Posted on

Seni Perang Bab 1

BAB I
PENILAIAN STRATEGIS


SUN TZU

Aksi militer penting bagi bangsa—ia adalah tanah bagi kematian dan kehidupan, jalan bagi kelangsungan hidup dan kehancuran, maka sangat penting untuk dikaji.

LI QUAN
Aksi militer tidak bersifat menguntungkan—ia dianggap penting hanya karena ia adalah soal hidup dan mati, sehingga ada kemungkinan ia dianggap enteng.

DU MU
Kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah negeri dan kehidupan atau kematian rakyatnya dapat tergantung pada aksi militer, karena itu perlu dikaji dengan cermat.

JIA LIN
Tanah berarti lokasi, tempat yang telah ditentukan untuk berperang—dapatkan keuntungannya maka kamu hidup, kehilangan keuntungannya maka kamu mati. Jadi, aksi militer disebut tanah bagi kehidupan dan kematian. Jalan berarti cara menyesuaikan dengan situasi dan menjamin kemenangan—temukan ini maka kamu bertahan hidup, kehilangan ini maka kamu binasa. Itulah mengapa dikatakan ia sangat penting untuk dikaji. Sebuah dokumen kuno mengatakan, “Ada sebuah jalan untuk bertahan hidup, yang membantu dan membuatmu kuat; ada sebuah jalan kehancuran, yang membuatmu terlupakan.”

MEI YAOCHEN
Apakah kamu hidup atau mati, itu tergantung pada konfigurasi medan perang; apakah kamu bertahan hidup atau binasa, itu tergantung pada cara berperang.

SUN TZU
Jadi, ukurlah dari segi lima hal, gunakan penilaian ini dalam membuat perbandingan, kemudian cari keterangan bagaimana kondisinya. Lima hal itu ialah jalan, cuaca, medan, kepemimpinan, dan disiplin.

DU MU
Lima hal yang harus dinilai—jalan, cuaca, letak tanah, kepemimpinan, dan disiplin. Ini harus dinilai di markas besar—pertama-tama nilai dirimu dan lawanmu dari segi lima hal ini, putuskan siapa yang lebih unggul. Kemudian kamu dapat menentukan siapa yang mungkin menang. Setelah menentukan, barulah kamu dapat memobilisasi pasukanmu.

CAO CAO
Penilaian atas hal-hal berikut dibuat di markas besar: kepemimpinan, lawan, medan, kekuatan pasukan, jarak, dan bahaya terkait.

WANG XI
Nilailah kepemimpinan, kondisi lingkungan, disiplin, pasukan, para perwira, sistem penghargaan, dan hukuman.

WANG XI
Suasana harmonis di antara orang-orang adalah dasar dari Jalan operasi militer; cuaca yang tepat dan posisi yang menguntungkan bersifat membantu. Jika ketiga unsur ini hadir, maka inilah saatnya membahas mobilisasi pasukan. Memobilisasi pasukan membutuhkan kemampuan di pihak pimpinan. Jika pimpinan mampu, akan ada disiplin yang baik.

SUN TZU
Jalan berarti meyakinkan orang-orang agar mempunyai tujuan yang sama dengan pimpinan, sehingga mereka bersedia menghadapi kematian dan kehidupan secara bersama-sama, tanpa takut pada bahaya.

CAO CAO
Ini berarti membimbing mereka dengan petunjuk dan arahan. Bahaya berarti ketidakpercayaan.

ZHANG YU
Jika orang-orang diperlakukan dengan kebajikan, kesetiaan, dan keadilan, maka mereka akan satu pikiran, dan akan senang untuk melayani. I Ching berkata, “Riang dalam kesulitan, orang-orang melupakan kematiannya.”

DU MU
Jalan berarti kemanusiaan dan keadilan. Pada zaman kuno, seorang menteri negara terkenal bertanya kepada seorang filsuf politik tentang masalah militer. Sang filsuf berkata, “Kemanusiaan dan keadilan adalah sarana untuk memerintah dengan benar. Ketika pemerintahan dijalankan dengan benar, rakyat merasa dekat dengan pimpinan dan siap mati untuknya.”

JIA LIN
Jika para pemimpin bisa bersikap manusiawi dan adil, berbagi keuntungan maupun kesulitan dengan rakyat, maka pasukan akan setia dan secara alamiah menyamakan kepentingannya dengan kepentingan pimpinan.

SUN TZU
Cuaca berarti musim-musim.

CAO CAO
Aturan militer kuno menyatakan bahwa operasi tidak boleh dilakukan di musim dingin atau musim panas, karena tidak memperhatikan kondisi rakyat.

ZHANG YU
Pada zaman kuno banyak pasukan kehilangan jari karena radang dingin dalam operasi militer melawan bangsa Hun, dan banyak pasukan tewas karena wabah dalam operasi militer melawan suku-suku selatan. Ini akibat melakukan operasi di musim dingin dan musim panas.

WANG XI
Jangan masuk ke wilayah lawan pada waktu yang tak menguntungkan.

SUN TZU
Medan harus dinilai dari segi jarak, kesulitan atau kemudahan perjalanan, dimensi, dan keamanan.

ZHANG YU
Dalam setiap operasi militer, pertama-tama yang penting adalah mengetahui tata letak tanah. Setelah mengetahui jarak yang akan ditempuh, maka kamu dapat merencanakan apakah akan berjalan lurus atau dengan rute memutar. Ketika kamu mengetahui kesulitan atau kemudahan perjalanan, maka kamu dapat menentukan keuntungan-
keuntungan infantri atau pasukan berkuda. Ketika kamu mengetahui dimensi-dimensi wilayah, maka kamu dapat menilai berapa pasukan yang kamu butuhkan, banyak atau sedikit. Ketika kamu mengetahui keamanan relatif suatu medan, maka kamu dapat menentukan apakah akan berperang atau bubar.

SUN TZU
Kepemimpinan adalah masalah kecerdasan, keterpercayaan, kemanusiaan, keberanian, dan ketegasan.

CAO CAO
Seorang jenderal harus memiliki lima kebajikan ini.

DU MU
Jalan raja-raja kuno adalah mengutamakan kemanusiaan, sedangkan seniman perang menganggap kecerdasan adalah yang utama. Ini karena kecerdasan melibatkan kemampuan untuk merencanakan dan mengetahui kapan harus berubah secara efektif. Keterpercayaan berarti membuat orang yakin akan hukuman atau penghargaan. Kemanusiaan berarti cinta dan belas kasih kepada orang-orang, mengakui kerja keras mereka. Keberanian berarti merebut semua peluang untuk memastikan kemenangan, tanpa ragu-ragu. Ketegasan berarti menegakkan disiplin dalam barisan dengan hukuman yang tegas.

JIA LIN
Mengandalkan kecerdasan saja akan menghasilkan pemberontakan. Olah kemanusiaan saja akan menghasilkan kelemahan. Terpaku pada kepercayaan menghasilkan kebodohan. Hanya bergantung pada keberanian menghasilkan kekerasan. Ketegasan yang berlebihan dalam memberi perintah akan menghasilkan kekejaman. Jika seseorang memiliki kelima kebajikan itu sekaligus, dan masing-masing sesuai fungsinya, maka dia bisa menjadi pemimpin militer.

SUN TZU
Disiplin berarti organisasi, rantai komando, dan logistik.

MEI YAOCHEN
Organisasi berarti pasukan harus dikelompokkan secara teratur. Rantai komando berarti harus ada perwira-perwira untuk menjaga kesatuan pasukan dan memimpin mereka. Logistik berarti mengawasi perbekalan.

SUN TZU
Setiap jenderal telah mendengar tentang lima hal ini. Mereka yang mengetahuinya akan menang, mereka yang tak mengetahuinya tak akan menang.

ZHANG YU
Setiap orang telah mendengar tentang lima hal ini, tetapi hanya mereka yang sangat memahami prinsip-prinsip penyesuaian dan kebuntuannya yang akan menang.

SUN TZU
Gunakan penilaian ini sebagai perbandingan, untuk mengetahui bagaimana kondisinya. Artinya, pimpinan politik mana yang memiliki Jalan? Jenderal mana yang punya kemampuan? Siapa yang memiliki iklim dan medan yang lebih baik? Disiplin siapa yang efektif? Pasukan siapa yang lebih kuat? Perwira dan prajurit siapa yang lebih terlatih? Sistem penghargaan dan hukuman siapa yang lebih jelas? Beginilah cara untuk mengetahui siapa yang akan menang.

LI QUAN
Seorang pemimpin politik yang memiliki Jalan pasti mempunyai kepemimpinan militer yang memiliki kecerdasan dan kemampuan.

DU MU
Tanyakan pada dirimu sendiri kepemimpinan politik mana—punyamu sendiri atau musuhmu—yang mampu menolak penjilat dan menarik orang bijak.

DU YOU
Jalan berarti kebajikan. Pertama-tama perlulah membandingkan kepemimpinan politik bangsa-bangsa yang berperang.

MEI YAOCHEN
Pertanyaan menyangkut kepemimpinan politik adalah, siapa yang mampu merebut hati rakyat.

HO YANXI
Dokumen klasik kuno mengatakan, “Orang yang memperlakukanku dengan baik adalah pemimpinku, orang yang memperlakukanku dengan kejam adalah musuhku.” Pertanyaannya adalah, pihak mana yang memiliki pemerintahan yang manusiawi, dan pihak mana yang memiliki pemerintahan yang kejam.

ZHANG YU
Pertama-tama bandingkan kepemimpinan politik kedua bangsa yang sedang berperang, mana yang memiliki Jalan kebajikan dan itikad baik. Kemudian amatilah kepemimpinan militer—siapa yang memiliki kecerdasan, kepercayaan, kemanusiaan, keberanian, dan ketegasan. Sekarang pertimbangkan pihak mana yang memiliki keuntungan letak georgrafis.

CAO CAO
Buat aturan yang tak akan dilanggar, jangan lengah untuk menghukum pelanggar.

DU MU
Dalam hal menetapkan hukum dan peraturan, setiap orang, tinggi dan rendah, harus diperlakukan setara.

DU YOU
Bandingkan perintah siapa yang lebih efektif—yang tak berani dilanggar oleh bawahannya.

MEI YAOCHEN
Buat semua orang setara di mata hukum.

WANG XI
Lihat siapa yang mampu membuat aturan yang jelas dan perintah yang mudah diikuti, sehingga orang mendengarkan dan mematuhinya.

DU MU
(Mengenai masalah kekuatan dan pelatihan) Ketika atasan dan bawahan berada dalam kondisi harmonis, sama-sama berani dalam perperangan, itulah yang membentuk kekuatan.

DU YOU
Cari tahu persenjataan siapa yang lebih efektif, dan pasukan siapa yang dipilih dengan cermat dan terlatih dengan baik. Seperti yang dikatakan, “Jika pasukan tidak berlatih setiap hari, di garis depan mereka akan takut dan ragu-ragu. Jika para jenderal tidak berlatih setiap hari, di garis depan mereka tidak akan tahu bagaimana beradaptasi.”

DU MU
(Beralih ke topik hukuman dan penghargaan) Hadiah tidak boleh berlebih-lebihan, hukuman tidak boleh sewenang-wenang.

DU YOU
Cari tahu sistem hadiah atas kebaikan dan hukuman atas keburukan siapa yang ditetapkan secara jelas. Seperti yang dikatakan, “Jika hadiah berlebihan, akan ada pengeluaran yang tak menumbuhkan rasa terima kasih; jika hukuman berlebihan, akan ada pembantaian yang tak menumbuhkan rasa hormat.”

MEI YAOCHEN
Jika orang pantas mendapatkan penghargaan, ini sepatutnya diperhatikan meski kamu secara pribadi membenci orang itu. Jika orang pantas mendapatkan hukuman, ini tidak boleh diabaikan sekalipun orang itu dekat denganmu.

CAO CAO
(Menyimpulkan) Dengan menilai ketujuh hal ini kamu dapat mengetahui siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

MEI YAOCHEN
Jika kamu bisa mengetahui kondisi-kondisi yang nyata, maka kamu akan tahu siapa yang menang.

ZHANG YU
Jika kamu lebih unggul dalam ketujuh hal ini, kamu telah menang bahkan sebelum berperang. Jika kamu lebih rendah dalam ketujuh hal ini, kamu telah kalah bahkan sebelum berperang. Jadi, sejak awal dimungkinkan untuk mengetahui siapa pemenangnya.

SUN TZU
Taksirlah keuntungan-keuntungan dari nasihat yang diberikan, kemudian susunlah pasukanmu sesuai dengan itu, untuk melengkapi taktik yang luar biasa. Pasukan harus disusun secara strategis, berdasarkan hal-hal yang menguntungkan.

CAO CAO
Struktur tergantung pada strategi: strategi ditentukan berdasarkan kejadian-kejadian.

SUN TZU
Operasi militer melibatkan penipuan. Meski kamu kompeten, tampakkan seolah kamu tidak kompeten. Meski kamu efektif, tampakkan seolah kamu tidak efektif.

CAO CAO
Operasi militer tidak memiliki bentuk standar—ia berjalan dengan tipu daya.

MEI YAOCHEN
Tanpa tipu daya kamu tidak dapat menjalankan strategi, tanpa strategi kamu tidak dapat mengendalikan lawan.

WANG XI
Penipuan ditujukan untuk mencari kemenangan dari musuh; untuk memimpin sebuah kelompok dibutuhkan kejujuran.

ZHANG YU
Meski nyatanya kuat, tampakkan seolah lemah; meski nyatanya berani, tampakkan seolah pengecut.

DU YOU
Artinya, ketika kamu benar-benar kompeten dan efektif, tampakkan di luar bahwa kamu tidak kompeten dan tidak efektif, agar membuat musuh tidak mempersiapkan diri.

WANG XI
Saat kuat, tampakkan seolah lemah. Berani, tampilkan seolah takut. Tertib, tampilkan seolah kacau. Penuh, tampilkan seolah kosong. Bijaksana, tampilkan seolah bodoh. Banyak, tampilkan seolah sedikit. Maju, tampilkan seolah mundur. Gesit, tampilkan seolah lamban. Ingin merebut, tampilkan seolah menjauh. Berada di satu tempat, tampilkan seolah berada di tempat lain.

ZHANG YU
Saat kamu ingin maju berperang, buatlah seolah kamu sedang ingin mundur. Saat kamu ingin bergerak cepat, buatlah seolah kamu tenang-tenang saja.

SUN TZU
Saat kamu akan menyerang yang dekat, buatlah seolah kamu akan pergi ke tempat yang jauh; ketika kamu akan menyerang yang jauh, buatlah seolah kamu sedang menuju yang dekat.

LI QUAN
Ini menyebabkan lawan tidak siap.

SUN TZU
Pikatlah mereka dengan prospek mendapat kemenangan, kuasai mereka di saat mereka bingung.

MEI YAOCHEN
Jika mereka tamak, pancing mereka dengan barang-barang.

ZHANG YU
Tunjukkan pada mereka sedikit prospek keuntungan untuk memikat mereka, lalu serang dan kalahkan mereka.

DU MU
Saat musuh sedang kebingungan, kamu bisa menggunakan kesempatan ini untuk kemudian mengalahkan mereka.

JIA LIN
Saya akan menyuruh penyelundup licik untuk membingungkan mereka, lalu menunggu sampai mereka kacau-
balau untuk mengalahkan mereka.

ZHANG YU
Gunakan tipu daya untuk membuat mereka bingung, kecoh mereka agar mereka mudah dikalahkan. Ketika negara Wu dan Yue sedang berperang satu sama lain, Wu mengirimkan tiga ribu penjahat untuk memberi kesan kacau-balau sekaligus untuk memancing Yue. Sebagian penjahat melarikan diri, sebagian lagi menyerah; pasukan Yue berperang dengan para penjahat itu, hanya untuk dikalahkan oleh pasukan Wu.

SUN TZU
Ketika mereka merasa terpenuhi, bersiaplah melawan mereka; ketika mereka kuat, hindarilah mereka.

DU MU
Jika pemerintahan musuh terpenuhi—artinya ada saling menyayangi di antara penguasa dan yang dikuasai, ada kejelasan dan kepercayaan dalam sistem hadiah dan hukuman, dan para prajurit terlatih dengan baik—maka kamu harus waspada terhadap mereka. Jangan tunggu hingga terjadi bentrokan, baru kamu membuat persiapan. Ketika militer musuh kuat, kamu harus menghindarinya untuk sementara waktu, tunggu sampai mereka mengendur, amati celah untuk menyerang.

CHEN HAO
Jika musuh tidak bergerak, ia lengkap dan terpenuhi, maka kamu harus mempersiapkan diri secara hati-hati. Buatlah dirimu pun terpenuhi, agar siap menghadapi mereka.

HO YANXI
Jika kamu hanya melihat rasa puas pada musuh, dan tidak melihat celah apa pun, maka kamu harus membangun kekuatanmu untuk bersiap.

ZHANG YU
Sebuah ungkapan klasik mengatakan, “Bergumullah dengan mereka, maka kamu menemukan di mana keberlimpahan mereka dan di mana kekurangan mereka.” Keberlimpahan itulah yang dimaksud dengan terpenuhi, sedangkan yang dimaksud dengan kekurangan adalah mempunyai celah-celah. Ketika kekuatan militer musuh penuh, kamu harus memperlakukan mereka seolah mereka tidak terkalahkan, dan jangan menyerang begitu saja. Seperti yang dikatakan seorang pemandu militer, “Ketika kamu melihat celah, majulah; ketika kamu melihat kepenuhan, berhentilah.”

JIA LIN
Agar yang lemah dapat mengendalikan yang kuat, secara logis maka perlulah menunggu perubahan.

DU YOU
Ketika gudang mereka penuh dan pasukan mereka dalam kondisi prima, kamu harus mundur untuk mencari celah di saat mereka bersantai. Amatilah setiap kesempatan dan bertindak sesuai dengannya.

SUN TZU
Manfaatkan amarah untuk membuat mereka berantakan.

CAO CAO
Tunggu hingga mereka menjadi bobrok dan malas.

LI QUAN
Ketika pimpinan militer sering dibuat marah, strateginya mudah dibuat kacau, karena sifatnya menjadi tidak stabil.

DU MU
Ketika pimpinan militer mereka kekanak-kanakan, buatlah mereka jengkel agar mereka menjadi marah—lalu mereka akan menjadi terburu nafsu dan mengabaikan strategi semula.

MEI YAOCHEN
Jika mereka gampang naik darah, panas-panasilah agar mereka mendidih sehingga mereka pergi berperang dengan sembrono.

ZHANG YU
Jika mereka keji dan mudah marah, permalukan mereka agar moral mereka terganggu—lalu mereka akan maju dengan ceroboh, tanpa menyusun rencana.

SUN TZU
Bersikaplah rendah hati untuk membuat mereka angkuh.

LI QUAN
Jika mereka memberimu hadiah yang mahal dan ucapan yang manis, mereka sedang merencanakan sesuatu.

DU YOU
Ketika mereka mulai terhasut dan hendak bergerak, maka kamu harus berpura-pura takut, agar semangat mereka bangkit; tunggulah sampai mereka mengendur, lalu satukan kembali barisanmu dan seranglah.

MEI YAOCHEN
Berikan kesan tidak mampu berbuat apa-apa dan lemah, sehingga mereka menjadi sombong.

WANG XI
Tampakkan pada mereka hina dan lemah, agar mereka sombong—maka mereka tidak akan mengkuatirkanmu, dan kamu bisa menyerang mereka saat mereka bersantai.

SUN TZU
Buatlah mereka lelah karena harus melarikan diri.

CAO CAO
Lakukan gerakan-gerakan cepat untuk melelahkan mereka.

WANG XI
Ini berarti melancarkan banyak serangan mendadak. Ketika mereka keluar, kamu kembali; ketika mereka kembali, kamu keluar. Ketika mereka membantu sayap kiri, serang sayap kanan; ketika mereka membantu sayap kanan, serang sayap kiri. Dengan cara ini kamu bisa melelahkan mereka.

ZHANG YU
Dengan cara ini, kekuatanmu akan tetap utuh, sementara mereka akan melemah.

SUN TZU
Timbulkan perpecahan di antara mereka.

CAO CAO
Kirim para penyusup untuk menimbulkan perpecahan di antara mereka.

LI QUAN
Buat mereka tidak sepakat, piculah perpecahan di antara pemimpin dan menteri mereka, lalu serang.

DU MU
Artinya jika ada hubungan yang baik di antara pimpinan musuh dan pengikutnya, maka kamu harus menggunakan suap untuk menimbulkan perpecahan.

CHEN HAO
Jika mereka pelit, kamu murah hati; jika mereka kasar, kamu bersikap lunak. Dengan begitu, para pemimpin dan pengikutnya akan saling curiga, dan kamu bisa menimbulkan perpecahan di antara mereka.

DU YOU
Bujuk mereka dengan iming-iming keuntungan, kirim para penyusup ke tengah-tengah mereka, suruh orang yang pandai bermanis kata memakai tipu daya untuk mengambil hati para pemimpin dan pengikutnya, pecah belahlah organisasi dan kekuasaan mereka.

ZHANG YU
Kamu bisa menimbulkan perpecahan di antara para pemimpin dan pengikutnya, atau di antara mereka dan sekutunya—timbulkan perpecahan, kemudian bidiklah mereka.

SUN TZU
Seranglah saat mereka tidak siap, lakukan pergerakan saat mereka tidak menduganya.

CAO CAO
Serang saat mereka mengendur, lakukan serangan saat celah mereka terbuka.

MENG SHI
Serang celah-celah mereka, serang saat mereka lemah, jangan biarkan musuh mempersiapkan diri. Inilah mengapa dikatakan bahwa dalam operasi militer, ketakberbentukan adalah yang paling efektif. Salah satu pejuang hebat pernah berkata, “Gerakan yang paling efisien adalah gerakan yang tak terduga; rencana terbaik adalah rencana yang tak diketahui.”

SUN TZU
Formasi dan prosedur yang digunakan oleh militer tidak boleh dibocorkan terlebih dulu.

CAO CAO
Membocorkan berarti menyiarkan. Militer tidak memiliki bentuk yang konstan, sebagaimana air tidak memiliki bentuk yang konstan—beradaptasilah saat kamu menghadapi musuh, tanpa memberi tahu mereka sebelumnya apa yang akan kamu lakukan. Jadi, penilaian atas musuh ada di dalam pikiran, observasi situasi ada di mata.

LI QUAN
Serang ketika mereka tidak siap dan tidak menduganya, maka kamu pasti menang. Inilah inti dari seni perang, dirahasiakan dan tidak dibocorkan.

DU MU
Membocorkan sesuatu berarti membicarakannya. Artinya, semua strategi yang disebutkan di awal untuk menjamin kemenangan militer tentu saja tidak bisa diseragamkan—pertama, lihat dulu formasi musuh, barulah terapkan strategi. Kamu tidak boleh mengatakan apa tindakan yang akan kamu ambil sebelum peristiwanya terjadi.

MEI YAOCHEN
Karena kamu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan tepat dalam menghadapi musuh, bagaimana mungkin kamu mengatakan duluan apa tindakan yang akan kamu ambil?

SUN TZU
Orang yang memperkirakan kemenangan di markas bahkan sebelum melakukan perperangan adalah orang yang memiliki faktor-faktor strategis paling banyak di pihaknya. Orang yang di markas sudah menyadari ketidakmampuan untuk menang sebelum melakukan perperangan adalah orang yang memiliki faktor-faktor strategis yang paling sedikit di pihaknya. Orang yang memiliki banyak faktor strategis yang menguntungkan akan menang, orang yang memiliki sangat sedikit faktor strategis yang menguntungkan akan kalah—terlebih lagi orang yang tak memiliki faktor strategis yang menguntungkan. Mengamati masalah dengan cara ini, saya bisa melihat siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

ZHANG YU
Jika strategimu dalam dan jauh jangkauannya, maka banyak yang dapat kamu peroleh dari perhitunganmu, sehingga kamu bisa menang bahkan sebelum berperang. Jika pemikiran strategismu dangkal dan berwawasan sempit, maka sedikit saja apa yang dapat kamu peroleh dari perhitunganmu, sehingga kamu kalah sebelum berperang. Strategi yang banyak menang atas yang sedikit, sehingga orang-orang yang tak memiliki strategi tidak bisa lain kecuali kalah. Jadi dikatakan bahwa pejuang yang berjaya menang sebelum pergi berperang, sementara pejuang pecundang pergi dulu berperang dan kemudian berusaha mencari kemenangan.

(Gambar: Sampul buku The Art of War edisi terjemahan Thomas Cleary)


Bab ini dimuat dalam Seni Perang karya Sun Tzu. Seni Perang terbitan Kakatua menggunakan edisi terjemahan Thomas Cleary, yang menurut para pengkaji Sun Tzu merupakan edisi yang paling mudah dipahami.

Posted on

Layla Majnun Bab 1


1

Alkisah, pada zaman dahulu, di negeri Arab, hiduplah seorang pemimpin kabilah, seorang Sayid, yang sangat termasyhur. Bani Amir nama kabilah itu. Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi kejayaan sang Sayid. Kegagahberaniannya telah masyhur di seluruh jazirah Arab. Kedermawanannya kepada para fakir miskin dan keramah-tamahannya dalam menjamu para musafir telah terkenal ke mana-mana. Namun, meskipun dicintai oleh semua orang dan mendapatkan tempat terhormat layaknya seorang sultan atau kalifah, dia tidak merasa bahagia. Sebuah kesedihan yang sangat mendalam menggerogoti hatinya dan menggelapkan hari-harinya. Sang Sayid tidak memiliki anak.

Apalah artinya kekuasaan yang besar dan kekayaan yang melimpah bagi seorang laki-laki apabila ia tidak memiliki anak? Apa gunanya kemuliaan dan kekuasaan bila tidak ada yang akan mewarisinya kelak? Apa artinya semua kesenangan hidup itu jika ia tidak dapat merasakan kebahagiaan dan keceriaan yang dibawa oleh seorang anak? Hal inilah yang selalu dipikirkannya sepanjang waktu. Dan, semakin ia memikirkannya, semakin besar kesedihannya. Tidak pernah ia berhenti berdoa kepada Tuhan agar dianugerahi seorang anak. Namun, doa-doanya tidak kunjung terkabul. Ia merindukan bulan purnama yang tak kunjung muncul, sebuah kebun mawar yang tak pernah berbunga. Meskipun demikian, ia tidak pernah berhenti berharap.

Keinginannya yang membara untuk memperoleh keturunan telah membakar jiwanya sampai pada suatu titik di mana ia melupakan semua hal lain. Karena satu hal yang sangat diidamkan hatinya, namun tidak dimilikinya, ia mengabaikan semua kenikmatan yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya—kesehatannya, kejayaannya, kekuasaannya. Namun, bukankah demikian sifat manusia? Ketika keinginan-keinginan kita tidak juga terpenuhi dan doa-doa yang selalu kita panjatkan tidak kunjung dikabulkan Tuhan, apa pernah kita berpikir bahwa itu semua Dia lakukan demi kebaikan kita? Kita selalu merasa yakin bahwa kita mengetahui apa yang kita butuhkan. Namun, kebutuhan seringkali keliru dengan keinginan. Dan hal-hal yang kita inginkan—namun tidak kita butuhkan—kadang menjadi penyebab kejatuhan kita. Tentu saja jika kita dapat melihat apa yang disimpan masa depan untuk kita, kita tidak akan pernah salah dalam mengajukan keinginan. Tapi masa depan adalah hal yang tersembunyi dari pandangan kita. Benang takdir seseorang terbentang jauh menembus dunia kasatmata, kita tidak dapat melihat ke mana ia akan berujung. Siapa yang dapat mengetahui bahwa kenikmatan pada hari ini dapat membawa kesengsaraan di keesokan hari, atau kesengsaraan pada hari ini akan berbuah kenikmatan di hari esok?

Dan demikianlah, sang Sayid selalu berdoa, berpuasa, dan berderma, hingga, ketika ia baru saja akan menyerah, Tuhan akhirnya mengabulkan permintaannya. Ia dianugerahi seorang anak laki-laki. Seorang anak yang cantik bagaikan sekuntum mawar yang baru merekah, laksana sebuah berlian yang kecemerlangannya dapat mengubah malam menjadi siang. Untuk merayakan kelahiran anak yang sangat didambanya itu, sang Sayid membuka pundi-pundi hartanya kemudian menebarkan emasnya seolah-olah emas itu adalah pasir. Ia ingin membagi kebahagiaannya kepada semua orang. Sebuah pesta perayaan besar-besaran pun diadakan.

Sang anak diasuh dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Seorang perempuan dipekerjakan untuk menyusui dan merawatnya agar kelak ia tumbuh menjadi seorang laki-laki yang besar, sehat, dan kuat. Dan memang begitulah kenyataannya. Empat belas hari setelah hari kelahirannya, sang bayi telah menyerupai bulan purnama dengan segala keelokannya, memancarkan cahaya ke seluruh permukaan bumi, dan mempesonakan mata semua orang yang memandangnya. Pada hari kelima belas, orangtuanya memberinya nama Qais. Namun semua ini mereka lakukan secara diam-diam, tersembunyi dari orang-orang, agar bayi itu terhindar dari pengaruh jahat.

Setahun telah berlalu, kecantikan bayi laki-laki itu telah merekah sempurna. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang ceria dan periang, sekuntum bunga yang dirawat dengan penuh kelembutan di dalam kebun mawar kebahagiaan masa kanak-kanak. Di akhir usianya yang ketujuh, garis-garis kedewasaan mulai tampak di pipinya yang merah mawar. Siapa pun yang memandangnya, bahkan dari kejauhan sekalipun, akan mendoakan keberkahan Tuhan atasnya. Dan, di akhir usianya yang kesepuluh, orang-orang mulai menceritakan kisah-kisah tentang ketampanannya, seolah-seolah mereka sedang mengisahkan sebuah dongeng.

(Lukisan: Adegan pertemuan terakhir Layla dengan Majnun, dari manuskrip kuno ‘Khamsa’)


Bab ini dimuat dalam Layla Majnun karya Nizami Ganjavi.

Posted on

Harta di Mesir [Cerpen]


Di Baghdad, hiduplah seorang lelaki yang mewarisi kekayaan besar. Berhubung masih muda dan tidak berpengalaman, dihabiskannya harta itu dengan sembrono dan segera saja, tak ada lagi uangnya yang tersisa. Nyaris menjadi gelandangan, dia berpaling kepada Tuhan, memohon untuk diselamatkan dan agar mendapatkan kembali kekayaannya. Dia menangis tak henti-henti, menyesal karena menyia-nyiakan apa yang telah berlalu dalam hidupnya dan tidak memiliki apa-apa lagi.

Suatu hari, setelah melewatkan waktu berjam-jam untuk meratap dan menangis, pemuda itu tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, sebuah suara menasihatinya agar pergi ke Mesir, di sana dia yakin akan menemukan harta karun yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun. Apa yang menahannya, desak suara itu; mengapa dia tidak bangun dan pergi saja?

Lelaki itu terbangun dalam suasana hati yang aneh, masih mencoba mencerna mimpi ganjil yang baru saja dialaminya. Dia berpikir, toh karena tak akan rugi apa-apa lagi, mengapa dia tidak bergabung dengan kafilah pertama yang menuju Mesir saja? Maka, itulah tepatnya yang dia lakukan.

Setelah beberapa hari, dia tiba di Kairo dalam keadaan melarat, lapar, dan tidak bisa mendapatkan tempat berteduh. Terlalu malu untuk mengemis secara terang-terangan, bahkan di kota asing ini, si pemuda kuatir dirinya akan bertemu dengan seseorang yang dia kenal sewaktu dulu bergelimang harta. Karena itu, dia putuskan untuk menunggu tirai kegelapan turun sebelum meminta-minta sehingga wajahnya tetap tak dikenal. Meski nyaris mati kelaparan, dia kesulitan merendahkan diri karena harus mengemis. Bolak-balik dia pergi, tidak tahu cara mendekati orang, dan tahu-tahu saja, sebagian besar malam telah berlalu.

Pada minggu sebelumnya terjadi perampokan di lingkungan tempat lelaki itu mengemis, dan polisi sedang berjaga-jaga setelah ditegur oleh walikota karena bersikap terlalu lunak terhadap pelaku kejahatan. Mereka diperintahkan untuk menangkap siapa saja yang tampak mencurigakan, bahkan jika orang itu adalah kerabat khalifah. Hukuman untuk pencurian adalah potong lengan! Polisi merasakan tekanan besar untuk menemukan pelakunya, meski mereka tidak yakin bahwa si tersangka benar-benar bersalah.

Ketika mereka melihat lelaki miskin dari Baghdad meringkuk di sudut jalan yang gelap dan menggigil diterpa udara malam yang dingin, lantas mereka memukulinya tanpa ampun. Si pemuda berteriak, memohon agar mereka mengizinkannya menjelaskan mengapa dia ada di sana, dan akhirnya salah satu polisi merasa kasihan dan menghentikan yang lain untuk memukulinya lebih lanjut.

“Ayo, kalau begitu, kau punya waktu satu menit untuk menjelaskan apa yang kaulakukan di jalanan pada tengah malam begini! Kau tidak terlihat seperti penduduk sini. Katakan, apa rencanamu?”

“Aku bukan pencuri biasa,” rengek si orang Baghdad tanpa daya. “Aku tidak berkeliaran merampok orang. Aku berasal dari Baghdad dan asing di kotamu.”

Tanpa basa-basi, pemuda itu menceritakan mimpinya tentang harta karun. Si polisi, yang mendeteksi sedikit kejujuran dalam ceritanya, langsung menyesal dan dengan ramah menasihatinya: “Aku dapat melihat bahwa engkau bukan pencuri atau penjahat, tetapi rupanya engkau kurang cerdas, ya? Bagaimana engkau bisa datang sejauh ini hanya gara-gara mimpi?”

Lelaki malang itu merasa malu dan tertunduk nelangsa. Si polisi melanjutkan, “Aku juga pernah berkali-kali bermimpi bahwa ada harta karun yang terpendam di suatu lingkungan di Baghdad, di rubanah sebuah rumah milik Tuan X. Apakah menurutmu seharusnya aku melepaskan segalanya dan melakukan perjalanan ke sana begitu saja?”

Begitu mendengar namanya diucapkan oleh si polisi, pemuda itu menatapnya dengan tidak percaya. Untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar, dia meminta polisi itu mengulangi nama orang di Baghdad yang baru saja dia sebutkan. Ketika mendengar namanya diucapkan sekali lagi, si pemuda gembira bukan kepalang, tetapi berusaha untuk tidak menunjukkannya. Dia memohon ampunan dari para polisi dan, keesokan paginya, dengan senang hati memulai perjalanan kembali ke Baghdad, bertanya-tanya mengapa dirinya berkeras melakukan pengembaraan yang sedemikian berat, menanggung kesulitan serta kemiskinan seperti itu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya apa yang dia cari selama ini tersembunyi dengan aman di rumahnya sendiri!


Cerpen ini dimuat dalam Kumpulan Cerita & Fabel karya Jalaluddin Rumi.

Posted on

Kronologi Gustave Flaubert [Biografi]

1821
(12 Desember) lahir di Rouen. Ayahnya seorang ahli bedah di Hôtel-Dieu.

1836
Menulis beberapa cerita sewaktu masih bersekolah di Rouen. Saat berlibur ke Trouville, jatuh cinta pada Elisa Foucault, seorang perempuan berumur dua puluh enam tahun, yang tidak lama setelahnya menikah dengan Maurice Sclésinger. Bayangan akan Elisa Sclésinger terulang di sejumlah karya Flaubert: dia disebut sebagai model untuk Madame Arnoux di L’Éducation sentimentale.

1837
Menulis lebih banyak cerita. Salah satunya, Une leçon d’histoire naturelle, genre Commis, diterbitkan di sebuah jurnal lokal.

1839
Merampungkan Smarh, sebuah fantasi semi-dramatis yang dapat dianggap sebagai versi awal dari La Tentation de Saint Antoine.

1842
Novembre, autobiografi naratif lainnya. Berhasil melewati ujian sekolah hukum pertamanya.

1843
Mulai menulis L’Éducation sentimentale. Gagal melewati ujian sekolah hukum keduanya.

1844
Mengalami kejang akibat epilepsi. Berhenti dari sekolah hukum.

1846
Ayah dan saudara perempuan Flaubert meninggal. Dia mendirikan rumah di Croisset, dekat Rouen, bersama ibu dan keponakan perempuannya. Bertemu dengan Louise Colet di Paris, yang kemudian menjadi kekasihnya.

1848
Menyaksikan pemberontakan 1848 di Paris; dia kemudian menggambarkan kenangan ini untuk adegan-adegan di L’Éducation sentimentale. Mulai menulis La Tentation de Saint Antoine.

1851
(19 September) mulai menulis Madame Bovary.

1852
Di tengah pengerjaan Madame Bovary, teringat akan rancangan awalnya untuk Dictionnaire des idées reçues.

1854
Mengakhiri hubungannya dengan Louise Colet.

1856
Madame Bovary selesai dan diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di La Revue de Paris (dari 1 Oktober).

1857
Flaubert dituntut atas ketidaksenonohan; dia dibebaskan. Pengadilannya menarik perhatian banyak orang dan menjadikan Madame Bovary sebagai sebuah kesuksesan yang berasal dari skandal. Mulai mengerjakan Salammbô.

1862
Salammbô rampung dan diterbitkan: meraih kesuksesan hebat. Flaubert kini dipandang sebagai tokoh sastra terkenal.

1864
Mulai menggarap lagi L’Éducation sentimentale. Dalam kurun waktu lima tahun berikutnya mengumpulkan materi untuk novelnya, dan pada waktu yang bersamaan menikmati kehidupan sosial yang gemilang.

1869
L’Éducation sentimentale selesai dan terbit.

1872
Ibu Flaubert meninggal.

1874
La Tentation de Saint Antoine terbit. Mulai menggarap Bouvard et Pécuchet.

1875-7
Menulis La Legende de Saint Julien d’Hospitalier, Un coeur simple, dan Hérodias (Trois Contes).

1877
Trois Contes terbit. Kembali mengerjakan Bouvard et Pécuchet.

1877-80
Masih menulis Bouvard et Pécuchet, yang kemudian tetap tak terselesaikan.

1880
(8 May) Flaubert meninggal.

1881
Bouvard et Pécuchet terbit.

Posted on

H. G. Wells [Biografi]

Herbert George Wells lahir tanggal 21 September 1866 di Bromley, Kent, kota pasar kecil yang tak lama kemudian ditelan pertumbuhan tepi kota London. Ayahnya, mantan tukang kebun profesional dan pemain cricket kabupaten yang terkenal untuk lemparan cepatnya, memiliki usaha kecil di Jalan Bromley High—menjual barang-barang cina dan tongkat cricket. Rumahnya dikenal sebagai Atlas House, tapi pusat kehidupan keluarga adalah dapur yang sesak di ruang bawah tanah di bawah toko. Tak lama kemudian hari-hari bermain cricket Joseph Wells berakhir karena patah kaki, dan keberuntungan keluarga tampak suram.

‘Bertie’ Wells muda sudah menunjukkan prestasi akademis yang luar biasa, tapi waktu usianya tiga belas tahun keluarganya berantakan dan ia terpaksa mencari nafkah sendiri. Ayahnya bangkrut. Ibunya meninggalkan rumah, bekerja sebagai pengurus rumah di Uppark, sebuah rumah besar di pedalaman Sussex tempat ia bekerja sebagai pelayan sebelum menikah. Wells keluar dari sekolah mengikuti jejak kedua kakak lelakinya menerjuni perdagangan tekstil. Sesudah bekerja singkat sebagai asisten guru dan asisten apoteker, pada tahun 1881 ia magang di toko serba ada di Southsea, bekerja tiga belas jam sehari dan tidur di asrama bersama sesama rekan magang. Ini periode paling menyedihkan dalam hidupnya, meski ia kemudian mengingatnya lagi dalam roman komik seperti Kipps (1905) dan The History of Mr. Polly (1910). Kipps dan Polly sama-sama melarikan diri dari magang sebagai pedagang kain. Pada tahun 1883, Wells membatalkan kontrak kerjanya dan mendapat pekerjaan sebagai asisten guru di Sekolah Tata Bahasa Midhurst dekat Uppark. Perkembangan intelektualnya, yang tertahan lama, sekarang maju pesat. Ia lulus serangkaian ujian bidang ilmu pengetahuan dan, pada bulan September 1884, masuk Normal School of Science, South Kensington (kemudian menjadi bagian dari Imperial College of Science and Technology) dengan beasiswa pemerintah.

Wells berbakat menjadi guru, sebagaimana yang ditunjukkan banyak bukunya, dan mulanya ia seorang murid yang antusias. Ia beruntung diajar biologi dan zoologi oleh salah seorang pemikir ilmiah paling berpengaruh pada zaman Victorian, teman dan pendukung Darwin, T. H. Huxley. Wells tidak pernah melupakan ajaran Huxley. Tapi para profesor lain membosankan, dan minatnya pada pelajaran mereka memudar dengan cepat. Ia lulus di bidang ilmu fisika tahun kedua tapi gagal dalam ujian geologi tahun ketiga dan meninggalkan South Kensington tahun 1887 tanpa meraih gelar. Kerangka kerja teoritis dan cakrawala imajinatif ilmu pengetahuan membangkitkan semangatnya, tapi ia tak tahan menghadapi rincian praktis dan tugas rutin melelahkan di laboratorium. Ia bolos dan menghabiskan waktunya membaca literatur dan sejarah, memuaskan penasaran yang timbul saat menjelajahi perpustakaan yang lama tak dipedulikan di Uppark. Ia mulai menulis untuk majalah kampus, The Science Schools Journal, dan memihak sosialisme dalam debat sekolah.

Pada musim panas 1887, Wells menjadi pakar ilmiah di sekolah swasta kecil di Wales Utara. Beberapa bulan kemudian ia terjatuh parah di lapangan bola. Sakit dan kekurangan gizi akibat tiga tahun kemiskinan sebagai pelajar, ia juga menderita kerusakan ginjal dan paru-paru. Sesudah berbulan-bulan memulihkan diri di Uppark ia kembali mengajar ilmu pengetahuan di Henley House School, Kilburn. Tahun 1890 ia meraih gelar Sarjana (kehormatan) kelas satu di bidang zoologi dari University of London, dan mendapat jabatan sebagai pengajar biologi di University Correspondence College. Tahun 1891 ia menikahi sepupunya Isabel Wells, tapi hanya sedikit kesamaan mereka. Tak lama kemudian Wells jatuh cinta pada salah seorang muridnya, Amy Catherine Robbins (biasanya dikenal sebagai ‘Jane’). Mereka hidup bersama sejak 1893, dan menikah dua tahun kemudian sesudah perceraiannya selesai.

Selama tahun-tahunnya sebagai pengajar biologi Wells perlahan-lahan memulai kariernya sebagai penulis dan wartawan. Ia menulis untuk Educational Times, University Correspondent, dan pada tahun 1891 menerbitkan esai filosofis, ‘The Universe Rigid,’ dalam Fortnightly Review yang bergengsi. Buku pertamanya adalah Textbook of Biology (1893). Tapi begitu buku itu terbit kesehatannya kembali merosot, memaksanya berhenti mengajar dan mengandalkan pendapatan dari literatur sepenuhnya. Masa depannya tampak sangat berbahaya, tapi tak lama kemudian ia mendapat banyak permintaan cerita pendek dan esai humor dari koran dan majalah yang tengah meledak pada waktu itu. Ia menjadi pengulas fiksi dan, untuk waktu singkat pada tahun 1895, kritikus teater.

Sejak masa sekolah Wells sebentar-sebentar menulis kisah tentang perjalanan waktu dan kemungkinan masa depan manusia. Versi awalnya diterbitkan di The Science Schools Journal dengan judul ‘Argonaut Kronis.’ Sesudah menulis ulang puluhan kali dan berkat dorongan penulis puisi serta redaktur W. E. Henley, ia menyelesaikannya dalam bentuk The Time Machine (1895). Keberhasilannya seketika, dan sementara buku itu diterbitkan dalam bentuk serial majalah, Wells sudah dibicarakan sebagai ‘orang jenius.’ Ia dipuja sebagai pencipta ‘roman ilmiah,’ kombinasi novel petualangan dan kisah filosofi di mana tokohnya terlibat perjuangan hidup-mati akibat perkembangan tak terduga ilmu pengetahuan. Sekarang ada pasar yang siap untuk fiksinya, dan The Island of Doctor Moreau (1896), The Invisible Man (1897), The War of the Worlds (1898), The Sleeper Awakes (1899), The First Men in the Moon (1901), dan beberapa volume lain dengan cepat mengalir dari penanya.

Pada pergantian abad dua puluh Wells sudah terkenal sebagai penulis populer di Inggris dan Amerika. Buku-bukunya dengan cepat diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Jerman, Spanyol, Rusia, dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Ketenarannya mulai mengalahkan pendahulunya dalam roman ilmiah, penulis Perancis Jules Verne, yang mendominasi bidang ini sejak 1860-an. Tapi Wells, seniman yang makin lama makin sadar diri, punya ambisi lebih besar dari sekadar tercatat dalam sejarah sebagai novelis petualangan seperti Jules Verne. Love and Mr. Lewisham (1900) adalah usaha pertamanya menulis fiksi realistis, berjiwa komik dan mengisyaratkan pengalamannya sendiri sebagai murid dan guru. Pada akhir dekade Edwardian, sewaktu menulis novel ‘Kondisi Inggris’ Tono-Bungay (1909) dan The New Machiavelli (1911), Wells telah menjadi salah seorang novelis terkemuka di zamannya. Ia berteman sekaligus bersaing dengan tokoh-tokoh literatur seperti Arnold Bennett, Joseph Conrad, Ford Madox Ford dan Henry James.

Tapi Wells bukan pengabdi seni demi seni semata. Ia penulis yang mampu meramal dengan pesan sosial dan politis. Karya non-fiksi besar pertamanya adalah Anticipations (1902), buku esai futurologi yang menceritakan kemungkinan akibat kemajuan ilmiah dan teknologi di abad dua puluh. Anticipations membuka hubungannya dengan Himpunan Fabian dan meluncurkan kariernya sebagai wartawan politik dan suara yang berpengaruh dari golongan kiri Inggris. Selama periode Fabian, Wells menulis A Modern Utopia (1905), tapi gagal dalam usahanya menantang penampilan birokratis dan reformis para pemimpin Kelompok seperti Bernard Shaw (teman dan saingan seumur hidup) dan Beatrice Webb. Roman ilmiah Edwardian Wells seperti The Food of the Gods (1904) dan The War in the Air (1908), meski penuh sentuhan humor, bertujuan propaganda. Dalam kisah-kisah ‘perang masa depan’ lainnya dari periode ini ia sudah memperkirakan adanya tank dan bom atom.

Keberhasilannya sebagai penulis membawa perubahan besar dalam kehidupan pribadinya. Buruknya kesehatan memaksanya meninggalkan London dan pindah ke pantai Kent pada tahun 1898. Tapi dalam jangka panjang, luka main bolanya menyebabkan diabetes yang mempengaruhinya di usia tua. Ia mempekerjakan arsitek C. F. A. Voysey untuk membangun rumahnya, Spade House, yang menghadap ke Selat Inggris di Sandgate. Di sini kedua putranya dengan Jane dilahirkan—George Philip atau ‘Gip,’ yang menjadi profesor zoologi dan bekerja sama dengan ayahnya dan Julian Huxley menulis ensiklopedia biologi The Science of Life (1930); dan Frank yang bekerja di industri film. Wells sangat mendukung orangtua dan kakak-kakaknya, yang sesama pelarian dari perdagangan tekstil. Tapi, semakin lama ia mencari pemenuhan emosional dari luar keluarga, dan kasus perselingkuhannya menjadi terkenal. Ia memiliki putri pada tahun 1909 dengan Amber Reeves, ekonom muda Fabian terkemuka. Tahun 1914 novelis dan kritikus Rebecca West melahirkan putranya Anthony West, yang masa kanak-kanak bermasalahnya kelak terpantul dalam novelnya sendiri Heritage (1955) dan dalam biografi ayahnya.

Sementara kehidupan pribadi Wells menjadi gosip kalangan literatur London, perannya sebagai penulis imajinatif dan wartawan atau nabi politik makin lama makin bertentangan. Ann Veronica (1909) adalah contoh fiksi topikal, kontroversial, yang mendramatisir dan mengomentari masalah-masalah seperti hak-hak perempuan, persamaan seksual, dan moral kontemporer. Ini ‘novel diskusi’ pertama Wells di mana hubungan pribadinya seringkali tidak terlalu disembunyikan. Fiksinya yang selanjutnya sangat bervariasi bentuknya, tapi semuanya termasuk kategori luas novel gagasan. Di satu ujung yang ekstrem adalah pelaporan realistis Mr. Britling Sees It Through (1916)—sementara di ujung ekstrem lain adalah dongeng singkat seperti The Undying Fire (1919) dan The Croquet Player (1936), alegori politis tentang kejadian-kejadian dunia yang masing-masing digambarkan dalam bentuk dialog ramalan.

Wells juga bukan novelis eksperimental seperti penulis sezamannya, James Joyce dan Virginia Woolf, tapi ia seringkali inovatif teknis. Dalam beberapa bukunya, batasan antara fiksi dan non-fiksi mulai runtuh. Kadang ia mengutip karya klasik dari epos pramodern yang lebih awal sebagai model literaturnya: A Modern Utopia (1905), misalnya, mereferensikan Utopia karya Sir Thomas More dan Republic karya Plato. Karya historis terlarisnya, The Outline of History (1920) dan A Short History of the World (1922) berbeda dari konvensi sejarah dengan mengharapkan tahap sejarah berikutnya. Karya-karya ini ditulis untuk menarik pelajaran dari Perang Dunia Pertama dan memastikan, kalau mungkin, tidak akan pernah terulang. Wells melihat sejarah sebagai ‘perlombaan antara pendidikan dan bencana.’ Keprihatinan yang sama memicu novel sejarah-masa-depan The Shape of Things to Come (1933), kemudian ditulis ulang untuk bioskop dengan judul Things to Come—film fiksi ilmiah epik yang diproduksi Alexander
Korda tahun 1936. Baik novel maupun film berisi peringatan suram bencana dan konsekuensi menakutkan yang tak terelakkan dari Perang Dunia Dua.

Pada 1920-an Wells bukan saja penulis terkenal tapi tokoh masyarakat yang namanya jarang tak disebut dalam koran. Ia sempat bekerja di Kementerian Propaganda pada tahun 1918, menghasilkan memorandum perang yang bertujuan mengantisipasi pendirian Liga Bangsa-Bangsa. Tahun 1922 dan 1923 ia mencalonkan diri di Parlemen sebagai kandidat Buruh. Ia berusaha mempengaruhi para pemimpin dunia, termasuk dua Presiden AS, Theodore Roosevelt dan Franklin D. Roosevelt. Pertemuannya dengan Lenin di Kremlin tahun 1920 dan wawancaranya pada tahun 1934 dengan penerus Lenin, Josef Stalin, dipublikasikan di seluruh dunia. Suaranya yang tinggi melengking seringkali terdengar di radio BBC. Tahun 1933 ia terpilih sebagai presiden PEN Internasional, organisasi penulis yang mengkampanyekan kebebasan intelektual. Pada tahun yang sama buku-bukunya dibakar di depan umum oleh Nazi di Berlin, dan ia dilarang mengunjungi Italia yang Fasis. Gagasannya sangat mempengaruhi Uni Pan-Eropa, kelompok yang mengusulkan Eropa bersatu di antara perang.

Tapi Wells yakin bahwa hanya persatuan global yang bisa mencegah kemanusiaan menghancurkan diri sendiri. Dalam The Open Conspiracy (1928) dan buku-buku lain ia menggambarkan teorinya tentang kewarganegaraan dunia dan pemerintahan dunia. Sementara Perang Dunia Dua semakin dekat ia merasa misinya gagal dan peringatannya tidak diperhatikan. Kampanye besar terakhirnya, ia berusaha mendapatkan dukungan internasional, untuk hak asazi manusia. Proposalnya dijabarkan dalam edisi khusus Penguin The Rights of Man (1940), membantu tersusunnya deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948. Ia menghabiskan tahun-tahun perang di rumahnya di Hanover Terrace, Regent’s Park. Pada tahun 1943 ia mendapat gelar Doktoral di bidang literatur dari London University. Buku terakhirnya,
Mind at the End of Its Tether (1945), merupakan karya putus asa, pesimis, bahkan dengan prospek manusia yang lebih suram dari The Time Machine lima puluh tahun sebelumnya. Ia meninggal di Hanover Terrace tanggal 13 Agustus 1946. Ia gelisah dan tak kenal lelah hingga akhir hidupnya, nabi yang selamanya tak puas dengan dirinya sendiri dan dengan kemanusiaan. ‘Suatu hari,’ tulisnya dalam ‘Oto-Dukacita’ tiga tahun sebelumnya, ‘aku akan menulis buku, buku yang sebenarnya.’ Ia sudah menerbitkan lebih dari lima puluh karya fiksi dan, totalnya, sekitar 150 dan pamflet.

Posted on

Burung Hantu dan Sekolahnya [Cerpen]

Seekor burung hantu bernama Tua Bijak mendirikan sebuah sekolah. Siapa saja bisa masuk ke sekolahnya dan belajar berbagai hal. Setelah beberapa lama ia ingin tahu perkembangan yang mereka capai dalam pelajaran. Maka ia pun mengajukan beberapa pertanyaan.

Pertanyaan pertama adalah, “Kenapa bulan bersinar di langit?”

Si bulbul menjawab, “Agar aku bisa bernyanyi sepanjang malam untuk kekasihku, si mawar, di bawah cahayanya yang menyenangkan.”

Si lili menjawab, “Agar aku bisa membuka kelopak bungaku, dan menikmati cahayanya yang penuh cinta dan menyegarkan.”

Si kelinci menjawab, “Agar di pagi harinya bisa terkumpul embun yang banyak untuk kulahap.”

Si anjing menjawab, “Agar aku bisa memergoki para maling yang berkeliaran di sekitar rumah tuanku.”

Si kunang-kunang menjawab, “Itu karena dia benci cahayaku; jadi dia bikin cahayaku kalah terang.”

Si rubah menjawab, “Agar aku bisa dengan jelas melihat jalan ke arah kandang ayam.”

“Cukup!” kata Tua Bijak. “Hanya ada satu bulan yang bersinar si langit, namun betapa banyak yang merasa paling diuntungkan! Memang, setiap pribadi memiliki kepentingan sendiri-sendiri!”


Cerpen ini dimuat dalam Fabel-Fabel India.

Posted on

Sajak Rumi No. 45 [Puisi]

Nasihat dari seseorang takkan berguna bagi para pencinta; cinta bukan semacam limpahan air yang dapat dibendung seseorang.

Tiada cendekiawan akan tahu haru-gembira di kepala si pemabuk; tiada seorang yang berpegang pada pikiran akan tahu pesona yang melambungkan hati mereka yang terbatas dari ikatan pikiran.

Raja-raja menjadi tak acuh akan kedudukannya bila mereka menangkap bau anggur yang direguk para pencinta dalam pertemuan hati.

Kusrau mengucapkan selamat tinggal pada kerajaannya demi Shirin; Farhad pun, demi Shirin pula, meng-
ayunkan kapak ke pinggang gunung.

Majnun melepaskan diri dari lingkungan keluarga demi cinta akan Laila; Vamiq menertawakan kegarangan kumis sekalian laki-laki yang menyombongkan diri.

Bekulah hidup yang berlalu tanpa roh yang indah ini; busuklah daging buah yang tak mengenal lagi kue badam ini.

Bila langit di atas sana tak berputar dalam ketakjuban dan cinta seperti kita, tentulah ia akan jemu berputar dan berkata, “Cukup sudah bagiku; berapa lama, berapa lama mesti begini?

Dunia ini bagai seruling gelagah, yang ditiupnya pada setiap lubangnya; sungguh setiap ratapnya berasal dari kedua belah bibir yang semanis tengguli itu.

Lihatlah, bagaimana bila Ia meniupkan napas-Nya ke dalam setiap gumpal tanah, setiap kalbu, Ia taburkan hajat, Ia taburkan gairah hasrat yang menimbulkan ratapan sendu.

Bila kaurobekrenggutkan hati dari Tuhan, kepada siapakah itu akan kaukaitkan kemudian? Katakan itu padaku. Sungguh tak berjiwa mulia orang yang telah sanggup merobekrenggutkan hatinya dari Tuhan biar sebentar pun.

Akan kucukupkan sampai di sini; cepatlah pergi, di malam hari naiklah hingga ke atap ini, perdengarkan seruan merdu di kota, dengan suara nyaring-tinggi.


Puisi ini dimuat dalam Kumpulan Sajak karya Jalaluddin Rumi.

Posted on

Tao Te Ching Bab 58 [Puisi]

Jika negara diatur dengan toleransi,
rakyat akan nyaman dan berlaku jujur.
Jika negara diatur dengan represi,
rakyat akan tertekan dan berlaku licik.

Ketika kehendak untuk berkuasa mengambil alih,
semakin tinggi khayalannya, semakin rendah hasilnya.
Berupayalah membuat rakyat bahagia,
dan kau meletakkan fondasi bagi kesengsaraan.
Berupayalah menjadikan rakyat bermoral,
dan kau meletakkan fondasi bagi kejahatan.

Demikianlah sang Guru senang
melayani sebagai teladan
dan tidak memaksakan kehendaknya.
Dia menunjuk tapi tidak menusuk.
Lurus, tapi lentur.
Terang benderang, tapi enak dipandang.

(Lukisan ‘Laozi Riding an Ox‘ karya Zhang Lu)


Puisi ini dimuat dalam Tao Te Ching.

Posted on

Kembar [Cuplikan]


“Benar, Krestyan Ivanovich. Namun saya ini penyuka ketenangan, Krestyan Ivanovich, rasanya saya telah mendapat kehormatan untuk menjelaskannya tadi, jalan yang saya tempuh berbeda, Krestyan Ivanovich. Jalan kehidupan ini luas…maksud saya…saya bermaksud mengatakan, Krestyan Ivanovich, bahwa… Maafkan saya, Krestyan Ivanovich, saya tidak fasih berbicara.”

“Hm… Anda bilang…”

“Saya bilang bahwa Anda harus memaklumi, Krestyan Ivanovich, atas kenyataan bahwa saya, sebagaimana anggapan saya, bukan ahlinya berbicara dengan fasih,” kata Tn. Goliadkin dengan nada agak tersinggung, sedikit linglung dan asal-asalan. “Dalam hal ini, Krestyan Ivanovich, saya tidak sama seperti orang lain,” tambahnya diiringi semacam senyum khusus, “dan saya tak mampu bicara panjang lebar; saya tak pernah belajar memperindah gaya bicara saya. Justru sebaliknya, Krestyan Ivanovich, saya bertindak; saya malah bertindak, Krestyan Ivanovich.”

“Hm… Bagaimana…cara Anda bertindak?” Krestyan Ivanovich balik bertanya. Selepas itu, keheningan melanda sejenak. Dokter memandang Tn. Goliadkin dengan tatapan aneh dan curiga. Sebaliknya Tn. Goliadkin juga mencuri pandang ke arah dokter dengan lirikan sekilas penuh curiga.

“Saya, Krestyan Ivanovich,” Tn. Goliadkin mulai melanjutkan dengan nada seperti sebelumnya, sedikit kesal dan bingung oleh kegigihan membatu Krestyan Ivanovich, “Saya, Krestyan Ivanovich, menyukai ketenangan, bukan kebisingan duniawi. Jika berada di sana, maksud saya, di tengah masyarakat umum, Krestyan Ivanovich, seseorang harus tahu cara menggosok lantai dengan satu kaki…” (Kaki Tn. Goliadkin menggesek lantai dengan pelan.) “Itulah yang dibutuhkan di sana, Tuan, dan juga butuh melontarkan lelucon…tahu bagaimana caranya merangkai sanjungan berbunga-bunga, Tuan…itulah yang dibutuhkan di sana. Dan saya tak pernah mempelajari hal itu, Krestyan Ivanovich—saya tak pernah mempelajari semua kecakapan itu; saya tak punya waktu.


Diambil dari novel Kembar, halaman 15-16.

Posted on

Kelahiran Eulenspiegel dan Bagaimana Ia Dibaptis Tiga Kali [Cerpen]

Di kota Brunswick ada sebuah hutan bernama Seib, dan di hutan ini ada dusun Kneitlingen, di mana Eulenspiegel yang baik hati dilahirkan.

Hidup anak ini tidak sesuai dengan pepatah lama yang berbunyi ‘ayah dan anak sama saja’, karena ayahnya yang bernama Elaus Eulenspiegel adalah pria pendiam dan bermartabat, dan ibunya, Anna, adalah tipikal perempuan pada umumnya, karena ia lemah lembut dan tidak banyak bicara. Sejauh kita tahu, tak ada situasi khusus berkenaan dengan kelahiran tokoh kita ini. Oleh karena itu, mungkin kelahirannya tak begitu berbeda dengan kelahiran anak pada umumnya. Tapi sempat tercatat bahwa anak ini menjalani tiga kali pembaptisan.

Di dusun tempat ia lahir tampaknya tak ada gereja, sehingga ketika tiba waktu ia harus dibaptis maka ia pun dikirim oleh orangtuanya ke dusun Amptlen, di mana ia mendapatkan nama Till Eulenspiegel. Tempat itu masih dikenang sebagai tempat diadakannya upacara ini, karena di dekat sana ada sebuah kastil dengan nama yang sama, yang kemudian dihancurkan oleh penduduk Magdeburgh dengan bantuan penduduk sekitar karena menjadi sarang perampok.

Pada waktu itu, ada tradisi setempat di mana bapak dan ibu baptis—bersama dengan inang pengasuh dan si anak—harus beristirahat di sebuah kedai minum setelah pembaptisan usai untuk merayakannya, dan dalam kesempatan itu ritual ini tak terlewatkan. Karena jarak antara kedai minum dan gereja itu cukup jauh, apalagi hari sangat panas, rombongan mereka jadi agak berlebihan dalam menikmati hidangan, menunda perjalanan pulang selama mungkin.

Meski begitu, akhirnya mereka harus pulang juga; dan si inang pengasuh yang kepalanya agak mabuk dan langkahnya tak begitu tegap lagi itu dengan mata agak berkunang-kunang memandang jalanan sempit dan menurun di depannya yang menuju ke sebuah selokan berlumpur, dan mendapat firasat buruk tentang apa yang akan terjadi pada perjalanan mereka. Makin dekat langkahnya ke parit yang ia takuti itu, kecemasannya makin meningkat; dan si bayi Till, entah karena si inang memeluknya lebih erat atau apakah dia pun punya firasat bahaya, mulai menendang dan berontak di dalam pelukan inangnya, sehingga ketika si inang berhenti di tepi tempat berbahaya itu demi mendapatkan kembali ketegaran langkah dan keberanian, hal tersebut sama sekali tidaklah berguna, karena setelah satu kakinya menginjak batu yang kurang kokoh gerakan berontak si bayi membikin si inang terpeleset, dan si bayi pun terlempar ke selokan. Tapi karena ada banyak tanaman liar yang sukar diberantas maka si anak pun tidak terluka, dan hanya berlumuran lumpur. Maka ia pun dibawa pulang dan dimandikan.

Begitulah, si Eulenspiegel di hari yang sama dibaptis sebanyak tiga kali. Pertama, pembaptisan secara resmi, kedua di dalam lumpur selokan, dan ketiga di dalam air hangat untuk membersihkannya dari lepotan tanah. Ini adalah peristiwa simbolis yang menandai banyak kemalangan di masa depannya, karena nasib buruk pasti akan menimpa orang yang berbuat salah.


Cerpen ini dimuat dalam Kisah-Kisah Kocak.