Posted on
Bilik Musik James Joyce

 

Sebagian besar puisi-puisi dalam buku Bilik Musik ditulis Joyce semasa awal karier kepenulisannya. The Holy Office (1904), Chamber Music (1907), dan Gas from a Burner (1912) ditulis sebelum umurnya menginjak kepala tiga. Selama rentang waktu tersebut ia kesulitan mencari penerbit untuk kumpulan cerpennya, Dubliners. Sudah sekian banyak penerbit menolak, dengan alasan karyanya berpotensi menuai kontroversi. Pernah yang terpahit, salah satu penerbit yang semula sudah menyetujui dan membukukan naskahnya, mendadak berubah pikiran, membakar hasil cetakannya kembali. Penolakan demi penolakan yang diterimanya tentu berat bagi Joyce sebagai penulis muda, apalagi ketika itu keluarganya jatuh melarat, adapun hubungannya dengan teman-temannya tidak berlangsung baik. Maka jangan heran kalau puisi-puisi Joyce umumnya berisikan gonjang-ganjing yang dialaminya semasa muda. Beruntung kemudian Dubliners diterbitkan tahun 1914, itu pun bukan oleh penerbit di Irlandia melainkan di Inggris.

Chamber Music terdiri dari tiga puluh empat puisi romantik, ditulis sebelum Joyce bertemu dengan Nora Barnacle, yang kelak menjadi istrinya. Seperti yang pernah ia ungkapkan, “Ketika aku menulis Chamber Music, aku adalah pemuda kesepian yang biasa berjalan seorang diri di tengah malam sambil berharap suatu hari nanti seorang gadis akan mencintaiku.” Dua puisi terakhir, XXXV dan XXXVI ditambahkannya beberapa hari sebelum naskah dicetak. Meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa judulnya terinspirasi dari bunyi dentingan kencing seorang wanita dalam jambang, nyatanya puisi-puisi dalam Chamber Music memang kental dengan nuansa musik, terutama dari kekuatan rimanya yang padu, sehingga banyak musisi ternama yang mengadaptasinya ke dalam lirik lagu.

Sebelum pergi merantau keluar dari Irlandia, Joyce telah menerbitkan puisi panjang berjudul The Holy Office tahun 1904, berisikan sindiran terhadap kebangkitan sastra Irlandia yang dinilainya kolot dan tidak berbobot, terutama para seniman yang masih memegang erat seni konservatif. Menurut Joyce, seni Irlandia belum akan berkembang selama kebebasan berekspresi ditekan oleh batasan yang ditetapkan gereja. Ia berkaca pada keberhasilan Thomas Aquinas dalam membuka pandangan gereja pada abad pertengahan, yaitu dengan menggali pemikiran klasik Yunani, zaman ketika berbagai kepercayaan belum ditemukan.
Selepas lulus kuliah Joyce sempat setahun tinggal di Paris. Ia kembali ke Dublin tahun 1912 setelah mendapat kabar bahwa ibunya meninggal, sekaligus memantau kumpulan cerpennya, Dubliners, yang dikirimkannya ke penerbit Mounsel & Company. Namun, naskah yang semula sudah disetujui tahu-tahu ditolak. Kesal dikhianati, ia menulis puisi satir Gas from a Burner, dapat dilihat betapa baris-baris awal puisi itu ditujukan kepada George Roberts, pimpinan penerbit Mounsel & Company. Joyce, yang ketika itu masih berusia 22 tahun merasa dirinya dikucilkan, tidak didukung sama sekali oleh penulis Irlandia lainnya. Ia, yang menganggap dirinya ‘anak emas’ Irlandia merasa tersisih. Bukannya mendapat pujian, karyanya malah dituduh mengandung hujatan agama.

Merasa sudah tak dihargai oleh bangsanya sendiri, maka demi melanjutkan karier menulisnya, Joyce meninggalkan Irlandia. Bersama kekasihnya, Nora Barnacle, mereka pernah menetap di berbagai kota, mulai dari Paris, Trieste, dan Zurich. Selama hidup berkelana itulah ia menulis Pomes Penyeach (dinamai demikian karena satu puisi dihargai satu penny), sehingga beberapa dari judul puisinya diambil dari nama-nama tempat seperti San Sabba, Fontana, dan Bahnhofstrasse. Ada beberapa puisi ditulis buat istri dan anaknya, ada pula tentang gambaran kerinduan akan kampung halamannya. Toh ia tak pernah kembali ke Irlandia meskipun permintaan itu datang dari W.B. Yeats, pelopor kebangkitan sastra Irlandia. Puisi terakhir yang ditulisnya adalah Ecce Puer tahun 1932. Puisi ini ditujukan buat kelahiran cucu lelakinya yang diberi nama Stephen, sekaligus memperingati ayahnya yang baru meninggal.

Dalam memahami karya Joyce, kita boleh sepakat bahwa disamping memahami kata demi kata, unsur yang tak kalah penting adalah memahami perjalanan hidup penulisnya itu sendiri. Sebab bukan hanya A Portrait of the Artist as a Young Man, boleh dikatakan hampir seluruh karya Joyce adalah autobiografi, tentang bagaimana perjuangan Stephen Dedalus merangkai sayapnya untuk terbang menggapai matahari, sesuai ambisinya, “mengekspresikan diri dengan seni yang sebebas mungkin, dalam sepi, diam, dan terasing.”

***

oleh Gita Karisma


Esai ini dimuat sebagai Kata Pengantar dalam Bilik Musik karya James Joyce.