Posted on

Burung Hantu dan Sekolahnya [Cerpen]

Seekor burung hantu bernama Tua Bijak mendirikan sebuah sekolah. Siapa saja bisa masuk ke sekolahnya dan belajar berbagai hal. Setelah beberapa lama ia ingin tahu perkembangan yang mereka capai dalam pelajaran. Maka ia pun mengajukan beberapa pertanyaan.

Pertanyaan pertama adalah, “Kenapa bulan bersinar di langit?”

Si bulbul menjawab, “Agar aku bisa bernyanyi sepanjang malam untuk kekasihku, si mawar, di bawah cahayanya yang menyenangkan.”

Si lili menjawab, “Agar aku bisa membuka kelopak bungaku, dan menikmati cahayanya yang penuh cinta dan menyegarkan.”

Si kelinci menjawab, “Agar di pagi harinya bisa terkumpul embun yang banyak untuk kulahap.”

Si anjing menjawab, “Agar aku bisa memergoki para maling yang berkeliaran di sekitar rumah tuanku.”

Si kunang-kunang menjawab, “Itu karena dia benci cahayaku; jadi dia bikin cahayaku kalah terang.”

Si rubah menjawab, “Agar aku bisa dengan jelas melihat jalan ke arah kandang ayam.”

“Cukup!” kata Tua Bijak. “Hanya ada satu bulan yang bersinar si langit, namun betapa banyak yang merasa paling diuntungkan! Memang, setiap pribadi memiliki kepentingan sendiri-sendiri!”


Cerpen ini dimuat dalam Fabel-Fabel India.

Posted on

Kelahiran Eulenspiegel dan Bagaimana Ia Dibaptis Tiga Kali [Cerpen]

Di kota Brunswick ada sebuah hutan bernama Seib, dan di hutan ini ada dusun Kneitlingen, di mana Eulenspiegel yang baik hati dilahirkan.

Hidup anak ini tidak sesuai dengan pepatah lama yang berbunyi ‘ayah dan anak sama saja’, karena ayahnya yang bernama Elaus Eulenspiegel adalah pria pendiam dan bermartabat, dan ibunya, Anna, adalah tipikal perempuan pada umumnya, karena ia lemah lembut dan tidak banyak bicara. Sejauh kita tahu, tak ada situasi khusus berkenaan dengan kelahiran tokoh kita ini. Oleh karena itu, mungkin kelahirannya tak begitu berbeda dengan kelahiran anak pada umumnya. Tapi sempat tercatat bahwa anak ini menjalani tiga kali pembaptisan.

Di dusun tempat ia lahir tampaknya tak ada gereja, sehingga ketika tiba waktu ia harus dibaptis maka ia pun dikirim oleh orangtuanya ke dusun Amptlen, di mana ia mendapatkan nama Till Eulenspiegel. Tempat itu masih dikenang sebagai tempat diadakannya upacara ini, karena di dekat sana ada sebuah kastil dengan nama yang sama, yang kemudian dihancurkan oleh penduduk Magdeburgh dengan bantuan penduduk sekitar karena menjadi sarang perampok.

Pada waktu itu, ada tradisi setempat di mana bapak dan ibu baptis—bersama dengan inang pengasuh dan si anak—harus beristirahat di sebuah kedai minum setelah pembaptisan usai untuk merayakannya, dan dalam kesempatan itu ritual ini tak terlewatkan. Karena jarak antara kedai minum dan gereja itu cukup jauh, apalagi hari sangat panas, rombongan mereka jadi agak berlebihan dalam menikmati hidangan, menunda perjalanan pulang selama mungkin.

Meski begitu, akhirnya mereka harus pulang juga; dan si inang pengasuh yang kepalanya agak mabuk dan langkahnya tak begitu tegap lagi itu dengan mata agak berkunang-kunang memandang jalanan sempit dan menurun di depannya yang menuju ke sebuah selokan berlumpur, dan mendapat firasat buruk tentang apa yang akan terjadi pada perjalanan mereka. Makin dekat langkahnya ke parit yang ia takuti itu, kecemasannya makin meningkat; dan si bayi Till, entah karena si inang memeluknya lebih erat atau apakah dia pun punya firasat bahaya, mulai menendang dan berontak di dalam pelukan inangnya, sehingga ketika si inang berhenti di tepi tempat berbahaya itu demi mendapatkan kembali ketegaran langkah dan keberanian, hal tersebut sama sekali tidaklah berguna, karena setelah satu kakinya menginjak batu yang kurang kokoh gerakan berontak si bayi membikin si inang terpeleset, dan si bayi pun terlempar ke selokan. Tapi karena ada banyak tanaman liar yang sukar diberantas maka si anak pun tidak terluka, dan hanya berlumuran lumpur. Maka ia pun dibawa pulang dan dimandikan.

Begitulah, si Eulenspiegel di hari yang sama dibaptis sebanyak tiga kali. Pertama, pembaptisan secara resmi, kedua di dalam lumpur selokan, dan ketiga di dalam air hangat untuk membersihkannya dari lepotan tanah. Ini adalah peristiwa simbolis yang menandai banyak kemalangan di masa depannya, karena nasib buruk pasti akan menimpa orang yang berbuat salah.


Cerpen ini dimuat dalam Kisah-Kisah Kocak.

Posted on

Sang Peri [Cerpen]

Pada zaman dahulu ada seorang janda yang mempunyai dua orang anak gadis. Anak yang lebih tua begitu mirip dengannya, baik dari sisi wajah maupun watak, sehingga siapa pun yang melihat si anak akan seperti sedang melihat ibunya. Mereka sama-sama angkuh dan tidak enak diajak bicara sehingga tak ada yang mau hidup bersama mereka. Anak yang lebih muda sangat mirip dengan ayahnya dalam hal halusnya perasaan maupun budi pekerja, dan karenanyalah ia menjadi gadis paling cantik yang pernah ada. Karena secara alamiah orang menyukai kesamaan, maka si ibu mencurahkan rasa sayangnya pada si sulung, dan di saat bersamaan sangat tidak menyukai si bungsu. Ia suruh anak itu makan di dapur dan bekerja terus-menerus.

Di antara berbagai kewajiban, anak malang ini harus pergi dua kali sehari mencari air sejauh lebih dari dua kilometer dari rumah dan membawa pulang satu buyung penuh. Suatu hari, ketika sedang berada di mata air ini, ada seorang wanita tua miskin yang meminta air padanya.

“Oh, ya, dengan senang hati, Bu!” kata gadis manis ini. Ia basuh buyungnya, mengambil air paling jernih dari sumber itu, dan memberikannya pada si wanita tua. Ia memegang buyung itu dengan cara tertentu sehingga wanita tua itu jadi lebih mudah untuk minum.

Sambil terus minum, wanita miskin itu berkata:

“Kau cantik, baik hati, dan sopan, sehingga aku tak bisa menahan diri untuk memberimu hadiah.” Karena wanita desa miskin itu sebenarnya adalah jelmaan peri, maka ia bermaksud menguji sampai sejauh mana gadis cantik ini akan terus berbaik hati.

“Aku berikan kau satu hadiah,” lanjut sang peri, “yaitu bahwa setiap kata yang kau ucapkan akan keluar bersama setangkai bunga atau batu mulia.”

Ketika gadis cantik ini pulang, ia dimarahi ibunya karena tinggal terlalu lama di mata air.

“Maafkan aku, Ibu,” kata gadis malang ini, “karena tidak buru-buru pulang.”

Dan bersama ucapan itu, keluarlah dari mulutnya dua tangkai mawar, dua butir mutiara, dan dua butir permata.

“Pemandangan apa yang kulihat ini?” kata si ibu keheranan. “Tampaknya yang keluar dari mulutnya itu adalah mutiara dan permata! Bagaimana bisa itu terjadi, anakku?”

Inilah pertama kalinya wanita itu memanggil si gadis dengan sebutan ‘anakku.’

Si gadis mengisahkan dengan jujur semua peristiwa itu, sementara permata terus berguguran dari mulutnya.

“Sungguh,” kata si ibu, “aku harus mengirimkan anakku yang satunya lagi ke sana. Fanny, lihatlah apa yang keluar dari mulut adikmu itu saat ia bicara. Tidakkah kau akan gembira jika mendapat hadiah yang sama? Kau hanya perlu pergi ke sana dan mengambil air dari sumbernya, dan ketika seorang wanita miskin meminta air padamu maka berikanlah air padanya dengan sangat sopan.”

“Aku sendiri sangat ingin pergi ke sumber itu untuk mengambil air,” kata gadis perayu yang buruk perangai ini.

“Kusuruh kau dengan sangat,” kata si ibu, “dan saat ini juga.”

Gadis itu pun berangkat, tapi ia mengomel sepanjang jalan sambil membawa buyung perak terbaik dari rumah.

Tak lama setelah ia sampai di mata air itu ia melihat seorang wanita berpakaian semarak datang mendekat dari arah hutan, dan meminta air padanya. Ini adalah peri yang sebelumnya menampakkan diri di depan adiknya, hanya saja kini ia menjelma sebagai seorang puteri, untuk melihat akan sejauh mana sikap kasar gadis ini.

“Apakah aku datang ke sini hanya demi melayani kebutuhanmu akan air?” kata si gadis angkuh dan berperangai buruk itu. “Jadi buyung perak ini kubawa ke sini khusus untuk melayani Nyonya, begitu? Tapi boleh juga kau minum dari buyungku ini, kalau kau anggap itu pantas.”

“Kau sama sekali tidak sopan,” sahut sang peri, tanpa rasa marah. “Nah, kalau begitu karena kau tidak patuh maka akan kuberi kau hadiah, yaitu bahwa setiap kali kau bicara maka seekor ular atau kodok akan meloncat keluar dari mulutmu.”

Segera setelah si ibu melihatnya pulang, ia memekik:

“Ah, anakku?”

“Ah, ibu?” sahut gadis kasar ini, dan meloncatlah dari mulutnya seekor ular dan seekor kodok.

“Ya ampun!” pekik ibunya. “Apa yang kulihat ini? Apakah ini gara-gara adiknya? Dia harus bertanggung jawab atas hal ini,” dan ia pun segera memukul anak gadisnya yang baik hati. Gadis malang itu pun lari dan bersembunyi dalam hutan terdekat.

Sang pangeran yang baru saja pulang dari berburu berjumpa dengannya, dan karena mendapati betapa gadis itu amatlah cantik maka sang pangeran pun merasa perlu untuk bertanya tentang apa yang ia lakukan di situ dan kenapa ia menangis.

“Aduh, Tuan, ibu saya mengusir saya dari rumah.”

Sang pangeran yang melihat lima atau enam butir mutiara dan permata keluar dari mulutnya menjadi sangat berhasrat untuk tahu bagaimana itu bisa terjadi. Maka gadis itu menceritakan seluruh kisahnya. Sang pangeran jadi jatuh cinta padanya, dan setelah menimbang bahwa hadiah dari peri itu lebih berharga dari yang bisa diberikan pengantin perempuan mana pun, maka ia membawa gadis itu ke istana untuk menghadap ayahnya, sang raja, dan ia pun menikahinya di sana.

Adapun tentang si sulung, ia telah membuat dirinya begitu dibenci sehingga ibunya sendiri pun mengusir dia dari rumah. Gadis malang ini berkeliaran kesana-kemari, dan karena tak menemukan seorang pun yang mau memungutnya, ia pun masuk ke dalam hutan dan mati di sana.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Dongeng karya Charles Perrault.

Posted on

Gadis Kecil Penjual Korek Api [Cerpen]

Hawa udara sangat dingin. Salju sedang turun, dan suasana sudah mulai gelap. Ini adalah hari menjelang Tahun Baru, hari terakhir di penghujung tahun. Dalam cuaca dingin dan gelap ini seorang gadis kecil yang miskin melangkah menyusuri jalanan. Ia tak beralas kaki dan tak bertopi. Tadinya ketika berangkat dari rumah ia pakai sendal, tapi sia-sia saja. Sepasang sendal itu sangatlah besar, biasa dipakai oleh ibunya. Begitu besarnya sendal itu sehingga si gadis kecil menghilangkannya ketika ia bergegas menyeberang jalan untuk menghindari dua kereta kuda yang melintas cepat sekali. Ketika sedang mencari-cari, seorang bocah laki-laki menemukan sebelah sendalnya. Si bocah bilang, ‘andai aku punya anak kelak maka aku bisa menggunakan ini sebagai buaian.’

Si gadis kecil berjalan kembali dengan dua betis kecilnya tanpa alas kaki sampai keduanya merah dan biru karena dingin. Di dalam sebuah celemek tua ia menyimpan sebundel korek api, dan ia membawa segenggam di tangannya. Tak ada seorang pun membeli korek apinya hari itu, dan tak ada orang memberinya uang barang seperak. Ia berjalan, lapar dan kedinginan, dan kelihatan begitu murung, kasihan sekali! Serpihan-serpihan salju menjatuhi rambut pirangnya yang panjang, yang melengkung begitu indah di seputar lehernya, tapi ia tidak memikirkan penampilannya. Cahaya lampu bersinar dari balik semua jendela, dan ada aroma harum angsa panggang di jalanan. Soalnya itu adalah malam menjelang tahun baru, dan si gadis kecil berpikiran begitu pula.

Di sebuah sudut antara dua rumah, di mana salah satu rumah menjorok lebih ke depan dibanding rumah sekitarnya, ia duduk dan meringkuk. Kedua betis mungilnya ia rapatkan, tapi ia masih saja kedinginan, dan ia tidak berani pulang karena belum berhasil menjual korek api, belum mendapatkan sekeping uang pun. Si ayah akan memukulnya, lagi pula di rumah hawanya juga dingin. Mereka hanya punya satu atap di atas kepala, dan angin biasa menyelinap masuk, meskipun celah retakan sudah ditambal dengan jerami dan kain bekas. Tangan mungilnya hampir mati rasa karena dingin. Oh, gadis kecil penjual korek api bisa melakukan banyak hal menarik! Andai ia berani mencabut sebatang korek dari dalam bundelan, menggoreskannya pada dinding, dan menghangatkan jemarinya.

Akhirnya ia cabut sebatang, Jress! Betapa terangnya! Betapa besar apinya! Nyala api hangat, terang, bagai lilin kecil saat ia cakupkan tangan ke sekitarnya. Tapi nyalanya aneh! Tampak bagi si gadis kecil betapa seolah ia duduk di depan kompor besar dari besi berkilat, yang kenop dan alat pengaturnya terbuat dari kuningan. Api menyala penuh berkah, menghangatkan begitu nyaman. Tapi apa ini? Si gadis kecil sudah mulai meluruskan kedua kaki ke depan agar mereka lebih hangat ketika tiba-tiba nyala api padam. Kompor itu lenyap. Ia duduk dengan sebatang korek api yang habis terbakar di sebelah tangan.

Ia goreskan lagi sebatang korek api baru, menyala dan bersinar, dan ketika mengenai dinding maka permukaannya menjadi tembus pandang bagai kerudung. Ia bisa melihat tepat ke dalam ruang keluarga di mana ada meja dilapisi taplak putih mengilat, dengan porselin indah di atasnya, dan uap harum angsa bakar yang diisi dengan prem kering dan apel tercium di udara! Dan lebih mengagumkan lagi: daging angsa itu meloncat dari atas piring, berjalan canggung melintasi lantai bersama garpu dan pisau di belakang punggung, menuju tepat ke arah si gadis kecil. Lalu nyala api padam, dan ia hanya bisa melihat dinding tebal dan dingin.

Si gadis kecil memantik sebatang korek lagi. Kali ini ia duduk di bawah sebatang pohon natal tercantik. Pohon itu bahkan lebih besar dan lebih penuh hiasan dibanding yang terlihat olehnya dari balik pintu kaca rumah saudagar kaya beberapa hari kemarin. Ribuan lilin menyala di atas reranting hijau, dan gambar-gambar penuh warna, seperti yang menghiasi jendela-jendela toko, menatap si gadis kecil. Ia rentangkan kedua belah lengan ke udara—lalu korek api pun padam. Lilin natal sebanyak itu bergerak naik dan terus naik ke langit. Ia bisa melihat bahwa kini mereka berubah menjadi bintang kemilau. Salah satu dari bintang itu jatuh dan membikin coretan api amat sangat panjang di langit.

“Ah, ada orang sedang menjemput maut!” kata si gadis kecil, karena neneknya—satu-satunya orang yang baik hati padanya namun sudah meninggal—pernah bilang bahwa ketika satu bintang jatuh maka satu jiwa bangkit menuju Tuhan.

Ia goreskan sebatang korek lagi pada dinding bata itu. Dalam sinar terangnya, nenek si gadis kecil tampak di sana, begitu jelas, bersinar, terlihat begitu lembut dan baik hati.

“Nenek!” si gadis kecil memanggil keras. “Oh, bawalah aku bersamamu! Aku tahu kau akan pergi kalau nyala korek mati. Pergi seperti kompor hangat, angsa bakar, dan pohon natal nan hijau itu.” Dan segera ia goreskan sebundel penuh korek api yang masih tersisa. Ia ingin agar neneknya tetap berada di sana. Korek api sebanyak itu bersinar amat sangat megah sehingga nyalanya bagai cahaya siang. Si nenek belum pernah setinggi dan secantik itu. Si nenek mengangkat tubuh si gadis kecil di kedua lengannya dan mereka pun terbang dalam kegembiraan dan kemegahan—amat, amat, sangat tinggi. Di sana tak ada hawa dingin, tak ada lapar, tak ada rasa takut—mereka bersama Tuhan!

Di sudut samping rumah dalam sinar dingin pagi si gadis kecil duduk dengan pipi merah dan seulas senyum di bibirnya—mati beku di malam terakhir penghujung tahun. Hari tahun baru menyinari mayat kecil itu, duduk menggenggam koreknya dan hampir semuanya terbakar habis. Anak ini telah berusaha menghangatkan diri, kata orang-orang. Tak seorang pun melihat keindahan yang ia saksikan, serta dalam kemegahan seperti apakah ia bersama neneknya pergi menuju kegembiraan Tahun Baru.


Ilustrasi oleh Janet and Anne Grahame Johnstone

Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Dongeng karya Hans Christian Andersen.

Posted on

Pernikahan Ny. Rubah [Cerpen]

Pada zaman dulu hiduplah seekor rubah tua berekor sembilan yang mencurigai bahwa istrinya berselingkuh, dan ia ingin membuktikan hal itu. Maka ia pun membaringkan tubuhnya di bawah bangku, tidak bergerak sedikit pun, dan berlaku seolah ia sudah mati. Ny. Rubah masuk ke kamar di lantai atas, mengurung diri, sementara pelayannya, Nona Kucing, duduk memasak di samping tungku.

Setelah tersiar kabar bahwa si tua Tn. Rubah telah meninggal, para penggemar Ny. Rubah pun berdatangan. Si pelayan mendengar ada ketukan di pintu depan. Ia membukanya, dan mendapati bahwa itu adalah seekor rubah muda yang kemudian bertanya:

“Apa kabarmu, Nona Kucing?
Apakah kau tidur atau terbangun?”

Si pelayan menjawab:

“Aku tak sedang tidur, aku terjaga,
Tahukah Anda kumasak apa?
Membikin bir dan mentega,
Singgah bersantap maukah Anda?”

“Tidak, terima kasih, Nona,” sahut si rubah muda, “sedang apa Ny. Rubah?” Si pelayan menjawab:

“Di kamarnya ia berada,
Meratap dalam nestapa
Menangis merah dua matanya
Karena Pak Rubah telah tiada.”

“Oh, katakan padanya, Nona, ada rubah muda ingin bersua, ingin bercengkerama dengannya.”

“Tentu saja, Tuan muda.”

Si kucing naik ke tangga, trip, trap. Di pintu ia mengetuk tok, tok.

“Nyonya Rubah, di dalamkah Anda?”

“Oh ya, kucing manis,” teriak dia.

“Ada penggemarmu di pintu muka.”

“Penampilannya bagaimana? Punyakah dia sembilan ekor, mirip mendiang suamiku?”

“Oh, tidak,” sahut si kucing. “Cuma ada satu ekornya.”

“Kalau begitu kutolak dia.”

Nona Kucing turun tangga, mengusir si penggemar pergi. Segera setelah itu ada ketukan lain, seekor rubah kedua hendak merayu. Dia punya dua batang ekor, tapi nasibnya tak lebih baik dari tamu pertama. Setelah itu masih ada lagi tamu-tamu lain, masing-masing dengan jumlah ekor lebih banyak dari tamu sebelumnya. Tapi mereka semua terusir, sampai akhirnya datanglah rubah berekor sembilan, mirip Tuan Rubah.

Mendengar itu, Ny. Rubah girang, berkata pada si
kucing:

“Buka pintunya yang lebar
Dan buanglah Pak Rubah ke luar.”

Tapi baru saja perkawinan hendak dirayakan, si tua Tuan Rubah bergerak di bawah bangku, menyerang semua tamu, lalu mengusir mereka dan Ny. Rubah keluar rumah.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Dongeng karya Grimm Bersaudara.

Posted on

Pangeran Kodok [Cerpen]

Di suatu sore yang cerah, seorang puteri merias diri, mengenakan topi dan selopnya, lalu berjalan seorang diri menuju hutan. Ketika sampai di sebuah perigi yang sejuk airnya, ia duduk untuk beristirahat sejenak. Di tangannya ia membawa sebuah bola emas, mainan kesayangannya, dan ia selalu melambung-lambungkan bola itu ke udara, bermain lempar tangkap seorang diri.

Suatu saat, bola itu ia lambungkan tinggi sekali sehingga ia gagal menangkapnya kembali. Bola itu jatuh, terpental, lalu menggelinding dan akhirnya tercebur ke tengah perigi. Sang puteri menatap perigi itu, mendapati bahwa airnya begitu dalam sehingga ia bahkan tak bisa melihat dasarnya. Lalu ia menangis, meratapi kehilangannya, dan berkata, “Aduh! Andai saja aku bisa mengambil bola itu kembali, akan kuberikan semua pakaian dan perhiasan yang kumiliki, dan segala milikku di dunia ini.”

Selagi bicara seperti itu, seekor kodok menongolkan kepalanya dari dalam air dan berkata, “Puteri, kenapa kamu menangis keras sekali?”

“Aduh!” keluhnya, “apa yang bisa kau perbuat untukku, kodok jelek? Bola emasku kecebur perigi.”

Si kodok berkata, “Aku tidak butuh mutiara, atau perhiasan, atau pakaian bagusmu. Tapi kalau kamu mau mencintaiku dan membiarkanku hidup bersamamu dan makan pakai piring emasmu dan tidur di peraduanmu, akan kuambilkan bola itu untukmu.”

“Sungguh tak masuk akal,” pikir sang puteri, “kodok ini bisa bicara! Ia bahkan takkan pernah bisa meloncat ke luar perigi untuk mengunjungiku, meski ia mungkin bisa mengambilkan bola itu untukku. Jadi lebih baik kusanggupi saja permintaannya.”

Lalu sang puteri berkata pada si kodok: “Ya. Kalau kau berhasil mengambilkan bola itu untukku, akan kukabulkan permintaanmu.”

Si kodok menenggelamkan kepalanya kembali, menyelam dalam air, dan setelah beberapa saat ia pun muncul kembali dengan membawa bola itu di mulutnya, dan melemparkan bola itu ke tepi perigi. Sang puteri segera memungut bola itu dan menjadi luar biasa senang karena mendapatkan bola itu kembali. Sama sekali tak menggubris si kodok, sang puteri segera berlari pulang secepat mungkin. Si kodok memangil-manggilnya: “Kembali, sang puteri. Bawalah aku bersamamu seperti janjimu!” Tapi sang puteri sama sekali tidak berhenti.

Keesokan harinya ketika sang puteri duduk menghadap makan malam, ia mendengar suara aneh di luar pintu. Tap . . . tap, plas . . . plas. Seolah ada orang menaiki tangga marmar. Segera setelah itu ia dengar suara pelan ketukan di pintu, dan sebuah suara memanggilnya lirih:

“Sang puteri terkasih, bukalah pintu
Di sini aku kekasih hatimu!
Ingatlah kata yang kita ucapkan
Di tepi perigi teduhnya hutan.”

Lalu sang puteri lari menuju pintu dan membukanya, dan terlihatlah olehnya si kodok yang keberadaannya sudah sama sekali ia lupakan. Melihat ini sang puteri sedih sekaligus ketakutan, lalu menutup pintu secepat mungkin dan kembali ke kursinya. Sang raja, ayahnya, melihat ada sesuatu yang membuatnya ketakutan, dan bertanya ada masalah apa.

“Ada kodok jelek di luar sana,” kata sang puteri. “Di depan pintu. Ia pernah mengambilkan bola untukku, dan kubilang dia boleh tinggal di sini bersamaku, karena kupikir dia tak akan pernah bisa keluar dari perigi itu. Ternyata dia sudah ada di situ dan pengen masuk.”

Selagi bicara seperti ini, si kodok mengetuk pintu kembali dan berkata:

“Sang puteri terkasih, bukalah pintu
Di sini aku kekasih hatimu!
Ingatlah kata yang kita ucapkan
Di tepi perigi teduhnya hutan.”

Maka sang raja berkata pada anaknya ini: “Karena kau sudah berjanji, kau harus menepatinya. Jadi biarkan kodok itu masuk.”

Akhirnya sang puteri membuka pintu, membiarkan si kodok masuk, lalu tap . . . tap, plas . . . plas, si kodok langsung meloncat-loncat ke tengah ruang, terus meloncat hingga akhirnya sampai ke kaki meja tempat sang puteri duduk.

“Tolong angkat aku ke atas kursi, dan biarkan aku duduk di sampingmu,” kata si kodok pada sang puteri. Dengan menahan rasa jijik, sang puteri mengangkat tubuh kodok itu. Segera setelah itu si kodok bilang: “Dekatkan piringmu kepadaku sehingga aku bisa ikut makan.” Sang puteri pun menuruti permintaan ini, sehingga si kodok bersantap sebanyak yang ia suka, sedangkan sang puteri hanya diam saja karena tidak mungkin ia makan sepiring berdua dengan seekor kodok.

Setelah makan cukup banyak, si kodok berkata: “Aku sekarang lelah. Bawalah aku ke kamarmu dan taruhlah aku di atas ranjangmu.”

Kembali sang puteri menuruti permintaannya meski sangat enggan. Ia angkat tubuh si kodok dan menaruhnya di atas bantal ranjangnya sendiri, dan si kodok pun tidur sepanjang malam.

Segera setelah hari berganti pagi, si kodok bangun, meloncat-loncat turun ke lantai bawah, lalu keluar rumah.

“Nah, akhirnya pergi juga dia!” kata sang puteri dengan lega. “Aku tak akan lagi dibuat repot olehnya.”
Tapi ia salah, karena malam harinya sang puteri kembali mendengar suara ketukan yang sama di muka pintu, dan ternyata itu adalah si kodok. Ia datang kembali dan berkata:

“Sang puteri terkasih, bukalah pintu
Di sini aku kekasih hatimu!
Ingatlah kata yang kita ucapkan
Di tepi perigi teduhnya hutan.”

Ketika sang puteri membuka pintu, si kodok kembali masuk, dan tidur di atas bantal sang puteri seperti kemarin sampai pagi datang.

Di malam ketiga si kodok datang kembali dan melakukan hal yang sama. Tapi ketika sang puteri terbangun keesokan harinya, ia tercengang. Ia tidak lagi melihat keberadaan si kodok, dan yang ada kini adalah seorang pangeran tampan, berdiri menatapnya di samping ranjang dengan sepasang mata berbinar indah.

Sang pangeran mengatakan bahwa ia telah disihir oleh peri jahat sehingga dirinya berubah menjadi seekor kodok, dan ia ditakdirkan untuk tetap tinggal di perigi itu sampai seorang puteri datang membebaskannya dari perigi itu dan membiarkan dia makan sepiring dengannya dan tidur di atas ranjangnya selama tiga malam.

“Kau telah mematahkan sihir jahatnya, dan kini aku tidak punya keinginan lain kecuali mengajakmu ke istana ayahku, dan di sana kita akan menikah, dan aku akan mencintaimu sampai mati.”

Sang puteri, tentu saja, tidak perlu menunggu lama untuk bilang ‘ya’; dan selagi mereka bicara sebuah kereta datang dengan ditarik delapan ekor kuda gagah. Berhiaskan helai-helai bulu angsa dan tali kekang bersepuh emas, kereta itu dikendalikan oleh pengiring setia sang pangeran, Heinrich, yang selalu menangis pedih selama junjungannya itu berada dalam kutukan sihir.

Mereka berpamitan kepada sang raja, naik ke atas kereta kencana, dan dengan penuh kegembiraan mereka menuju istana sang pangeran, tempat mereka hidup bahagia bertahun-tahun lamanya.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Dongeng karya Grimm Bersaudara.

Posted on

Burung Bulbul dan Mawar [Cerpen]

burung bulbul dan mawar

“Dia bilang, dia mau berdansa denganku asalkan aku membawakan untuknya kuntum-kuntum mawar merah,” keluh si pelajar muda; “tapi di seluruh tamanku tak ada mawar merah.”

Dari sarangnya di pohon ek burung Bulbul mendengarnya, dan ia menatap pemuda itu melalui celah dedaunan, dan terheran-heran.

“Tak ada bunga mawar merah di tamanku!” keluhnya, dan matanya yang indah berkaca-kaca. “Ah, betapa kebahagiaan tergantung oleh hal-hal kecil! Aku telah membaca semua kata yang dituliskan oleh para arif cendekia, dan semua saripati falsafah telah kuhisap, namun karena menginginkan setangkai mawar hidupku jadi memar.”

“Akhirnya! Inilah dia, seorang pecinta sejati,” kata si burung Bulbul. “Malam demi malam aku telah bernyanyi untuknya, meski aku tak mengenal dia: malam demi malam telah kusampaikan kisahnya pada bintang-bintang, dan kini aku melihat dia. Rambutnya gelap seperti kuntum sedap malam, dan bibirnya semerah mawar hasratnya; tapi asmara membikin wajahnya sepucat gading, dan kesedihan menerakan stempel di atas alisnya.”

“Sang Pangeran akan menggelar pesta dansa besok malam,” bisik si Pelajar Muda, “dan kekasih hatiku akan ada di sana. Jika aku bawakan untuknya bunga mawar merah, ia akan berdansa bersamaku hingga fajar. Jika kubawakan untuknya mawar merah, aku boleh mendekap tubuhnya, dan akan ia rebahkan kepalanya di pundakku, dan tanganku akan berjalinan dengan tangannya. Tapi di kebunku tak ada bunga mawar merah, jadi aku hanya akan duduk kesepian, sementara kekasih hatiku berlalu begitu saja. Tak akan ia pedulikan diriku, dan hatiku akan remuk.”

“Inilah dia pecinta sejati,” kata si burung Bulbul. “Apa yang bagiku bahan nyanyian, baginya bahan nestapa; apa yang bagiku sumber keriangan, baginya sumber kepedihan. Sungguh Cinta itu hal luar biasa. Ia lebih mulia dari batu zamrud dan lebih mahal dari batu indah baiduri. Mutiara dan buah delima tak bisa ditukar untuk membelinya, bahkan tak ada pula pasar yang memajangnya. Para saudagar tak bisa membelinya, dan tak bisa pula ia diperbandingkan dengan emas.”

“Para musisi akan duduk di balkon mereka,” kata si Pelajar Muda, “memainkan instrumen berdawai, dan kekasih hatiku akan menari diiringi harpa dan violin. Ia akan berdansa dengan lincahnya seolah kakinya tak menginjak lantai, dan para dayang bergaun meriah akan berputar-putar di sekitarnya. Tapi ia tak akan berdansa bersamaku, karena tak ada padaku mawar merah untuknya;” dan ia hempaskan tubuhnya di rerumputan, membenamkan wajah di kedua tangan, dan menangis.

“Kenapa dia menangis?” tanya seekor Kadal Hijau mungil ketika ia lewat di samping pemuda itu dengan ekor terangkat.

“Iya, kenapa sih?” tanya seekor Kupu-kupu yang tengah mengepak-ngepak mengejar cahaya mentari.

“Iya, kenapa sih?” bisik sekuntum bunga Daisy pada tetangganya, dengan suara lembut dan rendah.

“Ia menangis, menginginkan mawar merah,” kata si Bulbul.

“Mawar merah?” pekik mereka; “alangkah konyol!” dan si Kadal mungil yang bertabiat agak sinis langsung tertawa.

Tapi si burung Bulbul paham rahasia kedukaan si Pelajar, dan ia duduk diam di ranting pohon ek sambil memikirkan misteri Cinta.

Tiba-tiba ia membentangkan kedua sayap coklatnya, bersiap terbang, lalu melayang di udara. Bagai sebuah bayangan, ia lintasi hutan kecil itu dalam sekejap, dan bagai bayangan pula ia menyeberangi taman.

Di tengah bentangan rumput berdirilah sebatang pohon Mawar, dan ketika si Bulbul melihatnya ia langsung menukik dan menemukan setangkai yang mencuat di angkasa.

“Berikan padaku sekuntum mawar merah,” pekiknya, “dan akan kudendangkan untukmu nyanyian termanis dariku.”

Tapi si Pohon menggelengkan kepalanya.

“Mawarku putih,” sahutnya, “seputih buih di lautan, dan lebih putih dari salju di puncak gunung. Tapi pergilah kau ke tempat saudaraku yang tumbuh di samping Jam Surya, dan mungkin ia akan memberi apa yang kau pinta.”

Maka si Bulbul pun terbang ke arah Pohon Mawar yang tumbuh di dekat Jam Surya.

“Beri aku sekuntum mawar merah,” pekiknya, “dan akan kudendangkan untukmu nyanyian termanis dariku.”

Tapi si Pohon menggelengkan kepalanya.

“Mawarku berwarna kuning,” sahutnya; “sekuning rambut puteri duyung yang duduk di atas batu ambar, dan lebih kuning dari bunga dafodil yang bermekaran di lembah sebelum dipangkas mata sabit. Tapi pergilah kau ke tempat saudaraku yang tumbuh dekat jendela si Pelajar, dan mungkin ia akan memberimu apa yang kau inginkan.”

Maka si burung Bulbul pun terbang ke arah Pohon Mawar yang tumbuh dekat jendela si Pelajar.

“Beri aku bunga mawar merah,” pekiknya, “dan akan kudendangkan untukmu nyanyian termanis dariku.”

Tapi si Pohon menggelengkan kepala.

“Mawarku berwarna merah,” sahutnya, “semerah kaki merpati, dan lebih merah dari terumbu karang yang melambai-lambai di goa dasar laut. Tapi musim dingin telah membekukan urat-uratku, dan embun beku membungkam kuncupku, dan badai mematahkan ranting-rantingku, sehingga tahun ini aku sama sekali tak punya bunga.”

“Aku hanya ingin satu kuntum mawar merah,” pekik si Bulbul, “hanya satu kuntum! Tidak adakah cara bagiku untuk mendapatkannya?”

“Ada,” sahut Pohon Mawar; “tapi caranya sangat sukar sehingga aku tak berani menyampaikannya padamu.”

“Katakan padaku,” kata si Bulbul, “aku tidak takut.”

“Kalau kau menginginkan mawar merah,” kata si Pohon, “kau harus menciptakannya dari musik purnama, dan mewarnainya dengan kucuran darah hatimu. Kau harus bernyanyi untukku dengan dada tertusuk duri. Sepanjang malam kau harus menyanyi untukku, dan duri itu harus mencabik hatimu, dan seluruh darah hidupmu harus mengalir ke dalam nadiku, dan menjadi darahku.”

“Maut adalah harga mahal untuk membeli setangkai mawar merah,” pekik si Bulbul, “dan hidup sangatlah mahal dibandingkan semuanya. Menyenangkan rasanya duduk di tengah hutan lebat dan menyaksikan sang Surya mengendarai kereta kencananya, dan Rembulan mengendalikan kereta mutiara. Aroma bunga hawthorn tercium harum, dan rumpunan bunga bluebell yang bersembunyi di lembah begitu manis, seperti halnya bunga heather yang mekar di bukit. Namun Cinta itu lebih baik dari Hidup; jadi apa artinya hati seekor burung dibandingkan dengan hati seorang manusia?”

Maka ia membentangkan kedua sayap coklatnya, bersiap terbang, lalu melayang di udara. Bagai sebuah bayangan, ia lintasi taman itu dalam sekejap, dan bagai bayangan pula ia menembus hutan.

Pelajar Muda itu masih terbaring di atas rumput, tempat di mana si kekasih hati meninggalkannya, dan air mata masihlah belum kering dari kedua pelupuknya yang indah.

“Bergembiralah!” pekik si Bulbul, “bergembiralah, karena kau akan mendapatkan bunga mawar merah. Aku akan menciptakannya dari musik yang kulantunkan kala purnama dan mewarnainya dengan darah dari hatiku sendiri. Sebagai balasannya, aku hanya minta agar kau menjadi kekasih yang setia, karena Cinta lebih arif dari Filsafat, meski Filsafat itu arif, dan lebih kuat dari Kekuasaan, meski Kekuasaan itu perkasa. Kedua sayapnya berwarna api, dan begitu pula dengan tubuhnya. Bibirnya semanis madu, dan napasnya bagaikan gaharu.”

Si Pelajar menengadahkan pandang dari atas rerumputan dan menyimak, tapi ia tak bisa paham apa yang tengah dikatakan si Bulbul, karena ia hanya tahu hal-hal yang tertuliskan dalam buku.

Tapi pohon ek paham, dan merasa sedih, karena ia sangat sayang pada si Bulbul kecil yang membangun sarang di rerantingnya.

“Nyanyikan untukku satu lagu terakhir,” bisiknya, “aku akan jadi sangat kesepian kalau kau pergi.”

Maka si Bulbul pun bernyanyi untuk pohon ek itu, dan suaranya bagaikan gelembung air dalam bejana perak.

Ketika si burung selesai bernyanyi, si Pelajar bangkit dan mencabut sebuah notes dan pensil dari saku bajunya.

“Cara ia bernyanyi memang menarik hati,” katanya pada diri sendiri, sambil berjalan menembus hutan kecil—“itu tak bisa kuingkari; tapi apakah ia punya perasaan? Aku khawatir, tidak. Kenyataannya ia lebih mirip pelukis; yang ada hanyalah gaya namun tanpa kejujuran. Ia tak akan mengorbankan diri untuk yang lain. Ia hanya memikirkan musik, dan semua orang tahu bahwa seni itu egois. Namun harus diakui pula bahwa dalam lagunya itu terkandung nada-nada indah. Sungguh sayang bahwa nada-nada itu tak berarti apa pun atau membawa manfaat praktis!” Dan ia pun masuk ke kamarnya lalu berbaring di atas ranjang mungilnya dan mulai memikirkan kekasih hatinya; dan, beberapa lama kemudian, ia tertidur.

Dan ketika rembulan bangkit dan bersinar di langit tinggi, si burung Bulbul terbang ke atas pohon Mawar dan menusukkan dadanya ke arah duri pohon itu. Sepanjang malam ia bernyanyi dengan dada tertancap duri, dan Rembulan yang sedingin kristal menganjurkan wajah ke bawah untuk menyimak dendangnya. Sepanjang malam ia bernyanyi dan duri itu semakin dalam menghujam ke dadanya, dan darah hidupnya mengalir keluar.

Pertama ia bernyanyi tentang kelahiran cinta di hati seorang pemuda dan seorang pemudi. Lalu di pucuk Pohon Mawar pun mekarlah sekuntum mawar yang sangat mengagumkan, kelopaknya terbuka satu per satu, seiring bergantinya lagu demi lagu. Awalnya mawar itu pucat, bagaikan kabut yang menaungi sungai—pucat bagaikan kaki-kaki sang pagi, dan perak bagaikan sayap-sayap fajar. Bagaikan bayang-bayang mawar di cermin perak, bagaikan bayang-bayang mawar di permukaan kolam, begitulah kuntum yang mekar di pucuk pohon mawar itu.

Tapi pohon itu memekik pada burung Bulbul agar makin dalam menusukkan duri itu ke dadanya. “Tekan lebih kuat, Bulbul mungil,” pekik si Pohon, “atau fajar akan datang sebelum mawar itu sempurna.”

Maka si Bulbul menusukkan duri itu lebih dalam ke dadanya, dan nyanyiannya pun kian keras, karena ia menyanyikan lahirnya asmara di hati seorang pria dan wanita.

Dan semburat warna merah muda pun bangkit dari helai-helai kelopak mawar, bagaikan wajah pengantin pria saat sedang mencium mempelainya. Tapi duri itu belum mencapai hati, sehingga hati mawar itu pun masih tetap putih. Sedangkan darah dari hati si Bulbul sajalah yang bisa memerahkan hati sekuntum mawar.

Dan si Pohon memekik pada si Bulbul agar menusukkan duri lebih dalam lagi. “Lebih dalam, Bulbul mungil,” teriak si Pohon, “atau Pagi akan datang sebelum mawarnya merah sempurna.”

Dan si Bulbul pun menusukkan duri lebih dalam, dan akhirnya sampai ke hati, membuat ia menjerit kesakitan.

Pedih, pedih sekali luka itu, dan kian liarlah lagunya, karena ia menyanyikan lagu tentang Cinta yang disempurnakan oleh Maut, tentang Cinta yang mati tidak di dalam kubur.

Dan mawar yang mengagumkan itu pun menjadi merah terang, bagaikan cahaya langit di timur. Merah pula bagian tangkainya, dan bagian hatinya pun merah bagaikan mirah delima.

Tapi suara si burung Bulbul menjadi kian lirih, dan sayap-sayap kecilnya mulai lelah, dan kedua matanya kabur. Nyanyiannya kian lemah, dan kerongkongannya serasa tersumbat.

Lalu ia lontarkan musik terakhirnya. Si Rembulan Putih mendengarnya, dan ia lupa akan datangnya fajar, tetap tinggal di langit. Si mawar merah mendengarnya, dan ia gemetar karena girang, lalu membuka kelopak bunganya menjemput udara dingin pagi. Gema membawa ujung lagu ini ke dalam goanya yang ungu di bukit dan membangunkan para gembala yang sedang terlelap dalam mimpi. Ujung lagu ini mengalir menembus rumpunan gelagah di sungai, dan gelagah membawa pesannya kepada lautan.

“Lihat! Lihat!” teriak si Pohon, “mawarnya sudah sempurna sekarang.” Tapi si Bulbul tak menjawab, karena ia terbaring mati di tengah rerumputan dengan duri menancap di hatinya.

Dan siang harinya si Pelajar membuka jendela dan menatap ke luar.

“Wah, betapa beruntung!” serunya; “di sini ada mawar merah! Aku belum pernah melihat mawar yang seperti ini sepanjang hayatku. Begitu indahnya, sehingga aku yakin ia punya nama latin yang panjang.” Dan ia julurkan lengannya ke bawah untuk memetiknya.

Lalu ia kenakan topi dan lari menuju rumah sang Profesor dengan membawa mawar itu di tangannya.
Anak gadis si Profesor sedang duduk di ambang pintu, menggulung kain sutera biru dengan gelendong, dan anjing kecilnya berbaring di samping kakinya.

“Kau bilang kau mau berdansa denganku kalau aku bawakan untukmu sekuntum mawar merah,” seru si Pelajar. “Ini dia, mawar termerah di seluruh dunia. Kau akan menyelipkannya di dadamu, malam ini, dan sambil kita berdansa bersama akan kunyatakan betapa aku cinta padamu.”

Tapi si gadis berkerut kening. “Aku khawatir itu tidak akan cocok dengan warna gaunku,” sahutnya; “dan, lagi pula, keponakan sang bendahari telah mengirimkan untukku permata sungguhan, dan semua orang tahu permata jauh lebih berharga dibanding bunga.”

“Aduh, kau sungguh tak tahu rasa terima kasih,” kata si Pelajar dengan marah; dan ia lemparkan mawar itu ke jalanan, lalu jatuh ke got, dan sebuah kereta menggilasnya.

“Tak tahu terima kasih?” kata si gadis. “Kuberi tahu ya, kamu sangatlah kasar; dan lagi pula, kamu ini siapa? Hanya seorang Pelajar. Aku tidak percaya kau punya sepatu yang ada ketimang peraknya seperti punya keponakan bendahari;” lalu ia bangkit dari kursinya dan masuk ke rumah.

“Sungguh konyol Cinta itu!” kata Pelajar saat ia berjalan menjauh. “Gunanya tak sampai separuh dari kegunaan logika, karena ia tak membuktikan apa pun, dan ia selalu menyuruh seseorang hanya untuk kemudian tertipu, dan membuat orang percaya pada hal-hal yang tidak benar. Ia sungguh tak punya nilai praktis, dan di zaman di mana segalanya harus praktis ini aku akan kembali mempelajari Filsafat dan Metafisika.”

Maka ia pun kembali ke kamarnya dan mengeluarkan sebuah buku tebal berdebu dan mulai membaca.


Cerpen ini dimuat dalam Pangeran Bahagia & Rumah Delima karya Oscar Wilde.

Posted on

Urashima [Cerpen]

Legenda Nelayan

Urashima adalah seorang nelayan muda yang hidup di sebuah pantai pedalaman. Setiap malam ia pergi berlayar, menangkap ikan besar maupun kecil, berada di tengah laut selama berjam-jam, nyaris tanpa penerangan kecuali sebuah lentera samar-samar. Pagi harinya ia menjual ikan hasil tangkapan di pasar nelayan, lalu pulang setelah mengantungi hasilnya. Begitulah ia menjalani hari-harinya dan begitulah cara dia bertahan hidup.

Suatu malam, rembulan bersinar cemerlang sehingga permukaan air laut bisa ia lihat dengan jelas. Urashima duduk di atas perahunya dan mencelupkan tangan kanannya ke dalam air. Ia terus membenamkan lengannya dalam-dalam hingga rambutnya mengambang di permukaan air, tak mempedulikan kecondongan perahunya. Ia hanyut bersama perahunya hingga sampai di sebuah tempat keramat. Ia berada dalam kondisi antara sadar dan tak sadar, karena rembulan membuatnya terbuai suasana.

Kemudian dari kedalaman tertentu Puteri Palung Samudera bangkit ke permukaan air, menjangkau tubuh si nelayan dengan lengannya, lalu membawa tubuh itu menyelam bersamanya, dalam dan kian dalam, menuju goa dingin tempat persemayamannya. Puteri Palung Samudera membaringkan tubuh si nelayan di atas ranjang pasir, lalu menatapnya lama-lama. Mantera makhluk laut ia bisikkan ke telinganya, lagu-lagu laut ia nyanyikan untuknya, sampai kemudian si nelayan membuka mata. Terpesona.

Ia pun bertanya, “Siapakah kamu, Nona?”

Si makhluk laut menjawab, “Aku adalah Puteri Palung Samudera.”

“Aku ingin pulang. Biarkan aku pergi,” katanya. “Anak dan istriku menunggu di rumah.”

“Ah, nanti dululah. Tinggallah bersamaku barang sebentar,” sahut Puteri Palung Samudera. Lalu ia bersyair:

Urashima
Kau nelayan laut biru
Sungguh rupawan wajahmu
Rambut panjangmu menjerat kalbu
Jangan kau pergi dariku
Lupakanlah rumahmu

“Ah, sudah cukup,” keluh si nelayan yang justru tak nyaman mendengar pujian-pujian itu. “Tolong, biarkan aku pergi . . . Aku akan kembali ke rumahku sendiri.”

Tapi sang Puteri Palung Samudera bersyair kembali:

Urashima
Kau nelayan laut biru
Kan kuhias mutiara di ambinmu
Kan kutebar kembang laut di ranjangmu
Jadilah untukku Raja Laut Biru
Aku akan jadi ratumu

Namun Urashima tetap tidak tergoda mendengar lembut syair yang merayu-rayu dan dibawakan dengan suara amat merdu itu.

“Biarkan aku pergi. Anak-anakku masih kecil, dan istriku sakit-sakitan.”

Puteri Palung Samudera tak mempedulikan permintaan itu. Ia kembali melanjutkan syairnya.

Urashima
Kau nelayan laut biru
Janganlah takut badai menderu
Mulut goa kan kuganjal batu
Janganlah takut mati tenggelam
Kau bukanlah seekor ayam

Namun Urashima juga tidak tertawa mendengar akhir syair yang lucu ini. Pikirannya tetap tertuju ke arah istri dan anaknya.

“Aduuh, sudahlah. Demi Langit, aku harus kembali ke rumahku sendiri.”

“Tinggallah bersamaku barang semalam ini.”

“Tidak semalam pun.”

Lalu Puteri Palung Samudera menangis mencucurkan air mata. Urashima melihat tetesannya.

“Aku tetap tidak akan tinggal bersamamu,” Urashima berkeras.

Maka akhirnya Puteri Palung Samudera membawa Urashima kembali ke bentangan pasir dan pantai. Hari telah jauh malam, dan rembulan hampir padam.

“Sudah hampir sampaikah kita di kampungmu?” tanya Puteri Palung Samudera.

“Tinggal sepelemparan batu lagi,” sahut Urashima.

“Ambillah ini sebagai kenang-kenangan perjumpaan kita, sebagai kenang-kenangan atas diriku yang cantik ini.”

Lalu Puteri Palung Samudera memberikan untuknya sebuah peti yang terbuat dari indung mutiara. Permukaannya warna-warni bagaikan pelangi, dan kancingnya dari karang dan batu kumala. Urashima menerimanya dengan hati berdebar dan benak penuh tanda tanya. Tangannya gemetar.

“Jangan pernah kau membukanya,” Puteri Palung Samudera memperingatkan. “O, Urashima, jangan sekali-kali!” Dan bersama pesan terakhir ini Puteri Palung Samudera mencebur ke dalam laut lalu lenyap sama sekali.

Urashima memandang tempat menghilangnya Puteri Palung Samudera dengan rasa bingung campur ngeri. Tapi ia bersyukur karena bisa sampai kembali ke daratan dengan selamat. Ia pun berlari ke arah rumahnya secepat yang ia bisa, melewati deretan pohon cemara sambil melambung-lambungkan peti kecil di tangannya ke udara.

“Ah, sejuknya hawa di bawah pohon cemara! Kini aku sudah hampir sampai di rumah. Itu dia, di depan sana!” serunya riang pada diri sendiri. Ia pun mempercepat larinya.

Namun alangkah herannya Urashima, karena yang ia dapati adalah sebuah rumah yang sudah sangat berlumut, kelihatan sangat tua. Bukan itu saja: atapnya hampir runtuh dan rumah itu sudah tak berpintu. Sebagai gantinya, serumpun bunga liar tumbuh di ambang pintu. Ketika melangkah masuk, dekat tempat perapian yang kelihatan sudah lama sekali tak digunakan ia dapati tumbuhan duri yang sudah kering. Tentu saja ia tak bertemu siapa pun di sana.

“Aneh sekali. Apakah aku salah alamat? Tapi mengingat letaknya, rumah ini jelas rumahku. Bagaimana bisa jadi seperti ini.” Urashima keheranan dan terus bertanya-tanya.

“Apakah aku sendiri yang sudah gila? Apakah mataku ketinggalan di dalam goa bawah laut? Ada-ada saja.”

Ia duduk di atas bentangan rumput kering yang dulunya adalah lantai rumah. Ia berpikir lama dan menimbang-nimbang berbagai kemungkinan, namun benaknya yang sederhana tak mampu menemukan penjelasan dari segala keanehan ini.

“Oh Langit, tolonglah aku!” bisiknya lirih dalam perasaan bercampur aduk. “Di manakah istriku berada, dan di manakah anak-anakku yang masih kecil itu?”

Ketika malam berubah menjadi pagi, ia berjalan keluar rumah dan menuju ke tengah kampung. Jalan kampung itu ia kenal dengan baik, batu-batu di sepanjang langkahnya juga akrab dalam ingatan. Ia tak merasa seperti sedang tersesat. Namun penduduk kampung itu tidak ada seorang pun yang ia kenal, baik yang tua maupun yang muda. Mereka yang berjalan memapasinya pun tidak menunjukkan gelagat diri mengenal Urashima.

“Selamat pagi, musafir!” seru mereka. ‘Musafir, mereka bilang? Musafir di kampung halamanku sendiri?’ batin Urashima. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Apakah kau datang dari kota?” Salah satu dari mereka bertanya.
Ia terlalu bingung untuk menjawab pertanyaan itu.

Ia jumpai anak-anak yang sedang bermain di halaman. Ia angkat dagu mereka satu per satu, tapi tak ia dapati anaknya di antara mereka. Mata mereka pun menatapnya dengan tak kalah heran. Duh, lalu di manakah anak-anakku? Ah, ia hampir putus asa mencari jawabnya.

“Di manakah anak-anakku, wahai Dewi Kwan-Im? Oh, engkau yang penuh kasih . . . Hanya engkaulah yang bisa menjelaskan padaku semua ini.”

Ia terus berjalan hilir-mudik di kampung itu dengan rasa heran campur bingung yang tak kunjung berkurang. Ketika senja datang, dadanya menjadi sesak seolah terhimpit batu besar. Di batas desa, ia bertanya menyelidik pada setiap lelaki yang lewat. Ia tarik lengan baju mereka.

“Sobat, maaf kalau aku bertanya,” begitulah setiap kali ia mulai bicara, “apakah kau kenal dengan seorang nelayan muda bernama Urashima? Ia tinggal di kampung ini.”

Lelaki yang ditanya tampak mengingat-ingat sebentar, seperti memberi harapan akan jawaban yang menyenangkan, namun akhirnya balasan mereka selalu sama: “Tidak! Aku belum pernah mendengar nama itu, apalagi bertemu orangnya.”

Ada juga di antara mereka itu para petani yang datang dari gunung. Ada yang naik kuda, ada yang berjalan kaki saja. Mereka menyanyikan lagu-lagu desa dan membawa keranjang bawaan berisi buah-buahan liar atau kayu kering. Ia perhatikan pakaian mereka, topi jerami mereka, alas kaki mereka, dan labu kering berisi bekal minuman. Sebagian dari mereka berjalan cepat, ada pula yang berjalan pelan, mungkin sambil merenung-renung. Malam pun akhirnya tiba.

“Hilang sudah harapanku!” keluh Urashima.

Tapi kemudian ia melintas di depan rumah seorang kakek yang sudah amat sangat tua.

“Oh, Kakek, selamat malam. Aku hendak bertanya: tentunya Kakek pernah mendengar nama Urashima. Dia lahir dan tumbuh di desa ini.”

Si kakek mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan menelengkan kepala.

“Urashima? Ya, ada yang bernama Urashima. Aku masih ingat. Tapi itu sudah lama sekali. Ingatanku sudah sangat samar. Waktu masih kecil, aku mendengar dia mati tenggelam. Padahal umurnya masih sangat muda.”

Urashima terperanjat. Mulutnya ternganga. Rahangnya seperti hendak lepas.

“Mati?”

“Tak ada yang lebih mati dibanding dia! Sekarang saja, anak-anaknya Urashima sudah mati semua. Untunglah aku dikaruniai umur yang amat sangat panjang. Nah, selamat malam, musafir.” Dan kakek renta itu pun melangkah masuk ke rumah.

Tiba-tiba Urashima dicekam oleh ketakutan yang mendalam. Apa yang baru saja ia dengar itu amat sangat mengerikan. Bagaimana tidak, baru saja ia berharap untuk bisa bertemu dengan anak-anaknya yang ia pikir masihlah di bawah umur lima tahun, namun ternyata semua anaknya sudah mati. Sudah pasti istrinya juga sudah lama mati. Lalu perlahan timbul perasaan betapa sia-sianya hidup ini. Ia merasa hanya semalam berpisah dari keluarganya, namun ternyata waktu yang rasanya sangat singkat itu ternyata sangatlah panjang. Sentuhan hawa dingin pun kini menusuk kulitnya lebih dalam.

Lalu setelah beberapa lama ia kembali menguasai diri dan berketetapan hati: “Aku harus pergi ke lembah maut, tempat orang-orang yang sudah mati tertidur.”

Ia pun menuju ke lembah itu.

“Wahai rembulan murung, tunjukkanlah padaku makam itu; O . . . kau yang tetap tak berubah sedikit pun sejak dahulu.”

Lalu bersama gerak awan yang bergeser, melalui sinarnya rembulan menunjukkan padanya makam itu. Beberapa saat lamanya ia pandangi makam istri dan anak-anaknya itu.

“Oh, Urashima yang celaka, memang tak ada yang lebih mati dibanding kamu. Kau berdiri seorang diri di antara hantu-hantu . . . Siapa yang akan melipur laramu?” Urashima bicara pada dirinya sendiri.

Angin malam berhembus. Tak ada suara apa pun yang mengiringinya. Segalanya hening. Bahkan burung malam pun tak mau menemani Urashima. Ia benar-benar sendirian di lembah itu.

Lalu ia sadar akan keberadaan peti kecil yang sejak kemarin dikepitnya. Ia pun membuka kancing peti itu. Dari balik peti muncullah asap tipis putih yang kemudian meng-alun tinggi ke udara. Ia mengalun dengan gerak yang menyuarakan kehampaan.

“Aduh, aku jadi sangat lelah,” keluh Urashima. Dalam sekejap, rambut di kepalanya berubah menjadi putih bagaikan salju. Ia gemetar, tubuhnya mengeriput, kedua matanya meredup. Ia yang semula sangatlah muda dan bertenaga kini menjadi seorang lelaki jompo.

“Aku sudah tua,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia katupkan kembali tutup peti itu, namun kemudian segera menjatuhkannya ke tanah dan berkata, “Asap di dalamnya sudah pergi untuk selamanya. Lalu apa lagi gunanya peti ini?”

Urashima membaringkan tubuhnya di atas bentangan pasir dan ia pun mati.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Cerita Rakyat Jepang.

Posted on

Katak Inginkan Raja [Cerpen]

Bangsa katak

Bangsa katak hidup bahagia sebagaimana yang mereka inginkan di sebuah rawa-rawa. Mereka berkecipak di air tanpa peduli siapa pun dan tak ada pula yang mempedulikan mereka. Tapi beberapa di antara mereka merasa kebahagiaan itu belumlah cukup. Mereka harus punya raja dan undang-undang yang sesuai. Maka mereka putuskan untuk mengajukan permohonan mengenai itu pada dewa.

Dewa tertawa mendengar keruak mereka dan melemparkan sebatang kayu ke tengah rawa, sehingga membuat percikan yang dahsyat. Katak-katak ketakutan dan mereka bergumul ke pinggir rawa untuk memantau siapa raksasa mengerikan itu. Tapi sesaat kemudian, melihat bahwa raksasa itu tak bergerak sama sekali, satu atau dua di antara mereka mendekat, bahkan ada yang berani menyentuhnya. Raksasa itu tetap tak bergerak. Kemudian katak yang jiwanya paling besar melompat ke atas batang kayu itu dan menari-nari. Maka semua katak pun melakukan hal yang sama. Kadang katak-katak itu sibuk melakukan sesuatu tanpa menyadari keberadaan Raja Batang Kayu di tengah mereka. Intinya raja baru ini tak cocok buat mereka. Mereka mengajukan permintaan lain pada dewa.

“Kami ingin raja sungguhan. Raja yang akan mengatur kami semua.”

Hal ini membuat dewa marah. Ia kirimkan ke tengah mereka seekor bangau besar yang segera melahap mereka semua. Katak-katak sudah terlambat untuk menyesali diri.

Lebih baik tanpa penguasa ketimbang ada penguasa tapi kejam.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Fabel karya Aesop.

 

Posted on

Khotbah Pertama [Cerpen]

Khotbah pertama

Ketika pertama kali ditunjuk sebagai imam masjid, Nasruddin Hodja berdiri di mimbar dan bersiap untuk memberikan ceramah. Para jamaah sangat penasaran ingin mendengar khotbahnya. Tapi sebenarnya Nasruddin belum siap untuk menyampaikan apa pun.

“Apakah kalian tahu apa yang akan kusampaikan hari ini?” ia bertanya.

“Tidak, Hodja Effendi, kami belum tahu,” kata mereka.

“Jika kalian belum tahu,” kata Nasruddin, “maka aku pun takkan menyampaikannya untuk kalian,” dan setelah itu ia turun dan meninggalkan masjid, meninggalkan para jamaah yang kebingungan dengan sikap anehnya.

Hari berikutnya, ketika datang waktu untuk ceramah, Nasruddin kembali ke atas mimbar menghadap jamaah.

“Apakah kalian tahu apa yang akan kusampaikan kali ini?” ia bertanya. Belajar dari pengalaman hari kemarin, kali ini para jamaah berkata:

“Ya, Hodja Effendi, kami sudah tahu!”

“Hm, kalau begitu karena kalian sudah tahu maka aku tak perlu lagi menyampaikannya untuk kalian!” dan dengan kata-kata itu ia turun mimbar. Para jamaah kembali kebingungan.

Hari ketiga, Nasruddin kembali naik ke mimbar dan mengajukan pertanyaan yang sama.

Para jamaah tak ingin Nasruddin Hodja turun mimbar tanpa menyampaikan ceramah. Maka sebagian jamaah berkata “sudah” sementara sebagian lagi menjawab “belum.”

“Kalau begitu,” kata Nasruddin, “mereka yang tahu harus menerangkan pada mereka yang belum tahu.”

Kemudian ia turun mimbar dan meninggalkan masjid.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Humor karya Nasruddin Hodja.