Posted on

Kembar [Cuplikan]


“Benar, Krestyan Ivanovich. Namun saya ini penyuka ketenangan, Krestyan Ivanovich, rasanya saya telah mendapat kehormatan untuk menjelaskannya tadi, jalan yang saya tempuh berbeda, Krestyan Ivanovich. Jalan kehidupan ini luas…maksud saya…saya bermaksud mengatakan, Krestyan Ivanovich, bahwa… Maafkan saya, Krestyan Ivanovich, saya tidak fasih berbicara.”

“Hm… Anda bilang…”

“Saya bilang bahwa Anda harus memaklumi, Krestyan Ivanovich, atas kenyataan bahwa saya, sebagaimana anggapan saya, bukan ahlinya berbicara dengan fasih,” kata Tn. Goliadkin dengan nada agak tersinggung, sedikit linglung dan asal-asalan. “Dalam hal ini, Krestyan Ivanovich, saya tidak sama seperti orang lain,” tambahnya diiringi semacam senyum khusus, “dan saya tak mampu bicara panjang lebar; saya tak pernah belajar memperindah gaya bicara saya. Justru sebaliknya, Krestyan Ivanovich, saya bertindak; saya malah bertindak, Krestyan Ivanovich.”

“Hm… Bagaimana…cara Anda bertindak?” Krestyan Ivanovich balik bertanya. Selepas itu, keheningan melanda sejenak. Dokter memandang Tn. Goliadkin dengan tatapan aneh dan curiga. Sebaliknya Tn. Goliadkin juga mencuri pandang ke arah dokter dengan lirikan sekilas penuh curiga.

“Saya, Krestyan Ivanovich,” Tn. Goliadkin mulai melanjutkan dengan nada seperti sebelumnya, sedikit kesal dan bingung oleh kegigihan membatu Krestyan Ivanovich, “Saya, Krestyan Ivanovich, menyukai ketenangan, bukan kebisingan duniawi. Jika berada di sana, maksud saya, di tengah masyarakat umum, Krestyan Ivanovich, seseorang harus tahu cara menggosok lantai dengan satu kaki…” (Kaki Tn. Goliadkin menggesek lantai dengan pelan.) “Itulah yang dibutuhkan di sana, Tuan, dan juga butuh melontarkan lelucon…tahu bagaimana caranya merangkai sanjungan berbunga-bunga, Tuan…itulah yang dibutuhkan di sana. Dan saya tak pernah mempelajari hal itu, Krestyan Ivanovich—saya tak pernah mempelajari semua kecakapan itu; saya tak punya waktu.


Diambil dari novel Kembar, halaman 15-16.

Posted on

Manusia Berjiwa Anjing [Cuplikan]


Belajar membaca itu sama sekali tak berguna; yang penting adalah mengendus daging dari kejauhan. Namun, jika kau tinggal di Moskow dan kepalamu ada otaknya, mau tak mau kau akan bisa membaca tanpa mengikuti sekolah apa pun. Dari empat puluh ribu lebih anjing di Moskow, hanya seekor idiot betulan yang tak tahu cara membaca kata ‘sosis’.

Awalnya Sharik belajar membaca lewat warna. Saat umurnya baru empat bulan, papan tanda biru-hijau dengan huruf-huruf MSPO—menandakan toko daging—muncul di seluruh penjuru Moskow. Aku ulangi, tanda itu tak ada gunanya juga—toh kau bisa mengendus bau daging. Tapi suatu hari Sharik melakukan kesalahan. Tergoda oleh papan tanda biru tua, Sharik, yang indera penciumannya telah terkalahkan oleh asap knalpot mobil yang lewat, malah nyelonong ke dalam toko perlengkapan listrik alih-alih ke toko daging. Toko itu terletak di Jalan Myasnitky dan dimiliki oleh Polubizner Bersaudara. Mereka membuat si anjing mencicipi sabetan kawat isolasi, yang bahkan lebih rapi dibandingkan cambukan seorang sopir. Momen kenamaan itu bisa dianggap sebagai titik permulaan pendi­dikan Sharik. Saat kembali ke trotoar, ia mulai menyadari kalau warna biru tidak selalu berarti ‘daging’. Sambil melolong dengan kesakitan berkobar, ekornya terhimpit di antara kaki, ia mengingat kalau di semua toko daging itu ada kilasan berwarna emas atau merah—huruf pertama di sebelah kiri—yang terlihat seperti sebuah kereta luncur.

Setelah itu, proses pembelajarannya meningkat pesat. Ia mempelajari huruf ‘n’ dari ‘toko ikan’ di sudut Mokho­vaya, kemudian huruf ‘a’ (lebih mudah baginya mendekati toko dari ujung akhiran kata itu, sebab ada polisi yang berdiri di dekat awal kata ‘toko’).


Diambil dari novel Manusia Berjiwa Anjing, halaman 14-15.

Posted on

Kisah Ajaib Benjamin Button [Cuplikan]


“Aku suka lelaki seusiamu,” kata Hildegarde kepadanya. “Anak-anak muda begitu tolol. Mereka bilang kepadaku be­rapa banyak sampanye yang mereka minum di kampus, dan berapa banyak uang yang mereka buang dalam permainan kartu. Lelaki seusiamu tahu bagaimana menghargai wanita.”

Benjamin merasa dirinya berada di ujung lamaran—dengan upaya keras dia menahan dorongan itu. “Kamu di usia romantis,” Hildegarde melanjutkan—“lima puluh tahun. Dua puluh tahun terlalu duniawi pandangannya; tiga puluh tahun mudah pucat karena kebanyakan kerja; empat puluh tahun adalah pengalaman panjang yang jika diceritakan menghabiskan sekotak cerutu; enam puluh adalah—oh, enam puluh terlalu dekat dengan tujuh puluh; tapi lima pu­luh adalah usia matang. Aku suka lima puluh.”

Lima puluh tampak sebagai usia kejayaan bagi Benjamin. Dia sangat merindukan usia lima puluh tahun.

“Aku selalu katakan,” lanjut Hildegarde, “bahwa aku lebih suka menikah dengan lelaki lima puluh tahun dan diurus ketimbang menikah dengan lelaki tiga puluh tahun dan mengurus dia.”

Bagi Benjamin sisa malam itu bermandikan kabut berwarna madu. Hildegarde memberinya kesempatan dua dansa lagi, dan mereka mendapati diri mereka saling cocok atas semua obrolan hari itu. Hildegrde akan berpesiar dengan kereta kuda bersamanya hari Minggu depan, dan mereka akan membahas semua obrolan itu lebih lanjut.

Pulang dengan mengendarai phaeton tepat sebelum fajar menyingsing, ketika lebah-lebah pertama mendengung, dan bulan yang memudar menyiramkan cahaya ke embun dingin, samar-samar Benjamin mendengar ayahnya sedang membicarakan bisnis grosir perkakas.

“… Dan menurutmu apa yang pantas mendapat perha­tian terbesar kita setelah palu dan paku?” kata Button senior.

“Cinta,” jawab Benjamin asal-asalan.

“Baja?” seru Roger Button, “Hey, aku bukan bicara soal material.”

Benjamin memandang ayahnya dengan mata berkunang-kunang ketika langit timur tiba-tiba merekah bersama cahaya, dan seekor kepodang menguap nyaring di sebatang pohon rowan …


Diambil dari cerita Kisah Ajaib Benjamin Button, halaman 21-22.

Posted on

Kekekalan [Cuplikan]


Umur perempuan itu enam puluh tahun, barangkali juga enam puluh lima. Kupandangi dia dari kursi panjang, sambil berselonjor menghadap kolam renang klub kebugaran di puncak gedung pencakar langit yang menyuguhkan pemandangan seluruh penjuru Paris.

Aku sedang menunggu Profesor Avenarius. Aku biasa mengobrolkan berbagai hal dengannya di sini. Profesor Avenarius belum datang dan aku masih saja memandangi perempuan itu. Dia sendirian di kolam renang, terbenam hingga pinggang. Dia menatap lekat guru renang muda bercelana parasut yang sibuk memberinya pelajaran berenang. Sembari menyimak perintah-perintahnya, perempuan itu bertelekan di pinggir kolam, menghirup dan mengembuskan napas dalam-dalam. Dia melakukannya dengan serius dan penuh semangat, hingga seolah-olah dari dalam air muncul suara mendesis lokomotif uap tua (suara ini sekarang sudah dilupakan, karena itulah bagi mereka yang tak pernah mengenal kereta api uap, tak ada cara yang lebih baik menggambarkannya selain dengan helaan napas seorang perempuan tua di pinggir kolam renang).

Aku terpesona memandangnya. Dia memikatku dengan perilaku konyolnya yang menggelitik itu (kekonyolan ini, si pelatih renang tampaknya merasakan juga, sebab kulihat sudut bibirnya terus mencibir). Tetapi seseorang mengajakku berbincang-bincang dan mengalihkan perhatianku. Begitu aku hendak mengamatinya lagi, pelajaran telah usai. Perempuan itu ber­jalan dengan pakaian renang di sepanjang tepi kolam, dan ketika sudah empat atau lima meter melewati guru renangnya, dia menoleh, tersenyum dan melambaikan tangan. Seketika jantungku berdegup kencang. Senyum itu, gerak itu, milik gadis berusia dua puluhan! Tangannya melambai enteng, menggoda, seolah-olah sambil bercanda melemparkan balon aneka warna ke­pada kekasihnya. Senyum dan gerak itu penuh pesona tetapi wajah dan tubuh sudah tidak lagi, sehingga pe­sona gerak itu tenggelam dalam tubuh yang tidak lagi memikat. Tetapi perempuan itu, sekalipun tahu pasti dirinya tak cantik lagi, melupakan kenyataan tersebut untuk sesaat.

Ada bagian tertentu dalam diri kita semua yang hidup di luar waktu. Bisa jadi kita menyadari umur hanya pada saat-saat tertentu, selebihnya kita awet muda. Ya, pada saat dia menoleh, tersenyum, dan melambaikan tangan pada guru renang mudanya (yang tak kuasa lagi menahan diri dan meledaklah tawanya), perempuan itu jelas tidak ingat umur.

Hakikat pesonanya, yang tak tergantung waktu, dalam tempo sedetik terkuak dalam gerak itu dan memukauku. Aku merasakan emosi yang ganjil. Dan kata ‘Agnes’ tebersit dalam benakku. Agnes. Aku tidak pernah kenal perempuan dengan nama itu.


Diambil dari novel Kekekalan, halaman 6-7.

Posted on

Dongeng Binatang [Cuplikan]


Di sebuah kebun binatang, dalam pondok kayu terasing, hiduplah sekoloni tikus yang menyebut dunia mereka sebagai satu-satunya peradaban yang ada. Mereka ditempatkan dalam kandang kaca bersekat-sekat, digolongkan sesuai berapa usia dan siapa induk yang melahirkannya. Dunia tak seindah yang mereka bayangkan. Mereka dipelihara untuk dijadikan pakan di kebun binatang itu. Dan tak satu pun dari mereka yang tahu kenyataan tersebut. Mereka cuma tahu bahwa mereka dirawat sebaik mungkin oleh manusia. Kandang dialasi sekam empuk, makanan dan minuman selalu tersedia. Segala kebutuhan pokok terpenuhi: mereka tak perlu memikirkan apa-apa kecuali terus tumbuh.

Sudah seratus tahun lamanya kebun binatang itu berdiri. Selama itu, sudah sekian banyaknya tikus pakan yang lahir dan mati. Sepasang tikus yang pertama ada di kebun binatang itu (leluhur, mereka menyebutnya) sedari dulu sudah memperingatkan anak-anaknya agar jangan terperdaya oleh kebaikan manusia. Tapi tikus-tikus muda kemudian berubah pikiran seiring menyikapi kesungguhan manusia dalam membesarkan mereka. Yang terjadi di masa mendatang malah sebaliknya: mereka mengagungkan manusia. Manusia dianggap sebagai makhluk mulia. Mereka sudah lupa seperti apa peran tikus yang sesungguhnya di tengah-tengah kehidupan manusia. Mereka tak lagi mengetahui apa yang seharusnya diketahui tikus sejak lahir, termasuk siapa sajakah musuh tikus, dan jangan tanyakan soal kucing atau apa pun yang belum pernah mereka lihat. Di mata mereka semesta hanyalah sebatas dinding-dinding pondok. Bentuk dan suara kucing pun sudah hilang dari ingatan. Bahkan mereka bertanya-tanya, apakah makhluk bernama kucing itu benar ada?

Tiap hari sekarung tikus diangkut meninggalkan kandang kaca untuk selama-lamanya. Tapi tikus-tikus pakan menarik dugaan keliru. Mereka berkhayal diberangkatkan ke suatu tempat misterius yang menjadi surga bagi tikus. Mereka sepakat menyebutnya Taman Surga. Di Taman Surga, lantainya bertabur kacang yang secara berkala turun lewat perantara hujan. Sungainya dialiri susu, gunungnya dibentuk dari keju. Masuk akal kiranya tikus-tikus yang diberangkatkan tidak pernah kembali, sebab Taman Surga menjanjikan kepuasan tiada tara. Padahal mereka telah hilang ditelan pemangsa.


Diambil dari novel Dongeng Binatang, halaman 9-10.