Posted on

Kronologi Gustave Flaubert [Biografi]

1821
(12 Desember) lahir di Rouen. Ayahnya seorang ahli bedah di Hôtel-Dieu.

1836
Menulis beberapa cerita sewaktu masih bersekolah di Rouen. Saat berlibur ke Trouville, jatuh cinta pada Elisa Foucault, seorang perempuan berumur dua puluh enam tahun, yang tidak lama setelahnya menikah dengan Maurice Sclésinger. Bayangan akan Elisa Sclésinger terulang di sejumlah karya Flaubert: dia disebut sebagai model untuk Madame Arnoux di L’Éducation sentimentale.

1837
Menulis lebih banyak cerita. Salah satunya, Une leçon d’histoire naturelle, genre Commis, diterbitkan di sebuah jurnal lokal.

1839
Merampungkan Smarh, sebuah fantasi semi-dramatis yang dapat dianggap sebagai versi awal dari La Tentation de Saint Antoine.

1842
Novembre, autobiografi naratif lainnya. Berhasil melewati ujian sekolah hukum pertamanya.

1843
Mulai menulis L’Éducation sentimentale. Gagal melewati ujian sekolah hukum keduanya.

1844
Mengalami kejang akibat epilepsi. Berhenti dari sekolah hukum.

1846
Ayah dan saudara perempuan Flaubert meninggal. Dia mendirikan rumah di Croisset, dekat Rouen, bersama ibu dan keponakan perempuannya. Bertemu dengan Louise Colet di Paris, yang kemudian menjadi kekasihnya.

1848
Menyaksikan pemberontakan 1848 di Paris; dia kemudian menggambarkan kenangan ini untuk adegan-adegan di L’Éducation sentimentale. Mulai menulis La Tentation de Saint Antoine.

1851
(19 September) mulai menulis Madame Bovary.

1852
Di tengah pengerjaan Madame Bovary, teringat akan rancangan awalnya untuk Dictionnaire des idées reçues.

1854
Mengakhiri hubungannya dengan Louise Colet.

1856
Madame Bovary selesai dan diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di La Revue de Paris (dari 1 Oktober).

1857
Flaubert dituntut atas ketidaksenonohan; dia dibebaskan. Pengadilannya menarik perhatian banyak orang dan menjadikan Madame Bovary sebagai sebuah kesuksesan yang berasal dari skandal. Mulai mengerjakan Salammbô.

1862
Salammbô rampung dan diterbitkan: meraih kesuksesan hebat. Flaubert kini dipandang sebagai tokoh sastra terkenal.

1864
Mulai menggarap lagi L’Éducation sentimentale. Dalam kurun waktu lima tahun berikutnya mengumpulkan materi untuk novelnya, dan pada waktu yang bersamaan menikmati kehidupan sosial yang gemilang.

1869
L’Éducation sentimentale selesai dan terbit.

1872
Ibu Flaubert meninggal.

1874
La Tentation de Saint Antoine terbit. Mulai menggarap Bouvard et Pécuchet.

1875-7
Menulis La Legende de Saint Julien d’Hospitalier, Un coeur simple, dan Hérodias (Trois Contes).

1877
Trois Contes terbit. Kembali mengerjakan Bouvard et Pécuchet.

1877-80
Masih menulis Bouvard et Pécuchet, yang kemudian tetap tak terselesaikan.

1880
(8 May) Flaubert meninggal.

1881
Bouvard et Pécuchet terbit.

Posted on

H. G. Wells [Biografi]

Herbert George Wells lahir tanggal 21 September 1866 di Bromley, Kent, kota pasar kecil yang tak lama kemudian ditelan pertumbuhan tepi kota London. Ayahnya, mantan tukang kebun profesional dan pemain cricket kabupaten yang terkenal untuk lemparan cepatnya, memiliki usaha kecil di Jalan Bromley High—menjual barang-barang cina dan tongkat cricket. Rumahnya dikenal sebagai Atlas House, tapi pusat kehidupan keluarga adalah dapur yang sesak di ruang bawah tanah di bawah toko. Tak lama kemudian hari-hari bermain cricket Joseph Wells berakhir karena patah kaki, dan keberuntungan keluarga tampak suram.

‘Bertie’ Wells muda sudah menunjukkan prestasi akademis yang luar biasa, tapi waktu usianya tiga belas tahun keluarganya berantakan dan ia terpaksa mencari nafkah sendiri. Ayahnya bangkrut. Ibunya meninggalkan rumah, bekerja sebagai pengurus rumah di Uppark, sebuah rumah besar di pedalaman Sussex tempat ia bekerja sebagai pelayan sebelum menikah. Wells keluar dari sekolah mengikuti jejak kedua kakak lelakinya menerjuni perdagangan tekstil. Sesudah bekerja singkat sebagai asisten guru dan asisten apoteker, pada tahun 1881 ia magang di toko serba ada di Southsea, bekerja tiga belas jam sehari dan tidur di asrama bersama sesama rekan magang. Ini periode paling menyedihkan dalam hidupnya, meski ia kemudian mengingatnya lagi dalam roman komik seperti Kipps (1905) dan The History of Mr. Polly (1910). Kipps dan Polly sama-sama melarikan diri dari magang sebagai pedagang kain. Pada tahun 1883, Wells membatalkan kontrak kerjanya dan mendapat pekerjaan sebagai asisten guru di Sekolah Tata Bahasa Midhurst dekat Uppark. Perkembangan intelektualnya, yang tertahan lama, sekarang maju pesat. Ia lulus serangkaian ujian bidang ilmu pengetahuan dan, pada bulan September 1884, masuk Normal School of Science, South Kensington (kemudian menjadi bagian dari Imperial College of Science and Technology) dengan beasiswa pemerintah.

Wells berbakat menjadi guru, sebagaimana yang ditunjukkan banyak bukunya, dan mulanya ia seorang murid yang antusias. Ia beruntung diajar biologi dan zoologi oleh salah seorang pemikir ilmiah paling berpengaruh pada zaman Victorian, teman dan pendukung Darwin, T. H. Huxley. Wells tidak pernah melupakan ajaran Huxley. Tapi para profesor lain membosankan, dan minatnya pada pelajaran mereka memudar dengan cepat. Ia lulus di bidang ilmu fisika tahun kedua tapi gagal dalam ujian geologi tahun ketiga dan meninggalkan South Kensington tahun 1887 tanpa meraih gelar. Kerangka kerja teoritis dan cakrawala imajinatif ilmu pengetahuan membangkitkan semangatnya, tapi ia tak tahan menghadapi rincian praktis dan tugas rutin melelahkan di laboratorium. Ia bolos dan menghabiskan waktunya membaca literatur dan sejarah, memuaskan penasaran yang timbul saat menjelajahi perpustakaan yang lama tak dipedulikan di Uppark. Ia mulai menulis untuk majalah kampus, The Science Schools Journal, dan memihak sosialisme dalam debat sekolah.

Pada musim panas 1887, Wells menjadi pakar ilmiah di sekolah swasta kecil di Wales Utara. Beberapa bulan kemudian ia terjatuh parah di lapangan bola. Sakit dan kekurangan gizi akibat tiga tahun kemiskinan sebagai pelajar, ia juga menderita kerusakan ginjal dan paru-paru. Sesudah berbulan-bulan memulihkan diri di Uppark ia kembali mengajar ilmu pengetahuan di Henley House School, Kilburn. Tahun 1890 ia meraih gelar Sarjana (kehormatan) kelas satu di bidang zoologi dari University of London, dan mendapat jabatan sebagai pengajar biologi di University Correspondence College. Tahun 1891 ia menikahi sepupunya Isabel Wells, tapi hanya sedikit kesamaan mereka. Tak lama kemudian Wells jatuh cinta pada salah seorang muridnya, Amy Catherine Robbins (biasanya dikenal sebagai ‘Jane’). Mereka hidup bersama sejak 1893, dan menikah dua tahun kemudian sesudah perceraiannya selesai.

Selama tahun-tahunnya sebagai pengajar biologi Wells perlahan-lahan memulai kariernya sebagai penulis dan wartawan. Ia menulis untuk Educational Times, University Correspondent, dan pada tahun 1891 menerbitkan esai filosofis, ‘The Universe Rigid,’ dalam Fortnightly Review yang bergengsi. Buku pertamanya adalah Textbook of Biology (1893). Tapi begitu buku itu terbit kesehatannya kembali merosot, memaksanya berhenti mengajar dan mengandalkan pendapatan dari literatur sepenuhnya. Masa depannya tampak sangat berbahaya, tapi tak lama kemudian ia mendapat banyak permintaan cerita pendek dan esai humor dari koran dan majalah yang tengah meledak pada waktu itu. Ia menjadi pengulas fiksi dan, untuk waktu singkat pada tahun 1895, kritikus teater.

Sejak masa sekolah Wells sebentar-sebentar menulis kisah tentang perjalanan waktu dan kemungkinan masa depan manusia. Versi awalnya diterbitkan di The Science Schools Journal dengan judul ‘Argonaut Kronis.’ Sesudah menulis ulang puluhan kali dan berkat dorongan penulis puisi serta redaktur W. E. Henley, ia menyelesaikannya dalam bentuk The Time Machine (1895). Keberhasilannya seketika, dan sementara buku itu diterbitkan dalam bentuk serial majalah, Wells sudah dibicarakan sebagai ‘orang jenius.’ Ia dipuja sebagai pencipta ‘roman ilmiah,’ kombinasi novel petualangan dan kisah filosofi di mana tokohnya terlibat perjuangan hidup-mati akibat perkembangan tak terduga ilmu pengetahuan. Sekarang ada pasar yang siap untuk fiksinya, dan The Island of Doctor Moreau (1896), The Invisible Man (1897), The War of the Worlds (1898), The Sleeper Awakes (1899), The First Men in the Moon (1901), dan beberapa volume lain dengan cepat mengalir dari penanya.

Pada pergantian abad dua puluh Wells sudah terkenal sebagai penulis populer di Inggris dan Amerika. Buku-bukunya dengan cepat diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Jerman, Spanyol, Rusia, dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Ketenarannya mulai mengalahkan pendahulunya dalam roman ilmiah, penulis Perancis Jules Verne, yang mendominasi bidang ini sejak 1860-an. Tapi Wells, seniman yang makin lama makin sadar diri, punya ambisi lebih besar dari sekadar tercatat dalam sejarah sebagai novelis petualangan seperti Jules Verne. Love and Mr. Lewisham (1900) adalah usaha pertamanya menulis fiksi realistis, berjiwa komik dan mengisyaratkan pengalamannya sendiri sebagai murid dan guru. Pada akhir dekade Edwardian, sewaktu menulis novel ‘Kondisi Inggris’ Tono-Bungay (1909) dan The New Machiavelli (1911), Wells telah menjadi salah seorang novelis terkemuka di zamannya. Ia berteman sekaligus bersaing dengan tokoh-tokoh literatur seperti Arnold Bennett, Joseph Conrad, Ford Madox Ford dan Henry James.

Tapi Wells bukan pengabdi seni demi seni semata. Ia penulis yang mampu meramal dengan pesan sosial dan politis. Karya non-fiksi besar pertamanya adalah Anticipations (1902), buku esai futurologi yang menceritakan kemungkinan akibat kemajuan ilmiah dan teknologi di abad dua puluh. Anticipations membuka hubungannya dengan Himpunan Fabian dan meluncurkan kariernya sebagai wartawan politik dan suara yang berpengaruh dari golongan kiri Inggris. Selama periode Fabian, Wells menulis A Modern Utopia (1905), tapi gagal dalam usahanya menantang penampilan birokratis dan reformis para pemimpin Kelompok seperti Bernard Shaw (teman dan saingan seumur hidup) dan Beatrice Webb. Roman ilmiah Edwardian Wells seperti The Food of the Gods (1904) dan The War in the Air (1908), meski penuh sentuhan humor, bertujuan propaganda. Dalam kisah-kisah ‘perang masa depan’ lainnya dari periode ini ia sudah memperkirakan adanya tank dan bom atom.

Keberhasilannya sebagai penulis membawa perubahan besar dalam kehidupan pribadinya. Buruknya kesehatan memaksanya meninggalkan London dan pindah ke pantai Kent pada tahun 1898. Tapi dalam jangka panjang, luka main bolanya menyebabkan diabetes yang mempengaruhinya di usia tua. Ia mempekerjakan arsitek C. F. A. Voysey untuk membangun rumahnya, Spade House, yang menghadap ke Selat Inggris di Sandgate. Di sini kedua putranya dengan Jane dilahirkan—George Philip atau ‘Gip,’ yang menjadi profesor zoologi dan bekerja sama dengan ayahnya dan Julian Huxley menulis ensiklopedia biologi The Science of Life (1930); dan Frank yang bekerja di industri film. Wells sangat mendukung orangtua dan kakak-kakaknya, yang sesama pelarian dari perdagangan tekstil. Tapi, semakin lama ia mencari pemenuhan emosional dari luar keluarga, dan kasus perselingkuhannya menjadi terkenal. Ia memiliki putri pada tahun 1909 dengan Amber Reeves, ekonom muda Fabian terkemuka. Tahun 1914 novelis dan kritikus Rebecca West melahirkan putranya Anthony West, yang masa kanak-kanak bermasalahnya kelak terpantul dalam novelnya sendiri Heritage (1955) dan dalam biografi ayahnya.

Sementara kehidupan pribadi Wells menjadi gosip kalangan literatur London, perannya sebagai penulis imajinatif dan wartawan atau nabi politik makin lama makin bertentangan. Ann Veronica (1909) adalah contoh fiksi topikal, kontroversial, yang mendramatisir dan mengomentari masalah-masalah seperti hak-hak perempuan, persamaan seksual, dan moral kontemporer. Ini ‘novel diskusi’ pertama Wells di mana hubungan pribadinya seringkali tidak terlalu disembunyikan. Fiksinya yang selanjutnya sangat bervariasi bentuknya, tapi semuanya termasuk kategori luas novel gagasan. Di satu ujung yang ekstrem adalah pelaporan realistis Mr. Britling Sees It Through (1916)—sementara di ujung ekstrem lain adalah dongeng singkat seperti The Undying Fire (1919) dan The Croquet Player (1936), alegori politis tentang kejadian-kejadian dunia yang masing-masing digambarkan dalam bentuk dialog ramalan.

Wells juga bukan novelis eksperimental seperti penulis sezamannya, James Joyce dan Virginia Woolf, tapi ia seringkali inovatif teknis. Dalam beberapa bukunya, batasan antara fiksi dan non-fiksi mulai runtuh. Kadang ia mengutip karya klasik dari epos pramodern yang lebih awal sebagai model literaturnya: A Modern Utopia (1905), misalnya, mereferensikan Utopia karya Sir Thomas More dan Republic karya Plato. Karya historis terlarisnya, The Outline of History (1920) dan A Short History of the World (1922) berbeda dari konvensi sejarah dengan mengharapkan tahap sejarah berikutnya. Karya-karya ini ditulis untuk menarik pelajaran dari Perang Dunia Pertama dan memastikan, kalau mungkin, tidak akan pernah terulang. Wells melihat sejarah sebagai ‘perlombaan antara pendidikan dan bencana.’ Keprihatinan yang sama memicu novel sejarah-masa-depan The Shape of Things to Come (1933), kemudian ditulis ulang untuk bioskop dengan judul Things to Come—film fiksi ilmiah epik yang diproduksi Alexander
Korda tahun 1936. Baik novel maupun film berisi peringatan suram bencana dan konsekuensi menakutkan yang tak terelakkan dari Perang Dunia Dua.

Pada 1920-an Wells bukan saja penulis terkenal tapi tokoh masyarakat yang namanya jarang tak disebut dalam koran. Ia sempat bekerja di Kementerian Propaganda pada tahun 1918, menghasilkan memorandum perang yang bertujuan mengantisipasi pendirian Liga Bangsa-Bangsa. Tahun 1922 dan 1923 ia mencalonkan diri di Parlemen sebagai kandidat Buruh. Ia berusaha mempengaruhi para pemimpin dunia, termasuk dua Presiden AS, Theodore Roosevelt dan Franklin D. Roosevelt. Pertemuannya dengan Lenin di Kremlin tahun 1920 dan wawancaranya pada tahun 1934 dengan penerus Lenin, Josef Stalin, dipublikasikan di seluruh dunia. Suaranya yang tinggi melengking seringkali terdengar di radio BBC. Tahun 1933 ia terpilih sebagai presiden PEN Internasional, organisasi penulis yang mengkampanyekan kebebasan intelektual. Pada tahun yang sama buku-bukunya dibakar di depan umum oleh Nazi di Berlin, dan ia dilarang mengunjungi Italia yang Fasis. Gagasannya sangat mempengaruhi Uni Pan-Eropa, kelompok yang mengusulkan Eropa bersatu di antara perang.

Tapi Wells yakin bahwa hanya persatuan global yang bisa mencegah kemanusiaan menghancurkan diri sendiri. Dalam The Open Conspiracy (1928) dan buku-buku lain ia menggambarkan teorinya tentang kewarganegaraan dunia dan pemerintahan dunia. Sementara Perang Dunia Dua semakin dekat ia merasa misinya gagal dan peringatannya tidak diperhatikan. Kampanye besar terakhirnya, ia berusaha mendapatkan dukungan internasional, untuk hak asazi manusia. Proposalnya dijabarkan dalam edisi khusus Penguin The Rights of Man (1940), membantu tersusunnya deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948. Ia menghabiskan tahun-tahun perang di rumahnya di Hanover Terrace, Regent’s Park. Pada tahun 1943 ia mendapat gelar Doktoral di bidang literatur dari London University. Buku terakhirnya,
Mind at the End of Its Tether (1945), merupakan karya putus asa, pesimis, bahkan dengan prospek manusia yang lebih suram dari The Time Machine lima puluh tahun sebelumnya. Ia meninggal di Hanover Terrace tanggal 13 Agustus 1946. Ia gelisah dan tak kenal lelah hingga akhir hidupnya, nabi yang selamanya tak puas dengan dirinya sendiri dan dengan kemanusiaan. ‘Suatu hari,’ tulisnya dalam ‘Oto-Dukacita’ tiga tahun sebelumnya, ‘aku akan menulis buku, buku yang sebenarnya.’ Ia sudah menerbitkan lebih dari lima puluh karya fiksi dan, totalnya, sekitar 150 dan pamflet.

Posted on

Kronologi Fyodor Dostoevsky [Biografi]

Dostoevsky

1821
Fyodor Mikhailovich Dostoevsky lahir di Moskow, anak kedua dari pasangan Mikhail Andreyevich Dostoevsky dengan Maria Fyodorovna.

1837
Sang ibu, Maria Fyodorovna, meninggal akibat tuberkulosis.

1838
Masuk ke St. Petersburg Military Engineering-Technical University.

1839
Sang ayah meninggal, kemungkinan dibunuh oleh pelayannya sendiri.

1843
Menerbitkan terjemahan karya Balzac, Eugénie Grandet.

1846
Terbit karya pertamanya berjudul Poor Folk yang langsung menuai sukses besar.

1846
Karya keduanya, novela The Double, terbit.

1847
Menerbitkan sejumlah cerpen, antara lain Polzunkov, An Honest Thief, White Nights.

1849
Ditahan atas tuduhan menentang tsar dan dijatuhi hukuman mati, tapi pada detik terakhir, dalam kondisi sudah dihadapkan di depan regu tembak, hukumannya diganti jadi hukuman buang ke Siberia.

1854
Dibebaskan dari penjara di Siberia tetapi diwajibkan berdinas militer di Semipalatinks.

1857
Menikah dengan seorang janda, Maria Dimitriyevna Isayeva. Menerbitkan cerpen A Little Hero.

1858
Menerbitkan The Village of Stepanchikovo dan Uncle’s Dream.

1859
Kembali ke St. Petersburg setelah sepuluh tahun diasingkan.

1861
Menerbitkan The Insulted and Injured dan The House of the Dead, yang ditulis berdasarkan pengalamannya diasingkan ke Siberia.

1862
Melawat ke Jerman, Inggris, Swiss, dan Italia. Pengalaman selama mengunjungi negara-negara ini kelak dituangkan dalam Winter Notes on Summer Impressions.

1864
Istrinya meninggal. Menerbitkan Notes from the Underground.

1866
Menerbitkan Crime and Punishment dan The Gambler, yang ditulis untuk melunasi utang judi.

1867
Menikah lagi dengan Anna Grigoryevna Snitkina. Keduanya bepergian dan tinggal di luar negeri selama empat tahun untuk menghindari kejaran utang. Sempat tinggal di Genewa, Florence, Wina, Praha, dan Dresden.

1869
The Idiot terbit.

1871
Kembali ke Rusia.

1872
Menerbitkan Demons.

1873
Mulai menulis A Writer’s Diary, kolom bulanan yang memuat esai dan cerpennya.

1875
Menerbitkan The Adolescent.

1880
Brothers Karamazov terbit.

1881
Fyodor Dostoyevsky meninggal di St. Petersburg.

(Foto oleh Vasili Perov, 1872)

Posted on

Kronologi Oscar Wilde [Biografi]

1854
Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde lahir di Dublin dari pasangan William dan Fransesca Elgee Wilde. Oscar Wilde adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

1874
Berkuliah di Oxford setelah menerima beasiswa sebagai pelajar terbaik di sekolahnya. Wilde dikenal sebagai mahasiswa yang gemar berpenampilan mencolok.

1878
Menjadi lulusan terbaik dalam studi karya-karya klasik. Pindah ke London.

1881
Buku pertamanya, kumpulan puisi berjudul Poems diterbitkan.

1882
Mengadakan ceramah sastra ke Amerika dan Kanada. Bertemu Henry Longfellow, Oliver Wendell Holmes, serta Walt Whitman, penyair yang dikaguminya. Menerbitkan drama pertamanya, Vera.

1883
Kembali ke Inggris untuk mengadakan kuliah sastra. Menerbitkan drama keduanya, The Duchess of Padua.

1884
Wilde menikah dengan Constance Lloyd, anak seorang pengacara kaya. Mereka tinggal di Chelsea.

1885
Anak pertama dari pasangan itu lahir. Seorang putra yang diberi nama Cyril.

1886
Putra kedua, Vyvyan, lahir.

1887
Menjadi penyunting di majalah Woman’s World. Menerbitkan cerita pertamanya, The Canterville Ghost.

1888
Kumpulan dongengnya, The Happy Prince and Other Tales, terbit.

1891
Menerbitkan esai-esai yang membahas estetika. Satu-satunya novel yang ditulisnya, The Picture of Dorian, terbit. Berteman dengan seorang mahasiswa Oxford bernama Lord Alfred Douglas.

1892
Menulis drama Lady Windermere’s Fan dan pementasannya menuai sukses. Wilde juga menulis drama berjudul Salomé, namun dilarang dipentaskan karena dianggap menghujat karakter dalam Alkitab.

1893
Drama A Woman of No Importance dipentaskan.

1895
Drama The Importance of Being Earnest dipentaskan di gedung teater St. James’s London. Hubungan Wilde dengan Lord Alfred Douglas semakin dekat, tapi ayah Douglas, Marquis of Queensberry mengecam keras hubungan mereka. Queensberry mengirim surat terbuka kepada Wilde, melabelinya sebagai seorang homoseks. Wilde menuntut Queensberry atas pencemaran nama baik, tapi keputusan ini justru menghancurkan hidupnya di kemudian hari. Di Pengadilan, Wilde dinyatakan bersalah atas tindak kesenonohan. Dia dihukum dua tahun kerja paksa, dan dipindahkan ke penjara Reading.

1896
Ibu Wilde, Francesca, meninggal.

1897
Menulis De Profundis. Wilde dibebaskan dari penjara dalam kondisi kesehatan yang buruk. Dia hidup berpindah-pindah di Prancis, Italia, dan Swiss. Memakai nama samaran Sebastian Melmoth.

1898
Puisi The Ballad of Reading Gaol terbit. Istri Wilde, Costance, meninggal pada usia 40 tahun.

1900
Wilde meninggal di Paris pada usia 46 tahun. Awalnya dimakamkan di Cimitiere de Bagneaux, kemudian dipindahkan ke Père Lachaise.

(Foto oleh Napoleon Sarony, 1882)

Posted on

Kronologi F. Scott Fitzgerald [Biografi]

1896
Francis Scott Key Fitzgerald lahir di St. Paul, Minnesota, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Edward Fitzgerald dan Mary McQuillan.

1909
Ketika berumur 14 tahun, tulisan pertama Fitzgerald yang berjudul The Mystery of the Raymond Mortage dimuat di majalah sekolah.

1913
Masuk ke Princeton University. Fitzgerald berkenalan dengan orang-orang yang kelak menjadi sahabat dekat dan memberi pengaruh baginya, di antaranya penulis Edmund Wilson dan John Peale Bishop.

1915
Bertemu Ginevra King, cinta pertama sekaligus inspirasi bagi sejumlah karakter wanita dalam karya-karyanya. Tapi kedekatan mereka tak berlangsung lama.

1917
Meninggalkan kuliah, bergabung dengan tentara Amerika. Fitzgerald mulai menulis novel yang diberinya judul The Romantic Egoist.

1918
Fitzgerald dan Zelda Sayre bertemu di klub jazz, Alabama. Penerbit Scribner menolak The Romantic Egoist. Tapi, merasakan bakat besar penulis muda itu, Fitzgerald diminta merevisinya kembali.

1919
Bekerja sebagai juru iklan di New York. Fitzgerald melamar Zelda, tapi Zelda menolak lamaran itu karena Fitzgerald masih kesulitan keuangan. Dia berhenti bekerja sebagai juru iklan, pindah bersama orangtuanya di St. Paul. Dia menulis ulang The Romantic Egoist. Maxwell Perkins, editor utama Scribner, menyetujui naskah itu diterbitkan dengan judul This Side of Paradise.

1920
This Side of Paradise terbit sebagai novel pertama Fitzgerald. Dia menikah dengan Zelda di New York. Kumpulan cerpen pertamanya, Flappers and Philosopher terbit pada akhir tahun.

1921
Anak pertama dan satu-satunya lahir, dinamai Frances Scott “Scottie” Fitzgerald.

1922
The Beautiful and Damned terbit. Beberapa bulan kemudian Fitzgerald menerbitkan kumpulan cerpen keduanya, Tales of the Jazz Age, yang memuat The Curious Case of Benjamin Button dan The Diamond as Big as the Ritz. Dia mengontrak rumah di Long Island dan tinggal di sana selama dua tahun.

1923
Drama The Vegetable terbit.

1924
Fitzgerald dan keluarganya pindah ke Prancis. Mereka tinggal di sana selama tujuh tahun.

1925
Menerbitkan The Great Gatsby, novel yang dianggap sebagai pencapaian terbesar Fitzgerald.

1930
Zelda menderita gangguan mental, menghabiskan waktu hampir setahun dirawat di rumah sakit. Pengalaman ini dituangkan Fitzgerald ke dalam cerpen One Trip Abroad.

1931
Fitzgeral dan keluarganya kembali ke Amerika.

1934
Novel Tender is the Night terbit.

1937
MGM menawari Fitzgerald kontrak enam bulan untuk bekerja sebagai penulis skenario.

1939
Mulai menulis novel terakhirnya, The Last Tycoon.

1940
Fitzgerald ditemukan meninggal akibat serangan jantung di apartemennya. Dia dimakamkan di Maryland, tempat ayahnya lahir.

1948
Zelda meninggal di Asheville.

***

Ditulis oleh Noor Cholis

Posted on

Kronologi Mark Twain [Biografi]

1835
Samuel Langhorne Clemens dilahirkan di Florida, Missouri, anak keenam dari pasangan John Marshall dan Jane Lampton Clemens.

1839
Keluarga Clemens pindah ke Hannibal, Missouri, sebuah kota di tepian Sungai Mississippi, yang kelak menjadi model bagi kota fiksional St. Petersburg dalam The Adventures of Tom Sawyer dan The Adventures of Huckleberry Finn.

1847
Sang ayah, John Clemens, meninggal dunia, menyebabkan keluarga Clemens mengalami kesulitan keuangan.

1851
Samuel muda meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja di Hannibal Journal. Tulisan pertamanya diterbitkan di koran tersebut.

1857
Mulai belajar menyelami seluk beluk dunia pelayaran sungai, dengan tujuan untuk menjadi nahkoda kapal. Selama dua tahun ‘mempelajari’ sungai Mississippi membuatnya akrab dengan istilah-istilah pelayaran, salah satunya adalah mark twain, sebuah kode yang menandakan kedalaman yang aman untuk dilalui kapal. Pengalaman ini kelak dituangkan dalam karya Life on the Mississippi.

1858
Adiknya, Henry, meninggal dalam kecelakaan kapal di Pennsylvania. Peristiwa ini terus menghantui Samuel sepanjang hidupnya.

1861
Perang Saudara Amerika meletus, menghentikan seluruh aktifitas pelayaran sungai. Samuel bergabung dengan milisi Konfederasi selama dua minggu. Pengalamannya dalam perang ini tertuang dalam The Private History of a Campaign that Failed.

1862
Pindah ke Nevada bersama kakaknya, Orion, yang ditunjuk sebagai sekretaris gubernur Teritori Nevada. Sempat mengadu nasib menjadi penambang, dan gagal, kemudian bekerja sebagai wartawan koran di Virginia City. Pertama kali menggunakan nama pena ‘Mark Twain’. Sejumlah petualangannya selama berada daerah Barat kelak diceritakan dalam buku Roughing It.

1864
Bepergian ke California bagian utara, singgah di Calaveras County sebelum menetap di San Francisco.

1865
Cerita pendeknya yang berjudul Jim Smiley and His Jumping Frog (kelak diberi judul The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County) dimuat di Saturday Press tanggal 18 November. Cerita ini disukai orang-orang dan mengangkat nama Mark Twain sebagai seorang penulis.

1866
Bepergian ke Hawai sebagai koresponden bagi koran California. Memberikan ceramah publik pertama.

1867
Kumpulan cerpen pertamanya terbit, The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County and Other Sketches. Berkenalan dengan Olivia Langdon yang kelak menjadi istrinya.

1869
Buku pertamanya, catatan perjalanan berjudul The Innocents Abroad, terbit dan menjadi penjualan terlaris.

1870
Menikah dengan Olivia Langdon. Mereka tinggal di New York.

1871
Bekerja sebagai editor dan penulis di koran pagi Buffalo Express.

1872
Pindah ke Hartford, Connecticut. Menerbitkan Roughing It.

1875
Menerbitkan kumpulan cerita, Sketches New and Old.

1876
Menerbitkan The Adventures of Tom Sawyer.

1880
Menerbitkan A Tramp Abroad.

1881
Menerbitkan novel The Prince and the Pauper.

1884
Mendirikan penerbitan sendiri yang diberinya nama Charles L. Webster and Company. Namun keputusan ini kelak berdampak buruk bagi kondisi keuangannya.

1885
The Adventures of Huckleberry Finn terbit sebagai buku pertama yang diterbitkan Charles L. Webster and Company.

1889
Menerbitkan novel Connecticut Yankee in King Arthur’s Court.

1890
Menerbitkan The Man That Corrupted Hadleyburg and Other Stories and Sketches.

1891
Setelah sejumlah kegagalan dalam usaha, Mark Twain memindahkan keluarganya ke Eropa untuk biaya hidup yang lebih murah.

1895
Menyelenggarakan dua tur keliling dunia untuk membayar hutang-hutangnya.

1897
Menerbitkan esai autobiografi How to Tell a Story and Other Essays.

1904
Wafatnya sang istri, Olivia Langdon. Mark Twain pindah ke New York City dan mulai menulis otobiografi.

1908
Pindah ke sebuah rumah di Connecticut yang dia beri nama Stormfield.

1909
Sebuah cerpen panjang berjudul Captain Stormfield’s Visit to Heaven menjadi cerpen terakhir yang dipublikasikan semasa Mark Twain masih hidup.

1910
Mark Twain meninggal pada usia 74 di Reading, Connecticut.

(Foto oleh Mathew Brady, February 1871)

***

Ditulis oleh Afris Irwan

Posted on

Kronologi Franz Kafka [Biografi]

Biografi Franz Kafka

1883
Franz Kafka lahir 3 Juli di Praha. Anak dari pasangan pengusaha Hermann Kafka (1852-1931) dan Julie Löwy (1856-1934). Sesuai dengan tradisi Yahudi, sehingga ia disunat pada usia 7 hari, tepatnya pada 10 Juli.

1885
Pada bulan September Georg Kafka lahir.

1887
Pada awal tahun Georg Kafka meninggal dan pada bulan September Heinrich Kafka lahir.

1888
Pada bulan April Heinrich Kafka meninggal.

1889
Pada bulan September Kafka masuk Sekolah Dasar di Fleischmarkt. Gabriele Kafka (Elli) lahir. Pada bulan Desember, Jakob Kafka, kakek Kafka dimakamkan.

1890
Pada bulan September Valerie Kafka (Valli) lahir.

1892
Pada bulan Oktober Ottilie Kafka (Ottla) lahir.

1893-1901
Kafka belajar di Sekolah Lanjutan Jerman, di Praha dan mulai berkenalan dengan keluarga Oskar Pollak.

1899-1900
Ia membaca karya Spinoza, Darwin, dan Nietzsche, juga mulai berteman dengan Hugo Bergmann.

1899-1903
Ia mulai menulis karya, tapi dimusnahkan sendiri.

1901-1906
Ia belajar pada universitas Karl Ferdinans di Praha dengan mengambil mata kuliah, kimia, sastra Jerman, dan sejarah seni. Pada akhirnya ia memutuskan untuk kuliah pada jurusan hukum.

1902
Kafka pertama kalinya berkenalan dengan Max Brod.

1903
Ia menulis sebuah novel perdana berjudul Anak dan Kota (Das Kind und Die Stadt) namun manuskrip tersebut hilang. Pada bulan Juli di usianya yang ke-20 tahun pertama kali Kafka melakukan hubungan seks dengan pegawai toko. Ia menempuh ujian nasional.

1904
Ia mulai menulis bagian pertama Gambaran Sebuah Perjuangan (Beschreibung eines Kampfes). Ia membaca buku harian, memoar, surat-surat dari Byron, Grillparzer, Goethe, dan Eckermann. Kafka dalam perjalanannya dengan kereta api pada 27 Januari membaca buku harian Friedrich Hebbel setebal 1800 halaman.

1906
Pada bulan Juni ia meraih gelar doktor ilmu hukum. Ia mengikuti diskusi reguler di kafe Louvre, yang dikenal dengan Kelompok Louvre, terutama membahas filsafat Franz Brentano. Tak lama ia meninggalkan Kelompok Louvre dan masuk Lingkaran Intelektual Praha yang dipimpin oleh Berta Fanta, seorang perempuan ahli apotek.

1906-1907
Ia melakukan praktik di pengadilan negeri.

1907
Ia mulai menulis cerpen Persiapan-Persiapan Perkawinan di Desa (Hochzeitsvorbereitungen auf dem Lande).

1907-1908
Ia diterima sebagai karyawan pada perusahaan asuransi Assicurazioni Generali dari Italia yang berkantor cabang di Praha.

1908
Pada bulan Maret prosa-prosa pendeknya yang tergabung dalam Renungan (Betrachtung) dimuat jurnal dua bulanan Hyperion. Pada 30 Juli ia berpindah kerja ke asuransi kecelakaan Arbeiter-Unfall-Versicherungs-Anstalt di Praha.

1909
Awal musim panas ia pertama kali menulis buku harian. Pada bulan September ia melakukan perjalanan dengan Max Brod dan Otto Brod ke Italia utara. Koran Bohemia memuat reportase hasil perjalanannya dengan judul Pesawat Terbang di Brecia (Die Aeroplane in Brecia). Pada musim gugur ia melanjutkan tulisan bagian kedua Gambaran Sebuah Perjuangan. Ia membaca Bouvard er Pécuchet karya Gustave Flaubert.

1910
Pada akhir bulan Maret beberapa prosa pendeknya yang tergabung dalam Renungan dimuat jurnal Bohemia. Pada bulan Oktober, ia bersama Max Brod dan Otto Brod melakukan perjalanan ke Paris.

1911
Pada musim panas, ia bersama Max Brod melakukan perjalanan ke Switzerland, Italia utara dan Paris. Pada akhir September Kafka melakukan terapi di sanatorium Erlenbach di Zürich, Switzerland. Kafka bertemu dengan rombongan seniman Jiddish di Praha. Ia membaca Michael Kohlhaas karya Heinrich von Kleist. Ia bertemu Albert Einstein di rumah Berta Fanta di Praha. Kafka dan Brod berkolaborasi menulis novel berjudul Robert dan Samuel (Robert und Samuel).

1912
Pada musim panas ia dengan Max Brod berlibur ke Leipzig dan Weimar. Di Weimar mereka mengunjungi rumah Goethe dan Schiller. Pada perjalanan itu Kafka memisahkan diri dari Brod untuk berobat di sanatorium dengan terapi sistem alam di Stapelberg, Harz. Pada bulan Agustus ia bertemu pertama kali dengan Felice Bauer asal Berlin di rumah Max Brod di Praha. Pada bulan September ia mulai mengirim surat kepada Felice Bauer. Ia menulis cerpen Penghakiman (Das Urteil) di atas kereta api selama 8 jam dari pukul 22.00 hingga pukul 06.00. Ia juga menulis novelet Metamorfosis (Die Verwandlung). Sebuah novel berjudul Hilang Tanpa Bekas (Die Verschollene) telah mulai dikerjakan. Prosa-prosa lain di bawah judul Renungan diterbitkan oleh penerbit Ernst Rowohlt, di Leipzig. Pada 15 November ia mengirim novel Education sentimentale karya Flaubert kepada Felice.

1913
Berkat surat-menyurat antara Kafka dengan Felice Bauer, pada akhir Mei ia menulis sebuah cerpen berjudul Juru Api, Sebuah Fragmen (Der Heizer, Ein Fragment). Karya tersebut diterbitkan oleh penerbit Kurt Wolff pada buku seri Der Jüngste Tag. Ketika Kafka menulis novel Hilang Tanpa Bekas, ia menyusupkan cerpen Juru Api ini sebagai pembuka novel pada bab pertama. Belakangan tahun 1927 Max Brod menerbitkan novel itu dengan mengganti judul baru, Amerika. Pada bulan Juni cerpen Penghakiman dimuat jurnal Arkadia. Pada 21 Agustus Kafka menemukan buku Sören Kierkegaard berjudul Buku Hakim (Buch der Richter). Ia anggap buku tersebut sebagai seorang teman. Pada 2 September ia anggap Grillparzer, Dostoevsky, Kleist, dan Flaubert mempunyai satu kesamaan darah. Pada bulan September Kafka melakukan perjalanan ke Wina, Venesia, dan Riva. Pada 30 Oktober Kafka berkenalan dengan Grete Broch, teman dekat Felice Bauer yang sering membantu hubungan antara Kafka dan Felice. Belakangan hubungan Kafka dan Grete sendiri justru menjadi lebih akrab.

1914
Pada 1 Juni Kafka bertunangan dengan Felice Bauer di Berlin. Sebulan berikutnya, tepatnya pada 12 Juli Kafka melakukan pembatalan tunangan. Pada bulan Juli ia melakukan perjalanan ke Marielyst lewat Lübeck. Pada awal Agustus Kafka mulai menulis novel Proses (Der Prozess), sementara itu juga menulis cerpen Pada Koloni Hukuman (In der Strafkolonie) Grete melahirkan anak laki-laki, namun hanya berumur 7 tahun (meninggal tahun 1922). Siapa sang ayah yang sebenarnya, tak diketahui, namun Max Brod menduga ayahnya adalah Kafka. Grete memberi isyarat, bahwa sang ayah adalah yang meninggal pada tahun 1924. Saat Kafka masih hidup tak tahu sama sekali, jika Grete punya anak yang dimungkinkan darinya.

1915
Pada bulan Januari pertama kalinya Kafka bertemu Felice Bauer setelah peristiwa pembatalan tunangan. Novelet Metamorfosis dimuat pada bulan Oktober oleh media Die Weissen Blätter. Carl Sternheim dari Fontane-Preis memberi penghargaan sebagai bentuk pengakuan atas kualitas karya Kafka.

1916
Kafka dan Ottla membaca karya Schopenhauer. Ia mulai menjalin hubungan mesra lagi dengan Felice Bauer dan pada bulan Juli liburan bersama ke Marienbad. Pada bulan November penerbit Kurt Wolff menerbitkan cerpen Penghakiman dalam buku seri Der Jüngste Tag. Pada bulan November Kafka mendapatkan rumah sewaan Schörnborn Palais untuk ditempati bersama Felice Bauer.

1916-1917
Kafka menulis prosa-prosa pendek di tempat tinggalnya di Alchimistengasse, Hradschin, belakangan terkumpul dalam karya yang diberi judul Seorang Dokter Desa (Ein Landarzt)

1917
Ia bertunangan yang kedua kali dengan Felice Bauer pada bulan Juli. Pada bulan Agustus Kafka dinyatakan punya sebuah penyakit paru-paru. Pada 4 September dengan jelas dia dinyatakan mengidap penyakit tuberkulosis. Pada 8 Oktober ia mengakui cerpen Juru Api meniru gaya Charles Dickens dari novel David Copperfield. Pada 12 Oktober ia membaca karya-karya Thomas Mann. Pada bulan Desember tunangan kedua dengan Felice Bauer dibatalkan lagi.

1917-1918
Ia berlibur untuk penyembuhan penyakitnya di Zürau, tempat Ottla mengurus pertanian. Ia menuliskan banyak aforisme. Ia baca karya lengkap dari Sören Kierkegaard.

1919
Pada bulan Maret Felice Bauer kawin dengan seorang pengusaha kaya asal Berlin. Kafka senang dengan peristiwa itu. Pada musim panas Kafka memberitahukan kepada ayahnya mengenai rencana tunangan dengan Julie Wohryzek. Reaksi sang ayah, “Lebih baik pergi ke bordil saja, ketimbang kawin dengan sembarang orang seperti itu.” Pada bulan Mei penerbit Kurt Wolff menerbitkan cerpen Pada Koloni Hukuman. Kafka menghadiahkan sebuah untuk ayahnya. Sang ayah hanya bilang, “Taruh saja bukunya di meja makan.” Pada bulan November Kafka menulis Surat untuk Ayah (Brief an den Vater). Pada 9 Desember ia baca Memberkati Bumi (Segen der Erde) karya Knut Hamsun.

1920
Pada awal tahun terbit Seorang Dokter Desa oleh penerbit Kurt Wolff. Pada akhir Maret, Kafka didatangi Gustav Janouch, seorang pengarang Cheko berusia 17 tahun, anak dari teman kerjanya. Beberapa kali kunjungan Janouch ke kantor Kafka, biasanya berlanjut dengan jalan-jalan bersama. Dari semua pertemuan dengan Kafka itu akhirnya Janouch menerbitkan buku berjudul Percakapan dengan Kafka (Gespräche mit Kafka). Pada bulan April Kafka berlibur sambil berobat di Meran. Namun di Meran kesehatannya tak semakin membaik, justru menurun, ia menimbang berat badannya hanya 55 kg. Ia mulai melakukan surat-menyurat dengan Milena Jesenskà, seorang penerjemah bahasa Jerman ke dalam bahasa Cheko. Milena dikenal sebagai aktivis kiri dan sekaligus pacar Kafka. Pada 22 April terjemahan Milena: Juru Api dimuat koran berbahasa Cheko Kmen No: 6. Kemudian Kafka pada 8 Mei menyuruh Ottla membeli koran Kmen tersebut sebanyak 20 buah. Pada 3 Juni Kurt Tucholsky dengan nama pena Peter Panter membahas cerpen Pada Koloni Hukuman di koran Weltbühne yang terbit di Praha. Tucholsky sebut, sejak karya Michael Kohlhaas, tak ada novelis Jerman yang menulis lagi dengan kekuatan dari dalam yang dahsyat dan bersemburat darah dari pengarangnya.” Pada 21 Juni Kafka menulis surat kepada Milena, “Jika kamu ingin tahu, bagaimana aku dahulu, maka aku kirimkan kepadamu dari Praha sebuah surat mahapanjang untuk ayahku, yang aku tulis sekitar setengah tahun silam, tapi surat itu belum pernah aku berikan ayah.” Pada 5 Juli Kafka menulis surat kepada Milena lagi, “Besok akan aku kirimkan Surat untuk Ayah itu ke apartemenmu. Simpanlah dengan baik-baik, mungkin suatu saat aku akan memberikannya. Mohon jangan sampai ada orang lain yang membacanya. Bacalah seluruh sentilan pembelaan itu, ibarat sebuah surat advokasi.” Pada bulan Juli ia membatalkan tunangan dengan Julie Wohryzek. Pada 15 Juli Ottla kawin dengan Dr. Josef David berkebangsaan Cheko. Pada 12-13 September media bahasa Cheko Kmen no: 26, memuat 6 cerpen Kafka terjemahan dari Milena. Disusul pada 26 September cerpen Sebuah Berita untuk Sebuah Akademi (Ein Bericht für eine Akademie) terjemahan Milena dimuat koran bahasa Cheko Tribuna di Praha. Akhir musim gugur Kafka mulai menulis novel Puri (Das Schloss).

1920-1921
Kafka istirahat untuk pengobatan di Matliary di dataran tinggi Tatra (Pertengahan tahun 1920 hingga bulan Agustus tahun 1921).

1922
Dari awal Januari selama tiga minggu ia tak bisa tidur. Pada akhir Januari sampai pertengahan Februari ia berobat di sebuah tempat di pegunungan Spindelmühle. Cerpen baru telah ditulis berjudul Seorang Seniman Lapar (Ein Hungerkünstler). Pada 16 Februari Rilke membaca karya Kafka yang tergabung dalam buku Seorang Dokter Desa. Pada 1 Maret Kafka membaca drama Richard III karya Shakespeare. Pada akhir Juni sampai September ia beristirahat di Planà, Luschnitz. Pada 1 Juli Kafka pensiun muda, karena gangguan kesehatannya. Pada 19 Juli ia membaca kumpulan puisi karya Mörike dan Heine. Pada 20 Juli Kafka telah menyelesaikan bab satu sampai bab sembilan novel Puri. Pada bulan September Kafka mengirimkan manuskrip Puri ke Milena. Pada bulan Oktober Kafka menulis dua testamen pada secarik kertas kepada sahabat karibnya Max Brod, “(…) Terutama karya yang sudah aku tulis dan sudah menjadi buku, seperti Penghakiman, Juru Api, Metamorfosis, Pada Koloni Hukuman, Seorang Dokter Desa, dan kisah-kisah yang tergabung pada Seorang Seniman Lapar. (Beberapa eksemplar dari buku Renungan, harap dipertahankan, aku tidak ingin orang lain mengurusnya, tidak boleh dicetak ulang lagi). (…) Sebaliknya semua yang sudah ada dariku (yang dimuat di media-media, manuskrip atau surat-surat) tanpa perkecualian sejauh masih bisa didapatkan atau meminta dari orang-orang yang menyimpannya . . . semuanya tanpa perkecualian untuk dibakar, dan kalau bisa aku minta kamu melakukan secepatnya.”

1923
Pada akhir Juni Kafka menjelaskan tentang tema binatang dalam sastra, “Aku sudah bertahun-tahun mencoba, namun tetap tak punya daya, bukan menulis di meja tulis, justru malah lebih suka bersembunyi di kolong sofa, yang selalu bisa kutemukan.” Pada bulan Juli Kafka pertama kali bertemu dengan Dora Diamant, gadis Yahudi di Müritz, Ostsee. Mulai 24 September ia berpindah dari Praha ke Berlin untuk tinggal bersama Dora Diamant. Ia menulis cerpen berjudul Seorang Perempuan Kecil (Eine kleine Frau) dan Pembangunan (Der Bau).

1924
Pada bulan Maret kesehatan Kafka semakin memburuk, sebab itu ia dari Berlin kembali ke Praha lagi. Ia masih menulis cerpen Josefine, Penyanyi atau Masyarakat Tikus (Josefine, die Sängerin oder das Volk der Mäuse). Pada bulan April ia dirawat di sanatorium Wiener Wald, Ortmann. Setelah itu ia berpindah ke klinik Prof. Hajek di Wina. Terakhir ia berpindah ke sanatorium Dr. Hugo Hoffmann di Kierling, Wina. Di sela-sela sakitnya Kafka tetap rajin mengoreksi kalimat-kalimat dari cerpen Seorang Seniman Lapar. Di penghujung hidupnya dengan kondisi penyakit yang kritis ia kawin dengan Dora Diamant. Pada 18 atau 19 April Kafka menangis tanpa sebab. Ternyata ada pasien di kamar sebelah meninggal. Pada 28 April ia menulis kepada Brod, “Aku sangat lemah, tapi di sini dirawat dengan baik. Mataku memang dalam keadaan terpejam, tapi buku-buku dan buku tulis menghiburku. Kami tak menuntut untuk menjadi seorang pejalan, . . . aku sekarang sudah tak bisa bepergian lagi.” Awal Mei Kafka merasakan seluruh tubuhnya sakit. Pada 12 Mei Brod yang sedang punya acara sastra di Wina, menjenguk Kafka di sanatorium di Kierling. Pertemuan dua sahabat karib itu, tak disangka merupakan pertemuan yang terakhir. Pada 3 Juni menjelang siang Kafka meninggal dunia, ucapan terakhirnya, “Ya, memang begitu, baiklah.” Pada 11 Juni jasadnya dikuburkan di makam Yahudi Straschnitz di Praha.

1942
Ottla, dan dua adik perempuan Kafka meninggal di tempat tahanan Nazi di Auschwitz, Polandia.

1944
Pada 17 Mei Milena meninggal di tempat tahanan Nazi di Ravensbrück, Jerman. Grete Bloch juga meninggal di tangan tentara Nazi di Auschwitz.

1952
Pada 15 Agustus Dora Diamant meninggal di London.

1960
Pada 15 Oktober Felice Bauer meninggal di New York.

***

oleh Sigit Susanto

 

Posted on

Sebuah Percakapan dengan Milan Kundera [Wawancara]

Wawancara Milan Kundera

Wajahnya disapu temaram senja Paris yang menua, hanya matanya yang berbinar, biru tua. Dia bertutur perlahan, dalam bahasa Prancis yang sempurna, dengan aksen kental Slavia. “Hanya karya sastra yang mampu menyingkap fragmen tak dikenal keberadaan manusia yang memiliki alasan bertahan,” ujarnya dalam wawancara panjang lebar berikut ini. “Menjadi penulis bukan untuk mengkhotbahkan kebenaran melainkan menemukan kebenaran.”

Dalam dekade 1980-an, Milan Kundera menyumbangkan bagi tanah kelahirannya, Chekoslovakia, sesuatu yang diberikan oleh Gabriel Garcia Marquez pada Amerika Latin di tahun 1960-an dan Aleksander Solzhenitsyn untuk Rusia pada tahun 1970-an. Dia menghadirkan Eropa Timur kepada publik pembaca Barat, dan melakukannya dengan wawasan universal yang penuh pesona. Seruannya pada kebenaran dan kemerdekaan ruang dalam—inner freedom (yang tanpa itu kebenaran tidak bisa ditemukan), kesadarannya bahwa dalam mencari kebenaran kita harus siap berurusan dengan kematian—tema-tema inilah yang mendatangkan pujian kristis bagi Kundera, termasuk Jerusalem Prize for Literature on the Freedom of Man in Society yang pernah dia terima pada tahun 1985.

Novel-novel Kundera seperti The Book of Laughter and Forgetting (1980) dan The Unbearable Lightness of Being (1984), berkutat dengan kematian budaya zaman kita. Tersirat dalam perasaan terancamnya adalah bahaya perang nuklir. Kundera menguliti bahaya itu dengan cara alegoris, dengan cita rasa fantastis yang tak tertahankan.

Seperti rekan setanah airnya Milos Forman, sutradara peraih Academy Award yang harus hidup di pengasingan dan mengharum namanya di Barat, Kundera—menetap di Prancis sejak 1975—juga cukup produktif dan berhasil menepis anggapan umum bahwa penulis yang tercerabut dari tanah kelahirannya niscaya kehabisan inspirasi. Mambaca buku demi buku yang diolah dengan piawainya, pembaca mendapati gairah, keriangan, dan kadar erotisisme yang pekat. Kundera berhasil menyulap Chekoslovakia di masa dia muda menjadi negeri yang betul-betul hidup, mistis, dan erotis.

Corak pencapaiannya barangkali bisa sedikit menjelaskan mengapa Kundera begitu keras melindungi privasinya. Tidak satu pun pencipta mitos dan ahli mistik yang suka diungkap. Dalam suatu wawancara, novelis Philip Roth mengutip kata-kata Kundera yang diungkapkan kepadanya:

“Ketika kanak-kanak dan masih bercelana pendek, saya berangan-angan tentang salep ajaib yang bisa membuat saya menghilang. Kemudian saya beranjak dewasa, menulis dan menginginkan kesuksesan.

Sekarang saya sudah sukses dan berharap mempunyai salep yang bisa membuat saya tak terlihat.”

Mudah ditebak, terdengar keengganan dalam suara Kundera ketika saya meneleponnya di Paris dari San Francisco, meminta kesediaannya diwawancarai. Pertolongan datang dari arah tak terduga—kenangan tentang kakek saya, penulis drama Rusia pada penghujung abad kesembilan belas dan permulaan abad dua puluh, Leonid Andreyev. Teman-teman mengingatkan saya bahwa penyerbuan Soviet ke negerinya membuat Kundera tidak mempercayai orang Rusia—semua orang Rusia. Maka saya merasa harus menjelaskan asal usul Rusia saya.

Kundera menjawab bahwa, di masa mudanya, dia membaca dan mengagumi karya kakek saya. Es mencair, tanggal ditetapkan. Tetapi dalam sepucuk surat yang saya terima tak lama sesudah itu dia menulis, “Saya harus mengingatkan Anda tentang kekurangan saya. Saya tidak bisa berbicara tentang diri saya dan istri saya atau keadaan jiwa saya. Sedemikian hati-hati saya menjaganya hingga menyentuh tingkat patologis, dan tak ada yang bisa saya lakukan mengenai itu. Jika ini bisa Anda terima, saya mau bicara soal sastra.

Milan Kundera dan istrinya, Vera, berdiam di Jalan Montparnasse yang tenteram. Apartemen mereka adalah sebuah loteng yang ditata ulang, dengan pemandangan atap abu-abu pemukiman warga Paris. Yang mengguratkan karakter pada ruang tamu mereka adalah lukisan-lukisan surealis modern di dinding. Sebagian karya seniman Cheko, selebihnya karya Kundera sendiri: kepala-kepala kelewat besar aneka warna dan tangan berjemari panjang-panjang, persis tangan Kundera.

Vera Kundera adalah wanita cantik berambut cokelat, rambutnya dipotong pendek, langsing dalam balutan blue jeans. Dia menuang anggur dan dengan luwesnya mengupas buah kiwi untuk kami. Selama berbincang-bincang, saya dikejutkan oleh apresiasi tuan rumah terhadap sisi kehidupan serba pesta Paris—mudahnya berbelanja di bon marche sebelah, buah eksotis di toko pojok, dan pameran seni sepanjang tahun. Tetapi selama wawancara, Vera sibuk di ruang sebelah, mengetik dan menjawab telepon interlokal. Kemasyhuran mengejar-ngejar Kundera, dan tugas Vera menangani permintaan yang datang dari sutradara-sutradara televisi, teater dan film Eropa.

Tinggi kurus, mengenakan sweater biru, Kundera duduk membungkuk di kursi. Tak pelak lagi inilah seorang pria yang diliputi ketenteraman—bien dans sa peau, untuk menggunakan istilah Prancis yang telah penjang lebar dia jelajahi dalam The Unbearable Lightness of Being. Tergugah oleh pertanyaan-pertanyaannya, saya ceritakan sedikit tentang masa kecil emigran saya di Paris. Pesona Praha membawa saya kembali ke masa lalu, saat-saat penyair emigram Rusia Marina Tsvetayeva biasa bertandang ke rumah kami di malam hari dan melagukan syair-syair dengan suara agak paraunya. Satu puisi yang tak pernah saya lupakan mengisahkan salah satu patung di atas jembatan sungai Vltava, seorang ksatria yang tiada putus mengawasi Praha:

Kstaria Muram, kaulah pengawal

Dari sungai yang ricik

Dari tahun-tahun yang berlalu,

Mengawasi cincin dan perjanjian yang dihempas ke

Tanggul batu

Sudah banyak yang diingkari

Dalam Empat ratus tahun belakangan ini

 

Pada tahun 1936 atau 1937, juga setelah itu, Praha kelewat rapat dengan Jerman Nazi—pun dengan Rusia Komunis. Pengkhianatan-pengkhianatan yang terjadi dan janji-janji yang diingkari mustahil dibayangkan jumlahnya.

Kundera adalah anak Musim Semi Praha 1968, janji Sosialisme dengan wajah kemanusiaan yang kemudian remuk dilindas oleh tank-tank Rusia. Novel pertamanya, The Joke, terbit di Praha 1965, adalah salah satu selingan peristiwa-peristiwa besar itu.

Ditulis dengan ketat, dibangun dengan rinci, The Joke adalah dakwaan terhadap absurditas kelam kehidupan di bawah Komunisme—juga kehidupan di mana saja—manakala pengkhianatan dan dendam dibiarkan menggerogoti jiwa. Naskah The Joke melayang ke kantor penerbitan Gallimard di Paris, dan dengan amat cepatnya mencapai sanjungan internasional. Setelah serbuan Soviet ke Chekoslovakia, Kundera kehilangan jabatan selaku profesor di Institut Pengembangan Studi Sinematografi Praha, dan buku-bukunya diharamkan. Pelan tapi pasti, kehidupan dibuat tak tertanggungkan baginya, dan dia diusir dari negeri tumpah darahnya sendiri.

Buku-bukunya yang meledak di kalangan pembaca Barat pada tahun-tahun berikutnya meninggalkan jejak perjalanan intelektual dan emosional. Life is Elsewhere, diterbitkan di Amerika Serikat tahun 1974, adalah eksplorasi ironis dan muram tentang konsekuensi akhir sebuah gelora yang revolusioner dan puitik. Laughable Loves (1974) dan The Farewell Party (1976) mengagungkan cinta erotis dan mencampuradukkan keriangan dengan kasih sayang. Dalam The Farewell Partyjuga muncul satu catatan yang mencengangkan. Ketika salah satu karakter utamanya, Jakob, memilih kabur dari negerinya yang diserbu, dia merambah wilayah baru yang belum terjamah, negeri pengasingan. Tentu saja citraan inilah yang terpampang di hadapan Kundera tatkala dia sendiri angkat kaki dari Chekoslovakia pada tahun 1975, dan hal inilah yang pertama kali saya tanyakan dalam perbincangan kami.

Selama hampir sepuluh tahun, sejak usia 46 tahun, Anda menetap di Prancis. Anda merasa sebagai seorang emigran, orang Prancis, orang Cheko, atau cuma seorang Eropa yang tidak jelas kebangsaannya?

Ketika para intelektual Jerman kabur dari negeri mereka dan hijrah ke Amerika pada era 1930-an, bisa dipastikan mereka ingin pulang ke Jerman suatu hari kelak. Mereka menganggap kepergian ke luar negeri itu hanya untuk sementara. Saya, sebaliknya, tak punya secuil harapan pun untuk pulang. Menetapnya saya di Prancis adalah final, oleh karenanya saya bukan emigran. Prancis adalah satu-satunya tanah air nyata saya sekarang.

Saya juga tidak merasa tercerabut. Selama ribuan tahun Chekoslovakia adalah bagian dari Barat. Kini, ia bagian dari imperium Timur. Saya akan merasa lebih tercerabut bila tetap tinggal di Praha ketimbang di Paris.

Tapi Anda masih menulis dalam bahasa Cheko?

Saya menulis esai dalam bahasa Prancis. Tetapi menulis novel dalam bahasa Cheko, karena pengalaman hidup dan imajinasi saya tertambat di Bohemia, di Praha.

Adalah Milos Forman, jauh sebelum Anda, yang memperkenalkan Chekoslovakia pada khalayak luas di Barat, melalui film-film semacam “The Firemen’s Bell”.

Tepat sekali, dialah penjelmaan dari apa yang saya namakan semangat Praha—dia dan para pembuat film Cheko lainnya, Ivan Passer dan Jan Nemec. Ketika Milos datang ke Paris, semua orang terpana dan terpesona. Bagaimana mungkin seorang pembuat film tersohor bisa begitu jauh dari sifat tinggi hati? Di Paris, di mana gadis pramuniaga di Galeries Layayette saja tidak tahu bagaimana harus bertingkah laku wajar, kebersahajaan Forman tiba-tiba tampak begitu provokatif.

Bagaimana Anda mendefinisikan semangat Praha?

The Castle-nya Kafka dan The Good Soldier Schweik-nya Jaroslav Hasek dipenuhi dengan semangat demikian. Suatu kesan luar biasa tentang hal nyata. Sudut pandang orang kebanyakan. Sejarah diintip dari bawah. Sebuah kesederhanaan yang memukau. Seorang genius tentang hal-hal absurd. Humor dengan pesimisme tanpa kesudahan.

Misalnya seorang Cheko memohon visa untuk pergi ke luar negeri. Petugas menanyainya, “Mau pergi ke mana kamu?” “Ke mana saja,” jawab orang itu. Dia diberi sebuah globe. “Silakan pilih.”

Orang itu memandangi globe, memutarnya perlahan-lahan dan berkata, “Apakah Anda tidak punya globe yang lain?”

Masih terkait dengan akar Anda di Praha, kecintaan pada sastra lain apa yang membentuk Anda?

Pertama, novelis Prancis Rabelais dan Diderot. Bagi saya tonggak sejati, rajanya Sastra Prancis adalah Rabelais. Dan Jacques le Fataliste karya Diderot mengusung semangat Rabelais ke abad ke-18. Jangan terkecoh oleh kenyataan bahwa Diderot adalah seorang filsuf. Novel ini mustahil direduksi menjadi hanya sebuah wacana filosofis. Inilah sebuah drama tentang ironi. Novel paling bebas yang pernah ditulis. Belum lama berselang saya menggarap adaptasi teatrikalnya. Adaptasi ini dipentaskan oleh Susan Sontag di Cambridge, Massachusetts, dengan judul Jacques and His Master [Drama tersebut dipergelarkan oleh American Repertory Theater bulan Januari 1985, empat bulan sebelum wawancara ini]. Akar lainnya? Novel Eropa Tengah zaman kita ini. Kafka, Robert Musil, Herman Broch, Witold Gombrovicz. Novelis-novelis ini luar biasa curiganya pada apa yang disebut Andre Malraux “ilusi liris”. Curiga pada ilusi dalam kaitannya dengan kemajuan, curiga pada seni murahan—kitsch—yang memuja harapan. Saya ikut merasakan kesedihan mereka terhadap senja kala Barat. Bukan kesedihan sentimental tentu saja. Kesedihan ironis. Akar saya yang ketiga: puisi modern Cheko. Bagi saya, itulah sekolah imajinasi yang luar biasa.

Apakah Jaroslav Seifert termasuk penyair modern yang mengilhami Anda? Apa memang pantas dia menerima Hadiah Nobel yang dimenangkannya tahun 1984?

Itu jelas. Konon dia dinominasikan pertama kali untuk menerima Hadiah Nobel pada tahun 1968, tetapi para juri waswas; dikhawatirkan hadiah yang diberikan kepadanya akan ditafsirkan sebagai tindakan simpati bagi sebuah negeri yang baru saja diduduki.

Hadiah itu datang kelewat terlambat. Sangat terlambat bagi rakyat Cheko, yang sudah dipermalukan. Sangat terlambat bagi puisi Cheko, yang zaman emasnya sudah berakhir lama sekali. Sangat terlambat bagi Seifert, yang umurnya sudah 81 tahun. Dikabarkan bahwa ketika Duta Besar Swedia berdiri di sebelah ranjangnya di rumah sakit untuk memberitahukan soal honor, Seifert menatapnya dalam-dalam. Akhirnya dia berkata dengan sedih, “Apa yang akan saya lakukan dengan semua uang itu?”

Bagaimana tentang sastra Rusia? Masihkan menyentuh Anda, atau peristiwa politik 1968 membuatnya memuakkan Anda?

Saya sangat menyukai Tolstoy, dia jauh lebih modern dibanding Dostoyevsky. Boleh jadi Tolstoy adalah orang pertama yang memahami peran irasionalitas dalam perilaku manusia. Peran yang dimainkan ketololan—tetapi sebagian terbesar oleh tindakan manusia yang tak terkatakan jumlahnya yang dipandu oleh suatu bawah sadar yang tak terkontrol maupun yang tidak bisa dikontrol.

Baca lagi saja kalimat-kalimat yang mendahului kematian Anna Karenina. Mengapa dia bunuh diri tanpa benar-benar menghendakinya? Bagaimana keputusannya timbul? Untuk menangkap alasan-alasan itu, yang irasional dan sukar dipahami, Tolstoy memotret arus kesadaran Anna. Anna adalah wahana pengangkut; citra tentang jalan bercampur di kepalanya dengan pikirannya yang tidak logis, terfragmentasi. Pencipta mula-mula monolog interior bukan Joyce melainkan Tolstoy dalam beberapa halaman Anna Karenina. Ini yang tak banyak diketahui orang. Saya pernah membaca terjemahan karya itu dalam bahasa Prancis. Saya sungguh terkesima. Apa yang dalam teks aslinya tidak logis dan terbelah-belah menjadi logis dan rasional dalam terjemahan Prancisnya. Seolah-olah bab terakhir Ulysses-nya Joyce ditulis ulang—monolog panjang Molly Bloom diimbuhi tanda baca yang logis dan konvensional.

Celakanya, banyak penerjemah mengkhianati kita. Mereka tak cukup bernyali menerjemahkan keanehan dalam teks-teks—ketidaklaziman, orisinalitas. Mereka waswas jika para kritikus menuduh mereka menerjemahkan dengan buruk. Demi menyelamatkan diri, mereka tega meremehkan kita. Sukar Anda bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga saya habiskan untuk mengoreksi terjemahan buku-buku saya.

Anda bicara dengan penuh kasih sayang tentang ayah Anda dalam “The Book of Laughter and Forgetting”.

Ayah saya seorang pianis. Dia menaruh minat besar pada musik modern—pada Stravinsky, Bartok, Schoenberg, Janacek. Dia berjuang habis-habisan demi pengakuan Leos Janacek selaku seorang seniman. Janacek adalah seorang komposer modern yang mempesona, tak tertandingi, mustahil diklasifikasikan. Operanya, From the House of the Dead, tentang kamp kerja paksa, yang didasarkan pada novel Dostoyevsky, adalah salah satu karya besar dan profetik di abad kita, sejajar dengan The Trial punya Kafka atau Guernica-nya Picasso.

Musik sukar ini dipergelarkan ayah di gedung konser yang nyaris melompong. Sebagai seorang bocah, saya membenci publik yang menolak mendengar Stravinsky dan memuja Tchaikovsky atau Mozart. Saya memelihara gairah bagi seni musik modern, inilah bentuk bakti saya pada ayah. Tetapi saya tidak mau meneruskan profesinya sebagai musisi. Saya suka musik tetapi tidak musisi. Saya ingin muntah jika harus menghabiskan hidup di tengah-tengah para musisi.

Ketika saya dan istri saya meninggalkan Chekoslovakia, kami hanya membawa beberapa buku. Di antaranya adalah The Centaur karya John Updike, buku yang menyentuh sesuatu dalam diri saya—sebentuk cinta yang memilukan bagi ayah yang dipermalukan, dikalahkan.

Anak-anak menduduki tempat yang ganjil dalam buku-buku Anda. Dalam “The Unbearable Lightness of Being”, anak-anak menyiksa seekor gagak, dan Tereza mendadak berkata pada Tomas, “Aku bersyukur karena kamu tidak menginginkan anak.” Di lain pihak, dalam buku-buku Anda bisa kita temukan kasih sayang terhadap binatang. Dalam salah satu buku, seekor babi menjadi karakter yang disukai. Bukankah pandangan terhadap binatang yang seperti itu agak berlebihan (kitschy)?

Saya rasa tidak begitu. Kitsch adalah kehendak untuk menyenang-nyenangkan hati orang apa pun bayarannya. Berbicara baik tentang binatang dan melihat skeptis terhadap anak-anak tidak begitu menyenangkan hati publik. Malah agak menjengkelkan. Bukan berarti saya anti-anak-anak. Tetapi pandangan yang melebih-lebihkan terhadap anak-anak membuat saya jemu.

Di sini, di Prancis, sebelum pemilu semua partai politik memasang poster tentang anak-anak. Di mana-mana terdengar slogan seragam tentang sebuah masa depan yang lebih baik, dan di sana-sini dipajang foto anak-anak yang tersenyum, berlarian, dan bermain-main.

Sayangnya, masa depan kemanusiaan kita bukanlaj masa kanak-kanak melainkan usia dewasa. Humanisme sejati suatu masyarakat terkuak melalui sikapnya terhadap usia dewasa. Tetapi usia dewasa, satu-satunya masa depan yang kita hadapi, tidak akan pernah ditunjuk-tunjukkan dalam poster propaganda yang mana pun. Dari kelompok kiri atau kanan.

Saya menangkap kesan bahwa pertikaian antara kanan dan kiri tidak terlalu mengguah Anda.

Bahaya yang mengintip kita adalah imperium totalitarian. Khomeini, Mao, Stalin—mereka itu kiri atau kanan? Totalitarianisme itu tidak kiri tidak kanan, dan dalam imperiumnya sendiri keduanya akan musnah.

Saya tidak pernah menjadi orang beriman, tetapi setelah melihat orang-orang Katolik Cheko dikejar-kejar semasa teror rezim Stalin, saya merasakan solidaritas mendalam terhadap mereka. Apa yang memisahkan kami, keyakinan pada Tuhan, hanya menempati urutan kedua ketimbang apa yang menyatukan kami. Di Praha, mereka menggantung kaum sosialis dan pastor. Maka, lahirlah persaudaraan tiang gantungan.

Inilah sebabnya pertarungan konyol antara kiri dan kanan tampak kuno dan picik bagi saya. Saya tidak suka berperan serta dalam kehidupan politik, kendati politik memang memukau saya sebagai sebuah pertunjukan. Sebuah pertunjukan tragis dan mematikan di imperium Timur; tontonan garing murni intelektual tapi memikat di Barat.

Kadang-kadang dikatakan bahwa, secara paradoksal, penindasan melahirkan banyak keseriusan dan vitalitas bagi seni dan sastra.

Janganlah kita jadi romantis. Jika berlanjut, penindasan bisa habis memorak-porandakan sebuah kebudayaan. Kebudayaan membutuhkan sebuah kehidupan publik, pertukaran ide secara bebas; ia memerlukan publikasi, pameran, perdebatan, dan perbatasan yang terbuka. Meski memang betul, untuk suatu waktu, kebudayaan mampu bertahan dalam keadaan yang sangat sulit.

Setelah invasi Rusia pada tahun 1968, hampir semua sastra Cheko diberangus, dan cuma diedarkan dalam bentuk naskah. Kehidupan kultural publik yang terbuka dihancurkan. Tetapi sastra Cheko 1970-an sungguh luar biasa.Prosa Hrabal, Grusa, Skvrorecky. Pada saat itulah, justru di masa paling berbahaya bagi eksistensinya, sastra Cheko menangguk reputasi internasional. Tetapi berapa lama ia bisa bertahan di bawah tanah? Tak seorang pun tahu. Eropa tidak pernah mengalami situasi semacam itu sebelumnya.

Tatkala kemalangan menimpa suatu bangsa, tak bolek kita lupakan dimensi waktunya. Di negara diktatorial dan fasis, setiap orang mafhum bahwa rezim itu akan ambruk suatu hari nanti. Semua orang tahu di mana lorong itu berakhir. Di imperium Timur, lorong itu tanpa ujung. Tanpa ujung, setidak-tidaknya dari sudut pandang kehidupan seorang manusia. Itulah sebabnya saya tidak suka jika ada yang membandingkan Polandia dengan, taruhlah, Chile. Betul, siksaan dan penderitaannya memang sama. Tetapi panjang lorong-lorongnya jauh berbeda. Dan itu mengubah segalanya.

Penindasan politik menyimpan bahaya lain, yang—bagi novel terutama—jauh lebih buruk daripada sensor dan polisi. Yang saya maksudkan adalah moralisme. Penindasan menciptakan batas yang amat sangat jelas sekali antara baik dan buruk, dan penulis akan mudah menyerah pada godaan enaknya berkhotbah. Dari sudut pandang kemanusiaan boleh jadi hal itu sangat menarik, tetapi bagi sastra itulah lonceng kematian.

Herman Broch, novelis Austria yang paling saya kagumi, pernah mengatakan, “Satu-satunya moralitas bagi penulis adalah pengetahuan.” Hanya sebuah karya sastra yang mampu menguak fragmen tak dikenal keberadaan manusia yang punya alasan untuk bertahan. Menjadi penulis bukan untuk mengkhotbahkan kebenaran melainkan menemukan kebenaran.

Tapi apa tidak mungkin masyarakat yang mengalami penindasan menawarkan lebih banyak kesempatan bagi penulis untuk menemukan “sebuah fragmen tak dikenal dari eksistensi” ketimbang masyarakat yang menjalani hidup dengan tenang?

Bisa jadi. Jika Anda membayangkan Eropa Tengah, sungguh sebuah laboratorium sejarah yang luar biasa cemerlangnya! Dalam kurun 60 tahun kami mengalami kejatuhan sebuah imperium, kelahiran kembali negara-negara kecil, demokrasi, fasisme, pendudukan Jerman berikut pembantaiannya, pendudukan Rusia berikut deportasinya, harapan terhadap Sosialisme, teror kaum Stalinis, emigrasi … Tak habis-habisnya keheranan saya menyaksikan bagaimana orang-orang di sekitar saya membawa diri dalam situasi demikian.

Manusia menjadi sesuatu yang enigmatik, tak mudah dikenal. Ia berdiri sebagai sebuah tanda. Dan dari ketakjuban itulah gairah untuk menulis novel lahir. Skeptisisme saya terhadap nilai-nilai tertentu yang nyaris tidak bisa digugat sama sekali berakar pada pengalaman Eropa Tengah saya.

Sebagai contoh, kemudaan biasanya dirujuk bukan sebagai suatu fase melainkan sebagai sebuah nilai dalam dirinya sendiri. Ketika menyebut kata itu, para politisi selalu memasang seringai dungu di wajah mereka. Tetapi saya, semasa masih muda, hidup adalah kurun waktu teror. Dan yang mendukung teror itu adalah kaum muda, dalam jumlah besar, tanpa pengalaman, tidak matang, dengan moralitas “ya atau tidak sama sekali”, berikut cita rasa liris mereka. Yang paling skeptis dari sekian novel saya adalah Life is Elsewhere. Dengan kaum muda dan puisi sebagai subjeknya. Petualangan puisi sepanjang teror kaum Stalinis. Senyuman puisi. Senyum bersimbah darah keluguan.

Puisi adalah bentuk lain dari nilai-nilai tak terbantahkan dalam masyarakat kami. Saya tercekat ketika, pada tahun 1950, penyair besar Prancis Komunis Paul Eluard menyetujui penggantungan temannya, penulis Praha, Zavis Kalandra. Saat Brezhnev memberangkatkan tank-tank guna membantai orang-orang Afghanistan, itu sungguh mengerikan, namun itu, katakanlah, normal—sudah bisa ditebak. Manakala seorang penyair besar memujakan sebuah eksekusi, itulah hantaman yang meluluhlantakkan seluruh citra kita tentang dunia.

Apakah kehidupan yang kaya pengalaman itu membuat novel-novel Anda jadi autobiografis?

Tak satu pun karakter dalam novel-novel saya adalah potret diri, juga tak satu pun yang memotret seseorang. Saya tidak suka autobiografi terselubung. Saya muak pada kesembronoan penulis.

Bagi saya kesembronoan adalah dosa besar. Siapa pun yang mengungkap kehidupan pribadi seseorang layak dicambuki. Kita hidup di zaman ketika kehidupan pribadi diremukkan. Polisi menghancurkannya di negara-negara Komunis, para wartawan siap menerkamnya di negara-negara demokratis. Sedikit demi sedikit orang kehilangan selera pada kehidupan pribadi dan cita rasa mereka terhadap kehidupan itu.

Kehidupan di mana orang tak bisa menyembunyikan diri dari pandangan orang lain—itulah neraka. Mereka yang hidup di negara totalitarian paham betul hal itu, tapi sistem tersebut cuma mewujudkan, seperti sebuah kaca pembesar, kecenderungan semua masyarakat modern. Penghancuran alam; merosotnya pemikiran dan seni; birokratisasi, depersonalisasi; miskinnya penghargaan terhadap kehidupan pribadi. Tanpa kerahasiaan, tidak ada apa pun yang mungkin—tidak cinta, tidak pula persahabatan.

 

Malam kiat larut ketika wawancara usai, dan Kundera menemani saya kembali ke hotel, yang letaknya tak terlalu jauh. Kami berjalan kaki di lembapnya malam kota Paris. Satu dua hari kemudian, keluarga Kundera mengundang saya makan siang, hidangannya telur puyuh dengan saus juniper berry, dimasak ala Cheko. Kundera sungguh tak terduga dan periang orangnya. Dia menceritakan bahwa makin jarang saja dia membaca karena penerbit-penerbit Prancis mengeluarkan buku yang semakin hari semakin kecil saja. Dia enggan mempertimbangkan kemungkinan bahwa itu bukanlah “plot” Prancis dan bahwa dia membutuhkan kacamata baru sesungguhnya.

Dia memperlihatkan keengganan penulis sejati ketika ditanya fiksi apa yang sedang dia garap. Tetapi dia menjelaskan sepenuh hati tentang kolaborasi mutakhirnya menggarap “lelucon metafisis” bersama sutradara film Prancis Alaian Resnais. Kundera sedang menggarap naskahnya, dan dia sedang menimbang-nimbang judulnya. Mungkin Three Husbands and Two Lovers ataukah Two Husbands and Three Lovers? Kerinduan akan kerahasiaan jadi rusak karena rasa usil.

Itulah Milan Kundera. Pria yang dikenang penuh bahagia oleh teman-temannya angkatan 1968, si periang Kundera dalam Laughavle Loves, buku yang paling dia sukai dari seluruh karyanya, karena mengingatkan pada periode hidupnya yang paling ceria.

  • Dimuat di New York Times, Minggu, 19 Mei 1985. Wawancara dilakukan oleh Olga Carlisle, pengarang Voice in the Snow, yang sering menulis tentang perkembangan budaya Eropa Timur. Ketika percakapan ini dibuat, Chekoslovakia masih sebuah negara komunis. Negeri itu mencampakkan sistem komunisme dan memproklamasikan diri menjadi negara republik pada tahun 1989, dengan Vaclav Havel sebagai presiden pertamanya. Havel ternyata presiden pertama dan terakhir Republik Chekoslovakia. Primordialisme yang kuat di sana akhirnya akhirnya memecah negeri tersebut menjadi dua negara: Cheko dan Slovakia.

***

oleh Noor Cholis


Wawancara di atas (diterjemahkan oleh Noor Cholis dan disunting oleh AS Laksana) disertakan dalam novel Kekekalan (L’Immortalité) yang diterjemahkan melalui terjemahan bahasa Prancis oleh Eva Bloch dan diterbitkan akubaca, Jakarta, November 2000. Setelah mengalami banyak sekali revisi, Kekekalan (L’Immortalité) diterbitkan kembali oleh Penerbit Kakatua pada tahun 2017.