapat terbang bersama bersisian sayap.
Dari celah terali sangkar mereka saling memandang dan sia-sialah keinginan mereka untuk saling tahu-menahu.
Mereka mengepak-kepakkan sayap penuh rindu dan bernyanyi, “Merapatlah ke sini, Cintaku!”
Burung bebas berseru, “Tak mungkin, aku takut akan pintu-pintu sangkar yang rapat tertutup itu.”
Burung dalam sangkar berbisik, “Sayang, sayapku lemah dan mati.”


Puisi ini dimuat dalam Tukang Kebun karya Rabindranath Tagore.