Posted on

Kronologi Gustave Flaubert [Biografi]

1821
(12 Desember) lahir di Rouen. Ayahnya seorang ahli bedah di Hôtel-Dieu.

1836
Menulis beberapa cerita sewaktu masih bersekolah di Rouen. Saat berlibur ke Trouville, jatuh cinta pada Elisa Foucault, seorang perempuan berumur dua puluh enam tahun, yang tidak lama setelahnya menikah dengan Maurice Sclésinger. Bayangan akan Elisa Sclésinger terulang di sejumlah karya Flaubert: dia disebut sebagai model untuk Madame Arnoux di L’Éducation sentimentale.

1837
Menulis lebih banyak cerita. Salah satunya, Une leçon d’histoire naturelle, genre Commis, diterbitkan di sebuah jurnal lokal.

1839
Merampungkan Smarh, sebuah fantasi semi-dramatis yang dapat dianggap sebagai versi awal dari La Tentation de Saint Antoine.

1842
Novembre, autobiografi naratif lainnya. Berhasil melewati ujian sekolah hukum pertamanya.

1843
Mulai menulis L’Éducation sentimentale. Gagal melewati ujian sekolah hukum keduanya.

1844
Mengalami kejang akibat epilepsi. Berhenti dari sekolah hukum.

1846
Ayah dan saudara perempuan Flaubert meninggal. Dia mendirikan rumah di Croisset, dekat Rouen, bersama ibu dan keponakan perempuannya. Bertemu dengan Louise Colet di Paris, yang kemudian menjadi kekasihnya.

1848
Menyaksikan pemberontakan 1848 di Paris; dia kemudian menggambarkan kenangan ini untuk adegan-adegan di L’Éducation sentimentale. Mulai menulis La Tentation de Saint Antoine.

1851
(19 September) mulai menulis Madame Bovary.

1852
Di tengah pengerjaan Madame Bovary, teringat akan rancangan awalnya untuk Dictionnaire des idées reçues.

1854
Mengakhiri hubungannya dengan Louise Colet.

1856
Madame Bovary selesai dan diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di La Revue de Paris (dari 1 Oktober).

1857
Flaubert dituntut atas ketidaksenonohan; dia dibebaskan. Pengadilannya menarik perhatian banyak orang dan menjadikan Madame Bovary sebagai sebuah kesuksesan yang berasal dari skandal. Mulai mengerjakan Salammbô.

1862
Salammbô rampung dan diterbitkan: meraih kesuksesan hebat. Flaubert kini dipandang sebagai tokoh sastra terkenal.

1864
Mulai menggarap lagi L’Éducation sentimentale. Dalam kurun waktu lima tahun berikutnya mengumpulkan materi untuk novelnya, dan pada waktu yang bersamaan menikmati kehidupan sosial yang gemilang.

1869
L’Éducation sentimentale selesai dan terbit.

1872
Ibu Flaubert meninggal.

1874
La Tentation de Saint Antoine terbit. Mulai menggarap Bouvard et Pécuchet.

1875-7
Menulis La Legende de Saint Julien d’Hospitalier, Un coeur simple, dan Hérodias (Trois Contes).

1877
Trois Contes terbit. Kembali mengerjakan Bouvard et Pécuchet.

1877-80
Masih menulis Bouvard et Pécuchet, yang kemudian tetap tak terselesaikan.

1880
(8 May) Flaubert meninggal.

1881
Bouvard et Pécuchet terbit.

Posted on

H. G. Wells [Biografi]

Herbert George Wells lahir tanggal 21 September 1866 di Bromley, Kent, kota pasar kecil yang tak lama kemudian ditelan pertumbuhan tepi kota London. Ayahnya, mantan tukang kebun profesional dan pemain cricket kabupaten yang terkenal untuk lemparan cepatnya, memiliki usaha kecil di Jalan Bromley High—menjual barang-barang cina dan tongkat cricket. Rumahnya dikenal sebagai Atlas House, tapi pusat kehidupan keluarga adalah dapur yang sesak di ruang bawah tanah di bawah toko. Tak lama kemudian hari-hari bermain cricket Joseph Wells berakhir karena patah kaki, dan keberuntungan keluarga tampak suram.

‘Bertie’ Wells muda sudah menunjukkan prestasi akademis yang luar biasa, tapi waktu usianya tiga belas tahun keluarganya berantakan dan ia terpaksa mencari nafkah sendiri. Ayahnya bangkrut. Ibunya meninggalkan rumah, bekerja sebagai pengurus rumah di Uppark, sebuah rumah besar di pedalaman Sussex tempat ia bekerja sebagai pelayan sebelum menikah. Wells keluar dari sekolah mengikuti jejak kedua kakak lelakinya menerjuni perdagangan tekstil. Sesudah bekerja singkat sebagai asisten guru dan asisten apoteker, pada tahun 1881 ia magang di toko serba ada di Southsea, bekerja tiga belas jam sehari dan tidur di asrama bersama sesama rekan magang. Ini periode paling menyedihkan dalam hidupnya, meski ia kemudian mengingatnya lagi dalam roman komik seperti Kipps (1905) dan The History of Mr. Polly (1910). Kipps dan Polly sama-sama melarikan diri dari magang sebagai pedagang kain. Pada tahun 1883, Wells membatalkan kontrak kerjanya dan mendapat pekerjaan sebagai asisten guru di Sekolah Tata Bahasa Midhurst dekat Uppark. Perkembangan intelektualnya, yang tertahan lama, sekarang maju pesat. Ia lulus serangkaian ujian bidang ilmu pengetahuan dan, pada bulan September 1884, masuk Normal School of Science, South Kensington (kemudian menjadi bagian dari Imperial College of Science and Technology) dengan beasiswa pemerintah.

Wells berbakat menjadi guru, sebagaimana yang ditunjukkan banyak bukunya, dan mulanya ia seorang murid yang antusias. Ia beruntung diajar biologi dan zoologi oleh salah seorang pemikir ilmiah paling berpengaruh pada zaman Victorian, teman dan pendukung Darwin, T. H. Huxley. Wells tidak pernah melupakan ajaran Huxley. Tapi para profesor lain membosankan, dan minatnya pada pelajaran mereka memudar dengan cepat. Ia lulus di bidang ilmu fisika tahun kedua tapi gagal dalam ujian geologi tahun ketiga dan meninggalkan South Kensington tahun 1887 tanpa meraih gelar. Kerangka kerja teoritis dan cakrawala imajinatif ilmu pengetahuan membangkitkan semangatnya, tapi ia tak tahan menghadapi rincian praktis dan tugas rutin melelahkan di laboratorium. Ia bolos dan menghabiskan waktunya membaca literatur dan sejarah, memuaskan penasaran yang timbul saat menjelajahi perpustakaan yang lama tak dipedulikan di Uppark. Ia mulai menulis untuk majalah kampus, The Science Schools Journal, dan memihak sosialisme dalam debat sekolah.

Pada musim panas 1887, Wells menjadi pakar ilmiah di sekolah swasta kecil di Wales Utara. Beberapa bulan kemudian ia terjatuh parah di lapangan bola. Sakit dan kekurangan gizi akibat tiga tahun kemiskinan sebagai pelajar, ia juga menderita kerusakan ginjal dan paru-paru. Sesudah berbulan-bulan memulihkan diri di Uppark ia kembali mengajar ilmu pengetahuan di Henley House School, Kilburn. Tahun 1890 ia meraih gelar Sarjana (kehormatan) kelas satu di bidang zoologi dari University of London, dan mendapat jabatan sebagai pengajar biologi di University Correspondence College. Tahun 1891 ia menikahi sepupunya Isabel Wells, tapi hanya sedikit kesamaan mereka. Tak lama kemudian Wells jatuh cinta pada salah seorang muridnya, Amy Catherine Robbins (biasanya dikenal sebagai ‘Jane’). Mereka hidup bersama sejak 1893, dan menikah dua tahun kemudian sesudah perceraiannya selesai.

Selama tahun-tahunnya sebagai pengajar biologi Wells perlahan-lahan memulai kariernya sebagai penulis dan wartawan. Ia menulis untuk Educational Times, University Correspondent, dan pada tahun 1891 menerbitkan esai filosofis, ‘The Universe Rigid,’ dalam Fortnightly Review yang bergengsi. Buku pertamanya adalah Textbook of Biology (1893). Tapi begitu buku itu terbit kesehatannya kembali merosot, memaksanya berhenti mengajar dan mengandalkan pendapatan dari literatur sepenuhnya. Masa depannya tampak sangat berbahaya, tapi tak lama kemudian ia mendapat banyak permintaan cerita pendek dan esai humor dari koran dan majalah yang tengah meledak pada waktu itu. Ia menjadi pengulas fiksi dan, untuk waktu singkat pada tahun 1895, kritikus teater.

Sejak masa sekolah Wells sebentar-sebentar menulis kisah tentang perjalanan waktu dan kemungkinan masa depan manusia. Versi awalnya diterbitkan di The Science Schools Journal dengan judul ‘Argonaut Kronis.’ Sesudah menulis ulang puluhan kali dan berkat dorongan penulis puisi serta redaktur W. E. Henley, ia menyelesaikannya dalam bentuk The Time Machine (1895). Keberhasilannya seketika, dan sementara buku itu diterbitkan dalam bentuk serial majalah, Wells sudah dibicarakan sebagai ‘orang jenius.’ Ia dipuja sebagai pencipta ‘roman ilmiah,’ kombinasi novel petualangan dan kisah filosofi di mana tokohnya terlibat perjuangan hidup-mati akibat perkembangan tak terduga ilmu pengetahuan. Sekarang ada pasar yang siap untuk fiksinya, dan The Island of Doctor Moreau (1896), The Invisible Man (1897), The War of the Worlds (1898), The Sleeper Awakes (1899), The First Men in the Moon (1901), dan beberapa volume lain dengan cepat mengalir dari penanya.

Pada pergantian abad dua puluh Wells sudah terkenal sebagai penulis populer di Inggris dan Amerika. Buku-bukunya dengan cepat diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Jerman, Spanyol, Rusia, dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Ketenarannya mulai mengalahkan pendahulunya dalam roman ilmiah, penulis Perancis Jules Verne, yang mendominasi bidang ini sejak 1860-an. Tapi Wells, seniman yang makin lama makin sadar diri, punya ambisi lebih besar dari sekadar tercatat dalam sejarah sebagai novelis petualangan seperti Jules Verne. Love and Mr. Lewisham (1900) adalah usaha pertamanya menulis fiksi realistis, berjiwa komik dan mengisyaratkan pengalamannya sendiri sebagai murid dan guru. Pada akhir dekade Edwardian, sewaktu menulis novel ‘Kondisi Inggris’ Tono-Bungay (1909) dan The New Machiavelli (1911), Wells telah menjadi salah seorang novelis terkemuka di zamannya. Ia berteman sekaligus bersaing dengan tokoh-tokoh literatur seperti Arnold Bennett, Joseph Conrad, Ford Madox Ford dan Henry James.

Tapi Wells bukan pengabdi seni demi seni semata. Ia penulis yang mampu meramal dengan pesan sosial dan politis. Karya non-fiksi besar pertamanya adalah Anticipations (1902), buku esai futurologi yang menceritakan kemungkinan akibat kemajuan ilmiah dan teknologi di abad dua puluh. Anticipations membuka hubungannya dengan Himpunan Fabian dan meluncurkan kariernya sebagai wartawan politik dan suara yang berpengaruh dari golongan kiri Inggris. Selama periode Fabian, Wells menulis A Modern Utopia (1905), tapi gagal dalam usahanya menantang penampilan birokratis dan reformis para pemimpin Kelompok seperti Bernard Shaw (teman dan saingan seumur hidup) dan Beatrice Webb. Roman ilmiah Edwardian Wells seperti The Food of the Gods (1904) dan The War in the Air (1908), meski penuh sentuhan humor, bertujuan propaganda. Dalam kisah-kisah ‘perang masa depan’ lainnya dari periode ini ia sudah memperkirakan adanya tank dan bom atom.

Keberhasilannya sebagai penulis membawa perubahan besar dalam kehidupan pribadinya. Buruknya kesehatan memaksanya meninggalkan London dan pindah ke pantai Kent pada tahun 1898. Tapi dalam jangka panjang, luka main bolanya menyebabkan diabetes yang mempengaruhinya di usia tua. Ia mempekerjakan arsitek C. F. A. Voysey untuk membangun rumahnya, Spade House, yang menghadap ke Selat Inggris di Sandgate. Di sini kedua putranya dengan Jane dilahirkan—George Philip atau ‘Gip,’ yang menjadi profesor zoologi dan bekerja sama dengan ayahnya dan Julian Huxley menulis ensiklopedia biologi The Science of Life (1930); dan Frank yang bekerja di industri film. Wells sangat mendukung orangtua dan kakak-kakaknya, yang sesama pelarian dari perdagangan tekstil. Tapi, semakin lama ia mencari pemenuhan emosional dari luar keluarga, dan kasus perselingkuhannya menjadi terkenal. Ia memiliki putri pada tahun 1909 dengan Amber Reeves, ekonom muda Fabian terkemuka. Tahun 1914 novelis dan kritikus Rebecca West melahirkan putranya Anthony West, yang masa kanak-kanak bermasalahnya kelak terpantul dalam novelnya sendiri Heritage (1955) dan dalam biografi ayahnya.

Sementara kehidupan pribadi Wells menjadi gosip kalangan literatur London, perannya sebagai penulis imajinatif dan wartawan atau nabi politik makin lama makin bertentangan. Ann Veronica (1909) adalah contoh fiksi topikal, kontroversial, yang mendramatisir dan mengomentari masalah-masalah seperti hak-hak perempuan, persamaan seksual, dan moral kontemporer. Ini ‘novel diskusi’ pertama Wells di mana hubungan pribadinya seringkali tidak terlalu disembunyikan. Fiksinya yang selanjutnya sangat bervariasi bentuknya, tapi semuanya termasuk kategori luas novel gagasan. Di satu ujung yang ekstrem adalah pelaporan realistis Mr. Britling Sees It Through (1916)—sementara di ujung ekstrem lain adalah dongeng singkat seperti The Undying Fire (1919) dan The Croquet Player (1936), alegori politis tentang kejadian-kejadian dunia yang masing-masing digambarkan dalam bentuk dialog ramalan.

Wells juga bukan novelis eksperimental seperti penulis sezamannya, James Joyce dan Virginia Woolf, tapi ia seringkali inovatif teknis. Dalam beberapa bukunya, batasan antara fiksi dan non-fiksi mulai runtuh. Kadang ia mengutip karya klasik dari epos pramodern yang lebih awal sebagai model literaturnya: A Modern Utopia (1905), misalnya, mereferensikan Utopia karya Sir Thomas More dan Republic karya Plato. Karya historis terlarisnya, The Outline of History (1920) dan A Short History of the World (1922) berbeda dari konvensi sejarah dengan mengharapkan tahap sejarah berikutnya. Karya-karya ini ditulis untuk menarik pelajaran dari Perang Dunia Pertama dan memastikan, kalau mungkin, tidak akan pernah terulang. Wells melihat sejarah sebagai ‘perlombaan antara pendidikan dan bencana.’ Keprihatinan yang sama memicu novel sejarah-masa-depan The Shape of Things to Come (1933), kemudian ditulis ulang untuk bioskop dengan judul Things to Come—film fiksi ilmiah epik yang diproduksi Alexander
Korda tahun 1936. Baik novel maupun film berisi peringatan suram bencana dan konsekuensi menakutkan yang tak terelakkan dari Perang Dunia Dua.

Pada 1920-an Wells bukan saja penulis terkenal tapi tokoh masyarakat yang namanya jarang tak disebut dalam koran. Ia sempat bekerja di Kementerian Propaganda pada tahun 1918, menghasilkan memorandum perang yang bertujuan mengantisipasi pendirian Liga Bangsa-Bangsa. Tahun 1922 dan 1923 ia mencalonkan diri di Parlemen sebagai kandidat Buruh. Ia berusaha mempengaruhi para pemimpin dunia, termasuk dua Presiden AS, Theodore Roosevelt dan Franklin D. Roosevelt. Pertemuannya dengan Lenin di Kremlin tahun 1920 dan wawancaranya pada tahun 1934 dengan penerus Lenin, Josef Stalin, dipublikasikan di seluruh dunia. Suaranya yang tinggi melengking seringkali terdengar di radio BBC. Tahun 1933 ia terpilih sebagai presiden PEN Internasional, organisasi penulis yang mengkampanyekan kebebasan intelektual. Pada tahun yang sama buku-bukunya dibakar di depan umum oleh Nazi di Berlin, dan ia dilarang mengunjungi Italia yang Fasis. Gagasannya sangat mempengaruhi Uni Pan-Eropa, kelompok yang mengusulkan Eropa bersatu di antara perang.

Tapi Wells yakin bahwa hanya persatuan global yang bisa mencegah kemanusiaan menghancurkan diri sendiri. Dalam The Open Conspiracy (1928) dan buku-buku lain ia menggambarkan teorinya tentang kewarganegaraan dunia dan pemerintahan dunia. Sementara Perang Dunia Dua semakin dekat ia merasa misinya gagal dan peringatannya tidak diperhatikan. Kampanye besar terakhirnya, ia berusaha mendapatkan dukungan internasional, untuk hak asazi manusia. Proposalnya dijabarkan dalam edisi khusus Penguin The Rights of Man (1940), membantu tersusunnya deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948. Ia menghabiskan tahun-tahun perang di rumahnya di Hanover Terrace, Regent’s Park. Pada tahun 1943 ia mendapat gelar Doktoral di bidang literatur dari London University. Buku terakhirnya,
Mind at the End of Its Tether (1945), merupakan karya putus asa, pesimis, bahkan dengan prospek manusia yang lebih suram dari The Time Machine lima puluh tahun sebelumnya. Ia meninggal di Hanover Terrace tanggal 13 Agustus 1946. Ia gelisah dan tak kenal lelah hingga akhir hidupnya, nabi yang selamanya tak puas dengan dirinya sendiri dan dengan kemanusiaan. ‘Suatu hari,’ tulisnya dalam ‘Oto-Dukacita’ tiga tahun sebelumnya, ‘aku akan menulis buku, buku yang sebenarnya.’ Ia sudah menerbitkan lebih dari lima puluh karya fiksi dan, totalnya, sekitar 150 dan pamflet.

Posted on

Burung Hantu dan Sekolahnya [Cerpen]

Seekor burung hantu bernama Tua Bijak mendirikan sebuah sekolah. Siapa saja bisa masuk ke sekolahnya dan belajar berbagai hal. Setelah beberapa lama ia ingin tahu perkembangan yang mereka capai dalam pelajaran. Maka ia pun mengajukan beberapa pertanyaan.

Pertanyaan pertama adalah, “Kenapa bulan bersinar di langit?”

Si bulbul menjawab, “Agar aku bisa bernyanyi sepanjang malam untuk kekasihku, si mawar, di bawah cahayanya yang menyenangkan.”

Si lili menjawab, “Agar aku bisa membuka kelopak bungaku, dan menikmati cahayanya yang penuh cinta dan menyegarkan.”

Si kelinci menjawab, “Agar di pagi harinya bisa terkumpul embun yang banyak untuk kulahap.”

Si anjing menjawab, “Agar aku bisa memergoki para maling yang berkeliaran di sekitar rumah tuanku.”

Si kunang-kunang menjawab, “Itu karena dia benci cahayaku; jadi dia bikin cahayaku kalah terang.”

Si rubah menjawab, “Agar aku bisa dengan jelas melihat jalan ke arah kandang ayam.”

“Cukup!” kata Tua Bijak. “Hanya ada satu bulan yang bersinar si langit, namun betapa banyak yang merasa paling diuntungkan! Memang, setiap pribadi memiliki kepentingan sendiri-sendiri!”


Cerpen ini dimuat dalam Fabel-Fabel India.

Posted on

Sajak Rumi No. 45 [Puisi]

Nasihat dari seseorang takkan berguna bagi para pencinta; cinta bukan semacam limpahan air yang dapat dibendung seseorang.

Tiada cendekiawan akan tahu haru-gembira di kepala si pemabuk; tiada seorang yang berpegang pada pikiran akan tahu pesona yang melambungkan hati mereka yang terbatas dari ikatan pikiran.

Raja-raja menjadi tak acuh akan kedudukannya bila mereka menangkap bau anggur yang direguk para pencinta dalam pertemuan hati.

Kusrau mengucapkan selamat tinggal pada kerajaannya demi Shirin; Farhad pun, demi Shirin pula, meng-
ayunkan kapak ke pinggang gunung.

Majnun melepaskan diri dari lingkungan keluarga demi cinta akan Laila; Vamiq menertawakan kegarangan kumis sekalian laki-laki yang menyombongkan diri.

Bekulah hidup yang berlalu tanpa roh yang indah ini; busuklah daging buah yang tak mengenal lagi kue badam ini.

Bila langit di atas sana tak berputar dalam ketakjuban dan cinta seperti kita, tentulah ia akan jemu berputar dan berkata, “Cukup sudah bagiku; berapa lama, berapa lama mesti begini?

Dunia ini bagai seruling gelagah, yang ditiupnya pada setiap lubangnya; sungguh setiap ratapnya berasal dari kedua belah bibir yang semanis tengguli itu.

Lihatlah, bagaimana bila Ia meniupkan napas-Nya ke dalam setiap gumpal tanah, setiap kalbu, Ia taburkan hajat, Ia taburkan gairah hasrat yang menimbulkan ratapan sendu.

Bila kaurobekrenggutkan hati dari Tuhan, kepada siapakah itu akan kaukaitkan kemudian? Katakan itu padaku. Sungguh tak berjiwa mulia orang yang telah sanggup merobekrenggutkan hatinya dari Tuhan biar sebentar pun.

Akan kucukupkan sampai di sini; cepatlah pergi, di malam hari naiklah hingga ke atap ini, perdengarkan seruan merdu di kota, dengan suara nyaring-tinggi.


Puisi ini dimuat dalam Kumpulan Sajak karya Jalaluddin Rumi.

Posted on

Tao Te Ching Bab 58 [Puisi]

Jika negara diatur dengan toleransi,
rakyat akan nyaman dan berlaku jujur.
Jika negara diatur dengan represi,
rakyat akan tertekan dan berlaku licik.

Ketika kehendak untuk berkuasa mengambil alih,
semakin tinggi khayalannya, semakin rendah hasilnya.
Berupayalah membuat rakyat bahagia,
dan kau meletakkan fondasi bagi kesengsaraan.
Berupayalah menjadikan rakyat bermoral,
dan kau meletakkan fondasi bagi kejahatan.

Demikianlah sang Guru senang
melayani sebagai teladan
dan tidak memaksakan kehendaknya.
Dia menunjuk tapi tidak menusuk.
Lurus, tapi lentur.
Terang benderang, tapi enak dipandang.

(Lukisan ‘Laozi Riding an Ox‘ karya Zhang Lu)


Puisi ini dimuat dalam Tao Te Ching.

Posted on

Kembar [Cuplikan]


“Benar, Krestyan Ivanovich. Namun saya ini penyuka ketenangan, Krestyan Ivanovich, rasanya saya telah mendapat kehormatan untuk menjelaskannya tadi, jalan yang saya tempuh berbeda, Krestyan Ivanovich. Jalan kehidupan ini luas…maksud saya…saya bermaksud mengatakan, Krestyan Ivanovich, bahwa… Maafkan saya, Krestyan Ivanovich, saya tidak fasih berbicara.”

“Hm… Anda bilang…”

“Saya bilang bahwa Anda harus memaklumi, Krestyan Ivanovich, atas kenyataan bahwa saya, sebagaimana anggapan saya, bukan ahlinya berbicara dengan fasih,” kata Tn. Goliadkin dengan nada agak tersinggung, sedikit linglung dan asal-asalan. “Dalam hal ini, Krestyan Ivanovich, saya tidak sama seperti orang lain,” tambahnya diiringi semacam senyum khusus, “dan saya tak mampu bicara panjang lebar; saya tak pernah belajar memperindah gaya bicara saya. Justru sebaliknya, Krestyan Ivanovich, saya bertindak; saya malah bertindak, Krestyan Ivanovich.”

“Hm… Bagaimana…cara Anda bertindak?” Krestyan Ivanovich balik bertanya. Selepas itu, keheningan melanda sejenak. Dokter memandang Tn. Goliadkin dengan tatapan aneh dan curiga. Sebaliknya Tn. Goliadkin juga mencuri pandang ke arah dokter dengan lirikan sekilas penuh curiga.

“Saya, Krestyan Ivanovich,” Tn. Goliadkin mulai melanjutkan dengan nada seperti sebelumnya, sedikit kesal dan bingung oleh kegigihan membatu Krestyan Ivanovich, “Saya, Krestyan Ivanovich, menyukai ketenangan, bukan kebisingan duniawi. Jika berada di sana, maksud saya, di tengah masyarakat umum, Krestyan Ivanovich, seseorang harus tahu cara menggosok lantai dengan satu kaki…” (Kaki Tn. Goliadkin menggesek lantai dengan pelan.) “Itulah yang dibutuhkan di sana, Tuan, dan juga butuh melontarkan lelucon…tahu bagaimana caranya merangkai sanjungan berbunga-bunga, Tuan…itulah yang dibutuhkan di sana. Dan saya tak pernah mempelajari hal itu, Krestyan Ivanovich—saya tak pernah mempelajari semua kecakapan itu; saya tak punya waktu.


Diambil dari novel Kembar, halaman 15-16.

Posted on

Kelahiran Eulenspiegel dan Bagaimana Ia Dibaptis Tiga Kali [Cerpen]

Di kota Brunswick ada sebuah hutan bernama Seib, dan di hutan ini ada dusun Kneitlingen, di mana Eulenspiegel yang baik hati dilahirkan.

Hidup anak ini tidak sesuai dengan pepatah lama yang berbunyi ‘ayah dan anak sama saja’, karena ayahnya yang bernama Elaus Eulenspiegel adalah pria pendiam dan bermartabat, dan ibunya, Anna, adalah tipikal perempuan pada umumnya, karena ia lemah lembut dan tidak banyak bicara. Sejauh kita tahu, tak ada situasi khusus berkenaan dengan kelahiran tokoh kita ini. Oleh karena itu, mungkin kelahirannya tak begitu berbeda dengan kelahiran anak pada umumnya. Tapi sempat tercatat bahwa anak ini menjalani tiga kali pembaptisan.

Di dusun tempat ia lahir tampaknya tak ada gereja, sehingga ketika tiba waktu ia harus dibaptis maka ia pun dikirim oleh orangtuanya ke dusun Amptlen, di mana ia mendapatkan nama Till Eulenspiegel. Tempat itu masih dikenang sebagai tempat diadakannya upacara ini, karena di dekat sana ada sebuah kastil dengan nama yang sama, yang kemudian dihancurkan oleh penduduk Magdeburgh dengan bantuan penduduk sekitar karena menjadi sarang perampok.

Pada waktu itu, ada tradisi setempat di mana bapak dan ibu baptis—bersama dengan inang pengasuh dan si anak—harus beristirahat di sebuah kedai minum setelah pembaptisan usai untuk merayakannya, dan dalam kesempatan itu ritual ini tak terlewatkan. Karena jarak antara kedai minum dan gereja itu cukup jauh, apalagi hari sangat panas, rombongan mereka jadi agak berlebihan dalam menikmati hidangan, menunda perjalanan pulang selama mungkin.

Meski begitu, akhirnya mereka harus pulang juga; dan si inang pengasuh yang kepalanya agak mabuk dan langkahnya tak begitu tegap lagi itu dengan mata agak berkunang-kunang memandang jalanan sempit dan menurun di depannya yang menuju ke sebuah selokan berlumpur, dan mendapat firasat buruk tentang apa yang akan terjadi pada perjalanan mereka. Makin dekat langkahnya ke parit yang ia takuti itu, kecemasannya makin meningkat; dan si bayi Till, entah karena si inang memeluknya lebih erat atau apakah dia pun punya firasat bahaya, mulai menendang dan berontak di dalam pelukan inangnya, sehingga ketika si inang berhenti di tepi tempat berbahaya itu demi mendapatkan kembali ketegaran langkah dan keberanian, hal tersebut sama sekali tidaklah berguna, karena setelah satu kakinya menginjak batu yang kurang kokoh gerakan berontak si bayi membikin si inang terpeleset, dan si bayi pun terlempar ke selokan. Tapi karena ada banyak tanaman liar yang sukar diberantas maka si anak pun tidak terluka, dan hanya berlumuran lumpur. Maka ia pun dibawa pulang dan dimandikan.

Begitulah, si Eulenspiegel di hari yang sama dibaptis sebanyak tiga kali. Pertama, pembaptisan secara resmi, kedua di dalam lumpur selokan, dan ketiga di dalam air hangat untuk membersihkannya dari lepotan tanah. Ini adalah peristiwa simbolis yang menandai banyak kemalangan di masa depannya, karena nasib buruk pasti akan menimpa orang yang berbuat salah.


Cerpen ini dimuat dalam Kisah-Kisah Kocak.

Posted on

Sang Peri [Cerpen]

Pada zaman dahulu ada seorang janda yang mempunyai dua orang anak gadis. Anak yang lebih tua begitu mirip dengannya, baik dari sisi wajah maupun watak, sehingga siapa pun yang melihat si anak akan seperti sedang melihat ibunya. Mereka sama-sama angkuh dan tidak enak diajak bicara sehingga tak ada yang mau hidup bersama mereka. Anak yang lebih muda sangat mirip dengan ayahnya dalam hal halusnya perasaan maupun budi pekerja, dan karenanyalah ia menjadi gadis paling cantik yang pernah ada. Karena secara alamiah orang menyukai kesamaan, maka si ibu mencurahkan rasa sayangnya pada si sulung, dan di saat bersamaan sangat tidak menyukai si bungsu. Ia suruh anak itu makan di dapur dan bekerja terus-menerus.

Di antara berbagai kewajiban, anak malang ini harus pergi dua kali sehari mencari air sejauh lebih dari dua kilometer dari rumah dan membawa pulang satu buyung penuh. Suatu hari, ketika sedang berada di mata air ini, ada seorang wanita tua miskin yang meminta air padanya.

“Oh, ya, dengan senang hati, Bu!” kata gadis manis ini. Ia basuh buyungnya, mengambil air paling jernih dari sumber itu, dan memberikannya pada si wanita tua. Ia memegang buyung itu dengan cara tertentu sehingga wanita tua itu jadi lebih mudah untuk minum.

Sambil terus minum, wanita miskin itu berkata:

“Kau cantik, baik hati, dan sopan, sehingga aku tak bisa menahan diri untuk memberimu hadiah.” Karena wanita desa miskin itu sebenarnya adalah jelmaan peri, maka ia bermaksud menguji sampai sejauh mana gadis cantik ini akan terus berbaik hati.

“Aku berikan kau satu hadiah,” lanjut sang peri, “yaitu bahwa setiap kata yang kau ucapkan akan keluar bersama setangkai bunga atau batu mulia.”

Ketika gadis cantik ini pulang, ia dimarahi ibunya karena tinggal terlalu lama di mata air.

“Maafkan aku, Ibu,” kata gadis malang ini, “karena tidak buru-buru pulang.”

Dan bersama ucapan itu, keluarlah dari mulutnya dua tangkai mawar, dua butir mutiara, dan dua butir permata.

“Pemandangan apa yang kulihat ini?” kata si ibu keheranan. “Tampaknya yang keluar dari mulutnya itu adalah mutiara dan permata! Bagaimana bisa itu terjadi, anakku?”

Inilah pertama kalinya wanita itu memanggil si gadis dengan sebutan ‘anakku.’

Si gadis mengisahkan dengan jujur semua peristiwa itu, sementara permata terus berguguran dari mulutnya.

“Sungguh,” kata si ibu, “aku harus mengirimkan anakku yang satunya lagi ke sana. Fanny, lihatlah apa yang keluar dari mulut adikmu itu saat ia bicara. Tidakkah kau akan gembira jika mendapat hadiah yang sama? Kau hanya perlu pergi ke sana dan mengambil air dari sumbernya, dan ketika seorang wanita miskin meminta air padamu maka berikanlah air padanya dengan sangat sopan.”

“Aku sendiri sangat ingin pergi ke sumber itu untuk mengambil air,” kata gadis perayu yang buruk perangai ini.

“Kusuruh kau dengan sangat,” kata si ibu, “dan saat ini juga.”

Gadis itu pun berangkat, tapi ia mengomel sepanjang jalan sambil membawa buyung perak terbaik dari rumah.

Tak lama setelah ia sampai di mata air itu ia melihat seorang wanita berpakaian semarak datang mendekat dari arah hutan, dan meminta air padanya. Ini adalah peri yang sebelumnya menampakkan diri di depan adiknya, hanya saja kini ia menjelma sebagai seorang puteri, untuk melihat akan sejauh mana sikap kasar gadis ini.

“Apakah aku datang ke sini hanya demi melayani kebutuhanmu akan air?” kata si gadis angkuh dan berperangai buruk itu. “Jadi buyung perak ini kubawa ke sini khusus untuk melayani Nyonya, begitu? Tapi boleh juga kau minum dari buyungku ini, kalau kau anggap itu pantas.”

“Kau sama sekali tidak sopan,” sahut sang peri, tanpa rasa marah. “Nah, kalau begitu karena kau tidak patuh maka akan kuberi kau hadiah, yaitu bahwa setiap kali kau bicara maka seekor ular atau kodok akan meloncat keluar dari mulutmu.”

Segera setelah si ibu melihatnya pulang, ia memekik:

“Ah, anakku?”

“Ah, ibu?” sahut gadis kasar ini, dan meloncatlah dari mulutnya seekor ular dan seekor kodok.

“Ya ampun!” pekik ibunya. “Apa yang kulihat ini? Apakah ini gara-gara adiknya? Dia harus bertanggung jawab atas hal ini,” dan ia pun segera memukul anak gadisnya yang baik hati. Gadis malang itu pun lari dan bersembunyi dalam hutan terdekat.

Sang pangeran yang baru saja pulang dari berburu berjumpa dengannya, dan karena mendapati betapa gadis itu amatlah cantik maka sang pangeran pun merasa perlu untuk bertanya tentang apa yang ia lakukan di situ dan kenapa ia menangis.

“Aduh, Tuan, ibu saya mengusir saya dari rumah.”

Sang pangeran yang melihat lima atau enam butir mutiara dan permata keluar dari mulutnya menjadi sangat berhasrat untuk tahu bagaimana itu bisa terjadi. Maka gadis itu menceritakan seluruh kisahnya. Sang pangeran jadi jatuh cinta padanya, dan setelah menimbang bahwa hadiah dari peri itu lebih berharga dari yang bisa diberikan pengantin perempuan mana pun, maka ia membawa gadis itu ke istana untuk menghadap ayahnya, sang raja, dan ia pun menikahinya di sana.

Adapun tentang si sulung, ia telah membuat dirinya begitu dibenci sehingga ibunya sendiri pun mengusir dia dari rumah. Gadis malang ini berkeliaran kesana-kemari, dan karena tak menemukan seorang pun yang mau memungutnya, ia pun masuk ke dalam hutan dan mati di sana.


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Dongeng karya Charles Perrault.

Posted on

Dongeng-Dongeng Perrault [Esai]

Kelebihan apa yang dimiliki kisah-kisah ini sehingga mereka tetap hidup dalam waktu sekian lama? Dalam taraf tertentu mereka telah memantik dan memberi asupan energi yang sangat bernilai bagi kehidupan individu dan masyarakat. Bagi generasi muda, perjuangan melawan keserakahan, kedustaan, keangkuhan, dan kepengecutan sangatlah nyata, dan situasi di mana tantangan mendasar sehari-hari ini terlibat adalah situasi yang sangat penting sekaligus serius. Bagi orang dewasa, balasan atas perbuatan baik dan hukuman atas perbuatan jahat yang tergambar dalam kisah-kisah ini tampak begitu realistis, juga amat sangat tegas; tapi lain halnya bagi anak-anak. Mereka mempunyai kesadaran yang sangat konkret tentang benar dan salah, dan mereka menuntut hasil yang jelas, eksplisit, dan nyata bagi segala jenis tindakan. Mereka harus mempunyai contoh yang konkret dan terang, dengan hasil yang jelas di hadapan mereka.

Seorang anak yang sopan dan berbakti akan menguat kualitas kebaikannya, sementara dia yang tak mempunyai keduanya akan tersadarkan sampai dalam taraf tertentu dengan mengikuti perjalanan hidup Cinderella. Arogansi dan keegoisan akan membawa ketidakbahagiaan dalam dunia khayal ini, dan akan seperti itu pula keadaannya di dunia nyata; jadi lebih baik jangan berteman dengan dua tabiat itu, dan menggantinya dengan tabiat lembut, baik hati, dan setia. Dan setiap orang bisa menjadi bermanfaat bagi sesamanya hanya jika pikirannya lurus. Seorang bocah yang merasa diperlakukan tak adil karena hanya mendapat warisan seekor kucing akan mengambil hikmah betapa bahkan seekor binatang kecil dan tampak lemah mungkin akan banyak membantu kalau ia memperlakukannya secara baik. Ada orang mungkin berpikir Si Jempol tak berguna bagi siapa pun, tapi ternyata ia mengajarkan pada anak-anak bahwa menjadi baik hati, berguna, dan setia kawan adalah soal kemauan.

Demi memberi tampilan baru pada edisi ini, penerjemah berusaha keras mempertahankan karakteristik gaya lama, sambil menghindari gaya formal dan kaku ala Johnsonian yang sedang menjadi tren saat naskah ini pertama kali diterjemahkan.

M. V. O’Shea
University of Winconsin


Ilustrasi: portrait of 1671, now at the Musée de Versailles, by an unknown artist.

Esai ini dimuat sebagai pengantar dalam Kumpulan Dongeng karya Charles Perrault.

Posted on

Kronologi Fyodor Dostoevsky [Biografi]

Dostoevsky

1821
Fyodor Mikhailovich Dostoevsky lahir di Moskow, anak kedua dari pasangan Mikhail Andreyevich Dostoevsky dengan Maria Fyodorovna.

1837
Sang ibu, Maria Fyodorovna, meninggal akibat tuberkulosis.

1838
Masuk ke St. Petersburg Military Engineering-Technical University.

1839
Sang ayah meninggal, kemungkinan dibunuh oleh pelayannya sendiri.

1843
Menerbitkan terjemahan karya Balzac, Eugénie Grandet.

1846
Terbit karya pertamanya berjudul Poor Folk yang langsung menuai sukses besar.

1846
Karya keduanya, novela The Double, terbit.

1847
Menerbitkan sejumlah cerpen, antara lain Polzunkov, An Honest Thief, White Nights.

1849
Ditahan atas tuduhan menentang tsar dan dijatuhi hukuman mati, tapi pada detik terakhir, dalam kondisi sudah dihadapkan di depan regu tembak, hukumannya diganti jadi hukuman buang ke Siberia.

1854
Dibebaskan dari penjara di Siberia tetapi diwajibkan berdinas militer di Semipalatinks.

1857
Menikah dengan seorang janda, Maria Dimitriyevna Isayeva. Menerbitkan cerpen A Little Hero.

1858
Menerbitkan The Village of Stepanchikovo dan Uncle’s Dream.

1859
Kembali ke St. Petersburg setelah sepuluh tahun diasingkan.

1861
Menerbitkan The Insulted and Injured dan The House of the Dead, yang ditulis berdasarkan pengalamannya diasingkan ke Siberia.

1862
Melawat ke Jerman, Inggris, Swiss, dan Italia. Pengalaman selama mengunjungi negara-negara ini kelak dituangkan dalam Winter Notes on Summer Impressions.

1864
Istrinya meninggal. Menerbitkan Notes from the Underground.

1866
Menerbitkan Crime and Punishment dan The Gambler, yang ditulis untuk melunasi utang judi.

1867
Menikah lagi dengan Anna Grigoryevna Snitkina. Keduanya bepergian dan tinggal di luar negeri selama empat tahun untuk menghindari kejaran utang. Sempat tinggal di Genewa, Florence, Wina, Praha, dan Dresden.

1869
The Idiot terbit.

1871
Kembali ke Rusia.

1872
Menerbitkan Demons.

1873
Mulai menulis A Writer’s Diary, kolom bulanan yang memuat esai dan cerpennya.

1875
Menerbitkan The Adolescent.

1880
Brothers Karamazov terbit.

1881
Fyodor Dostoyevsky meninggal di St. Petersburg.

(Foto oleh Vasili Perov, 1872)