Posted on

Lama sebelum kebangkitannya kembali, sastra Arab mengalami masa kemunduran dan kebekuan.

Masa kemunduran dan kebekuan itu terjadi antara abad ketiga belas, zaman runtuhnya dinasti Abbasiyah karena penyerbuan Mongol, dan abad kesembilan belas, zaman timbulnya Mesir di bawah Muhammad Ali dalam lingkungan Imperium Usmaniyah. Masa itu ditandai dengan tiadanya lagi semangat lingkungan kreatif, pikiran-pikiran kreatif dan bakat-bakat perseorangan yang menonjol seperti yang pernah ada dan pernah melahirkan tradisi persajakan Arab klasik yang besar—madah dan nazam dari sastra Arab sebelum Islam, karya-karya puisi penyair-penyair Umayyah yang bersemangat keagamaan, politik dan lain-lain, lirik-lirik para penyair Andalusia, puisi mistis para penyair sufi dan karya-karya klasik yang besar dari zaman Abbasiyah. Sebelum pertengahan kedua abad kesembilan belas puisi Arab—bersama dengan bentuk-bentuk literer lainnya dalam sastra Arab—mulai bangkit kembali perlahan-lahan sejalan dengan dorongan-dorongan pembaruan dari dalam dan tantangan pengaruh Barat.

Sudah dalam abad kedelapan belas orang-orang Islam yang berpikiran maju merasa risau melihat kebekuan masyarakat Islam dalam lingkungan Imperium Usmaniyah, dan karena itu mereka merasa perlu sekali mengusahakan pembaruan. Beberapa pemimpin agama melakukan usaha-usaha yang serius untuk membina masyarakat Islam dengan dasar: kembali mentaati hukum dan etik Islam murni. Penganjur pembaruan yang terpenting waktu itu ialah kaum Wahabi. Bertujuan menghidupkan kembali apa yang mereka pandang Islam sejati dari para pendahulu mereka yang salih (al-Salaf al-Salih), dengan khotbah-khotbah mereka dan doktrin mereka yang kuat dan murni, dan dengan meyakinkan bahwa hanya dengan doktrin merekalah masyarakat Islam akan dapat disembuhkan dari penyakitnya, maka kaum Wahabi benar-benar merupakan tantangan yang tak dapat dipandang remeh di tengah kondisi sosial dan keagamaan di sebagian besar Imperium Usmaniyah.

Namun betapa pun pentingnya arti gerakan-gerakan kaum pembaharu itu sebagai pernyataan yang kuat akan timbulnya protes terhadap kondisi-kondisi sosial yang kritis, tidak juga terpecahkan masalah-masalah kebobrokan dalam masyarakat itu sendiri dan masalah dominasi asing yang dihadapi dunia Islam pada akhir abad kedelapan belas.

Penyerbuan Napoleon ke Mesir pada tahun 1798, bagaimanapun juga dapat dipandang sebagai awal penyusupan pengaruh Barat ke dunia Arab dan penyebab proses modernisasi dengan masalahnya yang menimbulkan keruwetan dan hasil-hasil yang didapatnya sebagai keuntungan. Dengan Barat yang kadang-kadang dibenci sebagai ancaman dan kadang-kadang dikagumi sebagai model, namun senantiasa hadir dalam jiwa bangsa Arab hingga kini, maka proses itu melibatkan serangkaian perubahan-perubahan radikal dalam kehidupan politik, sosial dan kebudayaan di dunia Arab.

Di antara hal-hal yang mendorong perubahan-perubahan itu dalam periode sebelum Perang Dunia Kedua ialah terbukanya pendidikan umum yang semakin tersebar luas, dan karena itu juga semakin bertambah banyaknya orang-orang yang melek huruf, adanya percetakan dan persuratkabaran, diusahakannya begitu banyak terjemahan dan saduran dari karya pustaka Barat, timbulnya pengaruh pemikiran sastra Inggris dan Perancis pada penulis-penulis Arab, timbulnya aliran pemikiran Islam yang bertujuan merumuskan kembali asas-asas masyarakat Islam dan lahirnya gerakan-gerakan kebangsaan yang berusaha memisahkan agama dari politik dan menciptakan suatu masyarakat yang sekuler.

Pada akhir Perang Dunia Kedua timbul paradoks besar yang menjadi bertambah jelas setelah malapetaka Palestina terjadi dan negara Israel berdiri di tahun 1948. Perbedaan-perbedaan antara dunia Arab dan Barat makin bertambah dan tajam, mengakibatkan timbulnya serangkaian revolusi-revolusi yang bertujuan mencapai emansipasi politik yang penuh terhadap dominasi Barat. Namun di balik itu, secara tak sadar atau dengan tujuan yang sadar, pikiran Arab kontemporer dan sastra Arab kontemporer semakin terbuka bagi benturan pengaruh dari Barat yang semakin meningkat dalam periode sesudah perang itu. Sebagai akibat dari paradoks ini, gerakan-gerakan baru timbul, tidak saja di bidang politik, tetapi juga di bidang sastra, dan bidang-bidang seni yang lain.

Di antara segala seni yang dikembangkan bangsa Arab sepanjang sejarah mereka, sejak zaman pra-Islam hingga dewasa ini, tak satu pun agaknya yang melebihi atau setidak-tidaknya menyamai seni puisi sebagai sumber kesadaran estetik. Kesukaan akan bahasa yang singkat, tepat dan puitis, yang selama berabad-abad biasa digubah sebagai bentuk sastra lisan, dituangkan dalam beberapa perangkat matra yang bersajak tunggal (mono-rhymed), dan dimaksudkan terutama untuk menimbulkan daya bangkit para pendengarnya lewat pendengaran mereka dan bukan penglihatan mereka, maka kebanyakan penyair Arab senantiasa memusatkan perhatian mereka pada kesempurnaan bentuk sebagai norma fundamental yang banyak menentukan nilai suatu ciptaan puisi. Meskipun demikian, kesempurnaan bentuk sebagai tanda keunggulan ciptaan puisi tak pernah memerosotkan puisi Arab klasik menjadi seni verbal yang abstrak yang hanya teruntuk bagi seni itu sendiri dan terlepas dari segala fungsi sosial. Sebaliknya, bila kita meninjau kembali tradisi puisi Arab klasik, kita akan melihat bahwa ia hampir tak pernah meninggalkan peranannya sebagai bahasa pencatat dan pengungkap kecenderungan-kecenderungan sosial dan intelektual zamannya. Salah satu fungsi puisi tradisional Arab ialah sebagai ‘daftar catatan, register (diwan) bagi orang Arab, perekam atau pencatat perang-perang mereka, dan kesaksian atas penilaian-penilaian yang pernah mereka berikan’. (Ibn Abd Rabbih, Kitab al-Iqd al-Farid, Cairo, 1940-1965, V, 269). Fungsi sosial inilah yang melahirkan aghrad (tujuan-tujuan) puisi itu, sehingga terdapat jenis-jenis puisi seperti madih (madah, syair pujaan), hija’ (syair sindiran) nasib atau ghazal (puisi cinta) dan wasf (penggambaran). Di balik jenis-jenis puisi itu adalah asas puisi yang dapat didefinisikan sebagai ‘lancaran ucapan yang bermatra, bersajak (rhymed) dan bermakna’. (Qudamah ibn Jafar, Naqd al-Shi’r, Leiden, 1952, hal. 2). Berdasarkan definisi itu para kritikus klasik menguraikan puisi atas empat unsur yang penting, yaitu: kata dan makna, kata dan matra, makna dan matra, makna dan rima (sajak). Meskipun dari keempat unsur itu matra dipandang sebagai yang paling penting untuk membedakan puisi dari prosa, namun keseimbangan antara bentuk yang indah dan makna yang bagus tetap dipujikan sebagai yang paling unggul.

Kecuali itu, koordinasi dan integrasi berbagai tema dalam suatu sajak (qasida) juga dipujikan oleh kritikus-kritikus klasik. (Ibn Taba-taba, Iyar al-Shi’r, Kairo 1956, hal. 124-127). Bagaimanapun, kesatuan ini lebih banyak berkenan dengan gaya dan susunan dan meliputi konstruksi bahasa yang selaras dan padu. Sedikit saja hubungannya dengan pengertian tentang kesatuan organik seperti dikembangkan oleh Aristoteles dan terlihat dalam puisi modern. Kesatuan dalam qasida tradisional ialah kesatuan yang lebih bersifat psikologik dan puitik daripada bersifat organik. Selain matra yang amat terbatas jumlahnya, perhubungan antara baris-baris dalam suatu qasida pun merupakan sesuatu yang sudah sama-sama dikenal oleh penyair maupun pendengarnya. Lagi pula kekuatan qasida terletak dalam kemampuannya yang langsung dan daya ungkapnya yang tepat mengenai hal-hal yang lebih banyak terlihat dan teramati di dunia luar ketimbang dalam anganangan subjektif si penyair sendiri.

Pada masa ketika sastra Arab mengalami kebekuan hingga ke abad kesembilan belas, kebanyakan dari dasar-dasar pengertian klasik-tradisional tentang puisi seperti itu sama sekali menjadi buyar, terutama dengan tak dapat dipertahankannya lagi keseimbangan antara bentuk dan isi serta hubungan antara ‘kata’ si penyair dan ‘dunia’-nya. Makin banyaknya kecenderungan yang timbul ke arah mementingkan bentuk dan kebagusan yang dibuat-buat pada seni puisi seperti yang dilakukan oleh para epigon dan para pembuat sajak-sajak okasional yang penuh dengan obskuritas yang membingungkan, sulapan kata dan arkaisme palsu, telah menyebabkan puisi Arab kehilangan kedalaman, kepaduan dan vitalitas yang pernah dimilikinya pada abad-abad sebelumnya, dan menyebabkan puisi itu tak lebih dari hanya berfungsi keupacaraan dan buat sebagian besar tak berarti lagi.

Dalam hubungannya dengan warisan literer yang sudah kosong inilah usaha besar para pelopor pembaruan puisi Arab dapat dimengerti dan dihargai sebaik-baiknya.

Dalam kebudayaan yang hidup sehat selalu ada saling hubungan antara segala bidang kegiatan manusiawi dan saling pengaruh antara setiap bagian masyarakat pendukung kebudayaan itu yang satu dengan yang lainnya. Karena itu, dilihat dari segi sejarah, segala usaha, tujuan dan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pembaruan puisi Arab oleh para pelopornya tak dapat dipisahkan dari segala usaha, tujuan dan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pembaruan masyarakat oleh para pemikir Islam kontemporer yang telah memelopori gerakan pembaruan masyarakat Islam itu. Dalam usaha pembaruan yang sama-sama mereka lakukan, Mahmud Sami al-Barudi, pelopor pembaruan puisi Arab, dan rekannya, Muhammad Abduh, pemikir Islam, sama-sama bergerak mengikuti pola dasar yang serupa. Salah satu tujuan Abduh ialah ‘membebaskan pikiran dari belenggu-belenggu taklid (pembebekan pada kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam agama) dan memahami agama sebagaimana dipahami oleh para pendahulu mereka dari lingkungan masyarakat yang masih sehat’. Dan di samping itu juga: ‘kembali pada sumber-sumber semula (dalam menuntut ilmu keagamaan) serta mempertimbangkan segala sesuatunya dengan neraca akal budi’. Kecuali itu, Abduh juga bertujuan untuk ‘memperbarui cara penulisan bahasa Arab’. Dan sejalan dengan Abduh, al-Barudi, yang terutama melibatkan diri dalam pembaruan sastra, mempunyai dua tujuan utama: pertama, membebaskan puisi di zamannya dari kebagusan yang dibuat-buat dan arkaisme palsu; dan kedua, dalam mencari selera atau cita-rasa puisi yang murni, kembali pada puisi besar di zaman Abbasiyah dan tradisi puisi Arab klasik yang kaya yang tak asing baginya, dan bukan mencari tumpuan pada sastra Barat yang sama sekali tak dikenalnya.

Dengan sendirinya, wajarlah bila puisi al-Barudi dan juga, dalam kadar yang berbeda-beda, puisi generasi para penyair yang lebih muda yang dipimpin oleh Ahmad Shawqi dan mengikutsertakan nama-nama seperti Hafiz Ibrahim di Mesir, Jamil Sidqi al-Zahawi, dan Muhammad Mahdi al-Jawahiri di Irak, dan Bishara al-Khuri di Libanon, dapat dipandang sebagai puisi neo-klasik dalam semangat dan penggarapannya.

Dengan berorientasi pada tradisi puisi Arab klasik, maka penggunaan kata yang berlimpahan, dan pilihan kata (diksi) dalam sajak-sajak para penyair neo-klasik itu kadang-kadang merupakan lanjutan dari tradisi skolastik, yang lebih mementingkan kepandaian berbahasa daripada visi pribadi, sehingga sebagian besar dari puisi mereka masih tinggal tetap pada kemerduan bunyi, keenakan untuk dibacakan dan lebih bersifat oratoris daripada bersikap akrab dan liris. Namun demikian, karena para penyair neo-klasik berpedoman pada ‘selera yang baik’, ‘kehalusan’ dan ‘kecermatan’ dalam struktur dan gaya, serta cenderung untuk dengan penuh perasaan mengungkapkan tema-tema sosial dan tema-tema patriotik, maka jelas mereka itu telah menghidupkan kembali bahasa puisi yang sudah membatu, menghidupkan kembali kepekaan estetik yang sudah mati, sehingga pada dasarnya puisi mereka merupakan ungkapan otentik tentang gagasan-gagasan dan aspirasi-aspirasi yang berlaku di masa itu.

Periode neo-klasik itu kemudian disusul dengan perubahan baru yang dibawa oleh Khalil Mutran (1872-1949), penyair kelahiran Libanon yang kemudian tinggal di Mesir. Dengan studinya yang mendalam tentang bahasa dan sastra Arab dan juga bahasa dan sastra Perancis, dan dengan bakat pribadinya, ia membawa pembaruan pula dalam persajakan Arab. Seperti juga puisi Shawqi dan penyair-penyair lain sezamannya, puisi Mutran pun memperlihatkan gaya yang penuh dengan ‘kehalusan’, ‘kecermatan’ dan ‘kemurnian klasik’. Tetapi berbeda dengan puisi mereka, puisi Mutran memperlihatkan konsep-konsep dan nilai-nilai tersendiri yang belum pernah diterapkan sebelumnya. Di antaranya ialah asas tentang kesatuan organik dan struktur yang memperlihatkan hubungan dalam suatu konteks, dan juga kecenderungannya untuk mengungkapkan visi pribadinya dengan cara yang tak berlebih-lebihan bersifat liris, individualistis, introspektif dan ekspresif. Dengan pengertiannya yang memandang bahwa puisi ialah seni yang berhubungan dengan kesadaran, maka dalam puisinya Mutran memperlihatkan selera yang lebih emosional dibandingkan dengan selera penyair neo-klasik yang lebih rasional. Di bawah pengaruh langsung dari puisi romantik Perancis, terutama sajak-sajak naratif Hugo, lirik-lirik Musset dan Les Fleurs du Mal Baudelaire, maka dalam sebagian karya puisinya yang penting, Mutran mengembangkan aliran romantik yang pertama dalam persajakan Arab.

Dengan mementingkan arti dalam puisinya, maka Mutran dalam sajak-sajaknya menyerang despotisme, tirani, perbedaan kelas, kebodohan, ketidakadilan sosial, dan membela perjuangan ke arah kemajuan, kemerdekaan nasional dan kebebasan berpikir di zamannya.

Sajak Mutran yang berjudul Nayrun (Nero) ialah sajak dengan satu tema yang terpanjang yang belum pernah terdapat dalam sejarah persajakan Arab hingga waktu itu. Sajak itu menyerupai sajak epik, terdiri dari empat ratus baris, bermatra tunggal dan menggunakan sajak (rima) tunggal pula. Dalam kata pengantar yang ditulisnya untuk kumpulan sajaknya, Diwan, tentang sajak panjangnya itu Mutran antara lain berkata, bahwa hingga saat itu dalam persajakan Arab belum pernah dihasilkan sajak panjang yang besar dan mengungkapkan satu tema saja, sebab penggunaan sajak (rima) tunggal dalam seluruh sajak panjang itu dahulu dan hingga saat itu pun, merupakan halangan dalam hal ini. Selanjutnya dikatakannya, bahwa dia ingin dengan segala daya upayanya, mengetahui batas-batas yang paling jauh, yang bisa dicapai oleh seorang penyair dalam menggubah sajak panjang yang berpokok pada satu tema saja dan menggunakan rima tunggal (mono-rhyme). “Setelah saya dapat mencapai batas-batas itu dalam eksperimentasi puisi saya,” katanya selanjutnya, “maka saya dapat memperlihatkan kepada kawan-kawan sebahasa saya akan perlunya mengikuti pola yang berbeda-beda untuk mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai oleh puisi Barat.” (Mutran, Diwan, III. hal. 50).

Dapatlah dikatakan bahwa tugas Mutran ialah menghancurkan pola qasida yang telah kehabisan potensi-potensi puitiknya dan menunjukkan bahwa itu harus diganti dengan bentuk-bentuk puisi yang lebih bebas dan lebih sesuai.

Sebagian karena pengaruh Mutran dan sebagian lagi karena pengaruh penyair-penyair romantik Inggris dan kritikus-kritikusnya, terutama Hazlitt dan Coleridge, maka mulailah tiga orang penyair modernis Mesir yang dikenal sebagai Grup Diwan—Shukri, al-Aqqad dan al-Mazini—menempuh jalan baru. Tujuan mereka, pada hakikatnya, ialah memperkuat aliran romantik yang berasal dari Mutran itu dan diperkuat pula oleh penyair-penyair Arab yang sezaman dengan mereka di Amerika Utara dan Amerika Selatan, yaitu para penyair grup Mahyar atau grup Syro-Amerika.

Meskipun terdapat perbedaan watak dan temperamen, namun jelas, bahwa baik al-Aqqad maupun al-Mazini sepaham dengan pandangan-pandangan Shukri. Yang terpenting di antaranya adalah: menolak kesatuan bayt (bait puisi) dan memberi tekanan pada kesatuan organis puisi. Juga mempertahankan kejelasan, kesederhanaan dan keindahan bahasa puisi yang tenang. Juga mengambil segala sumber, baik tradisional maupun asing, yang dapat memperluas dan memperdalam persepsi dan kepekaan rasa si penyair. Tetapi lebih penting dari segalanya ini, yang sebenarnya telah dicanangkan oleh Mutran, ialah redefinisi Shukri tentang puisi sebagai wijdan (emosi) di mana konsepsi emosional tentang citarasa menjadi faktor yang penting dalam menentukan hakikat dan fungsi puisi. Ini menandai terjadinya perpisahan yang positif dari tradisi neo-klasik menuju ke era baru aliran romantik dalam puisi Arab kontemporer.

Himpunan sajak Shukri yang mula-mula menyerukan perlunya perubahan sosial dan memperlihatkan kepercayaannya akan kemajuan ilmu pengetahuan dan rasionalisme. Dalam puisinya yang kemudian dua tema pokok dapat dilihat: renungan tentang hidup dengan segala kebusukan dan penderitaannya, dan serempak dengan itu, penyerahan diri terhadap hidup itu dengan kepercayaan bahwa kepekaan rasa yang dapat menikmati segala yang indah, yang benar dan yang baik mau tak mau akan menyerah juga pada kemurungan yang membenamkan segalanya itu. Tambahan lagi, kemalangannya sendiri dan kemalangan negerinya menyaput puisinya dengan pesimisme yang gelap.

Sumbangan Shukri dan grup Diwan pada perkembangan konsep-konsep baru tentang puisi memang tak mungkin lebih besar dari semestinya. Norma-norma mereka memperlihatkan tilikan yang bijak ke dalam hakikat dan segi-segi tertentu dari aliran romantik Inggris dan merupakan percobaan pertama yang menantang dalam menggeser norma-norma golongan neo-klasik dari kedudukannya yang sudah mapan. Namun demikian, karena perbedaan yang mencolok antara gagasan-gagasan puisi mereka yang tinggi dan pelaksanaan puisi mereka yang sedang saja mutunya, maka mereka itu lebih merupakan kritikus daripada penyair dalam usaha mereka membawa perubahan yang berarti bagi perkembangan apresiasi sastra.

Apa yang sedang dilakukan oleh modernis-modernis Mesir dalam dasawarsa kedua dan ketiga abad ini juga sedang dilakukan pula oleh para penyair Mahyar atau Syro-Amerika di Amerika Utara dan lebih sedikit dari itu, di Amerika Selatan. Mereka berhasil mentransformasikan norma-norma baru yang mereka rumuskan itu menjadi kenyataan literer yang mengesankan, dan lewat karya-karya puisi mereka, mereka membawa pengaruh yang lebih besar pada sastra Arab. Para penyair Mahyar ini berasal dari kalangan emigran Suriah dan Libanon yang meninggalkan negeri mereka ke Amerika untuk mencari kebebasan politik di samping kesejahteraan materiil yang lebih baik. Dalam kehidupan kultural, mereka berada di antara dua tradisi—tradisi Barat yang langsung berpengaruh pada pikiran dan sikap mereka, dan tradisi Arab yang mereka coba pertahankan dan modernkan. Dalam usaha untuk melaksanakan yang terakhir itu mereka menerbitkan harian-harian, majalah-majalah dan hasil-hasil karya mereka sendiri serta mendirikan berbagai organisasi sosial dan sastra. Perkumpulan sastra yang terpenting ialah al-Rabitah al-Qalamiyah (Liga Pena) didirikan di New York tahun 1920 (dengan Gibran Khalil Gibran sebagai ketua, Mikhail Nuayamah sebagai sekretaris, dan Arida Ayyub serta Haddad bersaudara dan lain-lainnya lagi sebagai anggota). Di samping itu, juga al-Usbah al-Andalusiyah (Liga Andalusia) yang didirikan di Sao Paulo, Amerika Selatan, dan mengikutsertakan nama-nama Fawzi dan Shafiq al-Maluf, Ilyas Farhat, Rashid S. al-Khuri dan lain-lain. Penyair-penyair grup Mahyar Amerika Selatan ini menghasilkan karya-karya puisi yang bagus, yang dalam beberapa segi bentuk dan temanya diilhami oleh lirik-lirik Andalusia dan sebagian besar memperlihatkan keaslian. Tetapi pada umumnya mereka tinggal jauh lebih konservatif dalam pembaruan-pembaruan yang mereka lakukan dibanding dengan kawan-kawan setanah air mereka yang hidup di Amerika Utara. Penulis-penulis Mahyar itu jauh lebih siap dibanding dengan penyair-penyair sezamannya untuk memainkan peranan yang menentukan dalam menggairahkan kembali sastra Arab dan menciptakan kepekaan rasa Arab.

Pada umumnya alam pikiran mereka dapat dicirikan sebagai romantis, humanistis dan sering kali mistis. Mereka percaya bahwa mereka hidup dalam suatu zaman dengan sensibilitasnya sendiri dan pengharapan-pengharapannya sendiri tentang sastra dan fungsinya. Mereka sepakat akan perlunya menerima pengertian baru tentang bahasa, bukan sebagai sesuatu yang sakral ataupun profan, melainkan sebagai suatu sarana pengungkapan yang hidup dan yang dapat berubah dan berkembang. Dengan sendirinya, mereka menekankan pentingnya menghidupkan kembali bahasa Arab dan mengembalikan kesederhanaan dan vitalitasnya yang telah dirusakkan oleh konservatisme beku yang berabad-abad itu. Dan lagi, mereka pun mengutamakan pengalaman manusia dan perasaan subjektif sebagai dasar dan sumber segala sastra yang benar.

Penulis-penulis yang berpendidikan lebih tinggi di antara mereka dalam grup Mahyar di Utara, Gibran, Nuayamah dan al-Rihani, pada umumnya mendapat pengaruh sastra romantik, sastra kaum transendentalis Amerika, terutama Emerson, dan juga pengaruh dari penyair-penyair seperti Longfellow, Whittier dan Whitman. Selain dari kesamaan latar-belakang, pengalaman, selera sastra dan pengejaran tujuan bersama, mereka tak memiliki ideologi tertentu, dan dalam karya-karya mereka, mereka memperlihatkan beragam kecenderungan pribadi.

Seperti yang pada umumnya diakui, Gibran ialah tokoh yang paling terkemuka dan paling berpengaruh di antara penulis-penulis Mahyar. Karya-karyanya banyak diwarnai oleh mal de ciecle, suatu pemberontakan terhadap modus pemikiran yang telah mapan di lingkungan sosial, keagamaan dan sastra. Setelah terenggut dari akarnya karena emigrasi, Gibran menghidupi dirinya dengan gagasan-gagasan dan pengaruhpengaruh dari Barat—dari Nietzsche, Blake, Rodin, aliran romantik dan transendentalisme dari sastra Amerika, dan juga Injil maupun peninggalan-peninggalan dari mistisisme Timur. Gibran menghasilkan karya-karya yang penuh dengan perasaan terbuang dan nostalgia akan tanah airnya, perasaan rindu hendak kembali ke alam dan mencari kenaifan dan cinta murni yang telah hilang, serta pula penuh dengan semacam kemurungan metafisik dan mistisisme-semu yang samar-samar. Kesulitan-kesulitan dalam hal bentuk telah diatasinya dengan gaya baru yang diciptakannya dalam prosa-puisinya dan puisi-prosanya, yang ternyata menjadi suatu tonggak sejarah, bukan saja dalam persajakan Arab, tetapi juga dalam sastra Arab pada umumnya.

Nuayamah, dalam kritiknya dan kemudian juga dalam puisi, drama, novel, cerita pendek dan esai-esai falsafinya, menyebut baik dalil-dalil dan gagasan-gagasan pokok Gibran. Ia merumuskan kembali semua itu dengan jelas dan tepat dan memperkuat daya-gunanya yang membebaskan dan menyehatkan bagi arah perkembangan modern dalam sastra Arab. Tak kurang pentingnya ialah pengaruh Amin al-Rihani, yang dalam kariernya memandang dirinya sebagai rantai penghubung antara Timur dan Barat, dengan berusaha membawa ‘kerohanian’ Timur ke Barat dan ‘kemajuan’ Barat ke Timur. Sebagai seorang realis pada dasarnya, ia jauh lebih banyak menaruh perhatian pada masalah-masalah politik, sosial dan kebudayaan dunia Arab dengan memberikan pemecahan-pemecahannya dan ia menganjurkan suatu revolusi sastra sebagai penyempurna kebangunan dunia Arab pada umumnya seperti yang dicanangkannya.

Dalam pandangan al-Rihani, modernisme harus meliputi semangat dan tinjauan menyeluruh pada usaha kreatif. Pembaharu sastra harus menemukan atau menciptakan suatu gaya yang selaras dengan sensibilitas dan pandangan hidupnya. Dalam usahanya melaksanakan konsep ini, dan di bawah gaya al-Quran dan cara pengucapan Whitman, al-Rihani menciptakan model puisi-prosa (al-Shi’r al-manthur) yang pertama dan dengan sadar direncanakannya, dalam bahasa Arab. Dalam eksperimen ini ia berusaha untuk mengembangkan suatu bentuk baru, bebas dari ikatan-ikatan literer yang bermatra dan mampu mengungkapkan gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan penyair modern dalam bentuk dan bahasa yang lebih sesuai. (Al-Rihani, ‘Al-Shi’r al-Manthur’, Adab wa fann, hal. 45, Beirut 1957).

Penyair terkemuka lainnya dari grup Syro-Amerika di Utara ialah Ilya Abu Madi, yang terkenal dengan curahan-curahan liriknya yang mengungkapkan skeptisisme dan mempertanyakan norma-norma sosial dan etik yang sudah mapan.

Di antara penyair-penyair Syro-Amerika di Selatan, Fawzi al-Maluflah yang paling terkemuka. Ia terutama terkenal karena sajak panjangnya, Ala Bisat al-Rih (Di Atas Permadani Angin), di mana ia membayangkan hidupnya sendiri yang malang merindukan kebebasan dan kemurnian yang telah hilang.

Meskipun kaum tradisional berusaha menahan ketenaran gerakan romantik grup Mahyar, namun tokoh-tokoh grup itu tetap merupakan wakil-wakil utama sastra Arab, dan karya-karya mereka menjadi sumber ilham bagi angkatan penyair-penyair berikutnya.

Romantik yang dikembangkan oleh grup Diwan dan lebih efektif lagi digerakkan oleh Gibran dan penyair-penyair Mahyar yang lain, mencapai puncaknya di dunia Arab pada tahun 1930-an. Kehadiran orang Perancis di Suriah, Libanon dan Afrika Utara, dan orang Inggris di Mesir, Irak dan Palestina, menekan perjuangan negeri-negeri itu untuk mencapai kemerdekaan penuh, dan mengecewakan harapan dan aspirasi-aspirasi nasional mereka. Situasi ini menimbulkan iklim yang diwarnai kekecewaan, kemurungan, pesimisme dan putus asa, yang dengan jelas terbayang dalam karya-karya romantik para penyair Arab.

Penyair-penyair romantik yang penting waktu itu ialah mereka yang ada di seputar majalah Apollo yang didirikan oleh Ahmad Zaki Abu Shadi di Mesir pada tahun 1932. Termasuk di antara mereka ialah Ali Mahmud Taha, Ibrahim Naji dan penyair Tunisia, Abu al-Qasim al-Shabbi. Di Suriah aliran romantik antara lain terlihat pada puisi Umar Abu Risha, sedang di Libanon aliran itu menemukan ungkapannya yang jelas dalam sajak-sajak Ilyas Abu Shabakah. Tertarik pada sajak-sajak Baudelaire, Abu Shabakah memperlihatkan dalam karya-karya puisinya kedalaman pengalaman pribadi dan peninjauan ke dalam diri sendiri yang jarang sekali bisa dilakukan orang sebelumnya.

Sehabis Perang Dunia Kedua, dunia Arab memasuki era baru yang ditandai dengan perubahan penting dalam kehidupan sosial dan politik. Sehubungan dengan perjuangan untuk mendapatkan pemerintahan sendiri, timbullah di sana sejumlah partai politik yang bertujuan bukan saja mencapai kemerdekaan yang bebas dari dominasi asing, tetapi juga mempertahankan dan memperkokoh kemerdekaan itu atas landasan doktrin politik dan program pembaharuan sosial dan ekonomi. Partai Sosial Nasionalis yang dipimpin oleh Antum Sa’adah memainkan peranan penting di Libanon dan Suriah di tahun-tahun empat puluhan, Partai Ba’th menjadi amat berkuasa di Irak dan Suriah dan banyak memikul tanggung jawab dalam pembentukan Republik Persatuan Arab di tahun 1958. Himpunan Persaudaraan Muslimin berpengaruh dalam peristiwa-peristiwa keagamaan, sosial dan politik di Mesir antara tahun 1945 dan 1954, Partai Komunis timbul di Suriah dan Irak, dan nasionalisme Arab mengalami pasang-naik di seluruh dunia Arab. Meskipun ada perbedaan-perbedaan pokok dalam tujuan dan dasar-dasar mereka, partai-partai itu, dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Arab menciptakan motivasi yang kuat untuk membangunkan suatu tata pemerintahan baru dan membawa para pengikutnya dalam gerakan yang militan dan sadar melawan kebusukan di dalam negeri dan dominasi asing. Suasana dinamik yang melibat banyak kaum intelektual itu mengakibatkan timbulnya perasaan baru tentang keterlibatan pada perjuangan kemerdekaan nasional dan pengaturan kembali masyarakat Arab yang tercermin pula dalam sajak-sajak sosial-politik sejumlah penyair seperti Ali Ahmad Said (Adonis) yang menyuarakan aspirasi-aspirasi Partai Sosial Nasionalis di Suriah dan Libanon, al-Sayyab dan al-Bayati, juru bicara Partai Komunis Irak.

Tragedi Palestina di tahun 1948, dengan segala pantulannya di dunia Arab, ternyata merupakan saat timbulnya perubahan besar dalam sejarah modern bangsa Arab, baik politik maupun kultural. Sebagai reaksi terhadap bencana itu revolusi demi revolusi melanda sebagian besar pemerintahan lama di dunia Arab. Dan di lingkungan sastra, suatu usaha yang kuat untuk mengarahkan perhatian pada perjuangan dan penderitaan bangsa, untuk mengkristalisasikan sikap pemikiran dan pernyataan keinginan-keinginan bangsa dan merangsang harapan-harapan dan aspirasi-aspirasi-nya yang baru, berakibat dengan ditolaknya corak-corak puisi yang ada ketika itu dan diciptakannya jenis puisi yang baru lagi yang menimbulkan revolusi persajakan Arab dalam seluruh watak dan fungsinya.

Aliran romantik dan simbolisme di bawah pengaruh simbolisme Perancis, yang dibawa oleh penyair-penyair Said Aql, Salah Labaki dan Yusuf Ghusub ke dalam persajakan Arab, pada masa-masa terakhir tahun tiga puluhan, sudah tidak disukai lagi di sekitar tahun 1945 oleh penyair-penyair baru yang berpendirian bahwa nilai puisi terutama terletak dalam kegunaannya bagi masyarakat. Mereka mengutuk aliran romantik sebagai teori seni yang steril, yang hanya melahirkan macam puisi yang kosong, muram dan berpusat pada diri sendiri. Dan simbolisme dalam pandangan mereka ialah pameran kepandaian tentang seni untuk seni, yang tak berarti dalam kehidupan manusia. Kekuatan baru yang timbul menggantikan kedua aliran itu ialah gerakan sajak bebas yang mengubah seluruh gambaran tradisi puisi dan selanjutnya memperjelas arah yang hendak dituju oleh puisi Arab modern.

Beberapa aspek dari sajak bebas itu mungkin telah terdapat dalam ‘puisi prosa’ Gibran dan al-Rihanni, ‘sajak tak bersajak’ (blank verse) al-Zahawi, Ba Khathir dan lain-lain. Tetapi bagaimanapun juga, semua ini hanya eksperimen-eksperimen yang terpisah-pisah dan sedikit saja hubungannya dengan timbulnya sajak bebas seperti yang dikembangkan secara lebih sadar oleh Lewis Awad, penyair Mesir yang dapat dipandang sebagai pelopor sajak bebas.

Dalam himpunan karyanya, Plutoland wa-Qasa’id Ukhra, min Shi’r al-Khassah (Plutoland dan Sajak-sajak Puisi Kaul Elite Lainnya), Awad menjelaskan dalam teori maupun praktik apa yang dipandang sebagai norma dan pola pokok yang menjadi ciri sajak bebas. Himpunan karyanya itu terbit di Kairo tahun 1947 dan terdiri dari sebuah kata pengantar yang menjelaskan teori-teorinya, kemudian disusul dengan karya-karya puisinya berupa: 29 sajak bertema sosial dan individual, 14 di antaranya ditulis dalam bahasa Arab literer dan 15 yang selebihnya dalam bahasa pergaulan Arab-Mesir. Lima buah sajak dalam kelompok pertama berangka tahun 1938, empat buah berangka tahun 1939 dan tiga buah berangka tahun 1940. Sajak-sajak dalam kelompok kedua semuanya berangka tahun 1940. Kebanyakan dari sajak-sajak dalam himpunan itu ditulis di Cambridge, Inggris waktu Awad belajar di sana.

Dari angka tahunnya jelas bahwa sajak-sajak itu ditulis beberapa tahun lebih dulu sebelum al-Malaikah, penyair wanita Irak dan al-Sayyab, penyair berhaluan komunis Irak, menulis sajak-sajak mereka yang diumumkan pada tahun 1947 dan dipandang sebagai sajak-sajak bebas yang pertama. Tanpa mempersoalkan angka tahun pun dalam membicarakan timbulnya gerakan sajak bebas itu yang terlalu kompleks untuk dijejaki saat dan tempat timbulnya yang pasti, jelas bahwa karya-karya Awad lebih kuat dasar-dasarnya untuk dipandang sebagai pemula timbulnya sajak bebas itu.

Dalam usahanya mencari visi baru tentang puisi, Awad dipimpin oleh dua faktor berikut:
1. Kesadarannya bahwa apa yang membedakan zamannya dengan zaman penyair-penyair neo-klasik ialah kepekaan rasa yang baru, dan karena itu juga pengharapan baru yang timbul sehubungan dengan puisi Arab modern.
2. Pengamatannya bahwa tradisi lama yang berlaku pada puisi Arab mempunyai kemungkinan untuk hidup kembali dengan segar bila penyair-penyair baru dapat menghargai eksperimen-eksperimen modern dan menemukan arah-arah baru dalam perkembangan puisi yang mungkin terdapat dalam hasil-hasil yang telah tercapai oleh puisi Barat maupun dalam unsur-unsur tertentu yang terdapat dalam sastra Arab sendiri.

Sungguh, Awad telah menemukan kembali dua arah kecenderungan yang penting dalam sejarah sastra Arab: di satu pihak, pengubahan sistem matra Khalili secara radikal, namun tetap mempertahankan pemakaian bahasa klasik seperti dilakukan penyair-penyair Arab di Andalusia dalam sajak-sajak mereka: dan di lain pihak, ditinggalkannya pemakaian bahasa klasik maupun sistem matra Khalili seperti dilakukan penyair-penyair awam di Mesir dan negeri-negeri Arab yang lain.

Sebagai seorang pembanding sastra, Awad menemukan dalam sastra Barat suatu pola yang memberi petunjuk padanya dalam eksperimen-eksperimennya yang mula-mula. Timbulnya bahasa Italia baru yang terbebas dari norma-norma bahasa Latin yang sudah beku memberikan dorongan padanya untuk menciptakan puisi baru yang menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari yang tak asing dan bisa dipahami oleh golongan elite pula.

Hasil-hasilnya yang segera tampak ialah eksperimen-eksperimen puisinya yang mempergunakan bahasa pergaulan dalam himpunan itu. Ini, kata Awad, mendapat sambutan baik di Mesir. Eksperimen-eksperimennya yang lain ialah satu kelompok yang memuat contoh-contoh yang mempergunakan tiga bentuk puisi Barat: puisi naratif (bukan epik), balada dan soneta. Eksperimen-eksperimen yang dibuatnya timbul dari konsepsinya tentang puisi yang bercorak Barat dan penolakannya terhadap sistem matra Khalili yang sudah kuno.

Barangkali eksperimen Awad yang paling penting ialah sajak bebasnya yang berjudul Kiriyalayson yang ditulisnya di Cambridge, Inggris, 9 Mei 1938. Dalam sajak ini Awad mencoba membuat pola ‘piramida’, dimulai dengan satu taf’ilah (kaki sajak)—sebagai puncak piramida itu—yang kemudian mengembang hingga merupakan alas piramida itu yang lebar. Sebagai dasar dari eksperimennya itu ialah ini: ia tidak lagi mempergunakan bayt tradisional, tetapi mempergunakan taf’ilah sebagai dasar kesatuan. Perubahan ini memungkinkan Awad membuat baris-baris sajaknya berbeda-beda panjangnya, sejalan dengan kesatuan pikiran atau perasaan yang hendak dituangkannya. Pada dasarnya, cara ini merupakan ciri seluruh grup penyair taf’ilah dalam gerakan sajak bebas itu.

Meskipun karya Awad harus diakui sebagai usaha pertama yang serius untuk sajak bebas, namun tak dapat disangsikan pula bahwa Nazik al-Malaikah, penyair wanita Irak, merupakan orang pertama yang meletakkan dasar-dasar teoritis bagi perkembangan bentuk baru itu dalam kata pengantar untuk himpunan karyanya, Shazaya wa Ramad, dan kemudian dalam bukunya, Qadaya al-Shi’r al-Mu’asir (1962). Dengan bayt (baris sajak) sebagai dasar kesatuan pola qasida yang lama, maka acuan puisi Arab terlalu memaksakan bentuk pada isi yang dikandungnya, dan dengan begitu sering puisi yang dihasilkannya kehilangan efeknya yang vital. Karena itu, al-Malaikah menganjurkan perlunya bentuk sajak bebas, di mana matra didasarkan atas kesatuan taf’ilah (kaki sajak) dan kebebasan penyair dijamin dengan kemerdekaannya untuk membuat taf’ilat (kaki-kaki sajak) atau baris-baris dalam puisinya berbeda-beda panjangnya sesuai dengan apa yang dirasanya tepat untuk mengungkapkan apa yang hendak disampaikannya. Meskipun demikian, al-Malaikah membatasi kebebasan ini dengan menuntut agar taf’ilat (kaki-kaki sajak) dalam baris-baris puisi itu sejenis hendaknya. Ini berarti bahwa dari enam belas jenis matra tradisional hanya tujuh jenis saja yang dapat dipergunakan dalam sajak bebas itu, yakni jenis-jenis matra yang disebut Kamil, Ramal, Hazaj, Rajaz, Mutaqarib, Khafif dan Wafir, karena jenis-jenis matra inilah yang pembentukannya berdasarkan pengulangan dari satu taf’ilah. Jenis-jenis matra yang lain dipandang tak sesuai untuk jenis puisi ini. Selain itu, al-Malaikah juga menghendaki penggunaan rima dalam sajak bebas ini untuk memberikan kesan ritmis dan keteraturan.

Demikianlah dalam garis besarnya asas-asas pokok yang dikemukakan al-Malaikah untuk perkembangan sajak bebas. Banyak penyair dan kritikus yang menolak asas-asas itu, dengan berpendapat bahwa asas-asas itu merupakan kaidah-kaidah yang tak kurang kakunya daripada kaidah-kaidah pada sistem matra Khalili. Penyair-penyair lain ada yang mengubah asas-asas itu dengan menggunakan kombinasi matra-matra dalam puisi mereka, atau dengan membentuk taf’ilat mereka sendiri. Dalam kritiknya atas teori al-Malaikah itu, Muhammad al-Nuwayahi, kritikus Mesir terkemuka, menganjurkan perubahan pada pembentukan baris sajak Arab modern dari struktur tradisionalnya yang berdasarkan kuantitas ke arah pola yang berdasarkan aksen seperti dalam puisi Inggris.

Meskipun ternyata bahwa dengan taf’ilah sebagai dasar kesatuan itu puisi bebas belum terlepas sama sekali dari ikatan puisi tradisional, namun bentuk itu, sebagaimana yang dengan berhasil digunakan oleh beberapa penyair modern terkemuka, menandakan adanya suatu perubahan penting dalam beberapa aspek pokok pada tradisi puisi Arab. Dengan mengandalkan timbulnya sesuatu yang musikal dalam puisi itu sendiri, dan dengan mempergunakan cara pengungkapan yang lebih bebas dan lebih sederhana mendekati bentuk bahasa lisan dalam menyampaikan amanat mereka kepada masyarakat pendengarnya yang baru, maka penyair-penyair sajak bebas itu memulihkan kembali bagi kesenian mereka vitalitas dan peranannya yang penting dalam kehidupan masyarakat. Hasil usaha yang demikian jelas terlihat dalam sajak-sajak bebas karya Adonis, Qabbani, Hawi, Tuqan dan penyair-penyair lain dalam antologi ini.

Grup penyair-penyair revolusioner yang lain mengembangkan bentuk sajak bebas yang baru dan radikal pula. Dengan menolak sajak bebas yang sudah ada karena dipandang sebagai belum memadai untuk mengungkapkan visi-visi dan pengalaman-pengalaman mereka, maka grup ini melepaskan dirinya dari segala unsur yang sudah ada dalam puisi Arab seperti matra, rima, taf’ilah dan dasar kesatuan dan memberanikan diri untuk menciptakan bentuk puisi yang benar-benar bebas dan amat bersifat pribadi. Karena tak adanya sesuatu pola yang spesifik dalam bentuk puisi yang lebih bebas ini, maka bentuk ini dikecam sebagai ‘bukan-puisi’ dan pada awal timbulnya mendapat beragam penamaan seperti ‘sajak dalam prosa’, ‘puisi prosa’, ‘sajak-sajak prosa’ dan sebagainya. Tetapi jarang bentuk itu diterima sebagaimana hakikat keadaannya—yaitu sebagai puisi murni. Penyelidikan baru tentang bentuk ini memperlihatkan bahwa dalam aspek-aspek bentuknya, puisi murni itu banyak mengikuti prinsip-prinsip yang berlaku pada sajak prosa. “Sajak prosa, bukan saja dalam bentuk, tetapi juga dalam esensinya, berasaskan kesatuan pertentangan-pertentangan: prosa dan puisi, kebebasan dan disiplin, anarki destruktif dan seni yang menyusun-mengatur … Karena itulah ia mengandung kontradiksi-kontradiksi internal, antinom-antinom yang begitu tajam menggamangkan dan sekaligus juga subur menghidupkan, ketegangan dan dinamisme yang terus menerus … “(Suzanne Bernard, Les Poeme en Prose de Baudelaire jusqu’a nos jours, Paris, 1959, hal. 462). Dilihat dari segi struktur, sajak-sajak prosa itu meliputi karya-karya sejak dari yang berstruktur begitu cermat dan tersusun secara logis hingga yang tak mengindahkan sruktur dan bersifat anarkis. Wakil-wakil utama dari bentuk puisi yang berkembang paling belakangan ini ialah Tawfiq Sayigh, Yusuf al-Khal, Adonis, Muhammad al-Maghut, Unsi al-Hajj dan Jabra Ibrahim Jaabra.

Semua penyair yang namanya berkaitan dengan gerakan sajak bebas, baik dalam fase eksperimentalnya, dalam tahap taf’ilah-nya maupun dalam perkembangannya yang terakhir, tak luput dari benturan pengaruh yang makin meningkat dari Barat. Pada umumnya orang sependapat bahwa pengaruh asing yang meninggalkan bekasnya pada sastra Arab sebelum 1950 ialah pengaruh sastra Perancis. Tetapi pada masa-masa permulaan tahun 1950-an penyair-penyair Inggris dan Amerika, terutama T. S. Eliot, menjadi amat penting artinya bagi puisi Arab. Dalam penilaiannya terhadap pengaruh Eliot, Jabra Ibrahim Jabra—kritikus dan penyair terkemuka—antara lain mengatakan: “T. S. Eliot memikat perhatian banyak penulis Arab baru, karena seakan-akan ia menjadi pengucap dan juru bicara yang singkat-padat bagi pikiran-pikiran mereka … Penyair-penyair Arab menyambut The Wasteland dengan hangat, karena mereka pun menghayati pengalaman tragedi umum, bukan saja dalam Perang Dunia II, tetapi juga, dan terutama, dalam debacle Palestina dan akibat-akibat sesudah itu. Dalam yang terakhir ini, The Wasteland seakan aneh sekali menemukan ketepatannya. Segala sesuatu yang tertib teratur sudah berantakan, dan tema tentang tanah hangus yang menunggu hujan, tentang kesuburan yang dipulihkan kembali dengan darah Tammuz yang dibunuh oleh babi liar, tentang kematian dan kebangkitan kembali, sungguh tak pernah dilupakan oleh penyair-penyair kami.” (Jabra Ibrahim Jabra, kertas kerja yang dibacakan di Oxford, November 1968, dan dimuat dalam Journal of Arabic Literature, Vol. I, hal. 83-84, dengan judul Modern Arabic Literature and the West.)

Tentu saja penyair-penyair Arab kontemporer juga tertarik pada sumber-sumber inspirasi yang lain dari Barat seperti: Edith Sitwell, Ezra Pound, Pablo Neruda, Mayakovsky, Aragon, Eluard, Sartre, Camus dan lain-lain.

Tetapi perlu dijelaskan bahwa pengaruh Barat terutama menunjukkan arah-arah baru dan membangkitkan perhatian para penyair pada metode-metode baru, gagasan-gagasan baru dan kemungkinan-kemungkinan baru. Meskipun puisi Arab telah menjadi lebih dekat dengan puisi Barat, namun ia tak pernah meninggalkan watak dan keasliannya sendiri. Sungguh, penyair-penyair Arab modern kini tidak hanya menulis sajak-sajak berbahasa Arab, tetapi juga sajak Arab. Karena itu, pengaruh Barat bukan pengaruh yang memperbudak lewat peniruan tetapi pengaruh yang membebaskan.

Dapatlah dengan tepat disimpulkan bahwa penyair-penyair Arab pada dua dasawarsa yang terakhir ini telah dirangsang oleh usaha-usaha dan hasil-hasil yang dicapai para pembaharu yang terdahulu, dan telah menjadi sadar akan perubahan-perubahan radikal yang telah terjadi di segala bidang kehidupan dalam masyarakat mereka. Mereka pun telah menjawab secara kreatif tantangan pengaruh Barat dengan modus pemikiran dan pengungkapan mereka, dan buat yang pertama kali dalam berbagai negeri telah menghasilkan jenis puisi Arab yang paling orisinil.

Bentuk yang dinamik itu, dengan membuangkan kesucian matra tradisional dan diksi puisi yang tak berjiwa lagi untuk kepentingan bahasa puisi yang lebih bebas dan lebih bersahaja, ternyata mampu sebagai pengungkap kandungan isi dengan cara yang lebih kuat lewat intensitas proses artistik dan penggunaan kreatif atas kata-kata, metafor, simbol, penggunaan perbandingan, kiasan mitologik, monolog dramatik dan sarana-sarana lain. Isinya meluas sejak dari masalah-masalah falsafi yang universal tentang kondisi manusia, kehidupan, kematian, cinta dan pembebasan hingga ke masalah-masalah sosial dan kebudayaan serta situasi-situasi yang khas, sesuai dengan zaman, pandangan dan pengalaman para penyair sendiri. Dalam usaha mengamati berbagai grup penyair-penyair modern, para kritikus telah menamakan mereka sebagai penganut aliran romantik, Eliotis, Tammuzis, eksistensialis, sosial-realis, elegis Palestina dan berbagai nama lain. Pemerian semacam itu hanya usaha-usaha yang tak memadai untuk menjinakkan apa yang bergejolak serta memberikan kembali gambaran dalam garis lurus akan aliran puisi yang dinamik dengan berbagai lekuk-liku dan persimpangan-persimpangannya. Benar, tenaga puisi yang demikian itu merupakan ciri watak dan fungsi puisi baru itu dan seimbang dengan kepekaan rasa para penciptanya yang—berbeda dengan para pendahulu mereka—merasa bahwa mereka satu dengan dunia yang kompleks ini beserta segala masalahnya dan bahwa mereka berendam sepenuhnya dalam semangat gelisah zaman tempat mereka hidup. Secara eksistensial, sebagai seniman, mereka ikut serta memperbesar kepekaan rasa sesama manusia, meningkatkan kedalaman rasa simpati mereka, dan menciptakan ketertiban, harmoni dan vitalitas di dunia sekeliling mereka.

(Lukisan dalam buku ‘The Narrative of Bayad and Riyad’, abad ke-13)


Esai ini dimuat dalam Puisi Arab Modern.